My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Mate kedua?


__ADS_3

Semua masih menatap Kei bingung.


"Kei...." geram Ian.


"Apa? Aku tidak.... Oh astaga!!" Kei mengacak rambutnya kasar.


'Apa yang kamu sudah lakukan pada Tania? Apa kamu sudah melakukan itu?'


Kei menatap Ian tajam.


'Itu? Jika itu yang kamu maksud adalah itu, aku tidak pernah melakukannya! Apa kamu sudah gila?! Aku selalu menghindari itu!'


'Lalu kenapa dia meminta pertanggung jawabanmu Kei?'


'Mana aku tahu?!'


"Hei, hei berhentilah berbicara dengan mindlink, semua orang sedang menatap. Lakukanlah sesuatu. Bukankah kamu raja?" kata Zach.


"Aku ingin sekali Zach tapi aku tidak tahu ada apa!"


"Kalau begitu tanya!"


Kei menghela nafas. Jika Tania sudah cemberut dan marah, akan sangat sulit membuatnya baikkan. Kei mengusap kasar wajahnya.


"Tania.. Mari kita bicara."


"Aku mau bicara sini saja."


"Tapi Tania...."


Tania duduk di batang kayu besar tempat Kei duduk tadi. Tania masih melipat tangannya didada dan dengan wajah yang cemberut.


"Berbicaralah padanya." bisik Ian.


"Aku tahu dan berhentilah menyudutkanku."


"Aku tidak menyudutkanmu tapi semua orang masih menatap padamu. Kamu tahu, mereka mengira kamu sudah menghamili Tania. Atau jangan-jangan kamu..."


"Apa kamu mau mati? Tentu saja tidak! Sudah aku katakan kami belum melakukannya!"


"Kamu tidak mengatakannya."


"Itu... Itu... Soal... itu. Aahh percuma saja. Sudahlah.. Aduh bagaimana aku bisa menghadapi Tania?"


Kei berjalan lemas menuju Tania. Dia akan mencoba membujuk Tania.


"Uhmm... ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Jadi tenang saja.. Tidak akan ada bayi atau pengeran atau putri." jelas Ian pada semua orang.


"Apa kamu yakin itu Ian?" tanya Bian.


"Well yeah.. Sepertinya?" kata Ian tidak yakin. Bian tertawa geli.


"Tenang saja, dia tidak hamil. Aku tidak merasakan janin apapun dalam tubuh Tania." kata Bian sambil menepuk pundak Ian lalu diduduk di batang kayu disebelah Zach.


"Kamu bisa merasakannya?" tanya Zach.


"Tentu. Lagipula aku yakin mereka belum pernah melakukannya." kata Bian.


"Whoa... Apa kamu bisa mengetahui hal itu juga? Luar biasa...." sahut Jason.


"Benarkah?" tanya Zach.


"Ihhh kalian ini. Tentu saja tidak. Tania yang memberitahukanku. Lagipula untuk apa aku mengetahui hal itu?" Bian cemberut.


"Kamu lucu sekali." Zach mengacak rambut Bian.


"Hei... Jangan mengacak rambutku."


"Apa mungkin raja itu telah melakukan sesuatu?" tanya Lily.


"Bisa jadi." kata Bian.


"Huft!! laki-laki memang menyebalkan. Sangat tidak sensitif terhadap perempuan." gumam Lily.


"Hei, hei kenapa jadi laki-laki yang disalahkan." protes Jason.


"Memang benar, laki-laki tidak pernah mengerti perempuan."


"Bagaimana mereka mau mengerti jika kemauannya saja tidak tahu. Kenapa perempuan tidak mengatakan saja apa yang mereka mau? Kenapa laki-laki harus bermain tebak-tebakan untuk itu? Memang laki-laki bisa membaca pikirian perempuan?"


"Hei, tetap saja. Laki-laki itu sama sekali tidak mengerti meskipun di beritahu semuanya. Menyebalkan sekali."


"Tunggu dulu, kenapa jadi kalian yang bertengkar?" tanya Bian heran.


"Uhmm... Mereka... Itu..."


"Mate?" tebak Bian. Livia mengangguk. Bian ber oh ria. "Tenang saja, mereka akan baikkan kembali. Pertengkaran sedikit tidak apa-apa."


"Waaah sepertinya kamu sangat berpengalaman sekali." kata Jason.


"Bukan berpengalaman Jason, hanya saja memang seperti itu. Itu wajar, kamu juga merasakannya bukan?" Bian menunjuk Lily dengan dagunya.


"Ha! Jangan samakan dengan aku. Aku dan dia bahkan bukan sepasang kekasih." kata Jason.


"Itu sangat benar." Lily membenarkan.


Bian, Ian dan Zach menatap Jason dan Lily sambil mengangguk-anggukkan kepalanya serempak.


Sementara Tania dan Kei...


"Tania... Jelaskan padaku ada apa? Mereka semua mengira aku melakukan sesuatu yang buruk padamu."


"Kamu memang melakukan sesuatu hal yang buruk."


"Uhmm... Benarkah?" Kei mendekat. Kedua lututnya menopangnya tubuhnya. "Apa itu?"


Tania memukul tubuh Kei kuat. Kei meringis kesakitan tapi dia mencoba menahannya.


"Kau... Jahat." Tania masih terus memukul dada Kei sambil berbicara. Satu kata satu pukulan. "Kamu... Berjanji... Untuk... Menemaniku... Saat aku... Ulang... Tahun... Tapi kamu... Bahkan.. Pergi... Tanpa... Pamit... Kamu.. Tahu... Betapa... Aku... Khawatir?"


Kei menangkap kedua tangan Tania. Tania meronta tapi Kei jauh lebih kuat akhirnya Tania hanya memalingkan wajahnya.


"Lihat aku Tania..." kata Kei, tapi Tania masih tidak bergeming. "Tania... Lihat aku."


Tania akhirnya menatap Kei.


"Aku sungguh, sungguh minta maaf. Aku... Zach... Huft.." Kei menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak ingin memberikanmu alasan-alasan yang kamu sendiri sudah tahu dan meyakinkanmu dengan alasan itu. Yang bisa aku katakan aku minta maaf. Aku tidak bisa berpamitan padamu karena aku takut aku tidak akan bisa pergi sementara aku harus pergi. Aku menyayangimu Tania dan aku tahu kamu tahu itu. Jadi, aku sungguh-sungguh minta maaf."


Tania masih terdiam dan ekspresi kesalnya masih ada.


"Tania, aku bukan orang yang romantis, kau tahu itu. Karena itu aku tidak pandai membujukmu dengan kata-kata. Tapi aku akan tetap disini, bersamamu, disisimu. Kita akan bisa merayakan ulang tahunmu di tahun berikutnya dan tahun-tahun berikutnya. Karena aku tidak akan kemana-mana, tidak akan berpaling, aku akan tetap menjadi milikmu. Jadi aku mohon, berhentilah marah padaku karena itu menyakitiku juga."


Tania menundukkan kepalanya. Kei berusaha menatap matanya namun dia menyadari sesuatu. Sebuket bunga sudah ada di tangannya. Dia terkejut dan menoleh. Bian tersenyum, Kei juga ikut tersenyum. Kei menyerahkan bunga berwarna merah muda itu pada Tania. Tania mengangkat kepalanya.


"Aku menyayangimu Tania dan akan terus seperti itu. Aku tidak perduli perkataan dari orang yang aku mau kamu perc--"


Tania memeluk Kei tiba-tiba, sebelum Kei menyelesaikan kata-katanya.


"Kamu bilang kamu tidak pandai berkata-kata tapi kenapa kamu terus saja berbicara?" kata Tania. Tania menghapus air matanya sambil masih memeluk erat Kei. Kei tersenyum dan mengelus pundak Tania.


"Bagaimana kamu tahu itu akan berhasil?" tanya Zach disambut anggukan Ian.


"Karena kadang-kadang wanita hanya memerlukan kesungguhanmu dan bunga hanya bonus membuatnya lebih baik." kata Bian.

__ADS_1


"Aku kira kita akan menyiaplan segala sesuatu yang romantis untuk membuat hati Tania menjadi baik." gumam Jason.


"Kadang-kadang kalian para pria perlu menggunakan hati kalian dalam menghadapi wanita. Jadi kalian akan mengerti."


"Huft... Urusan mate ini membuatku sakit kepala." kata Zach.


"Apa kamu memiliki urusan mate juga?" tebak Bian.


"Well.. Uhm.. Aku.."


"Ya, alpha punya." kata Adrian yang ikut bergabung. Aaron ikut bergabung dengan mereka. "Masalah mate Zach adalah, mate-nya tidak akan bisa ikut dengan kita."


"Apa? Kenapa begitu?" tanya Jason.


"Karena mate-nya manusia dan mempunyai kehidupan sendiri, Jason. Sabar ya adik manis." Bian menepuk pundak Zach. "Kamu akan punya jalan keluar untuk itu. Kamu pasti bisa."


Zach terdiam.


"Alpha bisa saya berbicara sebentar." pinta Anthony pada Zach.


"Tentu..." Zach berdiri dan pergi menjauh bersama Anthony.


"Alpha, lalu nasib kita seperti apa sekarang?"


"Seperti yang dikatakan yang mulia raja. Kita akan pergi ke pack Moon Roykolt. Pack itu merupakan pack pendukung raja. Jadi kita bisa bersama-sama berlatih."


"Apa kita akan bergabung menjadi pack Moon Roykolt?"


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kalian inginkan. Bukankah kita sudah menjadi satu kawanan? Setelah semuanya selesai, kita akan membangun kawanan kita sendiri."


"Tapi... Apa semua akan selesai?"


"Tentu saja. Kalian harus percaya. Mereka mungkin kuat tapi mereka tidak mempunyai rasa kebersamaan. Hanya perintah dan kekejaman yang mereka kenal." kata Zach. Anthony tersenyum.


"Saya kagum pada anda. Anda ternyata memang di takdirkan menjadi alpha. Meskipun baru tujuh belas tahun tapi anda sudah menunjukkan jiwa kepemimpinan anda." puji Anthony.


"Tidak, tidak. Jangan memuji saya dulu. Ini belum berakhir." kata Zach mencoba tersenyum.


****


...Pack Moon Bykort...


Sebuah ruangan yang awalnya penuh, kini hanya tersisa tiga orang. Mereka masih penuh dengan rencana-rencana.


"Jadi bagaimana alpha?" tanya Bruce.


"Kita akan melakukan rencana kaum hitam tentu, tapi aku ingin kalian melakukan sesuatu."


"Sesuatu alpha? Apa itu?"


"Bawa Nathan kemari." pinta alpha Roger.


"Nathan?"


"Ya, bawa dia kemari. Sekarang."


"Baik yang mulia." beta Bruce membungkuk dan pergi dari ruangan itu.


"Untuk apa anda menginginkan Nathan alpha?" tanya Beta Manuel, beta kedua alpha Roger.


"Kamu akan melihatnya sendiri." jawab alpha Roger seraya tersenyum.


Tak lama Bruce datang bersama gamma muda bernama Nathan. Alpha Roger berdiri dari kursinya dan mulai memukuli Nathan. Alpha Roger memukulinya seperti tidak ada hari esok. Kuat dan tanpa ampun. Dalam waktu singkat Nathan sudah babak belur dan tergeletak tidak berdaya.


"Alpha berhenti, dia bisa mati." kata beta Manuel.


"Kamu berani menghentikanku?" tanya alpha Roger.


"Diamlah Manuel atau kamu akan menggantikannya." kata Bruce.


"Tapi dia akan mati, Bruce."


"Lalu biarkan dia mati. Mungkin dia memang pantas untuk mati."


Manuel kembali terdiam dan menyaksikan Nathan yang sudah tak berdaya kembali dipukuli. Tak lama Nathan sudah hampir tidak sadarkan diri. Sudah sangat lemah.


"Angkat dia. Letakkan dia di perbatasan pack itu." perintah alpha Roger. Alpha Roger membisikkan sesuatu pada Nathan lalu meninggalkannya pergi. Para gamma lain masuk dan membawa tubuh Nathan pergi.


****


...Rotternville...


"Kalian berangkatlah duluan dipimpin oleh Jake. Jake akan menunjukkan jalannya." kata Zach pada kawanannya. "Hati-hatilah Jake."


"Baik alpha."


Jake dan Kian langsung berubah menjadi serigala dan berangkat menuju pack Moon Roykolt, pack dari alpha Sebastian. Zach dan Aaron berjalan kembali ke tempat latihan.


"Bagaimana dengan ibu anda alpha?" tanya Aaron.


"Ibuku sudah berangkat tadi bersama ratu menggunakan teleportasi bersama Lily dan Livia, para penyihir itu." kata Zach. "Panggil aku Zach saja Aaron."


"Tapi anda adalah alpha, saya takut jika saya memanggil Zach, mereka, para anggota pack tidak akan menghormati anda."


"Aku tidak gila hormat Aaron. Aku bukan alphamu yang dulu."


"Saya tahu. Tapi saya akan tetap memanggil anda alpha."


"Kamu keras kepala sekali. Baiklah jika hanya kita berdua, panggil aku Zach saja jika tidak, kamu akan aku gigit lagi dan kali ini tidak akan aku sembuhkan." ancam Zach. Aaron tertawa kecil.


"Hei, hei. Aku tidak main-main." kata Zach. Aaron berusaha menghentikan tawanya.


"Baik alpha."


"Kau ini. Bagaimana dengan ibumu?"


"Baik alpha. Sepertinya penyihir bernama Bian itu menyembuhkannya dengan sihirnya. Ibu akan pergi bersamaan dengan kita nanti."


"Baguslah. Sihir memang luar biasa dan Bian merupakan penyihir yang luar biasa."


"Tapi saya mendengar ada sesuatu yang aneh dari Bian."


"Aneh? Maksudmu?"


"Saya dengar... Dia sakit. Tapi dia tidak terlihat sakit menurut saya. Apa mungkin sakit karena sihir? Apa sihir mempunyai sakit tertentu?"


"Aku tidak tahu Aaron." gumam Zach. Mereka sampai di tempat latihan. Zach melihat Bian dan Kei sedang berbicara dan tampak serius.


"Kalau begitu biar aku menyuruh Knirer berpatroli. Kau tahu, mereka ahli dalam hal itu." kata Bian.


"Ya, terima kasih. Kalian kaum penyihir selalu membantu kami."


"Itu karena ada campur tangan kaum hitam Kei."


"Dan akan semakin parah sejak dari pack Moon Bykort. Aku yakin mereka akan menganggapmu berkhianat."


"Asal kaum putih dan orang terdekatku percaya padaku, aku tidak masalah. Memang sangat kacau sewaktu di pack itu."


"Uhmm Bian.. Ada yang ingin aku bicarakan sebelum kita pergi." kata Kei.


"Bukannya kita sedang berbicara?"


"Ya, ya aku tahu. Maksud aku... Aahhh.... Tidak bisakah kamu mendengarkanku?"

__ADS_1


"Aku sudah mendengarkanmu sedari tadi adik manis."


"Ya tapi ini tentang Zach."


"Ada apa dengannya?"


"Sepertinya dia... Memiliki dua mate."


"Apa? Itu tidak mungkin. Kalian dikutuk hanya memiliki satu mate."


"Apa maksudnya dikutuk? Moon Goddess yang hanya memberi kami satu mate."


"Aaahh baiklah. Sepertinya kamu belum tahu cerita sebenarnya tentang Moon Goddes itu. Tapi lupakanlah. Nanti saja kamu tahu. Lalu... Bagaimana bisa dia memiliki dua mate?"


"Aku tidak tahu. Saat aku melihat matenya yang pertama. Bau dan aura mereka sama. Lalu melihat matenya yang kedua dan bau dan aura mereka juga sama. Kamu tahu semenjak menjadi raja, aku bisa melihat mate dari manusia serigala."


"Ya, aku tahu. Jadi kamu sudah bertemu dengan mate-nya yang kedua?" tanya Bian di sambut anggukan kepala Kei. "Mate yang pertama... Aku tahu dia manusia. Uhmm.... Ka-Karen? Ya itu namanya, yang tidak bisa ikut pindah dan aku harap dia baik-baik saja, tidak ada yang mengetahui bahwa dia adalah luna. Lalu... Yang kedua adalah...."


Kei terdiam. Dia tampak ragu.


"Kamu." jawab Kei akhirnya. Bian terbelalak kaget.


"Apa?! Kau sudah gila!!" pekik Bian.


"Hei, tenanglah.."


"Oh maaf... Tapi tidak mungkin aku."


"Awalnya aku kira aku yang salah, tapi saat kamu mengobatinya waktu itu... Aku melihat dengan jelas aura dan bau itu. Kalian memang mate. Terlebih kamu bisa mendengar perkataan Zach saat dia menjadi manusia serigala. Tidak ada yang bisa mendengar ucapan dari manusia serigala yang sedang berwujud serigala kecuali dia adalah alpha mereka atau yang kedudukannya lebih tinggi dari mereka atau mereka sama-sama sedang dalam wujud serigala. Manusia biasa atau kaum lain tidak akan bisa mendengar mereka Bian dan kamu bisa."


"Mungkin karena sihir. Jadi aku bisa mendengarnya."


"Aku meragukan itu. Hanya mate dari raja sepertiku dan alpha keturunan murni yang bisa atau jika hubungan antara mate dan manusia serigala itu begitu kuat. Selain itu.. Tidak bisa."


"Jadi maksudmu.... Karena aku adalah mate dari Zach, karena itu aku bisa mendengarnya?"


"Ya, aku yakin."


"Kau sudah gila."


"Apa kamu merasakannya?"


"Merasakan apa Kei?"


"Kau tahu? Jika manusia biasa atau kaum lain menjadi mate seorang manusia serigala, mereka akan mendapatkan perasaan aneh. Uhmm seperti... Jatuh cinta?"


"Kau gila. Tentu saja tidak! Aku tidak merasakan apapun terhadap Zach, karena itu aku terkejut dan merasa ini aneh. Aku akan menyelidikinya. Tidak.. Aku tidak bisa."


"Apa?"


"Bukan apa-apa. Aku akan meminta bantuan Kate dan Gina untuk mencari tahu. Aku yakin ada kesalahan disini. Mungkin sihir, jadi akan kami cari tahu. Untuk sementara jangan memberitahukannya pada Zach, setidaknya sampai aku memastikan ada apa sebenarnya. Karena manusia serigala hanya mempunyai satu mate Kei, itulah kutukannya... Maksud aku... MoonGoddes itu."


"Kenapa kamu terus menyebut kutukan?"


"Ya, ya aku minta maaf. Nanti saja aku jelaskan asal mula manusia serigala, aku sedang tidak mood gara-gara masalah mate ini. Kenapa aku jadi di sangkut pautkan?" Bian mendengus kesal.


"Kan bagus jika kamu memang mate dari Zach, yang artinya kamu berada di pihak kami dan kamu akan tetap menjadi kakakku."


"Ya, ya... Terserah kamu sajalah." kata Bian pasrah. Kei tertawa geli.


"Lalu, kamu akan tinggal bersama kami di pack Moon Roykolt?"


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku tinggal? Sudah ada Livia dan Lily yang berjaga disana dan aku juga akan meminta knirer berpatroli di sana. Aku tidak perlu turun tangan lagi. Lagipula ada hal yang harus aku urus." jelas Bian.


"Hal? Apa itu?"


"Bukan hal besar."


"Kamu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


"Tidak ada adik manis. Kalaupun ada masalah itu urusan kami, kaum putih. Tidak, bukan. Itu urusanku, urusan yang terpilih."


"Mungkin aku bisa membantu."


"Tidak akan bisa. Aku jamin."


"Apa mereka akan menghukummu?"


"Mereka? Aahh... Elder? Tentu saja tidak. Aku lebih kuat dari mereka, tentu saja mereka tidak akan menghukumku."


"Ahh baiklah.. Tapi... Ada sesuatu, benarkan? Apa kamu sakit? Atau mungkin karena mantra kuno. Aku dengar kamu tidak boleh menggunakan mantra kuno terlalu banyak."


"Kamu ini cerewet sekali. Aku baik-baik saja dan sudah aku bilang, itu urusan yang terpilih. Kamu tidak akan bisa membantunya. Sudahlah, kamu konsentrasi saja dengan apa yang akan terjadi. Kamu tahu bagaimana alpha Roger dan aku rasa dia sudah meminta bantuan kaum lain. Yang membuat aku bingung adalah alpha Roger bukanlah orang yang bisa menahan amarahnya, dia akan segera balas dendam. Tapi sudah beberapa hari semenjak kejadian itu, dia belum juga menyerang. Baik kesini, ke pack ayahmu atau pack alpha Sebastian. Berarti dia melakukan kerja sama dengan kaum lain dan itu akan sangat berbahaya."


"Aku tahu Bian. Aku juga mengkhawatirkannya."


"Kamu harus mencari cara Kei, meskipun akhirnya akan sulit untuk menyelamatkan semua orang." Bian menepuk pundak Kei. "Ayo kita siap-siap pergi. Aku juga akan membantu kalian dengan teleportasi."


Bian pergi meninggalkan Kei dan bergabung bersama para gamma. Zach mendengar semua itu dari balik sebuah pohon besar. Entah kenapa dia memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan Bian dan Kei. Zach menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya.


"Yang mulia...!!!  Yang mulia..!!!" panggil Mike.


"Ada apa Mike? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Kei yang terkejut.


"Kami menemukan seseorang. Dia manusia serigala dan kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Tubuhnya penuh luka dan tidak bisa menyembuhkan diri." kata Mike.


"Bawa dia kemari."


Jason dan Moles mengangkat tubuh seorang manusia serigala yang berwujud manusia dan di letakkan dihadapan Kei.


"Siapa dia?" tanya Bian.


"Kami tidak tahu yang terpilih." kata Mike.


"Dia tidak bisa menyembuhkan diri katamu?" tanya Bian. Mike mengangguk. Bian mendekati orang itu dan memeriksanya.


"Hei, jangan terlalu dekat." tegur Zach.


"Zach, aku harus memeriksanya jadi mau tidak mau aku harus mendekat. Kenapa denganmu?" Bian menggelengkan kepalanya. "Sepertinya parah dan dia sudah sekarat. Aku akan menyembuhkannya dengan sihirku."


"Tidak, tidak... Jangan pakai sihirmu lagi. Sudah cukup dengan sihirmu. Suruh penyihir lainnya saja." kata Zach.


"Tapi--"


"Alpha Zach benar yang terpilih. Sebaiknya jangan."


"Kenapa begitu? Dia sekarat!!" pekik Bian.


"Karena sepertinya saya tahu dia siapa." kata Roland.


"Saya juga." Austin menambahkan.


"Benarkah?" tanya Zach. Austin dan Roland mengangguk bersama.


"Lalu siapa dia?" tanya Bian.


"Dia adalah Nathan, gamma dari pack Moon Bykort."


Semua orang menatap Nathan yang tidak sadarkan diri.


****


tadariez

__ADS_1


__ADS_2