
“Kei pergilah, biar aku yang menangani Tania.” kata Bian.
“Tidak, aku tidak akan tinggalkan Tania.”
“Kei, ini bukan hal yang bisa kamu hadapi. Bantu saja yang lain menghadapi para vampir itu.”
“Tapi kamu tidak bisa menghadapinya sendirian.”
“Aku tidak sendirian.” kata Bian.
Tak lama muncul Elder satu persatu. Jumlah mereka cukup banyak. Ada dua puluhan Elder disana.
“Tidak hanya kamu yang mempunyai pasukan Kei, pergilah. Aku janji aku akan menyelamatkannya. Kamu tahu aku tidak akan menyakiti Tania. Pergilah, mereka membutuhkan bantuanmu.”
“Baiklah, aku serahkan Tania padamu.” kata Kei. Bian mengangguk. Kei merubah dirinya menjadi serigala dan berlari cepat ke perbatasan.
“Baiklah, sebisa mungkin untuk tidak menyentuhnya maupun menyakitinya.” kata Bian. Tania berteriak keras lalu mengarahkan cahaya ungu ke Bian. Bian mengarahkan kedua tangannya kedepan menahan serangan itu. Tapi Tania terlalu kuat. Bian terhempas tapi dia langsung bangkit lalu menahannya lagi. Tania terus menyerang Bian, hanya Bian.
“Sekarang!” perintah Damian.
Semua Elder membaca mantra, seperti nyanyian disiang hari. Semakin lama serangan Tania semakin melemah. Kate berlari ke hadapan Tania dan membaca mantra lalu memunculkan tali dari cahaya putih dan bersama Gina mengikat Tania di pohon. Tania tidak bisa melakukan sihirnya lagi. Bian maju kedepan.
“Sekarang apa yang kita harus lakukan?” tanya Barnabas.
“Kita bawa saja dia. Kita lakukan ritual itu.” kata Damian.
“Tidak, tidak ritual itu. Itu berbahaya. Jika Tania tidak bertahan, dia akan mati.” tolak Bian.
“Tapi jika makhluk ini tidak dimasukkan kembali ke kotak, dia akan mencari tubuh baru, Bian.” kata Augys.
“Saya tahu. Tapi kita mempunyai cara lain.”
“Tapi Bian sayang, jika kita menggunakan cara itu kamu yang akan dalam bahaya. Kamu tahu itu.” kata Feli.
Bian diam sambil menatap Tania yang masih mencoba melepaskan diri dari ikatan tali itu.
“Tali itu tidak akan menahan lama.” sahut Gina.
“Bian… ayolah, sudah cukup pengorbanan untuk para serigala.” kata Kate.
“Aku setuju dengan Kate.” kata Gina. Tapi Bian masih diam membisu.
“Baiklah, ayo kita bawa Tania ke Disprea.”
Empat orang maju untuk membawa Tania. Bian langsung menghempas empat orang itu dan semua Elder termasuk Kate dan Gina. Bian kemudian membuat lingkaran di sekitar Tania dan dirinya dan menyegelnya dengan darahnya.
“Tidak!!! Bian…!!” Kate memukul pembatas yang tidak terlihat.
Bian menatap Tania dan Tania menatap Bian. Bola mata Bian berubah menjadi putih. Dia mengeluarkan cahaya putih dari kedua tangannya lalu menempelkan tangannya ke dada Tania. Tania berteriak keras.
Kei masih berlari. Dia berhenti sejenak saat mendengar suara Tania berteriak. Kei ragu. Apa dia akan kembali atau meneruskan. Tapi akhirnya dia meneruskan perjalanannya. Dia tahu dan sangat yakin Tania akan baik-baik saja. Tak lama Kei sampai di perbatasan dan benar saja, ada vampir lumayan banyak disana. Ada puluhan vampir. Kei maju kedepan dan merubah wujudnya. Kei menatap para vampir itu.
“Mereka ingin bertemu dengan alpha Zach.” bisik Ian.
“Zach? Untuk apa?”
“Kata mereka Zach dan packnya membunuh satu anggota kawanan vampir mereka dan melukai yang lain.”
“Apa? Apa itu benar Zach?” tanya Kei pada Zach yang berdiri di sebelah Ian.
“Karena mereka akan menyakiti Karen.” jawab Zach. Kei mengangguk.
“Ada apa ini?” tanya Kei pada para vampir.
“Kamu… tidak, anda adalah raja itu, benarkan?” tanya salah satu dari mereka. “Perkenalkan, nama saya Zigor, saya pemimpin mereka.”
“Untuk apa kamu kemari? Disiang hari seperti ini? Bukannya matahari sedang terik?” Kei menatap ke langit.
“Saya akan menganggap itu sebagai kekhawatiran anda pada saya dan pasukan saya dan saya sangat menghargai itu.” kata Zigor. Zigor berambut panjang dan berwarna merah. Kulitnya pucat dan dengan bola mata yang hitam pekat. Dia mengenakan jubah yang cukup besar untuknya. Kei menatap Zigor heran.
“Kami para vampir masih bisa berjalan di siang hari tentu, karena para penyihir yang bermurah hati membuatkan kami sebuah kalung eksotik ini.” Zigor menyentuh kalung yang di kenakannya. Kalung dari berwarna hijau lumut.
“Lalu apa mau kalian?” tanya Kei.
“Kami ingin bertemu dengan alpha Zach.” Zigor menatap Zach. “Dan meminta pertanggung jawabannya atas pembunuhan satu anggota kami dan melukai satu lagi.”
“Pertanggung jawaban?” tanya alpha Sebastian.
“Ya, bagi kami, mata di bayar dengan mata.”
“Lancang sekali!” Adrian mulai marah.
“Adrian, tidak apa-apa. Tenanglah.” sahut Zach. “Aku tidak merasa melakukan kesalahan membunuh salah satu anggotamu.”
“Jadi anda mengakuinya alpha?”
“Ya, itu benar. Aku membunuh satu vampir itu yang entah siapa namanya.”
Semua terperangah menatap Zach. Tapi Zach tidak terlihat takut bahkan gugup. Dia terlihat tegas dan yakin akan jawabannya.
"Tapi aku membunuhnya karena dia akan menyakiti mateku." tegas Zach.
"Itu sungguh menggelikan. Kenapa dia bisa menyakiti mate anda alpha? Itu tidak mungkin. Kalaupun benar, seharusnya anda tidak perlu membunuhnya."
"Lalu maksudmu aku harus membiarkannya? Aku menyuruh mereka pergi! Tapi mereka tidak mau, mereka memilih untuk bertarung denganku." kata Zach.
"Sombong sekali. Jadi maksud anda, anda memenangkan pertarungan itu? Secara adil?" Zigor tertawa. "Lucu sekali."
"Apa katamu?!" Aaron emosi dan ingin menyerang, tapi Zach menahannya.
"Jangan Aaron. Jangan berikan alasan mereka untuk membunuhmu." kata Zach.
"Aku tidak perduli jika kamu tidak percaya. Percuma saja meyakinkanmu jika kamu hanya akan mendengarkan dia!" tunjuk Zach pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari Zigor. Dia adalah Ben, vampir yang berhasil meloloskan diri.
"Siapa dia Zach?" tanya Kei.
"Dia adalah vampir yang berhasil meloloskan diri."
"Aahh... Jadi kalian kemari berdasarkan cerita dari dia? Bagaimana kamu bisa mempercayainya?" tanya Kei.
"Sama seperti kamu mempercayai alpha Zach." Zigor tersenyum sinis.
"Licik sekali." gumam Ian.
"Baiklah Zigor, kami akan membicarakan ini terlebih dahulu dan--"
"Saya takut tidak akan waktu alpha Sebastian. Kami tidak ingin membuang waktu."
"Sepertinya mereka berniat sekali membunuh Zach." kata Kei.
"Karena memang itu peraturan mereka, Kei. Setiap kaum mempunyai peraturan sendiri. Kita mempunyai peraturan, mereka juga. Jika ada kaum lain atau bahkan bangsanya sendiri membunuh salah satu dari mereka dan yang mereka bunuh tidak bersalah, maka yang membunuh berhak mereka bunuh. Eyes for eyes, that's their absolute law."
"Lalu dari mana mereka tahu vampir itu tidak bersalah?" Ian menunjuk Ben.
"Tidak ada yang tahu, tapi Zach sudah mengakuinya." kata alpha Sebastian.
"Jadi hanya karena alpha mengakuinya? Padahal tidak ada bukti!" pekik Aaron.
"Kita juga tidak bisa membuktikannya Aaron dan saksi hanya dari pihak kita."
"Jadi anda akan membiarkan alpha Zach di bunuh mereka?!" Aaron masih histeris.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Aaron."
"Mereka penghisap darah. Mereka menghisap darah perawan para gadis di sekolah itu." kata Adrian.
"Itu memang benar." kata Zigor membenarkan. "Darah para gadis perawan membuat tenaga kami luar biasa meningkat. Tapi, kami tidak pernah membunuh satupun dari mereka. Kami hanya mengambil darah mereka, sedikit. Itu tidak melanggar hukum apapun, selama kami tidak membunuh siapapun."
"Omong kosong!" ucap Adrian.
"Tapi itu benar, aku yakin alpha Sebastian tahu hal itu. Benarkan alpha?" tanya Zigor dengan senyuman liciknya. Dia tahu betul alpha Sebastian mengerti hukum supranatural dan dia akan mendukungnya.
Alpha Sebastian terdiam.
"Paman?"
"Itu benar. Selama mereka tidak membunuh manusia, mereka tidak melanggar apapun." jawab alpha Sebastian.
"Dan mate dari alpha Zach adalah kebetulan seorang perawan dan kami tidak tahu jika dia adalah mate dari alpha keturunan murni yang berarti Alex dan Ben tidak melakukan kesalahan. Meskipun dia akan menyakiti mate alpha Zach, sudah seharusnya mereka hanya memperingatinya dan melarangnya, bukan membunuh." sahut Zigor lagi.
"Maaf Zach, itu benar. Selama mereka tidak melakukan kesalahan kita tidak boleh membunuh mereka."
"Alpha, sebenarnya alpha mendukung siapa?!" Aaron panik.
"Aaron, tenanglah." kata Ian.
"Bagaimana saya bisa tenang Beta..." Aaron mengacak rambutnya.
"Lalu bagaimana paman? Kita tidak bisa menyerahkan Zach pada mereka."
"Aku tahu Kei aku juga bingung. Kei, mereka benar. Mungkin memang kita dan mereka adalah musuh sejati tapi selama mereka tidak melakukan kesalahan, mereka tidak boleh dibunuh." jelas alpha Sebastian.
"Atas dasar apa? Peraturan dari mana?" tanya Zach.
"Peraturan mereka dan peraturan suprantural, Zach. Mereka mencari makanan di tempat yang bukan wilayah siapapun. Rotternville bukan wilayah siapapun, wilayah bebas. Vampir bisa mencari makanan disana dan peraturannya adalah manusia tidak boleh mati." jelas alpha Sebastian lagi.
"Bagaimana ada peraturan seperti itu?"
"Vampir juga perlu makan. Makanan vampir adalah darah. Jadi selama tidak mati, tidak masalah."
"Lalu bagaimana ini?! Aarrgghh....!!!!" pekik Aaron.
"Apa tidak ada jalan lain alpha?" tanya Ian.
"Bian, yang terpilih. Mungkin dia bisa bantu! Bukankah para vampir juga hormat padanya?" saran Adrian.
"Meskipun yang terpilih, dia tidak bisa membantu karena tidak ada pelanggaran Adrian."
"Meskipun dia adalah mate alpha Zach?" tanya Roland.
"Apa?" alpha Sebastian terkejut.
"Lalu kita harus apa paman? Kita harus cari cara." tanya Kei. Kei sudah sangat khawatir. Pikirannya terbelah dua, antara Tania dan Zach.
"Hanya satu. Jika kita bisa membuktikan siapa yang memulai pertarungan. Jika Zach memang benar telah menyuruh mereka pergi sebelum pertarungan itu, maka hukum mereka tidak berlaku."
"Lalu bagaimana cara membuktikannya? Apa Bian bisa?"
"Bian tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Lagipula mereka tidak akan percaya. Harus dari kaum mereka."
"Kenapa rumit sekali?" Kei mendengus kesal.
"Hanya satu yang bisa membantu. Vampir keluarga kerajaan." kata ayah Zach.
"Benar Dustin, hanya mereka." sahut alpha Sebastian.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Kei.
"Mereka tidak hanya kuat Kei, tapi mereka mempunyai kekuatan khusus salah satunya mereka bisa melihat masa lampau dari vampir lain yang berada di bawah mereka."
"Kalau begitu apa kita meminta bantuan mereka bantuan mereka?"
"Penyerangan?"
"Tidak bisa di jelaskan sekarang Kei, kita harus mencari cara."
"Sepertinya sudah cukup untuk kalian berdiskusi. Berikan alpha Zach, maka kami akan pergi dari sini. Jika tidak, maka kalian harus menghadapi kami dan kami anggap kalian melanggar aturan yang bisa membuat kalian diserang seluruh vampir di dunia ini." sahut Zigor sambil menyeringai senang.
Para serigala terdiam. Mereka sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
****
...Pack Moon Bykort...
"Mereka sudah tiba disana alpha dan gamma lain juga berkata keadaan semakin kacau di pack sana." kata Beta George.
"Bagus, sangat bagus. Rencana kita sempurna. Untung saja kita mengirim gamma untuk memeriksa keadaan Aaron, sehingga kita menyaksikan pertarungan itu." kata alpha Roger.
"Itu benar alpha. Kita sangat beruntung. Jika mereka bertarung, setidaknya anggota pack mereka akan berkurang. Terlebih mereka sudah kerepotan dengan mayat-mayat itu. Mayat yang dibunuh oleh ratu mereka sendiri."
Alpha Roger tertawa puas.
"Itu benar Bruce. Dan setelah semuanya, kita akan menyerang mereka. Bagaimana pendapat anda alpha Ordovic?"
"Itu rencana yang sempurna Roger, sangat sempurna."
Mereka bertiga tertawa. Hanya beta Manuel yang di balik pintu yang mendengarkan dalam diam.
****
"Waktu anda habis alpha Sebastian. Serahkan alpha Zach pada kami." kata Zigor.
"Paman..." Kei panik.
"Keputusanmu Kei." kata alpha Sebastian lalu menatap Kei dan mengangguk.
"Baik, kalau begitu kita bertarung saja. Aku tidak akan menyerahkan Zach." putus Kei.
"Aku juga. Perintahkan para prajurit untuk mengamankan wilayah manusia biasa. Aku tidak ingin mereka terluka dan arahkan pertarungan di padang rumput." perintah alpha Sebastian.
"Waaahh... Apa akan ada pertempuran lagi? Kalian tidak mengajakku?" kata seseorang dari belakang. Semua orang menoleh. Bian tersenyum lalu mendatangi Kei.
"Tania?" tanya Kei.
"Sudah aman dan berada di rumah alpha Sebastian dan dijaga para Elder. Kamu tenang saja dan konsentrasilah pada ini." kata Bian.
"Ada apa dengan Tania?" tanya Ian.
"Tidak apa-apa Ian, nanti saja." kata Kei.
"Selamat sore, Zigor." sapa Bian.
"Selamat sore, yang terpilih." Zigor membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu diwilayah para serigala. Bukankah kalian musuh abadi?" tanya Bian ramah.
"Ya itu benar. Kami musuh abadi. Kami membenci mereka, terlebih bau mereka yang menjijikkan." ejek Zigor.
"Hmm.. Alasan yang menarik." kata Bian.
"Dia mengejek bau kami?!" Jason menggeram.
"Tenanglah Jason." perintah alpha Sebastian. Jason menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Tapi meskipun anda disini, anda tidak bisa membantu benar kan?" tanya Zigor.
"Well, itu..." Bian ingin melangkah maju tapi Zach memegang tangannya.
"Jangan melakukan apapun." ucap Zach.
"Uhmm.. Aku bahkan belum melakukan apapun, Zach." kata Bian lalu melepaskan tangannya.
"Itu perbuatanku! Aku yang membunuh vampir itu!" Kata Adrian jujur.
"Tidak! Itu salahku juga, salah kami berdua. Kami yang membunuh vampir itu." tambah Roland.
"Tidak! Bukan mereka! Aku!" bantah Zach.
"Alpha!!" kata Roland dan Adrian bersamaan.
"Bukan mereka..."
"Tidak masalah siapa yang melakukan Zach. Kita tidak akan menyerahkan kamu maupun Adrian dan Roland." kata Kei.
"Jadi kalian memilih bertempur?" Zigor tersenyum senang. "Pilihan yang menarik. Sayang sekali, kali ini kalian tidak bisa dibantu oleh yang terpilih."
"Itu benar!! Yang terpilih tidak bisa membantu. Tapi aku bisa." kata seseorang. Mereka mencari-cari arah suara tapi tidak ketemu. "Dia atas sini."
Semua orang termasuk para vampir melihat ke atas. Mereka terkejut. Ada seseorang yang berada di atas pohon. Orang itu tersenyum pada semua orang. Orang yang di atas pohon melompat turun ke bawah. Para serigala menggeram. Dia vampir.
"Whoaa... Mereka galak sekali." gumam vampir yang baru datang. Dia terlihat masih muda dengan rambut pendek berwarna putih dan mata biru cerahnya.
"Tenanglah. Dia bukan musuh." kata Bian.
"Tapi dia vampir." kata Kei.
"Itu benar, Kei. Aku yang mengundangnya, karena itu dia muncul di dalam mantra perlindungan bukan di luar bersama para vampir itu." jelas Bian.
"Apa? Bagaimana bisa kamu mengundang vampir kemari?"
"Bukankah kalian membutuhkan vampir? Alpha Sebastian benar, aku tidak bisa membantumu. Hanya vampir dari keluarga kerajaan yang bisa."
"Ma-maksudmu dia--"
"Selamat sore.. Perkenalkan, nama saya Nickholson Gereera, pangeran dari klan vampir." kata Nick.
"Pangeran?" tanya Bian. "Kau yakin?"
"Ahh aku selalu melupakan hal itu my love. Salahku. Namaku Nickholson Gereera, raja vampir." Nick tersenyum.
"Aku kira tidak akan datang." kata Bian.
"Dan melewatkan untuk bertemu denganmu? Tentu saja tidak." Nick berjalan ke Bian, mengambil tangannya dan mencium punggung tangannya. "My love..."
Bian tersenyum. "Selamat datang Nick."
"Well..." Nick bertepuk tangan. " apa yang terjadi?"
Nick merangkul Bian tapi tak lama tangannya di pukul oleh Zach. Nick menarik tangannya dari Bian.
"Aww... Ada apa dengannya?" tanya Nick heran. Bian hanya bisa diam menatap ke duanya.
"Jadi kamu adalah... Raja itu?" tanya Zigor yang bingung.
"Jika itu yang kamu maksud dari klan Gereera, ya... Itu benar. Aku menjadi raja setelah membunuh ayahku sendiri dan aku juga sudah terbebas dari kutukan itu, aku yakin kamu mendengarnya. Semua berkat my love." Nick mencium punggung tangan Bian lagi membuat Bian memutar bola matanya jengah. Zach menggeram.
"Sepertinya ada yang salah dengannya." kata Nick yang mendengar geraman Zach.
"Senang bertemu dengan anda yang mulia." semua vampir menunduk patuh.
"Aahh ternyata kamu masih hormat padaku, bagus.. Lalu... Ada apa ini? Kenapa kamu datang di wilayah serigala?" tanya Zach.
"Mereka telah membunuh anggota kami, kaum vampir. Sementara kami tidak melakukan kesalahan apapun." kata Zigor.
"Benarkah?" tanya Nick, Zigor mengangguk.
"Benar yang mulia."
"Siapa saksinya?"
"Dia, Ben." tunjuk Zigor. Ben membungkuk hormat dengan gugup.
"Owhh kamu gugup sekali, tenanglah." kata Nick. Lalu menoleh ke Bian dan mengangguk. "Aku akan memeriksanya apa dia berkata jujur." Nick berjalan mendekati para vampir tapi dengan cepat Zigor menolak.
"Tidak perlu yang mulia."
"Jadi kamu melarangku?"
"Ti-tidak, bukan seperti itu. Kami melakukan perkerjaan kami dengan rapi. Kami selalu mencari makan di tempat yang bukan wilayah siapapun dan kami juga tidak pernah membunuh mangsa kami. Kami bukan vampir liar atau baru." jelas Zigor.
"Tapi ini tentang pertarungan dua kaum... Uhmm siapa namamu?"
"Zigor yang mulia."
"Zigor, baik. Karena ini tentang pertarungan besar Zigor. Aku ingin tahu kebenarannya."
Nick berjalan maju. Bian membukakan pelindungnya untuk Nick lalu menutupnya lagi.
"Kemarilah Ben. Biar aku memeriksamu." kata Nick.
"Apa anda mendukung mereka?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku tidak mendukung siapapun. Aku hanya bertindak adil."
"Tapi kami bangsamu!! Bangsa vampir!! Sudah seharusnya kamu mendukung kami!" kata vampir itu lagi. Nick menatap vampir itu heran. Tiba-tiba vampir itu maju dan menyerang Nick. Nick dengan cepat menghindar dan menepisnya. Membuat vampir yang menyerang tapi terhempas keras. Tapi vampir itu tidak menyerah. Dia langsung bangkit dan menyerang lagi. Nick menangkap lehernya dan mencekiknya kuat. Nick menusuk dada vampir itu dan mengeluarkan jantungnya. Vampir itu mati dan Nick membuang jantung itu kesembarang tempat.
"Ada lagi? Siapa yang ingin melawanku lagi? Aku bisa melawan kalian semua. Aku adalah raja vampir, vampir pertama di bumi ini." Nick menatap mereka marah.
"Kau!" Nick menunjuk Ben. "Kemari."
Ben yang sudah tampak takut menatap Zigor. Zigor hanya menatap lurus kedepan. Dia tampak sangat marah.
"Pegilah!!" bentak Zigor akhirnya, melihat Ben tidak beranjak. "Apa kamu mau raja membunuh kami semua baru kamu akan pergi?!"
Ben melangkah pelan dan ketakutan. Dia bahkan tidak berani menatap Nick. Nick memutar badan Ben menghadap ke semua vampir saat Ben sudah disampingnya.
"Dengar kalian semua! Aku tidak membela mereka. Aku justru membela kalian! Jika mereka tahu sebenarnya dan ternyata kalian melakukan kesalahan, apa kalian pikir kalian akan selamat? Vampir dan manusia serigala adalah musuh abadi, selalu bertarung dan saling benci. Tidak ada yang bisa memastikan siapa sebenarnya yang menang, karena kalian sama-sama kuat!! Tapi jika kali ini kalian menyerang mereka dan ternyata kalian yang melakukan kesalahan, kalian telah melanggar peraturan supranatural dan kalian akan binasa. Tidak hanya manusia serigala yang menyerang kalian, tapi semua kaum. Jadi jangan bertingkah seperti manusia bodoh!"
Nick memiringkan kepala Ben lalu menggigit lehernya dan menghisap darahnya Ben sedikit demi sedikit. Semakin banyak darah yang masuk, semakin banyak memori Ben yang terlihat. Tak lama Nick melepaskan taringnya dari leher Ben. Ben meringis kesakitan dan memegangi lehernya. Lalu Nick mengambil jantung Ben dari punggungnya dan membuangnya. Semua vampir dan manusia serigala terkejut.
"Kalian sudah di bohongi oleh dia. Alpha Zach sudah menyuruhnya pergi dan dia tidak mau. Jadi itu bukan kesalahan alpha Zach, pertarungan itu terjadi. Dia hanya berusaha melindungi seorang wanita, tidak, aku melihat dua wanita." Nick meludahi tubuh Ben. "Jadi apa kalian masih mau menyerang mereka?"
Para vampir saling pandang. Mereka bingung. Zigor hanya terdiam membisu.
"Kamu... Kemari." pinta Nick pada salah satu dari para vampir. Vampir itu terkejut lalu berjalan perlahan ke Nick. Nick kemudian menggigit vampir itu. Dia memperlihatkan memori dari Ben. Nick melepaskan gigitannya.
"Katakan pada mereka apa yang kamu lihat." pinta Nick.
"Yang mulia benar. Dia sudah berbohong." kata vampir itu. Semua jadi riuh.
"Jadi bagaimana Zigor? Apa kamu masih ingin bertarung?" tanya Nick. Semua vampir menatap Zigor.
"Tidak yang mulia. Kami akan pergi." kata Zigor akhirnya. Dia menatap para serigala. "Kami akan pergi dengan damai. Karena kebohongan dari pihak kami, hukum itu tidak berlaku."
Zigor membungkuk pada Nick lalu segera melesat pergi dengan wajah marah dan malu. Para pengikutnya juga pergi satu persatu. Nick menoleh pada Bian lalu tersenyum. Kita berhasil.
__ADS_1
****
tadariez