My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Sumpah Setia


__ADS_3

Zach masih berdiri sambil tersenyum manis pada para pemburu yang berjaga di luar rumah keluaga Cigeira. Dia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kaus berwarna putih. Rambutnya terlihat berantakan. Terlihat sekali jika dia terburu-buru.


"Ada apa ini?" keluar laki-laki bertubuh agak gemuk dan mempunyai janggut tebal. Laki-laki itu mengenakan celana panjang coklat dan kemeja kotak-kotak yang terlihat agak di paksakan masuk ke dalam tubuhnya yang tambun. Di dalam kemeja itu ada kaus berwarna putih yang terlihat kebesaran. Laki-laki itu berdiri tegap menatap Zach.


"Tuan, dia..."


"Zachary Payne, alpha keturunan murni, tuan." potong Zach. Laki-laki itu mengerutkan keningnya.


"Alpha keturunan murni katamu?" laki-laki itu terkejut.


"Benar sekali." Zach masih tersenyum manis pada pria di depannya.


"Untuk apa alpha keturunan murni datang ke rumahku? Sungguh keberanian yang luar biasa." senyuman terlihat di bibirnya.


"Ahh tidak perlu memuji." Zach tertawa canggung. Matanya menatap ke jendela lantai dua. Ada gadis yang sedang menatapnya, yang dia yakini sebagai Jane.


"Lalu, apa tujuanmu kemari?" tanya laki-laki itu.


"Meminta penjelasan dan membuat perjanjian dengan kalian."


"Penjelasan dan perjanjian? Menarik sekali. Tentang apa itu?"


"Katakan padaku tuan Cigeira, apa yang anda inginkan dari kami? Kenapa anda ingin menghancurkan kami?"


"Apa ini karena raja itu? Aku mendengar beberapa manusia mati beberapa waktu lalu."


"Itu bukan salah kami. Kami tidak menggigit manausia." jawab Zach.


"Meskipun begitu, aku tidak perduli, Zach. Kami keluarga Cigeira tidak mempunyai urusan gencatan senjata dengan manusia serigala manapun. Kami menyadari adanya bahaya. Itu sudah insting kami sebagai pemburu."


"Anda yakin itu? Bagaimana dengan alpha Roger?"


"Ada apa dengannya?"


"Jangan berpura-pura tuan. Aku yakin anda bersama alpha Roger yang merencanakan semua ini."


Laki-laki itu tertawa keras.


"Baiklah, baiklah... Mungkin. Apa kamu memiliki bukti? Kalian yang bersalah, jangan menyalahkan kami jika kami memburu kalian. Itu sudah tugas kami." elak laki-laki itu.


"Lalu kenapa harus kami? Kami tidak pernah menyakiti manusia seperti alpha Roger. Saya sungguh heran kenapa anda tidak mengincar mereka." tanya Zach.


"Mungkin belum saatnya. Lalu alpha, dimana betamu? Bukankah beta seharusnya selalu bersama alpha?"


"Hei, dia bukan kekasihku kenapa aku harus terus bersamanya?" protes Zach.


"Hubungan alpha dan beta lebih kental dari darah, lebih dekat dari hubungan orang tua dan anak. Jadi.. Apa betamu ada di dalam rumah ini?" tebak laki-laki itu. Zach terkejut. Laki-laki itu tersenyum. Dia tahu tebakkannya benar.


"Meskipun begitu, aku tidak perlu bersamanya setiap saat. Aku tahu resiko jika datang kemari. Kamu pikir aku akan membiarkannya terluka?" Zach mencoba beralasan. Laki-laki itumenatap Zach heran.


"Aku baru pertama kali melihat alpha begitu melindungi betanya. Bukankah seharusnya terbalik?"


"Tidak, itu tidak terbalik." kata Aaron yang baru tiba. Aaron menarik tangan Nathan dan mendorong tubuh Nathan pelan. Nathan menatap laki-laki itu. Laki-laki itu terkejut tapi dengan segera dia sembunyikan keterkejutannya.


"Ada apa ini? Siapa dia?" tanya laki-laki itu.


"Anda tahu ada apa dan siapa dia." jawab Aaron.


'Aaron ada apa ini? Kenapa kamu membawanya?'


Flashback on


Nathan berdiri cukup lama didepan pintu belakang. Dia berulang kali menghela nafas.


"Sebaiknya kamu mengaku saja." kata Aaron yang sudah sampai disana. Nathan menoleh.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu." katanya lalu beranjak pergi.


"Ohh aku tahu kamu mengerti." kata Aaron. Nathan menghentikan langkahnya. "Aku tahu kamu yang membantu keluarga Cigeira. Untuk itulah kamu disini. Untuk itulah kamu disakiti dan di buang oleh alpha Roger."


"Kamu tidak tahu apapun. Jangan berbicara sembarangan." Nathan berjalan lagi.


"Apa kamu lupa aku juga dulu bagian dari pack alpha Roger? Aku tahu betul bagaimana dia." kata Aaron cukup untuk menghentikan langkah Nathan lagi. Nathan berbalik.


"Ya, itu benar. Tapi kamu bukan bagian dari mereka lagi. Jadi urus saja urusanmu dengan alpha barumu."


"Apa kamu masih mau menjadi bagian dari mereka? Mereka sudah menyakiti dan membuangmu Nathan."


"Mereka tidak menyakiti dan membuangku! Lagipula itu bukan urusanmu!!" pekik Nathan.


"Tidak bisakah kamu berbuat benar kali ini?" tanya Aaron. Dia benar-benar berharap Nathan berubah.


"Jangan menasehatiku Aaron. Kuperingatkan kau." Nathan maju beberapa langkah dan kini tepat di depan Aaron dengan kedua tangan mengepal.


"Mengakulah Nathan. Mereka sudah membantumu, menyembuhkanmu, menerimamu. Jangan lakukan ini, Nathan." pinta Aaron.


"Berhenti menasehatiku. Aku sudah muak!" Nathan berbalik dan mulai berjalan. Aaron berlari dan menghentikan langkah Nathan.


"Apa masalahmu?!" tanya Aaron setengah berteriak.


"Tidak! Apa masalahmu?! Untuk apa kamu mengurusiku, Aaron?"


"Aku memberikanmu kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik, Nathan. Orang-orang ini tulus perduli padamu."


Nathan tertawa.


"Lucu sekali. Sejak kapan aku perduli semua itu?"


"Ya, kamu benar. Kamu selalu menganggap alpha Roger sebagai orang yang paling hebat. Kamu bahkan rela melakukan apapun untuknya. Bahkan membunuh kakakmu sekalipun."


"Jangan menyebut kakakku lagi, Aaron."


"Apa?! Tapi itu benar. Kakakmu yang seharusnya menjadi luna, tapi kamu membantu alpha Roger membunuhnya hanya karena alpha Roger merasa terganggu dengan kehadirannya. Kamu membunuh kakakmu sendiri!"


Bukk!!


Nathan memukul wajah Aaron. Aaron menatap Nathan dan tersenyum.


"Kenapa Nathan? Kamu merasa terganggu dengan kenyatan itu? Bahwa kamu lebih memilih alphamu?"


"Dia alphaku, kamu tahu aku tidak bisa membantahnya. Kamu juga pernah melakukannya bukan? Untuk ibumu?"


"Yeah itu benar. Tapi setidaknya aku sudah berubah dan mencoba melakukan yang benar. Aku memberimu kesempatan itu, Nathan."


"Aku tidak tertarik."


"Kamu tidak berubah." Aaron mendengus kesal.


"Aku tidak perlu berubah. Apalagi untuk orang seperti kalian."


Bukk!!


Kali ini Aaron yang memukulnya.


"Apa kamu mau melawanku kali ini, Aaron? Kamu selalu kalah melawanku."


"Kita lihat saja nanti."


Aaron berubah menjadi serigala. Dia menggeram keras. Nathan berubah juga. Aaron melompat tinggi dan menggapai leher Nathan dan Nathan melakukan hal yang sama. Nathan mencoba untuk menggigit Aaron, tapi Aaron masih menahan. Aaron mendorong keras tubuh serigala Nathan. Nathan terhempas di tanah dan langsung bangkit lalu menggeram keras dan melompat ke arah Aaron. Aaron menghindar. Aaron menerjang Nathan. Mereka berguling hingga masuk ke dalam hutan. Nathan menendang dengan kaki belakangnya. Aaron bisa menyeimbangkan tubuhnya dan mendorong keras tubuh Nathan dengan kepalanya. Nathan berusaha menahan tapi dia tidak cukup kuat. Dia tahu Aaron beta sekarang yang membuat Aaron lebih kuat darinya. Nathan terus bertahan tapi akhirnya tubuhya terhempas.


'Lakukan hal yang benar untuk sekali saja dalam hidupmu, Nathan. Sekali saja!'


Nathan menggeram dan menatap tajam Aaron.


'Nathan, aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Aku tahu kamu--'


'Aaarrrggghhh diam!! Kamu tidak tahu apapun tentang aku!'


Nathan marah dan langsung berlari ke Aaron dan menyerangnya. Aaron mencoba bertahan tapi kali ini Nathan menyerang dengan sekuat tenaga. Nathan tidak menahannya kali ini. Dia sudah terlalu marah. Aaron terhempas. Di bangkit dan melayangkan cakarnya pada Nathan. Nathan mengerang. Aaron kembali mencakar dan menggigit punggung Nathan. Nathan terluka tapi dia bertahan. Dia mencoba menyerang Aaron dengan sisa tenaganya. Aaron juga bersiap menyerang kembali. Tapi tiba-tiba Zach muncul dan berdiri di tengah-tengah mereka dengan menggunakan wujud serigalanya. Zach menggeram keras dan marah.


'Ada apa ini?! Kenapa kalian bertarung?!'


Baik Aaron dan Nathan tidak ada yang menjawab. Mereka terdiam.


'Aaron? Apa kamu mau menjelaskannya?'

__ADS_1


'Hanya pertengkaran kecil alpha, tidak perlu dikhawatirkan.'


'Pertengkaran kecil? Tapi dia terluka cukup parah Aaron. Kamu adalah beta. Kamu lebih kuat darinya.'


'Saya minta maaf alpha, saya... Lepas kendali.'


'Baiklah, kembali ke rumah alpha Sebastian dan bantu Ian. Dia sedang menyusun rencana.'


'Baik alpha.'


Aaron beranjak pergi meninggalkan Zach dan Nathan. Zach menatap Nathan. Nathan sudah berbaring dan menahan rasa sakit.


'Apa kamu baik-baik saja Nathan?'


Nathan tidak menjawab. Dia hanya menunduk. Zach mendatangi serigala Nathan. Dia menjilat luka Nathan. Air liur alpha akan menyembuhkan lukanya dengan cepat. Nathan terkejut dengan perlakuan Zach.


'Un-untuk apa kamu... Tidak, anda lakukan itu?'


'Aku tidak tahu, aku hanya merasa kamu perlu. Jangan khawatirkan Aaron. Aku tahu dia hanya khawatir padamu dan aku juga. Kamu masih muda sama seperti Aaron tapi kamu sudah di latih sedemikian keras.'


'Tapi itu untuk membuatku kuat.'


'Aku mengerti hal itu. Tapi kata ibuku, anak-anak perlu menjadi anak-anak, kadang-kadang. Mereka tidak harus selalu terus di paksa menjadi dewasa. Aku tahu usiaku hanya lebih tua satu atau dua tahun darimu, tapi apa yang ibuku katakan benar. Berhentilah mencoba menjadi kuat, Nathan. Tapi cobalah mengerti dirimu sendiri dan mencari jati dirimu sebenarnya. Dan tentu saja, jadilah remaja. Jangan menyimpan beban yang melebihi dirimu.'


Zach berbalik dan berjalan menjauhi Nathan yang terdiam. Lukanya sudah sembuh dan menutup tapi dia masih belum berubah menjadi manusia. Dia hanya berbaring disana dalam diam.


.


Rumah Cigeira.


"Dia sudah memulai. Sebaiknya kita juga." kata Henry. Semua orang mulai beranjak dari sana tapi langkah mereka terhenti. Ada Nathan disana. Aaron sudah bersiap jika Nathan mengadukan keberadaan mereka kepada keluarga Cigeira.


"Sedang apa kamu disini Nathan?" bisik Ian.


"Saya... Saya ingin berbicara dengan beta Aaron." bisiknya. Semua menatap Aaron.


"Apa harus sekarang? Kita bisa berbicara nanti." tolak Aaron.


"Tidak bisa, beta Aaron. Harus sekarang."


"Menyusahkan sekali. Pergi duluan saja. Aku akan menyusul." kata Aaron.


"Kamu yakin itu?"


"Tentu Ian, aku baik-baik saja."


"Baiklah, ayo kita pergi."


Ian, Jake dan para pemburu pergi.


"Ada apa Nathan?"


"Aku akan melakukannya."


"Melakukan apa?"


"Aku mengakuinya."


"Bagus, kalau begitu tunggulah dirumah alpha Sebastian, kita akan bicarakan nanti. Kamu tahu aku sedang--"


"Maaf aku tidak bisa."


"Huft.... Apa lagi sekarang?"


"Kamu akan tahu."


"Apa?"


Nathan menatap para pemburu itu. Aaron ikut-ikutan menatapnya.


"Mungkin belum saatnya. Lalu alpha, dimana betamu? Bukankah beta seharusnya selalu bersama alpha?" kata pemburu itu. Aaron membelalakkan matanya.


"Yeah, cepat atau lambat dia akan menanyakannya. Dia akan curiga jika kamu tidak bersama alpha Zach. Untuk itulah aku menahanmu disini. Ini kebaikkanku untukmu." kata Nathan lalu beranjak pergi.


"Tunggu, aku punya ide yang lebih baik." kata Aaron.


"Apa anda mengenalnya tuan Cigeira?" tanya Aaron. Laki-laki itu menatap Nathan. Nathan yang kebingungan hanya diam.


"Untuk apa aku harus mengenalnya?"


"Bukankah dia yang memberikan kristal itu?"


"Apa?!"


"Iya alpha. Nathan yang memberikan mereka kristal itu atas perintah alpha Roger, benarkan Nathan?"


Nathan masih diam. Dia menatap Zach lalu Aaron. Aaron mengangguk padanya.


"Itu benar." kata Nathan akhirnya. Dia menundukkan kepalanya.


"Jadi memang benar alpha, mereka bekerja sama dengan alpha Roger." kata Aaron. Zach tertawa sinis.


"Tidak ada gencatan senjata katamu?" tanya Zach. Laki-laki itu menggeretakkan gerahamnya.


"Aku rasa itu bukan urusanmu dengan siapa aku bekerja sama."


"Tentu saja itu menjadi urusanku tuan. Terlebih jika itu menyangkut packku dan orang-orang yang aku sayangi. Aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama jika itu menyangkut keluargamu. Benarkan Ian?"


"Tentu saja alpha." sahut Ian yang telah berdiri di belakang mereka dengan tangan kirinya berada dipundak Jane. Ayah Jane berbalik dan terkejut.


"Apa maumu?" tanya ayah Jane.


"Berikan kami kristal itu."


"Dan menghilangan kesempatan membunuh kalian? Tidak akan pernah!"


"Meskipun nyawa putrimu menjadi taruhannya?"


"Dia sudah tahu apa resikonya menjadi pemburu. Dia akan mengerti kenapa aku melakukan ini. Benarkan sayang?" tanya ayah Jane pada Jane. Jane menatap tidak percaya pada ayahnya.


"Dia putrimu dan dia masih remaja! Bagaimana kamu bisa sekejam ini?"


"Sudah kukatakan dia tahu resikonya."


Zach menatap Ian.


'Tidak berhasil Ian, rencana B.'


'Baik alpha. Rencana B Jake.'


'Baik beta.'


Jake memberitahukan pada para pemburu Dixon yang bersamanya di belakang rumah.


"Kita masuk."


Henry membuka pelan pintu rumah. Dia waspada dengan adanya pemburu. Mereka melihat satu pemburu pingsan dan berada di bawah meja makan. Mereka yakin itu ulah Ian yang tadi masuk terlebih dahulu.


"Kita menyebar dan kumpul kembali disini."


Semua mengangguk dan mulai berpencar. Jake mencari di sekitar dapur. Dia melihat ke luar jendela dapur. Dia melihat ada sesuatu di kejauhan. Sebuah cahaya. Dia membuka pintu dapur dan berjalan ke arah cahaya itu berada.


"Siapa disana?" kata salah satu pemburu Cigeira. Jake langsung berlari mendekati pemburu itu dan memukulnya keras. Pemburu itu pingsan seketika. Jake kembali berjalan menuju cahaya. Semakin lama semakin dekat. Dia melihat sebuah ruangan kecil disana.


"Berhenti disana!"


Jake berbalik dan mendapati dua pemburu disana dan menodongkan senjata padanya.


Sementara itu didepan rumah.


Semua pemburu telah siaga dan menodongkan senjata mereka yang telah di isi peluru wolfsbane. Ian berjalan perlahan menuju Zach sambil membawa Jane bersamanya.


"Kalian bisa membawanya aku tidak akan perduli tapi aku tidak akan pernah menyerahkan kristal itu."


"Keras kepala sekali." gumam Zach.

__ADS_1


"Dan kau Nathan, bukankah sudah kukatakan jika Roger memerintahkanmu untuk kembali ke pack lamamu? Atau mungkin kamu sudah betah berada disini?" kata ayah Jane. "Entah bagaimana reaksi Roger jika dia tahu kamu berkhianat."


Nathan diam ditempatnya.


"Jadi apa kalian akan menyerang tempat ini?" tanya ayah Jane. Ayah Jane mengeluarkan senjatanya lalu menambak Zach. Tapi Zach dengan cepat bisa menghindar. Semua penjaga mulai menembakkan senjata mereka. Zach berubah menjadi serigala. Dia menyerang salah satu pemburu. Aaron dan Ian berubah juga. Suara tembakan terus terdengar.


Jane panik. Dia berada di tengah-tengah pertarungan itu. Nathan juga panik. Dia tidak tahu siapa yang akan dia bela.


Zach tertembak. Ayah Jane yang menembaknya. Zach kesakitan tapi dia langsung bangkit dan menggeram. Dia menahan rasa sakitnya. Ayah Jane menembak lagi. Zach terkena peluru wolfsbane lagi. Tapi Zach tidak menghentikan langkahnya untuk maju mendatangi ayah Jane. Zach berlari dan menghempas ayah Jane. Tubuh ayah Jane mengenai dinding lalu terhempas ke tanah.


"Ayah!!!" teriak Jane. Dia ingin mendatangi ayahnya namun Ian mencegah. "Meskipun dia seperti itu, dia tetap ayahku."


Jane berlari menuju ayahnya dan mencoba untuk membantunya. Ayah Jane menepis tangan Jane, menolah untuk di bantu, lalu berdiri.


Zach melolong keras. Tak lama muncul serigala dalam jumlah banyak dan tak terhitung. Mereka mengepung rumah itu. Para pemburu kalah jumlah. Bahkan senjata mereka tidak berguna dan mereka tidak bisa mengambil senjata cadangan mereka yang ada dirumah. Pintu rumah di hadang oleh serigala.


"Bantu kami pergi dari sini. Maka aku tidak akan memberitahukan pada Roger tentang pengkhianatanmu." tawar ayah Jane. Nathan tampak berpikir.


'Jangan Nathan, alpha Roger tidak akan membiarkanmu hidup. Jangan percaya mereka.'


Aaron mencoba membujuk Nathan. Nathan hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan itu membuatnya tahu jika kesetiaannya telah berpindah. Pintu depan terbuka. Henry keluar bersama anak buahnya.


"K-kau..."


"Ya, ini aku. Hallo Joe." sapa Henry.


"Kamu berkhianat pada sesama pemburu."


"Ohh jangan samakan aku denganmu Joe, aku tidak membunuh serigala yang tidak bersalah."


"Tapi kita pemburu serigala!!"


"Itu benar. Tapi mereka tidak menyakiti atau membunuh siapapun Joe, kamu tahu perjanjian itu."


"Persetan dengan perjanjian itu!!!"


"Berhentilah disini Joe, aku yakin mereka akan mengampunimu." kata Henry.


"Tidak akan." ayah Jane mengambil senjata lain dari balik bajunya. Sebuah senjata yang telah di isi peluru yang di ambil dari kristal itu lalu menembak Zach.


"Ayah tidak!!" teriak Jane. Zach sudah tidak bisa menghindar lagi.


Terdengar suara rintihan. Zach terkejut. Nathan yang menerima tembakan itu. Dia menghalangi Zach menerima peluru itu. Nathan berubah wujud menjadi manusia.


"Sialan kau Joe." Henry memukul wajah ayah Jane dengan gagang senjata laras panjangnya. Joe terjatuh.


"Nathan! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aaron yang telah menjadi manusia biasa. Nathan mengerang kesakitan.


"Ian, bereskan semuanya." perintah Zach yang juga telah berubah menjadi manusia biasa. Ian mengangguk.


"Apa dia terluka parah?" tanya Zach.


"Tidak tahu alpha. Dia tidak menjawab."


"Biar aku lihat." kata Henry yang sudah mendekat.


"Jika wolfsbane biasa dia akan baik-baik saja. Hanya tinggal mengeluarkan pelurunya saja."


Henry memeriksa luka Nathan. Dia terkejut.


"Ada apa tuan? Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Aaron yang melihat ekspresi Nathan. Henry menghela nafas.


"Apa dia keturunan murni? Keturunan dari werewolf pertama?"


"Sepertinya, saya tidak tahu." kata Aaron.


"Jika dilihat dari reaksinya, dia memang keturunan murni. Dia sekarat. Ini peluru wolfsbane yang terbuat dari kristal itu."


"Apa?"


"Ma-ma-afkan ak-akku." sahut Nathan.


"Tidak Nathan kamu akan baik-baik saja. Jangan berkata apapun."


Tubuh Nathan bergetar. Dia sudah tidak punya banyak waktu.


"Aku mohon tuan Dixon, lakukan sesuatu."


"Tidak bisa alpha. Itu racun terkuat di dunia dan membunuh keturunan murni. Kei adalah Raja, dia lebih kuat dari Nathan. Karena itu dia masih bisa bertahan, sedangkan Nathan tidak."


"Bian! Bian bisa menyembuhkannya. Kita tinggal memberikan kristal itu padanya."


"Tidak akan sempat. Nathan tidak akan bertahan. Maafkan saya." Henry menyerahkan kristal itu pada Ian. "Bawa ini pada penyihir itu dan cepatlah!"


Ian segera berlari menuju rumah alpha Sebastian. Tubuh Nathan bergetar lagi.


"Oh tidak! Nathan!!" pekik Aaron.


"Ak-ku b-ber-bersum-pah ak-ak-an set-seti-a d-dan pa-pat-uh p-pa-da alp-pha Z-zach." kata Nathan. Nathan memilih beralih menjadi anggota pack Zach di sisa terakhir hidupnya. Darah keluar banyak dari mulutnya. Nathan tersenyum pada Aaron lalu pada Zach. Dia menutup matanya dan tidak bergerak lagi.


"Nathan? Nathan?!" panggil Aaron. Henry memeriksa Nathan. Dia menggeleng. Aaron memunduk begitu juga Zach.


"Alpha, anda berdarah." kata Henry. Zach menatap tubuhnya dan teringat jika dia di tembak dua kali oleh ayah Jane.


"Aku baik-baik sa-- aaakhh.." Zach mengerang.


"Ayo kita bawa alpha kembali ke rumah." perintah Aaron pada para omeganya. "Jangan lupa bawa tubuh Nathan kembali. Dia sudah menyerahkan nyawanya untuk alpha kita."


Para omega mengangguk lalu memapah Zach dan mengangkat tubuh Nathan.


"Alpha!!" panggil Jake.


"Dari mana saja kamu?" tanya Aaron pada Jake.


"Maafkan saya beta. Tapi saya menemukan mereka." kata Jake. Dari belakang Jake ada sekumpulan orang. Ada laki-laki dan perempuan, tua dan anak-anak.


"Siapa mereka?" tanya Zach.


"Saya tidak tahu. Saya menemukan mereka di sebuah ruangan kecil di belakang tak jauh dari rumah mereka."


"Mereka... Bukan manusia biasa."


"Benar, mereka manusia koyote. Mereka disiksa dan di jual oleh alpha Roger pada pemburu Cigeira."


"Oh astaga, kejam sekali." gumam Zach. "Bawa mereka. Perlakukan dengan baik."


"Baik alpha."


Zach kembali berjalan di bantu oleh para omega.


****


Ian berlari dengan sekuat tenaga. Akhirnya dia sampai di rumah. Dia langsung menerobos masuk kedalam rumah. Ian masuk ke dalam kamar yang di tempati Kei.


"Ini...." katanya pada Bian.


"Kenapa lama sekali?" Bian mengambil kristal itu lalu membukanya. "Livia, berikan bahan yang aku minta tadi."


Livia menurut dan memberikan apa yang diminta Bian. Bian mencampur semua benda itu lalu menyaringnya dan meletakkannya di sebuah gelas.


"Tania, minumkan ini." kata Bian pada Tania yang sudah berada disamping. "Ian bantu Tania mengangkat kepala Kei, cepat! Kita sudah tidak punya waktu lagi."


Ian langsung menuju Kei dan mengangkat kepalanya. Tania memumkan sedikit demi sedikit ramuan itu lalu merebahkan kembali Kei. Tiba-tiba tubuh Kei bergetar hebat. Semua orang terkejut.


"A-ada apa dengannya?" tanya Tania. Tak lama tubuh Kei kembali lemas dan tidak bergerak. "Kei, sayang?"


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Livia.


"Kita harus menunggunya Livia." kata Bian.


Detak jantung Kei berhenti sejenak. Lalu kemudian kembali berdetak. Kei tersentak bangun. Dia terduduk. Nafasnya cepat. Kei terbatuk.


"Kei!!" Tania memeluk Kei. Kei menatap Ian lalu Bian.


"Selamat datang kembali Kei." kata Bian.

__ADS_1


****


Tadariez


__ADS_2