My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Dia adalah Alpha


__ADS_3

Zach POV


Aku berlari di pagi buta. Semalam aku tidak bisa tidur karena kepalaku dipenuhi oleh pemikiran tentang manusia serigala. Jadi aku memutuskan untuk berlari pagi sebelum ke sekolah.


Aku mempercepat langkahku dan anehnya aku memang semakin cepat. Lebih cepat dari biasanya. Semua indraku semakin tajam dari biasanya. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Apa benar aku seorang manusia serigala sekarang? Tapi aku masih berwujud manusia. Rodgy bilang bahwa manusia serigala mempunyai wujud serigala. Tapi aku tidak. Aku tidak merasakan perubahan apapun. Hanya indraku yang semakin tajam dari biasanya.


Aku menghentikan lariku dan mencoba mengatur nafasku. Bahkan setelah berlari cukup jauh, aku masih tidak lelah. Aku berhenti dan menatap ke sekitar. Hutan rimbun. Hutan ini menjadi saksi peristiwa itu, peristiwa saat aku digigit oleh serigala itu. Tapi anehnya aku tidak berubah menjadi serigala. Apa itu bukan manusia serigala? Jika bukan, kenapa aku tidak mempunyai luka bekas gigitan?


Aku mendengar suara. Suara itu aku rasa agak jauh dari tempatku berada dan semakin mendekat. Aku mencoba mendengarkan suara itu lebih jelas. Langkah kaki. Banyak dan ke arah tempatku berdiri. Aku bersembunyi di balik pohon besar. Aku tidak tahu itu apa tapi aku tidak ingin mengambil resiko.


Suara itu semakin dekat. Aku masih bersembunyi. Kudengar suara geraman dan sesuatu yang... Mengendus? Aku penasaran dan mengintip dari balik pohon. Oh astaga!! Itu serigala besar. Ya, serigala besar yang menyerangku. Tunggu apa itu serigala itu? Aku tidak yakin. Tapi ahh apa perduliku. Serigala itu sama besarnya dengan serigala-serigala malam itu.


Aku dengar suara geraman lagi. Kali ini suaranya sangat.... Dekat!! Aku menoleh dan... Ya! Mereka di sampingku. Oh tuhan, apa kali ini aku akan mati? Aku berjalan pelan keluar dari persembunyianku. Mereka telah mengetahui kehadiranku. Aku menatap mereka satu persatu. Mereka lebih banyak dari malam itu. Aku menghitungnya.. Satu, dua.... Tujuh! Mereka bertujuh. Kenapa mereka mengincarku lagi? Apa memang serigala suka memainkan korbannya? Aku rasa tidak.


Mereka menuntun ku ke tengah-tengah. Mataku, aku yakin sudah membulat sempurna. Mereka... Berubah! Berubah menjadi manusia!! Oh tuhan, apa aku salah lihat?? Aku menggosok mataku kasar, mencoba meyakinkan penglihatanku. Ya! Aku tidak sedang bermimpi atau halusinasi. Mereka memang berubah menjadi manusia. Berarti mereka adalah...


"Halo Zach." sapa salah satu mereka. Mereka... Mengenalku?


"Ka-kalian s-ss-siapa?" kataku gugup.


"Namaku Dustin. Dustin Payne." kata lelaki itu membuatku terkejut. Payne?


"Payne?" tanyaku. Orang itu mengangguk. Aku memperhatikannya. Dia cukup tinggi, umurnya sekitar paruh baya, rambutnya coklat mirip denganku dan dia perawakan pria eropa pada umumnya dan satu lagi, bola matanya berwarna abu-abu.


"Ya, Payne. Kau adalah anakku Zach." katanya. Wait, what?


"Apa yang anda maksud?"


"Kamu adalah anakku dan aku adalah ayah kandungmu." katanya lagi. Tentu aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa, ayah yang tidak pernah kukenal sejak aku lahir kini berdiri dihadapanku dan mengaku sebagai ayah? Ini sungguh-sungguh tidak masuk akal.


"Jangan bercanda tuan. Itu sangat tidak lucu." kataku. Aku menatap para manusia serigala itu satu persatu.


"Aku tidak bercanda, anakku. Aku memang ayahmu. Tahukah kamu, sudah berapa lama ayahmu ini mencarimu? Ibumu pandai sekali menyembunyikanmu." katanya lagi.


"Aku tidak percaya padamu."


"Aku ayahmu dan kamu adalah anakku, penerusku."


Penerus? Apa maksudnya?


"Kamu mau apa?" tanyaku. Aku tidak perduli dia siapa.


"Membantumu." katanya. Aku mengerutkan kening.


"Apa maksudmu?"


"Aku adalah alpha dari packku. Pack Moon Hykort, pack pertama dan tertua didunia."


"Pack?"


"Ya... Pack manusia serigala."


Aku terkejut. Nafasku tertahan.


"Ma-ma-manusia serigala?"


Aku melihat mereka satu persatu lagi. Mereka... Manusia serigala.


"Mereka adalah anggota packku dan masih ada lagi di wilayahku."


"La-lalu apa maumu?" tanyaku mencoba untuk memberanikan diri.


"Aku sudah mencarimu kemana-mana dan aku salah karena menggunakan insting serigalaku untuk mencari serigalamu. Tapi ternyata aku mengetahui bahwa kamu bukan manusia serigala. Tepatnya jiwa manusia serigalamu belum bangkit dan aku tidak tahu kenapa." lelaki yang bernama Dustin dan mengaku sebagai alpha dari manusia serigala itu berjalan mendekatiku. Aku mundur seketika.


"Apa kau takut padaku, anakku? Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." katanya.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" aku masih menjauhinya.


"Aku tidak akan menyakiti anakku sendiri. Kau adalah anakku, penerusku, calon alpha dari packku."


"A-apa?"


Calon alpha? Dia sudah gila.


"Kau adalah calon alpha Zach."


"Ti-tidak, itu tidak mungkin. Aku bukan manusia serigala."


"Aku kira juga begitu. Tapi saat malam itu aku mendekatimu, aku tahu kamu adalah manusia serigala. Hanya saja jiwa manusia serigalamu belum bangkit. Aku tidak tahu kenapa. Aku masih mencari tahunya. Tapi aku sudah membangkitkannya malam itu."


"Maksudmu dengan mengigitku?"


"Menggeram keras lebih tepatnya. Aku sebagai alphamu yang memanggilmu dan gigitan itu hanya untuk berjaga-jaga jika geraman itu tidak berhasil."


"Memang tidak berhasil. Gigitan maupun geraman keras itu. Aku masih manusia biasa." kataku.


"Tidak, itu berhasil. Jiwa serigalamu bangkit."


"Apa maksudmu?"


"Sekarang kau adalah manusia serigala, Zach. Seutuhnya."


"Itu karena kamu yang menggigitku." hardikku.


"Tidak. Kamu memang mempunyai jiwa serigala itu sejak lahir, zach. Itu karena kau adalah anakku. Tapi entah kenapa jiwa itu tidak bangkit seperti anak-anak manusia serigala lainnya."


Aku terdiam. Apa benar aku adalah manusia serigala? Dan dia adalah ayahku? Seorang manusia serigala? Kenapa ibu tidak pernah memberitahukan padaku?


"Apa yang aku ceritakan itu benar Zach. Aku adalah ayahmu dan kamu adalah anakku. Ibumu tahu soal siapa dan apa sebenarnya aku. Hanya saja... Karena masalah pack, aku harus pergi. Aku tidak tahu jika Donna mengandung anakku. Dia hanya meninggalkanku sebuah foto. Foto yang aku berikan padamu malam itu. Setelah itu aku berusaha mencarimu. Tapi caraku mencarimu salah. Karena aku kira jiwa manusia serigalamu bangkit layaknya anak-anak manusia serigala yang lain. Tapi ternyata aku salah. Aku minta maaf Zach dan aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu."


Ayahku melangkah maju untuk mendekatiku kemudian memelukku erat. Aku tidak membalas pelukkannya atau menepisnya. Aku hanya masih memproses apa yang terjadi. Ayah melepaskan pelukkannya.


"Lalu... Apa yang kamu inginkan dariku?" tanyaku sambil menatapnya tajam.


"Aku ingin kamu ikut denganku." katanya dan entah kenapa aku tidak terkejut dengan kata-kata itu.


"Dan meninggalkan ibu? Tidak, itu tidak akan terjadi." tolakku. Tentu saja saja aku tidak mau. Meninggalkan ibuku yang telah merawatku selama ini untuk bersama dengan ayahku yang baru saja aku temui? Tidak, itu tidak akan terjadi.


"Aku mengerti. Aku tahu kamu akan mengatakannya. Tapi ijinkan packku membantumu."


"Membantuku?"


Apalagi ini?


"Kamu perlu bantuan untuk mengendalikan kekuatan serigalamu. Pendengaran, penglihatan, kekuatan, penciuman semua indramu meningkat, sesuai dengan indra serigalamu meskipun kamu tidak berubah menjadi serigala dan itu harus dikendalikan. Seperti permainan bola basket kemarin. Kau menggunakan kekuatan serigalamu Zach."


Ya, sepertinya memang begitu.


"Dan untuk shift, kamu juga membutuhkan bantuan."


"Shift?"


Akhh apalagi itu? Kenapa susah sekali?


"Berubah menjadi serigala. Tunjukan Roland." katanya pada lelaki yang umurnya tidak jauh dariku. Lelaki itu maju kedepan dan berubah menjadi serigala raksasa berwarna coklat. Aku terperangah kaget.


"Berubah seperti itu, Zach."

__ADS_1


"Ma-maksudmu a-aku bisa sep-seperti itu?" tanyaku terbata.


"Tentu, kau adalah manusia serigala. Tapi kamu butuh belajar untuk mengendalikannya. Kita tidak ingin kamu berubah di hadapan teman sekolahmu. Keberadaan manusia serigala harus di rahasiakan."


Aku mengangguk setuju.


"Mulai hari ini kita akan mulai pelajarannya. Aku akan berada di kota ini setidaknya sampai kau menguasai shift mu." kata ayahku.


"Tapi alpha.. Anda akan membuat wilayah kita tidak memiliki pemimpin."


"Ada beta Gillian disana dan juga para omega dan gamma yang berbakat disana. Jadi aku yakin tidak masalah meninggalkan wilayah untuk sementara waktu."


"Baiklah jika itu yang anda inginkan alpha."


"Pulanglah Zach dan kembalilah sepulang sekolah untuk berlatih." kata Ayahku.


Aku menatap mereka kembali lalu beranjak pergi. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan percayai.


****


My POV


Daryl, Zach dan Rodney duduk di bangku taman sekolah. Daryl masih membahas pesta Valentine dan dengan siapa dia akan pergi sementara Rodney masih sibuk dengan buku mitos kunonya. Zach hanya diam dan melamun.


"Zach... Zach apa kau mendengarku?" tanya Daryl tapi Zach hanya diam.


"Zach!!!" panggil Daryl dengan sedikit berteriak. Zach menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya dari lamunan.


"Iya?" jawab Zach.


"Ada apa denganmu? Kau melamun lagi? Kenapa beberapa hari ini kamu sering melamun? Apa kamu sedang dalam masalah?" Daryl memberikan pertanyaan berturut-turut.


"Aku baik-baik saja." jawab Zach.


"Apa kau yakin? Kamu tidak terlihat baik-baik saja." kata Daryl.


"Aku setuju dengan Daryl." tambah Rodney.


"Aku benar-benar baik-baik saja."


"Dan kamu benar-benar menghancurkan ring basket itu."


"Yeah, that's right." gumam Zach.


"How?"


"Aa-aku tidak tahu. Itu terjadi begitu saja." jawab Zach.


"Apa kamu sudah menjadi manusia serigala?" tebakan Rodney cukup mengagetkan Zach.


"Apa kamu ingin memulai omong kosong itu lagi Rodney?" tanya Daryl sedikit kesal.


"Kau tidak melihatnya saja." ucap Rodney membela diri. "Zach begitu cepat. Gerakannya hampir tidak terlihat dan ring itu. Ring itu patah saat Zach menumpu pada ring itu untuk memasukkan bola. Ring itu baik-baik saja sebelumnya!"


"Kau... Melihatnya?" tanya Zach.


"Dari awal sampai akhir."


"Apa itu benar, Zach?" tanya Daryl yang mulai curiga. Dia memang tidak mempercayai kata-kata Rodney tentang mitos-mitos tapi apa yang di katakan Rodney kali ini mengganggunya.


"Aku tidak tahu, Daryl. Semua terjadi begitu saja."


Zach tidak ingin memberitahukan siapa-siapa dulu tentang dirinya. Dia pasti akan memberitahukan mereka, pada saat yang tepat. Saat dimana dia sudah bisa mengendalikan serigalanya.


Brakk!!


"Gia, kau mengagetkan kami!!" pekik Daryl.


"Jangan berlebihan." sahut Gia. Gia adalah saudara sepupu Zach. Gia gadis tomboy yang periang.


"Berlebihan bagaimana? Kau yang berlebihan! Lihat saja kotak itu. Untuk apa kotak itu disini?" protes Daryl.


"Kotak itu berisi hadiah dari penggemar Zach." kata Gia cuek dan langsung duduk disebelah Zach. Daryl berdiri dan membuka kotak itu.


"Waah ini benar-benar banyak." kata Daryl takjub. "Coklat."


"Sudah berapa hari kamu mengumpulkannya?" tanya Rodney yang ikutan takjub.


"Kau bercanda? Itu hadiah hari ini!"


"Apa?!" pekik Daryl dan Rodney bersamaan.


"Mereka terus memintaku memberikan hadiah pada Zach dan aku sudah bosan menolak mereka. Jadi aku putuskan untuk menyampaikan hadiah mereka dan itulah yang terjadi." Gia menunjuk kotak berisi hadiah itu.


"Aku tidak mau, kalian saja yang ambil." sahut Zach.


"Zach, apa dengan kamu terus menolak lalu mereka akan berhenti? Tidak Zach, itu tidak akan terjadi. Hal yang bisa membuat mereka berhenti adalah jika kamu punya kekasih."


Zach menghela nafas. "Tidak, aku sedang tidak mau."


"Jangan mencoba membujuknya." sahut Daryl saat melihat Gia membuka mulutnya untuk berbicara lagi. "Kamu tidak akan pernah bisa membujuknya jika itu tentang wanita. "


Gia mendengus kesal pada sepupunya. Dia begitu heran dengan Zach yang keterlaluan dinginnya, terutama pada wanita. Banyak yang telah mendekatinya baik laki-laki maupun perempuan. Tapi dia tetap sedingin puncak everest ditambah dinginnya kutub utara dan selatan. Sangat dingin! Padahal dia sangat populer dan tampan.


"Ya sudahlah, aku mau ke kantin dulu. Aku tidak akan pernah mau menerima permintaan para perempuan dan laki-laki itu lagi." sahut Gia.


"Ada laki-laki juga yang memberi hadiah?"


"Tentu saja ada. Apa kau tidak tahu kalau ada yang mengira sepupuku satu ini adalah Gay?!" Gia berdiri dari duduknya.


"Jika aku tidak mengenalnya aku juga akan mengira dia gay." kata Daryl.


"Aku masih lelaki normal. Aku menyukai perempuan." protes Zach.


"Aku meragukan itu." jawab Daryl dan di hadiahi lemparan baju basket Zach.


"Sialan kau."


"Sudahlah, aku pergi."


Gia pergi meninggalkan mereka.


"Kalian saja yang ambil semua itu, aku tidak mau. Aku mau pergi saja."


Zach berdiri dan mengambil kaus basketnya dari Daryl.


"Hei, hei, kau mau kemana?" tanya Daryl.


"Pulang."


****


Zach tidak pulang tentu. Dia pergi kehutan tempat dia berjanji akan bertemu dengan ayahnya. Awalnya dia ragu untuk datang tapi akhirnya dia datang juga. Dari kejauhan dia sudah melihat anggota pack ayahnya sedang berlatih sementara ayahnya sedang berbicara pada seseorang. Zach mendekat perlahan.


"Zach! Kau datang. Aku sudah sangat khawatir tadi." kata ayah Zach. Zach hanya diam dan tidak menjawab.


"Kau siap untuk berlatih?" tanya ayahnya lagi. Zach hanya mengangguk. "Bagus, ayo buka bajumu."

__ADS_1


"A-apa?" tanya Zach terkejut.


"Buka baju. Seperti kami." kata ayah Zach. Zach memperhatikan mereka dan baru menyadari jika mereka tidak mengenakan baju hanya celana pendek.


"U-untuk apa aku harus membuka baju?"


"Agar mudah saat kamu berubah menjadi serigala."


"Aku akan belajar berubah menjadi serigala?"


"Tentu saja. Perkenalkan ini adalah Brad dan Austin. Mereka yang akan menjagamu dan membantumu berlatih saat aku tidak ada."


"Hai aku Brad." kata seseorang di antara mereka berdua yang berambut pirang dan bermata biru terang. Brad tersenyum bersahabat. "Ini Austin."


Laki-laki bernama Austin hanya tersenyum tipis pada Zach. Dia terlihat tidak suka akan sesuatu. Austin mempunyai rambut hitam dan bermata biru juga.


"Aku Zach." kata Zach memperkenalkan diri.


"Baiklah, ayo kita mulai."


Zach melepaskan baju kausnya dan celana jeans yang dikenakan hanya tersisa boxernya.


"Waahh lain kali kamu harus membawa celana pendek." kata Brad.


"Tidak apa-apa, dia terlihat sexy seperti itu." Roland tertawa. "Untung saja kita semua laki-laki."


"Tapi kau lihat Roland, tubuhnya lumayan." kata Brad.


"Hei apa kau bercanda? Itu tubuh yang bagus. Lihatlah dada bidang itu. Pasti para gadis itu senang meletakkan kepalanya di dada itu. Dan lihat perutnya yang kotak-kotak itu."


"Kotak-kotak? Itu sixpack bodoh! Kau juga memilikinya."


"Benarkah?" Roland melihat perutnya. "Ahh... Benar. Aku juga memilikinya. Tapi tidak sebagus itu."


"Hmm miliknya sempurna." kata Brad disambut anggukan kepala Roland. Zach memutar bola matanya jengah.


"Baiklah Zach ayo kita mulai." ajak ayahnya. "Dorong pohon itu."


Ayah Zach menunjuk pohon didepannya.


"Apa?"


"Dorong pohon itu. Aku ingin melihat seberapa kuat kamu."


Zach mengamati pohon itu. Pohon itu lumayan besar dan tinggi.


"Aku tidak akan berhasil." ucap Zach yakin.


"Dicoba dulu." bujuk ayahnya.


"Tapi tidak mungkin bisa."


Pletak!!


"Aww." rintih Zach.


"Alpha bilang di coba. Cerewet sekali."


"Hei, hei, hei Ad... Kamu tahu dia itu siapa." kata Roland menengahi.


"Aku tahu dan aku juga tahu dia adalah sepupuku." sahut Adrian.


"Zach, perkenalkan. Dia Adrian kakak sepupumu." sahut ayah Zach. Zach hanya menatap Adrian bingung.


"Aku tahu kamu bisa melakukannya sepupu, yakinlah." kata Adrian sambil menepuk keras punggung Zach. Zach merintih kesakitan.


"Cobalah Zach." kata ayahnya lagi.


Zach menghela nafas kasar. Dia sudah harus membuka bajunya dan hanya menyisakan boxer membuatnya malu setengah mati ditambah kakak sepupunya yang kasar itu. Membuat Zach kesal.


Zach berjalan menuju pohon itu. Dia meletakkan ke dua telapak tangannya di pohon itu dan mencoba mendorong sekuat tenaga. Tapi bahkan pohon itu tidak bergerak sedikitpun.


"Coba lagi." sahut ayahnya. "Konsentrasi. Percayalah pada kekuatanmu."


Zach menutup matanya dan mengatur nafasnya. Zach meletakkan tangannya lagi dipohon itu. Dia membuka matanya dan mendorong sekuat tenaga.


"Percayakan pada kekuatanmu Zach."


Zach terus mendorong. Dia berteriak keras. Pohon itu bergerak sedikit demi sedikit lalu tumbang. Zach terkejut.


"Kau berhasil." puji ayahnya. Zach bahkan terkejut akan hal itu.


"Lalu apa selanjutnya paman?" tanya Adrian. "Apa kita harus merubahnya?"


"Tunggu dulu, merubah apa?" tanya Zach yang terkejut.


"Merubahmu menjadi serigala." kata Adrian lagi.


"Apa? Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau." tolak Zach.


"Kenapa tidak?" semua memandangnya heran.


"A-aku belum siap." kata Zach.


"Kau ini manusia serigala. Jangan jadi penakut."


"Aku baru saja menjadi manusia serigala." kata Zach dingin.


"Aku tidak perduli kamu baru atau lama. Kamu harus segera berubah. Apa kamu tidak tahu? Kami terpaksa disini untuk melatihmu dan meninggalkan wilayah kami. Itu semua gara-gara kamu."


"Hei aku tidak pernah memintanya."


"Memang benar. Tapi kamu penyebabnya." kata Adrian. Tangan Zach mengepal. "Kenapa? Kamu marah? Ingin pukul? Ini."


Adrian menyerahkan pipi kanannya untuk di pukul. Zach tidak memukulnya tapi hanya menatapnya tajam.


"Hah! Dasa pengecut!"


Bukk!!


Adrian memukul Zach. Semua orang terkejut kecuali alpha Dustin, ayah Zach.


"Kau hanya anak manja dan pengecut!" kata Adrian memancing kemarahan Zach.


"Hei, hei Adrian. Sudahlah." Ronald mencoba memisahkan.


"Tidak, aku tidak mau. Anak ini akan menjadi alpha? Yang ada pack kita akan hancur karenanya."


"Aku tidak pernah memintanya!!!" kata Zach meninggikan suaranya.


"Lalu, lawanlah aku."


Adrian kembali memukul Zach, kali ini secara bertubi-tubi. Ronald mencoba menengahi tapi Adrian mendorong kuat tubuh Ronald lalu memukul Zach kembali. Zach mencoba meronta tapi tidak berhasil. Adrian menghentikan pukulannya sejenak lalu bersiap memukul Zach lagi. Tapi belum sempat memukul, Zach menendang Adrian dengan keras sehingga Adrian terhempas cukup jauh. Zach langsung berdiri dan menggeram. Terdengar suara patahan tulang ditubuhnya. Tubuh manusia Zach perlahan berubah menjadi serigala berbulu berwarna unik. Hijau tua kehitaman. Bola matanya berwarna merah darah dan ada sebuah tanda di dahinya.


"Dia... Adalah alpha."


****

__ADS_1


tadariez


__ADS_2