My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Mengikuti Kei


__ADS_3

"Menolak katamu? Tapi kenapa? Apa pack Moon Sykort ingin bergabung dengan pack Moon Bykort?" tanya alpha Sebastian.


"Bukan seperti itu. Kami juga tidak bergabung dengan alpha moon Bykort. Kami rasa kami tidak perlu ikut campur karena ini pertarungan antara Lykort dan Bykort, bukan pertarungan manusia serigala."


"Kalian pasti bercanda. Bagaimana kalian bisa menyimpulkan seperti itu?!" pekik alpha Sebastian. Dia tampak tidak percaya pada apa yang di dengarnya.


"Maafkan saya alpha tapi saya menyampaikan apa yang alpha saya perintahkan." kata laki-laki tampan itu.


"Tidak masalah, ini bukan salahmu. Aku harus bertemu dengan Jackson lagi. Ini bukan hanya tentang Lykort dan Bykort, tapi ini tentang semuanya. Bagaimana dia bisa memutuskan seperti itu?" kata alpha Sebastian. "Aku ingin bertemu dengan alphamu nak, kita berangkat bersama kesana."


"Apa paman yakin?" tanya Kei.


"Tentu saja Kei."


"Sebaiknya tidak usah paman. Mungkin memang sudah keputusannya seperti itu. Setidaknya Sykort tidak mendukung Bykort."


"Tapi Kei... Jika Sykort berada di pihak kita, kita akan menang dengan mudah dan menaklukan Roger sialan itu."


"Tenanglah paman."


"Maafkan ayah saya alpha, dia memang selalu seperti itu. Ayah saya mengutus saya langsung untuk menemui anda."


"Tunggu dulu. Kamu... Edward?!" alpha Sebastian terkejut. "Anak Jackson paling tua, benarkan?"


"Benar alpha, saya Edward." Edward tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Alpha Sebastian menyambut tangan Edward dan tangan satunya menepuk pundaknya.


"Astaga Edward.. Sudah lama sekali. Lihatlah dirimu! Kamu tampan sekali!!"


Alpha Sebastian tertawa.


"Sudah sangat lama alpha." kata Edward.


"Kamu sama seperti Hans bukan? Tidak tinggal bersama ayahmu di pack?"


"Benar alpha. Saya tinggal di london." jawab Edward.


"Aahh benar..."


"Uhmm paman.."


"Ahh iya, hampir lupa. Aku harus pergi bertemu ayahmu Ed."


"Percuma anda bertemu dengannya alpha, ayah tidak akan mengubah keputusannya. Anda tahu ayah saya dengan baik." kata Edward.


"Setidaknya aku harus mencoba. Ini sangat penting."


"Tapi Edward benar paman. Lebih baik biarkan saja. Asalkan alpha Jackson tidak mendukung pack Bykort itu sudah cukup." kata Kei. "Hai... Namaku Kei." Kei mengulurkan tangannya.


"Aku Edward. Jadi... Kamu yang menjadi raja itu?" tanya Edward lalu membalas uluran tangan Kei.


"Yeah begitulah." Kei tersenyum. "Senang bertemu denganmu."


"Aku juga."


"Ayo kemarilah. Mampir ke rumah. Kamu pasti lelah." kata alpha Sebastian.


"Tidak alpha, saya tidak lelah. Saya menggunakan kendaraan manusia bukan berubah menjadi serigala. Sudah lama saya tidak melakukan itu."


"Tidak masalah Edward, aku mengundangmu ke rumah. Aku ingin berbincang dan mengetahui keadaanmu. Kita sudah lama tidak bertemu. Lima belas tahun?"


"Ya alpha, saya rasa sudah selama itu."


"Kalau begitu ayo."


Alpha Sebastian menarik tubuh Edward untuk berjalan bersamanya. Edward mau tidak mau mengikutinya.


****


Bian duduk di sebuah hutan rimbun dengan api unggun di depannya. Sesekali dia menghela nafas panjang.


"Tidak baik jika kamu terus menghela nafas seperti itu."


"Halo Nick." sapa Bian tanpa menoleh. Nick duduk disebelah Bian.


"Apa ada masalah my love?"


"Tidak, tidak ada. Bagaimana denganmu?"


"Zigor? Aku sudah mengancamnya tapi kamu tahu my love, dia vampir keras kepala. Sekali dia menargetkan sesuatu, tidak akan di lepaskannya. Bahkan dia meminta bantuan keluarga Valhant."


"Valhant? Keluarga kerajaan pertama? Itu gila."


"Itu benar. Huft.. Menyusahkan.. Aku hanya sendirian sementara keluarga Valhant punya lima anggota keluarga. Tidak, tidak. Tidak adanya Paul, mereka berempat. Tapi tetap saja mereka kuat. Mereka keluarga kerajaan pertama."


"Apa mereka akan membantu Zigor?"


"Aku tidak tahu Bian. Mereka akan memutuskan untuk bergabung atau tidak besok lusa."


"Aku harap mereka tidak ikut campur. Ini semua urusan para manusia serigala, kenapa vampir harus ikut campur."


"Yaaa begitulah... Sepertinya kejadian dulu terulang lagi. Kau tahu saat kamu menyelamatkanku. Saat itu semua juga terlibat."


"Ya dan itu sangat merepotkan, kau tahu?"


"Kenapa kamu sangat perduli pada mereka, para serigala itu?"


"Alasan yang sama kenapa aku perduli padamu Nick. Aku penjaga supranatural. Aku harus melakukannya."


"Tapi bukannya kamu sendiri punya masalah? Bagaimana jika--"


"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja." potong Bian. "Bagaimana dengan pelatihanmu?"


"Aku sudah lulus tenang saja. Aku sudah bisa menahannya dengan sangat baik."


"Jadi... Kita tetap sesuai dengan rencana kita bukan?"


"Tentu, kita urus kaum kita masing-masing."


"Hmm iya. Jangan sampai kehebohan itu terjadi lagi."


"Itu benar."


"Terima kasih atas bantuanmu Nick. Jika memang keluarga Valhant mulai menyerangmu, beritahukanku."


"Sama-sama my love. Untuk keluarga Valhant, aku bisa mengatasinya."


"Kamu yakin itu?"


"Tentu, jangan khawatirkan aku, khawatirkan diri kamu sendiri."


"Hmm baiklah, kita lakukan sesuai rencana?"


"Tentu my love."


"Kita bertemu lagi segera Nick." Bian memeluk erat Nick lalu segera berteleportasi.


Nick duduk diam di depan api unggun sepeninggal Bian. Dia menatap api itu dengan dipenuhi pikiran-pikiran.


"Sudah datang?" kata Nick. Dia menatap di kegelapan. Tak lama keluar tiga serigala besar. Tiga serigala itu menggeram. "Mari duduklah disini."


Ketiga serigala itu mendekat lalu merubah diri mereka menjadi manusia.


"Apa kamu harus memeluknya seperti itu?"


"Halo Zach." sapa Nick. Nick tersenyum melihat Zach cemberut. "Oh tidak lagi Zach. Berhentilah bermuka masam seperti itu. Sudah kukatakan padamu aku mengenalnya lebih dulu."


"Terserah saja."


"Tenang saja Zach, tidak akan lama lagi kamu akan melupakannya." kata Nick.


"Apa maksudmu?"


"Tidak, lupakan. Jadi apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan melakukan hal yang kukatakan padamu."


"Tapi apa kamu yakin akan melakukan hal itu Zach? Itu akan sangat berbahaya."


"Ya, aku tahu." gumam Zach. Dia terdiam sejenak. "Lalu... Bagaimana denganmu? Apa kamu bisa membantu?"


"Tentu.. Tapi aku khawatir padamu Zach.. Sungguh. Aku pernah melawan Roger sebelumnya dan dia kuat Zach."


"Aku tahu itu. Tapi aku alpha keturunan murni. Aku baik-baik saja." kata Zach. Nick tertawa.


"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Zach mulai kesal.


"Aku sudah hidup sangat lama, cukup lama untuk mengetahui bahwa posisi apapun tidak akan mampengaruhi pertarungan ini Zach. Kemampuan dan kekuatanmu yang terpenting."

__ADS_1


"Aku tahu itu dan aku tidak perlu ceramahmu. Aku kemari untuk memastikan apa kamu akan melakukannya dan katamu kamu akan memberiku sesuatu."


"Ahh iya." Nick melempar sebuah bingkisan pada Zach.


"Apa ini?" Zach membukanya.


"Itu kayu yang terbuat dari pohon Eek putih. Pohon itu sudah jarang sekali ada, atau bahkan sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya di kota Disprea."


"Lalu untuk apa ini?"


"Kayu itu bisa membunuh semua vampir, termasuk vampir keluarga kerajaan sepertiku."


"Apa bedanya kalian?"


"Kami vampir tertua Zach. Kami menjadi vampir bukan karena gigitan tapi karena mantra dan kutukan."


"Sama seperti manusia serigala?"


"Berbeda. Jika kamu hanya penyihir yang melakukan itu sementara kami punya darah iblis. Karena itu kami kuat Zach dan hanya bisa di bunuh dengan api biru dari Bian atau di tusuk oleh kayu eek putih itu. Karena itu pohon eek putih tidak ada lagi karena keluarga kerajaan telah membasminya."


"Lalu kenapa kamu memberikanku kayu ini? Bisa saja aku menggunakannya untuk membunuhmu." kata Zach. Nick tertawa.


"Aku tahu kamu tidak akan melakukannya. Aku membantumu melakukan rencanamu dan aku memberikanmu kayu itu agar kamu percaya padaku. Lagipula aku punya firasat buruk tentang ini."


"Apa maksudmu?"


"Entahlah, mungkin hanya firasatku. Aku memberikan itu untuk berjaga-jaga jika keadaan dengan vampir memburuk."


"Baiklah. Terima kasih. Tapi kamu yakin akan melakukan rencana itu kan?"


"Aku akan melakukan itu. Aku sudah berjanji pada my love dan aku juga akan melakukan hal itu."


"Apa yang kamu janjikan pada Bian?"


"Sayang sekali aku tidak bisa mengatakannya."


"Hmm baiklah. Aku harap aku bisa mempercayaimu."


"Aku orang yang selalu memegang kata-kataku Zach."


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi." Zach beranjak pergi.


"Ahh dan Zach.. Satu hal lagi." kata Nick menghentikan langkah Zach. "Jangan pernah terpengaruh pada emosimu. Itu kelemahan yang akan di manfaatkan oleh Roger. Dia ahli dalam hal itu."


Zach mengangguk dan berubah menjadi serigala. Ada hal-hal yang menggangu pikirannya tapi dia tidak boleh goyah. Dia harus tetap melakukannya.


Flashback on


"Apa kalian yakin akan melakukan ini?" tanya Lily.


"Aku yakin." kata Zach pasti.


"Lalu dari mana kalian tahu mereka akan pergi?" tanya Lily lagi.


"Insting."


"Huft... Aku tidak tahu apa aku bisa mempercayai instingmu." keluh Lily. Tak lama Adrian datang.


"Alpha?"


"Apa kamu mengetahuinya?" tanya Zach.


"Di jurang alpha." jawab Adrian.


"Kamu yakin itu?"


"Yakin alpha. Saya mendengar saat beta Ian berbicara dengan mate-nya. Dia mengatakan akan bertemu yang mulia di jurang, ujung hutan ini."


"Kalau begitu ayo kita pergi."


"Hei hei... Tunggu dulu. Bagaimana jika itu semua jebakan? Apa kalian yakin kalian akan kesana? Lagipula, Kei tidak akan setuju." sahut Lily.


"Kei tidak perlu tahu Lily. Kita juga tidak akan menemui alpha Roger, cukup mendengarkan apa yang mereka katakan."


"Tapi tidak mungkin dengan jarak yang dekat kan?"


"Tentu, kita bisa mendengarkannya dari jarak jauh."


"Hei jika kamu saja bisa mendengar jarak jauh, pasti mereka juga." sahut Lily.


"Aku tahu. Tapi jika ini memang jebakan dia pasti akan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga disana. Kata Aaron, alpha Roger itu tidak pernah lupa membawa anak buahnya. Yang berarti sudah di pastikan dia tidak sendirian."


"Tergantung. Jika dia memang memerlukan bantuan." kata Zach. "Ayo kita pergi. Teleportasi, ke West Viginia."


"Baiklah. Pegang tanganku." Zach dan Adrian memegang tangan Lily. "Tunggu, dimana betamu?"


"Aaron? Dia melakukan tugas yang aku suruh." jawab Zach.


"Tugas?"


"Kamu akan tahu nanti saat kita sampai di sana. Sekarang ayo kita pergi."


"Baiklah. Kalian siap?" tanya Lily. Zach dan Adrian mengangguk.


"Teleportatian."


Dalam waktu singkat mereka sampai di sebuah hutan di West Virginia. Hutan itu belum pernah di klaim oleh manusia serigala manapun yang membuat hutan itu menjadi salah satu wilayah netral.


"Cari di mana alpha Roger berada." pinta Zach pada Lily.


"Rambutnya." pinta Lily. Zach menyerahkan sehelai rambut. "Kamu yakin ini rambutnya?"


"Ya, yakin. Terjatuh saat aku bertarung dengannya waktu itu."


"Dan kamu masih menyimpannya? Whoaa..."


"Kumohon cepatlah."


"Ahh baiklah."


Lily membuka sebuah kertas kosong. Dia memasukkan sehelai rambut alpha Roger ke dalam botol kecil berisi cairan ramuan yang telah di beri mantra. Lily menumpahkan isi ramuan itu ke atas kertas kosong tadi.


"Apa kamu yakin cairan itu akan berhasil?" tanya Adrian.


"Tentu saja. Mungkin aku tidak sekuat yang terpilih atau tidak sesensitif Livia dalam sihir, tapi aku sangat ahli dalam ramuan." kata Lily. Cairan itu mulai menggumpal menjadi satu cairan yang kecil. Lily berdiri. Dia berjalan ke arah sebelah kanannya. Tapi cairan itu justru tidak bergerak. Lalu dia beralih ke sebelah kirinya. Akhirnya cairan itu bergerak.


"Sebelah sini." Lily berjalan mengikuti cairan itu pergi.


"Seperti apa cara kerjanya?" tanya Zach.


"Kita hanya tinggal mengikuti cairan hitam ini. Jika cairan ini tidak bergerak berarti kita salah arah tapi jika bergerak seperti sekarang, maka kita di arah yang tepat." jelas Lily.


"Bagaimana jika kita terlalu dekat nantinya?" tanya Adrian.


"Cairan ini akan memberitahukan kita. Jika cairan itu berwarna hitam, maka kita masih cukup jauh. Tapi jika cairan itu berwarna hijau, maka kita sudah dekat tapi jika berwarna merah maka kita tepat berada di depan orang yang di tuju."


Mereka masih terus berjalan sampai beberapa saat. Tak lama langkah Lily terhenti.


"Hijau." kata Lily.


"Alpha, gunakan mata alpha anda." pinta Adrian.


"Tidak perlu. Mereka ada disana." sahut sesorang. Mereka bertiga menoleh. "Mereka masih berdua saja. Sepertinya rajamu belum datang."


"Nickholson."


"Alpha Zach, dan kumohon panggil saja saya Nick." kata Nick.


"Kamu berhasil Aaron." puji Zach.


"Tidak tanpa kesulitan alpha." jawab Aaron.


"Oh ya, tentu. Dia beta yang sangat kuat. Aku rasa kamu sangat bangga padanya."


"Tentu saja."


"Lalu... Ada apa kamu memanggilku kemari? Di tempat dimana banyak sekali manusia serigala."


"Kamu merasakannya juga?"


"Tentu. Merasakan, mendengar dan mencium bau kalian. Kita tidak sendirian disini. Apa tidak bisa kita berbicara di tempat lain?"


"Maaf sekali, tapi tidak bisa."


"Baik, baiklah. Seharusnya kalian bangga seorang raja vampir mau menghampiri kalian seperti ini."


"Terserah padamu saja." ucap Zach jengah.

__ADS_1


"Lalu katakan apa maumu?"


"Alpha..." panggil Aaron. "Ada yang datang." Mereka terdiam dan mendengarkan sementara Lily menaburkan sesuatu di sekitar mereka.


"Jadi... Bagaimana ini alpha?" tanya Adrian sepeninggal Kei.


"Sepertinya alpha Roger masih tidak bisa melepaskanku."


"Aku juga." gumam Zach.


"Maaf Zach tapi apa kamu tidak akan membantu uhmm... Kei? Sepertinya dia sedang di kejar oleh serigala Roger." kata Nick.


"Tidak perlu, aku yakin dia dan Ian bisa mengatasinya. Sekarang sesuai rencana kita." kata Zach.


"Rencana apa?" Nick bingung.


"Ini." Zach menyerahkan Nick sebuah botol berukuran sedang.


"Apa ini? Pasir?" tanya Nick. Isi botol itu memang tampak pasir hanya saja berwarna hitam mengkilat.


"Bukan itu sejenis ramuanku." kata Lily.


"Baru kali ini aku menemukan ramuan seperti ini." gumam Nick sambil memperhatikan botol itu. "Lalu untuk apa ini?"


"Untuk Zigor. Bawa Zigor dan pasukannya menuju suatu bangunan lalu kurung mereka."


"Maksudmu.. Dengan ini?" tanya Nick sambil mengacungkan botol yang di bawanya.


"Tentu saja."


"Apa ini akan berhasil?" Nick tampak ragu.


"Apa aku perlu mencobanya pada dirimu? Aku akan dengan senang hati melakukannya." sahut Lily kesal.


"Ohh tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lalu untuk apa kamu mengurung Zigor dan pasukannya?"


"Kenapa kamu banyak tanya?"


"Jika kamu ingin aku membantumu Zach, kau harus memberitahukanku semuanya."


"Ugghh baiklah." Zach menghela nafas kasar. "Aku ingin mengurung dia selama beberapa hari agar dia tidak ikut campur dengan urusan kami."


"Lalu kenapa harus aku?"


"Karena kamu vampir dan kamu raja."


"Kamu ingin aku mengkhianati kaumku?"


"Aku hanya ingin mereka tidak ikut campur urusan kami."


"Dengan aku disinipun mereka akan mengira aku ikut campur. Mereka bisa mencium bau vampirku Zach. Berbeda dengan kalian. Aku bisa mencium bau banyak serigala disini saat aku sampai jadi bau serigalamu bisa tertutupi. Bau ku berbeda Zach. Kamu bisa menciumnya sendiri."


"Tidak perlu khawatir, Lily sudah membereskan semuanya." jawab Zach.


"Itu benar. Aku sudah menyamarkan bau kalian semua, dengan ramuanku."


"Ide yang bagus." puji Nick.


"Jadi aku mohon padamu. Apa kamu mau melakukannya?"


"Baiklah. Aku juga harus mencari cara agar Zigor tidak ikut campur karena dia telah meminta bantuan pada keluarga yang tidak seharusnya terlibat. Jadi sebelum terlambat aku harus mencegahnya. Akan aku lakukan. Lalu setelah itu bagaimana?"


"Itu menjadi urusanku. Kamu hanya tinggal melakukan yang aku pinta."


"Kamu tidak akan melakukan hal yang bodohkan? Kita semua mendengar apa yang di bicarakan alpha Roger dan Kei." kata Nick. Zach hanya terdiam. "Jangan melakukan hal bodoh Zach."


"Bukan urusanmu."


"Aku tahu itu, tapi Roger bukan orang yang bisa kamu percaya. Apa yang di katakannya tadi tentang menukarmu dan betamu untuk perdamaian, itu bisa saja bohong."


"Aku tahu itu." jawab Zach. Nick menghela nafas.


"Baiklah... Temui aku malam ini di hutan Dusk di barat daya wilayah alpha Sebastian. Akan aku berikan sesuatu padamu disana. Sampai jumpa."


Nick segera melesat pergi.


"Alpha, apa kita tidak membantu yang mulia saja?" kata Aaron.


"Tidak perlu. Ayo kita pergi dari sini."


"Anda tidak akan menyerahkan diri anda pada alpha Roger bukan?" tanya Adrian.


"Mungkin, jika itu memang diperlukan. Aku tidak masalah." sahut Zach.


"Tapi alpha..."


"Aku juga sama. Aku akan menyerahkan diriku jika alpha menyerahkan diri." kata Aaron juga.


"Kalian sudah gila. Apa kalian tidak mendengar apa kata vampir super tampan tadi? Bisa saja Roger gila itu berbohong!!" pekik Lily.


"Tenang saja Lily, aku tahu itu. Aku tidak akan melakukan hal yang ceroboh."


"Jika yang terpilih tahu, dia akan marah besar." gumam Lily.


"Tidak! Jangan beritahukan dia." kata Zach cepat. "Jangan beritahukan siapapun. Kei, Bian, Karen.."


"Baiklah aku berjanji. Tapi jika kamu melakukan hal bodoh Zach, aku tidak akan segan-segan melaporkan ini semua pada Kei, alpha Sebastian, Bian bahkan ayahmu."


"Hei, sopan sedikit. Dia alpha!" sahut Adrian.


"Alpha mu ya, tapi tidak dengan diriku. Aku penyihir, apa kamu lupa? Lagi pula Zach lebih muda dariku." sahut Lily.


"Kita pergi saja dari sini. Bisakan?" kata Zach akhirnya.


"Tentu, ayo kita pergi sebelum mantra diramuanku habis." Lily mengulurkan kedua tangannya. Zach, Adrian, Aaron dan Lily berpegangan tangan lalu dengan segera menghilang dari sana.


Flashback off


"Jadi... Itu yang kalian rencanakan?" tanya Bian yang sudah berada bersama Nick didepan api unggun. Bian tidak benar-benar pergi. Nick sudah memberitahukan tentang Zach pada Bian.


"Begitulah." kata Nick. "Mate-mu yang merencanakannya. Aku rasa rencananya mengurung Zigor untuk sementara tidak buruk."


"Tapi jika keluarga Valhant tahu kamu membantu manusia serigala, mereka akan marah besar. Kamu tahu mereka selalu mencari-cari kesalahanmu agar mereka bisa membunuhmu."


"Aku tahu. Tapi itu tidak masalah. Aku punya alasan tepat untuk membantu para serigala. Aku hanya khawatir pada mate-mu."


"Dia bukan mate-ku."


"Dari mana kamu tahu? Bahkan semua manusia serigala tahu kamu mate dari Zach."


"Sudah kukatakan itu sebuah kesalahan. Jika aku mate dari Zach, seharusnya aku merasakan hal yang sama seperti Zach rasakan. Tapi aku tidak merasakan apapun Nick."


"Merasakan apa?"


"Cinta. Setiap mate dari manusia serigala akan merasakannya. Baik itu manusia biasa, manusia serigala bahkan penyihir sekalipun. Pesona dari manusia serigala itu membuat mate-nya jatuh cinta atau setidaknya... Tertarik. Tapi tidak denganku. Aku sungguh tidak merasakan apapun semenjak aku bertemu dengannya hingga detik ini. Berbeda dengan Karen. Jadi dari itu semua bisa aku simpulkan aku bukan mate Zach yang asli. Ada sesuatu yang salah disini."


"Baiklah jika kamu memang berkata seperti itu."


"Lalu apa maksudmu kamu mengkhawatirkan Zach?"


"Aku punya firasat dia akan melakukah hal bodoh."


"Akan aku awasi."


"Apa kamu tidak akan memberitahukan raja itu?"


"Sebaiknya jangan untuk sekarang. Kita awasi saja terlebih dahulu Nick."


"Baiklah. Jadi... Kita tim lagi sekarang?"


Bian tertawa.


"Oh ayolah Bian. Mengenang masa lalu."


"Masa lalu katamu Nick? itu baru dua tahun lebih terjadi."


"Tetap saja."


"Akkhh baiklah, baiklah terserah kamu saja." Bian berdiri dari duduknya. "Aku akan kembali ke Disprea."


"Bian." Nick memegang tangan Bian. Bian terkejut. "Ada yang datang."


"Siapa?"


"Keluarga Vahlant dan... Alpha Roger?"


Bian dan Nick saling menatap ngeri. Ini tidak mungkin.

__ADS_1


***


tadariez


__ADS_2