
Bruk!!
Tubuh Ian menghantam dinding rumah alpha Sebastian. Ian mengerang.
"Roooaararrgghhhhhhh....!!!"
Kei semakin marah. Suaranya terdengar memekakkan telinga. Kei berjalan menuju Ian. Dia menarik kasar tubuh Ian dan melemparnya jauh. Ian terhempas kasar di tanah. Ian merintih dan mencoba untuk bangkit, tapi Kei sudah menginjak tubuhnya.
"Barnabas, cepatlah!!" Damian memanggil Barnabas yang baru saja datang setelah mengantar keluarga Oston dan Sebastian. Barnabas bergegas menghampiri Damian yang sudah bersiap bersama Felicia.
"Aku akan membantu." sahut Augys.
"Bian, bagaimana dia?" tanya Damian.
"Aku tidak tahu, aku tidak melihatnya. Aku sudah mencarinya tetapi sepertinya dia menghilang, aku tidak menemukannya." kata Augys.
"Sial! Baiklah, ayo kita buka portal. Sudah terlalu banyak yang mati."
Damian dan ketiga penyihir lainnya membuat lingkaran dari tubuh mereka. Ayah Kei dan Cavril datang bersama Jake dan yang lainnya.
"Bantu Ian dan usahakan jangan sampai Kei mengganggu kami. Kami akan membuat portal." kata Damian.
Ayah Kei yang masih dalam wujud serigala mengangguk. Cavril menyerang Kei yang hendak merobek leher Ian. Tubuh Kei terhempas tapi masih bisa menyeimbangkan diri. Cavril dan Jake menyerang secara bergantian. Itu tidak menyusahkan Kei sama sekali. Dia bisa mengalahkan mereka berdua dengan mudah.
Tiba-tiba ada sebuah anak panah menancap ditubuh Kei. Kei mengerang pelan lalu mencabut anak panah itu dan membuangnya. Kei menggeram lagi. Anak panas terus berdatangan. Kei berhasil menangkis semuanya.
Dor!! Dor!!
Suara tembakan berulang-ulang terdengar. Kei mengerang kesakitan. Tubuhnya terkena beberapa tembakan. Kei menekuk satu lututnya. Dia mengatur nafas dan satu persatu perluru yang bersarang di tubuhnya keluar dengan sendirinya. Lukanya pun sembuh tidak bersisa.
"Tidak mungkin. Itu adalah wolfsbane terkuat." kata orang yang menembak tadi dengan keterkejutannya.
"Well, dia bukan manusia serigala biasa, kamu bisa lihat sendiri." kata orang yang lain.
"Bagaimana kita bisa melawannya?"
"Aku tidak tahu, kita bertahan saja dulu. Membantu mereka."
"Tapi kita pemburu."
"Lalu kamu mau mati?"
Orang itu menggeleng.
"Kalau begitu lakukan saja."
Mereka kembali menembaki Kei. Kei marah dan berlari ke arah para pemburu manusia serigala itu. Tapi dengan cepat Cavril sudah berdiri menghalangi. Cavril menerjang Kei dan dengan sekali pukulan Cavril tidak berdaya. Cavril tergeletak tidak bergerak lagi.
"A-ay-yah...." Ian tertatih. Dia sudah terluka parah.
Jake dan Mike ikut melawan Kei bersama ayah Kei. Sementara dari jauh Bian yang baru saja datang terkejut. Dia melihat Kei yang telah berubah.
"Gina....!!!" panggilnya saat melihat Gina baru saja tiba. "A-ada apa ini? Bagaimana Kei bisa...."
"Kalung Kei Bian. Kalung yang susah payah kamu dapatkan itu tidak ada lagi. Mereka mengambilnya." kata Gina.
"Mereka?" Bian bingung.
"Kaum hitam." kata James.
"Ohh James kau datang." kata Bian lalu memeluk James erat.
"Apa rencanamu sekarang? Para Elder sedang membuka portal." kata Gina. Bian melepaskan pelukkannya dan terdengar raungan serta geraman lagi. Kali ini alpha Sebastian sudah datang bersama George.
"Mereka semua kewalahan. Mereka lelah sehabis bertempur dengan hybrid, penyihir dan serigala dari anggota pack yang menyerang kita." kata James.
"Tania kau siap?" tanya Bian. Tania mengangguk mantap. "Tunggu disini. Aku akan memanggilmu."
"Bian kamu mau apa?" tanya Kate cepat.
"Tunggu disini."
"Tidak, aku--"
"Kamu bahkan belum kusembuhkan Kate, tunggu disini."
Bian berlari menuju Kei. Dia melihat para Elder sedang membaca mantra untuk membuka portal. Bian melihat ayah Kei yang sudah berada di bawah kaki Kei. Kei menekan kakinya, menekan tubuh ayah Kei. Ayah Kei mengerang kesakitan.
"Kei, cukup!!" pekik Bian. Tapi Kei tidak menghiraukan. "Kei...!!!"
Kei melihat Bian dan menggeram kasar. Bian mengangkat kedua tangannya lalu mendorong tangannya ke depan. Kei terhempas cukup jauh dan keras.
"Jake, bawa pergi alpha Oston." pinta Bian. Jake mengangguk dan mendorong kuat tubuh serigala ayah Kei menjauh.
"Ian, ian..." Bian mendatangi Ian yang terbaring lemah. "Apa kamu masih bisa bertahan."
"Tentu, tubuhku mulai menyembuhkan diri. Entah kenapa cepat sekali." kata Ian pelan.
"Tentu, itu membuktikan bahwa kamu adalah seorang beta, beta dari Kei." kata Bian tersenyum. Kei meraung lagi. Dia sudah berdiri menatap Bian dan Ian. "Pedang itu. Aku akan mengalihkannya dan kamu tusuk Kei dengan pedang itu, kamu mengerti?"
Ian mengangguk pelan. Kei berlari menuju Bian tapi sudah terkena tembakkan para pemburu lagi. Membuat Kei jatuh di kedua lututnya. Bian menoleh dan melihat para pemburu itu.
"Jaga aku." katanya pada pemburu itu. Pemburu itu mengangguk mengerti. Kei menggeram lagi. Bian merentangkan tangan kanannya.
"Închină-te mie"
"Eu sunt liderul tuturor liderilor"
"Închină-te mie"
Bian menggunakan mantra yang pernah dia gunakan pada Hutch. Kei mengerang. Lututnya di tekuk. Tubuhnya merendah. Kei menatap Bian dengan marah, ralat, sangat marah. Kei menggeram keras lalu terlepas dari mantra Bian. Bian terkejut lalu tubuhnya terhempas jauh dan jatuh di tanah.
"Aahhh... Sial..." rintih Bian.
"Bian...!!"
Bian menatap Kei yang sudah berlari ke arahnya. Suara tembakan terdengar lagi dan mengenai beberapa bagian tubuh Kei tapi Kei tidak perduli. Kei masih saja berlari ke Bian. Bian terkejut saat Kei mulai mengangkat kakinya untuk menginjaknya. Dengan segera Bian berteleportasi dan muncul di belakang Kei. Bian merintih kesakitan. Dia menutup mata dan mencoba berkonsentrasi.
"Mhea.... Henez.... Equeso... Mhea... Henez... Equeso..."
Bian membuka matanya dan melihat Kei yang sedang kesakitan. Kei meraung keras.
"Ian... Sekarang...!!!"
Ian berlari kuat lalu menusukkan pedangnya pada Kei. Kei meraung semakin keras. Ian mundur dan sekarang sejajar dengan Bian. Kei melepaskan pedang yang menusuk tubuhnya lalu melempar pedang itu.
"Tidak berhasil Bian, dia tidak berubah." kata Ian.
__ADS_1
"Tentu tidak, tapi dia jauh lebih tenang." kata Bian. Bian menoleh ke tempat Tania berada. Tania segera berlari pada Kei.
"Tania? Dia... Sudah tahu?" tanya Ian. Bian mengangguk.
Tania berjalan menuju Kei yang sedang tertunduk.
"K-Kei?" panggil Tania. Kei tidak bereaksi. "Kei...." panggilnya lagi.
Kei mengangkat kepalanya dan menatap Tania. Tania menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya jatuh.
"Kei? Kamu mengenaliku?" kata Tania lembut. Tania menghapus air matanya. Kei masih menatap Tania. Kali ini tatapannya mulai melembut, seperti dia mengenali Tania. Tania berjalan mendekati Kei, semakin dekat.
"Tania ja--" Ian ingin mencegah tapi Bian menghentikannya. Bian menggelengkan kepalanya. Ian akhirnya menurut.
Tania terus mendekati Kei. Sekarang dia sudah tepat berada di depan Kei. Jarak di antar mereka juga semakin tipis.
"Kei..."
Tania memeluk Kei, Kei yang masih berwujud monster itu. Tania menangis.
"Mr. Wolf itu ternyata kamu, kamu yang menyelamatkanku Kei..." Tania terisak di pelukan Kei. "Aku mohon... Kembalilah..."
Tangan mosnter Kei bergerak perlahan menuju kekepala Tania dan mengelusnya pelan. Kei mengenalinya.
"Aku tahu kamu tidak akan menyakitiku." Tania terisak lagi. "Aku mau Kei, aku mau berkencan denganmu setelah ini. Aku mohon kembalilah. Aku... Menyayangimu."
Monster Kei menutup matanya tapi tiba-tiba terdengar ledakan dan kilatan hampir mengenai Tania, jika Kei tidak menangkisnya. Kei menggeram marah.
"Aarrghh menggangu saja para penyihir brengsek itu." maki Ian. Tapi dia buru-buru sadar. Lalu menoleh ke Bian. "Aaa... Maksud aku kaum hitam, iya, tidak semua penyihir." koreksi Ian. Bian tersenyum.
Gina dan Kate sudah berada disana untuk menghadapi kaum hitam. Kei tampak marah.
"K-kei..." panggil Tania. Kei berbalik dan menatap Tania. Dia menggeram kasar pada Tania.
"Tania....!!! Lari!!" teriak Ian. Tapi Tania tidak lari. Dia hanya diam berdiri disana. Kei mendatangi Tania. Ian bersiap untuk menyelamatkan Tania tapi Bian menghalanginya.
"Jangan! Biarkan saja." kata Bian.
"Apa maksudmu? Dia bisa mati!"
"Aku tahu." jawab Bian tenang.
"Apa kamu sudah gila?!" Ian melepaskan tangan Bian lalu segera berlari. Bian mengayunkan tangannya membuat Ian terhempas.
"K-kau..." rintih Ian.
"Aku bilang jangan." kata Bian dingin.
Tania berjalan mundur perlahan sambil menatap Kei yang mengincarnya.
"K.. K-kei... Ini aku, Tania..." kata Tania. Tapi Kei tidak menggubrisnya. "Kei... Aku mohon..."
Srukk!!
Kei mengayunkan tangannya dan menusuk perut Tania
"Aaa..." rintih Tania. Kei mencabut tangannya dari perut Tania. Tania terduduk ditanah sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar.
"K-Kei..." rintih Tania.
"Tania....!!! Sialan kau Bian!" Ian berlari lagi tapi kemudian terhempas lagi. Bian kembali mengayunkan tangannya. Bian berdiri dan memperhatikan Kei dan Tania dalam diam.
"Bian... Tolong Tania, aku mohon..." pinta Ian. Tapi Bian diam saja di tempatnya.
Tiba-tiba cahaya keluar dari tubuh Tania. Cahaya putih terang yang menyilaukan mata. Cahaya itu masuk kedalam tubuh Kei. Kei mengerang. Tubuhnya kesakitan.
"Moon Goddes." gumam Bian. "Berarti Tania sudah... Mati."
Suara Kei menggelegar. Kemudian cahaya itu menghilang. Menyisakan Kei yang terengah. Kei berubah menjadi manusia kembali dengan nafas masih memburu. Kei membuka matanya dan menatap Tania. Dia terkejut dan panik.
"Oh tidak... Tania? Tidak, tidak..."
Kei mendekati tubuh Tania. Kei meletakkan kepala Tania di pangkuannya.
"Tania... Sayang... Aku mohon buka matamu... Tania!!!"
Kei menangis dan memeluk Tania.
"Tania, aku mencintaimu. Buka matamu Tania, aku mohon..." pinta Kei tapi Tania tetap terbujur kaku. Bian mendatangi Kei. Kei menoleh.
"B-Bian... Tolong... Aku mohon sembuhkan dia..."
"Kamu berhasil Kei. Sekarang kamu bisa mengendalikan kekuatan itu. Dengan membunuh Tania, mate-mu, kamu mendapat bantuan dari Moon Goddes, membuatmu bisa dengan mudah mengendalikan monster itu. Kamu alpha dari segala alpha sekarang, kamu adalah raja Lycanthrope."
"Persetan dengan semua itu! Aku tidak perduli!! Kamu tahu tentang semua ini dan kamu tidak mengatakannya padaku, membuatku merasa sangat bodoh!!"
"Menjahlah darinya, dia sudah mati dan aku-"
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari Tania, tidak akan pernah." Kei menatap Bian tajam.
"Kei..."
"Jangan paksa aku!" tegas Kei.
"Maaf tapi aku tidak bisa, aku sudah sangat terlambat." kata Bian.
Bian mengayunkan tangannya membuat Kei terlempar jauh. Bian melihat Kate. Kate dan Gina yang mengerti langsung menghalangi Kei sementara James dan Damian menghalangi Ian. Bian mengambil darah Tania lalu membuat lingkaran di sekitar tubuh Tania dengan darah itu. Lalu memunculkan pisau dan menggores tangannya sendiri dan membuat lingkaran kembali di atas lingakaran darah Tania. Bian kemudian duduk dan menyentuh lingkaran itu lalu mulai membaca mantra kuno.
"Morale kasehende istuikasiath deparale"
Bian mengulang mantranya terus menerus tanpa berhenti. Lingkaran itu mulai bercahaya.
Tania POV
Semua gelap. Bahkan aku tidak melihat cahaya sedikit pun... Dimana ini? Aku mengingat aku bersama Kei dan Kei menusukku. Aku ingat aku mati. Berada dimana aku? Surga? Neraka?
Arghh silau... Dari mana asal cahaya ini? aku mulai bisa melihat keadaan sekitarku. Semakin lama semakin jelas. Aku berdiri di batu besar, iya. Ini batu besar itu. Aku berjalan menghampiri batu itu. Masih ada tulisan nama ayah dan ibuku. Tapi kenapa aku disini? Apa aku belum mati?
"Tania..."
Aku terkejut. Aku mendengar suara seseorang memanggilku. Aku menoleh dan mendapati sepasang yang aku yakin suami istri itu berdiri di belakangku. Mereka tersenyum padaku. Siapa mereka? Tunggu! Aku mengenal mereka.
"Ayah? Ibu?" panggil ku. Mereka tersenyum.
"Kemarilah Tania..."
Ibuku merentangkan tangannya untuk memelukku. Aku berlari dan memeluk ibuku. Aku bisa menyentuhnya! Aku bisa memeluk ibuku... Ohh hangat sekali, aku menyukainya. Ayahku ikut memelukku dan ibu. Kami tertawa bahagia bersama. Ibuku melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Tania sayang, kamu sudah besar. Apa kakak-kakakmu merawatmu dengan baik?" tanya ibu.
"Tentu, kakak sangat baik." kataku.
"Kamu cantik sekali, sangat mirip dengan ibumu." puji ayahku. Aku menatap ibuku. Rambut coklat panjangnya mirip denganku dan mata coklatnya juga.
"Tapi Tania, kamu harus segera kembali." kata Ibuku. Aku bingung.
"Apa maksud ibu? Bukannya aku sudah mati? Aku disini untuk bergabung dengan kalian."
"Tidak Tania, Belum saatnya kamu disini sayang. Kembalilah."
"Tapi.. Bagaimana bisa?"
"Penyihir itu, dia yang membuatmu seperti ini untuk menyelamatkanmu. Kamu tidak mati sayang, belum saatnya. Kembalilah sayang." kata ibuku.
Aku ragu, tentu. Aku ingin sekali berada bersama kedua orang tuaku. Mereka meninggal saat aku berumur satu tahun. Aku tidak pernah mengenal mereka dan sekarang mereka disini, dihadapanku. Aku ingin bersama mereka.
"Tania, semua orang sudah menunggumu." kata ayahku.
"Tapi... Tapi..."
"Tania sayang..." ibu memegang kedua pundakku. "Kita akan bertemu lagi nanti, jika sudah saatnya. Tapi tidak sekarang. Sekarang kamu harus kembali pada orang-orang yang mencintaimu, kakak-kakakmu, sahabatmu dan... Kei. Pergilah sayang, ibu dan ayah akan selalu menunggumu."
Tania menangis dan memeluk ibu dan ayahnya.
"Tania mencintaimu ayah, ibu."
"Ayah dan ibu juga mencintaimu. Sekarang pergilah, pergilah Tania."
Semua gelap kembali. Aku tidak melihat apapun.
****
My POV
"Morale kasehende istuikasiath deparale"
Bian masih membaca mantra. Darah sudah keluar dari hidungnya tapi dia tidak berhenti.
"Bian... Hentikan..." sahut Kate. Bian tidak memperdulikannya. Kate berlari ke arah Bian.
"Bian--"
Bian mengayunkan tangannya pada Kate dan membuatnya terlempar. Bian masih membaca mantra. Tiba-tiba tubuhnya menegang, cahaya di lingkaran itu sudah hilang. Bian menyemburkan darah dari mulutnya lalu terbatuk.
'Tania... Bangunlah..." panggil Bian lirih.
Tiba-tiba terdengar suara nafas Tania. Tania terbatuk dan mencoba mengatur nafasnya. Bian tersenyum.
"Kamu berhasil Tania." kata Bian. Tania tersenyum.
"Aku... Hidup?" tanya Tania. Bian mengangguk dan tersenyum.
"Tania? Tania!!!"
Kei berlari menuju Tania dan memeluknya erat.
"Kamu hidup! Astaga Tania, kamu benar-benar kembali!!"
Kei melepaskan pelukannya dan menatap Tania lekat.
"Terima kasih sudah kembali Tania, aku mencintaimu."
Kei mencium kening Tania lalu memeluknya lagi.
Bian berdiri tegak dan menghapus darah dibibirnya. Semua orang bernafas lega.
"Ternyata kamu merencanakan ini semua agar Tania bisa kembali. Kenapa tidak mengatakannya padaku?" kata Ian yang sudah berada di sebelah Bian. Bian menoleh dan tersenyum, kemudian dia jatuh pingsan. Ian dengan sigap menangkap tubuh Bian.
"Bian...!!"
"Kenapa dengannya?" tanya Ian.
"Dia sudah terlalu banyak menggunakan kekuatan kuno." jelas Kate.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu, yang aku tahu keadaanya sekarang kritis." kata Kate lagi.
"Mari kita bawa dan obati dia." kata Damian yang telah sampai disana.
"Ayo bawa masuk ke rumah." kata Alpha Sebastian.
"Tidak, tidak disini. Kami akan membawanya kembali ke Disprea." kata Damian.
"Sebaiknya begitu. Akan kami rawat dia disana." tambah Felicia
"Apa... Dia baik-baik saja?" tanya Kei.
"Kami tidak tahu, belum bisa memastikan." kata Damian. Damian melihat Kate dan Gina. "Bawa dia."
Kate dan Gina menganguk dan mengambil tubuh Bian dari Ian lalu berteleportasi ke Disprea.
"Kenapa tidak di rawat disini saja dulu? Kami bisa membantunya." kata Alpha Sebastian.
"Tidak, kami yang akan merawatnya. Lagipula tugas kami sudah selesai disini. Sampai jumpa lagi kawan lama." kata Damian, mengulurkan tangannya dan disambut oleh Sebastian.
"Tentu, sampai jumpa lagi dan terima kasih Damian. Beritahu kami jika yang terpilih sudah membaik."
Damian dan Sebastian berpelukan. Kemudian bergantian dengan Elder yang lain. Damian berjalan menuju Kei.
"Selamat yang mulia, mulai sekarang kamu adalah raja Lycanthrope, alpha dari segala alpha, use it well."
Damian membungkuk hormat diikuti oleh penyihir kaum putih yang lain lalu segera berteleportasi.
"Sebelum saya pergi..." kata Augys. "Saya ingin memberikan hadiah untuk anda."
Augys mendorong tubuh Ordovick. Ordovick terhuyung dan jatuh tepat didepan kaki Kei. Ordovick mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata tajam Kei.
"Kalian yang berhak memberikan hukuman padanya. Saya permisi."
Augys membungkuk sedikit lalu berteleportasi. Kei melepaskan tangannya dari pundak Tania lalu berjongkok di depan Ordovick sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Ordovick.
"Sekarang... Apa yang akan aku lakukan padamu, pamanku."
****
__ADS_1
tadariez