
Kei duduk di sofa dan Tania bersandar di pelukkannya. Mereka masih menunggu Ryan sadar.
"Kei... Apa normal jika kakakku lama sadarnya?" tanya Tania.
"Hmm.. Tergantung Tania. Kadang ada tubuh yang cepat menerima perubahan tapi biasa jika itu gigitan Alpha, akan cepat." jelas Kei.
"Apa jika kamu menggigit manusia serigala akan berpengaruh juga?"
"Jika yang aku gigit manusia serigala, akan berbeda Tania. Akan terjadi kebalikkannya. Jika aku menggigit manusia biasa, maka manusia itu akan menjadi manusia serigala. Tetapi jika aku menggigit manusia serigala, maka manusia serigala itu akan mati."
"Mati?"
"Iya... Mati. Karena racun dari gigitan alpha sangat mematikan bagi manusia serigala yang berada di bawah alpha."
"Maksudmu jika kamu menggigit Ian, maka Ian akan mati?"
"Iya."
"Tapi... Kakakku akan baik-baik saja kan?"
"Tentu, dia akan baik-baik saja."
"Lalu... Jadi apa dia? Dia mungkin jadi uhm... Omega? Karena dia baru."
"Belum tentu. Jika alpha yang menggigit, dia bisa jadi apa saja. Sesuai dengan kekuatannya. Kami manusia serigala menentukan tingkatan bukan dari kami bangsawan atau tidak, tapi dari kekuatan. Jika seorang omega kuat dan bisa mengalahkan gamma dalam pertandingan, maka dia akan menjadi gamma. Dari situ kami memilih tingkatan secara resmi Tania."
"Lalu... Bagaimana mereka bisa di bedakan. Maksudku.. gamma, omega, beta..."
Kei menegakkan tubuhnya dan menghadap Tania.
"Apa warna bola mataku selain hitam pekat? Saat aku marah atau saat aku mengeluarkan kekuatan alphaku?" tanya Kei.
"Uhmm... Merah." tebak Tania.
"Betul. Beta seperti Ian, jika dia marah atau mengeluarkan kekuatan betanya, bola matanya berwarna kuning, tepatnya kuning terang dan ada sedikit oranye di tengah. Gamma, berwarna biru dan omega, berwarna amber, sama seperti hewan serigala biasa. Tapi jika mereka hybrid, mereka tidak mempunyai warna bola mata yang berbeda. Semua sama. Coklat tua." jelas Kei. Tania menganggukkan kepalanya.
"Kenapa mereka menjadi serigala, maksudku para vampir itu. Bukankah mereka kuat?" tanya Tania lagi. Kei tersenyum gemas lalu mencubit hidung Tania.
"Banyak sekali pertanyaannya." kata Kei gemas.
"Aku ingin tahu..."
"Baiklah, baiklah... Para vampir itu--"
"Aaaaarrrrggghhhh.....!!!!"
Terdengar suara teriakan dari lantai dua rumah alpha Sebastian. Suara itu berasal dari kamar Ryan. Kei dan Tania langsung berlari menuju kamar Ryan.
"Ada apa?" tanya Kei setiba disana.
"Aku tidak tahu, dia... Dia tiba-tiba berteriak." sahut Lani, anak perempuan alpha Sebastian. Dia membantu merawat Ryan.
"Ian?"
"Saya tidak tahu alpha, ini aneh. Seharusnya dia sudah sadar sekarang tapi suhu tubuhnya terus meningkat. Bahkan saya sudah melepas semua pakaiannya tapi tetap saja suhu tubuhnya memanas."
"Apa itu normal?" tanya Tania. Kei memeriksa suhu tubuh Ryan. Sangat panas.
"Tidak Tania. Jika manusia biasa menjadi manusia serigala, suhu tubuhnya memang memanas tapi tidak seperti ini. Ini terlalu panas." jawab Kei. Kei menatap Ian. "Apa racun yang kuberikan terlalu kuat?"
"Saya tidak tahu alpha. Ini pertama kalinya terjadi." jawab Ian.
"Apa mungkin karena kamu adalah alpha dari segala alpha?" tebak Lani. "Apa kamu pernah menggigit manusia biasa sebelumnya?"
"Tentu tidak, ini pertama kali. Apa mungkin karena itu? Di mana ayahmu? Di mana alpha Sebastian?"
"Dia memeriksa pasukan lain. Aku akan memanggilnya." kata Lani lalu beranjak pergi tapi belum sampai keluar kamar, Ryan berteriak lagi.
Semua orang terkejut. Pertama Ryan berteriak dengan suara manusianya lalu tak lama Ryan berteriak dengan suara serigalanya sambil membuka matanya lebar lalu dia pingsan.
"Kak..." panggil Tania. Tania segera duduk di pinggir kasur di sebelah Ryan.
"Kalian lihat matanya tadi?" tanya Lani yang masih terkejut. "Bola matanya."
"A-ada apa dengan bola matanya?" tanya Tania heran.
"Ya.. aku melihatnya." sahut Kei.
"Dia beta Kei, dia menjadi betamu yang kedua."
Semua menatap Ryan dalam Diam.
****
Zach dan Austin memapah Aaron keluar dari goa, tapi Aaron terus menolak.
"Ada apa Aaron? Kita harus segera pergi dari sini." kata Zach.
"Ak... Ib..." Aaron masih terlalu lemah untuk berkata-kata. Mereka berhenti kembali.
"Maaf, tapi saya harus mencari alpha saya." kata Anthony.
"Baiklah, bebaskan semua tawanan disini. Austin, bantu dia." pinta Zach.
"Tapi anda tidak bisa memapah beta sendirian alpha." tolak Austin.
"Aku baik-baik saja Austin, tenang saja. Pergilah."
"Baik alpha."
Anthony dan Austin pergi berkeliling ruang bawah tanah. Zach membuka pintu dan melihat Roland sedang di pukuli oleh tiga orang sekaligus. Zach terkejut.
"Hei, hentikan itu!" kata Zach. Zach meletakkan Aaron di lantai lalu menyerang tiga manusia serigala itu.
Zach melayangkan pukulannya. Salah satu penjaga itu bisa menghindar lalu memukul Zach balik. Zach terjatuh di tanah dan langsung berdiri. Matanya berubah menjadi merah dan mulai memukuli mereka bertiga dengan kekuatan alphanya. Tiga penjaga itu terkejut dan kewalahan menghadapi Zach. Roland bangkit dan membantu Zach bertarung.
Tak berapa lama ketiga penjaga tadi sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
"Dari mana asal mereka?" tanya Zach.
"Mereka keluar dari ruangan itu." Roland menunjuk sebuah pintu yang letaknya di ujung lorong itu.
__ADS_1
"Ruangan apa itu?"
"Saya tidak tahu alpha. Di mana Austin?"
"Dia membantu Anthony untuk membebaskan tawanan lain."
"A-al-pha.." panggil Aaron. Zach yang mendengar panggilan itu langsung mendekati Aaron.
'Mindlink saja Aaron. Kamu betaku, kamu bisa mindlink aku.'
'To-tolong... Ibu dan adik saya...'
'Ibu? Dan adik? Dimana mereka?'
Aaron menatap pintu di ujung lorong, tempat ketiga penjaga tadi keluar.
"Roland, ada seseorang disana." kata Zach sambil menunjuk pintu di ujung lorong.
"Anda yakin alpha?" tanya Roland.
"Uhmm... Aku... Tadi Aaron memberitahuku." kata Zach. Roland terdiam. Dia mencoba menajamkan pendengarannya. Dia mendengar detak jantung. Tiga detak jantung.
"Ada tiga orang di dalam, tapi sepertinya salah satunya sangat lemah."
"Kalau begitu, aku akan memapah Aaron keluar dari sini dan kamu bawa mereka keluar, setelah selesai dengan Aaron, aku akan membantumu."
"Baik, alpha."
Roland langsung berlari menuju pintu itu sementara Zach memapah Aaron keluar.
Tak lama terlihat cahaya dari luar goa. Mereka hampir sampai. Sesekali Aaron meringis kesakitan.
"Apa itu alasan kamu kembali? Karena keluargamu? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Lihat sekarang, kau menyusahkanku." omel Zach. Aaron hanya tersenyum kecil.
Zach sampai di luar goa dan betapa terkejutnya dia. Sudah ada beberapa anggota pack Bykort disana menahan Brad dan dua wanita dan satu pria dari pack lain.
"Wah wah... Lihatlah siapa ini? Nyalimu besar sekali masuk kesini alpha." sahut sesorang yang di kenal bernama Nathan. Zach berjalan mendekat perlahan.
"Siapa kau dan mau apa?" tanya Zach memberanikan diri. Nathan tertawa.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu karena ini wilayah kami dan kamu yang masuk ke wilayah kami. Tapi karena aku sudah mengenalmu jadi kita lewatkan perkenalan dirinya." Nathan meletakkan satu tangan didadanya dan satu lagi di dagunya. Nathan mulai berjalan bolak balik di tempatnya. "Tapi yang membuat aku heran adalah kamu membahayakan dirimu masuk ke dalam pack ini hanya untuk menyelamatkan gamma rendahan seperti dia? Itu sangat tidak masuk akal."
"Itu bukan urusanmu." jawab Zach.
"Oh itu tentu urusanku. Karena nyawamu berada di tanganku. Bagaimana jika alpha Roger tahu jika alpha keturunan murni berada disini, memasuki wilayah ini tanpa ijin dan menyelamatkan pengkhianat?"
"Lalu kamu mau apa?"
"Tinggalkan Aaron disini dan mungkin aku akan membiarkanmu dan pack kecilmu pergi." kata Nathan.
"Alpha... Pergilah..." kata Aaron.
"Aku tidak akan meninggalkanmu." kata Zach.
"Alpha.... Mereka... Akan... Membunuhmu..."
"Aku tidak perduli. Aku tidak akan meninggalkanmu." tegas Zach.
"Brengsek!!!" umpat Brad seraya berdiri untuk menghajar Nathan tapi dengan cepat penjaga di belakangnya memukulnya. Wajah Brad sudah penuh luka dan darah. Luka yang perlahan sembuh dengan sendirinya.
"Ayolah alpha... Ini kesempatanmu." bujuk Nathan.
Tak lama keluar Roland menggendong seorang wanita di kedua tangannya. Dia terkejut dengan yang dilihatnya.
"Nathan." kata Roland.
"Halo Roland, kita bertemu lagi." Nathan tersenyum sinis.
"Roland letakkan wanita itu didekat pohon sana." perintah Zach. Roland menurut dan beranjak pergi.
"Hey, hey, aku tidak menyuruhmu untuk beranjak dari sana." kata Nathan membuat langkah Roland terhenti.
"Jangan berhenti Roland, lakukan perintahku. Aku adalah alphamu." kata Zach sambil menatap tajam Nathan. Roland berjalan kembali. Nathan tersenyum dan menatap tidak percaya.
"Whoaa... Jadi sekarang kamu menggunakan alphamu? Luar biasa... Aku kira kamu masih belum bisa menguasai kekuatan alphamu."
"Jika aku belum bisa, aku tidak akan melawanmu. Tapi aku tidak akan menuruti kemauan gamma sepertimu." kata Zach membuat Nathan menggeretakkan gerahamnya. "Bawa kedua adik Aaron kemari."
"Baik alpha."
"Berani sekali. Hanya karena gamma rendahan." gumam Nathan. Dia menarik nafas. "Baiklah, jika itu maumu. Kau! Ke rumah utama sekarang! Beritahu alpha bahwa ada penyusup di sini dan penyusupnya adalah alpha keturunan murni."
"Baik, gamma."
Penjaga itu langsung pergi. Zach meletakkan Aaron disisi ibunya lalu berdiri menghadap Nathan.
"Kau tahu... Zach. Meskipun kau alpha keturunan murni, tapi jumlah anggota pack ini jauh lebih banyak. Kau tetap akan kalah."
"Tidak masalah bagiku, setidaknya aku tidak akan mengalah pada orang sepertimu." ucap Zach.
"Hah! Sombong sekali. Baiklah, serang dia."
Dua orang yang berdiri di belakang Nathan maju dan bersiap menyerang Zach. Mata Zach berubah menjadi merah pekat. Zach menggeram keras dengan suara serigalanya, membuat kedua penjaga tadi ketakutan.
"Apa yang kalian lakukan?! Aku bilang serang!!"
Kedua penjaga itu menyerang Zach. Zach bisa menghindar dari pukulan mereka lalu menyerang balik. Kedua penjaga terkena pukulan telak dari Zach dan tergeletak. Mereka berdua meringis kesakitan.
"Semuanya serang dia!!!" perintah Nathan.
Zach merubah dirinya menjadi serigala. Alpha serigala keturunan murni. Semua orang ketakutan.
"Aku bilang serang! Apa kalian ingin di hukum alpha kalian?!"
Perlahan-lahan para penjaga maju. Zach menggeram kasar. Membuat musuhnya ragu. Tapi akhirnya mereka merubah diri mereka dan menyerang. Zach melawan mereka semua. Zach mengoyak salah satu serigala dan menghempas yang lain. Zach menjatuhkan satu persatu lawannya, hingga tidak ada yang tersisa. Hanya Nathan dan Bryan.
Zach menggeram kasar dan menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh. Nathan dan Bryan terlihat ketakutan. Mereka berdua berlari meninggalkan tempat itu. Brad berdiri dan hendak mengejar tapi Zach menggeram keras, membuat Brad menghentikan langkahnya.
Roland keluar dari goa bersamaan dengan Austin dan Anthony dan juga beberapa orang lainnya. Mereka terkejut melihat serigala Zach dan bahwa Zach adalah alpha keturunan murni. Zach merubah dirinya menjadi manusia kembali.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Zach pada Roland yang tengah memeriksa keadaan ibu Aaron dan kedua adiknya.
__ADS_1
"Kedua adik beta Aaron akan baik-baik saja tapi ibunya sungguh sangat mengkhawatirkan alpha. Sepertinya lukanya sudah tidak bisa sembuh sendiri." kata Roland.
"Itu karena wolfsbane. Mereka menggunakan wolfsbane untuk menyiksa kami." kata salah satu orang yang di bebaskan oleh Austin.
"Berarti kita harus segera membawanya pergi dari sini." kata Zach. Zach beralih pada Anthony. "Bagaimana dengan alphamu?"
"Dia... Dia sudah mati." jawab Anthony. Kepalanya tertunduk lemas.
"Alpha, semua alpha dari pack yang di rampas oleh alpha Roger, semuanya mati." jelas Austin.
"Lalu... Ada berapa pack yang ada disini?" tanya Roland.
"Tiga. Pack Chresten dari Kanada, pack Grosten dari New Mexico dan Pack Bowsten dari Atlanta." kata Austin.
"Kenapa nama pack mereka hampir sama?" gumam Zach.
"Mereka semua dari pack kecil alpha, pack yang jumlah anggotanya tidak banyak." jelas Roland. Zach mengangguk.
"Tapi kami sekarang adalah Rouge. Kumpulan manusia serigala yang tidak mempunyai alpha dan pack." kata Anthony.
"Saya turut menyesal. Namun sekarang kita harus pergi. Kalian bisa bekerja sama dan membantuku?" pinta Zach.
"Tentu, kami siap membantu dan menuruti semua perintah anda, alpha." kata Anthony di sambut anggukan anggota yang lain.
"Lalu apa rencananya alpha?" tanya Roland. Zach terdiam.
"Baiklah. Sebagian dari kalian..." Zach menunjuk beberapa orang yang baru di bebaskan. ".... Cari sisa dari beberapa anggota kalian. Ajak mereka yang ingin bergabung dan keluar dari sini. Temui aku di selatan hutan ini. Di perbatasan. Kalian mengerti?"
"Baik alpha." kata mereka lalu beranjak pergi.
"Hei!" panggil Zach lagi. Mereka menoleh. "Jangan takut pada mereka. Aku akan bertempur sampai akhir untuk mengeluarkan kita dari sini."
Mereka semua mengangguk lalu pergi. Brad melongo dengan indahnya.
"Waahh apa kau Zach yang aku kenal?"
Pletak!!
"Aww!!"
"Dia alpha." kata Roland.
"Maaf." ucap Brad sambil mengelus kepalanya.
"Sudahlah, jangan bertengkar. Sebaiknya aku menghubungi Adrian."
****
"Menyingkir." kata alpha Roger.
"Tidak akan." kata Bian. Bian masih berdiri di depan pintu keluar dan menahan seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Dipercantian!"
Satu orang dari kaum hitam membaca mantra tapi Bian berhasil menangkisnya.
"Itu tadi nyaris." gumam Adrian.
Bian memutar kedua tangannya, membuat lingkaran di masing-masing tangannya lalu mendorong lingkaran itu kedepan. Lingkaran itu berubah menjadi gelambung raksasa yang menahan orang yang didalam ruangan.
"Adrian... Run... Now!!"
Adrian dan Bian berlari sekuat tenaga. Mereka membuka pintu dn berlari keluar setelah Bian memingsankan penjaga didepan pintu. Bian dan Adrian terus berlari.
Tiba-tiba ada cahaya kilat melewati kepala mereka. Bian menoleh dan mengayunkan tangannya. Penyihir kaum hitam itu terhempas jauh.
Langkah Bian dan Adrian terhenti melihat pasukan dalam jumlah banyak berada di hadapan mereka. Bian dan Adrian saling pandang.
"Sepertinya aku harus berubah." kata Adrian.
"Tidak, bersiap saja untuk lari." kaya Bian.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Adrian. Bian tidak menjawab. Bian mengayunkan tangan kanannya dan dengan segera pasukan yang berada di sebelah kanan terlempar dan Bian mengayunkan tangan kirinya juga lalu mendorong kuat tangannya kedepan. Semua pasukan terhempas tidak beraturan. Bian menarik tangan Adrian lalu berlari melewati pasukan dengan mudah.
Tiba-tiba ada serigala hitam melompat di atas mereka, melewati mereka. Serigala itu mendarat tepat di hadapan mereka. Bian dan Adrian terkejut. Serigala itu berwarna hitam pekat dan matanya berwarna merah. Serigala alpha Roger menggeram marah. Bian menatap dengan waspada. Disebelah serigala alpha Roger sudah ada Bruce, betanya dalam wujud serigala berwarna abu-abu campur hitam. Bian dan Adrian telah di kelilingi oleh serigala dalam jumlah banyak. Adrian menjauh dari Bian lalu merubah dirinya menjadi serigala.
"Kita harus melawan mereka untuk bisa lepas dari mereka, Adrian. Pack ini telah dilindungi oleh mantra yang membuatku tidak bisa berteleportasi dan membutuhkan waktu untuk membuka mantra itu. Kita harus melawan mereka. Kamu siap Adrian?"
Adrian mengangguk dan mulai menggeram marah. Alpha Roger memerintahkan pasukannya menyerang. Adrian melawan mereka dengan agresif. Bian melindungi Adrian dan sesekali bertarung dengan penyihir kaum hitam. Bian memantrai satu kaum hitam dengan mantra kutukan. Adrian dan Bian mulai kewalahan. Lawan mereka begitu banyak. Adrian terhempas. Alpha Roger membuatnya terhempas. Adrian sudah terluka parah. Bian mendatangi Adrian.
"Adrian... Maafkan aku, aku harus melakukan ini. Aku mohon bertahanlah." kata Bian lalu berdiri.
"Vermandio...!!!" Bian meletakkan tangannya ke tanah. Cahaya keluar dari tangannya dan menghempas seluruhnya, baik manusia serigala maupun penyihir. Tapi sihir itu mempunyai kelemahan. Sihir itu membuat seluruh makhluk supranatural menjadi lemah, termasuk Adrian. Adrian yang sudah terluka parah menjadi lebih parah. Bian mendatangi Adrian.
"Maafakan aku... Ini satu-satunya cara untuk menghentikan mereka. Aku bisa menyembuhkan lukamu tapi aku tidak bisa menyembuhkan dampak dari sihir yang kubuat tadi."
Bian menutup matanya dan merentangkan tangannya. Dia membaca mantra penyembuhan pada Adrian. Dia tahu manusia serigala bisa menyembuhkan diri tapi dengan mantra yang dia lakukan tadi, membuat penyembuhannya menjadi sangat lambat. Bian membuka matanya.
"Bertahanlah. Aku akan membuka mantra dari pack ini, agar aku bisa berteleportasi dengan mudah."
"Hexta la por sia neh---"
Bian menghentikan membaca mantra. Didepannya sudah ada alpha Roger yang berdiri dan menggeram marah padanya. Dia bisa bertahan mantraku tadi. Dia sangat kuat.
Bian berdiri dan bersiap melawan alpha Roger. Alpha Roger berlari menuju Bian. Tapi tiba-tiba satu serigala mendarat di depan Bian. Itu adalah Zach. Zach menatap alpha Roger lalu menatap Bian.
"Aku butuh waktu untuk membuka mantra agar aku bisa berteleportasi. Jika aku bisa berteleportasi, aku akan dengan mudah membawa kalian pergi dari sini." jelas Bian. Zach mengangguk.
Zach menggeram marah pada alpha Roger.
'Menyingkirlah alpha Zach, biar aku melawan wanita itu.'
'Aku tidak akan menyingkir'
'Meskipun kau alpha keturunan murni, kamu masih alpha baru. Kamu lemah dan bukan tandinganku.'
'Soal itu, kita lihat saja nanti. Tapi sekarang kau akan menghadapiku alpha Roger.'
****
tadariez
__ADS_1