
Satu tahun kemudian..
Suasana di istana Lykort sangat sibuk. Beberapa pelayan terus berlalu lalang kesana kemari. Ibu Kei pun tampak sibuk memerintahkan para pelayan. Kei hanya menatap jenuh mereka di kursi singgasananya.
"Tidak, tidak. Itu di sebelah sana." kata ibu Kei. "Meja itu di sini. Jangan terlalu dekat jarak antara meja satu dengan meja yang lain."
"Bu, berhentilah. Ibu membuat Kei pusing." ucap Kei akhirnya.
"Kamu diam saja di sana sayang, ibu yang akan mengurusnya. Ibu hanya perlu bunga lagi, lebih banyak bunga. Tania suka bunga kan?" tanya ibunya. Kei hanya menghela nafas panjang. "Bawakan bunga lagi. Apa kita masih punya persedian bunga lagi?"
"Saya cek dulu luna." kata salah satu maid.
"Kalau kurang, segera pesan lagi. Jangan tunda-tunda." kata ibu Kei. Maid itu mengangguk. "Itu sebelah sini. Disana sudah terlalu banya. Ohh pelan-pelan mengangkat itu, kita tidak mau itu pecah sebelum pesta berlangsung."
"Bu, apa ini tidak berlebihan?" tanya Kei akhirnya.
"Apa maksudmu berlebihan? Tentu saja tidak sayang. Kita harus merayakan ini dengan meriah."
"Tapi bu, ini hanya pesta kelulusan, tidak harus semeriah ini." kata Kei putus asa.
"Jangan lupakan pesta pertunanganmu."
"Ya dan itu." sahut Kei malas.
"Kelihatannya kamu tidak suka." ibunya memandang penuh curiga.
"Bukan seperti itu bu... Kei hanya--"
"Bagaimana jika kamu langsung menikah saja? Kan lebih baik."
"Bu, kita sudah membahas ini."
"Tapi ibu ingin kamu segera menikah Kei. Untuk apa juga Tania kuliah di tempat yang jauh? Kalian akan terpisah."
"Itu sudah keputusan kami bu, lagi pula itu kan tujuan kami menyetujui keinginan ibu untuk bertunangan. Dan Kei masih delapan belas tahun ibu, tolonglah. Masih banyak waktu buat Kei dan Tania menikah nanti."
"Tapi ibu ingin segera menggendong cucu! Bayangkan saja bertapa lucunya jika ada serigala-serigala kecil berlarian di kastil."
"Masih ada Aira yang masih berlarian di kastil."
"Aira sudah besar Kei." protes ibu Kei. Kei memutar bola matanya.
"Baiklah bu, kita hentikan pembicaraan ini. Kei tidak akan merubah keputusan Kei."
Kei bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Dia berjalan keluar kastil menuju tanah lapang. Dia berhenti sejenak menatap tanah lapang itu. Dia ingat dia pernah bertarung dengan Cayden disana. Dia teringat akan Cayden.
"Apa ada hal yang menarik disana?" tanya Tania yang baru datang dan memeluk Kei. Kei tersenyum dan menatap Tania lembut.
"Aku pernah bertarung dengan Cayden disana." Kei menunjuk tanah lapang tak jauh di tempat dia berdiri.
"Ahh sepupumu?"
"Iya. Tania dengar, aku minta maaf atas apa yang di lakukan Cayden. Aku tahu--"
"Tidak Kei. Jangan minta maaf. Aku tidak membenci atau menyalahkan Cayden. Dia bahkan menyelamatkan nyawaku dengan mengorbankan nyawanya. Aku berterima kasih padanya Kei." ucap Tania. Kei tersenyum lalu memeluk Tania lembut.
"Terima kasih. Aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu, aku juga Kei." Tania melepaskan pelukannya. "Kenapa kamu berada disini? Mana Ian?"
"Ahh aku hanya jalan-jalan Tania. Hanya sebentar. Lagipula Ian betaku, bukan pengasuhku. Aku hanya merasa jenuh di kastil."
"Apa ini karena ibu?" tanya Tania. Kei hanya menghela nafas panjang. Tania tersenyum geli. "Apa ibu meminta kita untuk menikah lagi?"
"Begitulah." kata Kei malas. Tania terdiam sejenak.
"Apa kita menikah saja Kei?" tanya Tania tiba-tiba. Kei terkejut.
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku... Aku hanya ingin... Menuruti permintaan ibu."
"Lalu bagaimana kuliahmu? Bukannya kamu ingin kuliah?"
"Aku tahu tapi.. Itu bisa ditunda kan?"
Kei memegang kedua lengan Tania dan menatapnya lekat.
"Tania, pernikahan kita bisa di tunda. Kita sudah membahas hal ini dan aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku akan menunggumu apapun yang terjadi."
"Kalau begitu aku akan kuliah di Lykort saja."
"Tania... kita juga sudah membahasnya dan aku tidak akan mengubah keputusanku."
"Baiklah jika itu maumu."
"Sekarang ayo kita berjalan-jalan."
Kei merubah dirinya menjadi serigala dan menundukkan rendah tubuhnya. Tania menaiki tubuh Kei dan pergi bersama Kei.
Tak berapa lama mereka sampai diperbatasan Lykort. Disana sudah ada Lily yang menunggu. Lily membungkuk hormat.
"Lily? Sedang apa disini? Dimana Livia? " tanya Tania.
"Livia sedang menghadiri rapat di disprea, kota sihir. Dan saya disini sedang menunggu anda yang mulia."
__ADS_1
"Menungguku? Tapi untuk apa?"
Kei mengangguk pada Lily. Lily juga mengangguk lalu menyentuh Kei dan membaca mantra. Dengan hitungan detik, Kei dan Tania sampai dihutan. Tania mengenali hutan itu. Itu adalah hutan wilayah alpha Sebastian. Mereka segera menuju ke batu besar. Tania turun dari tubuh Kei dan mendekati batu besar itu. Tania menyentuh tulisan nama ayah dan ibunya di batu itu.
"Ayah... Ibu..." Tania menatap lekat tulisan itu. "Tania akan kuliah jauh dari sini. Maaf jika Tania jarang berkunjung. Tania pasti akan merindukan kalian."
"Aku akan menjaga batu ini dengan baik." kata Kei yang sudah berubah menjadi manusia lalu memeluk Tania erat dari belakang.
"Kamu tidak akan mencari wanita lain kan?" tuding Tania tiba-tiba.
"Tania, aku bukan laki-laki biasa. Aku manusia serigala, demi tuhan. Kami hanya ditakdirkan mempunyai satu mate Tania dan itu untuk seumur hidup, kamu tahu hal itu!"
Tania tertawa geli. Dia tertawa melihat ekspresi wajah Kei yang tampak kesal.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu. Kamu manusia biasa, bukan manusia serigala. Kamu bisa jatuh cinta pada laki-laki lain meskipun kamu sudah bertunangan denganku."
Kei mendengus kesal. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu memalingkan tubuhnya dari Tania. Tania tersenyum geli.
"Ohh.. Jadi begitu pemikiranmu?" goda Tania. Tania masih tersenyum geli. "Lihat aku."
Kei tidak memperdulikan permintaan Tania.
"Ayolah lihat aku." bujuk Tania. Kei menghela nafas panjang lalu berbalik dan menatap Tania. "Kei, aku adalah wanita yang tidak perduli pada cinta selama ini. Kamu adalah cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku. Kamu tidak hanya memperlakukanku dengan baik dan manis, bahkan kamu juga menghormatiku sebagai wanita. Siapa yang tidak jatuh cinta pada lelaki seperti itu? Aku milikmu sekarang dan nanti. Waktu bisa berganti tapi cintaku hanya untukmu. Bukankah aku sudah mengajakmu untuk menikahiku dan kuliah disini? Tapi kamu memaksa untuk tetap membuatku kuliah yang jauh."
"Karena itu universitas dan jurusan yang kamu impikan. Aku tidak ingin hanya karena aku, kamu tidak bisa menggapai apa yang kamu inginkan."
"Kalau begitu, percaya padaku. Aku tidak mencintai orang lain selain kamu. Aku memang bukan manusia serigala, tapi aku tidak pernah punya niat untuk berpaling darimu."
"Aku tahu. Aku sangat mencintaimu Tania." Kei memeluk Tania erat dan Tania membalasnya.
"Aku juga Kei, aku juga mencintaimu tapi uhm... Apa itu?"
Kei melepaskan pelukkannya lalu menoleh ke arah yang di tunjuk Tania.
"Po-pohon itu... Kenapa?" tanya Tania.
"Tunggu disini, biar aku periksa."
"Aku ikut..."
"Tania..."
Kei menggelengkan kepalanya lalu akhirnya berjalan bersama Tania menuju beberapa pohon. Pohon itu memutih. Daun bahkan batangnya terlihat berwarna putih. Tidak hanya satu pohon, tapi beberapa pohon yang berubah warna.
"A-ada apa ini Kei? Apa pohon-pohon itu mati?"
"Aku tidak tahu Tania, tapi ini aneh sekali."
Kei mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pohon itu.
"Tapi kenapa? Ada apa dengan pohon itu?"
"Saya tidak tahu yang mulia. Sudah beberapa pohon di hutan ini berubah. Ada penjaga yang menyentuhnya dan dia berubah membeku seperti es."
"Apa?! Siapa pelakunya?"
"Dugaan sementara... Penyihir yang mulia."
"Penyihir?"
"Iya yang mulia?"
"Apa hanya disini saja?"
"Tidak yang mulia. Wabah ini sudah mulai menyebar di seluruh dunia."
"Tapi wabah apa ini?"
"Kami tidak tahu yang mulia ratu."
"Aneh..."
"Sstt... Aku mencium bau penyihir."
"Penyihir?"
Tak lama terdengar suara langkah kaki. Awalnya hanya para manusia serigala yang mendengar tapi langkah itu semakin dekat. Bahkan Tania mulai mendengar suara langkah itu.
Suara langkah itu semakin dan terus mendekat. Para manusia serigala mulai waspada.
"Bian?" panggil Tania. Wajahnya terlihat senang. "Kei, itu Bian!"
Tania melangkah maju mendekati Bian.
"Syukurlah, kami sudah lama tidak mendengar kabarmu. Aku kira kamu--"
Langkah Tania terhenti tapi tidak langkah Bian yang terus melangkah maju. Tania menyadari ada sesuatu yang aneh pada Bian.
"Tania, kembali kemari! Sekarang!" kata Kei. Tania mulai berjalan mundur. Kei menarik tangan Tania lalu menyembunyikan Tania di belakang tubuhnya.
"A-ada yang aneh Kei.. Dia seperti bukan Bian." sahut Tania. Tania mulai takut.
"Bian." panggil Kei. Langkah Bian terhenti. Dia menatap Kei, dingin. Bahkan Kei juga merasakan hawa dingin dari tatapan Bian. "Bian? Sedang apa kamu disini?"
Bian masih menatap Kei. "Apa aku mengenalmu?"
__ADS_1
Kei dan Tania terkejut. Mereka saling pandang.
"Bian.. Ini aku, Kei."
"Aku tidak mengenalmu, jadi menyingkirlah." kata Bian dingin. Penampilan Bian berubah. Bian mengenakan baju terusan sutra berwarna putih. Bahkan rambut dan bola matanya berwarna putih.
"Bian, ada denganmu? Ini aku..." Kei mulai berjalan mendekati Bian. Tapi dengan secepat kilat ada angin dingin berhembus dan Bian menghilang begitu saja. "Aneh..."
"Kei apa kamu ingat kata-kata Elder bernama Damian? Tentang Bian yang berubah?"
"Maksudmu sekarang dia berubah?"
"Lihat saja, dia tidak mengenali kita lagi."
"Tapi Elder itu berkata jika Bian berubah, maka itu adalah..."
"Akhir dari dunia. Itu benar."
Kei dan Tania menoleh. Sudah ada Livia disana dengan beberapa Knirer.
"Maaf saya baru datang yang mulia tapi ada masalah penting."
"Apa ini tentang Bian?"
"Benar."
"Sepertinya aku harus menunda kepergianku." kata Tania.
"Tidak yang mulia ratu. Justru kami ingin anda segera pergi jauh dari sini dan dunia supranatural."
"Kenapa begitu?"
"Karena mantra yang terpilih, dunia manusia biasa aman, setidaknya untuk sementara. Tapi dunia supranatural mengalami situasi yang mulai berbahaya."
"Baiklah segera bawa Tania pergi."
"Tapi Kei.."
"Tidak Tania, kamu dengar kata mereka? Situasi mulai berbahaya disini. Kita kembali ke Lykort sekarang dan mulai berkemas."
"Tapi aku ingin bersamamu."
Kei menyentuh kedua bahu Tania dan mentapnya lekat.
"Tania sayang... Dengarkan aku. Aku ingin keselamatan kamu. Aku tahu kamu ingin membantuku. Kamu bisa membantuku dengan tetap selamat dan baik-baik saja. Anggap saja perjalanan kuliah kamu di majukan. Aku mohon..."
"Baiklah... Aku mengerti. Aku juga tidak ingin menjadi bebanmu."
"Kamu bukan bebanku Tania..."
"Aku tahu Kei, tenang saja. Aku mengerti. Sangat mengerti. Aku akan pergi tapi berjanjilah padaku bahwa kamu akan segera kembali padaku, hidup dan segera menikah denganku."
Kei memeluk Tania erat.
"Aku akan kembali padamu Tania. Aku juga akan menikah denganmu, segera. Tapi sebelumnya.." Kei mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Well karena acara malam ini di batalkan jadi..."
Kei bersujud di hadapan Tania.
"Tania Reynolds... Maukah kamu menikah denganku?"
Kei melamar Tania. Tania masih terkejut lalu bermuka masam.
"Kau ini, sungguh sangat tidak romantis. Melamarku di hutan, di tengah pohon yang mati membeku dengan bertelanjang dada dan di saksikan... Ahh sudahlah.. Aku bersedia."
Tania memeluk Kei erat lalu mencium bibirnya lembut. Kei menyematkan cincin berwarna putih yang cantik dijari manis Tania.
"Aku mencintaimu Kei."
"Aku juga mencintaimu Tania tapi kita harus pergi sekarang." ucap Kei.
"Ah iya benar."
"Katakan pada alpha Sebastian untuk mengunjungi Lykort segera, begitu pula Alpha dari pack yang lain."
"Baik alpha."
Jake dan para pasukan dan omega pergi meninggalkan Kei.
"Livia, kalian penyihir apa bisa membantuku mengevakuasi para warga dan Ratuku?"
"Tentu saja yang mulia."
"Bagus, kita pergi sekarang."
Mereka berteleportasi satu persatu dan kembali ke Lykort. Semakin lama membekunya pohon semakin menyebar. Danau juga mulai membeku di musim panas. Semua makhluk supranatural merasakan semua itu. Hanya manusia biasa yang tidak. Ada apa sebenarnya?
****
Done..
Aku nggak akan buka sekuel untuk cerita my werewolf prince (MWP). Tapi kelanjutannya ada di ceritaku yang judulnya yang terpilih season 6 atau 7..
Jadi bersabar yaa..
Yang jelas Kei udah tamat hanya keadaan supranatural aja yang masih belum tamat..
__ADS_1
...Tadariez...