My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Menyerang Bykort


__ADS_3

Ryan terhempas untuk kesekian kalinya. Tubuhnya penuh luka dan mulai lemah. Dia melawan Fred. Sementara Fred masih dalam keadaan baik-baik saja. Ian melawan Ordovick yang kebetulan ada disana dan Aaron melawan pasukan Ordovick. Ya, mereka sangat kalah, dalam jumlah maupun dalam kekuatan. Mereka menyerang tanpa ada rencana sama sekali karena Ryan sudah maju lebih dahulu.


Bruk!!


Suara hempasan keras terdengar. Tubuh Ian mengenai dinding tebing dan jatuh di semak-semak. Dia berusaha bangkit. Tapi sakit di sekujur tubuhnya membuatnya lemah. Dia merubah dirinya menjadi manusia biasa. Dia terdiam di tempatnya. Ada yang sudah dia rencanakan sedari awal. Tapi awalnya dia tidak ingin melakukannya tapi sekarang sepertinya dia harus melakukannya. Ian mengambil sebuah kantung kecil yang sudah dia sembunyikan di mulut goa sebelumnya.


Aaron dan Ryan kembali terhempas. Mereka dia letakkan di satu tempat, di depan goa itu. Dua warrior mendatangi Ryan dan membawanya agar duduk bersama Ryan dan Aaron


"Kalian sudah gila rupanya menyerang kami." kata Fred. Ordovick maju dan menatap mereka satu persatu.


"Kalian para beta ingusan berani menyerang kami? Apa alpha kalian tidak mengajari kalian untuk tidak ceroboh atau melakukan hal yang diluar kemampuan kalian?"


Ian, Ryan dan Aaron tidak menjawab. Mereka menatap lurus kedepan dalam diam.


"Apa yang akan kita lakukan pada mereka ayah?" tanya Fred.


"Bunuh tentu. Mereka sudah melihat tempat ini. Jadi mereka harus mati. Ikat mereka."


Ordovick beranjak pergi. Ian mengeluarkan pedang perak dari dalam kantung kecil. Pedang yang pernah di berikan oleh Bian padanya. Yang dulu kepunyaan ayahnya. Ian berlari menuju Ordovick dan menusuknya dengan pedang itu tepat di pinggang belakang Ordovick. Semua orang terkejut.


"Aaron, Ryan."


Aaron dan Ryan bangkit lalu berubah menjadi serigala. Mereka menyerang pasukan Ordovick.


"Ayah!!" panggil Cayden. Cayden berlari mendatangi ayahnya. Ian melepas pedangnya dari tubuh Ordovick. Tubuh Ordovick jatuh ke tanah seketika. Ian berubah menjadi serigala lalu berlari menuju Fred yang sedang mencoba menggigit Ryan. Ian menghempas tubuh Fred keras. Ian ingin berlari dan mendatangi Fred tapi Ryan menghentikannya.


'Tidak Ian!! Jangan! Biar aku saja. Ini pertarunganku dengannya.'


'Apa kamu yakin? Dia kuat.'


'Aku yakin.'


'Baiklah.'


Ian berbalik dan menyerang beta Ordovick, Ramos.


'Kamu akan menyesal karena meminta itu. Seharusnya kamu meminta bantuan Ian saja.'


'Tutup mulutmu.'


'Kamu memang beta, tapi kamu manusia serigala baru. Kamu tidak akan bisa mengalahkanku.'


'Kita lihat saja nanti.'


Ryan berlari menuju Fred berada. Fred menggeram dan bersiap untuk memerima serangan Ryan. Ryan melompat tinggi ke arah Fred. Fred menahan tubuh Ryan yang berada di atasnya. Ryan kali ini menyerang dengan cepat dan agresif dari sebelumnya. Sebelumnya dia hanya menerima serangan Fred. Tapi kali ini terbalik. Ryan terus menyerang tanpa membiarkan Fred membalas. Fred sudah terkena gigitan dan cakaran kuku Ryan. Dia menggeram keras dan sekuat tenaga mendorong tubuh Ryan. Ryan terhempas tapi dia bisa langsung bangkit dan kembali menyerang Fred.


Sementara Ian sudah kelelahan menahan serangan beta Ordovick, Ramos. Beta itu mempunyai bekas luka cakaran yang tidak sembuh di matanya dan lehernya. Warna hitam pekat membuatnya terlihat sangat menakutkan. Ian sudah tersungkur dan hampir tidak bisa bergerak. Ramos mendatangi Ian, dia menggeram keras. Dia begitu marah karena Ian telah menusuk alphanya. Ramos berhenti tepat di sebelah Ian. Dia memperlihatkan gigi tajamnya yang siap menusuk ke leher Ian. Ramos membuka mulutnya lebar dan mencoba menggigit Ian yang telah lemah. Tapi tiba-tiba tubuhnya terhempas keras. Sudah ada satu serigala berbulu putih bersih disana, menggeram marah pada Ramos dengan bola matanya yang merah, dan tatapan tajam. Serigala Edward berlari dan menyerang Ramos. Beberapa pasukan yang di bawa Edward ikut menyerang pasukan Ordovick yang kalah jumlah.


Tak berapa lama seluruh pasukan Ordovick yang telah berubah menjadi manusia berkumpul di tengah, dekat api unggun yang telah di nyalakan kembali, yang tadi sempat mati. Ordovick masih terbaring lemah dengan Cayden disisinya. Ryan yang masih dalam wujud serigala menarik tubuh manusia Fred yang lemah, untuk bergabung lalu berubah wujud menjadi manusia.


"Bagaimana kalian bisa diserang oleh mereka? Dan bukannya itu adalah alpha Lykort, yang terbaring disana?" tanya Edward.


"Bukan kami yang diserang tapi kami menyerang. Dan dia bukan alpha Lykort lagi." jelas Ian.


"Ahh begitu? Maaf aku tidak tahu. Karena terakhir aku ke Lykort, dia masih sebagai alpha."


"Tidak masalah. Kami menyerang mereka karena mereka menculik yang mulia ratu."


"Apa?"


"Ya, mereka menculiknya. Kami sempat mengira itu adalah perbuatan dari alpha Roger, ternyata itu semua ulah dari Ordovick."


"Ian.." panggil Aaron yang telah mamapah Tania. Keadaan Tania tidak cukup baik dan sangat lemah. Wajahnya penuh luka dan tubuhnya penuh lebam. Ian dan Ryan menggeram melihat keadaan Tania yang sangat memprihatinkan.


"Bawa ratu pergi dan kembali ke Lykort." perintah Edward.


"Tidak, jangan. Biar saya saja." pinta Ryan.


"Tapi kamu terluka."


"Saya tahu. Tapi dia adik saya. Biar saya saja." Edward menatap Ian. Ian mengangguk membenarkan pernyataan Ryan. "Baiklah."


Ryan ingin menggendong Tania tapi Tania yang masih sadar menggeleng. Dia tidak ingin di gendong. Ryan terpaksa memapahnya. Mereka berjalan pelan. Tiba-tiba Fred bangkit dan ingin menusuk Tania dengan pedang Ian yang terjatuh di dekatnya tanpa orang lain menyadarinya.


"Kak, tidak..!!" teriak Cayden tapi..


Sruk!!


Pedang itu menancap ditubuh. Bukan tubuh Tania maupun Ryan, tapi tubuh Cayden. Fred terbelalak, dia terkejut.


"Ka-kamu... Kamu.."


"Cu-***-kup.."


Tubuh Cayden terjatuh dan dengan sigap Fred menangkapnya.


"Cayden.. Kenapa kamu begitu bodoh!!"


"Cayden.. Sudah.. Lelah.. Kak.. Aku.. Hanya.. Ingin.. Semua.. Ini.. Berhenti.." kata Cayden terbata.


"Tapi kenapa kamu melakukan hal ini?!" pekik Fred. Cayden tersenyum.


"Aku... Akan... Bertemu.. Dengan.. Ibu.. Jaga.. Dirimu.. Dan ayah.. Aku.. Mencintai.. Kalian.. Akan aku.. Sampaikan.. Salam.. Kalian.. Pada.. Ibu.."


Cayden menyemburkan darah dari mulutnya lalu tidak sadarkan diri.


"Tidak.. Tidak Cayden..." Fred menggoyangkam tubuh Cayden. Dua warrior Edward menarik tubuh Fred, memisahkan paksa mereka berdua.


"Tidak!! Jangan..." Fred meronta. Aaron mendekati tubuh Carden dan memeriksanya. Tak lama Dia menatap Ian dan menggeleng.


"Dia sudah mati." kata Aaron. Fred berteriak keras. Meskipun dia tidak menunjukkannya, dia sangat menyayangi adiknya. Selama ini apapun yang Cayden gagal perbuat, dia yang selalu melakukannya untuk adiknya tanpa sepengetahuan adiknya. Seperti saat ayahnya ingin mengajak serta Cayden melarikan diri dari Lykort. Fred yang membujuk ayahnya untuk meninggalkan Cayden. Karena dia tidak ingin adiknya terlibat apapun yang dia kerjakan dengan ayahnya. Dia juga tahu Cayden akan aman di Lykort. Fred menangis keras.

__ADS_1


"Ikat mereka semua dan bawa ke Lykort." perintah Edward. "Pedang apa itu? Kenapa dia bisa mati seketika?"


"Itu pedang perak yang telah di beri mantra oleh Bian dan di lapisi oleh wolfsbane. Jika alpha seperti Ordovick yang terkena pedang itu, dia akan bertahan sedikit lebih lama. Ada dua kemungkinan, dia bisa mati atau bertahan. Tapi lukanya tidak akan sembuh. Sementara manusia serigala biasa seperti Cayden, akan sulit bertahan." jelas Ian. Edward menganggukkan kepalanya. Ian berjalan mendekati Fred yang masih tertunduk. Ian berjongkok untuk mensejajarkan dirinya pada Fred.


"Kami akan menguburkannya dengan layak Fred, tidak perlu khawatir."


"Kamu tidak perlu mengasihaniku." sahut Fred ketus.


"Aku tidak mengasihanimu. Lagipula aku melakukan ini bukan untukmu, tapi untuk Cayden. Dia sudah sangat berani untuk melakukan yang benar." kata Ian lalu beranjak berdiri dan pergi.


"Jadi... Apa kita kembali ke Lykort?" kata Edward.


"Tentu.. Ada yang harus kita lakukan disana."


"Apa itu?"


"Merencanakan perang."


****


Pagi hari yang cerah, tak secerah hari Fred. Dia menyaksikan ayahnya yang tidak mampu bertahan dan juga adiknya, di kubur dengan tangan terantai besi. Dia menatap semua itu dalam diam. Tidak ada yang datang saat pemakaman itu. Hanya ayah Kei yang memberi penghormatan terakhir kalinya.


"Ian..." panggil Cavril, ayahnya. Ian mendatangi ayahnya yang berdiri agak jauh.


"Ada apa ayah?" tanya Ian.


"Apa kamu mempunyai rencana?"


"Tentang Kei? Tentu saja ada."


"Baiklah. Yang kami lakukan hanya mengalihkan perhatian, benarkan?"


"Iya ayah. Hanya itu yang Ian minta. Waktu sebanyak-banyaknya untuk membebaskan Kei dan Zach."


"Tapi wilayah Bykort sama luasnya dengan wilayah Lykort. Akan sulit mencarinya."


"Tidak jika kita mempunyai orang yang sangat mengenal Bykort. Aaron. Aaron tahu dimana harus mencari Kei." kata Ian. Cavril menganggukkan kepalanya.


"Ini." Cavril menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pada Ian. Ian mengambil botol kecil itu.


"Apa ini?" tanya Ian.


"Ini botol berisi ramuan jinx dan nine sacred herbs, untuk menyembuhkan luka Kei dan Zach dengan cepat. Aku tahu alpha Roger akan menyuntikkan cairan wolfsbane pada mereka. Karena itu minumkan sedikit cairan ini. Jika mereka sudah muntah, oleskan cairan ini ke tubuh mereka."


"Dari mana ayah dapatkan ini?"


"Dari Bian tentu. Dan Ian... Ayah mohon cepatlah temukan Kei dan Zach. Meskipun mereka adalah raja Lycanthrope dan alpha keturunan murni, mereka tidak akan bisa menggunakan kekuatan raja dan alpha mereka. Mereka lemah karena wolfsbane itu."


"Baik ayah. Ian mengerti."


Fred kembali di masukkan kedalam penjara. Ayah Kei mendatangi Ian san Cavril.


"Kita berangkat sekarang?"


"Apa? Tapi kenapa? Aku masih sanggup untuk bertempur."


"Saya tahu alpha. Tapi tidak ada yang berjaga diLykort nanti. Biar saya saja yang pergi."


"Aku ingin membantu."


"Saya tahu alpha tapi jika saya dan anda yang pergi, tidak akan ada yang menjaga Lykort."


"Baiklah. Aku akan tinggal. Tapi jika kalian butuh sesuatu, kalian harus memberitahukanku."


"Saya berjanji alpha."


"Alpha.." Mike berlari mendatangi ayah Kei, Cavril dan Ian.


"Ada apa Mike?"


"Alpha dari pack sekutu sudah datang, mereka menunggu anda di istana. Alpha Sebastian tidak bisa datang, karena keadaannya yang masih lemah, tapi dia mengirimkan pasukannya."


"Bagus... Semakin banyak semakin baik."


"Saya juga akan mengirimkan pasukan saya." kata Edward yang baru saja datang.


"Tapi aku dengar, ayahmu memllih untuk bersikap netral." kata ayah Kei.


"Sekarang tidak lagi alpha. Kali ini Roger sudah keterlaluan."


"Kalau begitu, kirim pasukanmu ke perbatasan wilayah Bykort dan tunggu disana. Kami akan segera menyusul."


"Baik alpha." Edward beranjak pergi.


"Dia baik-baik saja kan?" tanya ayah Kei.


"Tentu saja alpha. Kei adalah anak yang kuat. Dia akan bertahan."


"Aku harap begitu. Ayo kita pergi menemui para alpha itu lalu bersiap pergi ke bykort."


"Baik alpha."


*****


Sebuah pagi yang tenang tiba-tiba terdengar keributan.


Klontang! Klontang!


Suara besi dipukulkan ke dinding yang membuat keributan.


"Waky, waky, waky." kata Roger. "Siram mereka."

__ADS_1


Kedua penjaga menyiram Kei dan Zach dengan ait dingin. Kei dan Zach langsung tersadar.


"Ini bukan waktunya tidur. Kita harus bersenang-senang."


Terdengar suara cambukan tak jauh dari Kei. Kei yakin mereka akan disiksa lagi.


"Apa... Yang kamu.. Inginkan?" tanya Kei.


"Denganmu? Bersenang-senang tentu. Ini akan sangat menyenangkan."


"Kau gila."


"Hahahahah... Ya mungkin."


"Bunuh saja.. Aku."


"Membunuhmu? Ahh itu terlalu mudah. Itu tidak akan menyenangkan. Jarang sekali aku bisa bersenang-senang dengan raja Lycanthrope dan alpha keturunan murni. Sayang sekali ayahku tidak sempat membunuh semua keturunan murni. Maka aku harus menyelesaikannya."


"Aku.. Kasihan padamu.. Kamu.. Sangat kurang... Kasih sayang.. Dan perhatian.."


"Jangan bersikap seolah kamu mengenalku. Setrum mereka!"


Dua penjaga mengambil alat penyetrum dan langsung menyetrum Kei dan Zach bersamaan.


"Aaaarrrgggghhhh...!!!!"


Mereka berteriak keras, tubuh mereka bergetar hebat. Mereka tertunduk lemas saat sudah selesai.


"Cambuk mereka."


Kedua penjaga itu meletakkan alat penyetrum lalu mengambil cambuk dan mulai mencambuk Kei dan Ian. Para penjaga berhenti setelah cambukan ketiga.


"Aku masih sangat terpukau. Kalian sudah aku beri cairan wolfsbane, tapi kalian masih saja terlihat baik-baik saja. Itu luar biasa. Biasanya jika alpha lain, setelah di beri cairan wolfsbane dan disiksa, mereka bahkan tidak akan bertahan selama sehari. Sementara kalian... Fascinating."


"Kamu benar... Benar.. Sudah gila."


"Owwh berhentilah merengut seperti itu. Bersenang-senanglah."


"Pasukanku... Mungkin akan.. Datang.. Dan.."


"Kamu pikir aku perduli? Biarkan mereka datang. Aku juga sudah persiapkan segalanya." Roger tersenyum licik. "Siksa mereka lagi."


Kedua penjaga itu mulai mencambuk Kei dan Zach lagi.


"Alpha..." suara penggilan membuat Roger menggeram marah. Satu omega masuk kedalam ruangan lembab itu.


"Aku paling tidak suka jika ada yang mengganggu kesenanganku."


"Maafkan saya alpha, tapi banyak orang di perbatasan. Kita diserang."


"Ahh mereka sudah datang." gumam Roger. Dia beralih ke Kei dan Zach. "Pasukanmu sudah datang. Sudah saatnya. Mari kita sambut mereka."


Roger berdiri.


"Jaga mereka dan terus siksa mereka. Jangan biarkan satu orang pun masuk. Kau mengerti?!" Kedua kedua penjaga itu mengangguk. "Dan suntikkan lebih banyak wolfsbane pada mereka agar mereka tidak bisa berkomunikasi dengan beta maupun pasukannya."


"Baik alpha."


"Dan kau.." Roger menunjuk omega yang baru saja masuk. "Jaga tempat ini. Jangan biarkan satu orangpun tahu tentang tempat ini."


"Baik alpha."


Roger pergi meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di luar dia merubah dirinya menjadi serigala dan berlari menuju perbatasan. Sesampai di perbatasan, dia menggeram keras lalu merubah dirinya menjadi manusia kembali.


"Siapkan semua orang." perintah Roger pada Bruce yang sudah ada di sana.


"Baik alpha." ucap Bruce.


"Ini akan menarik." kata Roger


Dia tersenyum senang. Dia memang menginginkan perang sejak dulu. Dia ingin mengelahkan pack besar seperti Lykort agar semua orang takut dan tunduk padanya. Dan kali ini keinginannya terwujud. Perang akan terjadi.


Sementara itu dipihak lain.


"Ian... Sepertinya ada yang salah disini." kata Ryan.


"Apa maksudmu?" tanya Ian bingung.


"Lihat ekspresi Roger. Dia tidak tampak... Ketakutan melihat banyaknya jumlah kita yang datang kemari."


"Kamu benar. Sepertinya ada yang sudah direncanakannya. Tapi apa?" gumam Ian.


"Dia terlihat sangat percaya diri. Sepertinya kita akan sulit menemukan Kei."


"Kita tidak boleh menyerah. Kita harus menemukannya. Tidak perduli apapun. Aku akan menemukannya."


"Apa kalian sudah siap?!" tanya Cavril pada pasukannya.


"Ya!!!!" mereka menjawab serempak.


"Yang di butuhkan adalah mengulur waktu. Kalian lawan mereka dan ulur waktu sebanyak mungkin." kata Cavril. Cavril melihat Ian. "Apa kamu sudah siap?"


"Siap ayah."


"Kei akan sulit berkomunikasi. Pakai insting beta kalian dan ikatan beta dan alpha. Kalian akan menemukannya."


"Baik ayah."


"Kami siap Livia, Lily. Buka pelindungnya."


Livia dan Lily mengangguk. Mereka menyentuh pelindung itu dan membaca mantra. Tak lama pelindung itu terbuka. Tidak ada lagi penghalang. Mereka akan berperang, hidup atau mati.

__ADS_1


****


tadariez


__ADS_2