My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Aku bukan mate-nya


__ADS_3

"Sepertinya tadi berjalan sangat baik." kata Nick. "Bagaimana pendapat anda alpha Sebastian?" tanya Nick sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan alpha Sebastian.


"Tentu Nick, aku sangat berterima kasih." kata alpha Sebastian dan menyambut uluran tangan Nick.


"Kalau begitu, mari kita masuk dan adakan pesta kemenangan? Atau penyambutan diriku? Atau pesta berterima kasih padaku?" kata Nick antusias.


"Dia terlalu percaya diri." gumam Jason.


"Sstt diamlah. Dia itu raja." bisik Mike.


"Tapi dia tidak terlihat raja bagiku." kata Jason.


"Apa kamu lupa dia vampir? Dia sudah berhenti tua semenjak dia menjadi vampir." bisik Mike lagi.


"Ahh iya, aku hampir lupa."


"Masuklah, aku akan menjamumu." kata alpha Sebastian.


"Uhmm dia vampir paman." kata Kei.


"Aku tahu Kei, aku hanya bersikap sopan."


"Tapi sepertinya paman sudah mengenal baik dia?"


"Tentu saja kami mengenal baik." kata Nick yang menjawab lebih dulu dari alpha Sebastian. "Kami pernah bertempur bersama. Benarkan alpha?"


"Itu benar. Masuklah..." pinta alpha Sebastian. Nick ingin masuk tapi tertahan pelindung.


"Uhmm my love? kamu harus membuka pelindung ini untukku. Aku bukan manusia biasa yang bisa melewati pelindung ini dengan mudah." kata Nick pada Bian.


"Alpha, pulanglah terlebih dahulu, saya dan Nick akan menyusul. Ada yang harus saya bicarakan dengan raja aneh ini. Kei sebaiknya kamu pergi dan lihat Tania." kata Bian.


"Ah iya, aku harus lihat Tania." Kei berlari dan merubah dirinya menjadi serigala. Ian ikut menyusul.


"Baiklah, kami pergi dulu." kata alpha Sebastian. "Semuanya, kembali ke kegiatan masing-masing dan patrolilah bergantian. Jake, bantu para prajurit berpatroli."


Semua manusia serigala pergi. Bian membuka perlindungannya untuk Nick.


"Miss me my love?" Nick tersenyum menatap Bian.


"Apa kamu tidak bisa memanggil dengan namanya? Dia punya nama dan namanya bukan my love!" tegas Zach.


"Tapi itu panggilan kesayanganku untuknya."


"Menjijikkan sekali. Panggil saja namanya." Zach mulai kesal. Nick mengerutkan keningnya dan menatap heran.


"Ada denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak menyukaiku?" tanya Nick.


"Aku tidak mempunyai alasan untuk menyukaimu." kata Zach datar.


"Benar juga. Aku pun tidak menyukaimu. Baiklah, mari kita jalan my love." Nick memberikan lengan kirinya pada Bian yang sedari tadi bingung. Bian ingin mengalungkan lengannya pada Nick, tiba-tiba Zach menariknya.


"Oh tidak, dia ikut denganku." Zach menahan.


"Kenapa dia harus ikut denganmu?" kata Nick. Zach menggeram. Empat gamma juga siaga.


"Oke, hentikan!" Bian menghela nafas. "Nick, jalanlah lebih dulu. Aku akan berbicara pada Zach terlebih dahulu." kata Bian.


"Kamu yakin my love?" tanya Nick.


"Yakin... Pergilah." pinta Bian.


Nick mengangguk "Baiklah."


Nick berjalan menjauhi mereka. Bian menarik pelan tangan Zach agar berdiri lebih dekat dengannya.


"Dengarkan aku, baik-baik. Zach aku tahu kamu melakukan ini karena kamu mengira aku adalah matemu."


"Bukan mengira, kamu memang mateku!" kata Zach dengan setengah berteriak membuat semua orang yang masih ada disana menoleh dan terkejut.


"Hei! Pelankan suaramu. Tidak perlu berteriak." kata Bian.


"Biar saja mereka tahu, aku tidak perduli!" kata Zach.


"Bukankah kamu sudah mengatakan jika Karen adalah mate-mu? Bahkan semua orang tahu itu." bisik Bian.


"Tapi kamu juga mate-ku, Bian. Lagipula kamu tidak perlu berbisik, mereka mendengarmu. Telinga serigala, ingat?" Zach menunjuk telinganya.


Bian mendengus kesal. Dia benar-benar kesal dengan remaja yang berdiri di depannya ini.


"Fine! Dengar, aku bukan Mate-mu. Tidak ada satu manusia serigala pun di dunia ini yang memiliki dua mate! Itu kutukan kalian. Karena itu kamu hanya punya satu mate dan itu bukan aku, tapi Karen." jelas Bian. Suaranya terdengar tegas.


"Lalu bagaimana bisa kamu jelaskan semuanya? Baumu? Perasaanku?"


"Aku masih menyelidikinya, tapi aku bisa pastikan Zach, aku bukan mate-mu. Ingat itu. Jadi aku mohon berhentilah membuatku seolah-olah aku mate-mu. Itu sungguh menggangguku." Bian beranjak pergi.


"Jadi aku mengganggumu? Menjadi mate-ku mengganggumu tapi bersama vampir itu tidak?" tanya Zach. Bian menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik. "Bagaimana jika kamu memang mate-ku?"


"Itu tidak akan pernah terjadi." kata Bian lalu beranjak pergi menyusul Nick. Zach terdiam di tempatnya. Dia menatap Bian hingga hilang dari pandangannya.


Bian berjalan cukup jauh, dia bahkan tidak tahu di mana Nick.


"Jadi itu.." kata Nick tiba-tiba muncul di dekat Bian. Bian hampur berteriak.


"Kamu mengagetkanku."


"Jadi kamu adalah mate dari alpha itu, my love?"


"Ugghh... Aku sudah muak perihal mate ini. Bukan, bukan aku. Itu hanya sebuah kesalahan yang sedang aku cari tahu penyebabnya." jelas Bian lalu kembali berjalan.


"Jadi... Kau bukan mate-nya?" Nick mengikutinya dari belakang.


"Bukan." jawab Bian singkat.


"Kamu yakin itu?" Nick mendelik. Bian menghela nafas lalu berbalik menatap Nick.


"Iya, tentu saja! Ughh... Kenapa semua orang meragukannya? Bahkan Kate dan Gina."


"Karena bisa saja kamu memang mate-nya, my love. Kamu saja masih mencari tahu jadi percuma meminta dia untuk menjauhimu atau tidak menganggapmu sebagai Mate, karena dia tidak akan dengar." Nick mendekatkan mulutnya ke telinga Bian lalu berbisik. " Terlebih, dia masih remaja. Emosinya masih labil."


"Aku tidak perduli. Aku yang akan menjauhinya."


"Kamu keras kepala, my love."


"Karena aku yakin aku bukan, Nick." Bian merasa putus asa. "Karena itu--"


"Baiklah, tapi apa kamu mengecat rambutmu? Unik sekali. Kenapa hanya ujung bawahnya saja yang putih?" Nick mengambil rambut Bian dan memperhatikannya.


"Seperti itulah." sahut Bian berbohong. Nick menyadari kebohongan Bian. Tapi sebelum dia bertanya Bian sudah berbicara.


"Aku curiga ada sesuatu di balik para vampir itu." kata Bian. Bian merangkul lengan Nick lalu mengajaknya berjalan. "Aku tidak yakin vampir bernama Ben itu berani meyakinkan Zigor tentang pertarungan itu."


"Aku juga. Dia terlihat sangat gugup dan lemah."


"Yang aku tahu Zigor, dia tidak akan membiarkan salah satu anggota pasukannya kalah pertarungan, terlebih dengan para manusia serigala. Itu mustahil. Ben pasti sudah mati sejak dulu."


"Atau melarikan diri dan bersembunyi dari Zigor." tambah Nick.

__ADS_1


"Benar. Ini sangat mengherankan mengingat sifat Zigor. Ada yang aneh disini." duga Bian.


"Apa yang membuatmu aneh?"


"Zigor dan Tania."


"Tania? Siapa dia?"


"Dia mate dari raja Lycanthrope."


"Aahh jadi sudah ada ratu."


"Hmm itu benar. Dan Tania sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan Nick, dia dirasuki oleh sesuatu yang sangat berbahaya dan disaat yang sama Zigor datang untuk menuntut balas. Tania untuk Kei, Zigor untuk Zach."


"Maksudmu ini semua berkaitan?" tanya Nick. Bian mengangguk. Bian menghentikan langkahnya dan berdiri didepan Nick.


"Nick, aku tahu vampir bermusuhan dengan manusia serigala tapi jika, ini hanya jika, pertempuran terjadi dan melibatkan vampir, apa kamu mau membantu kami?"


"Kami? My love, kenapa kamu sangat perduli pada pack ini?" tanya Nick. Bian terdiam.


"Aku... Tidak tahu. Aku terlibat pada awalnya karena kaum hitam terlibat dan karena monster Lycan itu. Tapi aku juga tidak menyangka aku akan menyelamatkan Tania dengan menggunakan mantar kuno yang membuat hidupku terancam, lagi."


"Tunggu dulu, apa rambut putih ini..."


"Iya, karena itu."


"Kamu tahu ini harus di hentikan, my love."


"Hmm... Ya aku tahu Nick. Setelah semua selesai, maksudku Tania selesai, aku akan berhenti membantu mereka." kata Bian mantap. Nick mengelus pipi Bian.


"Keputusan yang bagus. Kamu tahu, aku selalu menudukungmu."


"Aku tahu Nick, terima kasih."


Mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lain.


"Tania... Aku harus melihatnya. Sepertinya kita harus berteleportasi karena rumah alpha Sebastian masih jauh." Bian menggenggam tangan Nick. "Siap Nick?"


"Tidak." jawab Nick.


"Apa?" Bian menatap heran.


"Kita pakai caraku." kata Nick lalu tersenyum.


"Oh.. Tidak, tidak. Aku tidak mau."


"Oh ayolah my love, kita sudah lama tidak menggunakan caraku."


Bian mendengus kesal.


"Aarrghh! baiklah." kata Bian akhirnya. Nick tersenyum senang. Nick menggendong Bian bridal style.


"Whoa.. Kamu masih saja ringan seperti dulu. Apa mereka tidak memberimu makan?"


"Tentu saja mereka memberiku makan, jika tidak aku sudah mati!" jawab Bian ketus.


"Baiklah, baiklah. Kenapa ketus sekali? Apa kamu..." Nick mengendus tubuh Bian. "Tapi aku tidak mencium darah yang keluar."


"Ha! Sangat lucu sekali. Cepatlah!"


Nick tertawa lalu bersiap pergi tapi dia menghentikan langkahnya.


"Atau jangan-jangan kamu membantu para serigala ini karena kamu memang mate dia?"


"Sepertinya kamu memang benar-benar ingin mati." kata Bian kesal. Nick tertawa.


Nick berlari sangat cepat dan dalam waktu singkat sudah sampai di rumah alpha Sebastian. Bian melihat pertengkaran antara Kate dan Jake dan para gamma.


"Ada apa ini?" tanya Bian.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Mereka hanya orang gila yang tidak tahu malu." kata Kate.


"Apa katamu?!" pekik Jason.


"Tenang Jason." Jake menenangkan.


"Ada apa ini?" tanya Bian lagi.


"Ya, jelaskan. Ada apa ini?" tanya Kei yang baru saja datang.


"Kami hanya meminta bantuan yang terpilih untuk menyelesaikan masalah yang mulia ratu. Tapi mereka malah marah dan menghina kami." jelas Jason.


"Jelas kami marah. Apa tidak cukup yang Bian lakukan untuk kalian? Kenapa meminta lebih?"


"Karena hanya yang terpilih yang bisa membantu." kata Moles.


"Tapi tidakkah kamu tahu jika yang terpilih bisa kehilangan nyawa hanya untuk membantu kalian?!" pekik Kei.


"Apa itu maksudnya?" tanya Kei.


"Tidak, tidak ada. Tidak usah dipikirkan." jawab Bian cepat.


"Bian, mereka--"


"Cukup Kate!" tegas Bian. "Cukup."


Kate yang kesal berteleportasi pergi dari rumah alpha Sebastian.


"Bian, apa maksud Kate tadi? Kenapa kamu bisa mati?" tanya Kei.


"Bukan apa-apa Kei. Bagaimana Tania?"


"Dia--"


Belum selesai Kei berbicara Bian langsung pergi menuju Tania. Bian membuka pintu kamar Tania.


"Bagaimana dia?"


"Dia baik, hanya lemah." jawab Damian.


"Kotak itu?"


"Sudah kembali ke Disprea."


"Tolong lakukan ritual penyegelan dan berikan mantra pelacak agar kita bisa tahu pelakunya." pinta Damian.


"Akan aku lakukan Bian." kata Damian.


"Bian, rambutmu... Apa ini seperti yang aku pikirkan?" tanya alpha Sebastian. Bian hanya tersenyum.


"Pergilah tuan Damian, biar aku dan Gina yang berjaga disini dan alpha Sebastian, ada Nick di bawah."


"Ahh iya, sebaiknya aku turun." Alpha Sebastian segera turun ke lantai bawah.


"Kalau begitu aku pergi. Tolong Bian, panggil aku jika terjadi sesuatu."


"I will, i promise..."

__ADS_1


Damian mengangguk dan berteleportasi. Bian duduk di sebelah Tania dan menatapnya dalam diam. Dia mengulurkan tangannya dan mencoba mantra penyembuhan.


"Tidak Bian! Cukup. Kami sudah memberinya mantra dan ramuan. Dia akan baik-baik saja. Jangan gunakan sihirmu." cegah Gina. Bian menghela nafas dan mengangguk.


****


Brakk!!


Alpha Roger memukul meja, membalik meja itu lalu melempar kursi dan menghancurkan semua yang didekatanya.


"Bagaimana bisa?! Bagamana bisa ini semua gagal?!"


"Ini semua karena yang terpilih."


"Aku mengerti jika itu tentang ratu itu, tapi bagaimana dengan vampir-vampir itu?!!"


"Itu... Itu karena yang terpilih membawa raja vampir."


"Raja vampir katamu?" Roger terdiam dan tampak berfikir. "Nickholson. Pasti Nichkolson brengsek itu!!! Aku tidak memperhitungkan tentang dia, sialan!"


"Tenanglah alpha... Kita harus mencari cara lain." kata Bruce.


"Betamu benar Roger." kata Ordovic yang baru saja sampai disana. "Bagaimana jika pakai caraku?"


"Anda.. Punya rencana?"


"Tentu saja dan aku yakin kamu akan menyukainya alpha Roger."


Alpha Roger terdiam menatap lurus kedepan dan akhirnya mengangguk setuju.


****


Sebuah api unggun di nyalakan di samping rumah alpha Sebastian. Para Gamma, beta, Zach, alpha Sebastian dan ayah Zach ada disana. Bahkan Ryan, kakak Tania. Mereka asik berbicara diterangi api unggun. Tak lama datang Kei yang memapah Tania. Semua orang berdiri.


"Duduklah, jangan seperti itu." ucap Kei. Kei mendudukkan Tania di sebelah Ryan dan duduk di sebelahnya.


"Kamu baik-baik saja Tania? Seharusnya kamu tidak usah kemari." kata Ryan.


"Aku baik-baik saja kak. Aku bosan berada di kamar." kata Tania. Anne dan Casey yang mengunjungi Tania, ikut bergabung.


"Jadi apa yang kalian ceritakan?"


"Hanya cerita konyol." sahut Zach.


"Kalau gitu, biar kedua tua bangka ini yang bercerita, bagaimana?" kata alpha Sebastian.


"Ide yang bagus. Saya sudah bosan jika mereka yang bercerita." kata Zach menunjuk Jason dan Brad. Mereka berdua cemberut.


"Paman mau cerita apa?" tanya Kei.


"Bagaimana dengan asal usul kita?"


"Ya itu bagus. Setidaknya Kei tahu Bian salah menyebut kita dikutuk." kata Kei.


"Sebenarnya Bian tidak salah, Kei. Kita memang dikutuk. Penyihir yang mengutuk kita, yang terpilih."


"Apa? Tidak, tidak, tidak paman. Kita dia ciptakan oleh moongoddess." elak Kei.


"Moongoddess adalah penyihir, Kei."


"Maksud paman?"


"Yang terpilih terdahulu, ada tujuh. Mereka selalu bertujuh. Ada tujuh keluarga Scazumergh, Grigorescu, Petrovici, Thompson, Zarganov, Barnett, Goodwind. Mereka menyebut diri mereka yang terpilih. Mereka terdiri dari penyihir terkuat. Dengan digabungkan kekuatan mereka, mereka menjadi yang terpilih. Ada dua suku Lykort dan Hykort. Mereka suku yang sangat bersahabat, tidak pernah berselisih. Bahkan mereka menyatukan suku mereka melalui pernikahan. Ada beberapa pernikahan di antara kedua suku. Tapi saat putri kepala suku sedang hamil. Dia kutuk, oleh seorang penyihir yang ditolak masuk menjadi anggota suku. Kutukan itu mengutuk anak di dalam kandungan putri kepala suku. Anak itu akan menjadi perusak dan penghancur. Mereka mengatakan anak itu sudah di rasuki iblis, yang membuat anak itu harus dibunuh. Dukun yang mereka miliki mencoba untuk menyembuhkan anak itu."


"Apa itu berhasil?" tanya Jason.


"Sayangnya tidak. Mereka mengira itu berhasil sampai anak itu lahir dan besar. Saat anak itu berumur tujuh tahun, dia sudah membunuh beberapa orang di sukunya dan terus bertambah. Karena tidak tega mengusir, akhirnya anak itu di ikat dan dikurung. Tapi anehnya anak itu bisa lepas dan membantai lima desa dalam semalam. Anak itu benar-benar monster. Sampai akhirnya kabar itu terdengar oleh yang terpilih. Mereka mendatangi anak itu dan berusaha menghentikannya. Tapi anak itu tidak bisa di hentikan. Akhirnya yang terpilih menangkap anak itu dan membawanya kembali ke desa mereka. Anak itu seharusnya dibunuh saat di dalam kandungan atau memanggil penyihir. Tapi mereka memutuskan untuk membiarkan anak itu hidup dan membunuh banyak orang. Yang terpilih sangat marah dan memutuskan untuk membunuhnya. Tapi kedua suku membela anak itu dan melawan mereka."


"Tunggu dulu paman, apa hubungannya dengan MoonGoddess?"


"Dengarkan saja dulu." sahut ayah Zach. "Lanjutkan Sebastian."


"Mereka tentu kalah dan yang terpilih memutuskan untuk membunuh mereka semua kecuali satu, Maria Scazumergh, nenek moyang Bian. Dia menentang keputusan mereka. Yang terpilih yang lain memutuskan akan membunuh mereka besok saat bulan purnama merah. Saat hari itu tiba, semua persiapan sudah dibuat untuk membantai dua suku itu beserta anak itu, tapi Maria mempunyai cara lain. Dia diam-diam melakukan ritual terlarang untuk menyelamatkan dua suku itu. Maria Scazumergh adalah penyihir yang paling kuat di antara mereka bertujuh. Jadi saat mereka mulai membaca mantra kematian, Maria membaca mantra kutukan. Tiba-tiba seluruh orang menjadi serigala, termasuk anak itu. Maria mengambil kutukan anak itu dan menggantikannya dengan kutukan bulan purnama. Kutukan manusia serigala. Maria menjelaskan jika setiap bulan purnama, mereka akan berubah menjadi serigala."


"Lalu bagaimana yang terpilih lainnya?"


"Marah tentu, tapi kutukan itu sudah terjadi. Tidak ada yang bisa mencabut kutukan itu kecuali Maria, keluarga Scazumergh, keluarga Bian. Mereka berterima kasih pada Maria, memujanya. Membuatnya seperti dewi, bahkan membuat patungnya untuk memujanya."


"Jadi maksudmu... Maria itu adalah..."


"Ya, dia MoonGoddess. Kedua suku itu menyebutnya dengan sebutan MoonGoddess. Ciri khasnya, dia memakai kalung yang pernah kamu pakai Kei. Itu kalung peninggalan Maria, kalung yang sangat kuat. Karena itu kuil MoonGoddness tersembunyi dan tidak bisa sembarang orang masuk. Karena kuil itu dilindung oleh sihir kuno yang sangat kuat. Sihir yang terakhir di ucapkan oleh Maria sebelum mati."


"Sihir kuno apa itu?"


"Tidak ada yang tahu."


"Ini... Sulit dipercaya... Ti-tidak mungkin."


"Maafkan paman Kei, tapi semua ini benar."


"Jadi apa yang di ucapkan Bian itu benar. Kita adalah makhluk yang terkutuk."


"Itu benar. Tapi bagi kita, ini adalah hadiah yang luar biasa."


"Itu benar Sebastian." kata ayah Zach. Semua orang mengangguk setuju.


"Jika memang mereka dikutuk menjadi serigala dan berubah hanya saat bulan purnama, kenapa mereka bisa berubah sesuka hati mereka?" tanya Anne.


"Itu karena monster itu, monster yang ada di dalam tubuh Kei. Anak itu yang berubah menjadi monster itu." kata ayah Zach.


"Jadi... Anak itu adalah... Eros?"


"Benar, dia Eros. Ternyata kutukan dari penyihir itu masih ada didalam dirinya dan setelah berpuluh-puluh tahun, kutukan itu bangkit akibat kesalahan dari Eros itu sendiri. Dia membunuh orang yang tidak bersalah. Akhirnya kutukan penyihir itu bertemu dengan kutukan Maria, dan merubahnya menjadi monster itu. Dan semenjak ada monster itu, kutukannya berubah. Bentuk tubuh kami yang semula sama dengan hewan serigala biasa, berubah seketika menjadi sangat besar dan kami bisa berubah kapanpun kami mau."


"Ternyata monster itu membawa kebaikkan juga, benarkan?"


"Itu benar Anne..."


****


'Terus kejar jangan sampai lolos!!'


Ketiga serigala itu berlari sekuat tenaga. Dia mengejar sesuatu yang sangat cepat. Bahkan melebihi mereka cepatnya. Tapi ketiga omega itu tidak menyerah.


Salah satu dari serigala berpencar. Dia melewati jalan pintas. Sementara kedua serigala masih mengikuti sesuatu itu, tepatnya vampir.


Tiba-tiba salah satu serigala yang mengikutinya terhempas. Ada satu vampir lagi dan menyerangnya. Tapi omega itu tidak menyerah. Dia kembali berdiri dan menyerang vampir itu. Vampir itu bisa menghindar dan berlari.


Kedua vampir itu berlari menuju jurang. Serigala yang melewati jalan pintas tadi sudah berada di depan mereka dan menghadang. Vampir itu tidak berhenti tapi mereka berpencar. Satu melewati sisi kanan omega itu satu melewati sisi kirinya. Omega berusaha menggigit vampir tapi tidak berhasil. Vampir itu lolos dan terjun ke jurang yang curam. Tapi mereka selamat dan berlari kembali menjauhi mereka. Para omega hanya menatap vampir itu pergi. Jurang itu terlalu curam untuk mereka. Hanya vampir terlatih yang bisa melakukan seperti itu.


'Bagaimana vampir itu bisa masuk? Bukankan pack ini sudah terlindungi oleh sihir?'


'Aku tidak tahu tapi sebaiknya kita beritahukan alpha.'


Ketiga serigala itu melolong keras. Lolongan keras yang memecah kesunyian malam.


****

__ADS_1


tadariez


__ADS_2