
"Enedue rehelfash toffayer lakaush"
Wanita itu berteriak marah. Bian merentangkan tangan kanannya dan membaca mantra. Wanita itu menatap Bian tajam.
"Nu mă poți ucide. Am fost chemat. Victima mea a fost decis." kata wanita itu pada Bian.
"Nu-mi pasă. Vreau să mergi." sahut Bian.
"Știi că nu pot opri până când victima mea muri."
"Oohh.. Știu că foarte bine, Și i se va opri, indiferent de ce se întâmplă. Merge!!"
Wanita itu masih menatap Bian dalam diam sementara Karen masih terduduk ketakutan ditanah. Terdengar suara geraman. Serigala Adrian dan Austin berlari dan melompat ke arah wanita tadi. Mereka berusaha menerkam wanita itu. Tapi wanita itu seperti terbuat dari asap, tidak bisa di sentuh. Berulang kali Adrian dan Austin mencoba tapi wanita itu tak tersentuh.
"Kalian tidak akan bisa menyentuhnya. Dia bukan makhluk hidup, dia hanya bayangan, seperti roh." kata Bian. Adrian dan Austin berhenti mencoba sementara wanita itu tertawa.
"Eu voi fi din nou pentru a lua ceea ce este al meu." wanita itu beralih menatap Karen. "Ingat kata-kataku nona."
Wanita itu tertawa lebih keras dari sebelumnya dan berubah menjadi asap tebal lalu menghilang. Bian menghela nafas lalu berjalan mendekati Karen yang masih duduk di tanah.
"Apa kamu... Baik-baik saja?" tanya Bian yang sudah jongkok agar tubuhnya sejajar dengan Karen. Karen tidak menjawab, hanya diam dan tampak termenung.
"Makhluk apa itu tadi?" tanya Adrian.
"Makhluk itu disebut Layath. Dia berbentuk asap seperti tadi dan tidak akan bisa di bunuh." jelas Kate.
"Lalu.. Mau apa dia kemari?"
"Dia--"
"Kate." Bian memotong ucapan Kate. Bian menatap Kate dan menggeleng. Kate mengangguk. "Karen, apa kamu baik-baik saja?"
"Luna." Adrian mendatangi Karen. "Luna.. Apa luna Karen Baik-baik saja? Apa perlu luna sembuhkan luna? Uhm.. Maksud saya..." Adrian tampak bingung dengan kata-katanya sendiri.
"Apa ada yang terluka?" tanya Bian lagi.
"Aku baik." jawab Karen singkat lalu berdiri. Karen membersihkan celana jeansnya yang kotor akibat duduk di tanah. Dia beranjak pergi tapi baru dua langkah, dia berbalik lagi dan menatap Bian.
"Apa yang kamu katakan padanya? Pada makhluk itu? Sepertinya kamu tahu apa yang dia katakan?" tanya Karen pada Bian.
"Iya, aku tahu. Itu bahasa Romania. Biasanya mantra kami juga menggunakan bahasa itu." jelas Bian.
"Lalu.. Apa yang kamu katakan padanya?"
"Aku menyuruhnya untuk pergi." kata Bian. Karen mengerutkan keningnya.
"Apa kamu yakin itu yang kamu katakan?" tanya Karen menatap tidak suka.
"Tentu saja. Apa ada masalah Karen?"
"Tidak, tidak ada." jawab Karen lalu pergi meninggalkan Bian dan yang lain. Bian terdiam sejenak.
"Adrian, Austin."
"Ya Luna?"
"Antarkan luna kalian pulang ke rumah alpha Sebastian dengan aman." kata Bian.
"Baik Luna."
Adrian dan Austin beranjak pergi.
"Dan Adrian? Austin?"
Adrian dan Austin berbalik dan menatap Bian.
"Jangan memanggilku luna, aku bukan luna kalian. Semua akan jelas sebentar lagi tapi kumohon jangan memanggilku luna. Setidaknya jangan di depan Karen." kata Bian.
"Baik lun-- Bian."
"Bagus, pergilah." kata Bian. Adrian dan Austin berlari mengejar Karen.
"Apa ini ulah kaum hitam?" tanya Kate.
"Tentu saja ini ulah mereka." jawab Gina.
"Berarti mereka yang membangkitkan Layath itu."
"Tentu saja Kate. Hanya sihir yang bisa membangkitkannya."
"Berarti Bian, alpha Roger tidak melepaskan kaun hitam dari sisinya. Ini akan menjadi pertarungan kita lagi. Sungguh menyusahkan." kata Kate.
"Yang terpenting kita harus mengurung kembali Layath itu." gumam Bian.
"Tapi bagaimana? Dia hanya bisa terkurung di botol terkutuk itu dan kita tidak tahu dimana botol itu berada." ucap Kate.
"Tapi jika tidak segara dikurung, dia akan membunuh korbannya. Uhmm tapi kenapa dia mendatangi Karen? Jangan katakan Karen adalah korbannya."
"Sepertinya memang begitu. Makhluk itu berkata korbannya sudah di tentukan, yang berarti itu adalah Karen."
"Ugh... Tidak. Apa yang harus kita lakukan? Dia tidak akan berhenti sampai dia membunuh Karen."
Mereka bertiga terdiam.
"Sebaiknya aku bertemu dengan Kei. Aku harus memberitahukan apa yang terjadi. Kalian berjagalah disekitar sini. Aku yakin makhluk itu akan kembali." kata Bian.
"Tapi Bian, aku mengkhawatirkan makhluk itu." kata Kate.
"Kita akan mencari cara untuk mengurungnya. Karen akan baik-baik saja."
"Bukan Karen yang aku khawatirkan, tapi kamu. Makhluk itu hanya bisa dikurung dengan sihir kuno. Kamu tahu, kamu tidak bisa menggunakan sihir kuno terlalu kuat. Bekerja sama atau tidak dengan alpha Roger, kaum hitam sudah merancanakan ini."
"Kate benar, Bian. Mereka ingin mempercepat perubahanmu. Mereka ingin kamu berubah." Tambah Kate.
Bian memperhatikan rambutnya yang berwarna putih di ujungnya.
"Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Pergilah, aku akan menemui Kei."
Bian berteleportasi meninggalkan Kate dan Gina.
"Dia tidak akan berubah kan?"
"Aku tidak Gina. Aku mulai tidak yakin."
****
Suara riuh terdengar dari sebuah ruangan. Mereka tidak henti-hentinya berbeda pendapat. Hanya Roger terdiam di kursinya.
"Diamlah!!" bentak Bruce. Semua orang mulai terdiam di kursinya.
"Kau hanya beta, berani sekali kau membentak kami!" kata salah satu orang.
"Benar! Kami adalah alpha!"
Bruce ingin menjawab tapi dihentikan oleh Roger.
"Jika kalian alpha, mari kita berbicara selayaknya alpha. Saya tahu ada beberapa alpha yang usianya jauh di atas saya tapi jika kalian ijinkan, saya akan memimpin pertemuan ini." kata Roger. Semua alpha pendukung Roger terdiam. Roger menunggu mereka benar-benar tenang.
"Baiklah." katanya lagi. "Lalu... Apa rencananya?"
__ADS_1
"Kami menolak untuk meminta bantuan kaum lain, alpha Roger. Kita bangsa manusia serigala sangat tangguh dan kuat. Untuk apa lagi meminta bantuan dari kaum lain? Yang ada kita di anggap sebagai kaum yang lemah karena tidak bisa mengatasi masalah kaum kita sendiri." kata salah satu alpha. Beberapa orang bersorak setuju tapi beberapa lainnya tampak resah.
"Tapi pihak mereka mempunyai yang terpilih dan kaum putih! Kita tidak bisa melawan mereka tanpa bantuan." kata alpha yang lain.
"Baiklah tapi bagaimana dengan para vampir itu?"
"Aku dengar Vampir memang memiliki masalah dengan mereka, terutama dengan alpha keturunan murni."
"Tapi, kudengar itu bukan kesalahan alpha itu."
"Mungkin, aku tidak tahu. Yang jelas, itu bisa menguntungkan kita jika para vampir ikut menyerang."
"Apa kamu tidak malu?! Kita yang di mata mereka kaum yang lemah akan membuat mereka terus menganggap kita seperti itu!!"
"Ini perang Dom!"
"Aku tahu itu Derek, tapi ini perang kita, kaum kita. Kaum lain tidak perlu ikut campur." sahut Dom.
"Kau keras kepala sekali. Jika yang terpilih mengeluarkan api itu atau mengangkat kutukan kita, bisa mati kita, kau tahu?!"
"Kita bisa memintanya untuk tidak ikut campur masalah kita!!"
"Lalu apa kamu pikir dia akan setuju dengan hal itu?"
"Tentu saja. Dia penjaga supranatural dia seharusnya mengerti jika tidak boleh ikut campur urusan kaum lain."
"Tetap saja. Kudengar dia mate dari alpha keturuna murni itu. Jadi aku yakin dia akan membantunya."
"Bagaimana menurutmu alpha Roger?" tanya Dom pada Roger yang sedari tadi hanya diam. Roger bahkan bimbang dengan apa yang akan dia lakukan. Dia tahu Bian tidak main-main dengan ucapannya waktu itu.
"Alpha?" bisik Bruce. Roger tersadar dari lamunannya.
"Alpha, saya setuju jika kita menggunakan kaum hitam. Jika tidak menggunakan vampir, tidak masalah. Karena aku dengar keluarga Valhent juga tidak menyetujui untuk bergabung dengan kita." kata Derek.
"Tentu saja. Mereka merasa ini bukan pertarungan mereka." jawab Dom.
"Akan aku pikirkan." jawab Roger. "Ini tidak bisa diputuskan dengan terburu-buru. Kita harus hati-hati."
Semua orang mengangguk. Tak ada lagi yang berbicara, semua hening. Mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu dan akan bertemu lagi di pertemuan berikutnya untuk keputusan Roger. Semua orang meninggalkan ruangan itu kecuali Roger yang masih duduk diam di tempatnya.
"Alpha..." panggil Bruce.
"Apa kamu sudah mengantar mereka pergi?"
"Sudah alpha." jawab Bruce. Roger mengangguk.
"Bagaimana dengan Manuel?"
"Keadaannya sudah baik alpha, apa kita akan mengeluarkannya?"
Roger terdiam. Dia tidak harus menjawab apa. Dua masalah ini menghantui pikirannya.
"Maaf alpha, gamma Dwyne ingin berbicara." sahut satu omega yang sudah bersama mereka.
"Suruh dia masuk." kata Roger. Tak lama masuk satu gamma kepercayaan Roger.
"Alpha..."
"Apa yang kamu dapat Dwyne?"
"Sepertinya kaum hitam sudah melakukan serangan."
"Apa maksudmu?"
"Seorang penjaga yang kita susupi ke dalam pack itu mengatakan, ada penyerangan terhadap mate alpha Zach."
"Bian?"
"Lalu, penyerangan apa?"
"Kaum hitam melepaskan suatu makhluk, tidak jelas itu apa tapi yang jelas makhluk itu menginginkan mate itu mati. Tapi ada yang lain alpha."
"Katakan."
"Prajurit itu mendengar saat kedua penyihir berkata jika sebenarnya targernya bukan Karen, melainkan Bian, yang terpilih."
"Apa?"
"Saya tidak sepenuhnya yakin ada apa tapi yang jelas, jika yang terpilih membantu mate manusia, dia akan berubah."
"Berubah? Menjadi?"
"Saya tidak tahu, tapi sepertinya buruk."
"Baiklah, kamu boleh pergi. Tetap awasi pack itu."
"Baik alpha."
Dwyne pergi meninggalkan Roger dan Bruce.
"Kaum hitam menyerang tanpa memberitahukan kita alpha."
"Karena memang sedari awal mereka tidak perduli dengan kita, mereka hanya perduli bagaimana menghancurkan yang terpilih untuk kepentingan mereka."
"Jadi.. Kita harus bagaimana alpha?"
Roger diam membisu. Dia semakin tidak yakin.
****
Kei dan manusia serigala yang lain berbicara tentang pertanding basket yang tadi mereka lakukan. Orychant melawan para gamma. Mereka tertawa geli. Bian sudah berdiri di hadapan mereka dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Sepertinya ada hal yang menarik." kata Bian. Mereka baru menyadari keberadaan Bian. Jason berlari ke arah Bian.
"Tentu, kami menang dari para Orychant!! Hebatkan?!" pekik Jason. "Kita adalah para gamma super!!"
"Hei, hei... Tidak perlu berlebihan seperti itu." protes Kei.
"Tapi memang benar. Kami menang!"
"Tapi kita menggunakan kekuatan manusia biasa. Kamu pintar bermain basket, tentu saja kamu menang." Ian ikut protes.
"Ohh benar juga." Jason menganggukkan kepalanya. Dia memyentuh dagunya. "Tapi kami tetap menang!!!"
Jason berlari menjauh sambil berteriak tidak jelas. Para gamma lain masih saling memandang dengan bingung.
"Apa kalian tidak ikut dengan Jason?" tanya Bian. Mereka tidak menjawab. Hanya saling menatap dalam diam.
"Pergilah..." sahut Kei malas. Tapi semua masih tidak bergerak. "Apa kalian benar-benar tidak mau pergi? Aku tidak masalah."
"H-hei Jason!! Tunggu...." sahut Brad langsung pergi menjauh disusul yang lain. Bian tertawa geli.
"Kamu tidak marah karena kalah kan Kei?" tanya Bian.
"Apa kamu sudah gila? Tentu saja tidak!" ucap Kei. Bian semakin tertawa.
"Tapi... Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Kenapa dengan wajahku?"
__ADS_1
"Waahh wajahmu seperti tidak menerima kekalahan." kata Ian.
"Aku tidak begitu." kata Kei datar. Bian tertawa lagi. "Dan kamu, sedang apa kamu disini?"
"Aahh iya sampai lupa." Bian menghentikan tawanya. "Aku ingin bicara denganmu."
"Denganku? Kenapa tidak dengan Zach?"
"Denganmu Kei, lagi pula Zach harus melihat keadaan Karen."
"Ada apa dengannya?" tanya Zach.
"Pergilah menemuinya. Aku yakin dia masih syok. Tenangkan dia. Adrian dan Austin akan menjelaskannya." kata Bian. Zach masih berdiri diam. Aaron menatap Zach heran.
"Alpha?"
"Zach? Apa kamu tidak mau pergi? Matemu sedang kesusahan. Bukannya sedari tadi kamu mengeluh tidak tenang dan ingin segera pulang? Itu karena Karen, pergilah." sahut Kei.
"Baiklah. Apa kamu masih akan ada disini?" tanya Zach pada Bian.
"Mungkin. Pergilah, urus saja mate mu. Dia membutuhkanmu Zach." jawab Bian. Zach mengangguk.
"Baiklah, aku pergi."
Zach dan Aaron pergi menuju Karen.
"Lalu... Apa yang akan kamu bicarakan denganku?" tanya Kei sepeninggal Zach. Bian membuat sesuatu yang mirip gelembung disekitarnya dan Kei begitu juga Ian.
"A-apa ini?" tanya Kei bingung.
"Seperti gelembung." Ian menyentuh gelembung yang di buat oleh Bian.
"Ini akan membuat orang lain tidak mendengar pembicaraan kita. Kalian para manusia serigala mempunyai pendengaran yang tajam. Jadi.. Untuk berjaga-jaga."
"Memangnya kita menghindari siapa?" tanya Kei.
"Yang ingin aku bicarakan adalah Zach."
"Zach? Ada apa dengannya?"
"Aku diberitahu oleh Nick si vampir. Aku sudah memikirkan apa akan aku beritahu padamu atau tidak. Awalnya aku tidak ingin, tapi aku berubah pikiran."
"Tunggu dulu, sebenarnya ini ada apa?"
"Aku merasa Zach akan melakukan hal yang bodoh. Dia tahu tentang penawaran Roger denganmu."
"Tentu dia tahu. Aku yang menceritakannya."
"Tidak Kei, dia mendengarnya secara langsung."
"Apa? Tidak mungkin..."
"Itu benar Kei, aku sudah memastikannya dengan Lily dan Nick."
"Apa hubungannya dengan mereka?" tanya Ian.
"Kamu meminta bantuan Livia untuk pergi ke West Virginia, sementara Zach meminta bantuan Lily untuk pergi kesana. Dia bahkan datang lebih dulu dari kamu, Kei. Jadi... Dia mendengar semuanya, semua perkataan kamu dan Roger."
"Lalu jika itu memang benar, kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?"
"Karena ramuan Lily. Lily sangat pandai dalam ramuan sihir. Dengan ramuan itu saja dia bisa menyamarkan bau. Tapi yang jelas, Zach tahu. Dia dan Nick bekerja sama Kei. Dia meminta Nick untuk mengurung vampir Zigor di suatu tempat yang aku rasa hal itu akan segera dilakukan oleh Nick."
"Untuk apa Nick membantu? Aku kira mereka sangat tidak akur."
"Memang, tapi untuk tujuan yang sama, kenapa tidak."
"Apa tujuannya?" tanya Ian.
"Menyingkirkan Zigor dari pertarungan ini."
"Waahh sayang sekali." gumam Ian. "Padahal aku ingin sekali menggigit kepalanya."
"Tujuan Nick adalah agar keluarga kerajaan vampir pertama, keluarga Valhant, tidak ikut campur."
"Aku pernah mendengar tentang mereka. Mereka terkenal kejam." gumam Kei.
"Ya itu benar. Tapi raja mereka paling tidak suka ikut campur dan perduli pada masalah kaum lain. Tapi Ian, jika menggigit kepala Zigor dan membunuh seluruh pasukannya, maka keluarga Valhant akan ikut campur. Sudah cukup hanya dengan pertarungan sesama serigala, jangan menambah daftarnya lagi."
"Hmm... Baiklah itu ide bagus untuk mempermudah peperangan. Lalu apa maksudmu Zach akan melakukan hal bodoh?"
"Setiap keluarga kerajaan vampir mempunyai kemampuan khusus, terutama para raja. Nick adalah raja. Dia mengambil kekuatan ayahnya saat ayahnya mati. Nick bisa membaca pikiran Zach. Dan pikiran Zach di dominasi untuk menyerah pada Roger."
"Apa?! Itu gila!! Bisa saja Roger berbohong dengan janjinya!!"
"Aku tahu itu Kei, tapi Zach terlihat yakin. Karena itu, jangan biarkan Zach maupun Aaron sendirian. Jika mereka tetap melakukan hal bodoh itu, hentikan mereka. Jika perlu kurung mereka atau rantai mereka dengan rantai yang telah di lapisi oleh wolfsbane."
"Hmm... Baiklah. Akan aku lakukan. Zach tidak boleh melakukan hal bodoh itu."
"Tapi apa kamu yakin keluarga... Uhmm.. Siapa namanya, vampir pertama..." tanya Ian.
"Valhant."
"Ya, itu. Bagaimana kamu bisa yakin keluarga Valhant tidak akan ikut campur?"
"Sejujurnya aku tidak yakin, karena anak pertama dari raja itu, Eduardo, sepertinya sangat tertarik dengan masalah ini. Tapi jika kita tidak menimbulkan masalah dengan para vampir, kurasa kita akan baik-baik saja. Seperti yang kukatakan tadi, Raja mereka sangat membenci ikut campur dan mengurusi masalah kaum lain."
"Ahh baiklah. Apa ada lagi?"
"Ya, kali ini soal Karen."
"Ahh iya, aku hampir lupa. Ada apa dengan Karen?"
"Karen menjadi target dari makhluk bernama Layath. Sebuah makhluk berbentuk seperti bayangan dan ruh. Layath selalu di kurung Kei. Yang bisa membukanya hanyalah penyihir kuat. Kaum hitam membuka segelnya dan membangkitkan Layath."
"Lalu apa Karen baik-baik saja?"
"Untuk sekarang, iya. Aku meminta Kate dan Gina untuk berjaga-jaga."
"Apa makhluk itu bisa dibunuh?" tanya Kei. Bian menggeleng.
"Tidak, Dia tidak akan bisa dibunuh. Satu-satunya cara dia harus dikurung dan di segel kembali."
"Berarti dia akan kembali?"
"Iya, dia akan kembali. Dia tidak berhenti sampai akan mendapatkan targetnya."
"Makasudmu Karen?"
"Iya, dia akan mencoba mendapatkan Karen."
"Apa makhluk itu akan menculik Karen? Kenapa dia ingin mendapatkan Karen? Kenapa Karen?"
"Kenapa Karen... Aku tidak tahu. Kenapa dia ingin mendapatkan Karen... Karena Karen sudah ditetapkan menjadi targetnya,, oleh kaum hitam dan makhluk itu tidak akan menculiknya tapi membunuhnya."
"Jadi Karen harus... Mati."
"Agar makhluk itu berhenti? Ya, Karen harus mati."
...***...
__ADS_1
tadariez