My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Dia mirip kakakku yang telah mati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Jason tidak berhenti menggoda Kei karena telah memeluk Bian. Kei yang mendengar hanya pura-pura tidak perduli dan terus memasang wajah dingin dan datarnya. Padahal dia sangat kesal pada Jason dan benar-benar ingin memakannya hidup-hidup.


"Ehm... Menurutku sih Bian lebih cantik. Tania masih terlihat anak kecil. Kei, berkencan dengan yang lebih tua jauh lebih mengasyikkan. Ahh tapi aku yakin Kei sudah tahu hal itu kan. Bian...." Jason kembali memeragakan bagaimana Kei memeluk Bian.


"Sudahlah Jason, hentikan leluconmu." kata Jake yang mulai bosan dengan ocehan Jason. Hanya Jason yang mengejek Kei. Yang lain hanya mendengarkan.


"Kenapa? Ini menarik.. Hahahaha." Jason tertawa keras.


"ARRGHHH.. CUKUP SUDAH!!!" teriak Ian membuat semua terkejut, termasuk Kei. "Kamu ini seperti anak kecil saja Jason. Berapa umurmu sebenarnya? Sepuluh tahun?!"


"Aa.. Aaak-aku hanya berkata sebenarnya. Kei menyukai Bian. Apa itu salah?" Jason menjadi gugup setelah melihat Ian marah. "Ian kamu benar-benar.. Me-mengerikan jika marah."


Ian masih menatap Jason tajam membuat Jason begitu gugup.


"Karena kamu ke kanak-kanakkan. Kei tidak menyukai Bian. Benarkan Kei?" Ian bertanya pada Kei yang sedari tadi diam.


"Oh? Iya." jawab Kei sambil mengangguk pelan.


"Kei hanya menganggap Bian sebagai Dylan, kakaknya. Karena meskipun wanita, Bian memang mirip dengan Dylan. Bahkan aku merasakannya. Aku sahabat Dylan jadi sangat mengenal Dylan dan aku melihat Dylan di diri Bian. Aku yakin Kei hanya merindukan kakaknya. Jadi aku mohon berhentilah! Kamu menyakiti telingaku." omel Ian.


"Aku--"


"Dan jangan berpikiran macam-macam!" ancam Ian sebelum Jason mengatakan apapun. "Aku tahu dengan pikiran pendekmu kamu akan menyangka aku cemburu dan menyukai Bian. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan!! "


Ian berjalan pergi menjauh dari mereka.


"Tapi aku... Tapi aku..."


"Sudahlah Jason..." Mike ikut berjalan menyusul Ian. Jake menepuk pundak Jason dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu tahu Jason? jangan mencari masalah dengan Ian. Kamu ingat kata alpha Sebastian? Dia itu calon beta terkuat." kata Kian lalu beranjak pergi.


"Hei! Aku kan hanya bercanda saja! Lagi pula aku tidak pernah berpikiran Ian itu menyukai Bian!! Hei tunggu dulu!!!" teriak Jason lalu berlari menyusul mereka.


Jason tidak bersuara lagi. Dia nampak menyesal dan takut kepada Ian. Dia terus saja menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ian melihat itu dan merasa bersalah. Dia berjalan mendekati Jason dan mengalungkan tangan kirinya di pundak Jason.


"Apa kamu baik-baik saja? Aku minta maaf sudah keras padamu." Ian menepukkan tangannya di pundak Jason. Jason sangat terkejut. "Aku tahu seharusnya aku berbicara seperti orang dewasa, bukan membentakmu. Itu kesalahanku dan aku minta maaf soal itu. Tapi kamu juga bersalah. Kamu tahu kesalahanmu kan?"


Jason mengangguk. Ian tertawa geli.


"Ya sudah, jangan dipikirkan lagi ya.. Kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak marah." Ian mengacak gemas rambut hitam Jason.


"Apa ada masalah?" tanya Bian yang sudah ada di belakang mereka. "Wajah kalian kusut sekali."


"Eh? Tidak ada." jawab Jake. Bian mengangguk.


"Baiklah kalau begitu. Jake, tolong antarkan Kei pulang bersama yang lain. Aku ingin berbicara pada Ian terlebih dahulu. Jaga dia baik-baik. Aku menyerahkannya dalam pengawasanmu gamma." kata Bian. Jake mengangguk.


"Baiklah." kata Jake.


"Kei pergilah bersama mereka." kata Bian tapi Kei masih diam ditempatnya. "Sana.."


Bian mendorong pelan tubuh Kei. Kei akhirnya jalan bersama Jake dan teman yang lain. Hanya tersisa Ian dan Bian di sana.


"Ian, kamu sudah tahu rencananya kan?" tanya Bian sepeninggal Kei. Ian mengangguk.


"Iya." jawab Ian singkat.


"Kamu tahu pedang perak yang di gunakan ayahmu untuk Kei saat dia menjadi Lycan.. Maksudku monster itu."


"Tahu. Itu pedang yang dilapisi wolfsbane kan?"


"Iya. Berikan tanganmu." pinta Bian. Ian mengerutkan keningnya heran tapi dia tetap menuruti permintaan Bian. Dia memberikan satu tangannya.


"Dua-duanya."


Ian kembali menurut dan memberikan tangannya yang satu lagi. Bian membalikkan tangannya Ian sehingga telapak tangannya berada di atas. Bian memegang telapak tangan Ian lalu muncul sebuah pedang dari perak. Bian melepaskan pegangannya.


"Sekarang pedang itu menjadi milikmu. Pedang itu sudah di lapisi oleh wolfsbane paling kuat dan mematikan di dunia. Tapi meskipun begitu aku tidak yakin itu bisa menghentikan sepenuhnya tapi setidaknya akan menghentikan sementara saat Kei mengamuk nanti."


"Tapi hanya ayahku yang pantas menyimpannya. Bukannya kamu yang memberikannya?"


"Aku tahu Ian tapi sekarang pedang itu menjadi milikmu dan kamu pantas mendapatkannya. Kamu adalah beta." kata Bian.


"Tidak Bian, aku bukan beta." tolak Ian.


"Kamu adalah beta Ian. Kei akan menjadi alpha dari segala alpha dan kamu adalah betanya. Kamu itu kuat, sangat kuat. Hanya saja kamu tidak menyadarinya. Kamu pikir kenapa ayahmu terus memintamu menjaga Kei? Bisa saja kan ayahmu sendiri yang menjaga Kei. Ayahmu tahu kamu kuat Ian." jelas Bian. Ian terdiam. "Kalian sudah datang?"


Ian menoleh dan mendapati sudah ada dua orang perempuan berdiri di dekat mereka.


"Kemarilah." kata Bian. "Ian, mereka teman penyihirku, Gina dan Kate."


Ian tersenyum dan di balas oleh Gina dan Kate.


"Kamu akan menjaga Kei bersama Gina dan Kate akan menjaga senjataku satu lagi. Sementara aku akan memeriksa perbatasan." kata Bian.


"Tunggu dulu, senjata? Ada senjata lagi?" tanya Ian.


"Ada dan entah kenapa aku punya firasat buruk tentang senjata itu."


"Apa maksudmu?" tanya Ian bingung.


"Senjataku terakhir menghadapi Kei adalah Tania."


"Ta-tania? Ti-tidak, tidak. Jangan melibatkannya." kata Ian.


"Kamu tidak mengerti Ian, Tania adalah mate Kei."


"A-apa? Kei yang memberitahukanmu?"


"Tidak. Kei bahkan belum merasakannya." jawab Bian. "Sebenarnya serigala hybrid sudah pernah menyerang sebelum kejadian aku terluka waktu itu. Hybrid itu menyerang Kei dan juga Tania."


"Apa?! Kenapa tidak ada yang memberitahukanku?"


"Tenang dulu. Aku merahasiakannya agar Kei tidak dalam masalah dan... Aku juga ingin menyelidiki sesuatu. Saat kejadian itu, Kei berubah menjadi monster." kata Bian. Ian mengerutkan keningnya.


"Iya Ian, monster itu. Tapi Kei bisa berubah kewujud manusia kembali. Berkat Tania. Lalu aku mencari tahu soal itu dan aku yakin bahwa Tania adalah mate Kei dan monster itu. Karena hanya mate dari monster itu yang bisa menetralkan dan menenangkan monster itu."


"Tapi... Bukannya mate itu harus mati?"

__ADS_1


"Benar. Mate itu harus mati, Tania harus mati."


"Lalu jika Tania mati.. Apa monster itu akan hilang?"


"Tidak, bukan hilang. Monster itu akan tetap ada tapi terkendali, Kei yang akan mengendalikannya bukan monster itu. Tapi Tania harus mati. Jika tidak, Kei akan terjebak di dalam monster itu selamanya. Dia tidak akan menjadi Kei lagi."


"Tidak, tidak. Bukan itu yang aku dengar dari alpha Bian. Kei akan kembali seperti semula setelah ulang tahunnya berakhir."


"Aku juga mengira seperti itu. Tapi setelah membaca kitab tua itu lagi dan membaca tentang Eros dan Rahes, semuanya menjadi berbeda. Keduanya, Eros dan Rahes, membunuh mate-nya." jelas Bian.


"Kei tidak akan setuju jika kita mengorbankan Tania."


"Aku tahu Ian, jika jadi Kei aku juga tidak mau mengorbankan mate-ku sendiri tapi tidak ada cara lain. Tania harus mati dan Kei yang harus membunuhnya." kata Bian. Ian mengusap wajahnya kasar.


"Ini kacau." keluh Ian.


"Pulanglah Ian, jagalah Kei. Aku sudah meminta pada ibu Kei agar kamu dan Gina tinggal disana untuk sementara waktu. Sisanya serahkan padaku." kata Bian. Ian mengangguk mengerti. "Aku akan membantumu pulang."


Bian memegang pundak Ian dan membuat Ian berteleportasi ke rumah Kei. Ian sampai di depan rumah Kei dan keterkejutan yang luar biasa.


"Baiklah, kalian tahu tugas kalian. Gina, jika ada sesuatu bicarakan pada Ian. Dia partnermu untuk saat ini." kata Bian.


"Baiklah." kata Gina.


"Pergilah ke rumah Kei, aku sudah minta ijin dengan kedua orang tua Kei agar kamu tinggal disana sementara." pinta Bian. Gina mengangguk dan langsung berteleportasi ke rumah Kei.


"Dan kamu Kate, tolong awasi Tania dengan baik. Jangan sampai terlepas."


"Kamu melakukan sesuatu kan?" tanya Kate.


"Apa maksudmu?" Bian tampak bingung.


"Aku melihat Kei tadi Bian. Aku menyadari ada yang berbeda tadi dan aku tahu kamu yang melakukannya."


"Kate aku--"


"Aku tahu kamu ingin melindunginya Bian, tapi itu sihir yang berbahaya."


"Aku tahu." jawab Bian singkat.


"Dan aku juga tahu kamu mempunyai rencana Bian dan itu rencana yang berbahaya." tebak Gina.


"Aku tidak apa-apa Kate, pergilah." kata Bian. Kate menatap Bian dengn frustasi.


"Apa kamu tahu yang kamu lakukan itu berbahaya? Kamu bisa mati!! Hanya demi anak remaja yang kamu anggap sebagai adik."


"Bukan hanya karena itu. Demi semua orang. Tapi aku akan baik-baik saja Kate." Bian mencoba menenangkan.


"Sebaiknya kita mengikuti rencana alpha Sebastian Bian, jangan bertindak sendiri lagi. Itu berbahaya. Kamu sibuk menyelamatkan orang lain, tapi siapa yang akan menyelamatkanmu?" Kate menatap tidak percaya pada Bian.


"Pergilah Kate, aku mohon." pinta Bian.


"Dasar keras kepala."


Kate pergi meninggalkan Bian sendiri dengan pikirannya.


****


"Baiklah, ayo kita pergi." kata Ordovic.


Ordovic dan Hutch berjalan menuju halaman belakang kastil tua Laros. Disana sudah penuh dengan orang-orang berpakaian hitam. Mereka tampak sedang sibuk berbicara sendiri. Hanya satu orang yang diam membisu. Orang itu berdiri di depan semua orang dalam diam.


"Kalian sudah datang?" tanya Ordovic. Orang itu berbalik dan tersenyum tipis.


"Ordovic." katanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Mayes, akhirnya bisa bertemu dengan anda." kata Ordovic.


"Bagaimana dengan hybrid? Apa anda sudah menempatkan mereka di tempatnya?" tanya Mayes. Ordovic mengangguk.


"Sudah."


"Bagus. Orang-orangku sudah siap dan beberapa sudah ada disana." kata Mayes.


"Aku kira kita akan menyerang bersama?"


"Hanya ada beberapa. Mereka akan mencuri kalung itu."


"Kalung?" Ordovic bingung.


"Kalung yang di berikan oleh yang terpilih. Apa Horvick belum memberitahukan pada anda tentang kalung itu?" tanya Mayes. Ordovic menggeleng. "Kalung itu akan membuat anak itu tidak akan menjadi monster. Kalung itu yang menahan monster itu keluar."


"Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin."


"Itu mungkin. Itu kalung dari kuil kalian, kuil moon goddes, ditambah dengan sihir kuno yang terpilih, aku jamin, kalung itu sangat kuat."


"Moo-moon goddes? Tidak mungkin. Kuil itu..." Ordovic tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu terkejut.


"Yang terpilih yang mengambil kalung itu. Tentu ada resikonya. Memasuki kuil itu akan melemahkan yang terpilih, akan menguras tenaga dan sihirnya. Oleh karena itu orang-orangku tidak mati ditangannya waktu itu. Bukan karena manusia itu, tapi karena yang terpilih melemah dan itu kesempatan kita untuk menyerang pack itu dan tentu saja kesempatanku untuk membunuh yang terpilih." jelas Mayes.


"Jadi keberuntungan memihak kita."


"Jangan senang dulu yang mulia. Kita masih harus mengambil kalung itu dulu." kata Mayes. Ordovic mengangguk mengerti.


"Baiklah."


****


Kei merasa jenuh. Dia hanya berada di kamar setelah pulang dari berlatih. Orang tuanya melarangnya untuk pergi dan kedua penjaganya tidak pernah meninggalkannya.


Aku harus keluar dari sini. Aku benar-benar akan gila jika tetap disini.


Kei mulai mikirkan rencana di kepalanya.


"Kei, apa kamu tidak ingin makan malam? Luna memanggilmu." kata Ian.


"Oh baiklah." kata Kei lalu bangkit dari duduk.


"Kamu juga Gina, ayo kita makan malam."

__ADS_1


Gina ikut pergi untuk makan malam. Mereka semua sudah duduk dia meja makan. Sudah ada ayah Kei, ibu Kei, Aira, Kei, Cavril, Ian dan Gina.


"Anggota kita tambah satu malam ini. Senang sekali." kata ibu Kei. "Makan yang banyak ya Gina."


"Tentu, terima kasih Luna." kata Gina.


Mereka makan sambil sesekali bercerita. Hanya Kei yang masih diam dan hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Tiba-tiba Kei berdiri.


"Kei mau ke toilet dulu sebentar." Kei beranjak pergi. Gina ikut berdiri. "Tunggu, kamu tidak akan ikut aku ke toilet kan?"


Gina terdiam dan menatap ayah dan ibu Kei.


"Duduklah Gina, biarkan Kei pergi ke toilet sebentar." kata ayah Kei.


"Iya alpha." kata Gina lalu kembali duduk.


Kei berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya. Kei akan pergi ke toilet? Tentu tidak. Dia akan melarikan diri. Dia sudah merencanakannya. Oh Kei.


Kei mencoba membuka jendela kamarnya, tetapi tidak bisa. Jendela itu seperti ada yang menahan padahal Kei sudah membuka kuncinya. Sial!


Kei berjalan mondar-mandir dan mengacak rambutnya. Dia panik. Tapi akhirnya dia keluar kamarnya. Kei mengendap-endap menuju ruang tamu. Kalau aku tidak bisa keluar lewat jendela, aku akan keluar lewat pintu depan.


Dengan segenap usaha, Kei akhirnya Kei sampai diruang tamu. Kei membuka pintu perlahan agar tidak di dengar orang.


Ya! Kei berhasil. Dia berhasil keluar rumah dan langsung berlari cepat meninggalkan rumahnya.


Kei terus berlari tanpa henti sampai akhirnya sampai di belakang rumah seseorang. Kei melihat jendela di lantai dua. Lampunya masih nyala dan Kei melihat bayangan di kamar lantai dua itu. Kei mencari batu kecil dan melemparkan ke jendela kamar itu.


Tiba-tiba orang di kamar itu membuka jendela dan melihat ke luar.


"Kei?"


"Hai Tania." sapa Kei. Tania terkejut dengan kedatangan Kei.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Tania setengah berbisik.


"Aku hanya ingin melihat wajahmu." kata Kei setengah berbisik in juga.


Wajah Tania memerah. Dia tersenyum simpul.


"Untuk apa kamu ingin melihat wajahku?" tanya Tania sedikit ketus.


"Aku merindukanmu Tania." jawab Kei. Tania terdiam. Dia sudah sangat malu. Wajahnya sudah semakin memerah. Untung saja saat itu malam, jadi merah wajahnya tidak terlihat. "Aku tidak akan masuk sekolah besok."


"Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Tania tampak khawatir.


"Tidak, aku tidak sakit. Hanya masalah keluarga."


"Ooh.."


"Tania." panggil Kei.


"Ya?"


"Tolong jangan dekat dengan Mark lagi."


"Apa?"


"Tolong jangan dekat dengan Mark lagi, dan semua anak laki-laki yang lain."


"Memangnya kenapa?" tanya Tania Bingung.


"Aku cemburu Tania, apa kamu tidak tahu?" kata Kei. Tania terkejut.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Bian? Dia cantik." kata Tania. Dia mengingat Bian dan itu membuatnya kesal.


"Ya, Bian memang cantik. Tapi aku menganggapnya kakak Tania, tidak lebih. Dia mirip dengan kakakku yang sudah meninggal." jelas Kei.


"Kakakmu... Meninggal?"


"Iya, aku punya kakak dan dia sudah meninggal dan Bian sangat mirip dengannya."


"Ohh.." gumam Tania.


"Tania."


"Hmm?"


"Setelah urusan keluargaku selesai, ayo kita berkencan."


Deg!


Berkencan? Kei mengajakku berkencan!!


"Kamu mau kan?" tanya Kei lagi.


"Uhmm aku--"


"Tania." suara panggilan kakaknya mengejutkannya.


"Kak Andy?"


"Sedang apa kamu disitu?" kata Andy sambil berjalan ke jendela. Andy melihat keluar jendela dan tidak ada siapa-siapa disana. "Sedang apa kamu?"


"Tania sedikit kepanasan kak. Jadi Tania membuka jendela, biar udara segar masuk."


"Ohh... Ayo kebawah. Kita makan cemilan bersama Elena sambil menonton film yang di bawa Elena tadi. Katanya kamu suka film itu." ajak Andy lalu beranjak pergi. Tania masih diam di tempatnya. Matanya melirik ke jendela.


"Tania, apa yang kamu lakukan? Ayo."


"Iya kak."


Tania melihat keluar jendela sejenak, memastikan Kei sudah pergi. Lalu dia menutup jendela kamarnya dan pergi mengikuti kakaknya.


Kei menghela nafas lega. Dia bersembuyi dibalik pohon. Dia bersyukur hari sudah malam. Jadi dia tidak susah untuk bersembunyi karena gelap. Kei mulai berjalan tapi baru beberapa langkah, dia terhenti. Dia mendengar suara. Tak lama muncul tiga orang didepannya. Tiga orang itu mengenakan pakaian serba hitam.


"Selamat malam pangeran..." sapa salah satunya. Dia menyeringai senang.


****

__ADS_1


tadariez


__ADS_2