
Zach menatap heran.
"Kenapa kamu memukulnya?" tanya Kian.
"Well, bukannya lebih baik dia pingsan? Dia sudah melihat dua serigala besar itu dan kita tidak ingin dia melihat Zach berubah." jawab Jason.
"Jason, kau--"
"Kau tidak perlu memukulnya. Aku bisa membawanya pergi dan menjelaskan padanya." kata Zach.
"Dan memberitahukan padanya bahwa kamu adalah manusia serigala? Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi." kata Jason. Zach mendengus kesal.
"Apa kamu yakin dia temanmu?" tanya Zach pada Kian dan Moles yang bersama mereka.
"Orang bodoh ini? Tentu saja tidak." jawab Kian.
"Hei, aku tidak bodoh." protes Jason.
"Kau bodoh." Moles yang jarang berbicara ikut menudingnya. Jason menggeram.
"Roland, Adrian. Kejar vampir itu." kata Zach. Adrian dan Roland mengangguk dan langsung berlari.
"Kenapa ada vampir disini?" gumam Kian.
"Sepertinya dia sudah lama disini." kata Brad yang baru saja datang.
"Sudah lama?" Zach mengerutkan keningnya.
"Ya, setidaknya itu menurut pendapat mereka."
Austin mendorong dua teman Matt maju ke hadapan Zach. Zach meletakkan Karen di tanah.
"Katakan padaku, apa yang kalian ketahui." kata Zach.
"Ka-kami tidak mengetahui apapun." kata salah satu dari mereka.
"Kamu melakukan ini bersamanya dan kamu bilang kamu tidak mengetahui apapun? Kamu pikir kami akan percaya?"
"Tapi itu benar, Natasha dan Matt yang merencanakan semua ini. Ka-kami hanya mengikutinya saja." kedua teman Matt tampak ketakutan.
"Sepertinya mereka berkata jujur." kata Jason.
"Kita tidak bisa mempercayainya begitu saja. Kita bawa saja mereka ke yang mulia." kata Kian.
"Kalian yang bawa. Aku akan mengantar Karen pulang." Zach menggendong Karen dengan bridal style.
"Apa kamu perlu bantuan? Aku akan membantumu." tawar Jason.
"Hei! Apa kamu tidak bisa berbicara sopan sedikit? Dia alpha!" protes Brad.
"Aku hanya mencoba bersikap ramah."
"Kau--"
"Sudahlah Brad, aku baik-baik saja. Aku tidak perduli mereka menganggapku apa atau bagaimana mereka memperlakukanku." kata Zach. Zach menatap Jason. "Aku tidak perlu bantuanmu, aku baik-baik saja."
Zach pergi mengantar Karen pulang. Brad menatap Jason tajam lalu menarik baju salah satu teman Matt untuk membawanya ke Kei, Austin membawa yang satunya lagi.
Pletak!!
"Aarghh!! Tidak bisakah tidak memukulku?! Kenapa kalian ini hobi sekali memukul kepalaku?! Aku bisa bodoh nanti!!"
"Aku memukulmu supaya otakmu bekerja dengan baik!" kata Kian.
"Tapi kan aku tidak salah?! Aku hanya bersikap ramah!!"
"Jason, aku tahu Kei dan Zach lebih muda dari kita, terlebih Zach baru saja menjadi manusia serigala seutuhnya. Tapi Kei adalah raja Lycanthrope dan Zach adalah alpha keturunan murni, yang jauh lebih kuat dari kita semua. Jadi suka atau tidak, hormatilah mereka. Dan kumohon, dewasalah Jason!"
Kian menghela nafas kasar lalu berjalan menuju Matt dan Nat yang masih pingsan dan juga tubuh vampir yang sudah mati. Moles mengikutinya dari belakang.
"Dewasalah Jason... Huh? Menyebalkan." Jason mendengus kesal lalu ikut menyusul.
****
Ibu Zach terus mondar mandir di ruang tamu. Dia tampak gelisah. Ayah Zach bersama Kei dan Ian duduk dengan wajah yang gelisah juga. Sementara Jake dan Mike berjaga di luar rumah.
"Apa saya susul saja yang mulia?" saran Ian.
"Tidak perlu Ian, sampai sekarang masih belum terdengar suara lolongan meminta pertolongan. Jadi aku rasa mereka baik-baik saja. Percaya saja pada mereka." kata Kei. Ian mengangguk.
"Baiklah yang mulia."
Mereka kembali terdiam. Terdengar suara ketukan pintu. Ibu Zach membuka pintunya.
"Mereka kembali yang mulia." sahut Jake.
Austin dan Brad masuk ke dalam rumah dengan masing-masing membawa satu orang manusia biasa bersamanya. Austin dan Brad mendudukkan dua orang itu di lantai. Kedua orang itu tampak bingung. Mereka menatap semua orang secara bergantian.
"Ka-kalian si-sia-siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Bukan siapa-siapa." jawab Ayah Zach. "Nama kalian siapa?"
"Dony pak. Dony Raymon"
"Sa-saya Charlie, Charlie Jackson."
"Apa kalian mengetahui apapun?" tanya ayah Zach lagi.
"Kami hanya melakukan yang disuruh Nat dan Matt pak." jawab Dony.
"Apa imbalannya?" tanya Kei.
"Menjadi va-vampir." jawab Charlie. Semua orang menatap heran. "Kami pikir itu keren."
"Vampir? Vampir apa?" ayah Zach bingung.
"Maaf kami belum menyampaikannya alpha. Semua masalah ini di buat oleh Vampir. Ada dua Vampir yang mulia."
"Vampir di kota ini?"
"Iya alpha. Mereka meminum darah gadis perawan."
"Gadis perawan? Anak murid di sekolahku?!" pekik ibu Zach. Brad menganguk. "Tapi untuk apa itu?"
"Berarti mereka vampir tingkat tiga atau dua." gumam ayah Zach.
"Tunggu, apa maksudnya itu?" tanya ibu Zach. Semua orang memandangi ayah Zach.
"Yang aku tahu, para vampir membuat tingkatan atas kaum mereka. Tingkat pertama, para keluarga kerajaan vampir, keluarga inti. Raja, ratu dan para pangeran serta putri vampir."
"Vampir punya kerajaan?" ibu Zach terkejut.
"Iya, Dulu ada lima, sekarang hanya tersisa dua. Lalu tingkat dua, para bangsawan. Mereka terdiri dari vampir tua. Bukan tua wajahnya, melainkan tua umurnya. Lalu tingkat tiga, vampir biasa. Dan terakhir tingkat empat, vampir baru dan hybrid. Aku menduga ini perbuatan vampir tingkat tiga dan dua. Karena meminum darah perawan akan meningkatkan kekuatan mereka." jelas ayah Zach.
"Untuk apa mereka meningkatkan kekuatan mereka alpha?" tanya Ian.
"Biasanya... Untuk berperang."
"Perang?! Ini sudah tidak masuk akal. Kenapa perang?" ibu Zach mulai panik.
__ADS_1
"Aku tidak tahu." ayah Zach menatap Dony dan Charlie. "Apa mereka tahu soal Zach? Para vampir itu, apa mereka tahu."
"Kami pernah mendengar mereka membicarakan Zach." jawab Charlie.
"Apa yang mereka bicarakan tentangku?" tanya Zach yang baru saja datang. Semua menoleh.
"Me-mereka bilang harus mewaspadai Zach dan packnya. Dan... Dan juga mereka harus terus melapor pada... pada... Saya tidak ingat namanya." kata Charlie lalu menundukkan kepalanya.
"Cobalah di ingat lagi! Ini penting!!" desak Brad.
"Sudahlah Brad, jangan di paksa." tegur ayah Zach.
"Tapi alpha, mungkin Zach, maksud saya, alpha Zach akan dalam bahaya."
"Ordovic!" kata Dony. "Itu namanya. Benarkan Charlie?"
"Iya, Ordovic! Ordovic La... Uhm... La.. "
"Laros?" tebak Ian.
"Ya! Ordovic Laros!" pekik Dony.
"Kamu yakin?"
"Ya, mereka menyebut nama itu berulang kali. Kata mereka, mereka harus melapor pada Ordovic Laros, mantan raja."
"Tapi Kei, bukankan Ordovic..."
"Jake bawa Mike pergi ke pack Moon Lykort sekarang! Periksa apa itu benar." perintah Kei. Jake dan Kei mengangguk lalu segera pergi.
"Siapa Ordovic yang mulia?" tanya ayah Zach.
"Dia adalah orang yang mencoba membunuhku dan berani menculik ratuku." geram Kei.
"Kamu baru tujuh belas tahun dan kamu sudah memiliki ratu?" ibu Kei terkejut.
"Donna..." panggil ayah Kei.
"Aahh maaf."
"Tidak apa-apa luna. Iya, saya sudah memiliki ratu. Dia mate saya. Sama seperti alpha Dustin yang memiliki anda, luna."
"Ahh tidak, tidak, tidak. Kami sudah tidak bersama lagi." kata ibu Zach.
"Meskipun begitu, luna masih tetap mate dari alpha Dustin. Karena kami para manusia serigala, hanya di ciptakan satu mate saja. Yang artinya hanya satu pasangan saja, luna dan itu untuk selamanya."
"Jadi jika aku menikah lagi... Aku tetap akan menjadi mate nya?" ibu Zach menunjuk alpha Dustin.
"Kamu akan menikah lagi?" alpha Dustin tampak terkejut.
"Hanya contoh Dustin." kata ibu Zach. Ayah Zach menghela nafas lega. Kei dan Ian tersenyum.
"Tentu luna." jawab Kei. Kei terdiam. Dia mendapat balasan mindlink dari ayahnya. Kei menghela nafas kasar.
"Ada apa yang mulia?" tanya Ian.
"Ordovic kabur dari penjara dan tidak ada yang tahu itu. Sial!!"
"Kata-katamu anak muda! Aku tidak perduli kamu raja atau alpha, tapi di dalam rumah ini, tidak boleh menggunakan kata makian, apa itu jelas?"
"Donna..."
"Ini rumahku Dustin."
"Tidak apa-apa alpha. Saya minta maaf luna, saya sudah berkata kasar dan tidak sopan. Tapi anda mirip dengan ibu saya." Kei tersenyum.
"Jadi bagaimana selanjutnya yang mulia?" tanya Ian.
"Apa saya perlu ikut mencarinya?" tawar Ian.
"Tidak perlu Ian, aku memerlukanmu disini."
"Baiklah."
"Apa... Ordovic tadi... Sangat jahat?" tanya Zach.
"Bisa dibilang seperti itu. Dia bahkan sudah membunuh keponakannya sendiri dan hampir membunuh keponakannya yang lain."
"Waah, orang itu benar-benar tidak waras." gumam ibu Kei.
"Brad dan Austin kan?" tanya Kei. keduanya mengangguk. "Antar mereka pulang. Dan kalian berdua, jika kalian ingin tetap hidup..." Kei mengeluarkan cakarnya. Dony dan Charlie terkejut. "... Tutup mulut kalian. Kalian mengerti?"
Dony dan Charlie yang ketakutan menangguk cepat. Austin dan Brad membawa mereka. Kei menyimpan kembali cakarnya.
"Apa yang akan kita lakukan pada yang lain?" tanya Zach.
"Aku sudah menyuruh mereka untuk mengantarkan mereka pulang dan membakar tubuh vampir yang sudah mati itu. Dan untuk gadis yang terluka, gamma alpha Dustin yang membawanya ke rumah sakit. Mereka bilang tidak menemukan vampir yang lain." kata Ian.
"Kapan kamu menyuruh mereka? Bukannya dari tadi kamu disini bersama kami? Aku juga tidak melihatmu menggunakan ponsel sedari tadi." tanya Zach.
"Kami para manusia serigala mempunyai cara berkomunikasi sendiri Zach. Kami menyebutnya mindlink. Aku bisa mindlink seluruh packku sama seperti ayahmu. Tapi aku punya jalur mindlink khusus antara aku dan betaku, Ian. Setiap alpha dan beta mempunyai mindlink khusus itu. Kamu juga akan punya, jika kamu sudah menemukan betamu. Itu caramu menemukan betamu Zach. Jika ada manusia serigala yang bisa mendengar mindlinkmu tanpa didengar anggota packmu, dia adalah betamu."
"Jadi aku harus mencari beta sesuai dengan mindlink itu? Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya."
"Aku akan mengajarimu. Tenang saja." kata Kei. "Bagaimana dengan mate-mu?"
"Mate? Mateku?"
"Mate-mu, pasangan hidupmu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Kei.
"Kamu punya mate Zach?" tanya ibu Zach. Zach mengangkat kedua bahunya.
"Zach bahkan tidak tahu jika Zach mempunyai mate ibu."
"Gadis yang bersamamu tadi. Dia adalah matemu Zach."
"Karen?! Karen adalah mate-ku?! Whoa kamu sudah gila."
"Zach!!"
"Tidak apa-apa alpha. Ya, Zach. Itu salah satu kelebihanku. Aku bisa mengetahui mate. Dari bau kalian."
"Bau kami? Ada apa dengan bauku dan Karen?"
"Kalian mempunyai bau yang sama. Karena itu aku katakan Karen tadi adalah mate-mu."
"Selamat nak, ternyata kamu telah menemukan mate-mu." ayah Zach berdiri dan menepuk pundak Zach yang masih bingung.
"Apa kalian para manusia serigala tidak bisa mengganti mate kalian?"
"Tidak bisa Donna." jawab ayah Zach.
"Kenapa begitu? Jika mate tidak baik, seharusnya bisa diganti."
"Mate bukan pakaian Donna."
"Aku tahu itu Dustin, hanya saja..."
"Apa kamu tidak menyukai mate Zach?" tebak ayah Zach.
__ADS_1
"Bukan begitu..."
"Luna, kita tidak bisa mengganti mate. Hanya jika mate kita mati, kita akan mendapatkan mate yang kedua. Tapi tidak ada yang ingin orang yang kita cintai mati kan?"
"Well, itu benar. Tapi bagaimana jika mate itu sudah menikah dengan orang lain. Sudah memiliki keluarganya sendiri. Suami dan anak-anak?"
"Donna..." ayah Zach terlihat tidak sabaran dengan pertanyaan ibu Zach.
"Aku hanya bertanya."
"Berarti dia tidak beruntung. Dia hanya bisa mengawasi dan melihat mate nya dari jauh dan menunggu. Menunggu mate itu sendiri lagi tapi jika tidak, itu tidak masalah. Kita tidak mungkin membunuh mate kita. Meskipun belum ada kasus yang seperti itu."
"Baiklah, jadi Zach harus menerima mate-nya kan?" tanya ibu Zach lagi.
"Dia mate-nya Donna, tentu saja."
"Hei, hei.. Zach bahkan belum setuju untuk menerima Karen."
Semua mata tertuju pada Zach.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kamu akan menerimanya Zach, kamu tidak akan bisa menolak." kata ayahnya.
"Kenapa begitu? Hanya aku yang bisa memilih siapa kekasihku. Mate? Yang benar saja!"
Zach mendengus kesal lalu berjalan menuju kamarnya. Semua orang saling tatap diruang tamu.
"Dia akan segera menerimanya."
****
Suara geraman terdengar. Suara itu cukup dekat. Dua orang perempuan masih berlari dengan sekuat tenaga mereka.
"Livia, apa mereka masih mengejar?" kata salah satunya dengan setengah berteriak. Mereka masih berlari.
"Aku yakin masih." kata Livia yang juga masih berlari.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu bahkan tidak melihat."
"Aku tidak perlu melihat Lily. Aku bisa mendengar suara geraman mereka dan itu sangat dekat. Sebaiknya kita berlari lebih cepat!"
"Tidak Livia, aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi."
Tiba-tiba seekor serigala besar sudah berada di tengah-tengah mereka. Livia dan lily berteriak.
"Diparcantian!!"
Livia membaca mantra dan mengarahkan mantra itu ke serigala. Serigala tadi langsung terhempas cukup jauh.
"Misto Helamo"
Kali ini Lily yang membaca mantra. Membuat kabut tebal yang membuat sulit melihat. Livia dan Lily bersembunyi di balik pohon besar. Lily melihat ke arah livia yang bersembunyi di balik pohon di sebelahnya.
"Aku tidak akan mau melakukan hal ini lagi." kata Lily.
"Tidak ada yang mau Lily, terlebih jika kita harus melawan para manusia serigala itu. Mereka sungguh menakutkan. Tapi ini perintah yang terpilih. Kita tidak bisa menolak."
"Tapi, yang terpilih mempunyai penyihir yang lebih kuat. Kita knirer pemula Livia!"
"Jika yang terpilih memilih kita berarti kita Knirer yang hebat Lily. Kita harus membuktikannya."
"Dengan memasuki wilayah manusia serigala? Itu sama saja bunuh diri Livia."
Dalam hati, Livia tahu itu benar. Tapi misi mereka sudah hampir selesai. Mereka harus ketahuan dan sekarang di kejar-kejar oleh pasukan manusia serigala.
"Ada berapa bubuk wolfsbane yang kita punya Lily?" tanya Livia. Lily memeriksa tasnya. Dia menutup matanya sejenak.
"Cuma satu." jawab Lily.
"Sial!!" umpat Livia. Dia menatap ke atas. "Angin! Kita bisa menyebarnya lewat angin."
"Tapi itu tidak akan melumpuhkan mereka Livia."
"Tapi bisa memperlambat mereka dan kita bisa berlari ke tempat aman dan berteleportasi."
Lily terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Baiklah."
"Mereka datang."
Terdengar suara geraman dan beberapa langkah kaki. Langkah itu terhenti. Para serigala itu berhenti untuk mencari bau. Mereka menggeram lagi setelah menemukan bau itu.
"Hitungan ke tiga, lempar serbuk itu dan aku akan menyihir angin." bisik Livia. Lily mengangguk.
Serigala itu melolong. Tak lama datang serigala lain. Mereka melangkah perlahan menuju tempat Livia dan Lily bersembunyi. Livia mengangkat tangannya dan jarinya membentuk angka satu. Lalu tak lama jarinya membentuk dua lalu tiga. Lily keluar dari persembunyiannya. Para serigala itu melihat dan menggeram. Livia juga keluar dari persembunyiannya. Lily melepar serbuk wolfsbane.
"Winhale Maximo!!"
Livia membaca mantra dan tak lama angin berhembus kencang dan menerbangkan serbuk wolfsbane itu. Manusia serigala itu tampak kesakitan. Lily dan Livia berlari kembali. Kali ini mereka sampai di luar dari pack manusia serigala itu sehingga mereka bisa segera berteleportasi.
Dalam sekejap mereka sampai disebuah kota. Mereka berdiri di pinggir jalan besar.
"Kita selamat Livia." teriak Lily lalu memeluk Livia. Livia hanya mengangguk.
"Aku tidak menyangka pack manusia serigala mempunyai sihir." gumam Livia. Lily melepaskan pelukannya.
"Berarti mereka meminta bantuan penyihir."
"Ya, dan karena itu kita tidak bisa berteleportasi tadi."
"Dan itu sangat menyebalkan." kata Lily. "Kita hampir saja mati tadi."
"Itu benar. Tapi yang terpilih sudah memperingatkan kita soal itu." mereka terdiam.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Lily
"Kita harus menyerahkan kristal yang kita ambil dari pack serigala tadi."
"Kita ke pack serigala lagi?! Tidak lagi...." Lily berjongkok.
"Tapi kata yang terpilih, pack ini bukan pack yang jahat seperti tadi. Mereka pack yang didukung oleh yang terpilih." kata Livia. Lily menghela nafas kasar lalu berdiri.
"Baiklah. Ke pack mana?"
Livia merogoh tasnya, mencari selembar kertas. Livia menemukan kertas itu dan membacanya.
"Ini bukan nama sebuah pack, tapi nama kota." sahut Livia. Lily ikut membaca kertas itu.
"Rotternville?" gumam Lily. "Di mana itu?"
"Disini." sahut Livia. Dia menunjuk sebuah papan jalan besar. Ada sebuah tulisan yang cukup besar di papan jalan itu.
"Welcome to Rotternville."
"Sihir memang luar biasa." gumam Lily disambut anggukan Livia.
****
__ADS_1
tadariez