My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Zach si serigala baru


__ADS_3

Kelima serigala itu menggeram. Zach sudah begitu takut. Bagaimana tidak. Lima serigala besar sudah mengelilinginya dengan jarak yang sangat dekat. Detak jantungnya sangat cepat. Dia menutup matanya dan bersiap untuk di makan oleh serigala-serigala itu.


'Alpha, apa yang harus kita lakukan?' tanya Simon melalui pikirannya.


Alpha Dustin maju untuk mendekat. Alpha Dustin menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Zach yang sedang duduk di tanah.


'Dia memilikinya Simon. Akan aku bangkitkan'


Alpha Dustin menggeram keras, membuat Zach membuka matanya. Zach terkejut. Alpha Dustin maju perlahan membuat Zach termudur. Sekarang Zach sudah terbaring di tanah. Serigala alpha Dustin berada di atasnya.


"Rrrrooooaaaarrrrgggghhhh...!!!"


Alpha Dustin mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, tepat di depan wajah Zach. Zach sudah menoleh kesamping dan menutup matanya erat. Alpha Dustin membukan mulutnya dan mengigit bahu Zach. Zach berteriak kesakitan. Tiba-tiba semua gelap. Zach pingsan.


"Kembalikan dia." perintah alpha Dustin yang sudah menjadi manusia kembali. Semua orang mengangguk.


****


Bunyi jam weker di nakas membangunkan Zach. Zach menggeliat dan meregangkan tubuhnya. Dia duduk dan terdiam di sisi tempat tidur. Dia menggosok matanya. Dia teringat akan kejadian malam itu. Dia melihat pakaiannya. Sama seperti sebelum dia bangun tengah malam itu.


'Apa mimpi?' batinnya.


Zach turun dari tempat tidurnya dan segera bersiap ke kamar mandi. Tak berapa lama dia sudah siap dan mengambil tasnya yang berada di meja belajar. Saat akan pergi, langkahnya terhenti. Dia melihat buku ensklipodia hewan yang berada di atas meja. Ada sesuatu ditengah buku itu. Zach membukanya dan melihat foto beserta kalung berada di sana. Zach membulatkan matanya.


'I-ini bukan mimpi?'


Zach beranjak ke cermin didepan lemari pakaiannya. Dia memeriksa bahunya yang semalam digigit oleh serigala. Tapi tidak ada apapun disana. 'Aneh'


"Zach turunlah. Sudah waktunya kamu pergi sekolah." panggii ibunya dari lantai bawah. Zach dengan segera menuruti ibunya dan pergi ke lantai bawah.


Dibawah ibunya sudah menunggunya dengan sandwich kesukaan Zach dan segelas susu. Zach duduk dan memakan sandwichnya.


"Ibu dengar ada pesta valentine? Apa kamu sudah menyiapkan kostum?" tanya ibunya. Ibu Zach berdarah asia. Mempunyai kulit putih dan rambut hitam panjang.


"Zach tidak ingin pergi bu." kata Zach sambil mengunyah sandwichnya.


"Kenapa?" tanya ibunya heran.


"Zach tidak tertarik." jawab Zach.


"Sesekali bergaul dengan anak perempuan Zach, jangan dengan Rodney dan Daryl terus."


"Tidak mau. Anak perempuan menyusahkan." kata Zach cuek.


"Apa ibu menyusahkan?" tanya ibunya.


"Tentu tidak. Kecuali ibu. Lagipula ibu wanita dewasa. Zach lebih suka wanita dewasa."


"Kenapa begitu?"


"Mereka tidak cerewet dan berisik."


Zach bangkit lalu meletakkan piringnya di wastafel.


"Zach pergi bu." Zach mencium pipi kiri ibunya lalu segera pergi.


Zach menaiki motor sportnya lalu pergi kesekolah. Biasanya dia menjemput Daryl terlebih dahulu tapi kata Daryl dia akan terlambat hari ini untuk menjadi saksi sidang perceraian kedua orang tuanya.


Zach duduk di bangku taman sekolah. Dia menunggu Rodney datang. Zach memperhatikan sekelilingnya. Semua tampak.... Berbeda. Itu yang dipikirannya. Dia bahkan bisa mendengar jelas, ralat luar biasa jelas. Matanya seharusnya minus, ibunya bahkan ingin membelikannya kaca mata akhir minggu ini tapi dia bisa melihat dengan jelas sekarang. Bahkan penciumannya benar-benar.... Tajam.


"Hai Zach..."


Zach tersadar dan menoleh. Brittany, seorang gadis cantik berambut pirang sudah berdiri disampingnya. Brittany adalah gadis populer di sekolahnya. Dia cantik, tinggi dan kaya tentu. Zach tidak membalas sapaan Brittany hanya memalingkan wajahnya.


"Zach, aku masih menunggu." kata Brittany yang kini sudah duduk disebelah Zach.


"Apa maksudmu?" tanya Zach datar.


"Apa kamu sudah menemukan pasangan untuk pesta valentine? Aku siap kalau kamu--"


"Aku tidak tertarik." kata zach datar. "Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu."


"Tapi Zach..." Brittany mengalungkan tangannya di lengan Zach. "Bagaimana kalau--"


"Brittany." Zach melepas kasar tangan Brittany. "Pergilah."


Brittany cemberut. Dia tahu dia tidak bisa memaksa Zach karena Zach pasti akan marah.


"Hubungi aku! Aku tunggu malam minggu nanti dirumah." kata Brittany ketus sambil pergi meninggalkan Zach sendiri.


Zach memang cowok tampan dan populer disekolahnya. Bahkan satu kota pun tahu. Zach berwajah campuran namun dia sangat tampan. Tubuh tinggi atletis, putih, dada bidang, rahang kokoh. Meskipun dia masih remaja, tapi dia mempunyai semua itu membuat para gadis terpesona. Tapi sama seperti Kei, dinginnya melebihi puncak everest. Paling anti di dekati cewek. Bahkan banyak rumor beredar bahwa Zach adalah gay. Zach gay? Tentu saja tidak. Dia masih menyukai perempuan. Hanya saja tidak ada satupun yang membuat dia tertarik.


"Kamu melamun?" tanya Rodney yang sudah datang dan duduk di depan Zach.


"Hmm... Tidak, hanya... Rodney, ceritakan tentang serigala." kata Zach.


"Serigala? Kau bisa membacanya. Kau kan punya buku ensklipodia tentang hewan." kata Rodney.


"Bukan serigala itu, tapi manusia serigala." kata Zach.


"Manusia serigala?" ulang Rodney. Zach mengangguk. Rodney menatap Zach heran. "Kenapa kamu mau tahu itu? Bukannya kau menganggap itu omong kosong?"


"Aku... Aku hanya ingin tahu." jawab Zach. "Apa... Manusia serigala itu besar, maksudnya apa bentuknya besar? Atau seperti yang seperti difilm? Kau tahu? Yang mempunyai wajah seperti serigala, tubuh seperti manusia?"


Rodney masih menatap Zach dengan heran tapi akhrinya tetap menjawab.


"Menurut buku yang aku baca, para manusia serigala itu berwujud serigala. Benar-benar serigala. Tidak hanya wajahnya saja. Tapi seluruhnya. Hampir tidak bisa dibedakan mana serigala asli mana yang manusia serigala."


"Jadi... Mereka sama?"


"Satu yang membedakannya. Ukuran tubuhnya." tubuh Rodney condong ke Zach. "Ukuran tubuh manusia serigala lebih besar. Tidak, sangat besar. Katanya ukuran tubuh mereka melebihi manusia. Sangat besar."


Zach terdiam. Dia mengingat kembali serigala yang menyerangnya. Serigala itu sangat besar.

__ADS_1


"Lalu? Jika digigit?"


"Maka kamu akan menjadi manusia serigala juga Zach." kata Rodney. "Kamu tidak apa-apa Zach?"


"Hm... Aku baik-baik saja." gumam Zach.


'Tentu aku tidak baik-baik saja Rodney. Jika apa yang kamu katakan itu benar, Aku akan menjadi manusia serigala.'


Zach takut sekarang. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Zach bukannya kamu ada latihan basket?" tanya Rodney.


"Eh? Oh? Iya. Se-sebaiknya aku pergi." sahut Zach langsung meninggalkan Rodney yang masih bengong.


"Eh tunggu aku." Rodney berlari mengejar Zach.


****


"Apa yang akan kamu lakukan Karen?" tanya sahabatnya Natasha.


"Aku akan beri pelajaran padanya." jawab Karen sambil masih berjalan cepat.


"Oh tidak, tidak jangan lagi. Apa kamu tidak bisa menyelesaikannya dengan baik? Tidak perlu dengan kekerasan." saran Natasha.


"Ini sudah tidak bisa di toleransi lagi. Ini keterlaluan Nat!" pekik Karen.


"Oh baiklah, baiklah. Tapi jangan berakhir di rumah sakit lagi. Kasihan ibumu terus membayar uang rumah sakit. Ingat ibumu." kata Natasha. Karen menghentikan langkahnya dan menghela nafas kasar.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menyakitinya." kata Karen akhirnya. "Tapi biarkan aku setidaknya memakinya."


Karen melanjutkan langkahnya lagi. Kali ini jauh lebih cepat dan dalam waktu singkat sudah berada di loker. Karen mencari sosok yang dia ingin sekali menghajarnya. Tak berapa lama dia melihatnya. Karen menggeretakkan giginya marah lalu segera berjalan menuju anak lelaki itu.


Brakk!!


Karen memukul loker yang berada di sebelah lelaki itu.


"Kau! Berani sekali kau!" Karen menunjuk lelaki itu.


"Lihat cewek tomboy ini. Apa? Kamu mau menghajarku seperti yang lain? Nih aku kasih. Ayo pukul." tantang laki-laki bernama Matthew itu. Dia menyodorkan pipinya.


"Apa kamu tidak keterlaluan Matt? Lihat Stefanie!" Karen menunjuk Stefanie yang sedang bersembunyi di ujung deretan loker. Matt menoleh pada Stefanie.


"Lalu?" tanyanya membuat Karen mengepalkan tangannya.


"Karen..." panggil Nat yang melihat kepalan tangan Karen.


"Minta maaf." sahut Karen.


"Tidak mau. Siapa suruh dia kecentilan." jawab Matt.


"Apa kamu bilang?"


"Lihat saja dia! Anak nerd seperti dia berkata dia suka padaku? Apa dia tidak punya kaca dirumah?!" protes Matt.


"Kau--"


"Kau bisa menolaknya dengan baik, tidak perlu sampai menjadikan dia bahan olokan satu sekolah!" pekik Karen.


"Akkhhh kau cerewet sekali." Matt beranjak pergi. Tapi Karen menghalanginya. Dia sudah berdiri di depan Matt.


"Pinggir." kata Matt.


"Tidak akan. Sampai kamu minta maaf." Karen menatap Matt tajam.


"Tidak mau." kata Matt tak kalah tajamnya. Postur tubuh Matt yang tinggi dan tegap sedikit mengintimidasinya. Tapi Karen tidak takut.


"Atau jangan-jangan kamu tertarik padaku? Ini bukan tentang Stefanie kan?" Matt mulai menyeringai. Mata playboynya menatap Karen dari atas sampai bawah. "Kamu... Tidak buruk."


Karen tersenyum manis, sangat manis. Itu senyuman yang paling manis yang pernah dia berikan pada seseorang. Karen menggigit bibir bawahnya.


"Benarkah? Lalu... Apa kau tertarik padaku?" kata Karen manis membuat sahabatnya Nat bengong ria.


"Jika kamu tertarik, aku akan dengan senang hati." kata Matt tersenyum senang.


"Benarkah?"


Karen maju ke depan mendekati Matt, masih dengan senyumannya. Tiba-tiba,


Bukk!!


Karen menendang tulang kering Matt. Matt mengumpat. Dia terlihat kesakitan. Karen berjalan melewati Matt.


"Ayo Nat, kita pergi." ajak Karen. Nat hanya mengangguk setuju.


Tiba-tiba langkah Karen terhenti. Tangan Matt sudah berada di pundaknya.


"Mau kemana kamu gadis brengsek?!" cegah Matt. Karen menghela nafas kasar. Dia mengambil tangan Matt dari pundaknya lalu berbalik. Karen memutar tangan Matt. Matt berteriak kesakitan.


"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu." kata Karen dingin.


"Lepas! Lepas... aargghh!!!.. Dasar cewek breng---aarrrghhh!!" Matt masih berteriak keras.


Karen melepaskan tangannya. Dia teringat ibunya. Setiap dia berkelahi dengan siswa yang lain, ibunya terus saja membayar uang pengobatan korban Karen, untung saja tidak ada yang menuntut. Matt mengibaskan tangannya yang sakit lalu melayangkan tinjunya ke Karen. Tapi Karen bisa membaca itu lalu menahan tinjunya dengan tangan kirinya. Lalu dengan segera menendang alat kelamin Matt dan meninju wajahnya dengan keras membuat Matt jatuh, terbaring di lantai dan meringis kesakitan.


Semua teman Matt terkejut dan mencoba menolong Matt.


"Karen, kamu keterlaluan!" kata teman Matt.


"Tidak, dia yang keterlaluan!" kata Karen.


"Ka-Karen..." panggil Nat.


"Dasar cowok brengsek! Ayo pergi Nat."

__ADS_1


Karen memperbaiki tas punggungnya yang melorot lalu menarik Nat bersamanya.


****


Zach sudah berada dibangku pemain di gym. Dia juga sudah berganti pakaian untuk berlatih basket. Dia masih memikirkan tentang manusia serigala yang ada dipikirannya.


"Baiklah, ayo kumpul." ajak pelatih Robbins. Semua orang berkumpul didekat pelatih. "Payne! Apa kau tidak mendengarku?!"


Zach tersentak kaget lalu segera bergabung.


"Pertandingan musim ini akan segera di gelar dan kita harus siap. Aku tidak ingin ada alasan apapun."


"Yes, coach!!"


"Jangan hanya yes coach, lakukan dengan benar. Jika kita menang musim ini, aku akan memberikan nilai A pada kalian."


Semua anak bersork gembira.


"Baiklah, ayo kita latihan. Payne, berhentilah melamun." tegur coach pada Zach. Zach hanya mengangguk. "Dimana kapten kalian? Kenapa dia belum datang?"


Semua orang saling diam. Tidak ada yang berkata apapun. Mereka saling menatap.


"Sudah, sudahlah. Ayo kita berlatih." kata pak Robbin.


"Coach!" panggil Matt yang baru saja datang. "Maaf saya terlambat."


"Kau! Kamu adalah kapten! Kenapa datang terlambat?!" tunjuk pak Robbin pada Matt.


"Maaf coach." kata Matt.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa membiru seperti itu?" tanya pak Robbins heran melihat wajah Matt yang lebam.


"Tidak apa-apa coach." kata Matt. Itu adalah bekas pukulan dari Karen. 'Perempuan sialan!'


"Aku tidak ingin ada anak didikku berkelahi, kalian mengerti?"


"Yes Coach!"


"Bagus ayo kita latihan. Payne! Kau di pihak lawan. Rod! Berikan rompimu pada Payne."


Liam Rodriguez menyerahkan rompi berwarna kuningnya ke Zach. Zach langsung mengenakannya dan berlari ke lapangan. Zach berada di posisi tengah.


Semua orang sudah bersiap di tempat masin-masing. Pelatih sudah di tengah dan memegang bola untuk dilempar. Tak lama peluit ditiup dan bola sudah terlempar di udara. Jacob yang mengenakan rompi merah yang mendapat bola pertama lalu menggiringnya sejenak dan mengoper ke temannya yang juga mengenakan rompi merah. Zach berusaha menghalanginya tapi dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Akhirnya tim merah mencetak angka. Zach terus saja kelimpungan. Dia bukannya tidak bisa bermain basket, dia bisa dan dia cukup mahir. Zach berusaha untuk berkonsentrasi penuh. Saat Zach menghalangi Steve, Zach tertabrak dan terjatuh.


"Zach, aku mohon berhentilah bermain seperti anak perempuan!!" kata pak Robbins. "Bangun dan cepat kejar bola itu!"


Zach langsung bangkit dan berlari. Dia mengacak rambutnya. Ada apa denganku?


Pendengarannya menjadi sangat tajam, dia sulit berkonsentrasi.


'Fokus, zach!!'


Suara itu..


Zach mencari keseluruh ruangan. Tidak ada siapapun. Hanya para pemain basket di lapangan dan di bangku cadangan dan beberapa murid yang menonton.


"Zach! Apa yang kau lakukan?!" suara pelatihnya menyadarkannya. Zach menoleh pada pelatihnya. Pak Robbins menunjuk bola. Zach mengerti dan mencoba merebut bola yang ada di hadapannya, tetapi todak berhasil. Bola itu hanya melewatinya.


'Zach! Fokus. Rasakan semuan indramu. Pendengaranmu, penglihatanmu dan penciumanmu. Rasakan semuanya Zach, kendalikan.'


Suara itu lagi. Zach kembali menoleh dan mencari arah suara. Suara itu seperti suara lelaki dewasa. Hanya pelatih Robbin yang lelaki dewasa. Sisanya hanya murid.


'Tutup matamu Zach, rasakanlah.'


Zach menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Peluit berbunyi.


"Payne!" pak Robbins memanggilnya tapi Zach tidak mendengar, dia masih menutup matanya. "Payne!" Zach masih terdiam.


"Zachary Payne!!!" panggil pelatih setengah berteriak. Zach membuka matanya lalu menatap pelatihnya. "Sekali lagi kamu berulah, kamu keluar lapangan!!"


Zach menagangguk. Semua temannya sudah menatapnya dengan pandangan heran.


"Semua ayo kembali ke posisi masing-masing!"


Semua kembali ke posisi masing-masing, begitupula Zach. Zach bersiap menerima bola. Zach menatap bola. Bola matanya berubah yang awalnya coklat tua menjadi hitam pekat. Dia menggeram pelan.


Peluit berbunyi. Tim rompi merah kembali mendapat bola. Bola yang dia bawa Jacob menuju ke arah Zach. Zach bersiap merebut bola. Zach berlari ke arah Jacob dan tidak sengaja menabraknya. Tapi justru Jacob terhempas dengan keras saat tertabrak tubuh Zach. Zach terkejut. Dia yakin dia tidak menabraknya sekeras itu. Peluit ditiupkan.


"Donovan, kau baik-baik saja?" tanya pak Robbins. "Payne! Apa yang kau lakukan?"


"Sa-Saya tidak melakukan apapun, coach." kata Zach. Dia memang tidak menghempas Jacob dengan keras.


"Saya tidak apa-apa coach." kata Jacob dan perlahan berdiri.


"Kamu yakin, Donovan?"


"Yakin coach."


"Baiklah. Sekarang kita lanjutkan kembali."


"Maaf." lirih Zach.


"Jangan dipikirkan." kata Jacon sambil menepuk lengan Zach.


Semua kembali untuk berlatih. Sesekali Jacob masih memegangi tangannya. Peluit kembali di tiup. Pemain mulai berlari. Zach kembali mencoba merebut bola. Kali ini dia memperhatikan bola itu. Ada yang aneh dengan bola itu. Serasa bola itu di giring dalam... Gerakan lambat. Gerakan Jacon menggiring bola sangat pelan. Membuat Zach melihat pergerakan Jacob dengan mudah. Zach berlari ke arah Jacob dan merebut bolanya.


Dapat! Zach mendapat bola itu lalu segera berlari. Kali ini zach berlari sangat cepat dan lincah membuat teman-temannya kebingungan. Zach sudah sampai di dekat ring. Zach mencoba untuk lay-up. Zach melompat dan memasukkan bolanya ke dalam ring.


Brakk!!


Tidak hanya bola basket yang jatuh ke bawah tapi ringnya juga ikut jatuh. Ring itu patah dan papan pantulnya ikut retak. Tiba-tiba papan pantulnya ikut terjatuh. Membuat suara detuman yang keras.


Oh astaga!!!

__ADS_1


****


tadariez


__ADS_2