My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Aku adalah rajamu, alphamu


__ADS_3

"Zach... Turunlah." kata ibu Zach untuk kesekian kalinya. "Zach jika kamu tidak turun sekarang juga, ibu akan--"


"Ya, ya... Zach sudah disini bu, berhentilah berteriak." ucap Zach malas. Zach masuk ke dapur dan duduk di kursi. Zach mengambil sarapannya dan memakannya. Ibu Zach memandang Zach heran.


"Ada apa denganmu? Beberapa hari ini ada yang aneh denganmu. Apa kamu sakit?" tanya ibunya.


"Tidak bu, Zach baik-baik saja." Zach meletakkan piringnya ke dalam kulkas.


"Kenapa tidak di habiskan?"


"Zach sedang tidak berselera bu." jawab Zach malas.


"Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya ibunya lagi dengan kedua tangannya terlipat di depan dadanya.


"Zach tidak apa-apa. Percayalah."


"Baiklah, ibu percaya. Ayo kita pergi. Ini juga hari pertama ibu mengajar." ibu Zach mengambil tas nya yang di letakkan di kursi.


"Haruskah Zach mengenakan seragam bu? Tidak bisakah Zach mengenakan pakaian biasa saja seperi di Rotternville?"


"Zach, sekolah ini berbeda dari sekolahmu yang dulu, tentu saja tidak." kata ibu Zach.


"Huft... Baiklah. Kota ini sama dengan kota di Rotternville tapi kenapa harus masuk di sekolah swasta dan mengenakan seragam bodoh ini. Menyebalkan sekali."


"Kan kalian sendiri yang tidak ingin terpisahkan. Orychant." kata ibu Zach dengan nada yang lucu dan membuka kedua tangannya seperti mengejek.


"Sangat lucu bu." kata Zach tanpa ekpresi.


"Kamu ikut ibu atau naik motormu itu."


"Naik motor tentu."


"Baiklah." ibu Zach membuka pintu. "Hati-hati dan-- Kei! Hai... Selamat pagi."


"Selamat pagi lu-- maksud saya nyonya Cho." kata Kei yang sudah berdiri di depan pintu rumah Zach.


"Sedang apa kamu disini? Ahh menjemput Zach?" tebak ibu Zach.


"Iya nyonya Cho." jawab Kei.


"Aku bukan anak kecil yang harus di jemput." Zach keluar rumah dan berjalan menuju motornya.


"Hei, kamu mau kemana?" tanya Kei dan menghentikan langkah Zach.


"Mengambil motorku tentu." kata Zach dengan raut wajah heran.


"Hari ini tidak usah menggunakan motor. Kita berjalan kaki saja." Kei mengalungkan tangannya pada pundak Zach.


"Tap-tapi.."


"Lagipula Zach, motormu tidak akan cukup untuk bertiga." Kei menunjuk Aaron yang sudah menunggu dan melambai pada mereka.


"Aaron, sudah berapa lama kamu disana?" tanya Zach.


"Baru saja." kata Aaron.


"Sampai jumpa disekolah nyonya Cho." sapa Kei yang melihat ibu Zach sudah siap menjalankan mobilnya.


"Kalian tidak mau ikut ibu saja?" tawar ibu Zach.


"Tidak nyonya, terima kasih. Kami baik-baik saja." jawab Kei yang hampir di protes Zach.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hatilah." ibu Zach melambaikan satu tanganya lalu melaju.


Kei mengalungkan tangan kirinya ke Aaron.


"Sekarang, ayo kita pergi kesekolah." ajak Kei.


Zach masih diam saja diperjalanan sementara Kei sibuk berbicara pada Aaron.


"Hei...!! Tunggu aku!" panggil seseorang di belakang. Mereka bertiga menoleh.


"Ian?"


"Kenapa pergi begitu saja? Kenapa tidak menungguku." kata Ian lalu memegang kedua lututnya dan mengatur nafasnya. "Aahh lelah sekali."


"Kau ini manusia serigala atau bukan sih? Masa lari segitu saja sudah lelah?" kata Kei.


"Segitu saja?! Kau gila! Aku berlari dari rumahku lalu kerumahmu lalu kerumah Zach! Maksudku... Alpha Zach! Itu sangat jauh, kamu tahu?!" omel Ian.


"Aahh baiklah, baiklah. Kenapa kamu sangat tidak sopan padaku. Dia, kamu panggil dengan sebutan alpha sementara aku tidak. Sebenarnya kamu ini beta siapa sih?"


Kei menggelengkan kepalanya lalu berbalik dan berjalan menjauh. Ian menyusulnya dan mengalungkan tangan kirinya kepundak Kei.


"Apa kamu cemburu Kei?" tanya Ian usil.


"Apa kamu sudah gila?! Aku suka perempuan! Kenapa aku harus cemburu?"


Ian tersenyum geli. Kei berusaha melepaskan tangan Ian dari pundaknya.


"Kei... Kau tidak cemburu kan???" goda Ian lagi.


"Untuk apa aku--  aaakkkhhh...!!" Kei memekik. Ian baru saja mengacak-acak rambutnya.


"Kei, lucunya. Dari dulu aku senang sekali melihatmu marah atau cemburu."


"Ian!! Lepaskan aku! Apa kamu sudah gila?!" Kei meronta dan memukul-mukul tangan Ian.


"Hei, alpha Zach! Dia manis kan?" kata Ian. Kepala Kei sudah berada di bawah ketiaknya. Zach menunduk untuk melihat wajah Kei.


"H-hei, hei Zach, bantu aku." pinta Kei. Zach hanya menatap Kei.


"Hmm benar, dia sangat manis. Bertahan disana ya, adik manis." kata Zach, menirukan panggilan Bian untuk Kei. Zach tertawa kecil lalu mengajak Aaron pergi.


"Hei! Hei! Hei! Zach, kau-- Ian lepaskan aku sekarang. Jika tidak, aku akan menggunakan alpha dan ra--" Ian menutup mulut Kei.


"Hari ini tidak ada alpha dan beta, hanya Kei dan Ian. Hari yang indah." gumam Ian sambil menarik tubuh Kei untuk berjalan.


"Hmmpphh... Hmphhmmppphh...!!!" Kei terus mencoba mengomel meskipun mulutnya di tutup. Kei memukul kuat tangan Ian dan akhirnya terlepas dari Kei.


"Ian!! Kau--...!!!!"


Ian berlari sekuat tenaga menjauhi Kei. Ian berlari melewati Zach dan Aaron. Zach dan Aaron menoleh kebelakang dan mendapati Kei sedang berlari ke arahnya. Zach dan Aaron ikut berlari bersama Ian menjauhi kemarahan Kei. Seperti anak kecil saja mereka.


****


Saat istirahat Kei dan Zach memutuskan untuk makan di kantin dan sesuatu hal terjadi. Kantin menjadi sangat penuh dan sesak. Zach bahkan mulai protes.


"Tidak bisa kah kita kembali saja ke kelas? Aku bahkan tidak bisa mendengar kalian berbicara!!" Zach berteriak. Suara berisik memuji dan kagum dari para gadis di sekolah membuat sakit telinganya. Kei ingin menjawabnya tapi dia tertahan dengan suara berisik para murid perempuan.


"Whoa... Lihat ini. Dua murid laki-laki baru sangat tampan duduk bersama dengan dua murid tertampan di sekolah. Kalian membuat para wanita disini menjadi semakin menggila. Lihat saja, kantin ini penuh sekali! Lebih penuh dari hanya ada Kei dan Ian." pekik Jason yang baru datang. Kei memutar bola matanya.


"Mereka bahkan tidak menyadari jika aku berada tepat di sebelah Kei!!" Tania ikut berteriak. Kei menatap Tania heran. Tania mengangkat kedua bahunya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat kuat dan keras. Semua orang menutup telinga mereka. Saat suara itu menghilang Kei dan Zach saling menatap. Kantin menjadi hening seketika.


"Suara apa itu?" Kei menajamkan telinganya. "Satu orang ada di hutan."


Kei berlari keluar kantin di ikuti Zach beserta Ian dan Aaron. Mereka berlari menuju hutan belakang sekolah. Tak lama suara teriakan itu terdengar lagi. Suara memekakkan yang sama. Mereka menutup telinga mereka dan menahan rasa sakit. Suara itu berhenti kembali. Kei dan Zach saling menatap dan mengangguk. Mereka kemudian berlari sekuat tenaga menyusuri hutan dan mencari keberadaan orang itu. Suara teriakan itu muncul kembali. Kei dan Zach berhenti kembali dan menutup telinga. Zach merasakan cairan keluar dari telinganya, darah. Setelah suara itu berhenti mereka berlari lagi.


Tak lama mereka menemukan seorang wanita yang tengah terduduk diam sambil menatap dua orang lainnya yang tergeletak tidak bergerak. Zach dan Kei mendekat perlahan. Tapi tiba-tiba wanita itu berteriak lagi.


"Aaarrrggghhhhhh..!!!  Berhentilah!!" pekik Kei.


Wanita itu terkejut lalu berbalik dan langsung berdiri menatap Kei dan Zach.


"Aakhh telingaku sakit sekali." Zach menggosok telinganya.


"Siapa kamu? Dan kenapa dengan mereka?" tanya Kei. Wanita itu tidak menjawab, dia menatap Kei dan Zach dengan takut. Wanita itu membuka mulutnya lagi dan berteriak.


"Candeconsti!"

__ADS_1


Livia yang sudah sampai di sana langsung membuat wanita itu pingsan.


"Ka-kamu apakan dia?" tanya Zach.


"Dia hanya pingsan." ucap Livia dan berjalan mendekat bersama Lily. "Dia adalah Banshee."


"Ban... Apa?"


"Banshee. Seorang wanita yang menandakan kematian. Jika ada yang mati, dia akan berteriak seperti tadi. Terlebih jika itu keluarga atau temannya. Aku tidak tahu jika ada Banshee disini. Biasanya mereka hidup berkelompok dan tersembunyi dari keramaian."


"Mereka memang tidak tinggal disini." kata alpha Sebastian yang baru saja tiba. "Bisa dipastikan tidak ada Banshee disini."


"Lalu.. Kenapa ada dia sini?" tanya Kei.


"Sepertinya ada yang membawanya kemari." kata alpha Sebastian. "Aku akan cari tahu."


Alpha Sebastian berubah menjadi serigala lalu pergi mencium jejak dari Banshee bersama beta dan gammanya.


"Apa? Ada apa? Apa yang terjadi?" kata Jason yang baru saja sampai.


"Hanya seorang Banshee." kata Ian.


"Aaahh.. Berarti ada yang mati disini?"


"Yeah, itu." Ian menunjuk dua orang laki-laki yang terbujur kaku.


"Apa itu Banshee?"


"Tania?! Oh astaga, kenapa kamu disini?" Kei terkejut dengan kehadiran Tania.


"Memangnya kenapa?" tanya Tania heran.


"Kenapa dengan mereka? Apa mereka mati?!" tunjuk Anne.


"Uhmm.. Anne sayang, sebaikanya kita pergi." Ian membalik tubuh Anne dan pergi menjauh.


"Aahh jadi karena ada mayat disini." kata Tania tampak tenang.


"Kamu tidak takut?" tanya Kei.


"Tentu saja tidak. Cita-citaku menjadi dokter bedah, jika mayat saja takut bagaimana aku bisa menjadi dokter?"


"Ahh baiklah." Kei mengangguk mengerti.


"Lalu apa hubungannya dengan orang yang berteriak tadi?" tanya Tania.


"Orang yang berteriak tadi adalah Banshee, dia akan berteriak seperti tadi jika ada yang mati Tania." jelas Kei.


"Ahh begitu."


Tania berjalan mendekat ke Banshee wanita itu.


"Hei... Jangan terlalu dekat." tegur Kei.


"Aku tidak apa-apa. Lagipula bukannya dia pingsan."


Tania kembali mendekat. Dia menyipitkan matanya. Tania melihat sesuatu di genggaman Banshee itu. Tania semakin mendekat. Dia berjongkok di dekat wanita itu dan mengambil sesuatu yang ada ditangan wanita itu. Sebuah batu permata berukuran sedang berwarna ungu tua. Tania memperhatikan batu permata itu dengan seksama.


"Tania, aku mohon menjauhlah dari sana." pinta Kei yang mendapati Tania mendekati wanita itu. "Hei, cepat angkat wanita Banshee itu."


Tania berdiri dan mulai berjalan. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan dia terkejut. Wanita Banshee itu bangun dan memegang tangan kanan Tania dengan kedua tangannya sambil berkata sesuatu yang tidak Tania pahami. Bola mata wanita itu juga berubah abu-abu gelap.


"Hei, lepaskan dia!!"


Wanita itu kembali pingsan saat dia menyelesaikan kata-katanya. Kei menarik Tania menjauh.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Kei.


"Aku baik Kei. Apa yang tadi dia katakan?"


"Livia apa kamu tahu?" tanya Kei. Livia menggeleng.


"Aku tidak tahu apa itu. Tapi... Mungkin yang terpilih tahu."


"Tapi kami... Tidak bisa." kata Livia.


"Kenapa begitu?"


"Kami dilarang oleh Elder untuk memanggil yang terpilih."


"Kenapa? Ada apa sebenarnya dengannya?" tanya Zach yang mulai bingung.


"Kami.. Tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Elder tidak memberitahukan apapun." kata Livia.


"Ini aneh."


"Ya, itu benar. Kami berdua juga merasa aneh. Yang jelas memang ada masalah dengan yang terpilih." kata Lily.


"Lily..." tegur Livia.


"Tapi aku benar Livia." tegas Lily. Livia hanya menghela nafas.


"Ya sudahlah. Jake, bawa wanita Banshee itu bersama Roland ke rumah alpha Sebastian dan Jason, Brad, Moles dan Austin, kubur kedua mayat itu. Jangan sampai ada manusia biasa yang melihat kedua mayat itu." perintah Kei.


"Kenapa harus aku yang menguburkan mayat?! Menyebalkan sekali!" protes Jason tapi akhirnya melakukannya juga.


"Adrian, Kian dan Mike. Bantu alpha Sebastian untuk mencari jejak dari mana datangnya Banshee itu."


"Baik yang mulia."


"Ayo kita pergi Tania. Tapi... Apa kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanya Kei memastikan sambil membawa Tania pergi dari sana.


"Sudah kukatakan aku baik-baik saja."


Zach dan Aaron ikut pergi. Hanya Livia dan Lily yang berada disana. Livia menatap tajam Tania.


"Hei, kenapa kamu menatap Tania seperti itu?" tanya Lily.


"Seperti apa?"


"Seperti kamu.... Sedang cemburu." kata Lily. Livia menatap Lily sejenak lalu segera berteleportasi.


****


Sepulang sekolah mereka berkumpul di tempat latihan di tengan hutan. Mereka kembali berlatih bersama agar mereka siap jika suatu saat diserang oleh pack alpha Roger.


Jason bermain-main dengan Moles dan Brad.


"Whoa.... Lihatlah siapa yang datang." kata Jason. Semua orang menoleh. Ryan datang bersama Tania. Ryan sudah menolak untuk berlatih. Dia cukup syok dengan siapa dia sekarang. Seorang manusia serigala. Dia ingin kembali berkuliah tapi dia tidak bisa karena dia belum menguasai kekuatannya.


"Selamat datang." sapa Kei. Ryan hanya menghela nafas.


"Apa aku harus melakukan hal ini, Tania?" tanya Ryan pada Tania. Tania hanya mengangguk.


"Ini demi kakak juga." kata Kei. "Jika kakak ingin kembali kuliah seperti dulu, kakak harus bisa mengendalikan kekuatan kakak. Karena semua indra kakak akan meningkat dan lebih peka." jelas Kei.


"Baiklah, sama siapa aku harus berlatih?" tanya Ryan.


"Sama aku." kata Kei.


"Apa? Aah tidak, tidak. Jangan dengan anak ingusan. Dengan dia saja bagaimana?" Ryan menunjuk seorang Omega yang terlihat seumuran dengan alpha Sebastian. "Dia pasti lebih berpengalaman."


"Dia tidak akan kuat menahan serangan kakak. Karena kakak jauh lebih kuat darinya." kata Kei.


"Bagaimana denganku?" Ian menawarkan diri. "Sepertinya umur kita terpaut tidak terlalu jauh."


Ryan menatap Ian. Lalu akhirnya mengangguk.


"Baiklah. Ayo."


Ian melepaskan baju kausnya.

__ADS_1


"Whoa... Berapa banyak steroid yang kamu suntikkan disana?" Ryan menunjuk tubuh Ian yang berotot.


"Bukan steroid, tapi karena berlatih. Kamu juga akan seperti itu. Sekarang lepaskan bajumu."


"Untuk apa aku melepaskan bajuku? Ada-ada saja. Kita akan berlatihkan?"


"Kita manusia serigala selalu berlatih tanpa mengenakan baju. Agar lebih mudah berubah menjadi serigala. Jadi... Bukalah."


Ian melemaskan otot-ototnya. Ryan menatap Tania. Tania memberi semangat dari sebelah Kei. Ryan membuka bajunya. Kulit putih pucatnya terlihat.


"Whoaa.... Kamu manusia serigala atau vampir? Kenapa warna tubuhmu pucat sekali?" seru Jason.


"Kamu siap?" tanya Kei.


"Aku rasa begitu."


"Kami menyiapkan sedikit tes untukmu. Sekarang dengarkan, Suara apa itu?"


"Mana bisa aku tahu. Ribut sekali disini. Bisakah kamu menyuruh mereka diam?"


"Tidak, lebih baik seperti ini. Seperti yang di katakan oleh yang mulia, indra mu meningkat. Percayakan pada indramu. Dengarkanlah." Ian menepuk pundak Ryan. "Lakukan Mike!!"


Mike membunyikan sesuatu tapi suaranya tidak terdengar sama sekali jika dengan telinga biasa. Ryan mencoba mendengarkan tapi gagal. Dia terus mencoba tapi masih gagal.


"Aarrggghhh!! Aku tidak bisa!! Terlalu ribut!" pekik Ryan.


"Tenanglah. Pejamkan matamu dan konsentrasilah." pinta Ian. Ryan mendengus kesal lalu akhirnya menurutinya. Ryan menutup matanya dan mencoba mendengarkan. Awalnya dia tidak mendengarkan apapun tapi akhirnya dia mendengarnya.


"Suara gelas kaca yang dipukul." kata Ryan.


"Benar. Kamu hebat." puji Ian. "Mike!! Selanjutnya!!"


Mike menurut dan kali ini mengambil sesuatu yang sudah dia siapkan. Sebuah piring dengan penutup di atasnya. Mike membuka penutupnya.


"Sekarang, indra penciumanmu. Cobalah mencium." kata Ian. Ryan menurut dan mulai mengendus. "Jika masih tidak bisa, tutup matamu dan fokuskan pada penciumanmu."


Ryan menutup matanya dan mengendus kembali. Dia mengendus berulang kali dan cukup lama mencoba berkonsentrasi. Ryan membuka matanya.


"Kopi." tebaknya. Ian tersenyum puas.


"Kamu memang hebat. Hanya tinggal di kendalikan dan ditingkatkan saja. Sekarang, ayo lawan aku."


"Apa?" Ryan terkejut.


"Kita akan mencoba kekuatanmu. Kamu adalah beta sama sepertiku. Jadi kita mempunyai kekuatan yang hampir sama. Ayo serang aku."


"Aku bisa bela diri. Aku mengikuti kelas tekwondo sedari SMA hingga sekarang. Aku tidak ingin menyakitimu." kata Ryan.


"Kamu tidak akan menyakitiku Ryan, aku janji." kata Ian meyakinkan. "Malah, mungkin kamu yang akan sakit. Jadi bersiaplah. Karena kekuatan kita hampir sama, aku tidak akan melemah padamu."


Ian bersiap untuk bertarung.


"Sepertinya ini akan menarik." kata Jason.


"Aku rasa juga begitu." jawab Brad.


Ian memukul wajah Ryan dan mengenainya telak. Ryan meringis kesakitan.


"Sudah aku katakankan? Aku tidak akan melemah padamu. Jadi... Seriuslah."


Ryan menggeram keras lalu balik menyerang Ian. Ian berhasil menghindar dari semua serangan. Ian lalu memukul keras perut Ryan. Ryan tidak tinggal diam, dia langsung melayangkan tinjunya dan tendangannya. Tapi Ian berhasil menghindar dari semuanya.


"Ayolah, kamu berkata kamu berlatih taekwondo. Hanya segini?"


Ian meninju wajah Ryan, memukul perutnya dan menendang kakinya membuat Ryan terjatuh di tanah. Ryan menggeram dan memukul wajah Ian. Tapi Ian tidak merasa sakit sedikitpun.


"Kamu yakin itu pukulan anak taekwondo?" ejek Ian.


"Kau--"


Ryan sangat marah sekarang, dia menyerang Ian secara bertubi-tubi, tapi tak satupun mengenai Ian. Ian justru sebaliknya. Ian juga menyerang Ryan secara terus menerus dan semuanya mengenai Ryan.


"Aaarrrgggghhhh....!!!  Sudah!! Cukup!! Aku tidak mau berlatih lagi!" pekik Ryan tiba-tiba. Dia mengambil baju kausnya dan beranjak pergi.


"Kak Ryan..." panggil Tania.


"Jangan memaksaku, Tania!" tegas Ryan. Tania terdiam.


"Tapi itu untuk kebaikkan kakak." Kei mencoba membujuk.


"Kebaikan katamu?! Jika kaum kalian tidak menyerangku, tidak akan seperti ini! Aku tidak akan menjadi makhluk aneh seperti ini!! Ini benar-benar gila!!!" pekik Ryan lagi. Semua orang terdiam.


"Kamu, Kei." tunjuk Ryan. "Kamu yang menggigitku. Kembalikan aku seperti semula. Aku tidak mau hidup seperti ini!!"


Kei menghela nafas. "Maaf... Tapi aku tidak bisa melakukannya."


"Apa? Tapi kenapa?"


"Racun manusia serigala sudah berada di seluruh tubuhmu dan itu yang menyelamatkanmu dari luka parahmu." kata Ian. Ryan tertawa.


"Luka parah kamu bilang? Aku lebih baik mati dari pada menjadi manusia serigala. Kenapa kalian tidak membiarkan saja aku mati!!"


"Kak!!" Tania menatap tidak percaya. Ryan mendengus kesal lalu beranjak pergi.


"Lalu kamu merasa hebat dengan berkata seperti itu?" kata Ian. Ian menatap Ryan tajam. "Mengatakan bahwa kami adalah makhluk aneh? Seharusnya kamu berterima kasih karena racun itu menyelamatkan hidupmu dan memberikanmu kesempatan kedua!"


"Kesempatan kedua katamu? Terima kasih? Hah!! Kamu sudah gila rupanya. Kamu dan anak ingusan itu. Kalian semua benar-benar sudah gila!"


Ian menggeram. Tangannya sudah di kepal.


"Aku tidak ingin berada disini lebih lama lagi dan menjauhlah dariku." kata Ryan lalu pergi menjauh. Tapi baru beberapa langkah, Ian sudah memegang pundak Ryan dan memutar tubuh Ryan lalu memukul wajah Ryan.


"Kau tahu, kamu adalah lelaki paling pengecut yang pernah aku kenal." Ian memukul wajah Ryan lagi. "Dan kamu tahu, anak yang kamu panggil ingusan itu adalah alphamu sekarang." Ian memukul lagi. "Aku tidak perduli kamu suka atau tidak, kamu harus menghormatinya."


Ian terus memukuli Ryan sampai akhirnya Ryan begitu marah dan mendorong kuat tubuh Ryan hingga terhempas keras di tanah. Ryan berdiri tegak dan menggeram marah. Matanya berubah menjadi kuning terang, khas beta lalu Ryan berubah menjadi serigala berbulu putih dengan sedikit coklat di tubuhnya.


Ryan oleng, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dia berjalan kesana kemari. Sesekali dia terjatuh karena belum terbiasa berkaki empat tapi dia langsung bangkit. Ryan orang yang cerdas. Dia langsung bisa beradaptasi dan mengendalikan serigalanya. Ryan menggeram keras pada semua orang. Dia berlari cepat meninggalkan semua orang.


"Ryan...!!" panggil Ian.


Kei berubah menjadi serigala dan menyusul cepat Ryan. Ryan berlari semakin cepat.


'Ryan!! Berhentilah.'


'Tidak! Aku ingin pergi dari sini!!'


'Kamu akan dilihat oleh manusia biasa dan mereka akan mengetahui keberadaan kita, Ryan. Itu akan sangat berbahaya.'


'Aku tidak perduli! Menjauhlah dariku!'


'Tidak akan! Kamu adalah betaku, kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Kumohon berhentilah!'


'Tidak!'


Ryan mempercepat larinya. Kei menggeram marah. Bola matanya berubah menjadi merah. Dia berlari semakin cepat dan melompat dan menjadikan pohon sebagai tumpuannya lalu mendarat tepat di depan Ryan.


'Pinggir!'


'Tidak akan.'


Ryan menggeram marah. Tapi Kei juga menggeram dan geraman Kei lebih kuat dan keras. Dia menatap marah Ryan.


'Kamu dulu adalah manusia biasa, sekarang kamu adalah manusia serigala, anggota packku, betaku dan aku adalah alphamu, rajamu. Kamu harus patuh dan hormat padaku, karena itu adalah hukum alam untuk manusia serigala.'


Ryan mencoba untuk menggeram kembali tapi entah kenapa tubuhnya menolaknya dan anehnya dia justru sangat takut pada tatapan alpha Kei.


'Aku, Kei lyroso Laros, raja dari kaum Lycanthrope, alpha dari packku, Memerintahkanmu Ryan Reynolds, anggota packku, betaku, untuk patuh, hormat dan setia hanya padaku.'


Kei menggunakan kuasa alpha dan rajanya. Ryan semakin takut. Kei melolong keras lalu menatap Ryan.


'Apa kamu masih meragukan kepemimpinan anak ingusan ini?'

__ADS_1


****


tadariez


__ADS_2