My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Goodbye Nathan


__ADS_3

"Kei? Kamu baik-baik saja?" tanya Ian yang sedari tadi menatap khawatir.


"Yeah, aku rasa begitu." jawab Kei.


"Oh astaga, kamu membuatku khawatir." sahut Ian langsung berhambur dan memeluk Kei. Bahkan Tania yang sedari disisi Kei segera tersingkir.


"Ugh... Ian.. Kamu.. Membuatku.. Tidak bisa.. Bernafas..." ucap Kei dengan kata-kata terbata.


"Oh maaf, maaf..." sahut Ian sambil melepaskan pelukannya. "Kamu yakin baik-baik saja kan?"


"Ya, ya.. Tentu... Kamu terlalu berlebihan Ian." kata Kei. Dia mengelus kepalanya yang sakit


"Aku hanya khawatir." sahut Ian.


"Tidak, Kei benar. Kamu berlebihan. Bahkan melebihi Tania." sahut Bian sambil menggelangkan kepalanya heran. "Uhmm... Ian, apa.. uhmm.. kamu yakin... Menyukai Anne?"


Ian cemberut dengan pertanyaan Bian. Bian yang melihat itu tertawa geli begitu juga Tania.


"Ughh manisnya jika Ian cemberut." kata Bian mengacak rambut Ian lalu pergi meninggalkan kamar tapi belum jauh, dia kembali lagi.


"Untuk apa kembali lagi?" tanya Ian.


"Untuk apa kamu masih disana?" tanya Bian.


"Aku hanya...." Ian menatap Kei dan Tania secara bergantian.


"Astaga kemarilah." Bian menarik tangan Ian. "Jangan menganggu. Kita pergi saja serigala manis."


Bian menarik tangan Ian dan menyeretnya keluar dari ruangan itu. Tania dan Kei tersenyum geli.


"Kamu baik-baik saja kan? Apa masih sakit?" tanya Tania sambil memperhatikan Kei.


"Aku baik Tania." kata Kei.


"Ini semua tidak akan terjadi jika kamu tidak mencium gadis itu." ucap Tania Kesal. Kei mulai panik.


"Hei, hei, itu salah. Aku tidak menciumnya, dia yang menciumku." koreksinya.


"Ahhh jadi itu benar, kalian berciuman. Padahal aku tadi hanya menebaknya saja." kata Tania. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan cemberut.


"Eh? O.. Oh.. Itu tidak bisa di katakan berciuman. Itu hanya... Maksud aku... Dia yang melakukan! Aku tidak.. Aku tidak melakukan apapun." kata Kei terbata. Tania semakin cemberut dan menyipitkan matanya. "Sungguh Tania... Aku tidak melakukan apapun!"


Kei mengacak rambutnya bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tania tiba-tiba memeluknya.


"Aku percaya padamu Kei. Aku tahu kamu tidak akan mengkhianati aku." kata Tania. Ekpresi Kei saat dia marah sungguh menggemaskan, membuat Tania ingin menggodanya. Kei menatap Tania memastikan.


"Benarkah?" tanya Kei.


"Tentu... Eh tunggu dulu, kamu benar-benar tidak selingkuh dariku kan?" Tania mendelik.


"Oh astaga Tania, tentu saja tidak. Apa kamu lupa manusia serigala hanya punya satu mate dalam hidupnya? Kamu mateku Tania dan akan selalu begitu."


"Aku tahu Kei, aku tahu." Tania memeluk Kei lagi. Kei membelai rambut Tania.


"Aku menyayangimu, Tania."


"Aku juga Kei, tapi bisakah kamu menghentikannya?" Tania duduk tegak dan menatap Kei dengan keseriusannya.


"Menghentikan apa?" tanya Kei.


"Membuat dirimu terluka. Kamu terus terlibat sesuatu yang membuat dirimu terluka atau hidupmu dalam bahaya."


"Maaf Tania. Aku juga ingin hidup tenang tapi itu sulit."


"Apa kamu bisa tidak menjadi raja?" pinta Tania. Wajah Tania memelas. Kei tertawa kecil.


"Seandainya aku bisa memilih aku bahkan tidak ingin menjadi alpha atau siapapun. Aku hanya ingin jadi laki-laki yang selalu di sisimu. Tapi sayangnya aku tidak bisa, Tania. Dengan adanya monster itu, aku sudah menjadi raja, aku suka atau tidak. Meskipun aku tidak ingin, mereka akan tetap menganggapku sebagai raja dan aku tetap akan memiliki banyak musuh." jelas Kei. Dia membelai rambut Tania yang terurai.


"Jadi ini semua gara-gara monster itu?  Huft.. Bagaimana caranya agar monster itu pergi atau mati?" Tania tampak berpikir. Kei tersenyum geli lalu mencubit pelan hidung Tania.


"Jangan membunuhnya. Dia mengenali dirimu yang berarti kamu sangat berarti untuk monster itu."


"Maksudmu seperti... Mate?"


"Ya Tania, kamu juga mate monster itu. Kamu berarti untuknya." kata Kei sambil mengelus rambut Tania lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku menyayangi kalian berdua." Tania memeluk Kei. Kei tertawa geli.


"Aku yakin monster itu tahu Tania." kata Kei lembut.


Sementara itu diluar rumah, Ian menunggu Zach kembali. Dia tahu Zach terluka. Tak lama datang dua omega bersama Zach. Zach di rebahkan di sofa yang berada di ruang tamu. Kedua omega membungkuk dan segera pergi.


"Alpha, apa anda baik-baik saja?" tanya Ian yang sudah berdiri di samping Zach.


"Sakit, tapi aku baik." jawab Zach sambil menahan sakit.


"Lalu... Apa yang terjadi dengan para pemburu itu?"


"Aku mengusir mereka. Aku meminta Aaron untuk mengawasi kepergian mereka. Apa kamu bisa membantu Aaron, Ian?" pinta Zach. Ian mengangguk.


"Tentu. Saya akan kesana dan membantu, Alpha. Tapi apa anda akan baik-baik saja sendiri?" tanya Ian.


"Dia akan baik-baik saja. Aku akan membantunya." kata Bian.


"Aahhh baiklah. Lebih baik alpha di rawat dengan luna." Ian menekankan kata luna dengan nada mengejek. Bian cemberut lalu mengeluarkan api biru dari tangannya.


"Waah... Ada yang ingin mati hari ini." ancam Bian. Ian terdiam.


"Saya pergi alpha." Ian langsung berlari meninggalkan Zach dan Bian. Zach tertawa sambil menahan sakit.


"Berhentilah tertawa." Bian duduk di hadapan Zach. "Apa tidak sakit tertawa seperti itu?"


"Ekspresinya lucu sekali." Zach menghentikan tertawanya. "Bagaimana Kei?"


"Dia sudah baik-baik saja, jangan khawatir. Sekarang kita urus dirimu." kata Bian. Bian memperhatikan peluru yang bersarang di perut dan pundak Zach. "Pasti sakit."


"Aku bisa menahannya. Jangan khawatir."


"Aku tidak mengkhawatirkan dirimu, tapi peluru itu. Aku ingin mengetahui wolfsbane jenis apa yang dia gunakan. Sepertinya berbeda dengan yang digunakan tuan Dixon. Jika sudah tertanam ditubuh seperti itu, apa masih bisa terdeteksi?"


"Huft.. tidak bisa kah kamu mengkhawatirkanku?" Zach cemberut. Bian menatap Zach lalu menggeleng.


"Tidak, aku tidak khawatir. Aku tahu kamu bisa menghadapi ini semua." kata Bian. Bian merentangkan tangannya ke atas luka Zach. "Ini akan sakit."


"Terserahlah, bukankah kamu tidak perduli?" gumam Zach kesal. Bian tersenyum geli.


"Baiklah, terserah padamu." kata Bian. Bian melakukan sihir, membuat peluru terangkat dari perut Zach. Zach berteriak kesakitan.


"Aakhh.. Itu sakit sekali."


"Sudah kukatakan itu sakit." kata Bian. "Satu lagi. Kamu siap? Aku akan melakukannya dengan cepat kali ini."

__ADS_1


"Siap. Lakukan." jawab Zach. Bian menggunakan sihirnya lagi. Kali ini peluru itu keluar lebih cepat dari yang pertama. Zach kembali berteriak.


"Sudah. Aku akan menyembuhkannya."


Bian membaca mantra penyembuhan. Luka Zach menutup sedikit demi sedikit lalu akhirnya menutup sempurna. Zach bernafas lega.


"Kamu baik-baik saja Zach?" tanya Bian.


"Ya, luar biasa baik sekarang. Terima kasih."


"Tentu."


"Alpha, Luna?" Aaron datang dan membungkuk kecil pada Zach dan Bian.


"Aku benar-benar ingin kalian berhenti memanggilku luna! Ingin sekali rasanya membakar pack ini." gumam Bian. zach terkekeh.


"Ada apa Aaron?" tanya Zach.


"Bagaimana dengan tubuh Nathan?" tanya Aaron. Bian terkejut.


"Tubuh? Nathan? Anak yang dari pack Roger itu? Ada apa dengannya?" tanya Bian yang terkejut.


"Dia mati Bian."


"Mati?"


"Perlakukan tubuhnya dengan baik dan siapkan pemakamannya. Kita makamkan dia sebagai anggota pack."


"Baik alpha." Aaron segera pergi.


"Kenapa dia bisa mati?"


"Dia yang menyerahkan kristal itu pada pemburu Cigeira atas perintah alpha Roger."


"Jadi maksudmu... Dia dipukuli, di buat seperti waktu itu hanya agar dia bisa masuk ke pack ini dan mencuri kristal itu untuk para pemburu Cigeira itu?" tanya Bian memastikan.


"Iya."


"Oh astaga, kejam sekali Roger."


"Ya, benar."


"Lalu.. Kenapa dia mati?" tanya Kei yang baru datang dari lantai atas. Tania memapahnya berjalan. Mereka keluar karena mendengar suara teriakan Zach tadi.


"Dia melindungiku dari tembakan pemburu itu."


"Ohh..."


"Ya, dan dia bersumpah setia dan patuh padaku saat dia sudah hampir mati." kata Zach.


"Jadi dia mati dengan menjadi kawananmu?" tanya Kei.


"Iya. Jadi aku ingin menguburkannya sebagai kawanan packku. Apa bisa?"


"Tentu saja Zach." Kei menepuk pundak Zach. "Lakukanlah."


"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu terlihat buruk sekali?" tanya Zach.


"Hei jangan mengejekku. Kamu bahkan tidak terlihat lebih baik dariku." jawab Kei. Zach terkekeh.


"Aahh baiklah. Aku akan lihat persiapan pemakamannya."


"Kita akan memakamkan dia sekarang?" tanya Tania.


"Hei! Kenapa semua orang disini menyebalkan sekali?! Tidak! Terima kasih!! Aku akan pergi saja!!" Bian mendengus kesal.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Zach heran.


"Menjemput Karen. Lihat saja, akan aku bawa dia kemari." ucap Bian. Dia mencibirkan bibirnya lalu berteleportasi. Zach menghela nafas.


"Aku pergi dulu." ucap Zach lalu pergi keluar rumah.


"Luna Bian? Apa maksudnya itu?" tanya Tania.


"Aaahh sepertinya dengan semua masalah yang ada, aku lupa cerita denganmu tentang itu." kata Kei. "Bian... Adalah mate Zach. Itu yang kami lihat dan yang aku lihat. Tapi Bian tidak sependapat. Karena Zach sudah memiliki mate bernama Karen. Manusia serigala hanya punya satu mate, Tania. Tapi Zach mempunyai dua mate. Bian merasa itu aneh dan meyakini bahwa dialah yang bukan mate dari Zach."


"Tapi mereka terlihat serasi bagiku. Aku senang jika Bian menjadi mate Zach. Kami bisa membuat squad mate manusia serigala." kata Tania. Kei tertawa.


"Kamu lucu sekali. Ayo kita lihat persiapan pemakaman Nathan."


Tania memapah Kei pergi keluar rumah.


****


Manuel berdiri dalam diam di teras rumah. Dia bahkan tidak perduli pada sekitarnya dan udara malam yang dingin. Hanya merasa sakit di dadanya.


"Beta Manuel." panggil Aiden. Manuel menoleh. "Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik, beta. Terima kasih atas pertolongannya."


"Jangan sungkan."


"Tapi kenapa kamu menolongku? Aku bagian dari pack alpha Roger."


"Ya, itu benar. Tapi aku tahu kamu berbeda Manuel. Kamu adalah orang yang baik dan kita telah berteman lama."


"Jangan memujiku berlebihan beta."


"Aku tidak memujimu berlebihan. Aku hanya mengatakan sejujurnya. Tapi jika aku boleh tahu, ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa sampai di perlakukan seperti itu oleh alpha Roger?"


"Aku baik-baik saja Aiden, jangan khawatir."


"Apa kamu mau kembali?"


"Tidak, untuk sementara. Aku akan mencari anakku terlebih dahulu, hanya untuk memastikan dia hidup dan baik-baik saja."


"Anak? Aku tidak tahu kamu memiliki anak."


"Ya, aku juga mengetahui itu tiga tahun lalu saat cinta pertamaku meninggal."


"Cinta pertama?" tanya Aiden. Manuel terkekeh.


"Sebelum aku menemukan mateku, aku jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis cantik dan lembut, Rosie."


"Rosie... Omega dari pack kami? Dia bukan mate-mu?"


"Bukan, dia mate dari teman baikku. Tapi kamu tahu, kami saling mencintai. Setidaknya dulu, sebelum akhirnya kami menemukan mate satu sama lain. Dia mengandung anak yang aku kira anak dari sahabatku Karlos. Tapi saat Rosie sakit, dia memberitahukan padaku jika Nathan sebenarnya adalah anakku dan Karlos mengetahui hal itu. Mereka tidak ingin mengganggu pernikahanku dengan mate-ku. Karena itu mereka tidak mengatakan apapun padaku sampai Karlos mati lalu Rosie pindah ke pack alpha Roger."


"Tapi... Bukankah Rosie memiliki anak perempuan yang lebih tua dari Nathan? Lalu bagaimana bisa..."


"Itu... Kami melakukan kesalahan. Kesalahan besar. Karlos hampir membunuhku karena hal itu."

__ADS_1


"Karena itu kamu pindah ke pack alpha Roger?"


"Benar. Aku tidak ingin mengganggu mereka. Kamu tahu, saat itu terjadi aku belum menemukan mateku, jadi... Seperti itu."


"Apa Nathan tahu bahwa kamu adalah... Ayah kandungnya?"


"Tidak, aku rasa tidak. Aku berusaha menjaganya, mengajarinya tentang apapun, sehingga dia menjadi manusia serigala yang kuat. Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya."


"Jadi... Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Mencari Nathan."


"Dan membawanya kembali?"


"Tidak jika dia tidak ingin." Manuel menghela nafas. "Aku harap dia tidak ingin kembali. Alpha Roger telah memperlakukannya dengan buruk. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."


"Ya, aku mengerti. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika Don, anakku seperti itu."


"Tapi... Apa alpha Jackson akan membiarkanku pergi? Aku tahu aku bukan anggota pack yang baik saat aku menjadi anggota packnya."


"Kamu tahu alpha Jackson, kamu pernah menjadi bagian dari pack ini. Dia tidak akan menahanmu Manuel. Alpha Jackson hanya terlihat seram saja, kau tahu dengan wajah penuh janggut dan tatapan tajamnya. Bahkan singapun takut padanya." Aiden tertawa. Manuel tersenyum.


"Ya, dia alpha terbaik yang pernah aku punya."


"Kapan kamu akan pergi?"


"Besok. Aku harus pergi besok."


"Dan setelah memastikan dia baik-baik saja, kamu kembali pada alpha Roger?"


"Iya."


"Dia akan menyiksamu, Manuel."


"Aku tahu. Tapi aku juga tahu, dia tidak akan membunuhku. Setelah aku tahu Nathan baik-baik saja, aku tidak masalah dengan apa yang akan aku terima nantinya."


"Apa kamu akan memberitahukan bahwa kamu adalah ayah kandungnya?"


"Aku tidak tahu, aku takut jika dia tahu dia akan membenciku."


"Sebaiknya beritahukan saja sobat. Dia berhak tahu siapa ayah kandungnya. Katakan padanya kamu tidak mengetahui jika dia adalah anakmu."


"Aku tidak ingin dia membenci ibunya karena berkhianat dari Karlos."


"Tapi Nathan berhak tahu Manuel. Cepat atau lambat, dia akan mengetahui semuanya dan lebih baik jika dia mengetahui semua itu darimu."


Manuel terdiam. Dia tampak berpikir. Aiden menepuk pundak Manuel.


"Jangan khawatir sobat. Meskipun dia akan marah padamu, aku yakin dia tidak akan menbencimu."


"Ya, mungkin saja. Baiklah. Aku akan memberitahunya. Mudahan tidak terlambat."


"Bagus, Manuel."


Mereka berdua tersenyum.


"Berdiri berdua seperti ini, teringat masa lalu."


"Benar Aiden, seperti masa lalu."


****


Semua orang berkumpul di pemakaman. Mereka semua menghadiri pemakaman Nathan. Kei dan Tania, Zach, Aaron, Ian dan Bian juga ada di sana. Mereka menyaksikan semua proses pemakaman. Zach memutuskan memakamkan Nathan di pack Moon Roykolt sebagai anggota packnya.


"Dia yang terbaring disini, seorang pejuang." kata Anthony. "Apapun kesalahan yang pernah dia lakukan hanya masa lalu. Dia sudah membuktikan dirinya menjadi bagian dari pack, bagian dari kita, bagian dari seorang pejuang dan akan selalu begitu seterusnya. Untuk itu, kita akan selalu mengenanya sebagai bagian dari diri kita dan pack ini. Semoga beristirahat dengan tenang, pejuang."


Semua orang tertunduk. Mereka menyaksikan proses pengurburan hingga selesai.


"Kalian kembalilah terlebih dahulu." pinta Zach. Semua orang menurut. "Kamu juga Aaron." Aaron mengangguk.


"Aku akan pergi juga. Aku turut berduka Zach." sahut Kei sambil menepuk pundak Zach.


"Terima kasih Kei."


Kei dan Tania beranjak pergi.


"Bisakah kamu tetap disini bersamaku?" tanya Zach pada Bian. Bian yang akan beranjak pergi menghentikan langkahnya.


"Baiklah." Bian berdiri di sebelah Zach. Zach berjongkok.


"Terima kasih, Nathan. Kamu akan terus menjadi anggota packku dan aku akan terus menerimamu menjadi anggotaku. Aku hidup karenamu. Kamu melindungiku. Bahkan kamu bersumpah menjadi anggota packku disaat terakhirmu. Tapi aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku."


Bian menyentuh pundak Zach.


"Bukan salahmu Zach. Kita tidak bisa berbuat apapun saat itu. Ini salah alpha Roger yang membuatnya seperti itu."


"Tapi entah kenapa aku bersyukur alpha Roger melakukan itu. Karena hal itu dia menjadi anggotaku dan melakukan hal yang benar."


"Hmm ya, meskipun nyawanya menjadi taruhannya."


"Ya dan aku menyesal tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Nathan."


"Jangan menyalahkan dirimu. Aku yakin Nathan tidak ingin kamu melakukan hal itu. Nathan mati sebagai pejuang yang pemberani."


"Kamu benar. Nathan mati sebagai pejuang yang sangat berani."


"Apa kamu bilang?! Siapa yang mati?!" kata seseorang di belakangnya. Bian dan Zach menoleh. Zach berdiri dan menatap orang yang berbicara tadi. Orang itu membaca nisan yang terpampang di kuburan baru itu.


'Nathan Martinez'


Orang itu terbelalak kaget.


"Nathan? Nathan mati?"


"Ya... Dia... Mati. Tapi siapa anda?" kata Zach bingung.


"Zach..." panggil satu orang lagi.


"Alpha Sebastian... Dia.. Siapa?" tanya Zach.


"Zach dia..."


Belum selesai alpha Sebastian berbicara, orang itu menarik kerah baju Zach.


"Kenapa dia bisa mati?! Katakan padaku?!"


Orang itu mengguncang tubuh Zach kuat.


"Manuel.. Kita bisa--"


"Cepat katakan!! Atau aku akan membunuhmu dan aku tidak perduli kamu siapa!!"

__ADS_1


****


Tadariez


__ADS_2