
Kei terus mondar mandir di kamar Hans, anak Sebastian. Ian hanya duduk di kursi mengamati Kei. Kei mengacak rambutnya.
"Apa semua baik-baik saja? Apa mereka bisa melawan?" tanya Kei pada Ian.
"Aku yakin mereka baik-baik saja dan berhentilah mondar mandir. Ini sudah kesekin kalinya kamu bertanya. Tenanglah." kata Ian.
"Tenang?! Bagaimana bisa aku tenang?!" pekik Kei.
"Kei, yang bertarung di luar bukanlah manusia serigala yang lemah, tapi mereka sangat kuat. Percayalah pada mereka. Lagipula alpha Sebastian dan alpha Oston ada disana beserta para beta dan gamma terkuat."
"Tapi aku benar-benar tidak tenang Ian."
"Kamu pikir aku tenang? Aku juga sama panik dan khawatirnya denganmu. Tapi berteriak dan mondar mandir tidak akan membantu." kata Ian. Kei menghela nafas kasar. Dia duduk di pinggir kasur dan mengusap kasar rambutnya.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Kei.
"Menunggu."
Tok tok tok
Sebuah ketukan di pintu kamar yang terbuka. Ian dan Kei menoleh dan sudah ada ibu Kei yang membawa nampan berisikan minuman.
"Semua baik-baik saja, anak-anak?" tanya ibu Kei.
"Ya, bu. Kami baik." jawab Kei.
Ibu Kei masuk dan meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja kemudian duduk di sebelah Kei.
"Kamu baik-baik saja anakku?" tanya ibu Kei lembut. Kei tersenyum dan mengangguk.
"Saya permisi dulu." kata Ian. Dia pergi karena ingin memberikan kesempatan ibu dan anak itu bersama.
"Tidak Ian, jangan pergi. Tetaplah disini. Kamu juga anakku." kata ibu Kei. Ian yang telah berdiri kembali duduk.
"Aku tahu ini semua berat untukmu dan aku minta maaf karena kamu harus menjalani ini semua. Aku ingin sekali kamu menjadi remaja yang normal tanpa ada hal yang menyakitimu seperti ini." kata ibu Kei lirih.
"Kei memang tidak normal bu, tidak akan normal. Apa ibu lupa kita bukan manusia biasa?"
"Ahh ya, itu benar." ibu Kei tertawa disusul oleh Kei. Ian hanya tersenyum mendengarkan.
"Tapi ibu tahu kamu anak yang kuat. Meskipun tanpa semua ini, kamu tetap anak yang kuat. Ibu tahu kamu bisa menghadapi semua ini. Percayalah pada dirimu sendiri dan pada orang-orang terdekatmu. Ibu akan selalu mendukungmu disini apapun yang terjadi." ibu Kei mulai menitikkan air mata. "Dylan pergi membuat ibu sangat terpukul hingga membuat jarak antar kamu dan ibu. Ibu minta maaf, karena ibu egois."
"Tidak bu, jangan minta maaf. Kei yang minta maaf sudah tidak mengerti ibu."
"Ibu sudah kehilangan Dylan dan ibu tidak ingin kehilangan kamu juga, putra ibu. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa ibu sangat menyayangimu dan apapun yang terjadi, tetaplah menjadi dirimu sendiri, menjadi Kei."
"Kei berjanji akan berusaha bu."
Kei dan ibunya berpelukan. Ibu Kei masih terus menangis di dalam pelukan Kei. Kei melepaskan pelukkannya dan mengusap air mata ibunya.
"Jangan menangis lagi bu." pinta Kei. Ibu Kei mengangguk dan menghapus air mata dipipinya.
"Dan kamu Ian, terima kasih telah menjaga Kei selama ini. Aku telah berjanji pada ibumu akan menjagamu seperti anakku sendiri, tapi justru kamu yang terus-terusan menjaga kami."
"Tidak apa-apa luna, itu sudah tugas saya. Lagipula saya hanya menjaga keluarga saya. Alpha, luna, Kei dan Aira adalah keluarga saya dan saya akan terus menjaga keluarga saya." kata Ian. Ibu Kei tersenyum lembut dan memegang tangan Ian.
"Ibu......." panggil Aira dan langsung masuk kekamar dan memeluk ibunya. "Ibu, kenapa ibu menangis? Apa kakak jahat pada ibu?"
Aira menatap Kei dengan tatapan yang tajam. Kei tersenyum geli.
"Tidak, tidak apa-apa. Bukan kakakmu yang membuat ibu menangis."
"Lalu kenapa ibu menangis?" tanya Aira.
"Karena ibu bahagia ada Aira, kakak Kei dan kakak Ian bersama ibu." kata ibu Kei. Aira masih menatap ibunya heran. "Sedang apa Aira disini? Tidak bermain dengan kak Lani?"
"Kak Lani bilang dia ngantuk lalu masuk kamar. Ibu apa kita bisa pulang? Kenapa kita disini?"
"Kita akan disini untuk sementara waktu, hanya sementara."
"Lalu apa kita bisa tidur? Aira mengantuk."
"Baiklah, ayo kita tidur." ajak ibunya. Ibu Kei berdiri dan mencium kepala Kei lembut lalu keluar kamar.
"Aku sangat berharap semua baik-baik saja." gumam Kei.
****
__ADS_1
Bian dan Kate sampai berdiri di depan sebuah pintu. Pintu itu cukup besar dan disana cukup gelap hanya penerangan dari lampu kecil di atas mereka. Sebelum itu mereka sudah melumpuhkan beberapa manusia serigala dan penyihir.
"Apa kamu siap?" bisik Bian. Kate mengangguk. "Satu, dua...
Brakk!
Bian dan Kate membuka pintu itu. Tidak ada satupun orang disana termasuk Tania. Mereka terkejut.
"Tidak ada orang disini. Apa kamu yakin ini tempatnya?" tanya Kate.
"Tentu, aku yakin." kata Bian.
Seluruh ruangan itu kosong, tidak ada apapun di dalamnya. Kate berteriak kesal.
"Kate..." panggil Bian. "Apa mungkin ini adalah mantra.."
"Tak terlihat. Iya Bian. Mungkin ini mantra tak terlihat. Ayo kita baca bersama-sama mantranya."
Kate meraih tangan Bian dan menggenggamnya erat. Mereka sudah berhadapan sekarang.
"Siap?" tanya Kate. Bian mengangguk.
"Deschide uşa încuiată, Arată-mi secretele tale"
"Deschide uşa încuiată, Arată-mi secretele tale"
"Deschide uşa încuiată, Arată-mi secretele tale"
Tiba-tiba seluruh ruangan penuh kabut yang tebal dan semakin lama semakin menipis lalu hilang. Bian dan Kate terbelak kaget. Mereka melihat Tania di ujung ruangan yang sangat luas dan besar itu. Tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, melainkan sudah ada penyihir dan manusia serigala yang sudah menunggu mereka. Dan jumlah mereka tidak sedikit.
"Oh ****."
****
Terdengar teriakan dari luar rumah. Kei dan Ian saling pandang lalu segera berlari ke jendela. Mereka melihat keluar jendela. Sudah terdapat banyak kilatan-kilatan cahaya. Para penyihir sedang bertarung. Para pasukan manusia serigala juga ikut membantu. Kei dan Ian langsung berlari keluar.
"Kei!!" panggil ibunya. Kei menghentikan langkahnya. "Jangan keluar. Tetap di dalam."
Ian yang sempat ikut berhenti, kemudian berlari kembali. Kei diam sejenak tapi akhirnya kembali berlari.
Ian dan Kei sudah sampai di luar. Semua orang sedang bertarung.
"Kei masuklah, biar aku yang mengatasinya." ucap Ian.
"Tidak, aku tidak mau."
"Kei--"
Tiba-tiba Ian terhempas dan mengenai dinding rumah.
"Ian!!" pekik Kei terkejut.
Ian menggeram dan langsung berubah menjadi serigala lalu menyerang penyihir itu. Kei hanya menatap kedua itu bertarung.
"Hai sepupu." kata sebuah suara. Kei menoleh.
"Fred, Cayden."
"Ternyata kamu masih ingat kami. Aku kira kamu sudah melupakan kami." Fred menyeringai. "Aku sangat merindukanmu."
"Jangan berkata omong kosong. Mau apa kamu?" kata Kei dingin. Fred melangkah mendekat.
"Aku hanya ingin menyapamu." kata Fred.
"Aku tidak bodoh Fred."
"Oh aku tahu itu. Kamu hanya terlalu naif. Bagaimana jika kita melanjutkan pertarungan kita? Aku rasa itu belum selesai."
"Aku tidak perlu melawan orang pengecut sepertimu."
"Hahaha...." Fred tertawa keras. "Apa kamu takut sepupu? Takut menjadi monster itu? Oh ayolah, ini tidak akan menarik."
"Sepertinya semenjak dia pindah kesini dia semakin menjadi pengecut kakak." sahut Cayden.
"Kamu benar adikku. Alpha dari semua alpha." Fred tertawa mengejek. "Tidak ada alpha yang pengecut sepertimu."
"Sepertinya kamu sudah salah orang, aku bukanlah alpha." kata Kei.
__ADS_1
"Kalau begitu ayolah bertarung. Kau alpha atau tidak, kita bisa buktikan." kata Fred. Fred mengubah dirinya menjadi serigala. Fred melolong keras. Kei berjalan mundur. Dia ragu. Dia sudah tidak mengenakan kalung pemberian Bian itu lagi.
"Apa kau takut sepupu?!" ejek Cayden.
Kei merubah dirinya menjadi serigala dan ikut melolong keras. Fred mengangkat tubuhnya dan mendaratkan cakaran yang cukup keras dan dalam di tubuh Kei. Kei mengerang kesakitan lalu berbalik mencakar. Awalnya Kei bukanlah lawan sebanding dengan Fred. Fred lebih unggul. Tapi setelah melalui latihan, Kei menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini Fred yang mengerang. Kei menggigit tangan Fred. Fred melepaskan diri dari Kei. Dia menatap Kei tajam dan menggeram pelan. Fred kembali menyerang Kei, kali ini dia tidak memberikan kesempatan pada Kei untuk melawan. Kei terus di hujani dengan cakaran dan gigitan. Fred mendorong tubuh serigala Kei dengan Keras. Kei terhempas di tanah.
'Kei!!'
Ian berlari dan menyerang Fred, mendorong tubuh Fred dengan kuat. Ian bersiap menerjang Fred lagi, tapi Kei menghalanginya.
'Tidak Ian, ini adalah pertarunganku.'
Ian terdiam sejenak, lalu mundur kebelakang.
'Ayo kita selesaikan pertarungan kita Fred, hanya kau dan aku.'
'Dengan senang hati sepupu'.
Fred bangkit dan bersiap bertarung. Mereka masing-masing melolong keras. Kei berlari ke arah Fred lalu melompat tinggi. Fred sigap menghindar. Fred berbalik dan mencakar Kei. Kei balas menggigit. Kei menyerang Fred. Fred kewalahan menghadapi Kei yang tiba-tiba menjadi kuat dan bersemangat. Fred mencoba terus menghindar tanpa melawan kembali. Sampai akhirnya tubuhnya lemas dan terluka parah. Fred sudah tersungkur di tanah dengan Kei yang berada di atasnya. Kei menggeram keras.
'Bunuhlah aku sekarang, kau menang.' kata Fred.
'Aku bukan kau Fred.'
'Kau akan menyesal jika tidak membunuhku Kei.'
'Aku sudah bosan dengan semua ancamanmu Fred.'
Srutt!!
Tubuh Kei menegang seketika. Ada sesuatu yang menusuk tubuhnya. Cayden sudah berdiri disana dengan pedang yang tertusuk di tubuh Kei. Cayden melepaskan pegangannya pada pedang itu. Kei mengayunkan tangannya membuat Cayden terhempas.
Ian yang terkejut lalu melolong keras. Tak lama Kei berubah menjadi manusia kembali dengan pedang yang masih tertusuk di pinggangnya.
"Kei!!" pekik Ian saat sudah berubah menjadi manusia.
"I-ian." Kei meringis kesakitan dengan masih dalam posisi duduk. Fred berubah menjadi manusia kembali. Lalu terdengar suara tepuk tangan.
"Bagus, bagus, bagus sekali." kata seorang pria yang masih bertepuk tangan. "Kerja yang bagus pangeran Fred, pangeran Cayden. Kerja sama saudara yang sangat bagus."
"Ka-kau." kata Kei terbata. Kei mengenali pria itu sebagai pria yang mengambil kalungnya.
"Kita berjumpa lagi. Kali ini akan aku selesaikan semuanya." kata pria itu.
"Mayes."
"Damian. Tidak aku sangka aku bisa bertemu denganmu disini tapi aku minta maaf karena aku tidak bisa beramah tamah padamu. Ada urusan yang harus aku selesaikan." kata Mayes.
"Mayes, urusan mereka bukanlah urusan kaum kita. Berhentilah sekarang." kata Damian. Mayes tersenyum sinis.
"Bukannya kamu juga membantu mereka?" tanya Mayes.
"Itu karena kamu ikut campur urusan mereka."
"Sebuah alasan yang tidak mengejutkan sebenarnya. Tapi kami juga mempunyai alasan khusus tentu." kata Mayes. Mayes mengalihkan pandangannya pada Kei. "Jadi pangeran, mari kita mulai."
Mayes membaca mantra. Mantra yang tidak di mengerti Kei. Tiba-tiba tubuh Kei terasa sakit. Dadanya terasa terbakar.
"Sa-sakiit." keluh Kei.
"Mayes hentikan." sahut Damian. Damian mencoba menyerang Mayes, tapi Mayes masih bisa menghindar dan membalas menyerang hingga Damian sedikit termundur. Mayes terus membaca mantra. Tak lama tumbuh kuku-kuku panjang dari jari tangan dan kaki Kei.
"Ian, aku mau berubah." kata Kei panik. Kei berteriak keras. Badannya terasa remuk dan tulang-tulangnya berbunyi seperti patah satu persatu.
"Ian, bawa ibu dan Aira ke tempat yang jauh." sahut Kei lagi. Kei mengerang kembali.
"Kei, melawanlah. Aku tahu kamu bisa." kata Damian. Kei mengerang kembali.
"Ian... Cepat pergi...!!!!!"
Tapi Ian masih tidak bergerak.
"AAAARRRRRGGGHHHHH......!!!!!!"
****
tadariez
__ADS_1