
Zach menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia hanya bisa duduk diam di ruang ganti. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Tidak apa-apa Zach. Itu hanya kecelakaan... Kecil." Rodney mencoba menghibur.
"Itu bukan kecelakaan kecil Rod, itu malapetaka." sahut Brad.
"Hei, jangan memperparah keadaan." protes Rodney.
"Tiang itu rubuh dan pertandingan ditunda. Tapi ya.. Baiklah. Setidaknya dia mencoba." Brad akhirnya diam.
"Sudahlah..." Adrian mendengus kesal. "Ada masalah lebih besar."
"Apa itu?"
"Aku tidak melihat Austin dan Roland sedari tadi. Kemana mereka?"
"Apa tadi mereka datang?" tanya Brad.
"Aku melihat Roland saat pertandingan di mulai, setelah itu aku tidak melihatnya lagi. Sementara Austin... Dia bilang akan datang setelah berpatroli, tapi dia tidak datang sama sekali. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya." Adrian tampak cemas sekarang.
"Untuk apa Austin berpatroli?" akhirnya Zach mengeluarkan suaranya.
"Untuk mengetahui jika ada penyusup." jawab Brad.
"Apa maksudmu? Penyusup apa?"
"Zach, kamu itu spesial. Jika ada penyusup dan mengetahui keberadaan kamu, kamu akan celaka. Untuk itu kami terus berpatroli secara bergantian." jelas Adrian.
"Karena aku manusia serigala keturunan murni?" tanya Zach.
"Karena kamu manusia serigala keturunan murni. Kamu harus aman. Setidaknya sampai paman Dustin datang." gumam Adrian.
"Memangnya dia... Uhmm.. Alpha, kemana?" tanya Zach.
"Alpha pergi menemui raja Lycanthrope." jawab Brad.
"Whoaa... Apa itu benar? Raja Lycanthrope memang ada?" tanya Rodney yang mulai tertarik.
"Iya, dan ku dengar dia masih berumur tujuh belas tahun." kata Brad.
"Whoaa... That's awesome.."
"Jadi.. Apa kita mencari Austin dan Roland?" tanya Brad.
"Ya, ayo kita pergi Brad." ajak Adrian.
"Aku ikut."
"Tidak perlu Zach, cukup kami saja."
"Tidak, kalian bilang aku perlu berlatih dan aku rasa inilah saatnya. Aku mohon ajaklah aku." pinta Zach. "Aku akan berusaha mengendalikan serigalaku."
"Hmm... Baiklah. Kamu memang manusia serigala bagaimanapun juga. Ayo kita pergi dan kau Rod, pulanglah. Kamu bukan manusia serigala."
"Ya, aku tahu itu." ucap Rod.
Zach, Adrian dan Brad mulai beranjak dari kursinya tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sudah ada Daryl berdiri dihadapan mereka dengan tatapan bingung.
"Apa yang kalian katakan tadi? Zach apa dan Kalian apa?" tanya Daryl.
"Daryl, aku bisa jelaskan..."
Zach maju perlahan tapi Daryl mundur.
"Tunggu dulu, ini leluconkan? Manusia serigala? Itu hanya mitos. Benarkan? Rod, aku benarkan? Itu hanya khayalan kamu saja." elak Daryl.
"Maaf Daryl. Tapi manusia serigala bukanlah mitos." kata Rodney.
"Kami manusia serigala." kata Adrian.
"Dan... Aku juga." ucap Zach.
Daryl terdiam sejenak, menatap semua orang yang berdiri di hadapannya lalu tertawa.
"Lelucon kalian bagus tapi sangat tidak lucu." kata Daryl.
"Daryl, aku tidak sedang bercanda!" tegas Zach.
"Zach, aku temanmu semenjak kita berumur lima tahun, for goodness sake!!! Aku tahu jika ada sesuatu yang aneh padamu, aku pasti tahu!" pekik Daryl.
"Daryl, tenanglah. Aku baru mendapatkannya."
"Dia, Rodney, pernah berkata... Jika digigit manusia serigala, kita akan menjadi manusia serigala. Jadi maksudmu... Kau digigit oleh mereka?"
"Tidak seperti itu. Ceritanya panjang. Akan aku ceritakan, nanti. Sekarang kami harus pergi mencari Austin dan Roland. Nanti aku jelaskan."
"Aku ikut." ucap Daryl.
"Oh.. Tidak, tidak. Aku tidak mau mengajakmu. Itu berbahaya Daryl."
"Lalu kamu mau aku percaya tanpa melihatmu berubah?"
"Itu bisa menunggu Daryl."
"Tidak, aku ikut. Suka atau tidak." tegas Daryl.
"Aaargghh baiklah, baiklah. Tapi tetap di belakang. Jangan jadikan aku harus menyelamatkanmu." kata Zach akhirnya.
"Waaah kau sudah seperti alpha sejati." Brad menganggukkan kepalanya.
Pletak!!
"Aww!!" Brad mengelus kepalanya yang dipukul Adrian.
"Jangan berpikiran macam-macam. Ayo kita pergi."
Adrian melangkah pergi, disusul oleh Brad. Zach dan Daryl saling pandang lalu menyusul beserta Rodney yang akhirnya ikut.
Mereka sampai di hutan. Adrian dan Brad berhenti seketika.
"Bau mereka ada disini."
"Iya, aku juga menciumnya. Bersama bau serigala lainnya."
"Kita berpencar saja Brad, kau kesana dan aku kesana." kata Adrian sambil menunjuk arah yang akan mereka tuju. "Dan kau Zach, jaga disini. Jika mereka kemari atau ada yang menyerangmu, aku mohon, melolonglah. Kau tahu, lolongan serigala."
"Ohh... Okay. Aauu?" kata Zach. Brad menepuk jidatnya.
"Aku kira dia tidak hanya tampan tapi jenius juga, ternyata aku salah." Brad menggelengkan kepalanya.
"Berubahlah jadi serigala. Kamu mengerti? Aku yakin kamu bisa." Adrian menepuk pundak Zach. "Ayo kita pergi Brad."
Adrian dan Brad berlari ke arah yang berlawanan. Mereka berubah menjadi serigala besar membuat Daryl membulatkan matanya.
"Kalian diam saja disini. Aku... Mau coba berubah." ucap Zach. Zach menarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Kamu... Akan berubah menjadi serigala?" tanya Daryl.
"Iya, bukannya kamu ingin melihatnya?"
Zach menutup matanya dan fokus. Tapi tidak berhasil. Dia mengelengkan kepalanya. Fokus Zach, kamu bisa.
"Rod, apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak berubah dan hanya menggelengkan kepalanya?" bisik Daryl.
"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya itu karena dia baru menjadi manusia serigala." balas Rodney dengan berbisik juga.
__ADS_1
"Ohh... Jadi dia masih pemula?" bisik Daryl lagi.
"Begitulah."
"Aaarrrggggg...!!! Kalian berisik sekali!!" pekik Zach.
"Ah... Maaf, maaf. Kan kami hanya berbisik." kata Daryl.
"Apa kamu tidak tahu jika pendengaran manusia serigala lebih kuat dari manusia biasa?!"
"Aaahhh baiklah, baiklah. Jangan marah. Pemarah sekali. Apa jadi manusia serigala membuatmu jadi lebih pemarah dari biasanya?"
"Oke, sudahlah. Berhenti bertengkar." lerai Rodney.
"Kami tidak bertengkar Rodney, hanya saja dia sedikit--"
"Sstt.." potong Zach. "Diamlah, Aku mendengar suara."
Mereka terdiam. Zach berusaha mendengarkan suara itu lagi. Suara itu semakin lama semakin mendekat dan jelas. Bahkan Rodney dan Daryl juga mendengarnya. Rodney dan Daryl mendekat diri mereka pada Zach.
"Zach..." panggil seseorang dengan suara yang lemah. Daryl dan Rodney tidak mendengar suara itu, hanya Zach. Zach menyipitkan matanya.
"Itu Roland dan Austin."
Zack berlari ke arah Roland dan Austin. Daryl dan Rodney saling pandang lalu ikut berlari mengejar Zach. Zach melihat Roland memapah Austin. Zach mengambil tangan Austin yang satu lagi dan membantu memapahnya. Zach dan Roland mendudukkan Austin dipohon.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Zach.
"Austin di serang Zach. Kemana yang lain?" tanya Roland. Tubuh Roland juga penuh luka. Tapi dia masih lebih baik dari Austin.
"Mereka pergi mencari kalian."
"Aku akan--" Roland menghentikan kata-katanya. Dia berdiri seketika dan menggeram. Zach bingung melihat Roland. Zach melihat ke arah yang di tatap Roland.
"Daryl, Rodney... Tetap di belakang kami dan jaga Austin."
Zach ikut berdiri. Roland merubah tubuhnya menjadi serigala dan maju ke depan. Roland menggeram keras. Lalu muncul tiga ekor serigala dari balik semak. Zach masih berdiri di belakang Roland dan belum berubah menjadi serigala.
'Mau apa lagi kalian?!'
'Aku masih harus membawa alpha lemah itu.'
'Tidak akan kubiarkan.'
'Kau sudah kalah. Lihat saja temanmu itu. Kalian lemah! Jadi jangan menghalangiku!'
'Meskipun aku harus mati, aku tidak akan membiarkanmu mendekati alpha.'
'Jangan keras kepala'
Roland menggeram lalu melompat dan menyerang ketiga serigala itu. Tapi Roland kalah tentu, selain karena Roland kalah jumlah, Roland juga sudah lemah setelah bertarung dan menyelamatkan Austin. Zach melihat itu dan menggeram marah.
"Hentikan!" ucap Zach. Tapi tidak di hiraukan oleh Roland maupun ketiga serigala itu.
"Aku bilang, hentikan!!" pekik Zach.
Tak lama Roland sudah terbujur tidak berdaya. Dia mengerang kesakitan. Zach menggeram marah lalu berubah menjadi serigala. Zach maju kedepan.
Salah satu serigala mencoba menyerang Zach. Dia menggigit Zach. Zach mengerang marah dan balas menggigit. Zach merobek kasar kulit serigala itu. Darah berhamburan. Serigala lain mulai menyerang, Zach menggeram dan...
"Rrrrgghhh...."
Zach menatap marah kedua serigala lain. Kedua serigala yang akan menyerang Zach, terdiam ditempatnya. Zach mendatangi mereka dan menggeram, menunjukkan gigi-gigi tajamnya. Kedua serigala itu menatap Zach dengan takut, terlebih mata Zach yang sangat mengintimidasi mereka.
'Pergi kalian.. Sekarang!! Sebelum aku benar-benar marah dan membunuh kalian.'
Zach memperingatkan mereka. Mereka langsung pergi dan meninggalkan teman mereka yang telah digigit oleh Zach dan berubah menjadi manusia. Zach menatap manusia serigala yang telah terbaring di tanah. Zach menutup matanya dan berubah kembali menjadi manusia.
"Waah Zach, kau memang manusia serigala. Itu tadi luar biasa." puji Daryl. Zach tidak menghiraukan pujian Daryl dan mendatangi Roland.
"Kami baik-baik saja Roland?" tanya Zach.
"Hei, guys... Dia.. Masih hidup." Rodney menunjuk manusia serigala yang terbaring lemah di tanah dengan luka yang cukup parah. Manusia serigala itu yang tadi menyerang Zach dan Zach menggigit tubuhnya. Roland mendatanginya.
"Dia sekarat." kata Roland.
"Apa karena aku menggigitnya dengan terlalu kuat?" Zach sedikit menyesal.
"Meskipun tidak terlalu kuat, dia tetap akan sekarat Zach. Gigitan alpha sangat beracun dan kau adalah alpha Zach. Gigitanmu sangat beracun, bahkan untukku." jelas Roland.
"Jadi, meskipun Zach hanya menancapkan giginya dan dia hanya terluka sedikit, dia tetap sekarat?" tanya Rodney. Roland mengangguk.
"Gigitan alpha, terlebih Zach adalah alpha murni yang artinya gigitannya lebih beracun dari alpha biasa."
"Kasihan sekali dia. Lihatlah.. Dia terlihat... Sangat... Muda." Daryl memperhatikan manusia serigala itu.
"Hmm.. Sepertinya belum lima belas tahun?" tambah Rodney.
"Aku juga berpikiran begitu. Kenapa orang yang begitu muda di berikan tugas sesulit ini?"
"Dia tidak semuda itu. Dia masih enam belas tahun, itu yang aku perkirakan." kata Roland.
"Jadi... Apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya?" tanya Zach.
"Kau ingin menyembuhkannya Zach? Tidak, tidak. Dia menyerangmu tadi." protes daryl
"Lihatlah Daryl, dia... Masih muda. Sama seperti kita. Kasihan dia." kata Zach. Terdengar suara rintihan lagi. Manusia serigala yang digigit Zach merintih dan bergetar hebat.
"A-ada apa dengannya?" tanya Daryl yang panik.
"Dia sudah sangat sekarat."
"Bu-bukannya manusia serigala bisa menyembuhkan diri?" tanya Rodney.
"Tidak jika itu gigitan alpha." kata Adrian yang baru saja bergabung bersama mereka. "Dia tidak akan bisa memyembuhkan diri. Dia akan mati jika di biarkan."
"Bagaimana menyembuhkannya?" tanya Zach.
"Kamu yakin ingin menyembuhkannya?" tanya Adrian.
"Kasihan dia. Lagipula aku yakin dia di perintah oleh alphanya untuk mengintai dan menyerangku. Bukan kemauannya sendiri."
"Itu mungkin saja. Sepertinya dia gamma atau omega."
"Jadi bagaimana?" desak Zach.
"Kamu harus menjilat lukanya. Air liurmu bisa menyembuhkan lukanya. Tapi... Secara bertahap. Tidak langsung sembuh. Butuh waktu."
"Tidak masalah. Yang penting dia sembuh." ucap Zach.
"Jadi... Zach..." Daryl menunjuk Zach. "... Harus menjilatnya? Ughh menjijikkan."
"Hei, hei, bukan Zach yang dalam bentuk manusia. Tapi harus dalam bentuk serigala." protes Brad. Daryl mengangguk.
"Rubah dirimu Zach. Cepatlah, dia tidak punya waktu lagi." kata Roland. Zach mengangguk lalu pergi agak jauh dan menutup matanya. Dia memerintahkan tubuhnya untuk berubah tapi dia tidak bisa.
"Fokus Zach, konsentrasi. Kamu yang mengendalikan tubuhmu, bukan sebaliknya." kata Adrian. Zach mengangguk.
Zach menutup matanya lagi dan kali ini dia berhasil merubah dirinya. Zach berjalan mendekati manusia serigala yang digigitnya tadi. Roland membalikkan tubuh manusia serigala itu. Lukanya berada di punggungnya. Zach menjilati luka itu.
"Aaaaakkkkhhhhh....!!!" manusia serigala itu berteriak.
"Kenapa dia berteriak seperti itu?" tanya Daryl.
"Perih. Itu pasti sakit sekali." gumam Roland.
__ADS_1
"Sudah selesai Zach, uhmm... alpha. Kembalilah seperti semula." kata Adrian yang mendadak sopan. Daryl mengerutkan keningnya. Zach kembali menjadi manusia biasa.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Zach.
"Dia akan baik-baik saja. Tenanglah." kata Roland. "Tapi kita harus membawanya kesuatu tempat, untuk menyembunyikannya."
"Dirumah kalian bagaimana? Kalian kan manusia serigala." kata Rodney.
"Tidak aman."
"Bagaimana jika dengan rumah Zach? Dia alpha kan?" saran Daryl.
"Tetap tidak aman."
"Tunggu dulu, bukannya temannya sudah meninggalkannya? Tidak mungkin mereka kembali. Mereka tahu Zach adalah alpha dan Zach sudah menggigitnya. Mereka pasti mengira dia sudah mati." kata Brad.
"Tapi aku yakin mereka akan memeriksanya. Kita tidak bisa mengambil resiko." kata Adrian.
"Adrian benar. Kita harus menyembunyikannya."
"Lalu di mana?" tanya Brad.
"Di... Tempat... Da-Daryl saja..." suara terbata Austin menjawab.
"Austin! Kau baik-baik saja?!" pekik Brad.
"Ahh kau su-sudah menyadari... Keberadanku?" Austin menatap Brad kesal.
"Hehehe maaf." Brad menggarukkan kepalanya.
"Austin benar, di rumah Daryl saja."
"Hei, tunggu dulu. Kenapa jadi rumahku?"
"Hanya rumahmu yang aman Daryl."
"Kalian bercanda kan? Rumah kalian para manusia serigala saja tidak aman, apalagi aku yang hanya manusia biasa?" protes Daryl.
"Tapi kamu bukan manusia biasa Daryl." kata Ronald.
"Apa maksudmu? Aku manusia biasa. Apa kamu pikir aku manusia serigala juga?" Daryl bingung.
"Dia manusia serigala?" tanya Zach terkejut.
"Tentu saja bukan. Zach... Maksudku... Alpha, gunakanlah insting anda, penciuman anda, agar bisa membedakan mana yang manusia biasa mana yang makhluk supranatural. Anda bisa membedakannya, terlebih anda adalah alpha." kata Adrian.
"Oh baiklah. Tapi.. Kenapa kamu tiba-tiba berkata sopan padaku?"
"Itu karena--"
"Hei, hei tunggu dulu. Mari kita bicarakan tentang aku dulu." kata Daryl dengan masih kebingungan. "Bagaimana bisa rumahku aman? Lalu kenapa dengan makhluk supranatural? Memangnya aku makhluk supranatural? Aku manusia biasa!"
"Tidak terlalu biasa Daryl. Kau penyihir." kata Adrian yang membuat Daryl semakin terkejut.
"Aku... Apa?"
"Penyihir. Kau adalah penyihir, Daryl." jelas Roland. Daryl terdiam sejenak.
"Bwuahahahhahaha....!!! Kalian bercandakan? Kalian lucu sekali!!" Daryl tertawa keras. Adrian mendengus kesal.
"Kakekmu bernama Hendrik Lawson, benarkan?" tanya Adrian. Daryl menghentikan tawanya.
"Ba-bagaimana kau tahu?" kali ini Daryl bingung.
"Tentu saja kami tahu. Kakekmu adalah penyihir, Daryl dan dia sangat terkenal di dunia sihir."
"Kakekku? Apa maksudmu?"
"Kakekmu penyihir dari kaum hitam. Kaum hitam selalu melakukan kejahatan Daryl. Mereka jahat." kata Ronald.
"Jadi maksudmu... Kakekku jahat?"
"Awalnya. Lalu dia berkhianat pada kaum hitam dan beralih menjadi kaum putih, yang sekarang dipimpin oleh yang terpilih. Kaum putih melakukan kebalikannya dari kaum hitam."
"Dan aku dengar juga..." lanjut Adrian. "... Dia, kakekmu tidak ingin melakukan kejahatan lagi setelah dia menikah dengan nenekmu karena itu dia berkhianat dari kaum hitam dan beralih menjadi anggota kaum putih."
"Bagaimana kalian tahu, sementara aku tidak?"
"Kami mencari tahu latar belakang dari semua teman Zach, terutama teman dekatnya. Kami pun terkejut mengetahui siapa kalian." kata Roland.
"Maksudmu... Aku makhluk supranatural juga?" tanya Rodney.
"Tidak, kamu manusia. Tapi kamu adalah keturunan dari penjaga supranatural."
"Penjaga?"
"Iya, penjaga. Dulu para makhluk supranatural membuat perjanjian dengan manusia biasa. Kami para manusia serigala juga berjanji tentu, tidak akan membongkar identitas kami dan tidak akan melukai manusia, asalkan kami dibiarkan membaur dengan manusia. Dan satu manusia biasa yang menjaga perjanjian itu beserta buku supranatural."
"Buku?"
"Buku yang kamu miliki. Itu adalah buku tentang makhluk supranatural, tentang bagaimana rupa mereka, siapa saja, apa saja kekuatan mereka, semua ada. Dari penyihir sampai manusia serigala juga ada. Dan buku itu tidak bisa dilihat oleh manusia biasa kecuali dari keturunan langsung penjaga itu dan orang itu adalah kau, Rodney. Kau bisa melihat buku itu berarti kau pemiliknya sekarang dan kamu juga menjadi penjaga rahasia itu." jelas Adrian. Rodney terdiam, masih mencoba untuk mencerna apa yang di katakan Adrian.
"Dan kamu Daryl." lanjut Adrian. "Kakekmu sengaja menutupi jejakmu untuk melindungimu dari kaum hitam. Tapi kau sudah berumur tujuh belas tahun yang berarti kau sudah dewasa. Mungkin karena itu sihir kakekmu memudar. Aku akan mengenalkan padamu dengan temanku. Dia penyihir kaum putih, dia akan membantumu."
"Bukan teman, tapi kekasih." kata Brad.
"Jangan berkata sembarangan." protes Adrian.
"Siapa yang sembarangan? Memang benar kekasih dan aku lihat kau dan dia sudah--"
"Aaarrgghh... Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja." Adrian mendengus kesal.
"Jadi Daryl, hanya rumahmu yang aman karena dilindungi oleh mantra pelindung. Jadi makhluk supranatural tidak kan masuk dengan mudah." jelas Ronald.
"Tapi aku bisa masuk." kata Zach.
"Itu saat kamu belum menjadi manusia serigala seutuhnya Zach. Sekarang sudah, jadi kamu tidak bisa masuk dengan mudah."
"Lalu bagaimana dia bisa masuk?" Dary menunjuk manusia serigala yang masih pingsan.
"Jika kamu mengijinkannya masuk. Rumah itu atas nama siapa?"
"Kakek memberikannya padaku."
"Berarti kau pemiliknya yang membuatmu menjadi tuan rumah yang sah. Hanya dengan ijinmu dia bisa masuk."
"Seperti... Vampir." gumam Rodney.
"Benar. Tapi bedanya rumah penyihir yang sudah diberi mantra pelindung berlaku untuk seluruh makhluk supranatural. Kalau rumah manusia biasa hanya berlaku untuk vampir, sementara makhluk lain bisa masuk." jelas Adrian.
"Jadi... Dia aku bawa?" tanya Daryl.
"Tentu, kami akan membantumu memapahnya."
"Tapi bagaiman jika dia menyerangku dan keluargaku saat dia sadar nanti?"
"Dia masih lemah Daryl. Untuk berubah menjadi serigala saja dia tidak bisa karena tidak punya cukup tenaga untuk itu. Kau akan aman, setidaknya untuk beberapa hari ini. Kami akan mengawasinya juga tentu."
Daryl mengangguk.
"Ayo kita angkat Dia. Austin bagaimana denganmu?"
"Aku sudah mulai membaik, penyembuhanku cepat."
"Bagus, ayo kita pergi sebelum ada yang datang lagi."
__ADS_1
****
tadariez