My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Kedatangan Bian


__ADS_3

Jake menggendong Casey di punggungnya. Casey yang panik sudah mulai tenang. Kepalanya disandarkan di pundak Jake.


"Jake?"


Jake berhenti dan menoleh.


"Yang mulia?" kata Jake. Kei dan Ian mendatangi Jake.


"Jake, apa yang terjadi?" tanya Kei.


"Kami diserang sekelompok manusia serigala, yang mulia. Mereka banyak. Kami semua sibuk mengalihkan mereka ke hutan dan lembah, agar mereka tidak menyakiti manusia biasa. Kami sedikit kewalahan dengan jumlah mereka." jelas Jake.


"Tania! bagaimana dengan Tania?" tanya Kei.


"Yang mulia ratu sudah berada di rumah alpha Sebastian dan di jaga ketat di sana. Beberapa di antara mereka menginginkan Ratu dan Anne."


"Anne? Kenapa mereka menginginkan Anne juga?" tanya Ian.


"Saya tidak tahu beta."


"Tapi mereka selamat kan?"


"Iya beta. Ratu dan Anne sedang berada di rumah alpha Sebastian dan mereka baik-baik saja. Hanya kakak yang mulia ratu yang terluka."


"Kakak? Andy?"


"Bukan yang mulia. Kalau tidak salah, namanya Ryan."


"Ryan?" Kei dan Ian saling pandang.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang."


"Baik yang mulia. Saya akan mengantar Casey pulang lalu menyusul ke sana." kata Jake.


"Baiklah, antarkan dia pulang dengan selamat." kata Kei lalu pergi meninggalkan Jake.


****


Suara rintihan Ryan semakin pelan. Ryan sudah semakin lemah.


"Bagaimana ini Swan?"


"Maafkan alpha, dia hanya seorang manusia. Dia harus di rawat secara manusia biasa. Dia harus di operasi." kata Dokter Swan.


"Baiklah, ayo bawa dia pergi."


"Sudah terlambat, jika tubuhnya digerakkan, dia akan semakin kehilangan banyak darah." jelas Swan.


"Jadi bagaimana?! Aku tidak ingin dia mati!" Tania histeris.


"Tenang Tania, kita akan menyelamatkan kakakmu. Berapa darah lagi tersisa untuk transfusi?"


"Sekita dua kantong lagi."


"Apa itu cukup untuk membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak alpha, maaf. Tapi kenapa tadi tidak langsung di bawa kerumah sakit?"


"Kami di serang. Musuh di mana-mana. Saya takut jika langsung di bawa ke rumah sakit saat pertarungan berlangsung, akan membuat keadaan semakih kacau. Polisi akan menyelidiki, manusia biasa akan terlibat. Sementara kami berusaha untuk membuat manusia biasa tidak terlibat." jelas alpha Sebastian.


"Saya mengerti." ucap dokter Swan.


"Ada apa ini?"


Kei dan Ian masuk kedalam rumah dan mendapati semua telah berkumpul.


"Kei..." Tania bangkit dan memeluk Kei erat.


"Tania, apa kamu baik-baik saja?" Kei melepaskan pelukannya dan memperhatikan Tania.


"Aku baik. Hanya... Hanya..."


"Ada apa?"


"Kakakku Kei, kakakku sekarat..." Tania terisak. Kei memeluk erat Tania.


"Sudahlah, tenang Tania. Kita akan memikirkan cara untuk menyelamatkan kakakmu." Kei mengelus punggung Tania.


Kei membawa Tania mendekat pada Ryan.


"Itu... Kakakmu?" tanya Kei. Tania mengangguk.


"Kakak ketigaku, Ryan. Kau tahu, yang masih kuliah."


"Aahh iya, aku lupa." Kei mengangguk.


"Ta... Tania..." panggil Ryan. Tania melepas pelukan Kei lalu memegang tangan Ryan.


"Tania disini, kak. Bertahanlah." kata Tania. Tania menangis lagi. "Oh tidak... Apa yang harus aku lakukan?"


"Bagaimana keadaannya?" tanya Kei pada alpha Sebastian.


"Dia.. Sangat tidak baik Kei."


"Apa ada cara menyelamatkannya?" tanya Kei pada dokter Swan.


"Kita harus memindahkannya ke rumah sakit dan mengoprasinya tapi itu memerlukan transfusi darah dalam jumlah banyak. Sementara hanya tinggal dua kantung dan itu tidak cukup. Meskipun cukup sampai rumah sakit tapi dalam proses oprasi, dia juga memerlukan darah. Rumah sakit sudah tidak mempunyai stok darah yang cocok." jelas dokter Swan.


"Bagaimana dengan keluarga lain? Kak Andy?"


"Tidak ada yang sama Kei. Kak Eddy, kak Andy dan aku mempunyai golongan darah yang sama seperti ayah, tapi hanya kak Ryan yang memiliki golongan darah seperti ibu."


"Waah susah sekali. Jadi harus apa?"


"Kami.. Tidak tahu."


"Bagaimana rumah sakit dikota lain?"


"Kei, jarak kota ini ke kota lain itu tiga jam dan kita tidak akan mempunyai waktu sebanyak itu." kata alpha.


"Aarrrghh... Rumit sekali!!" Kei mengacak rambutnya.


"Hanya satu cara menyelamatkannya." kata Ian. Semua orang menoleh padanya.


"Apa itu Ian?" tanya Kei.


"Kalian tidak akan menyukai rencana ini tapi.. Hanya ini cara untuk menyelamatkannya."


"Apa itu? Cepat katakan!" desak Kei.


"Kei, kau harus... Menggigitnya." kata Ian.


"Apa? Menggigitnya? Apa kamu gila?"


"Tunggu dulu, jika Kei menggigit kakakku apa kakakku akan selamat?" tanya Tania. Ian mengangguk.


"Tidak semudah itu Tania."


"Apa maksudmu? Jika hanya menggigitnya itu bisa menyembuhkannya, maka itu tidak masalahkan?" desak Tania.


"Tapi jika aku menggigitnya, kakakmu akan menjadi manusia serigala, apa kamu mau itu?"


Tania terdiam. Dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Kei mendekati Tania dan memegang kedua pundaknya.


"Tania, gigitan manusia serigala pada manusia biasa, akan membuat manusia biasa itu menjadi manusia serigala. Memang betul, luka yang didapat akan sembuh, tapi dia harus menjadi manusia serigala."


Tania terduduk lemas. Dia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia tidak ingin kakaknya menjadi manusia serigala, karena dia tahu itu akan mengubah seluruh hidupnya tapi disisi lain dia tidak ingin kakaknya mati dan satu-satunya cara adalah menjadi manusia serigala.


Suara rintihan Ryan terdengar lagi. Dokter Swan memeriksa Ryan dan mengganti transfusi darahnya dengan darah baru.


"Dia sudah semakin parah." kata dokter Swan. Tania tertunduk dan menutup matanya.


"Gigit dia." kata Tania akhirnya.

__ADS_1


"Apa?"


"Gigit dia Kei." pinta Tania. Tania menatap Kei. "Aku mohon."


Kei menghela nafas panjang. Dia menatap Tania iba. Lalu akhirnya dia mengangguk.


"Baiklah, akan aku lakukan." kata Kei. "Bawa dia keluar. Aku tidak ingin menghancurkan rumah alpha Sebastian."


Kei berjalan keluar rumah. Mike dan Moles mengangkat Ryan keluar rumah dan meletakkannya di tanah, di depan rumah.


"Kamu yakin dengan semua ini Tania?" tanya Kei sekali lagi. Tania mengangguk mantap. "Baiklah."


Kei merubah dirinya menjadi serigala dan berjalan perlahan menuju Ryan. Bola mata Kei berubah, dari hitam pekat menjadi merah. Dia mengoyak pelan tangan Ryan. Ryan mengerang kesakitan lalu tak lama tubuhnya bergetar hebat.


"A-ada apa dengan kakakku? Kenapa dia seperti itu?" Tania terkejut.


"Tidak apa-apa Tania. Itu normal. Tubuhnya sedang dalam proses. Racun yang di berikan oleh Kei melalu gigitannya sedang mengambil alih tubuh manusianya." jelas alpha Sebastian.


"Apa... Dia akan baik-baik saja?" tanya Tania.


"Tentu, setelah racunnya berhasil mengambil alih seluruh tubuhnya, dia akan baik-baik saja. Lukanya akan segera menutup dan sembuh."


Ryan berhenti bergetar. Kini dia tidak sadarkan diri.


"Bawa dia masuk." perintah alpha Sebastian. Mike dan Moles segera mengangkat Ryan masuk kembali. Sementara Kei sudah merubah dirinya kembali.


"Dia akan baik-baik saja Tania." ucap Kei. Tania mengangguk.


"Kei benar, jika alpha yang menggigit, maka akan baik-baik saja. Racun alpha sangat kuat." jelas Ian.


"Aku percaya." Tania memeluk Kei. "Terima kasih Kei."


"Apapun untukmu Tania." Kei balas memeluk.


"Lalu... Akan jadi apa dia nanti?" tanya Jake yang baru saja datang.


"Aku tidak tahu. Bisa menjadi gamma atau bahkan beta. Kita harus melihatnya setelah dia sadar nanti." kata Ian. Semua kembali terdiam.


****


"Aku bertanya siapa kamu?" tanya Zach lagi.


"Dan aku menjawab, aku yang bisa membantumu." jawab orang itu.


"Jangan bermain-main denganku. Aku sedang tidak ingin bermain-main." Zach melangkah pergi.


"Bukankah kamu butuh penyihir untuk membuka perlindungan pack Moon Bykort tanpa menimbulkan perang? Penyihir itu ada didepanmu sekarang dan aku akan membantumu."


"Tunggu, kau... Adalah yang terpilih?"


"Panggil aku Bian, alpha Zach." Bian melangkah maju mendekati Zach. Dia memperhatikan kalung yang di kenakan Zach. "Sepertinya Livia sudah memberikan kalung titipan dariku."


"Jangan mendekat." kata Adrian. Bian menghentikan langkahnya dan menatap Adrian bingung. "Sebelum kamu membuktikan bahwa kamu adalah yang terpilih, sebaiknya jangan mendekat."


Bian menghela nafas panjang.


"Apa ciri khas yang terpilih yang kalian tahu?" tanya Bian.


Mereka semua tampak berpikir. Bian mendengus kesal.


"Apa kalian tidak pernah mendengar tentangku?" tanyanya heran.


"Aah!! Aku tahu." kata Brad. Semua orang menatapnya. "Api biru. Kata Rodney, yang terpilih mempunyai api biru yang bisa memusnahkan satu pack manusia serigala."


"Whoa, kamu tidak hanya tampan dan imut, tapi ingatanmu cukup bagus." puji Bian.


"Uhm.. Cukup tampan saja terima kasih.. Jangan masukkan imut." tolak Brad.


"Owh... Baiklah. Maaf." Bian tersenyum geli.


"Lalu.. Apa yang akan kamu buktikan?" tanya Adrian.


"Uhm.. Ini?" Bian mengeluarkan api biru ditangannya.


"Apa kamu mau mencobanya?" tawar Bian.


"Ehm... Tidak, terima kasih. Aku baik-baik saja." kata Brad. Bian tersenyum geli.


"Bukannya kamu sedang tidak bisa membantu kami?" tanya Zach


"Well, mungkin benar. Tapi kalian tidak akan bisa masuk kesana tanpa penyihir dan tanpa menimbulkan peperangan. Aku juga tidak mengijinkan hal itu. Hanya aku yang bisa membantu kalian." kata Bian.


"Apa para Elder itu tahu?"


"Tentu saja tidak. Jika mereka tahu, aku tidak akan berada disini." Bian melipat kedua tangannya di depan dada. "Sekarang ayo kita pergi."


Bian mengulurkan kedua tangannya. Zach dan lainnya saling menatap.


"Kau ingin aku memegang tanganmu?" tanya Zach. Bian mengangguk. "Kau gila."


Bian memutar bola matanya lalu mendengus kesal. Adrian maju dan memegang tangan Bian.


"Dia akan melakukan teleportasi. Itu akan membuat kita sampai di sana lebih cepat." kata Adrian.


"Kau tahu banyak." puji Bian.


"Tentu saja dia tahu, pacarnya kan juga penyihir." kata Brad lalu memegang tangan Adrian.


"Oh ya?" Bian menatap tidak percaya.


"Sudah ku katakan dia bukan pacarku!"


Brad dan Roland tertawa geli. Mereka semua berpegangan tangan kecuali Zach.


"Apa yang kamu lakukan alpha Zach? Bukankah kamu ingin sampai dengan cepat?" tanya Bian.


"Apa... Ini aman?" tanya Zach.


"Alpha, ini aman." jawab Adrian. Bian yang tidak sabaran meraih tangan Zach dan menarik pelan tubuh Zach agar mendekat.


"Kalian siap?" tanya Bian. Semua orang mengangguk.


Bian melakukan teleportasi yang dengan sekejap membawa mereka di perbatasan wilayah pack Bykort. Bian melepaskan tangannya dan melihat sekitar.


"Waah.... Ini luar biasa. Kita sampai dengan sekejap saja!!" pekik Brad.


"Brad, diamlah!" tegur Roland.


"Oh.. Maaf." Brad menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Zach berjalan perlahan mendekati wilayah pack Bykort tapi tiba-tiba Bian menarik tangannya.


"Tunggu Zach, itu mantra." Bian menunjuk sesuatu yang tak kasat mata.


"Aku tidak melihat apapun." kata Zach.


"Tentu saja, tapi jika kamu menyentuhnya, keberadaan kita akan diketahui." kata Bian.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Roland.


"Aku tahu kalian sudah tidak punya waktu banyak, karena itu kalian harus mengikuti rencanaku."


"Apa rencananya?" tanya Zach.


"Ikut saja. Aku tidak akan mencelakai kalian. Tapi aku dengar kamu baru menjadi manusia serigala. Apa kamu bisa melakukannnya? Maksudku... Melawan mereka untuk menyelamatkan betamu?"


"Sebenarnya.... Aku tidak tahu. Aku alpha keturunan murni yang seharusnya menjadi alpha yang kuat tapi aku bahkan tidak yakin dengan kekuatanku sendiri. Yang aku yakini, aku harus menyelamatkan Aaron."


"Lihat aku Zach." pinta Bian. Zach menatap Bian. "Aku tahu aku baru saja mengenalmu tapi aku tahu dan sangat yakin, kamu adalah manusia serigala yang kuat. Meskipun kamu bukan alpha keturunan murni kamu tetaplah kuat, kamu harus yakin itu. Dan kamu akan baik-baik saja Zach. Kita semua akan menyelamatkan Aaron bersama." kata Bian. Zach mengangguk. "Tapi sebelum itu, ada yang harus aku lakukan."


Bian mendekat dan menyentuh kalung yang dikenakan.


"Ikh heste ravoum."

__ADS_1


Bian meniup kalung itu dan kalung itu bersinar. Zach terpana.


"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Zach.


"Hanya membuat kalung itu berfungsi dengan baik." Bian mengedipkan satu matanya. "Apa kamu siap?"


Semua mengangguk.


"Zach, lepaskan kalung itu." pinta Bian.


"Untuk apa?"


"Lepaskan saja."


Zach melepaskan kalung itu dan menyerahkan pada Bian. Bian mengalungkan kalung itu pada Adrian.


"Kenapa anda memberi saya kalung alpha?" Adrian tampak bingung. Tapi belum Bian menjawab wajah Adrian berubah.


"Adrian... Kamu berubah menjadi... Alpha Zach." kata Brad terkejut.


"A-apa?"


"Aku memberi mantra pada kalung itu agar siapapun yang memakainya akan berubah menjadi Zach." kata Bian.


"Kenapa begitu?" Zach menatap heran.


"Aku yakin mereka mengetahui wajahmu dan siapa kamu, Zach. Karena hanya kamu yang bisa yang bisa merasakan keberadaan Aaron."


"Itu benar alpha, Austin mantan anggota pack ini, jadi dia akan menunjukkan kami jalannya. Sementara anda hanya tinggal merasakan dimana beta Aaron berada." kata Roland.


"lalu.. Untuk apa Adrian bersamamu?" tanya Zach.


"Untuk menguatkanku. Aku membutuhkan alasan untuk mengalihkan perhatian mereka. Apa kamu ingat bola kristal yang aku berikan pada Kei melalui Livia?"


"Bola kristal yang isinya racun untuk membunuh seluruh manusia serigala keturuan murni?"


"Iya. Kristal itu berasal dari sini. Livia dan Lily mengambilnya dari sini. Seharusnya kristal itu berada di kuil Moon Goddess. Kristal itu akan menjadi alasan kedatanganku kesini. Dan Adrian yang berubah menjadi dirimu Zach, akan menjadi perwakilan dari manusia keturunan murni. Dan kesempatan ini akan meyakinkan semua orang bahwa kamu bukan alpha yang lemah. Mereka tahu kamu baru saja menjadi manusia serigala seutuhnya dan itu membuatmu terlihat lemah di mata mereka."


"Tapi aku memang lemah." ucap Zach.


"Zach, kamu tidak lemah. Kamu kuat. Percaya dirilah!" Bian menepuk pelan lengan Zach. "Baiklah, kalian bersiap di posisi kalian. Kalian akan tahu saat pelindung terbuka dan hati-hatilah."


Zach, Roland, Brad dan Austin serempak mengangguk lalu beranjak pergi.


"Adrian, pakai mindlinkmu. Tanyakan apa mereka sudah berada di tempat yang seharusnya." kata Bian. Adrian mengangguk dan menutup matanya.


'Roland?'


'Ya, Adrian.'


'Apa kalian sudah siap?'


'Kami baru saja sampai.'


"Mereka sudah sampai." kata Adrian.


"Bagus. Saat pelindung aku buka, mindlink mereka lagi untuk masuk." pinta Bian. Adrian mengangguk.


Bian menyentuh pelindung yang melindungi wilayah itu, membuat keberadaannya di ketahui. Tak berapa lama datang empat ekor serigala. Keempat serigala itu menggeram marah. Salah satu dari serigala merubah dirinya menjadi manusia dan berjalan mendekat.


"Siapa kalian dan mau apa kemari?" tanya lelaki itu. Bian mengayunkan tangannya. Dengan sekali ayunan tangannya, sihir pelindung wilayah terbuka. Lelaki itu terkejut. Adrian mindlink Roland untuk masuk ke dalam kawasan Bykort.


"Aku Bian, yang terpilih dan aku ingin bertemu dengan alphamu." kata Bian.


"Yang terpilih? Untuk apa yang terpilih kemari?" tanya lelaki itu.


"Ada sesuatu yang harus kami bicarakan. Ahh kalian ingin bukti?" Bian kembali mengeluarkan api biru dari tangannya. "Apa ini cukup? Atau kamu ingin aku membunuh salah satu penjagamu? Akan dengan senang hati."


Lelaki itu mengamati Bian. Dia lalu membuka jalan agar Bian masuk. Bian masuk di ikuti oleh Adrian. Wilayah pack Moon Bykort benar-benar dikelilingi oleh hutan. Kanan kiri semua pohon besar dan rimbun. Mereka berjalan cukup lama untuk sampai ke pemukiman. Di ujung hutan sudah menunggu beberapa orang dan manusia serigala.


"Apa itu...."


"Itu werekoyote. Manusia koyote." jawab Bian dengan berbisik.


"Sudah lama sekali tidak melihat mereka." kata Adrian.


"Ya, mereka sudah hampir punah." Bian menyetujui.


"Selamat datang, yang terpilih. Saya Bruce, beta dari Moon Bykort." Bruce meletakkan tangan kanannya didada lalu membungkuk.


"Terima kasih beta. Apa saya bisa bertemu dengan alpha Roger?"


"Tentu, ikut saya. Anda juga alpha Zach."


"Anda... Mengenal saya?" tanya Adrian.


"Tentu, siapa yang tidak mengenal alpha keturunan murni." Bruce tersenyum kecil lalu melangkah pergi.


"Sudah kubilang mereka mengenal Zach." bisik Bian. Adrian hanya terdiam membisu dan ikut berjalan.


****


Zach berlari dengan sangat kencang menuju ujung hutan. Sesekali mereka berhenti dan mendengarkan suara.


"Kita kemana alpha?" tanya Roland.


"Aku... Tidak tahu."


"Rasakan kehadirannya alpha." kata Roland.


"Aku tidak tahu caranya! Aku tidak bisa mencium bau nya dan mendengar suaranya."


"Tenanglah alpha dan fokus." kata Roland. Zach menutup matanya, mencoba untuk merasakannya. Ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang sulit di jelaskan. Tapi detak jantungnya meningkat.


Zach kembali berlari. Kali ini dia merubah wujudnya menjadi manusia dan berjalan sambil bersembunyi. Manusia serigala tahu jika ada anggota pack lain bergabung, karena itu mereka mencari sambil bersembunyi.


Langkahnya terhenti. Dia tidak merasakan apapun kali ini. Mereka berada di belakang sebuah pondok kecil. Mereka berjongkok dan membuat lingkaran.


'Aaron... Aaron apa kamu mendengarku?'


Zach mencoba mindlink Aaron tapi Aaron masih tetap tidak membalas.


"Aku kehilangannya. Aku tidak merasakan apapun."


"Austin, dimana tempat untuk membuatmu tidak terdengar dan terlihat?" tanya Roland.


"Tidak terlihat dan terdengar?" ulang Austin. Austin terdiam dan berfikir. "Di goa itu!"


"Goa?"


"Ada sebuah goa. Goa itu memiliki ruang bawah tanah, tidak, penjara bawah tanah. Biasanya itu untuk menyiksa tawanan. Disana sangat gelap. Hanya terdengar suara air karena dekat dengan sungai." kelas Austin.


"Apa beta Aaron ada disana?" tanya Brad.


"Hanya satu cara memastikannya. Kita harus kesana." kata Roland.


"Tapi penjagaannya ketat sekali."


"Ketat? Hanya untuk ruangan penyiksa tawanan?"


"Bukan tawanan biasa. Tapi biasanya para alpha yang packnya di serang oleh pack Bykort dan di ambil alih. Mereka menyiksa para alpha dan beta di sana, agar alpha menyerahkan wilayah mereka dan kepemimpinan mereka dan tunduk pada alpha Roger."


"Mereka kejam sekali." rutuk Brad.


"Mereka memang seperti itu."


"Kalau begitu ayo kita pergi. Jangan membuang waktu."


Zach berdiri dan mulai melangkah. Tapi langkahnya terhenti. Mereka sudah di kelilingi oleh beberapa manusia serigala. Brad, Roland dan Austin ikut berdiri.


"Siapa kalian?"


***

__ADS_1


tadariez


__ADS_2