
"Apa kamu yakin akan melakukannya Kei?" tanya ayahnya.
"Hanya ini caranya." kata Kei sambil berganti pakaian.
"Tapi bagaimana jika pelakunya bukan Roger?"
"Apa maksud ayah?"
"Entahlah Kei, ini hanya terasa... Aneh."
"Sebenarnya Kei juga merasa seperti itu ayah. Semua terasa sudah di rencanakan dengan baik. Jadi dalang di balik ini semua kemungkinan adalah paman, ayah. Mengingat dia berada disisi alpha Roger sekarang." kata Kei.
"Ya.. Karena Ordovicklah yang membuat ayah ragu."
"Tapi bisa saja mereka berdua ayah. Karena itu Kei tidak menyerang secara terbuka tapi diam-diam. Kei akan melakukan cara Zach menyelamatkan Aaron dulu. Karena jika kita menyerang secara terbuka dan ternyata bukan Roger pelakunya, akan ada pertumpahan darah dan banyak orang yang tidak bersalah akan mati. Dan Kei yakin itu yang diinginkan paman Ordovick."
"Kamu benar. Baiklah, tapi kamu yakin pasukan kecilmu sudah cukup? Kamu bisa membawa pasukan dan gamma terbaik Lykort."
"Kei tahu tapi itu tidak perlu ayah. Gamma kepercayaan Kei dan Orychant sudah lebih dari cukup buat Kei."
Kei berjalan keluar kamar di ikuti ayahnya. Rowl, serigala kecil mendatangi Kei. Kei mengambil dan menggendongnya.
"Aku akan segera membawa kembali tuanmu, tenang saja." kata Kei pada Rowl. Dia mengelus kepala Rowl.
Kei dan ayahnya sampai di halaman depan istana. Sudah ada gamma kepercayaannya Kei - Jake, Mike, Kian, Jason, Moles, Adrian, Roland, Brad, Austin- dan juga para beta -Ian, Ryan, Aaron- dan tentu Zach yang sudah siap untuk pergi. Kei mengusap rambut hitamnya yang sudah sedikit lebih panjang dan menatap para gamma dan beta dengan bola mata hijaunya.
"Apa kalian siap?" tanya Kei. "Ini tidak akan mudah."
"Kami tahu yang mulia dan kami siap." sahut Jake disambut anggukan semuanya.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu siap?" tanya ibu Kei.
"Kei siap ibu." Kei menyerahkan Rowl pada ibunya. "Kei titip Rowl ibu. Tolong jaga Rowl sampai Tania kembali."
"Tentu saja dan berhati-hatilah Kei."
"Iya, bu."
"Yang mulia, ambil jalan di sisi barat pack Lykort. Kami sudah membersihkan area itu hingga tidak ada yang akan menghalangi." kata Carvil, beta ayah Kei.
"Tentu Cavril, terima kasih."
"Apa anda yakin tidak perlu bantuan yang mulia?"
"Tidak perlu Cavril, lagi pula harus ada yang berjaga di Lykort. Kita tidak ingin mengambil resiko ada yang menyerang pack ini saat kalian pergi bersamaku."
"Baiklah yang mulia."
"Dan Kei, beritahukan kami jika kamu memerlukan bantuan. Kami akan segera datang." pinta ayah Kei.
"Baik ayah. Kami pergi dulu."
Kei bergabung bersama yang lainnya.
"Ian, jaga yang mulia dengan baik." pesan Cavril.
"Akan Ian jaga ayah, Ian berjanji. Ian titip Anne."
Ian juga ikut bergabung dan satu persatu mereka berubah menjadi serigala termasuk Kei dan Zach. Kei melolong lalu segera berlari diikuti Zach, beta dan para gammanya. Kei berlari ke arah yang telah di beritahukan Cavril padanya.
Kei berlari tanpa berhenti. Dia menggunakan kekuatan manusia serigalanya dengan berlari sangat cepat. Pack alpha Roger lumayan jauh dari Lykort. Kei melewati sungai yang cukup deras tapi itu tidak menahannya. Dia justru berlari lebih cepat.
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di perbatasan Bykort. Mereka merubah diri mereka menjadi manusia lalu bersembunyi di semak.
"Apa pack ini masih dilindungi sihir?" bisik Zach.
"Sepertinya begitu Zach. Biasa pack besar yang berada di hutan akan dilindungi oleh sihir agar mereka aman dan orang luar tidak akan masuk." jelas Kei dengan berbisik juga.
"Lalu bagaiman kita bisa masuk?"
"Apa kalian tidak bisa berhenti menyusahkan kami?" tanya seseorang yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Lily!!" pekik Jason sambil berdiri dari jongkoknya. Mike menarik Jason untuk jongkok kembali lalu memukul kepala Jason.
"Apa kamu sudah gila? Kenapa harus memekik seperti itu!" kata Mike setengah berbisik.
"Ma-maaf, aku lupa." sahut Jason. Dia masih mengelus kepalanya yang dipukul Mike.
"Apa kamu harus memukulnya seperti itu?" tanya Lily.
"Dia memang pantas dipukul." jawab Mike.
"Kau bisa memberitahukannya tanpa harus memukulnya."
"Lily, sudahlah." Livia mencoba melerai.
"Whoaa apa kamu sekarang membela Jason?"
"Uhmm guys?? Kita sedang dalam masalah disini, jadi berhentilah bertengkar." tegur Kei.
"Maaf yang mulia." kata Mike lalu menatap tajam Lily begitu juga sebaliknya.
"Jadi Lily, Livia, apa kalian bisa membantu?" tanya Kei.
"Akan kami coba, ayo Lily."
Livia dan Lily mendekat ke perbatasan dan menyentuh pelindung sihir yang tak kasat mata itu dengan satu tangan dan tangan lainnya salin berpegangan tangan. Lily dan Livia saling menghadap satu sama lain dan menutup matanya lalu membaca mantra.
Tak lama pelindung itu sedikit bersinar sejenak lalu hilang.
"Sudah, kalian bisa masuk. Cepatlah! Kami akan menutup kembali pelindungnya setelah kalian masuk dan menunggu kalian disini. Jadi kembalilah kemari."
"Baik, terima kasih." kata Kei. Kei melangkah terlebih dahulu. Lalu disusul yang lain.
"Apa kalian tidak ikut? Bagaimana jika ada kaum hitam didalam?" tanya Zach.
"Tidak ada kaum hitam didalam. Yang terpilih sudah memastikanya."
"Baikalah kalau begitu."
"Ingatlah kalian untuk kembali kemari. Tepat disini."
Semua mengangguk dan berubah kembali menjadi serigala lalu langsung berlari menyusuri hutan wilayah Bykort. Merka berlari sangat cepat. Tapi tiba-tiba Kei merasakan kehadiran manusia serigala lain yang bukan anggota packnya.
'Mereka datang!'
Satu serigala melompat untuk menerjang Kei tapi dari belakang Jake siap dan menghalang serigala itu. Mereka bertarung. Adrian berhenti dan menyerang serigala lain yang mencoba menyerang Jake. Jake mendorong kuat serigala yang dia serang hingga terhempas mengenai pohon, membuat pohon yang berbatang kecil itu tumbang. Jake dan Adrian menatap tiga serigala di depan mereka.
'Tidak Adrian, pergilah! Aku bisa mengatasi mereka.'
'Apa kamu yakin?'
'Yakin Ad, pergilah. Mereka hanya prajurit. Aku bisa menghadapi mereka.'
'Baiklah, temui kami di tempat yang di sepakati.'
__ADS_1
'I will.'
Jake kembali menyerang tiga serigala tadi sementara Adrian menyusul Kei. Mereka berlari dan hampir sampai di pemukiman.
'Kita berpencar' sahut Kei.
'Baik yang mulia.'
Kei memimpin ke arah kanan dan Zach memimpin ke arah kiri. Zach bertugas mencari Tania dia penjara-penjara khusus. Karena Zach pernah ke sana sebelumnya saat menyamatkan Aaron. Mungkin Tania berada di sana juga. Sementara Kei mencari di rumah Roger dan penjara biasa.
Zach menghentikan larinya dan berjalan pelan sambil waspada.
'Anda masih ingat goa itu alpha?'
'Masih Aaron, tapi tubuh serigala kita tidak akan muat. Segera setelah kita dekat kita berubah menjadi manusia.'
'Baik alpha.'
"Siapa disana?!" kata seseorang membuat Zach dan kawanannya terkejut. Dua orang warrior melihat mereka dan langsung berubah menjadi serigala. Austin maju dan menghadang mereka.
'Alpha, pergi..!! Cepat!'
'Tapi...'
'Alpha, Austin benar. Kita tidak bisa diam disini. Kita akan membuang waktu. Lagi pula jika warrior yang lain datang keadaan akan semakin rumit. Austin bisa mengatasinya.'
'Seperti kata Kei, kita harus menyelesaikan dengan cepat. Baiklah ayo kita pergi. Susul kami Austin!!'
Zach berlari kembali dan kali ini dia langsung menuju ke goa itu. Sampai di dekat goa, dia merubah dirinya menjadi manusia.
"Kita serang diam-diam." bisik Zach. Brad dan Roland berjalan mendekati penjaga yang berjaga diluar. Ada dua penjaga. Roland menangkap salah satu penjaga lalu mencekiknya, membawa penjaga itu menjauh dari mulut goa. Sementara Brad melayangkan tinjunya pada satu penjaga lain dan melumpuhkannya.
"Alpha.. Cepat!!" sahut Roland.
Zach masuk kedalam gua bersama Aaron. Mereka berlari menyusuri goa itu. Memeriksa tempat demi tempat.
"Saya tidak yakin ratu ada disini. Karena penjaganya saja hanya dua orang."
"Kita harus tetap memeriksanya Aaron. Kita berpencar. Kita akan bertemu lagi disini."
"Baik alpha."
Sementara itu Kei..
"Banyak sekali yang berjaga yang mulia. Akan sangat sulit jika kita bergerak tanpa terlihat." ucap Mike.
"Kita harus menyusun rencana Kei."
"Hmm ya, aku tau." ucap Kei. Kei terdiam dan tampak berpikir.
"Baiklah semuanya!!" kata Manuel yang berdiri dihadapan kumpulan orang di belakang rumah mewah Roger. Semua orang terdiam. "Ingat untuk berjaga di kawasan perbatasan dan sebagain berpatrolilah di luar. Kita mendekati saat-saat perang, kita harus lebih waspada."
"Baik beta." jawab orang-orang itu.
"Bagus, pergilah." kata Manuel.
Satu persatu dari mereka pergi. Seketika halaman itu menjadi sepi. Manuel berjalan mendekati semak tempat Kei dan yang lain bersembunyi. Manuel memperhatikan sekelilingnya.
"Datang kemari bukanlah ide yang tepat... Yang mulia." kata Manuel membuat Kei terkejut.
"Kamu.. Tahu?" tanya Kei.
"Mungkin yang lain belum tapi ya, saya tahu." jawab Manuel. "Dan bukanlah hal yang bijak anda datang kemari. Atau mungkin... Apa peperangan sudah di mulai?"
Kei keluar dari persembunyiannya dan menatap Manuel.
"Siapa yang anda cari?"
"Hanya... Seseorang."
"Melihat anda hanya membawa orang kepercayaan anda, sepertinya orang yang anda cari adalah orang penting. Tapi sepertinya kali ini anda salah. Tidak ada orang baru yang masuk kesini."
"Itu.. Biar saya yang pastikan." kata Kei. Manuel mengangguk.
"Very well then. Silahkan." kata Manuel membuka jalan.
"Apa kamu mengijinkan kami? Atau mungkin kamu ingin menjebak kami?"
"Tidak yang mulia, kesetiaan saya memang pada alpha Roger. Tapi saya bukan manusia yang tidak tahu berterima kasih. Saya melakukan ini atas dasar rasa terima kasih saya pada anda dan alpha Zach, karena sudah membantu anak saya, Nathan."
"Apa kamu yakin hanya itu?" Kei memastikan.
"Tentu yang mulia. Saya juga yakin anda percaya pada saya, mengingat anda telah menyebutkan berapa jumlah kalian semua."
Kei terdiam. Itu benar, dia memang, entah kenapa, percaya pada Manuel.
"Lewat sini dan berbelok dia sebelah kanan, kalian akan mendapatkan penjara bawah tanah. Biasanya ada dua penjaga yang berjaga."
"Baik terima kasih."
Kei berjalan menuju tempat yang di maksud.
"Tunggu.." sahut Manuel.
Kei menghentikan langkahnya tepat di depan Manuel.
"Jika ini tentang ratu... Anda salah besar dengan datang kemari. Tidak ada yang mulia ratu disini." kata Manuel membuat Kei terbelalak.
"Kamu... Bagaimana... Bagaimana.."
"Tapi saya tahu siapa pelakunya."
"Apa maksudmu?"
"Mungkin aku sudah tua, tapi aku tetap manusia serigala keturunan murni. Aku mendengar sebuah rencana yang disusun oleh alpha Ordovick dengan anaknya, Fred. Rencana yang bahkan tidak di ketahui oleh alpha Roger. Jadi jika anda mencari yang mulia ratu disini, berarti anda membuang waktu. Karena bisa saya pastikan ratu tidak berada disini. Tapi jika anda masih ragu, anda bisa pergi dan memeriksanya. Saya akan bantu mengalihkan perhatian alpha Roger."
"Baik, aku mengerti. Terima kasih." Kei berjalan kembali.
"Dan yang mulia?" Manuel menghentikan langkah Kei lagi. Kei menoleh. "Cepatlah, karena saya yakin sebentar lagi alpha Roger mengetahui tentang ratu. Dia mempunyai telinga di mana-mana."
Kei mengangguk dan melangkah kembali. Manuel menatap mereka pergi hingga mereka hilang dari pandangannya.
"Beta Manuel!"
"Ya?"
"Anda di panggil oleh alpha."
"Aku akan segera kesana!" Manuel menghela nafas. Semoga berhasil yang mulia.
****
Kei mencari ke seluruh penjara. Tapi tidak menemukan Tania dimana pun. Bahkan mencium aromanya pun tidak.
'Tidak ada disini, Ian. Aku tidak merasakan apapun.'
__ADS_1
Kei berbicara melalui mindlink khusus alpha dan beta.
'Sepertinya Manuel benar. Tidak ada Tania disini.'
'Meskipun dia memang berada di pack ini, aku rasa tidak mungkin dia di letakkan di penjara'
'Maksudmu?'
'Roger termasuk orang yang gila hormat. Berarti dia masih akan menghormati Tania yang sangat tidak mungkin dia meletakkan Tania disini.'
'Mungkin benar. Lalu dimana?'
Kei dan Ian melihat rumah Roger yang letaknya tidak jauh dari sana.
'Apa mungkin?'
'Sebaiknya kita periksa Kei.'
'Ya dan sebaiknya tidak membawa mereka.'
Kei menatap para gamma. Ian juga menatap ke arah yang sama. Lalu mereka saling tatap dan mengangguk.
"Jason, Mike, Kian, Moles." panggil Kei. "Kemarilah."
Mereka semua mendatangi Kei.
"Pergi dari sini dan cari Jake. Tunggu aku dia tempat yang sudah di sepakati."
"Tapi yang mulia mau kemana? Kita bisa pergi bersama."
"Aku dan Ian akan memeriksa satu tempat lagi. Tunggulah disana saja. Tidak perlu ikut."
"Tapi yang mulia--"
"Aku Kei Lyroso Laros, alpha dari segala alpha, raja Lycanthrope, memerintahkan kalian semua untuk pergi dan menunggu. Apa kalian mengerti?!"
Kei menggunakan gelar dan posisinya. Bahkan bola matanya pun sudah berwarna merah. Semua gamma menunduk. Kaki mereka lemas seketika. Mereka menekuk kedua lutut mereka.
"Perintah akan segera di laksanakan yang mulia." kata Mike.
"Pergilah, sekarang!" tegas Kei.
"Baik yang mulia!!" kata mereka bersamaan. Para gamma berdiri dan langsung pergi meninggalkan Kei dan Ian.
"Apa itu tadi tidak berlebihan Kei?" tanya Ian dengan wajah yang masih keheranan melihat Kei menggunakan gelar dan posisinya untuk hal sepele.
"Sangat berlebihan." ucap Kei lalu menghela nafas panjang. "Tapi mereka sangat keras kepala! Jika aku tidak melakukannya mereka tidak akan meninggalkan kita."
"Ya, dan kau sama keras kepalanya dengan mereka." Ian melirik Kei. Kei mendengus kesal.
"Ya, ya terserah kau saja. Aku sedang malas berdebat denganmu. Huh!" Kei berjalan mendahului Ian.
"Sudah keras kepala, cerewet, suka perintah, pemarah lagi." gumam Ian.
"Aku mendengarnya!" ucap Kei kesal. Ian tertawa geli.
Kei dan Ian masuk ke dalam rumah tanpa hambatan berarti. Hanya sesekali bertemu dengan maid dan penjaga. Tapi untung saja mereka juga manusia serigala, jadi bau mereka sama. Kei dan Ian menyusuri lantai demi lantai. Ada tiga lantai di rumah itu. Kei dan Ian tidak menemukan sosok Tania.
"Sepertinya Manuel benar, Tania memang tidak disini." bisik Ian.
"Iya benar. Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini."
Kei dan Ian melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah, mereka mendengar derap langkah kaki yang cukup banyak. Kei dan Ian saling tatap. Mereka mulai panik. Kei menarik tangan Ian dan membuka pintu di salah satu ruangan di lantai itu. Mereka masuk ke dalam dan bersandar di balik pintu. Mereka mendengar langkah-langkah kaki yang melewati ruangan itu. Terdengar sangat banyak. Saat langkah kaki itu pergi mereka baru bisa bernafas lega.
"Bersembunyi, yang mulia?"
Kei dan Ian terkejut. Mereka menoleh bersamaan dan mendapati Mayes, pemimpin kaum hitam berdiri tak jauh dari mereka. Kei dan Ian langsung berdiri dan waspada. Mayes memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum tipis.
"Apa anda akan melawanku yang mulia?" tanya Mayes. "Anda yakin itu?"
"Aku tidak takut padamu!"
"Oh ya, saya percaya itu. Anda mempunyai keberanian yang luar biasa. Termasuk memasuki wilayah besar dan hanya membawa sedikit pasukan."
"Itu bukan urusanmu."
"Ohh tentu saja bukan. Tapi Roger akan sangat senang mendengar ini."
"Hah! Aku tidak tahu jika kaum hitam adalah pengadu."
"Hahahaha..." Mayes tertawa. Dia berbalik dan berjalan menjauhi Kei dan Ian. "Sepertinya anda salah paham disini." Mayes berbalik menghadap Kei dan Ian. Tubuhnya di sandarkan ke satu-satunya meja yang ada di ruangan itu. "Saya tidak sedang tidak berselera mencampuri urusan kalian."
"Ha! 0Kamu pikir kami akan percaya?"
"Tidak, saya tidak perlu anda percaya. Tapi jika anda mencari ratu anda disini, anda salah besar. Ratu anda tidak berada disini, di pack ini."
"Sudah tahu." jawab Kei ketus.
"Ahh baiklah."
"Lalu untuk apa kamu disini?" tanya Kei ketus.
"Untuk memastikan sesuatu. Dan ternyata dugaanku benar." kata Mayes. Kei mengerutkan keningnya.
"Uhmm.. Kei?" Ian menepuk pundak Kei. Kei menoleh.
"Apa? Ada apa?" tanya Kei. Ian menunjuk ke bagian atas ruangan itu. Kei mengikuti arah telunjuk Ian. Dia terbelalak kaget. Matanya membulat sempurna sementara mulutnya terbuka. Kei memperhatikan sekelilingnya.
"Astaga.. Dia benar-benar sudah gila!"
"Benar. Untuk itulah aku tidak akan bekerja sama lagi dengannya. Aku bisa saja membunuhnya tapi aku tidak ingin mengotori tanganku. Lagipula, anda akan melakukannya bukan?"
"Kamu.. Tidak akan membantunya?"
"Setelah semua ini? Tentu tidak. Saya memang jahat dan pembunuh. Tapi saya masih punya martabat. Saya tidak akan bekerja sama dengan orang rendahan seperti dia dan juga pamanmu itu. Aku rasa pasti kamu sudah tahu pelakunya adalah pamanmu dan bukanlah Roger."
Kei terdiam.
"Oh? Anda tidak tahu? Sayang sekali. Pelakunya adalah pamanmu sendiri, Ordovick. Roger? Alpha bodoh itu tidak akan bisa melakukan hal itu. Semuanya di rencanakan oleh Ordovick, sejak awal."
Mayes berjalan maju ke depan mendekati Kei dan Ian. Jarak mereka kini sangat dekat. Kei menatap tajam Mayes.
"Pergilah ke packmu sendiri. Anda terlalu jauh mencari."
"Apa maksudmu?" Kei bingung. Mayes menyeringai.
"Kadang-kadang kita tidak perlu mencari terlalu jauh, yang mulia. Hanya harus lebih teliti. Itu saranku. Selamat mencari."
Mayes membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Kei.
"Untuk apa kamu memberitahukanku?" tanya Kei. Mayes menghentikan langkahnya lagi dan berbalik.
"Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan dariku." kata Mayes. Mayes tersenyum. "Dan yang mulia? Jangan mengampuni mereka, karena mereka tidak akan pernah menyesal dan berubah. Ingat kata-kataku."
Mayes berteleportasi. Kei dan Ian hanya bisa saling menatap sejenak lalu memperhatikan sekeliling mereka yang terlihat sangat mengerikan.
__ADS_1
****
tadariez