My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Pertarungan Terakhir


__ADS_3

Kei mendatangi Roger. Roger bangkit dan berusaha menghindar. Tapi kali ini Kei lebih cepat dan menangkap Roger. Roger meronta dan menggigit tangan Kei. Kei melepaskan pegangannya dan menggeram marah. Roger berlari tapi Kei lebih cepat. Kei menumpu pada bangunan yang telah rubuh dan melompat tinggi lalu mendarat tepat di hadapan Roger. Kei menggeram marah. Roger mundur perlahan.


Semua pasukan Kei mulai bangkit dan melawan pasukan Roger dengan sisa tenaga mereka. Zach sudah berdiri di belakang Roger bersama Aaron dan Ian.


'Menyerahlah Roger.' Bujuk Kei.


'Tidak akan!'


Roger menyerang Kei. Dia melompat tinggi dan mencakar tubuh Kei. Tapi belum sampai Kei sudah menepisnya. Roger terjatuh lalu Zach, Ian dan Aaron langsung menahan tubuh Roger. Roger meronta, menendang Aaron yang berada di kakinya. Menghempas Ian yang berada di atas kepalanya. Hanya tinggal Zach. Zach dan Roger berguling. Roger berada di atas Zach dan bersiap menggigit tapi Ian mendorong tubuh Roger. Roger maju, tapi langkahnya terhenti. Kei berada di depannya dan menggeram marah. Kei menyerang Roger. Dia mengangkat tubuh Roger lalu di lempar tubuh serigala Roger hingga mengenai pohon besar yang ada di dekat sana. Kei berlari menuju Roger dan ingin menginjaknya tapi Roger langsung menghindar. Kei menyerang Roger terus menerus tanpa henti. Membuat Roger kewalahan menghindar. Kei menggapai tubuh Roger dan menghempasnya. Roger mengerang kesakitan. Tapi dia berusaha tetap bangkit dan menyerang. Roger melompat tinggi, Kei mendapatkan tubuh Roger lalu menghempasnya ke tanah dan menekan tubuhnya ke tanah. Kei menggeram marah. Dia memperlihatkan gigi-giginya yang tajam dan air liurnya berjatuhan. Bola mata Kei hampir sepenuhnya berwarna putih. Kei menekan kuat tubuh Roger. Para warrior kuil mendatangi Kei dengan wujud manusia mereka lalu menyerahkan pedang yang di pakai untuk menusuk Kei tadi.


'Pe-pedang itu...' Roger merintih. Dia tidak mengira mereka akan mendapatkan pedang itu.


Kei mengambil pedang itu.


'Kau sudah bersalah Roger. Sudah terlalu banyak orang tidak bersalah mati karenamu. Kau tidak hanya membunuh kaum Lycanthrope tapi membunuh semua kaum. Kau mempermalukan kaum kita dan melanggar perjanjian antar kaum.'


Bola mata Kei berubah menjadi putih sepenuhnya. Tidak ada Kei lagi. Hanya Lycan. Ian terkejut melihatnya. 


'Oh tidak, Kei...'


'Kenapa dengan mata Kei, Ian? Kenapa warnanya berubah?'  tanya Zach.


'Jika bola matanya berwarna merah, Kei yang menguasai Lycan itu. Tapi jika berwarna putih seperti itu, monster Lycan itu yang mengusai tubuh itu. Tidak ada Kei lagi.'


'Apa itu berbahaya?'


'Benar alpha. Monster itu tidak boleh menguasai Kei. Kita akan kehilagan Kei untuk selamanya.'


'Aku pikir Kei sudah bisa mengendaliknya.'


'Sudah tapi saat dia benar-benar marah, dia tidak akan bisa mengendalikannya lagi. Seperti sekarang.'


'Karena itu dia jarang menggunakan tubuh Lycan?'


'Benar.'


'Lalu kita harus bagaimana?'


'Ada dua cara. Menusuknya dengan pedang  perak. Tapi itu mustahil. Pedang itu kini ditangan Kei. Kita tidak bisa mengambil resiko mengambil pedang itu darinya sekarang, terlebih saat Lycan itu menguasai Kei.'


'Lalu cara kedua?'


'Dengan mate Lycan itu.'


'Mate? Lycan? Siapa mate dari Lycan itu?'


Ian terdiam, tidak menjawab. Zach tersadar.


'Tania...'


'Benar alpha, Tania.. Sang Ratu.'


Mereka terdiam. Sementara Kei sudah menahan tubuh Roger dengan kakinya dan tangan kanannya menggenggam pedang perak itu.


'Aku tahu kamu sangat istimewa. Kamu bisa menahan racun apapun, termasuk racun yang berbahaya untuk serigala keturunan murni sepertimu. Tapi saat racun itu menyentuh pedang yang telah di beri mantra kuno ini, racun itu akan bisa membunuhmu Roger.'


'Yang mulia, keadilan harus ditegakkan. Berikan keputusan anda.' kata salah satu warrior kuil itu.


Para warrior sudah membentuk lingkaran disekitar Kei dan Roger dan menekuk satu lututnya tanda penghormatan atas keputusan yang akan di buat Kei. Kei menatap Roger.


'Mati!' sahut Kei.


Para warrior menundukkan kepala mereka. Kei mengangkat tangan yang memegang pedang itu ke atas, bersiap untuk menusuk tubuh Roger dengan pedang itu. Kei mengayunkan pedangnya dan..


"Kei...!!!!"


Lycan itu menghentikan tindakannya. Tania berlari mendatangi Kei dan berdiri tak jauh dari Kei.


'Itu Tania.. Bagaimana dia bisa sampi disini?'


Zach dan Ian terkejut.


Flashback on


Tania masih menangis di kamarnya. Kali ini dia sendirian. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia bingung. Hatinya terus tidak tenang.


"Kau baik-baik saja Tania?" tanya sebuah suara. Tania menoleh.


"Bian.." Tania berlari dan memeluk Bian.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Bian sambil menghapus air mata Tania.


"Kei.. Aku tidak tenang. Dia.. Dia.."


"Aku tahu Tania. Apa kamu mau bertemu dengan Kei? Aku bisa membawamu kesana."


"Aku ingin. Tapi kata ibu, aku hanya akan menyusahkannya saja karena dia akan terus melindungiku. Aku tidak akan bisa membantunya." jawab Tania. Dia menundukkan kepalanya. Bian tersenyum.


"Kali ini kamu bisa membantunya." kata Bian. Tania mengangkat kepalanya. "Kei membutuhkan bantuanmu Tania."


"Apa? Bagaimana bisa? Aku bukan manusia serigala, aku hanya manusia biasa."


"Aku tahu Tania, tapi kamu bisa membantunya. Dengan dirimu dan hatimu."


"Ma-maksudmu?"


"Dengan cintamu pada Kei, itu sudah akan membantunya. Jadi... Apa kamu mau ikut bersamaku dan menemui Kei?"


"Tentu."


Flashback end


Para warrior menatap Tania. Tania juga menatap mereka sejenak lalu menatap Kei. Tania melihat bola mata Kei. Dia bukan Kei.


"Lycan! Kamu mengenaliku?!" tanya Tania setengah berteriak. Lycan itu menatap Tania. Seketika jantung Lycan itu berdetak sangat cepat. Lycan itu mulai mengenali Tania.

__ADS_1


"Aku tahu kamu mengenaliku. Hentikan semua ini." pinta Tania. "Aku tahu dia bersalah. Serahkan dia pada mereka..." Tania menunjuk para warrior kuil. "...dan pulanglah bersamaku."


Lycan itu menurunkan pedang perak dan terdiam menatap Tania.


"Pulanglah.." bujuk Tania lagi.


Seketika itu Roger meronta dan terlepas dari genggaman Kei. Roger melompat tinggi dan memukul tangan Kei yang sedang memegang pedang itu. Pedang itu terhempas. Roger merubah dirinya menjadi manusia lalu menangkap pedang itu dan segera menusukkannya ke arah Tania. Semua orang terkejut dengan tindakan Roger yang tiba-tiba dan sangat cepat.


Roger menusukkan pedang itu tapi bukan Tania yang terkena pedang itu. Sudah ada serigala besar di hadapan Tania dan menghalangi Tania agar tidak tertusuk pedang itu. Roger terkejut dengan apa yang dilihatnya. Manuel tertusuk pedang itu. Manuel berubah menjadi manusia dengan pedang masih tertancap di tubuhnya.


"Ma-Manuel.."


"Al-pha.."


"Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kamu harus mengorbankan dirimu untuk mereka?! Kamu betaku!!" pekik Roger.


"Su-sudah... Cukup.. Alpha. Hen-tikan.. Se-mua.."


"Apa maksudmu?!"


"Jangan... Membunuh.. Lagi... Anda... Sudah.. Banyak.. Menderita.. Saya... Mohon.."


"Kau sudah gila rupa--"


Sruk!!


Kata-kata Roger terhenti. Tubuhnya kaku. Lycan sudah menancapkan kukunya ketubuh Roger lalu mengambil pedang itu dari tubuh Manuel yang mengerang kesakitan. Lycan menarik kukunya lalu menusuk Roger dengan pedang itu.


'Mati. Itu hukumanmu.' sahut Lycan. Lycan menarik pedangnya.


Seketika nafas Roger tertahan. Kali ini dia merasakam efek dari racun Wolfsbane khusus itu. Roger menutup matanya lalu terjatuh di tanah.


"Alpha..." Manuel tidak sadarkan diri.


Roger merasakan sakit dan tubuhnya serasa terbakar. Dia sulit bernafas. Matanya menatap langit biru yang cerah. Perlahan Roger menutup matanya dan tidak sadarkan diri juga.


'Bawa mayatnya ke kuil.'


Perintah Lycan pada para warrior kuil. Mereka mengangguk dan segera mengangkat tubuh Roger. Lycan itu ikut pergi meninggalkan Tania.


"Lycan! Kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Tania. Lycan menghentikan langkahnya sejenak lalu pergi lagi.


"Lycan!! Tidak... Kei!!" panggil Tania. Lycan menghentikan langkahnya lagi. "Aku tahu kamu masih ada didalam tubuh itu Kei, sadarlah.."


Lycan melanjutkan langkahnya lagi.


"Kei Lyroso Laros, aku bersumpah demi tuhan, jika kamu pergi, aku akan membencimu seumur hidupku!!!" pekik Tania. Lycan menghentikan langkahnya lagi sejenak lalu kembali berjalan. Kali ini dia tidak menghentikan langkahnya lagi sampai hilang di pandangan Tania.


Tania lemas, dia terduduk di tanah.


"Kamu jahat Kei..." sahutnya. Tania menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis. Tania menangis tersedu.


Tiba-tiba dada Lycan terasa sakit. Dia sulit bernafas. Lycan itu menekuk lututnya dan memegang dadanya yang sakit.


"Kamu jahat Kei. Aku membencimu." kata Tania yang tangisnya mulai reda. Sudah cukup lama Tania menangis dan tidak ada satupun yang mendekatinya. Bian melarang mereka. Dia tahu Tania butuh waktu dan mereka memberikan Tania waktu. Tania menghapus air matanya.


"Apa kamu yakin kamu membenciku?"


Tania mengangkat kepalanya. Kei sudah ada disana dan berwujud manusia. Kei ikut duduk di tanah agar sejajar dengan Tania.


"Maafkan aku Tania." sahut Kei lirih.


"Aku membencimu." Tania kembali menangis.


"Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud menyakitimu Tania. Aku mencintaimu."


Tapi Tania terus menangis. Kei merasa bersalah. 


"Apa kamu benar-benar membenciku?"


"Iya!! Aku membencimu!!" pekik Tania. Kei terdiam. "Tidak, aku mencintaimu." Tania memeluk Kei erat. Kei sempat bengong sejenak, lalu membalas pelukan Tania. Kei tersenyum geli.


"Kamu lucu sekali." kata Kei masih memeluk Tania. Tania melepaskan pelukannya lalu menatap Kei.


"Aku sedang marah dan menangis. Kenapa aku jadi lucu?!" tanya Tania marah.


"Aa.. Ahh.. Maaf.. Maaf..." Kei memeluk Tania yang menangis kembali. Kei masih tersenyum geli.


"Yang mulia." panggil Ian. Kei menoleh tanpa melepaskan pelukannya.


"Ada apa?"


"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Ian. Kei terdiam sejenak. Tania melepaskan pelukannya.


"Lakukan tugasmu sebagai raja." kata Tania. Kei tersenyum dan membelai rambut Tania.


"Biar aku yang menemaninya." kata Bian.


"Terima kasih."


Kei berdiri dan berjalan menjauh bersama Ian.


"Apa kita menang?" tanya Kei.


"Iya, kita menang."


"Kalau begitu, kumpulkan semua tawanan perang dan masukkan mereka ke penjara. Kumpulkan juga yang sudah mati dan segera obati yang terluka. Sebaiknya dengan cepat. Dan ahh pindahkan para warga ke pack Lykort sementara. Sampai pack ini pulih kembali."


"Baik yang mulia."


"Kamu memanggilku yang mulia lagi."  protes Kei.


"Mulai sekarang saya akan terus memanggil anda dengan sebutan yang mulia."


"Kamu ingin aku bunuh? Jangan memanggilku seperti itu. Menjengkelkan sekali."

__ADS_1


Ian tersenyum geli.


"Tapi... Bagaimana keadaanmu Ian?"


"Saya baik yang--"


"Berhenti memanggilku itu!!"


"Aahh maaf. Aku baik."


"Lukamu..." Kei memperhatikan luka Ian.


"Akan segera sembuh. Jangan khawatir."


"Tapi kita harus merawat lukamu, Kei." kata Bian yang ikut bergabung bersama mereka.


"Aku baik-baik saja."


"Tidak Kei, kau tidak baik. Mantraku hanya agar kamu tidak merasakan sakit tapi racun itu masih ada di dalam tubuhmu dan itu harus segera di keluarkan. Jika tidak, kamu akan mati."


"Ahh baiklah..."


"Aku akan melakukan perintahmu. Kamu dan Tania kembalilah ke Lykort dan rawat lukamu dan ahh bawa alpha Zach dan Aaron. Aaron terluka cukup parah. Dia terkena gigitan Roger."


"Baiklah. Kamu baik-baik saja sendirian?"


"Sudah aku katakan aku baik-baik saja. Pergilah. Kamu akan mengantar mereka kan Bian?"


"Tentu, dengan senang hati."


"Kakak!" teriak Tania. Tania mendatangi kakaknya dan memeluknya.


"Tania? Sedang apa kamu disini?" Ryan bingung.


"Kamu baik-baik saja Ryan?"


"Saya baik-baik saja yang mulia. Tapi Tania.."


"Tania baik kak.. Ayo kita pulang."


"Tidak, kakak akan disini membantu Ian."


"Tapi kak..."


"Kakak baik-baik saja Tania... Pulanglah bersama Kei."


"Baiklah."


"Aku akan mengirim bantuan dari Lyort. Jika sudah selesai segeralah kembali. Luka kalian juga harus di rawat."


"Baik." jawab Ryan dan Ian bersamaan.


Bian membawa Kei dan Tania berteleportasi.


"Ayo kita kerjaakan semua." ajak Ian.


"Oke."


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ian sambil menepuk pundak Ryan.


"Aku baik."


****


Besoknya mereka sudah berkumpul di pemakaman. Banyak yang dimakamkan hari ini. Bahkan gamma Kei, Mike dan Brad yang ikut menjadi korban meninggal. Semua gamma datang menghadiri pemakaman Mike dan Brad. Bahkan Jason, Jake dan Adrian yang terluka sangat parahpun menghadiri pemakaman itu. Semua orang bersedih, menangis, lelah dan kehilangan.


Setelah berapa lama, mereka membubarkan diri. Kei berdiri tidak jauh dari pemakaman.


"Bagaimana dengan Roger?" tanya Kei pada ayahnya.


"Ayah dengar tubuhnya di bakar untuk mencegah racunnya tidak bekerja."


"Baguslah."


"Jadi dia tidak akan berbuat jahat lagi?" tanya Tania yang baru bergabung dan langsung memeluk Kei.


"Kami harap begitu."


"Lalu siapa yang akan memimpin pack itu?" tanya Ian.


"Bagaimana denganmu Aaron? Roger adalah pamanmu. Ayahmu yang seharusnya menjadi alpha dan Roger membunuhnya. Berarti pack itu ada ditanganmu."


"Saya tidak mau yang mulia. Saya akan tetap berada di sisi alpha Zach dan menjadi betanya. Pack itu dipimpin oleh sepupu saya, anak dari bibi Melinda, adik ayah yang paling kecil. Saya yakin sepupu saya bisa memimpin pack itu dengan baik."


"Kamu sungguh tidak menginginkan pack itu?" tanya Zach.


"Tidak alpha. Saya sudah merasa bahagia disini."


Kei menepuk pundak Aaron.


"Akhirnya selesai juga." Kei menghela nafas lega. "Aku harap tidak ada lagi Roger-Roger berikutnya."


"Ya, aku juga harap begitu. Satu Roger saja sudah merepotkan."


"Itu benar merepotkan Zach."


"Kita bisa beristirhat dengan tenang sekarang."


"Kata siapa kalian bisa beristirahat?" kata ayah Kei. "Apa kalian lupa kalian masih harus bersekolah? Kalian masih remaja. Segera bereskan baju kalian, liburan sudah selesai dan kalian harus kembai ke pack Sebastian untuk bersekolah."


Ayah Kei pergi meninggalkan mereka.


"Kadang aku lupa jika aku masih remaja."


"Aku juga Zach."

__ADS_1


Mereka tertawa lepas bersama. Tawa yang tidak ada bebannya. Setidaknya mereka bisa bernafas lega sekarang. Mereka memang kehilangan anggota pack mereka, tapi pengorbanan itu tidak sia-sia. Mereka bisa mengembalikan kedamaian lagi.


...---End---...


__ADS_2