
...Pack Moon Bykort...
"Apa anda yakin ini cara yang tepat alpha Ordovick?" tanya Roger. Dia merasa rencana Ordovick terlalu beresiko.
"Tentu, kita harus menyingkirkan orang terkuat disisi mereka. Yang terpilih."
"Tapi kita tidak bisa mengambil resiko membangkitkan Darkness dengan membunuh yang terpilih. Lagipula kita tidak bisa membunuhnya dengan mudah. Terlebih, Darkness akan memperbudak kita."
"Tidak, kita tidak perlu membunuhnya, hanya membuatnya pergi untuk sementara. Jika hanya tersisa para knirer dan penyihir rendahan tidak akan ada masalah. Kita masih bisa mengatasinya Roger, tapi yang terpilih terlalu kuat buat kita."
"Saya harap anda benar." gumam Roger.
"Satu hal dalam peperangan Roger, jangan membawa yang terpilih ke dalamnya. Kamu pikir selama ini kenapa beberapa kaum tidak terlalu membesar-besarkan masalah mereka."
"Mungkin anda benar. Seandainya saya bisa memiliki yang terpilih." dia masih berkeinginan untuk meminang yang terpilih agar bisa menjadi pasangan terkuat. Dengan memiliki yang terpilih disisinya tidak akan ada yang bisa melawannya lagi.
"Kita manusia serigala Roger, kita hanya memiliki mate."
"Ya dan mate saya telah mati. Jadi saya berharap dia adalah mate saya."
"Aku dengar dia adalah mate dari Zach, alpha keturunan murni itu."
"Apa? Itu tidak mungkin. Saya mendapat kabar bahwa mate dari alpha Zach adalah seorang gadis di kota kecil bernama Rotternville dan saya sudah menyelidikinya. Bahkan saya meminta bantuan para penyihir dalam hal ini. Mate nya dilindungi oleh kalung sehingga kita tidak bisa melihat auranya."
"Benarkah? Aneh..." gumam Ordovick
"Dia punya dua mate? Tidak mungkin. Aku yakin salah satunya palsu, untuk mengelabuhi kita."
"Iya, saya yakin juga begitu. Tapi saya yakin gadis itu adalah mate-nya. Dia dilindungi penyihir dan dua manusia serigala. Salah satunya sudah saya bunuh dan karena kebodohan para prajuritku, gadis itu lolos." Roger mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu sudah melakukan yang kuminta?"
"Tentu alpha, aku yakin mereka sudah berada disana saat ini."
"Vampir dan para hybrid. Mereka pasukan yang berguna."
"Tapi bagaimana jika mereka tahu kita membohongi mereka?"
"Jangan biarkan mereka sampai tahu, dengan vampir dan para hybrid dan kaum hitam disisi kita, kita sudah menang besar Roger."
"Saya harap juga begitu alpha."
"Tenang saja Roger. Seperti janjiku, aku akan membantumu. Ayahmu adalah teman baikku dan kamu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri."
"Saya menghargainya, terima kasih alpha."
"Aku mendengar Mayes membuat keributan disini dan betamu Manuel, pergi."
"Benar. Itu hanya masalah kecil, tidak perlu khawatir."
"Benarkah? Tapi jika Mayes sendiri yang turun tangan, berarti bukan masalah kecil Roger dan sampai Manuel melarikan diri? Itu juga mengkhawatirkan."
Roger terdiam. Dia tidak berbicara lagi.
"Dengar nak, jangan bermain-main dengan penyihir dan kaum hitam, terutama menyangkut Darkness."
"Tapi kita telah menjanjikan mereka untuk membunuh yang terpilih dan membangkitkan Darkness. Kita tidak ingin itu terjadi alpha."
"Benar sekali Roger. Meskipun Darkness bangkit, dia tidak akan mendukung kita. Dia lebih memilih vampir yang berada disisinya."
"Lalu kita harus bagaimana alpha? Ini semua gara-gara monster itu, gara-gara raja sialan itu!!" Roger menggeram.
"Aku juga sudah menantikan kematiannya Roger. Salahku dia tetap hidup sampai sekarang."
"Tidak penting siapa yang salah alpha. Sekarang yang terpenting, bagaimana membunuh raja itu. Sementara yang bisa membunuhnya hanya yang terpilih."
"Tapi sayangnya yang terpilih tidak akan membunuhnya meskipun dia berada di pihak kita Roger. Bahkan setelah kejahatan yang aku dan Zigor lakukan, kami masih hidup."
"Dia terlalu baik."
"Benar, dia terlalu sibuk menolong orang lain sementara tidak semua orang bisa ditolong. Kita harus menggunakan cara lain yaitu menjauhkannya dari Kei."
"Lalu... Bagaimana caranya membunuh raja itu alpha? Dengan monster disisinya, dia terlalu kuat meskipun dia masih remaja dan kristal itu menjadi tidak berguna jika tidak ada pada kita."
"Ada cara lain Roger, masih ada."
"Apa itu alpha?"
"Akan aku beritahukan nanti, sekarang konstrasilah pada pertemuanmu dengan Kei. Ingat, buat dia percaya kata-katamu."
"Tentu alpha, akan saya lakukan."
"Aku sudah membuat para vampir dan hybrid itu membuat ulah di sana dan membuat para penyihir menyerang kota Disprea. Keadaan mulai kacau hanya untuk membuat yang terpilih pergi. Jadi... Jangan kecewakan aku Roger."
"Baik alpha, saya pasti akan berhasil. Kita sudah sejauh ini dan tidak akan saya biarkan ini sia-sia."
"Bagus Roger, sangat bagus."
Mereka tertawa bersama. Ordovick menepuk pelan pundak Roger dan terlihat bangga padanya. Semua itu disaksikan oleh Fred, anak tertua Ordovick. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menatap mereka tajam.
****
"Diserang? Apa maksudmu?!" Kei panik.
"Ayo kita pergi dan meli--"
Sebuah kilatan melewati mereka. Mereka berdua terkejut. Disana sudah ada beberapa penyihir. Penyihir itu menyerang lagi. Bian mengayunkan tangannya. Beberapa penyihir terhempas. Bian terus menghempas mereka jauh. Kei merubah dirinya menjadi serigala dan melolong keras memanggil kawanan packnya. Kei menyerang seorang penyihir tapi satu serigala menghalanginya. Kei mengamati serigala itu. Serigala itu bukan dari packnya maupun alpha Sebastian. Serigala itu menggeram.
'Mau apa kamu kemari?' tanya Kei.
'Memberi pesan pada anda dari alpha Roger.'
Kei sedikit terkejut. Alpha Roger kini berani terang-terangan. Tapi yang dia bingung adalah kenapa alpha Roger menggunakan serigala Hybrid untuk menyampaikan pesannya.
'Apa yang alpha Roger inginkan?'
'Pertemuan. Hanya alpha Roger dan anda'
'Dimana?'
'West Virginia, dua hari lagi saat tengah hari.'
Satu persatu muncul serigala. Jumlah mereka lumayan banyak. Hanya satu persamaan mereka, bola mata mereka berwarna coklat, karena mereka serigala Hybrid. Semua orang keluar dari rumah alpha Sebastian dan terkejut. Mereka segera berubah menjadi serigala dan berdiri disisi Kei.
'Ada apa ini alpha? Siapa mereka? Dan mereka adalah hybrid." Tanya Jake.
'Aku tidak tahu.'
Salah satu serigala melolong keras lalu dia menggeram dan berlari ke arah Kei. Ian menghadang dan melompat ke arah serigala itu. Serigala itu menghindar dengan cepat. Satu persatu serigala-serigala itu menyebar dan mengelilingi Kei dan kawanannya. Jumlah serigala-serigala hybrid itu banyak.
__ADS_1
Tiba-tiba Bian terhempas kedinding. Didepanya sudah ada Zigor. Tangan Zigor berada di leher Bian dan mencekiknya.
"Halo yang terpilih." Zigor menyeringai.
'Bian..!!'
Zach menggeram marah.
"Tenanglah disana, alpha. Bian akan baik saja, untuk sementara." kata Zigor sambil masih menatap Bian. Zigor menguatkan cekikannya pada Bian. Bian mengerang tertahan.
"Apa itu sakit yang terpilih? Oh maafkan aku, aku selalu lupa. Meskipun kamu yang terpilih, kamu tetap manusia. Ini pasti terlalu kuat untukmu." Zigor terkekeh senang.
"Mau.. Apa kamu.. Disini..." tanya Bian tertahan.
"Menggunakan raja vampir untuk mengusirku merupakan cara yang cerdik. Tapi sayang itu tidak akan membuatku mengurungkan niatku untuk membunuh kekasihmu."
"Dengan.. berkerja sama... dengan para serigala itu? Aku baru.. tahu kamu bisa.. bekerja sama dengan kaum.. yang kamu anggap... rendahan. Apa itu berarti... kamu rendahan juga?"
Zigor tersenyum pahit lalu menguatkan cekikannya. Bian meringis tertahan.
"Jangan memancing amarahku yang terpilih, kau bisa mati dengan sekali tebasan dariku."
"Ohh Zigor, aku... tidak memancing amarahmu, aku hanya... mengatakan yang sebenarnya. Lagipula...apa kamu lupa siapa yang terpilih? aku penyihir."
Bian mendorong kuat Zigor dengan sihirnya. Zigor terhempas tapi masih bisa mendarat dengan sempurna. Zigor berlari cepat dan dengan seketika berada di depan Bian. Zigor mengayunkan tangannya. Bian dengan cepat menghilang lalu muncul kembali di belakang Zigor dan memegang leher Zigor. Bian mengalirkan aliran listrik ke tubuh Zigor. Tubuh Zigor bergetar hebat dan jatuh ke tanah. Bian langsung berada di atasnya dan mengeluarkan kayu putih dari pohon eek putih. Tangan kiri Bian mencekik leher Zigor lalu tangan satunya mengangkat kayu eek putih itu ke atas, bersiap untuk menusuk Zigor. Zigor tertawa keras membuat Bian mengerutkan keningnya heran.
"Kau bisa saja menggunakan api birumu, tapi kenapa tidak kamu lakukan? Apa kamu sedang sekarat yang terpilih?" Zigor tertawa.
"Sepertinya kamu tidak tahu apapun tentangku Zigor, setelah semua yang terjadi selama ini. Aku penjaga makhluk supranatural bukan menghancurkannya."
"Tidak, kamu hanya terlalu baik dan itu menjadikanmu lemah!"
Zigor mendorong kuat tubuh Bian. Bian melayang jauh. Zach segera berlari menuju Bian. Dia tidak perduli pada serigala hybrid yang menghadangnya. Zach menabrak serigala Hybrid itu dan berlari kuat. Bian mendarat tepat dia atas tubuh Zach yang datang tepat waktu.
'Kamu baik-baik saja?'
"Aku baik Zach, terima kasih."
Kei berubah menjadi manusia kembali.
"Aku sudah mendapatkan pesanku, pergilah. Jangan membuat keributan disini." perintah Kei. Serigala itu hanya menggeram, kemudian pergi satu persatu.
Tak lama terdengar suara ledakkan dilangit. Kembang api lagi.
"Apa kita diserang lagi?" tanya Kei.
"Tidak, itu pesan untukku. Aku harus pergi." Bian turun dari punggung Zach. Bian mengelus kepala serigala Zach lalu tersenyum.
"Kamu mau kemana?" tanya Ian yang sudah kembali menjadi manusia.
"Apa anda melihatnya?" tanya Livia yang baru datang.
"Aku melihatnya Livia."
"Kita harus pergi."
"Tidak Livia, kamu dan Lily tetap disini dan berjaga."
"Tapi bagaimana jika kalian membutuhkan bantuan?"
"Kami baik-baik saja."
"Tunggu dulu, ada apa ini? Bukankah itu tanda dari knirer?"
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Zach.
"Aku tidak tahu, aku harus melihatnya." kata Bian lalh beralih ke Livia dan Lily. "Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan."
"Baik." kata mereka berdua.
"Aku pergi dulu."
Bian menghilang seketika. Semua orang terdiam.
"Kita diserang dan Disprea juga. Ada apa sebenarnya?" tanya Jake.
"Kei, apa para hybrid itu mengatakan sesuatu padamu?" tanya alpha Sebastian.
"Iya, mereka menyampaikan pesan dari alpha Roger untuk saya."
"Pesan?"
"Iya, paman. Dia ingin bertemu denganku secara pribadi dua hari lagi."
"Apa?" semua terkejut.
"Kamu tidak menyanggupinya kan? Demi tuhan Kei, itu bisa saja jebakan!!" pekik Jason.
"Jason... Pelankan suaramu dan kumohon bersikaplah sopan!" tegur Jake.
"Jason benar Kei, itu bisa saja jebakan. Kamu tidak menyanggupinya bukan?" tanya Ian.
"Aku tidak mengatakan aku menyutujuinya." jawab Kei. Semua bernafas lega.
"Syukurlah."
"Tapi aku juga tidak mengatakan aku tidak menyetujuinya." kata Kei lagi.
"Oh tidak Kei, jangan katakan kamu akan pergi menemuinya. Itu berbahaya."
"Aku tahu itu Ian, aku tidak bodoh."
Kei terdiam sementara mereka mulai berdebat dan berkomentar. Apa yang harus aku lakukan?
****
Kei terdiam di kelas. Dia tidak bisa tidur semalam memikirkan tentang pertemuan dengan alpha Roger. Dia ingin datang tapi dia takut apa yang di katakan Jason benar, bahwa semua itu hanya tipuan. Kei sudah sangat larut dalam pikirannya, bahkan pelajaran ibu Harper tidak ada yang masuk ke dalam otaknya.
'Kei, berhentilah gelisah seperti itu. Apa kamu mau ke toilet?' Ian mindlink Kei. Dia sudah muak melihat Kei yang tidak tenang sedari tadi. Kei menggeleng pelan, menjawab Ian.
'Lalu kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu? Atau jangan-jangan kamu berpikir untuk datang ke tempat pertemuan itu?!
Kei tidak menjawab.
'Oh astaga Kei... Kita sudah membahasnya semalam dan kukira kamu setuju untuk tidak memperdulikan pertemuan itu!'
Ian menatap kesal Kei. Kei balas menatapnya.
'Aku tidak tahu Ian, aku hanya merasa tidak tenang. Aku ingin tahu apa yang dia inginkan!'
__ADS_1
'Tapi bagaimana jika semua itu hanya jebakan Kei? Kita tidak bisa ambil resiko!!'
'Aku tahu Ian, tapi tidak bisakah kamu mendukungku?!'
'Oh aku selalu mendukungmu Kei, tapi tidak dengan hal ini. Aku tidak mendukungmu kali ini.'
'Oh ayolah Ian, aku mohon. Hanya kamu yang bisa membantuku.'
'Tidak kali ini Kei. Aku tidak bisa membantumu.'
'Ku mohon Ian... Aku harus tahu apa yang alpha Roger inginkan.'
'Tidak mau.'
'Ian...'
'Tidak!'
'Ku mohon...'
'Ti--'
"Aaaarrrgghhh!!!" Tania tiba-tiba berteriak membuat ibu Harper, guru matematika mereka dan seisi kelas terkejut dan menatapnya.
"Bisakah kalian berhenti berbicara?!" pekik Tania. Kei dan Ian menatap Tania kaget.
"Nona Reynolds, ada apa denganmu? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya ibu Harper.
"Ma-maafkan saya bu." sahut Tania yang menyadari teriakannya tadi. Bu Harper menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang berbicara disini selain kamu yang berteriak Tania. Apa jangan-jangan kamu tertidur di kelasku nona Reynolds?" bu Harper menatap tajam Tania.
"Aahh tentu tidak bu.. Saya hanya seperti mendengar dua serigala gila sedang berbicara." kata Tania menyinggung Kei dan Ian.
"Serigala gila?"
"Iya, Serigala gila, bu. Tapi saya akan mengatasinya." kata Tania.
"Tania, berhentilah berkata yang tidak-tidak dan konsentrasilah pada pelajaranku jika kamu ingin ibu meluluskanmu di mata pelajaran ibu." ancam ibu Harper.
"Baik bu." jawab Tania akhirnya. Ibu Harper menggelengkan kepalanya lagi. "Dan kalian berdua, Kei dan Ian. Berhentilah saling tatap dan konsentrasilah pada pelajaran. Ibu tahu kalian sangat tampan tapi kalian tidak... Uhmm... Pokoknya itu. Lakukanlah tatapan itu saat istirahat." kata ibu Harper lalu kembali ke pelajaranya. Kei dan Ian melongo tidak percaya.
Terdengar suara tertawa geli dari Casey. Casey berusaha tertawa sepelan mungkin dan memegangi perutnya. Dia tahu Kei dan Ian adalah manusia serigala dan mereka berbicara melalui mindlink tapi ketidaktahuan bu Harper membuatnya geli.
"Berhentilah tertawa Casey." bisik Kei.
"Astaga, maaf." bisik Casey.
Tania melihat bu Harper sedang menulis di whiteboard lalu menatap Kei dan Menunjuknya.
"Kamu... " Tania beralih ke Ian lalu menunjuknya. "... Dan kamu. Jika kalian berdua berani berbicara lagi, akan aku cincang kalian berdua."
"Tapi Tania... kami menggunakan mindlink." bisik Kei.
"Jangan pakai itu juga! Aku bisa mendengarnya apa kamu lupa?" Tania menatap Kei tajam. Kei terdiam, tidak bisa berbicara lagi. Jika Tania sudah menatapnya dengan tatapan itu, dia akan menyerah dengan suka rela.
"Nona Reynolds.." panggil ibu Harper lagi. "Ada apa lagi sekarang?"
"Maaf bu, saya hanya mencoba mendiamkan dua serigala gila yang cerewet ini." Tania menatap Ian dan Kei secara bergantian. Bu Harper hanya bisa menggelengkan kepalanya. Casey tertawa lagi. Bel istirahat berbunyi. Ibu Harper keluar dari kelas mereka.
"Hai Kei, hai Ian.. Dua serigala gila yang cerewet. Astaga itu lucu sekali." kata Casey lalu tertawa terbahak.
"Berhentilah tertawa, kamu akan menjadi gila jika tertawa terus." omel Kei.
"Tidak perduli. Dan yang paling lucu adalah ibu Harper mengira kalian.. Kalian.. Gay!! Bwahahhahaa..." Casey pergi ke kantin sambil tertawa dan memegangi perutnya.
"Gara-gata kamu Ian."
"Kenapa jadi aku? Kamu yang tidak mau nurut. Ini salahmu. Aarrghh aku buka Gay!!" pekik Ian lalu beralih ke Anne. "Kamu tidak percaya itu kan sayang?"
Anne hanya mengangkat kedua bahunya dan pergi menyusul Casey.
"Anne..." panggil Ian lalu beranjak mengejar Anne, tapi dengan cekatan Tania memegang lengan Ian.
"Mau kemana?" tanya Tania.
"Aah saya... Anne.."
"Lupakan Anne, duduk." kata Tania dengan nada perintah. Ian menatap Kei dan masih berdiri diam. "Aku bilang duduk." tegas Tania. Ian langsung duduk seketika melihat keseriusan Tania.
"Dan kamu.." tunjuk Tania pada Kei.
"Iya sayang?" Kei mencoba tersenyum manis.
"Jangan tersenyum padaku. Duduk!" perintah Tania pada Kei. Kei langsung duduk di sebelah Ian. Tania berdiri sambil melipat kedua tangannya didada.
"Ada apa Tania? Apa kamu marah karena hal tadi?" tanya Kei bingung.
"Yang mulia ratu, maaf tapi saya harus mengejar Anne. Saya takut dia salah sangka pada saya, yang mulia." kata Ian.
"Hei, kamu memanggil Tania dengan sebutan Yang mulia dan bersikap sopan padanya, sementara kamu padaku... Whoaa... Ini benar-benar keterlaluan."
"Ha! Kau kan--"
"Cukup!! Huft.. Kalian benar-benar seperti..."
"Tom and Jerry?" tebak Kei. "Dia Tom yang menyebalkan, aku Jerry yang baik hati."
"Ha! Seenaknya saja. Kau yang menyebalkan!" Ian mendengus kesal. Tania terlihat marah lalu memukul meja dengan keras. Kei dan Ian langsung terdiam dan tertunduk.
"Sekarang... ceritakan padaku apa yang terjadi. Ada apa dengan si Roger gila itu? Katakan semuanya padaku apa yang terjadi, semuanya!"
Kei dan Ian saling pandang.
"Jangan mencoba membohongiku atau menutup-nutupinya dariku."
"Tapi Tania..." Kei mencoba membujuk Tania. Dia tidak ingin Tania terlibat dalam hal itu tapi Tania menggeram kasar dan menatap tajam Kei. Kei bahkan belum cerita pada Tania tentang Tania membunuh beberapa orang. Yang Tania tahu dia hanya kerasukan suatu makhluk. Kei tidak menceritakan bagian dimana Tania membunuh.
'Astaga, dia bahkan lebih galak dari ibumu saat ibumu marah Kei.'
"Aku bisa mendengarmu Ian!!" pekik Tania.
"Ahh maaf yang mulia."
"Jadi... Beritahukan padaku."
"Aku tidak mau kamu terlibat dengan hal ini Tania..." Kei melihat ke sekitarnya lalu berbisik. "Ini masalah manusia serigala."
"Aku tidak perduli. Katakan padaku atau aku bersumpah akan memakan kalian hidup-hidup." ancam Tania.
__ADS_1
****
tadariez