
Aaron berlari menuju Jason yang sudah tergeletak di tanah. Aaron melompat dan menerjang Roger. Roger yang membaca gerakan Aaron, langsung berdiri dengan kedua kakinya dan menangkap tubuh Aaron yang menerjangnya. Roger mendorong tubuh Aaron agar terlepas darinya lalu menghempas Aaron dengan kuat menggunakan kepalanya. Aaron sudah terhempas. Jake ikut menyerang tapi seperti Jason, dia ikut terluka terkena cakaran Roger.
'Apa kalian tidak akan membantu?' tanya Ryan pada warrior kuil setelah mengalahkan dua serigala.
'Maaf tidak bisa.'
'Kenapa begitu?'
'Kami telah disumpah, bertarung hanya untuk kuil itu.'
'Tapi Roger juga mencuri kristal itu kan? Dia juga bersalah pada kuil!'
Para warrior terdiam. Namun mereka akhirnya berkata,
'Maaf.'
'Akkhh sial!!'
Sementara itu, Roger sudah menumbangkan beberapa pasukan Kei.
'Wolfsbane yang mulia. Kuku dan mulut Roger dipenuhi oleh wolfsbane mematikan.' sahut Aaron. Kei sedang mencoba mengobati Jason.
'Apa?!'
'Saya takut yang terluka tidak akan selamat yang mulia.'
'K-kei... Hanya kamu... Hanya kamu yang bisa Kei...' sahut Ian. Kei terdiam.
'Apa kalian mau bertahan untukku?'
'Akan kami coba yang mulia.'
'Bagus, bertahanlah disisiku. Roger mempunyai beberapa alpha pendukungnya disisinya.'
'Aku juga akan bertarung disisimu Kei.'
'Zach?!'
'Alpha!'
'Kenapa kamu kembali?'
'Untuk menyelesaikan pertarunganku tentu.'
'Kamu masih lemah Zach.'
'Aku baik-baik saja Kei, lagipula kita Orychant bukan? Kita kuat jika kita bersama. Karena itu, mari kita selesaikan pertempuran ini.'
'Baiklah, tapi aku mohon Zach, berjanjilah jika kamu sudah terlalu lemah maka kamu berhenti bertarung.'
'Aku berjanji, jangan khawatirkan aku.'
'Bagus, aku akan--- oh tidak!! Ryan!'
Ryan menyerang Roger. Mereka bergguling ditanah. Ryan langsung bangkit dan menyerang Roger yang bahkan belum siap menerima serangan. Tapi bukanlah Roger jika dia tidak bisa menahan serangan. Dia di latih oleh ayahnya dengan sangat keras. Dia sudah merasakan sakit yang teramat semenjak dia kecil. Roger berhasil melepaskan diri lalu dengan segera melayangkan cakarnya ke tubuh Ryan. Ryan mengerang kesakitan. Ryan berjalan mundur perlahan, menjauhi Roger. Tapi kemudian dia menyerang Roger lagi. Roger terkejut. Ryan tidak tumbang seperti yang lainnya setelah terkena kukunya yang di penuhi wolfsbane. Apa dia mungkin...
Ryan menyerang Roger dengan agresif.
'Yang mulia!' panggil Aaron. Kei baru saja menghempas satu alpha pendukung Roger.
'Ada apa Aaron?' tanya Kei sambil bertarung.
'Ryan...'
'Ada apa dengannya?'
'Dia memiliki kekebalan yang sama dengan alpha Roger.'
'Apa? Bagaimana kamu tahu semua itu?'
'Karena setiap kali di serang, Ryan tidak menjadi lemah seperti yang lainnya. Saya menduga dia memiliki kekebalan yang sama.
'Bukankah itu bagus?' Kei menghempas lagi serigala yang menyerangnya.
'Tidak yang mulia. Roger akan membunuhnya. Dia tidak suka ada yang menyamai atau melebihinya. Karena itu selama ini dia menargetkan anda dan alpha Zach!'
'Tunggu, apa maksudmu?'
'Ryan dalam bahaya!'
Kei seketika berlari ke arah Ryan. Roger sudah mengangkat tangannya ke atas, untuk menyerang Ryan. Kei mendorong keras tubuh Ryan, membuat dirinya yang terkena serangan Roger. Kei menggeram keras. Wolfsbane mengenai kulit dan dagingnya. Terasa perih dan terbakar. Tapi Kei mempunyai Lycan, yang membuatnya bisa bertahan.
'Ayo! Keluarkan monster itu! Keluarkan Lycan!!' kata Roger. Kei hanya diam.
'Kenapa? Kau takut? Ayolah... Aku tidak akan takut.'
'Kamu akan menyesal meminta itu.'
'Aku? Aku justru menunggu hal itu. Aku akan dengan senang hati menghadapi Lycan itu. Dulu saat aku membunuh kakekmu, aku melakukan kesalahan. Sekarang, aku tidak akan melakukannya lagi.'
'Ap-apa maksudmu? Membunuh kakek?'
Flashback #1
Roger duduk diam di kursi. Matanya menatap satu orang yang telah terikat dan tidak berdaya. Roger terlihat masih sangat muda. Umurnya baru dua puluh dua tahun. Dia menatap orang itu dalam diam. Tubuh orang itu penuh luka dan diselimuti darah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya satu orang yang baru masuk.
"Tentu, bagaimana ayah?"
"Alpha baik. Dia sudah berada di kamarnya dan terbaring di tempat tidurnya."
"Bagus. Jangan sampai ayahku sadar dan curiga. Kau betanya Bruce. Kau bisa mempengaruhinya."
"Akan saya coba, alpha."
Roger kembali diam.
"Alpha, lalu... Bagaimana dengan dia?"
"Dia? Tentu akan kita kembalikan juga. Dengan hati-hati tentu. Jangan sampai ada yang curiga."
"Tapi kenapa kita tidak membunuhnya saja alpha?"
"Akan ada banyak kecurigaan Bruce. Aku ingin membuat semuanya menjadi seperti... Hal yang wajar. Raja Lycanthrope mati karena tua. Itu hal yang wajar bukan?"
"Tapi bagaimana dengan lukanya?"
"Oh lukanya akan sembuh, jangan khawatir. Begitu lukanya sembuh, kita akan suntikkan wolfsbane dari kristal itu, maka dia akan mati secara perlahan, secara wajar."
"Tapi bagaimana jika kekuatan Lycannya turun ke anak atau cucunya? Ordovick dan Oston, anaknya? Bisa saja salah satu dari mereka."
"Aku tahu itu. Kita lihat saja bagaimana nanti. Jika memang kekuatan itu turun ke anak atau cucunya, maka perlakukan mereka seperti dia."
"Baik alpha."
Flashback #2
"Alpha...!!"
__ADS_1
"Ada apa Bruce?" tanya Roger. Roger berada di makam ayahnya.
"Ternyata dugaan kita benar! Kekuatan Lycan, jatuh ke tangan keturunannya."
"Benarkah? Siapa?"
"Cucunya yang bernama Kei. Umurnya masih lima tahun dan dia sudah melakukan kejahatan dengan Lycan itu."
"Benarkah?"
"Sekarang bagaimana alpha?"
"Selidiki semuanya Bruce, tentang keluarga Laros dan ahh bawa Manuel. Kau menjadi betaku setelah ayahku mati dan betaku yang lain adalah Manuel." Roger menunjuk Manuel yang berdiri dalam diam.
"Baik alpha."
Flashback #3
"Roger..." Ordovick berdiri dan menyambut Roger yang datang ke ruang kerja di rumah pribadinya.
"Selamat malam tuan Ordovick." sapa Roger.
"Silahkan duduk. Sudah lama sekali semenjak ayahmu membawamu kemari." kata Ordovick. Roger duduk tepat di hadapan Ordovick. Sementara Manuel berdiri di dekat pintu bersama Hutch, beta dari Ordovick.
"Jadi.. Apa yang membawamu kemari Roger?" tanya Ordovick.
"Hanya ingin memastikan sesuatu."
"Apa itu?"
"Tentang keponakan anda. Saya dengar dia membuat kekacauan."
"Maksudmu Kei?" tanya Ordovick memastikan. Roger mengangguk. "Yaaah begitulah. Itu karena dia mendapat kekuatan ayahku, Lycan."
"Jadi... Dia akan menjadi raja?"
"Tentu saja."
"Anda tidak masalah dengan itu?"
"Apa maksudmu?"
"Keponakan anda akan memimpin seluruh kaum Lycanthrope. Bukan anda, maupun anak-anak anda. Aku mendengar, anda sudah melatih anak anda dengan keras dan andalah yang bertempur langsung jika ada peperangan. Anda, bukan saudara anda Oston. Tapi yang jadi alpha justru saudara anda, Oston. Bukan anda. Padahal anda yang selalu mengamankan pack ini. Apa anda tidak merasa ini tidak adil? Seharusnya anda yang menjadi alpha."
Ordovick terdiam. Dia memang merasa seperti itu tapi Oston adalah kakaknya dan Kei adalah keponakannya. Meski dia tidak terlalu menyukai hal itu, dia tidak ingin bertarung dengan kakaknya sendiri.
"Tuan... Anda adalah pangeran yang kuat. Bahkan ayah anda selalu melatih anda dengan keras. Sementara alpha Oston tidak demikian. Karena fisiknya yang lemah, alpha Oston tidak di latih seperti anda."
"Sebenarnya ada apa ini Roger? Kenapa kamu membicarakan hal ini?"
"Maaf jika saya lancang tuan. Tapi saya hanya merasa ini sangat tidak adil. Saya benci ketidakadilan. Anda yang mempertahankan dan memperkuat pack Lykort, tetapi kakak anda yang menjadi alpha dan bahkan keponakan anda yang mendapatkan kekuatan Lycan. Bukan anda atau anak anda. Anda yang berlatih keras dan anda juga melatih anak anda dengan keras. Meskipun anda bersaudara tapi saya rasa ini sudah sangat keterlaluan. Apa kata orang-orang dan kaum lain? Lykort adalah pack yang besar dan tertua. Semua orang menginginkan anda yang memimpin mereka tapi yang memimpin justru kakak anda yang tidak menyumbang apapun untuk Lykort. Sayang sekali. Pasti Lykort bertambah kuat jika anda yang memimpin."
Hening. Ordovick terdiam. Ya itu benar. Harusnya dia yang menjadi alpha. Bukan kakaknya yang lemah itu. Dia.
"Baiklah, saya permisi tuan. Saya harap anda bisa mempertimbangkannya. Saya akan dengan senang hati membantu jika anda berubah pikiran. Selamat malam."
Roger berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar ruang kerja Ordovick.
"Alpha, apa tidak apa-apa mengadu domba tuan Ordovick dengan alpha Oston?" tanya Manuel saat mereka sudah memasuki wilayah Bykort.
"Tentu saja. Itu yang aku inginkan."
"Maksud anda?"
"Dengan Ordovick melawan Oston, itu bisa menguntungkan bagiku." kata Roger. Manuel mengerutkan keningnya. Dia menatap Roger bingung.
"Kemungkinan Oston akan di lengserkan sebagai alpha dan raja sementara. Lalu jika dia membunuh Oston dan keluarganya itu, akan mempermudahkanku. Tapi akan lebih bagus jika dia mengusirnya. Jadi aku bisa dengan mudah membunuh anak kecil itu."
"Anak kecil?"
"Iya, anak monster itu."
"Maksud anda... Raja itu?"
"Ya, anak ingusan itu."
"Tapi dia kuat alpha. Bahkan saya dengar tidak ada yang bisa menghentikannya."
"Ada satu. Satu-satunya racun yang bisa membunuhnya. Kamu akan memiliki kehormatan untuk mengambil racun itu Manuel."
"Dan dia akan mati?"
"Tentu saja. Racun itu sangat berbahaya, terlebih untuk serigala keturunan murni. Sedikit saja racun itu bisa menyebabkan kematian dan akan aku gunakan setengah dari racun untuk anak itu. Tapi yang terpenting dia harus mati saat berubah menjadi Lycan. Itu bagian paling penting."
"Kenapa begitu alpha?"
"Di buku Moongoddes di katakan, jika kita membunuh monster Lycan saat dia masih berubah menjadi Lycan dan dia tidak memiliki keturunan, maka kekuatan Lycan jatuh ke tangan orang yang membunuhnya."
"Jadi maksud anda... Jika anda membunuh raja itu maka Lycan akan menjadi milik anda, begitu?"
"Benar sekali Manuel. Karena itu dulu aku melakukan kesalahan. Aku menculik raja Lycan terdahulu. Kakek dari anak itu dan memberinya racun itu tanpa tahu yang sebenarnya. Bahwa tidak boleh ada keturunan dari sang raja. Karena meskipun kita membunuhnya, keturunan itu yang akan mengambil kekuatan itu. Dan raja sekarang tidak memiliki keturunan yang artinya, itu kesempatanku."
"Anda akan membunuhnya? Tapi dia masih anak-anak alpha."
"Apa perduliku?! Dia memiliki apa yang ingin aku miliki dan akan aku pastikan aku mendapatkannya dengan cara apapun."
Flashback end
'Katakan padaku!! Apa maksud perkataanmu?!'
'Aku yang membunuh kakekmu.'
'Tidak mungkin.. Kakek sakit, bukan terbunuh.'
'Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu masih anak kecil! Dan sekarang, akan aku buat kamu menyusul kakekmu. Ayo berubahlah pengecut!!'
'Tidak! Aku masih bisa melawanmu tanpa harus berubah.'
'Dasar pengecut!! Apa perlu aku membunuh pasukanmu lebih banyak lagi?! Ahh mungkin kali ini... Betamu?'
'Tidak akan ku biarkan!'
'Ayolah... Kamu tidak akan membunuhku dengan penampilan seperti itu.'
Kei menggeram marah. Dia tidak ingin ada yang terluka lagi. Semua harus segera di hentikan. Kei melolong keras, sangat keras. Lalu tak lama, terdengar suara patahan tulang. Kei berubah menjadi Lycan. Tubuh besar dan bulu-bulu lebatnya. Kei berdiri dengan kedua kakinya.
'Bagus, ini yang aku nantikan.'
Kei menggeram sangat kuat lalu mendatangi Roger. Roger menghindar dan berlari kesegala arah. Kei menyerang tidak hanya Roger, tapi seluruh pasukan Roger. Semua serigala terhempas tak tentu arah. Kei menghempas mereka dengan sekali ayunan tangannya. Dia terus maju dan menyerang serigala yang ada di hadapannya. Bahkan dia hampir menyerang Jake. Dia tidak menyadari dia menuju ke kerumunan warga biasa. Para warrior kuil berlari dan berhenti tepat di hadapan Kei.
'Maaf yang mulia, tapi anda akan melewati batas. Pertarungan anda di sebelah sana. Mereka tidak bersalah, tidak boleh di sakiti.'
Kei menatap pada warrior. Dia tersadar. Dia hampir di kuasai oleh Lycannya. Tiba-tiba..
"Rrrroooaarrrrggghhh!!!!"
Kei berteriak. Roger menggigit Kei. Kei menggeram marah dan berusaha meraih Roger. Roger dengan cepat menghindar lalu berlari menjauh. Roger berlari sangat cepat dan pergi meninggalkan Kei. Kei ikut berlari mengejar Roger. Mereka berlari masuk ke dalam hutan. Kei yang mempunyai tubuh lebih besar dari Roger menerobos hutan. Beberapa pohon patah dan tumbang di tabrak Kei.
Roger bersembunyi di balik semak. Dia kemudian berlari mengelilingi Kei. Kei mencoba mencari keberadaan Roger. Tapi Roger sangat cepat. Dia jadi teringat kata-kata ayahnya. Roger bukan lawan yang bisa di sepelekan. Dia sangat kuat dan cepat. Dia bahkan bisa mengalahkan satu pack manusia serigala sendirian. Roger masih berlari di antara pepohonan dan semak belukar, berlari mengelilingi Kei. Kei berlari, mencoba untuk menangkap Roger. Tapi usahanya sia-sia.
__ADS_1
'Berhenti bersembunyi dan hadapi aku!' pekik Kei. Tapi Roger tidak mendengarkan. Dia masih tetap berlari cepat mengelilingi Kei. Tiba-tiba...
Sruk!!
Kei tertusuk. Roger telah berubah menjadi manusia dan membawa sebuah pedang lalu menusuk Kei dengan pedang itu. Kei menggeram marah. Dia menepis Roger yang masih memegang pedang itu. Roger terhempas dan merubah dirinya menjadi serigala saat masih di udara. Kei merasa lemah seketika. Dia menekuk satu kakinya dan berteriak keras. Roger kembali mendekati Kei dan mendorong kuat pedang itu agar lebih masuk ke dalam, membuat Kei mengerang lebih keras.
Roger mundur perlahan sambil menggeram lalu pergi meninggalkan Kei sendiri. Kei merasakan tubuhnya terbakar. Terasa sakit di dada. Dia sesak nafas. Kei menarik pedang yang menancap di pinggangnya. Darah mulai keluar dari tubuh Lycan Kei. Kei dengan perlahan kembali menjadi manusia. Dia menyentuh luka di pinggangnya. Darah merah segar menempel di tangannya. Nafasnya mulai tertahan. Penglihatannya kabur. Dia terbaring di tanah yang lembab.
"Ta... Ta.. Tania..."
Sementara itu di Lykort..
"Kei!!"
Tania tersadar. Dia bermimpi buruk tentang Kei. Tania langsung turun dari tempat tidurnya. Tapi belum melangkah, kakinya tertahan. Kepalanya pusing. Tania duduk kembali di tempat tidurnya sambil memegang kepalanya.
"Tania? Sayang?" ibu Kei yang melihat Tania sudah sadar langsung mendatanginya. Ibu Kei duduk di hadapan Tania. "Kamu baik-baik saja sayang?"
"Tania Baik, nyonya Laros."
"Sudah ibu katakan, kamu bisa memanggilku dengan sebutan ibu."
"Maaf bu."
"Tidak masalah sayang. Tidurlah lagi."
"Tidak bu, Kei... Kei dimana?" Tania mulai panik.
"Kei.. Dia.."
"Kei dimana bu?"
"Dia sedang bertempur Tania."
"Ber-bertempur?" Tania menatap heran.
"Kei ditangkap oleh alpha Roger. Semua orang menyelamatkan Kei dan Zach dan ibu yakin mereka sedang bertempur saat ini." jelas ibu Kei.
"Tidak! Tidak boleh!!" pekik Tania.
"Ada apa Tania?"
"Kei dalam bahaya bu, Kei dalam bahaya!!"
"Apa maksudmu sayang?"
"Tania bisa merasakan Kei dalam bahaya. Dada Tania sesak, Tania tidak tenang. Tania tahu Kei dalam bahaya. Kita harus menyusulnya bu. Kita harus pergi!" Tania berdiri dan beranjak pergi. Tapi ibu Kei menghentikannya dan membuat Tania duduk kembali.
"Ibu mengerti Tania. Sangat mengerti. Ibu pernah mengalami hal itu. Kita adalah mate dari manusia serigala yang artinya kita memiliki hubungan atau ikatan khusus dengan mereka. Jadi jika mate kita mengalami sesuatu atau dalam bahaya, kita akan merasakannya. Tapi Kei anak yang kuat dan cerdas. Dia pasti bisa mengatasinya. Percaya padanya."
"Tapi bu..."
"Jika kamu berada disana, apa yang akan kamu lakukan? Kamu bukan manusia serigala. Kamu tidak akan membantunya tapi dia yang akan terus melindungimu disana. Apa kamu mau seperti itu?" tanya ibu Kei. Tania menggeleng.
"Tania, kamu bisa berkomunikasi dengan Kei. Jika ikatan kalian kuat, kalian bisa berkomunikasi. Panggil namanya. Rasakan kehadirannya. Kamu memang bukan seperti ibu, manusia serigala. Kamu manusia biasa. Tapi kamu bisa berkomunikasi dengannya, cobalah. Konsentrasi."
Tania diam sejenak lalu memutup matanya.
"Kei...." bisiknya lirih. "Kei? Kamu mendengarku? Kumohon bertahanlah Kei. Aku mencintaimu. Aku menunggumu disini. Kei..."
Tak terasa air mata Tania terjatuh.
Pack Moon Bykort
Brakk!!!
Tubuh Zach mengenai sebuah bangunan akibat di dorong keras oleh Roger. Zach berusaha berdiri tapi dia sangat lemah. Selain masih ada sisa racun wolfsbane ditubuhnya, dia juga sudah bertarung habis-habisan dengan Roger.
'Kau kira bisa dengan mudah mengalahkanku?! Lihatlah sekelilingmu! Kalian kalah. Aku bisa dengan mudah mengalahkan kalian. Alpha keturunan murni? Cih! Aku tidak perduli dengan gelar bodoh yang ada padamu. Kau tetap lemah!! Kei? Raja ingusan itu?! Mungkin dia sedang meregang nyawa saat ini dan atau mungkin... Dia sudah mati.'
'K-Kei... Ti-tidak mungkin...'
'Oh itu mungkin. Jika aku menusuknya dengan pedang perak yang di lapisi oleh wolfsbane langka dari kristal itu.'
'A-apa?'
'Dia akan mati Zach, begitu pula denganmu!'
Roger berlari mendekati Zach yang masih berusaha untuk bangkit. Roger melompat tinggi sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas, berusaha mencakar Zach dan..
Bukk!!
Roger terjatuh. Sudah ada Aaron disana. Roger langsung bangkit dan menggeram marah pada Aaron.
'Kau--'
'Tidak akan aku biarkan... Aku tidak akan membiarkan kamu membunuh alphaku seperti kamu membunuh ayahku.' kata Aaron. Roger terkejut.
'Ya, aku mengingat semuanya. Aku mengingat bagaimana kamu membunuh ayahku, kakakmu sendiri. Hanya untuk menjadi alpha? Dan kamu membuatnya seolah-olah ayahku mati karena bertarung dengan pack lain, padahal kau yang membunuhnya.'
'Kau anak kecil tahu apa?!'
'Aku melihat semuanya! Kau membunuh ayahku di hutan black. Aku mengikutimu dan ayahku malam itu. Dan kau membunuhnya setelah kau suntikkan ayahku dengan wolfsbane lalu memberitahukan pada kakek jika ayahku pergi berperang dan membuatku menjadi anak yang gila karena menuduhmu membunuh ayahku. Kakek membuatku menjadi gamma terendah karena itu. Dan kau?! Kau menjadi calon alpha berikutnya tapi kamu juga membunuh kakek, iya kan?! Kamu meracuninya dengan wolfsbane, sama seperti kamu meracuni ayahku dan raja Lycan itu, kakek Kei.'
'Aahh kau sudah ingat rupanya. Sepertinya mantra itu kurang kuat. Seharusnya dulu kubunuh saja kamu bersama ayah sialanmu!'
'Ya, aku ingat semuanya! Aku juga ingat kau yang meracuni sisa-sisa manusia serigala dari pack Hykort. Dan kau benar. Seharusnya kau membunuhku waktu itu.'
'Tidak masalah, aku akan membunuhmu sekarang, saat ini juga!'
Roger berlari begitu juga Aaron. Mereka saling menyerang satu sama lain. Aaron tentu bukan lawan sebanding tapi Aaron tidak menyerah. Roger menghempas keras tubuh Aaron dengan tubuhnya. Aaron masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dan mendarat sempurna dengan keempat kaki serigalanya. Aaron berlari ke arah Roger lagi, kali ini Zach ikut menyerang.
Sementara itu, Kei...
'Kei....' terdengar suara memanggil namanya dengan pelan.
'Kei... ' suara itu terdengar lagi. Kei mencoba bangkit tapi tidak bisa. Tubuhnya begitu lemah. Darah sudah terlalu banyak terbuang.
"Kei... Kau baik-baik saja? Bertahanlah Kei." sebuah suara muncul. Kei bisa mendengar suara itu dengan jelas tapi dia tidak bisa melihat siapa. Penglihatannya kabur. Terlihat cahaya putih muncul.
"Itu tidak akan menyembuhkan lukamu tapi itu akan membuatmu tidak merasakan sakit dari lukamu. Kau akan baik-baik saja Kei. Ingatlah, kau kuat, kau raja Lycanthrope. Jangan menyerah Kei. Hanya kamu yang bisa menyelesaikan semua ini. Selesaikanlah dan kembalilah pada Tania. Dia sudah menunggumu."
"T-Ta.. Ta.. Nia.."
"Betul, Tania. Dia menunggumu. Selesaikan semua ini dan pulanglah Kei. Aku tahu kamu bisa melakukannya adik manis." kata suara itu lalu menghilang.
"Tania... Tania... Tania!!!"
Mata Kei berubah menjadi merah dan dia berusaha dengan keras untuk bangkit. Kei bangkit perlahan, tubuhnya bergetar.
"Aku tidak boleh lemah..."
Kei sudah berdiri tegak sekarang. Di mengatur nafasnya karena dia sudah sangat marah.
"Aaaaaggghhhhhh....!!!!" Kei berteriak keras. Lalu merubah dirinya menjadi serigala dan melolong keras lalu berlari meninggalkan hutan itu. Kei berlari dan terus berlari. Tak lama dari kejauhan dia melihat Roger meletakkan kakinya di atas tubuh Zach dan mulutnya menggigit leher Aaron. Kei menggeram marah. Dia berlari ke arah Roger dan berubah menjadi Lycan, lalu menghempas Roger dengan keras. Kei menangkap tubuh Aaron yang ikut terhempas lalu meletakkannya di tanah. Roger terkejut melihat Kei.
'Tidak mungkin...'
****
__ADS_1