My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Still Worried


__ADS_3

Ian membuka pintu mobil. Dia melihat Kei yang masih bengong.


"Hei, apa kamu tidak mau masuk?" tanya Ian.


"Kita pakai mobil?"


"Tentu pakai mobil, memangnya kamu mau pakai apa? Kereta kencana? Sudah ayo masuk."


Ian langsung masuk ke dalam mobil diikuti Kei. Ian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Anne. Mereka berdua hanya diam. Tidak ada yang berbicara. Kei melihat Ian. Wajah Ian kusut. Sesekali mengusap rambut coklat gelapnya.


"Kamu baik-baik saja Ian?" tanya Kei yang tampak khawatir.


"Hmm... Aku baik." jawab Ian tanpa melihat Kei.


"Apa karena ayahku menyuruhmu menjauhi Anne untuk sementara?"


"Tidak. Bukan itu." kata Ian lagi, masih tidak menoleh. "Justru aku merasa bersalah Kei. Karena terlalu mengurusi mate aku jadi lupa tugasku padamu. Seharusnya aku bersamamu. Untung saja tadi ada Bian, kalau tidak aku tidak tahu lagi."


"Aku tidak apa-apa Ian. Sudah cukup kamu menjagaku sedari dulu. Kamu juga punya kehidupan sendiri." kata Kei membuat Ian menoleh singkat lalu terkekeh.


"Waah dewasa sekali hari ini." puji Ian. Kei ikut terkekeh.


"Jadi... Apa kamu masih akan ajak Anne berkencan?"


"Aku tidak tahu." Ian menghela nafas. "Mungkin tidak. Sebaiknya aku tunggu setelah kamu berulang tahun dulu. Aku ingin fokus padamu Kei."


"Ian, aku sudah bilang--"


"Tidak Kei, aku menginginkannya. Lagi pula itu sudah tugasku dan aku juga sudah berjanji pada Dylan untuk menjagamu."


"Kak Dylan?"


"Iya, aku harus menepati janjiku. Aku tidak apa-apa, sungguh." Ian tertawa.


Kei terdiam. Entah kenapa dia merasa bersalah.


"Aku harap Bian baik-baik saja. Aku dengar dia terluka." kata Ian.


"Apa yang terjadi? Apa kamu tahu?" tanya Kei.


"Ada seorang manusia. Kamu tahu? Tuan Bennedict, penjaga sekolah? Dia tiba-tiba muncul saat Bian sedang bertarung. Bian terluka karena melindungi tuan Bennedict." jelas Ian.


"Kenapa si tua itu ada disana segala?"


"Aku tidak tahu. Dia bilang dia hanya ingin berjalan-jalan dan merokok lalu bertemu mereka." kata Ian.


Mobil mereka berhenti di depan rumah Anne. Rumah minimalis bercat warna peach. Ian turun untuk menjemput Anne dan meminta ijin pada keluaga Anne sementara Kei hanya duduk di mobil. Kei termenung. Dia memegang kalung pemberian Bian.


Tak lama keluar Anne beserta Ian. Anne menggunakan rok di atas lutut dan baju kaus berlengan pendek dan ketat yang ujungnya di masukkan kedalam rok. Rambutnya diikat ke samping.


Kei turun dan menyuruh Anne duduk di sebelah Ian. Kei membuka pintu di belakangnya. Mobil berjalan kembali menuju ke rumah Tania. Ian mulai bercerita dengan Anne. Sesekali mereka tertawa. Kei tidak terlalu memperhatikan. Dia tampak tidak tenang dari tadi.


'Kenapa aku begitu khawatir ya? Tidak Kei, fokus pada Tania.'


Kei menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Kei?" panggil Ian. Kei membuka matanya.


"Apa?"


"Apa kamu mau diam saja disitu? Jemput Tania sana."


Kei melihat kesekitarnya. Dia sudah sampai ternyata. Dia tidak menyadarinya. Kei turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah Tania. Tapi belum sampai, pintu itu sudah terbuka. Tania keluar dari rumahnya.


"Ayo pergi." katanya sambil berjalan melewati Kei.


"Hei apa kita tidak ijin dulu sama kakakmu?" tanya Kei lalu menyusul Tania ke mobil.


"Tidak usah. Tadi aku sudah ijin." kata Tania cuek. Kei menatap Tania. Tania memakai baju terusan rok diatas lutut berwarna hitam dan memakai jaket kulit berwarna coklat. Rambutnya di biarkan tergerai. Cantik sekali, puji Kei.


"Hei, apa kalian masih mau berdiri disana? Ayo kita pergi." teriak Ian dari dalam mobil. Kei dan Tania yang saling menatap tersadar. Kei membukakan pintu untuk Tania dan langsung menyusul masuk kedalam mobil.


Sepanjang jalan Tania dan Kei hanya diam. Sesekali Tania melirik ke arah Kei yang hanya menatap ke jalanan di sampingnya.


"Aku tidak tahu kamu bisa mengendarai mobil Ian." kata Tania membuka suara. Kei tetap tidak menoleh.


"Ahh hehehe iya. Sebenarnya sudah lama. Hanya saja ayah kurang setuju aku mengendarai mobil. Kamu tahu kan? Anak sekolah. " Ian terkekeh. Tania hanya ber oh ria dan melihat Kei lagi.


'Kenapa dia diam saja? Bahkan melihat aku saja tidak. Sebal! Apa dia kembali menjadi beruang kutub lagi?'


Tania masih menatap Kei bingung.


"Berhentilah menatapku seperti itu Tania." Kei menatap Tania dan tersenyum. Tania langsung salah tingkah dan gugup.


"Si-siapa yang men-menatapmu?" elak Tania. Kei hanya tertawa geli.


"Kamu menatapnya Tania. Aku saksinya." sahut Anne tertawa geli.


"Huh! Kamu itu temanku apa bukan sih?!" sahut Tania kesal. Anne tertawa semakin keras. Tania melipat tangannya didadanya dan cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu, nanti cantiknya hilang." Kei mengacak gemas rambut Tania. "Kalau masih mau menatap aku boleh kok. Aku ijinkan."


"Huh! Siapa yang mau menatap kamu, terlalu percaya diri!" Tania menjulurkan lidahnya pada Kei. Kei tertawa geli.


Tak lama mereka sampai di rumah Sarah si empunya acara. Rumah itu sudah sangat ramai. Penuh sesak dengan anak-anak remaja. Ian memarkirkan mobilnya lalu ikut bergabung.


"Tunggu disini ya, aku mau menyapa Sarah dulu. Yuk Tan." Anne menarik tangan Tania menjauhi Kei dan Ian.


"Ramai sekali."


"Iya, kalau aku tidak janji pada Tania, aku tidak mau datang ke sini." keluh Kei.

__ADS_1


"Hai Kei, Ian."


Lima orang gadis datang dan menyapanya. Kei hanya memandang datar mereka dan Ian tersenyum seadanya.


"Kalian berdua saja? Gabung sama kita yuk." ajak Hellen, teman sekelas mereka.


"Ehm tidak usah, kita disini saja." jawab Ian.


"Ihh tidak baik hanya berdua saja." Hellen mendekatkan wajahnya di antara Ian dan Kei. "Nanti dikira Gay." bisiknya. Ian tertawa.


"Tidak akan." jawab Ian. Kei masih dengan wajah datarnya.


"Ayolah... Aku kenalin sama teman-teman aku. Mereka sekolah di sekolah swasta st. Marina."


Hellen mengenalkan teman-teman disampingnya. Ian melambaikan tangannya dan tersenyum ramah. Sementara Kei hanya menoleh sebentar lalu tidak perduli.


"Hai ladies... Mereka jangan di ganggu, sudah ada yang punya." kata Jason yang baru datang dan mengalungkan kedua tangannya di pundak kedua gadis.


"Kak... Kak Jason."


"Iya itu aku. Sudah sana kalian bersenang-senang sendiri. Jangan ganggu mereka." kata Jason sambil mengedipkan satu matanya.


"Ba-baik kak." kata Hellen dan langsung menarik temannya pergi.


"Wahh kamu memang sangat berpengaruh di sekolah." puji Ian sepeninggal para gadis itu.


"Tentu saja. Kami wolfs, apa kamu lupa. Siapa yang berani lawan kami?" kata Jason bangga.


"Aku berani."


Pletak!!


"Aww.. Sakit!!" Jason menoleh dan mendapati Kian dan Mike sudah dibelakangnya. "Tidak perlu memukul kepalaku kan?"


"Kamu memang perlu di pukul. Memangnya wolfs itu gengster apa, mafia gitu? Aku tidak mengajarimu memimpin wolfs seperti itu. Tahu-tahu aku berikan jabatan ketua itu pada Moles saja." omel Mike.


"Iya, iya, cerewet sekali seperti nenek-nenek." Jason cemberut. Mike hanya menggelengkan kepalanya.


"Casey mana Jason? Kamu datang bersama Casey kan?" tanya Ian.


"Iya, dia sudah bersama Anne dan Tania menyapa Rebecca." kata Jason.


"Ayo kita pindah ke tempat yang lebih tenang. Ribut sekali disini." ajak Mike.


"Tapi Anne..."


"Mereka baik-baik saja Ian, kita tidak pergi jauh kok." Kian mengalungkan tangannya di pundak Ian dan langsung membawanya pergi.


Mereka duduk di dekat ruang keluarga. Disana tidak terlalu ramai. Anak-anak memenuhi kolam renang karena acaranya di sana.


"Kalian pergi sana bersenang-senang. Kami akan rapat." kata Jason pada beberapa anggota wolfs. Mereka mengangguk dan segera pergi.


"Jadi... Apa serigala hybrid itu mati Mike?" tanya Jason.


"Dasar pengecut. Lalu berapa yang sudah kamu lawan?" tanya Jason lagi.


"Tidak ada. Saat kami dan alpha Sebastian sampai, para serigala itu sudah mati dan para penyihir yang terluka itu kabur, teleportasi. Hanya ada Bian yang sedang memberi mantra pada tuan Bennedict agar melupakan kejadian itu."


"Aku dengar dia terluka parah." kata Ian.


"Saat selesai menghilangkan ingatan tuan Bennedict dia langsung pingsan. Tubuhnya penuh darah dan langsung di bawa ke rumah alpha Sebastian."


"Apa... Dia baik-baik saja?" tanya Kei.


"Aku tidak tahu. Alpha tidak mengatakan apapun." jawab Kian.


Kei terdiam. Dia mulai khawatir lagi. Ian melihat itu dari wajah Kei.


"Kamu kenapa Kei?" bisik Ian.


"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir." jawan Kei.


"Pada siapa? Bian?"


"Iya." Kei mengangguk. "Dia mengirimku pulang dan melawan mereka semu sendiri. Serigala itu banyak Ian dan penyihir itu juga terlihat kuat."


"Dia melakukan yang sudah seharusnya Kei." kata Mike yang mendengar percakapan mereka.


"Mike benar. Mereka mengincar kamu dan sudah tentu kamu harus di amankan terlebih dahulu. Dia penyihir kuat Kei, lebih kuat dari kita semua. Mungkin kurang beruntung karena tuan Bennedict muncul secara tiba-tiba." kata Ian.


"Ian benar. Jika seandainya tuan Bennedict tidak ada, aku yakin Bian akan dengan mudah mengalahkan mereka."


"Iya, aku hanya..."


"Tidak ingin kejadian pada Dylan terulang kembali?" potong Ian. Kei mengangguk.


"Dylan?" tanya Mike bingung.


"Kakaknya Kei."


"Aahh yang sudah mati itu."


"Ya, dia mati melindungiku, sekarang Bian terluka karena melindungiku juga." sahut Kei lirih.


"Jangan menyalahkan dirimu. Itu semua tidak benar." kata Ian menepuk pundak Ian.


"Ternyata kalian disini. Aku sudah mencari kemana-mana." kata Casey. "Hai semua. Ayo kita dansa."


"Apa? Oh tidak aku disini saja." tolak Jason.


"Oh ayolah..." Casey menarik tangan Jason yang dengan pasrah mengikuti kemaun Casey. Semua tertawa melihat itu. Jason paling anti berdansa apapun. Tapi dia hanya pasrah menuruti Casey.

__ADS_1


Tiba-tiba Moles, yang jarang bicara, menepuk pundak Kei. Kei menoleh. Moles menunjuk arah belakang Kei.


"Tania dan Mark." katanya. Kei sontak langsung berdiri dan mencari keuda sosok itu dan bingo!! Tania memang sedang berbicara pada Mark dan mereka tertawa. Kei menggeretakkan giginya. Mike menepuk pundak Kei.


"Tenang, biar aku ambil dia." kata Mike.


"Tidak usah, biarkan saja." kata Kei langsung duduk kembali dan menghela nafas panjang. Semua melongo tidak percaya.


"Kamu yakin?" tanya Mike.


"Iya Mike, biar saja." kata Kei datar. Ya, entah kenapa di sedang tidak bersemangat. Ian menatap Kei khawatir.


"Kamu baik-baik saja Kei?" tanya Ian. Kei hanya menjawab dengan anggukan kepala. 'Sial! Kenapa aku jadi begini?!'


****


Seharian ini Ian terus bertanya pada Kei apa Kei baik-baik saja. Tentu Kei baik. Kei juga tidak tahu kenapa. Hanya tidak bersemangat saja. Kei selalu mencuri dengar jika ayah Kei bercerita dengan alpha Sebastian.


Mereka menempatkan beberapa pasukan werewolf di seluruh perbatasan dan menambah jumlah pasukan itu lebih banyak dari biasanya. Para omega yang memimpin pasukan itu. Tidak sedikit pula yang berpatroli di dalam. Beberapa penyihir yang termasuk dalam Elder, sudah berdatangan. Lusa adalah harinya. Ya, semakin dekat hari itu, Kei semakin tidak tenang. Kei merasa sangat takut dan gugup. Kei tidak mau menyakiti orang lain.


Kei memegang kalung pemberian Bian. Mudahan saja kalung ini memang berhasil jadi aku tidak perlu berubah. Tapi bagaimana keadaan Bian? Apa dia baik-baik saja?


"Kei." suara panggilan ayahnya membuyarkan lamunannya.


"Iya ayah?" jawab Kei.


"Bukannya kamu harus latihan? Ayo kita pergi." kata Ayah Kei. Kei tampak terkejut.


"Ayah ikut?" tanya Kei bingung.


"Tentu. Ayah ingin latihan juga hari ini. Sudah lama tidak latihan."


Ya, semenjak kehilangan Dylan dan terluka pada kakinya yang membuatnya pincang karena kakinya patah. Ayah Kei tidak lagi berlatih dan merubah dirinya menjadi serigala. Kei tidak tahu kenapa dan Kei tidak bertanya. Kei tidak ingin menyinggung ayahnya. Padahal sebenarnya ayahnya tidak masalah akan hal itu.


Kei masuk ke mobil bersama Ian dan ayah Kei juga Cavril. Mereka pergi ke tempat biasa Kei berlatih. Kei berlatih pagi hari ini, karena hari minggu dan dia tidak bersekolah.


Mereka masuk kedalam hutan dengan berjalan kaki. Mobilnya mereka tinggal di pinggir jalan. Mereka berjalan dalam diam. Hanya terdengar suara ayah Kei dan Cavril sesekali. Setelah berjalan beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat latihan. Sudah ada beberapa orang disana. Bahkan alpha Sebastian juga ada. Ayah Kei langsung mendatangi Sebastian yang sedang berbicara dengan George dan Damian beserta Augys.


"Kei, sudah datang rupanya." sapa Jason. Kei hanya tersenyum tipis. "Ayahmu datang juga."


"Iya, dia bilang ingin ikut latihan."


"Apa tidak apa-apa?" tanya Jake.


"Aku rasa begitu. Dia tampak sehat. Itukan lebih baik, daripada di rumah terus." jawab Kei. Jake mengangguk.


"Banyak sekali hari ini penyihir." kata Ian.


"Iya, mereka ikut berpatroli dan berjaga. Aku justru berterima kasih pada para penyihir itu karena mereka membantu kita. Bayangkan saja, kita sudah melawan serigala hybrid di tambah penyihir. Kita akan kalah jika tidak meminta bantuan penyihir juga." jawab Jake.


"Hmm kamu benar." kata Ian.


"Ayo kita pemanasan." ajak Jake.


Jake membuka kausnya disusul yang lain. Bahkan Ian sudah bertelanjang dada. Mereka sengaja membuka baju mereka saat latihan karena lebih nyaman seperti itu lagipula akan lebih mudah mengubah diri mereka menjadi serigala jika tanpa baju.


Kei ikut membuka bajunya. Dia mulai melakukan pemanasan. Tapi tak lama gerakannya terhenti. Dia menatap ke arah dimana ayahnya dan juga alpha Sebastian bersama para beta mereka dan para penyihir berada. Ada satu orang yang membuatnya terdiam. Itu... Bian!! Dia... Baik-baik saja.


"Kei? Kamu baik-baik saja?" tegur Ian yang mendapati Kei terdiam di tempatnya. Raut wajah Kei tampak terkejut. Ian dan yang lainnya menghentikan kegiatan pemanasan mereka dan ikut melihat ke arah yang Kei lihat saat ini.


"Ohh Bian.. Dia sudah sem- eh Kei kamu mau kemana?" Mike yang ingin menjelaskan terkejut melihat Kei yang tiba-tiba pergi.


Kei berjalan cepat menuju Bian. Dia ingin memastikan bahwa itu Bian dan bahwa Bian baik-baik saja. Bian melihat Kei mendatanginya. Dia tersenyum.


"Hai Keeeeeeeeeeiiiiii...." suara Bian mulai mengecil. Dia terkejut. Pasalnya KeiĀ  tiba-tiba memeluknya. Semua orang menatapnya dengan terkejut. Ian dan Jake hanya menaikan kedua alis mereka dan menatap tidak percaya. Jason dan yang lainnya melongo dengan mulut yang terbuka lebar.


"Ehm.. Ian, sebenarnya yang disukai Kei itu Tania atau Bian sih?" tanya Jason. Ian hanya menggeleng.


"Hei Kei, berhentilah memelukku." kata Bian sambil memukul pelan lengan Kei. Tapi Kei tidak bergeming. "Kei, kamu membuatku tidak bisa bernafas!!" pekik Bian.


"Kamu... Baik-baik saja." gumam Kei.


"Iya, aku baik-baik saja. Tapi kalau kamu tidak segera melepaskan aku akan terserang sesak nafas dan malu berat. Apa kamu tidak lihat semua orang memandangi kita? Ayahmu dan alpha Sebastian juga." ucap Bian.


Kei baru tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Dia melihat kesekitarnya yang menatapnya dengan pandangat terkejut sekaligus heran.


"Ehem.." alpha Sebastian berdehem. Kei menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf." sahut Kei. Bian terkikik geli. Bian menarik lengan Kei menjauh dari ayah Kei dan alpha Sebastian.


"Lucunya kamu." Bian mengacak gemas rambut Kei. "Aku baik-baik saja Kei, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri meskipun tidak seperti kamu tapi pakai mantra dan ramuan."


"Kamu pasti khawatir kan? Aku tahu. Kamu pasti takut aku terluka karena kamu kan?" tebak Bian. Kei hanya diam.


Apa iya aku khawatir karena itu?


"Jangan berpikiran seperti itu ya adik manis.. Aku melakukan semua itu karena memang sudah tugasku dan aku bisa jaga diri. Jangan pernah melawan sesuatu yang jauh lebih kuat darimu. Itu berbahaya." kata Bian. Kei masih saja diam dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak oleh Bian.


"Bagaimana dengan Tania? Apa kencannya menyenangkan?" tanya Bian.


"Aku tidak kencan dengannya." jawab Kei.


"Kenapa begitu? Mungkin karena ulang tahunmu? Kalau begitu setelah semua selesai, ajak dia berkencan. Apa kamu tidak takut dia di ambil orang? Sudah sana latihan. Tuh lihat wajah kebingungan temanmu. Mereka pasti bingung siapa yang kamu suka, aku atau Tania."


Bian tertawa geli melihat ekpresi teman Kei yang masih melongo tidak percaya.


"Aku mau berbicara pada ayahmu dan alpha dulu. Latihan yang baik ya adik manis."


Bian berlari meninggalkan Kei dan mendatangi alpha Sebastian. Dia memperhatikan sekitarnya dan mulai tersadar. Dari tadi dia sudah menjadi tontonan gratis. Semua orang kecuali alpha Sebastian dan ayahnya masih memandanginya. Jason tersenyum penuh arti dan menatap menggodanya. Mike dan Kian juga sudah tertawa geli. Ian hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


'Aaakh sial! Kenapa aku bisa memeluknya tiba-tiba seperti itu? Bikin malu saja.' Kei merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


****


tadariez


__ADS_2