
"Apa paman yakin akan pergi?" tanya Kei.
"Yakin Kei, paman titip pack ini padamu." kata alpha Sebastian. Alpha Sebastian pamit pada semua orang di tempat latihan.
"Lalu kenapa ayah juga ikut?" tanya Zach.
"Jika alpha Sebastian saja yang pergi, tidak akan cepat selesai. Kita harus mencari dukungan sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Dan Zach, ayah kira kamu tidak perduli pada ayah?"
"Aku memang tidak perduli." sahut Zach lalu memalingkan wajahnya. Ayah Zach tertawa. Dia tahu Zach berbohong.
"Lagipula kalian, bukankah seharusnya kalian bersekolah? Apa kalian bolos lagi?" tanya alpha Sebastian.
"Siapa suruh paman pergi mendadak seperti ini? dan pada saat jam sekolah."
"Baiklah, baiklah paman yang salah." alpha Sebastian menggeleng heran. Kei tertawa geli. "Bagaimana dengan Tania? Aku dengar dari Ryan tadi malam dia berteriak-teriak?"
"Ya, kata Bian karena masih ada sisa dari makhluk itu. Tapi sudah lebih baik. Bian tadi malam ke sana dan mengatasinya. Kata Bian, Tania akan baik-baik saja." kata Kei.
"Syukurlah. Setidaknya satu masalah sudah selesai. Bagaimana dengan para vampir?"
"Sudah di pastikan mereka vampir terlatih. Karena mereka sangat cepat dan lincah. Kemungkinan mereka anggota dari Zigor. Apa mereka sempat mencari makanan?" tanya ayah Zach.
"Kami masih nenyelidikinya. Kemungkinan besar iya, karena para omega mencium darah. Tapi kata Jake, semua wilayah sudah di jaga ketat."
"Baiklah, jadi aku akan pergi dengan tenang."
"Alpha, ijinkan saya ikut. Saya ingin mendampingi anda." kata Jake.
"Tidak perlu Jake. Aku sudah membawa beta dan gammaku. Itu sudah lebih dari cukup. Kamu di perlukan disini. Bantu Kei menjaga wilayah kita." pinta alpha Sebastian.
"Sepertinya dia tidak suka aku yang memimpin disini." gurau Kei.
"Bukan seperti itu yang mulia." elak Jake.
"Itu benar Kei. Lihat saja, meskipun wilayah ini dalam bahaya dia tetap ingin pergi bersama alpha Sebastian." Ian ikut menggoda Jake.
"Benar, itu sangat benar. Sepertinya kepemimpinanku sangat tidak bagus." Kei menganggukkan kepalanya.
"Kamu terlalu menuntut Kei."
"Benarkah?" Kei pura-pura terkejut lalu menghela nafas.
"Yang mulia, Beta! Bu-bukan seperti itu!!" Jake panik.
"Ya, bukan seperti itu. Tapi Kei itu raja yang cerewet, benarkan adik manis?" sahut Bian yang baru datang.
"Hmm seperti itulah." kata Ian.
"Hei tunggu dulu. Kenapa sekarang aku yang di ejek?" protes Kei.
"Bukan mengejek Kei, hanya mengatakan yang sebenarnya." kata Bian. Kei mendengus kesal. "Tenang saja Jake, aku mendukungmu untuk lepas dari raja cerewet satu ini." Bian menepuk pundak Jake.
"Okay, baiklah, baiklah. Hentikan itu. Kalian seperti anak kecil saja." sahut alpha Sebastian. "Kebetulan kamu disini Bian, aku juga akan pamitan padamu."
"Saya juga akan pamit alpha. Saya harus kembali." kata Bian.
"Apa karena itu?" alpha Sebastian menunjuk rambut Bian. Bian menyentuh rambutnya lalu tersenyum.
"Sepertinya begitu."
"Rambutmu..." Zach datang dan menyentuh rambut Bian lalu menatapnya.
"Apa? Aku... Mengecatnya." kata Bian lalu tersenyum.
"Sebastian, aku ingin membicarakan rencana kita dulu, kemarilah." panggil Ayah Zach. Alpha Sebastian mendatangi ayah Zach yang sudah di kelilingi oleh para beta dan gammanya.
"Kenapa kamu tidak tinggal disini saja?" tanya Kei.
"Tidak mau, aku punya rumah sendiri." kata Bian.
"Lebih baik kamu tinggal disini dari pada harus kembali lagi saat ada masalah." kata Zach.
"Aku tidak mau. Lagipula aku tidak akan kembali."
"Apa maksudnya?"
"Maksudnya, aku butuh waktu dan sementara itu biar Livia dan Lily yang disini beserta para knirer."
"Dan kamu tidak akan kembali?" tanya Zach.
"Aku tidak tahu, mungkin. Livia dan Lily akan mengatasi masalah. Aku akan memandu mereka dari tempat aku berada, jangan khawatir."
Bian memeluk Kei. Lalu membisikkan sesuatu.
"Waspadalah dengan alpha Roger, sepertinya dia di balik semua ini."
"Dari mana kamu tahu?"
"Itu hanya kecurigaanku saja, tapi entah kenapa aku begitu yakin."
Bian melepaskan pelukkannya dan menatap Kei.
"Jangan khawatir soal Tania, jika terjadi sesuatu padanya, aku akan tahu." kata Bian. Kei mengangguk.
"Terima kasih. Sepertinya apa yang dikatakan Kate benar soal kami terlalu banyak meminta bantuanmu. Aku minta maaf." Kei terlihat menyesal.
"Tidak usah memikirkan itu Kei, aku baik-baik saja." Bian menepuk pundak Kei lalu beralih pada Zach. Bian menuju Zach dan memeluknya.
"Selamat tinggal, Zach. Bujuklah Karen agar dia mau tinggal disini dan sesekali kunjungilah dia." bisik Bian. Zach hanya diam.
"Alpha, luna." panggil Adrian. Zach dan Bian melepaskan pelukkan mereka. "Maaf mengganggu tapi sepertinya kita harus melatih kedua adik beta Aaron lagi."
"Mereka datang lagi?" tanya Zach.
"Ya, alpha. Dan mereka ingin berlatih lagi."
"Memangnya kenapa jika mereka ingin berlatih?" tanya Bian.
"Latihan kami terlalu keras untuk anak umur tujuh, tahun Bian. Tidak baik untuk nya." jelas Zach. Bian mengangguk.
"Itu benar, tapi kalian bisa menyesuaikan latihannya sesuai kemampuan mereka. Kalian saudara sepupu, benarkan?" tanya Bian.
"Iya Luna." jawab Adrian.
"Oh tidak, jangan panggil aku Luna, aku bukan luna kalian. Luna kalian adalah Karen, bukan aku." kata Bian. Adrian menatap bingung Zach. "Baiklah, aku pergi."
"Ayah!!" panggil seseorang. Semua orang menoleh.
"Hans!" alpha Sebastian memeluk laki-laki yang dia panggil Hans, anaknya.
"Sedang apa disini? Kenapa tidak katakan jika kamu akan pulang?" tanya alpha Sebastian.
"Maaf ayah.."
"Siapa dia paman?" tanya Kei.
"Ahh kalian belum pernah bertemu? Dia Hans, anak laki-lakiku. Hans dia Kei, anak dari bibi Joan dan paman Oston."
"Ahh ya aku tahu, raja Lycanthrope itu. Salam yang mulia." kata Hans lalu membungkukkan badannya.
"Aahh bisa saja. Jangan seperti itu. Aku sepupumu." Kei dan Hans berjabat tangan.
"Ayah, Aku butuh bantuan."
__ADS_1
"Bantuan?"
"Aku... Melakukan kesalahan." kata Hans.
"Kesalahan? Ada apa? Apa ini tentang perusahaanmu?"
"Bukan ayah, bukan perusahaan. Ini masalah manusia serigala." kata Hans. Semua menatap heran.
"Hans... Ada apa ini?" ayahnya terlihat khawatir.
"Aku... Menggigit manusia ayah."
"Apa?" semua terkejut.
"Hans kamu calon alpha dan kamu menggigit manusia?" tanya alpha Sebastian. "Bagaimana bisa?"
"Iya, dan aku bingung harus bagaimana. Ayah tahu, aku tidak hidup di dalam pack, tapi bersama manusia. Jadi aku tidak berlatih sebagaimana manusia serigala berlatih, ayah dan mereka perlu di latih untuk mengendalikan diri."
"Mereka? Hans, ada berapa banyak yang kamu gigit?"
"Dua, ayah." jawab Hans lalu menundukkan kepalanya. "Maaf ayah. Ini semua karena aku menemukan anak terjatuh di jurang dan terluka parah. Jadi aku.. Aku menggigitnya. Aku tidak berpikir panjang. Aku.. Hanya berusaha menyelamatkannya."
"Lalu... Di mana mereka? Apa kamu bawa mereka kemari?"
"Iya. Kemarilah!" Hans setengah berteriak.
Datang dua orang remaja berlari kecil. Bian terbelalak kaget. Dia tidak percaya apa yang dia lihat.
"Jadi ini, manusia serigala yang baru?"
"Iya ayah, dia Rama dan Reza. Mereka berasal dari Asia. Sapalah, dia ayahku, alpha dari pack ini."
Mereka berdua membungkukkan badannya kikuk. Mereka terlihat sangat bingung dan takut.
"Apa kamu bilang tadi? Manusia serigala baru?!" pekik Bian. Semua terkejut.
"Kakak? Kak Bian?" panggil Rama menggunakan bahasa asalnya. Rama berlari memeluk kakaknya.
"Rama... Ingat sama kakak?" Bian terkejut Rama mengingatnya. Dia sudah memantrai seluruh keluarganya agar tidak mengingatnya.
"Tentu, saat Rama menjadi manusia serigala, Rama ingat sama kakak dan semuanya."
Bian melepaskan pelukkannya dan menatap Rama.
"Jadi kamu benar-benar... manusia serigala?"
"Iya kak." jawab Rama menundukkan kepalanya. Semua orang menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. Bian dan adiknya berbicara dengan bahasa yang tidak mereka tahu. Bian menatap Hans marah.
"Kamu..."
Bian mengayunkan tangannya membuat Hans terhempas jauh. Bian mengayunkan tangannya lagi. Hans kembali terhempas. Hans ingin berubah tapi Bian menahannya. Bian menekan tubuh Hans di pohon lalu mengangkatnya ke atas. Kaki Hans sudah melayang di udara.
"Bian...." panggil alpha Sebastian.
"Kau! berani sekali kamu merubah adikku menjadi manusia serigala!!" pekik Bian.
"Bian, kata Hans tadi mereka terluka dan--"
"Tidak alpha! Dia manusia serigala, dia kuat!! Dia harusnya membawanya ke rumah sakit, bukan merubahnya. Dia sudah gila!!" pekik Bian. Dia menyembunyikan adiknya selama ini tapi Hans merubahnya begitu saja menjadi makhluk supranatural. Hans meronta, dia berusaha melepaskan diri dan berubah.
"Kamu tidak akan bisa berubah, tidak tanpa ijinku!" pekik Bian lagi. Dia sudah begitu marah. Bola mata Bian berubah menjadi berwarna putih. Dia menatap Hans marah. Bian mengeluarkan api birunya. Api itu semakin besar di tangannya. Semua orang terkejut melihatnya.
"Bian... Aku mohon..." alpha Sebastian mencoba membujuknya.
"Apa kamu tahu betapa sulitnya aku menjauhkan orang tua dan adikku dari hal supranatural?! Aku menyembunyikan mereka! Menghilang dari kehidupan mereka! Agar mereka aman!! Bukan membuat mereka terjerumus semakin dalam!!" Bian semakin menekan tubuh Hans kuat.
"Bian..." Zach menyentuh tubuh Bian. Bian menoleh dan menatap Zach marah.
"Jangan menyentuhnya. Dia tidak terkendali sekarang." sahut Kate.
"Bian... Bian dengar aku... Kamu bisa mengendalikannya. Aku tahu kamu bisa." ucap Kate. Api biru Bian semakin besar. Dia semakin marah.
"Kak Bian..." panggil Rama. Bian tersentak mendengar suara Rama kemudian menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Bian membuka matanya lagi. Bola matanya kembali seperti semula. Api birunya sudah menghilang dari tangannya. Dia melepaskan Hans. Bian menarik Rama lalu berteleportasi tanpa berbicara sepatah katapun dan di ikuti Kate dan Reza.
"Tunggu dulu, jadi manusia serigala baru itu... Adik Bian? Adik kandungnya?!" pekik Jason.
"Sepertinya begitu." sahut Mike.
"Whoa... Ini luar biasa." sahut Jason antusias.
"Hans, apa kamu baik-baik saja?" tanya alpha Sebastian.
"Ba..ik ayah.." Hans masih duduk di atas kedua lututnya sambil memegangi dadanya yang sakit. Alpha Sebastian menepuk pundak Hans.
"Siapa... dia tadi... ayah?" tanya Hans. Dia bingung tiba-tiba di serang oleh seorang wanita.
"Dia Bian, penyihir."
"Penyihir? Sejak kapan kita memiliki penyihir?" tanya Hans.
"Kita tidak memiliki penyihir, Hans, tapi mereka membantu kita." jelas alpha Sebastian.
"Dan sepertinya kamu salah bermusuhan dengan penyihir, sepupu. Dia penyihir terkuat." tambah Kei.
"A-apa? Apa maksudnya?" Hans tampak kebingungan.
"Tidak apa-apa Hans, aku bicara dan meminta maaf padanya. Jangan khawatir." ucap alpha Sebastian.
"Apa kita menunda saja perjalanan kita Sebastian?" tanya ayah Zach.
"Jangan Dustin. Semakin kita menunda, semakin kita akan kesulitan mendapat pendukung. Roger akan mencari pendukung sebanyak-banyaknya. Itu yang kita cegah."
"Jadi ini karena alpha Roger paman?" tanya Kei.
"Kei, Roger itu licik. Dia akan melakukan segala cara untuk menang pertarungan ini. Melihat dia belum membalaskan dendamnya atas penyerangan ke packnya, itu sudah sangat mencurigakan. Jadi aku dan Dustin akan pergi ke pack lain untuk mendapatkan dukungan. Meskipun hanya dapat pack kecil, tidak masalah. Meskipun kecil, mereka kuat." jelas alpha Sebastian.
"Ayah akan pergi?" tanya Hans.
"Iya dan Situasi sedang kacau Hans, apa bisa kamu tinggal sementara waktu, setidaknya sampai ayah kembali." pinta alpha Sebastian. Hans terdiam, tampak berpikir.
"Baik, ayah. Hans akan tinggal." sahut Hans akhirnya. "Jangan terlalu lama ayah, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama."
"Akan ayah usahakan..." menatap Kei. "Kei, paman titip pack."
"Baik paman. Jangan khawatir."
"Dustin, ayo kita pergi."
Alpha Sebastian dan ayah Zach serta para beta dan beberapa gamma berubah menjadi serigala. Alpha Sebastian menggeram kecil lalu berlari2 pergi meninggalkan pack.
"Baiklah, kita berlatih lagi. Hans apa kamu mau ikut berlatih?" tanya Kei.
"Tidak, aku akan pulang ke rumah saja dan beristirahat. Sampai jumpa Kei." Hans melambaikan tanganya lalu pergi meninggalkan tempat latihan.
"Kenapa anak alpha Sebastian tidak tinggal di sini?" tanya Zach.
"Karena dia tidak terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan manusia serigala, Zach. Dia hanya suka bekerja seperti manusia biasa." kata Kei.
"Dan yang paling terpukul atas kematian luna adalah Hans. Dia bahkan mengurung diri dikamar selama berhari-hari. Setelah itu dia tidak ingin tahu tentang permasalahan manusia serigala. Sampai akhirnya dia pergi dari pack." jelas Jake.
"Apa kamu mengenal dekat Hans?" tanya Kei.
"Dulu ya, kami sering bermain bersama. Dia lebih tua lima tahun dariku tapi dia sangat baik."
__ADS_1
Semua orang mengangguk mengerti. Mereka kembali pada kegiatan latihan meeka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara lolongan. Kei dan Ian saling menatap.
"Jake...."
Jake mindlink omega yang bertugas berjaga.
"Anak itu melarikan diri." kata Jake tak lama kemudian.
"Anak? Siapa?" tanya Kei bingung.
"Nathan."
"Oh astaga, aku lupa dengannya." ucap Roland.
"Ayo kita cari."
Zach berubah menjadi serigala dan pergi mengejar Nathan. Kei juga berubah tapi pergi berlawanan arah. Mereka memutuskan berpencar agar lebih cepat menemukannya.
'Zach, kita pojokkan dia, jangan sampai lolos.'
'Baik.'
Zach mempercepat larinya. Di belakangnya sudah ada Aaron dan gammanya. Tak lama dia bertemu dengan para omega yang berlari. Tak jauh dari sana dia melihat serigala Nathan berlari cepat. Seketika Zach mempercepat larinya. Zach mendahului para omega, beta dan gamma. Zach hampir meraih Nathan tapi tiba-tiba Nathan berbelok. Zach terkejut dan tergelincir karena berbelok tiba-tiba.
'Sial!!'
Zach tertinggal jauh. Tapi Zach tidak menyerah. Zach mempercepat larinya. Nathan berlari ke arah yang bukan di tuju Zach. Kei dan Zach akan menjebaknya tetapi Nathan berlari berbeda arah dari tempat penjebakan. Zach menggeram marah. Zach mempercepat larinya, hampir mencapai batasnya. Dia lalu melompat dan kakinya bertumpu pada gundukan tanah lalu mendarat ke hadapan Nathan. Nathan yang terkejut segera merubah arah. Dia merubah arah ke tempat yang sudah di sepakati Zach dan Kei.
'Bagus!'
Zach kembali berlari. Kali ini dia tidak menyusulnya, hanya berlari di belakang Nathan. Sementara Kei masih berlari menuju ke arah yang di sepakati. Dari jauh dia sudah melihat Nathan. Ian berpisah dari Kei, sementara Aaron berpisah dari Zach. Nathan berhenti mendadak melihat Kei lalu berbalik, tapi Zach sudah menunggunya di belakang. Di sampingnya kanan dan kirinya sudah ada Ian dan Aaron beserta gamma.
'Kamu sudah terkepung Nathan, berhentilah.' ucap Zach.
'Apa yang kalian mau dariku?'
'Kami tidak akan menyakitimu, jika kamu mau bekerja sama.' kata Kei.
'Jika aku tidak mau? Kalian akan membunuhku?'
'Kami tidak sekejam alphamu, Nathan. Kami bukan dia. Berhentilah berlari dan melarikan diri, kami tidak akan menyakitimu.'
Nathan terdiam, dia tampak berpikir. Dia menatap Kei dan Zach. Dia melihat Kei yang sendirian dan menerjang Kei. Kei menghindar, membuat jalan untuk Nathan berlari. Nathan mulai berlari, tapi tidak jauh. Zach sudah berada di depannya. Zach menatap marah dan menggeram kasar. Nathan mundur perlahan. Dia merasakan aura alpha Zach. Dia berbalik dan melihat Kei yang juga sudah menggeram marah. Kei menggeram keras, sangat keras. Nathan semakin menundukkan tubuhnya patuh. Nathan akhirnya tidak bergerak lagi lalu berubah menjadi manusia biasa.
Semua berubah juga termasuk Kei dan Zach.
"Kami sudah katakan kami tidak akan menyakitimu, jadilah berhenti memberontak." ucap Zach yang kesal lalu pergi menjauh.
"Hanya untuk menangkapmu saja harus dengan pasukan sebanyak ini, kekuatanmu menyerupai beta. Jika di latih terus, kamu akan luar biasa kuat dan hebat." puji Kei sambil menepuk pundak Nathan yang masih duduk di tanah. Roland dan Austin memegang kedua lengan Nathan lalu membawanya ke tempat latihan.
Di tempat latihan sudah ada Ryan yang duduk termenung.
"Ryan?" panggil Kei. Ryan tersentak.
"Oh hai." sahutnya kikuk.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Kei
"Aku... Latihan tentu."
"Apa? Kamu.. Mau latihan?" tanya Ian terkejut.
"Iya, kenapa kaget seperti itu? Apa salah jika aku ingin latihan?" tanya Ryan.
"Tentu tidak hanya saja... Kamu bilang kamu tidak ingin latihan."
"Well, sekarang aku mau. Apa tidak boleh?"
"Tentu boleh, dengan senang hati." kata Kei. Kei mendekati Ryan. "Aku tahu perubahan ini berat untukmu dan aku juga tahu, sulit sekali menerima alpha remaja sepertiku. Tapi Ryan, semua latihan ini untuk kebaikan kamu. Setelah kamu selesai dengan pelatihan ini kamu ingin kembali ke duniamu yang dulu, silahkan saja. Aku tidak akan melarangmu meskipun aku berhak karena aku alphamu, tapi aku tidak mau melakukannya. Aku ingin mengendalikanmu hanya untuk mengendalikan jiwa serigalamu yang lepas kendali. Bukan benar-benar mengendalikanmu sepenuhnya." jelas Kei. Kei tersenyum lalu beranjak pergi.
"Baiklah, ayo kita mulai berlatih!" kata Jake. "Beta Ryan, ayo berlatih."
"Ryan saja. Ku mohon." kata Ryan. Dia merasa terganggu di panggil beta.
"Ryan, baiklah. Ayo kita berlatih."
Ryan bergabung bersama mereka berlatih. Dia kesusahan menyesuaikan pada awalnya karena latihan mereka cukup berat dan keras, butuh fisik yang kuat tapi dengan perlahan dia bisa.
"Apa kamu tidak ingin berlatih?" tanya Zach pada Nathan.
"Sa-saya..."
"Jangan malas, berlatihlah." kata Zach, tapi Nathan masih terdiam. "Hei, apa kamu mendengarku? Latihanlah."
Nathan mengangguk dan ikut bergabung.
"Sepertinya dia sedikit trauma." gumam Kei.
"Mungkin, aku tidak tahu."
"Tapi dia cukup kuat untuk ukuran gamma, tidak, dia sangat lincah."
"Hmm itu benar, kurasa."
"Sepertinya dia dilatih dengan sangat keras." Zach dan Kei saling tatap.
"Ryan, latihan lagi denganku." kata Ian.
"Tidak Ian." cegah Kei. "Biar Ryan berlatih dengan Nathan."
"Apa? Tapi Kei--"
"Tidak apa-apa, percayalah." bujuk Kei.
"Baiklah."
"Majulah Nathan, lawan Ryan." kata Kei. Nathan menghela nafas lalu maju ke depan. Ryan dan Nathan saling berhadapan. "Berubahlah."
Nathan berubah menjadi serigala. Ryan masih terdiam dan menatap serigala Nathan.
"Ayolah Ryan, berubahlah. Aku yakin kamu bisa." ucap Kei. Ryan menghela nafas lalu mengangguk dan berubah. "Ingat, ini hanya berlatih melumpuhkan, bukan untuk menyakiti satu sama lain."
Mereka saling menilai satu sama lain. Mereka berjalan mengitari tempat itu dengan saling menatap satu sama lain. Nathan menggeram lalu menerjang Ryan. Ryan ikut menerjang. Mereka berdiri dengan kaki belakang mereka dan saling mencoba menggigit leher. Ryan terjatuh dan Nathan berada di atasnya tapi Ryan segera membalikkan tubuhnya dan menendang Nathan dengan kaki belakangnya. Nathan terkena tendangannya tapi dia langsung bangkit dan menyerang lagi. Tubuh Ryan terhempas. Ryan menggeram dan menyerang lagi dan melayangkan cakarnya. Tapi Nathan berhasil menghindar lalu menancapkan giginya pada punggung Ryan. Ryan mengerang kesakitan.
"Ingat!!! Ini hanya untuk berlatih, bukan menyakiti." sahut Jake tapi Ryan dan Nathan tidak mendengar. Mereka tetap saling menyerang dengan brutal. Ryan balas menggigit Nathan. Kali ini mengenai kakinya.
Ryan dan Nathan sudah terluka parah dan tidak ada dari mereka yang berhenti. Kei mendengus kesal. Dia memasangkan Nathan dan Ryan karena ingin melihat kekuatan mereka satu sama lain, bukan membuat mereka bertarung sampai mati. Kei merubah dirinya menjadi serigala dan berdiri di antara Ryan dan Nathan yang bersiap menyerang satu sama lain lagi. Kei menggeram marah. Dia menatap Ryan dan menggeram kasar, membuat Ryan membungkukkan tubuh serigalanya lalu Kei beralih ke Nathan dan menggeram kasar juga. Itu membuat Nathan membungkukkan tubuhnya juga. Kini mereka berdua telah bungkuk dan terdiam takut.
Kei merubah dirinya menjadi manusia, begitu pula dengan Nathan, disusul Ryan.
"Apa kalian ingin saling bunuh?! Ini tempat latihan, bukan medan perang!!" Kei menatap keduanya dengan marah. "Untuk semuanya, latihan selesai dan kembali ke tempat kalian masing-masing."
Semua bergerak sesuai perintah, termasuk Ryan dan Nathan.
"Tidak untuk kalian berdua Ryan, Nathan." ucap Kei. Ryan dan Nathan menghentikan langkahnya. "Kalian harus membersihkan tempat latihan ini!"
"Tapi..." "Kei.."
Ryan sama-sama bersuara.
"Tidak ada bantahan. Bersihkan, sekarang juga!!" bola mata Kei berubah menjadi merah. Dia berbicara sebagai alpha yang membuat keduanya diam tidak berkutik. "Jaga mereka."
Roland dan Mike mengangguk. Kei dan Zach pergi meninggalkan Ryan dan Nathan yang mendengus kesal.
__ADS_1
****
tadariez