
Zach dan Bian sampai di hutan di kota Rotternville. Sudah banyak yang terbaring lemah di tanah. Bian langsung ikut membantu menyembuhkan luka mereka. Kei mendatangi Zach yang berjalan tertatih.
"Kau baik-baik saja Zach?" tanya Kei. "Jangan rubah dirimu dulu. Manusia serigala lebih cepat menyembuhkan diri jika masih dalam wujud serigala."
Zach menurut dan berbaring di tanah. Kei memeriksa lukanya.
"Sepertinya parah." gumam Kei.
'Jadi sekarang bagaimana?' tanya Zach dipikirannya.
"Kita harus bersiap dan memperkuat diri. Setelah yang kita lakukan pada packknya, aku yakin alpha Roger tidak akan tinggal diam. Dia akan balas dendam. Karena itu kita harus bersiap menghadapi itu dan memperkuat diri. Dengan masuk ke pack itu sama saja dengan mendeklarkan perang, Zach. Pack alpha Roger sangat kuat. Meskipun besar wilayahnya hampir sama dengan Lykort tapi mereka kuat dan kejam."
'Jadi.. Aku... Memulai perang dengan mereka?'
"Sejujurnya tidak Zach. Mereka menyerang pack Roykolt di saat yang sama Aaron pergi. Mereka sudah merencanakan sesuatu, aku yakin itu. Dan sepertinya kita telah masuk dalam jebakannya."
'Jebakan?'
"Iya, jebakan. Ini dugaanku saja Zach. Mereka sengaja mengajak Aaron kembali, mereka ingin melihat apa kau menyelamatkannya. Karena Aaron tidak mati saat kau menggigitnya yang artinya Aaron masuk dalam kawananmu."
'Apa itu berarti mereka tahu Aaron adalah betaku sebelumnya?'
"Itu... Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas kamu menyelamatkan Aaron dari gigitanmu dan itu berarti Aaron berharga untukmu. Dan kamu juga rela masuk ke dalam pack alpha Roger untuk menyelamatkan Aaron. Jadi semua ini terlihat seperti kita yang memulai perang dengan mereka."
'Tapi... Aku hanya...'
"Aku tahu Zach, kamu menyelamatkan betamu. Jika aku menjadi dirimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tidak apa-apa."
'Jadi... Harus bagaimana? Bagaimana jika mereka menyerang?'
"Maka kita harus bersatu. Orychant. Jadi sebaiknya kamu tinggal denganku dan berlatih."
'Bagaimana dengan sekolahku, ibuku dan... Dan... Teman-temanku?'
"Kamu bisa mengajak mereka jika kamu mau, tidak masalah. Termasuk mate-mu. Ajak dia."
'Kau gila rupanya. Memangnya dia tinggal sendirian didunia ini? Dia punya orang tua! Sangat tidak mungkin aku membawanya pergi.'
"Baiklah, baiklah." Kei tertawa. "Kita pikirkan itu nanti. Sekarang rawat dulu lukamu. Apa masih sakit?"
'Lumayan. Apa masih lama sembuhnya?'
"Tergantung." kali ini Bian yang menjawab. Bian membawa mangkuk kecil dan botol kecil berisi cairan berwarna hitam. "Kamu digigit sesama alpha. Aku rasa jika alpha yang menggigit lebih lama sembuhnya."
"Itu benar." Kei setuju.
"Karena itu aku membawa ramuan ini agar kamu cepat sembuh." Bian meletakkan mangkuk dan botol kecil di tanah. "Aku lihat lukamu."
Bian mengamati luka Zach. Zach meringis.
'Aaakkhh... Sakit. Tidak bisakah kamu pelan-pelan?!'
"Aaahh maaf-maaf, aku tidak sengaja. Kamu galak sekali."
Bian mencampurkan cairan di dalam botol itu ke mangkuk.
'A-apa itu?'
"Botol ini?" Bian mengangkat botol yang dipegangnya. "Ini jinx. Biasa kami para penyihir jika terluka mengobati luka dengan ramuan jinx. Lalu yang di mangkuk ini..." Bian menunjuk mangkuk kecil di hadapannya. "... Ini di namakan nine sacred herbs. Sembilan tanaman obat yang akan menyembuhkan segala luka akibat dari makhluk supranatural."
"Nine sacred herbs?" tanya Kei. Bian mengangangguk. Bian membuka mulutnya untuk menjelaskan, tapi Ian sudah menyahut.
"Mugwort, plantain, watercress, chamomile, nettle, crab apple, chervil, Fenel. Nine sacred herbs, benarkan?"
"Waaahh kamu hebat Ian." Bian menepuk pundak Ian.
"Bagaimana kamu bisa tahu itu?" tanya Kei.
"Ayahku yang mengajarkan."
"Ayahmu, Cavril?"
"Tentu saja. Memangnya aku punya berapa ayah? Semakin hari kamu semakin bodoh saja."
"Hei, hei... Aku raja." protes Kei.
"Hah! Selalu saja mengatas namakan raja sebagai alasan."
"Aku memang raja!" Kei mendengus kesal. "Aku, Kei Lyros Laros, Raja Lycanthrope. Memerintahkanmu Ian Roy-- aaaarrgghhh.... Sakit!!!"
Bian menarik telinga Kei.
"Kamu ini! Seenaknya saja menggunakan nama dan gelarmu!"
"Aakkhh... Tapi... Tapi..."
"Tapi apa?!" Bian masih menarik telinga Kei.
"Aku memang raja! Aakhh.. sakit...!!"
"Tidak berlaku untukku." jawab Bian cuek. "Sekalipun kamu raja, kamu tidak bisa menggunakan nama dan gelarmu seenaknya saja."
"Aaarrgghhh....!! Baiklah, baiklah.... Aku minta maaf. Sekarang lepaskan! Sakit sekali!!!" kata Kei. Bian melepaskan tangannya. Kei langsung menggosok telinganya yang memerah. Ian tertawa geli.
"Kenapa harus menarik telingaku?! Sakit!!"
"Aku tahu itu sakit, tapi aku tidak perduli." jawab Bian cuek.
"Apa?!" pekik Kei.
"Apa... Apa?!" pekik Bian tak kalah keras.
'Hei, hei... Kenapa kalian jadi bertengkar. Bagaimana denganku?'
"Aahhh maafkan aku Zach.. Gara-gara Kei tuh, serigala menyebalkan!!" kata Bian.
"Kamu penyihir gila! Bukan... Jin gila!!"
"Apa katamu?!"
'Aarrgghh berhentilah... Aku sudah kesakitan dan aku tidak perlu mendengar kalian bertengkar!'
"Maafkan aku Zach." Bian masih menantap kesal Kei. Bian mengambil mangkuk kecil itu. "Maaf, tapi ini akan terasa menyakitkan.".
Bian mengoleskan kan ramuan itu dna benar saja. Zach langsung mengerang kesakitan.
'Sakit sekali..!!!'
"Iya aku tahu Zach. Maafkan aku, tapi setelah ini kamu akan segera sembuh. Jadi bertahanlah." ucap Bian.
Zach masih mengerang.
"Tapi..." Ian kembali bersuara. "... Kalian seperti sedang berbincang, apa Bian bisa mendengar suara Zach?"
"Aahh benar! Aku juga baru menyadarinya!!" tambah Kei.
"Ya, itu yang aku bingungkan." Bian masih memberikan ramuan pada seluruh luka Zach. "Aku bisa mendengarkan suara Zach. Ini sangat aneh... Bahkan aku tidak bisa mendengar suaramu Kei, tapi kenapa aku bisa mendengar suara Zach?"
"Biasanya itu terjadi jika...." Ian tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jika apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Uhmm... Tapi rasanya tidak mungkin." kata Kei.
"Apanya? Kamu ini membuat aku bingung saja." protes Bian. Bian menggelengkan kepalanya lalu mengobati Zach lagi. "Hei, hei... Apa kamu tidak bisa diam? Aku tidak bisa mengolesi lukanya."
'Itu perih sekali!! Apa kamu tidak tahu?!'
"Apa kamu sudah gila? Tentu saja aku tahu!"
Zach masih saja tidak bisa diam karena perih. Sementara Bian terus mengomel. Kei dan Ian saling tatap.
'Itu... Tidak mungkin kan?'
'Tentu, bukankah alpha Zach sudah memiliki mate?'
'Jadi... Apa mungkin karena dia yang terpilih?'
'Jika memang begitu seharusnya dia juga bisa mendengarmu atau aku, Kei. Tapi dia tidak bisa.'
__ADS_1
'Lalu... Apa Zach mempunyai dua mate? Itu tidak mungkin. Tidak ada manusia serigala yang mempunyai dua mate.'
'Aku tahu Kei, karena itu aku bingung.'
'Aku akan baca kitab werewolf saat aku mengunjungi Lykort nanti.'
'Kamu akan pergi?'
'Kita akan pergi. Enak saja kamu menyuruhku pergi sendiri. Kamu betaku.'
'Iya, iya aku tahu. Cerewet sekali.'
Kei menatap Ian kesal sementara Bian mengamati mereka berdua dengan alis terangkat sebelah.
"Apa kalian sudah selesai berbicara dengan mindlink kalian? Aku butuh bantuan." kata Bian.
"Bantuan apa?" tanya Kei. Bian menyerahkan mangkuk yang di bawanya.
"Ini, bantu aku mengobati mereka. Aku harus menerima omelan dulu." kata Bian lalu menunjuk ke belakang Kei dan Ian dengan dagunya. Ian dan Kei berbalik dna mendapati Damian dan beberapa Elder disana.
"Aahh baiklah. Apa kamu akan baik-baik saja?" tanya Kei sambil menerima mangkuk yang di berikan Bian.
"Mungkin aku akan dikurung." kata Bian.
"Kurung?" Ian dan Kei berkata bersamaan.
"Ya, kurung. Bukan di sebuah kamar. Tapi ruang bawah tanah atau bunker." kata Bian seraya berlalu. Ian dan Kei saling menatap lalu beranjak pergi.
****
...Pack Moon Bykort...
Brak!!
"Brengsek!!!" kata alpha Roger. Dia begitu marah.
"Tenanglah alpha, yang terpenting mereka sudah masuk ke perangkap kita. Kita akan dengan mudah menyerang mereka kapanpun yang kita mau." kata beta Bruce.
"Tapi bagaimana si Aaron sialan itu menjadi beta? Beta keturunan murni? Berarti Orychant mereka sudah lengkap. Meskipun kita kuat, kita akan sulit menghadapi mereka."
"Tenanglah alpha, kita bisa meminta bantuan kaum lain."
"Apa mereka akan membantu?"
"Tentu saja. Jika kita menceritakan pada mereka, bahwa kita diserang hanya gara-gara kita menyiksa pengkhianat, itu akan membuat mereka membantu kita. Terutama kaum penyihir. Yang terpilih membantu alpha keturunan murni itu untuk menyerang kita alpha dan itu mempermudah kita untuk membujuk para kaum penyihir, terutama kaum hitam yang menginginkan kematian yang terpilih untuk membangkitkan Darkness."
"Jadi maksudmu kita akan bantu kaum hitam membangkitkan Darkness? Tidak, tidak. Kamu tahu Darkness begitu kuat. Tidak ada yang bisa tandinginya. Bahkan sesuai dari buku supranatural itu, tujuh yang terpilih tidak bisa membunuhnya, bagaimana jika hanya ada satu yang terpilih? Terlebih jika terpilih mati maka... Ahh aku tidak bisa membayangkannya."
"Tentu saja tidak alpha, kita tidak akan membunuh yang terpilih sampai kita menemukan cara membunuh Darkness. Kita hanya akan membantu menyakitinya."
"Ya, menyakitinya. Sehingga dia akan bertekuk lutut padaku dan menjadi pengikutku atau bahkan luna ku. Akan sangat mudah menghancurkan Orychant jika yang terpilih berada dipihak kita."
"Itu benar. Tapi sangat sulit membuatnya berada dipihak kita alpha."
"Kalau begitu kita harus cari cara memisahkan para Orychant. Panggil segera kaum yang bisa kita ajak kerja sama. Penyihir, vampir semua yang bisa kita dapat."
"Baik alpha."
Bruce bangkit dari duduknya lalu pergi dari ruangan itu meninggalkan alpha Roger dengan pemikirannya.
****
...Rotternville...
"Zach!!" panggil Daryl.
Zach yang berjalan menuju kelas menoleh.
"Oh hai Daryl, Rod."
"Kamu... Baik-baik saja? Aku dengar kamu terluka parah kemarin?" tanya Daryl sambil memutar badan Zach untuk memeriksanya.
"Aku baik-baik saja Daryl." Zach menghentikan Daryl lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Daryl. "Aku manusia serigala, kau ingat? Lagipula ramuan penyihir itu benar-benar ampuh." bisik Zach.
"Ahh kau benar."
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku akan pindah rumah dan sekolah. Aku sudah membicarakan ini dengan ibu tadi pagi. Ibu juga akan pindah, ke wilayah pack Roykolt, tempat Kei bersekolah."
"Raja itu?"
"Iya, kami tidak boleh terpisah sekarang."
"Karena Orychant?" tebak Rodney. Zach mengangguk.
"Iya, karena itu. Jadi... Apa kalian mau ikut?"
"Kami di ajak juga?"
"Tentu Daryl, kalian bagian dari packku."
"Benarkah?"
"Tentu. Daryl adalah otakku dan Rodney adalah pengetahuanku. Kalian harus ikut. Bukankah kawanan pack harus selalu bersama?"
"Oh dude...." Daryl memeluk Zach tiba-tiba. Zach terkejut. "Aku menyayangimu sobat. Aku akan segera memberitahukan orang tuaku."
Daryl pergi dan masuk ke kelas lebih dulu. Zach menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dengan Karen? Bukankah dia mate-mu? Mate adalah sebagian dari diri seorang manusia serigala Zach. Kehilangan Mate, berarti kamu kehilangan setengah dirimu."
"Aku tidak tahu Rod, maksudku... Apa dia harus menjadi mate-ku? Maksudku... Kita hampir tidak pernah bertemu dan berbicara dan bahkan aku tidak terlalu mengenalnya."
Rodney mengalungkan tangan kirinya ke pundak Zach lalu menariknya masuk ke kelas.
"Sabarlah Zach. Kau hanya perlu waktu." kata Rodney.
"Well yeah... Maybe. Lalu... Bagaimana kabarnya?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri." kata Rodney lalu menujuk Karen dengan dagunya. Zach melihat Karen. Entah kenapa setiap dia melihat Karen, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia mateku tapi... Apa aku memang menyukainya?
****
Karen pulang sekolah di jemput oleh ayahnya. Mobil ayah Karen berhenti di depan rumah. Karen turun dari mobil.
"Karen..." panggil Zach yang sudah menunggunya sedari tadi di seberang rumah Karen. Karen menoleh.
"Zach? Sedang apa kamu disini?" tanya Karen.
"Aku... Ingin bicara denganmu. Selamat sore tuan Wheeler." sapa Zach.
"Selamat sore." sapa ayah Karen. "Kamu adalah....."
"Zach sir, Zachary Payne." kata Zach sambil mengulurkan tangannya. Ayah Karen menyambut uluran tangan Zach.
"Zach. Okay. Kau... Anaknya Donna kan?"
"Iya, sir." jawab Zach. Ayah Karen mengangguk.
"Uhmm ayah masuk dulu, kalian bicaralah. Apa kamu mau masuk Zach?"
"Tidak, sir. Terima kasih." kata Zach.
"Baiklah."
Ayah Karen masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zach dan Karen di luar.
"Mau apa kamu kemari?" kata Karen.
"Melihat keadaan kamu. Apa kamu baik-baik saja?"
"Tergantung." jawab Karen. "Kalau kesehatanku aku baik, kalau hati dan pikiranku... Cukup baik. Aku setidaknya sudah bisa menerima semua."
"Baguslah, itu bagus." kata Zach.
"Apa kamu khawatir padaku?" tanya Karen. Zach mengangguk.
"Tentu."
__ADS_1
"Seharusnya tidak perlu. Aku bisa jaga diriku sendiri."
"Aku tahu itu Karen. Dan kamu sangat ahli dalam hal itu."
"Kalau begitu berhentilah mengkhawatirkanku dan tinggalkan aku sendiri. Semua fansmu akan mengira aku adalah kekasihmu dan itu tidak akan baik untukku." kata Karen. Seandainya aku bisa, 0mungkin dari awal aku tidak perduli.
"Uhmm aku ingin bertanya. Apa... Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Zach. Awalnya dia tidak ingin menanyakan hal yang tidak masuk akal itu tapi akhirnya dia mengubah pikirannya di saat-saat terakhir.
"Maksud kamu?"
"Aku akan pindah. Aku dan ibuku."
"Apa karena ibu Cho pindah mengajar?"
"Bisa dikatakan seperti itu. Jadi... Apa kamu mau ikut pindah bersamaku?" tanya Zach. Karen melongo tidak percaya.
"Apa kamu sudah gila?! Untuk apa aku pindah bersamamu?!" pekik Karen lalu akhirnya dia tersadar suaranya terlalu keras. "Itu tidak mungkin Zach." katanya dengan suara lebih pelan.
"Ya, aku tahu. Aku hanya bertanya." kata Zach. Karen mengerutkan keningnya.
"Untuk apa kamu menanyakan itu? Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Karen bingung.
"Karena... Karena kamu mate-ku."
"Mate? Apa itu? Apa maksudmu soulmate? Zach, kita bukan sepasang kekasih."
"Aku tahu. Aku... Lupakan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya." kata Zach lalu berjalan ke motornya. Karen menatap bingung. Zach menaiki motornya.
"Aku pulang dulu."
Zach mengenakan helm nya dan langsung melajukan motornya. Pertanyaan bodoh. Sahutnya dalam hati.
Karen masih menatapnya sampai Zach hilang dari pandangannya.
'Ada apa dengannya? Mate? Aneh...'
"Karen... Apa kamu masih mau tetap diluar?" tanya ayahnya dari pintu masuk. Karen tersadar langsung masuk ke dalam rumah.
****
Semua orang sudah berkumpul di hutan keesokan harinya. Kawanan Kei, alpha Dustin, serta kawanan yang baru di selamatkan dari pack Moon Bykort. Zach datang bersama Aaron yang masih terlihat lemah.
"Aaron.." sapa Kei.
"Yang mulia..." Aaron merendahkan tubuhnya untuk memberi hormat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kei.
"Sudah lebih baik, yang mulia. Terima kasih." jawab Aaron. Kei berdiri dari duduknya dan menepuk pelan lengan Aaron.
"Bagus sekali Aaron." puji Kei. Kei beralih menatap semua kawanan manusia serigala yang ada disana. Semua orang berdiri dan menatap Kei.
"Jadi... Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Kei. "Apa kalian akan kembali ke wilayah lama kalian?"
"Percuma kami kembali. Kami sudah tidak memiliki alpha maupun beta. Kami yakin juga wilayah kami sudah tidak ada lagi. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi." kata salah satu dari mereka.
"Aku minta maaf tentang itu. Alpha Roger memang tidak bisa di maafkan." sahut ayah Zach.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan bergabung menjadi satu?" tanya Kei lagi.
"Kami berpikiran seperti itu yang mulia. Kami yang dulunya berasal dari tiga pack, akan menjadi satu kawanan."
"Dan kalian akan mencari alpha dan pack yang akan menerima kalian? Pack ayahku dan alpha Sebastian akan dengan senang hati menerima kalian jika kalian mau. Kalian bertarung dengan sangat berani waktu itu." kata Kei.
"Packku juga akan dengan senang hati menerima kalian." kata ayah Zach juga.
"Terima kasih yang mulia, alpha. Tapi kami sudah sepakat." Anthony melihat ke seluruh anggota pack baru itu. Semua anggotanya mengangguk setuju. "Kami berjanji dan bersumpah untuk patuh dan setia sampai pada alpha baru kami."
"Kalian sudah menentukan pilihan?"
"Sudah yang mulia."
"Oh ya? Siapa?"
Anthony dan semua pack baru itu berdiri tegak.
"Kami... Bersumpah... Akan selalu patuh dan setia sampai mati pada alpha Zach." kata Anthony lalu bersujud dengan menekuk satu kakinya, tangan kanannya mengepal didada dan kepalanya di tundukkan. Semua anggota pack itu mengikutinya.
Zach terkejut. Dia menatap tidak percaya. Aaron berjalan ke hadapan Zach lalu bersujud juga didepannya. Roland, Adrian, Brad dan Austin juga ikut bersujud.
"Hei, kenapa kalian ikut bersujud juga?" tanya Zach yang bingung.
"Selamat nak, kamu mempunyai pack dan mereka adalah kawananmu mulai dari sekarang." kata ayah Zach sambil menepuk pundak Zach yang masih bengong.
"Selamat Zach, kamu memang hebat." puji Kei.
"Selamat alpha." Ian ikut juga.
"Uhmm tunggu dulu, tunggu dulu. Bagaimana jika aku menolak? Aku kan belum menyetujui apapun."
"Zach, meskipun kamu menolak, mereka akan tetap patuh dan setia padamu. Manusia serigala hanya patuh dan setia pada orang yang sudah mereka sumpah untuk setia. Dengan kata lain, jika manusia serigala sudah bersumpah setia dan patuh pada satu alpha, maka mereka akan terus patuh dan setia, sampai alpha itu mati atau mereka mati."
"Jadi Zach harus menerima mereka?"
"Lebih baik seperti itu. Lebih baik kamu mempunyai kawanan, biar ada yang menjagamu."
"Lalu kenapa gamma ayah ikut bersujud dan bersumpah?"
"Aku yang melepas mereka Zach. Mereka lebih cocok dengan dirimu." ayah Zach tertawa kecil.
"Tapi ayah..." Zach menghela nafas kasar.
"Uhmm... Zach?" panggil Kei. Zach menoleh. "Sebaiknya kamu suruh mereka berdiri. Jika tidak, mereka akan bersujud seharian."
"Apa aku harus memerintahkan mereka? Apa mereka tidak bisa bangkit sendiri? Atau mungkin kalian bisa meminta mereka bangkit?"
"Tidak bisa alpha. Mereka hanya menuruti anda. Jika anda tidak menyuruh mereka bangkit, mereka tidak akan bangkit. Karena mereka sudah bersumpah patuh dan setia." jelas Ian. Zach mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah..." Zacn menarik nafasnya. "Ehem... Uhmm kalian... Bisa berdiri sekarang... Dan tolong... Jangan bersujud seperti itu lagi. Itu membuatku sangat... Tidak nyaman. Bangunlah..."
Semua anggota pack Zach berdiri.
"Aakkhh... Kakiku... Kenapa lama sekali." keluh Brad.
"Brad..." tegur Roland.
"Maaf..."
"Jadi... Kita akan segera berangkat ke pack Moon Roykolt segera. Tinggal menunggu kepindahan alpha Zach. Setidaknya sampai semua kembali tenang." kata Kei.
Semua terdiam membisu. Semua tahu, sebentar lagi perang akan pecah dan semua gugup akan hal itu.
"Kei......!!!!!"
Terdengar seseorang meneriakkan namanya dengan marah. Semua orang menoleh terkejut.
"Ta-Tania?!" Kei terbelalak.
Tania berlari menuju Kei dan memukulinya. Kei meringis kesakitan. Semua orang menatap bingung.
"Kamu... Apa... Maksud aku..."
"Sebenarnya kamu ingin mengatakan apa adik manis?"
"Bi-Bian... Tunggu, ada apa ini?"
"Aku kemari mau minta pertanggung jawaban." sahut Tania sambil menatap Kei kesal. Tania melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Pertanggung jawaban?" ulang Kei.
"Kei apa yang sudah kamu lakukan?!" pekik Ian.
"Aku... Aku tidak..."
Semua orang menatap terkejut pada Kei. Ada dengan Kei?
****
tadariez
__ADS_1