My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Sang Pengkhianat


__ADS_3

"Kamu yakin baik-baik saja Aaron?" tanya Kei lagi.


"Saya baik yang mulia." jawab Aaron.


"Kenapa mereka kembali?" tanya Zach.


"Seperti dugaan, mereka kembali untuk memeriksa Aaron." kata Ian.


"Tapi untuk apa?" tanya Zach lagi.


"Itu..."


Semua orang menatap Aaron. Aaron tersadar semua orang sedang menatapnya.


"Mereka hanya ingin memastikan keadaan saya." jawab Aaron.


"Tidak mungkin hanya itu. Untuk apa dipastikan? Jika kita semua tahu gigitan alpha bisa membunuh seharusnya mereka tidak perlu memastikannya. Itu akan membuat beta Aaron seperti..." Roland menghentikan kata-katanya.


"Seperti apa? Kenapa berbicara tidak sampai selesai? Membuat orang penasaran saja." protes Jason.


"Jason.." tergur Kian.


"Apa? Aku hanya--"


"Seperti pengkhianat." Adrian melanjutkan. "Karena mereka telah melihat beta Aaron sembuh dan bersama kita, saya yakin mereka menganggap beta Aaron berkhianat. Jika mereka melaporkan hal ini pada alpha mereka, beta Aaron akan dalam bahaya."


Mereka semua terdiam.


"Maaf." kata Aaron akhirnya. "Saya sudah membuat kalian dalam bahaya."


"Tidak Aaron, ini bukan salahmu." Zach menenangkan.


"Zach benar. Ini bukan salahmu. Jadi jangan khawatir. Kami akan melindungimu."


"Tidak perlu yang mulia. Gamma rendahan seperti saya, tidak perlu di lindungi." kata Aaron.


"Kamu bukan gamma lagi, Aaron. Kamu beta sama seperti aku. Bahkan sekarang kedudukanmu lebih tinggi dari para kurcaci itu." Ian menunjuk para gamma yang berada di depannya.


"Oh aku benci sekali dengan kata-kata kurcaci itu. Jika saja dia bukan beta sudah aku... Argggh menyebalkan!" Jason mendengus kesal.


"Kamu akan melakukan apa padaku, Jason?" goda Ian.


"Tidak, tidak apa-apa beta." jawab Jason malas.


"Kamu yakin?"


"Iya beta, sangat yakin." Jason berusaha menunjukkan senyuman terbaiknya. Aarrghhh aku sungguh ingin memukulnya! Dia menyebalkan sekali!!


Ian tertawa geli melihat raut wajah Jason.


"Baiklah, kita akan perkuat pengamanan disekitar sini. Terutama pada beta Aaron. Kalian semua gamma terkuat, aku yakin kalian bisa mengatasinya. Sebentar lagi Jake dan lainnya juga kembali." kata Kei.


"Baik yang mulia, akan kami laksanakan." kata Kian.


"Bagus, sekarang latihanlah. Bukanlah kita berkumpul disini untuk berlatih?"


"Ayo kita latihan." ajak Adrian dan para gamma berdiri lalu mulai berlatih.


"Berhenti memikirkannya Aaron dan berlatihlah bersamaku." ajak Ian. Aaron masih diam di tempatnya. "Ayo!! Jangan diam saja."


Aaron menyusul Ian dan berlatih bersamanya. Sekarang hanya tinggal Kei dan Zach yang sedang duduk di atas sebatang kayu besar.


"Sepertinya ada yang sedang di khawatirkannya." kata Kei.


"Ya, aku juga merasakannya." jawab Zach sambil masih menatap Aaron yang berlatih dengan Ian.


"Apa kamu sudah berbicara padanya?"


"Sudah semalam. Tapi sepertinya dia tidak ingin berbicara dan aku tidak ingin memaksanya. Aku takut dia menjauh dariku."


"Kamu sudah melakukan hal yang benar Zach. Waah aku tidak menyangka kamu bisa menghadapi semua ini dengan bijaksana."


"Bahkan aku sendiri terkejut. Aku sama sekali tidak menyangka."


"Kamu hebat Zach. Kamu memang pantas menjadi alpha." Kei menepuk pundak Zach. "Kamu sudah dewasa."


"Whoa lihatlah raja satu ini. Apa kamu tidak sadar kalau kamu seumuran denganku?" Zach mendengus kesal. Kei tertawa geli.


"Well aku kadang suka melupakan umurku." Kei masih saja tertawa.


"Apa yang akan terjadi nanti?" tanya Zach.


"Maksudmu?"


"Aku dan Aaron dan Orychant itu?"


"Karena kamu menyinggungnya, aku akan membahasnya denganmu." kata Kei. Zach menatap Kei, bersiap untuk mendengarkan. "Tidak semua manusia serigala di dunia menyukai orychant ini. Banyak yang tidak menyukai di pimpin oleh raja berumur tujuh belas tahun dan alpha berumur tujuh belas tahun. Karena itu kami yakin mereka akan melakukan perlawanan. Terlebih, pamanku telah melarikan diri. Aku yakin dia akan balas dendam. Dia sudah mengincar wilayahmu dengan mengirim vampir ke sini."


"Tidak, ini bukan wilayahku. Aku memang tinggal disini tapi aku tidak mau mengklaim ini sebagai wilayahku."


"Baiklah, kalau begitu... Apa kamu mau ikut denganku?"


"Ikut denganmu?" Zach mengerutkan keningnya.


"Orychant tidak bisa di pisahkan Zach, jadi aku berharap kamu mau ikut denganku. Ke wilayah ku dan alpha Sebastian."


"Aku tidak tahu tentang itu. Bagaimana dengan sekolahku? Teman-temanku? Ibuku?"


"Kamu bisa bersekolah ditempatku sekolah dan kamu bisa mengajak teman-temanmu tentu, bersama ibumu juga. Anggota pack ayahmu telah bergabung dengan pack Moon Lykort. Ahh kamu juga bisa mengajak mate-mu."


"Karen? Oh tidak, tidak. Dia bukan mate-ku."


"Kamu yakin?"


"Tentu."


"Lalu... Aroma apa yang kau cium dari tubuh Karen?"


"Strawberry dan vanilla mint." gumam Zach tanpa sadar. Dia terkejut lalu menundukkan kepalanya. Aaakkhhh... Sial!


Kei tertawa geli sambil memegangi perutnya. Zach ketahuan berbohong. Zach menatap Kei kesal.


"Berhentilah tertawa, kau sudah seperti orang gila." kata Zach sebal. Tapi Kei masih saja tertawa, membuat Zach mendengus kesal.


"Maaf, tapi kamu lucu sekali." Kei kembali tertawa.


"Sudahlah, aku mau berlatih saja."


"Tunggu dulu, aku juga akan berlatih. Apa kamu marah padaku Zach?"


"Tidak." jawab Zach singkat.


"Kamu lucu sekali jika marah. Aku ingin mencubit pipimu, apa boleh?"


"Whoaaa kamu benar-benar sudah gila. Menjauh dariku!!" pekik Zach. Kei kembali tertawa.


"Zach! Ayolah.."


Zach pergi meninggalkan Kei dan berpapasan dengan Ian.


"Alphamu sudah mulai gila." kata Zach pada Ian sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Ian pada Kei yang masih tertawa.


"Zach.." kata Kei yang mencoba menghentikan tertawanya.


"Kenapa dengan Zach?"


"Dia lucu sekali. Dia yakin Karen bukan mate-nya tapi dia ketahuan mengatakan padaku aroma tubuh Karen." Kei tertawa lagi. "Dia lucu sekali. Dingin, tapi menggemaskan."


"Bukankah kamu juga seperti itu dulu?"


"Aku?" Kei menghentikan tertawanya. "Aku tidak menggemaskan."


"Oh ya, kamu menggemaskan Kei. Sudah berkali-kali aku ingin sekali mencubit pipimu, mengacak rambutmu."

__ADS_1


"Jangan mendekat." Kei melihat Ian yang melangkah mendekat. "Jangan berani-berani mendekat."


"Oh ayolah Kei, kau kan adik manisku." bujuk Ian.


"Aku rajamu, berani sekali kamu." ancam Kei.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, tidak masalah jika tidak dalam keadaan resmi? Sekarang sedang tidak resmi Kei, berarti kamu adikku sekarang."


"Whoaa... Ian, berhenti disana." Kei mencoba menghentikan Ian. "Aakhh sial!!"


Kei berlari meninggalkan Ian yang sudah tertawa terbahak.


****


"Apa kalian yakin?"


"Yakin beta." jawab Nathan.


"Baiklah. Aku akan melapor pada alpha dan kalian, pastikan kalian membawa pulang Aaron bersama kalian."


"Baik beta."


Beta itu merubah dirinya menjadi serigala berbulu hitam dan berlari dengan cepat.


"Apa Aaron akan datang Nathan?" tanya Brian.


"Aku yakin dia datang. Ini menyangkut ibu dan kedua adiknya. Dia selalu lemah jika bersangkutan dengan mereka."


"Aku harap kamu benar. Tapi... Apa kamu lihat? Aaron tampak.. kau tahu.. berbeda."


"Kamua melihatnya juga?" tanya Marvin.


"Iya, Marvin. Aku melihatnya. Auranya tampak berbeda, seperti... Beta."


"Itu tidak mungkin." elak Nathan. "Dia bukan beta, dia gamma terendah dan hampir menjadi omega. Jadi itu tidak mungkin."


"Ya, aku harap juga begitu. Mungkin hanya perasaanku saja."


****


Aaron terus bolak balik dikamarnya. Ini sudah pukul sepuluh malam. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Aaron mengacak rambutnya.


Suara ketukan di pintu kamarnya mengejutkannya.


"Aaron? Apa kamu sudah tidur?" tanya Zach dari luar kamar Aaron.


"Tidak alpha, belum." Aaron segera membukakan pintunya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Zach saat pintu sudah terbuka.


"Saya baik-baik saja alpha. Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak, tidak ada. Aku hanya memastikan keadaanmu. Berhentilah bersikap sopan padaku."


"Baik, alpha. Saya akan mencoba."


"Bagus. Sekarang tidurlah. Sudah malam." kata Zach.


"Baik al-- maksud saya.. Zach. Dan saya sungguh minta maaf."


"Tidak apa-apa Aaron." Zach menepuk pundak Aaron. "Kamu betaku sekarang berarti kamu tanggung jawabku. Jadi jika ada seseuatu hal yang terjadi, jangan ragu untuk menceritakannya padaku."


Aarom mengangguk. Zach kembali ke kamarnya. Aaron menutup pintu saat Zach hilang dari pandangannya. Aaron menatap ke luar jendela. Apa yang harus aku lakukan?


****


"Apa kamu yakin dia akan datang?" tanya Brian.


"Aku tidak tahu." jawab Nathan.


"Ini sudah hampir tengah malam." kata Brian.


"Kita tunggu saja sebentar lagi." usul Marvin.


Sebuah suara mengagetkan ketiganya. Ketiganya tampak berdiri dan siaga.


"Waah kamu datang juga ternyata. Pilihan yang bijak Aaron."


"Jangan banyak bicara. Ayo kita pergi sebelum mereka curiga."


Aaron merubah dirinya menjadi serigala dan berlari cepat disusul Nathan, Brian dan Marvin.


Dari belakang tampak dua serigala besar mengikuti mereka tanpa mereka sadari.


****


"Ada apa ini? Kenapa kita rapat tiba-tiba?" tanya ayah Zach yang baru saja datang di rumah Zach. Kei juga tak kalah kagetnya saat Zach mindlink semua gamma untuk memanggil Kei dan ayahnya.


"Kamu sedang tidak bermain-main kan Zach?" tanya Kei.


"Aaron menghilang." kata Zach.


"Apa?!"


"Bagaimana bisa?" tanya ayah Zach.


"Jelaskan pada mereka Roland."


"Baik alpha. Seusai latihan kemarin, alpha Zach memerintahkan saya dan Adrian untuk berjaga disisi beta dan mengikuti kemanapun beta Aaron pergi. Dan kami melakukan perintah alpha." kata Roland. "Dan kami mendapati beta Aaron keluar dari rumah dan bertemu dengan teman lamanya."


"Maksud kamu orang-orang yang berasal dari pack lamanya?" tanya Kei.


"Betul yang mulia. Lalu kami mengikuti mereka semalaman. Mereka memasuki wilayah pack Moon Bykort. Karena itu kami baru memberikan kabar ini pada anda."


"Berarti mereka kembali." gumam ayah Zach.


"Tapi, bukankah dia sudah menjadi beta Zach?"


"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya kembali. Apa anda sudah melakukan mindlink alpha dan beta?" tanya Ian.


"Sudah. Tapi anehnya tidak di jawab."


"Dia memutuskannya." kata Kei.


"Tapi tidak semudah itu memutukan link antara alpha dan beta." kata ayah Zach.


"Maksud... Ayah?"


"Link mati saat beta itu sedang sekarat atau... Mati."


"Tidak, tidak mungkin. Aaron tidak mungkin mati."


"Tidak Zach. Aku yakin tidak. Tapi kita harus menyusulnya."


"Kalau begitu ayo kita pergi." Zach berdiri dari duduknya.


"Tidak secepat itu Zach, kita perlu rencana." kata ayah Zach.


"Kita hanya perlu memintanya ayah, dia beta Zach."


"Zach, pack Moon Bykort tidak seperti yang kamu bayangkan. Mereka kejam. Bahkan pada manusia yang memasuki wilayahnya. Setiap manusia yang masuk, akan dibunuh."


"Dan saya dengar mereka juga di bantu oleh bangsa lain, seperti penyihir dan vampir." tambah Simon.


"Kau yakin itu Simon?"


"Ya, kedua penyihir yang datang kemarin yang memberitahukan pada saya."


"Jadi... Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zach.


"Menyusun rencana Zach. Alpha Roger sangat kejam dan licik. Kita harus cerdas dalam menyusun rencana." kata ayah Zach.


"Saya minta maaf. Sepertinya saya tidak bisa ikut membantu. Pack alpha Sebastian sedang di serang dan mereka kewalahan. Dan mate saya... Ada disana."


"Itu sangat berbahaya. Pergilah yang mulia, jangan khawatirkan kami." kata ayah Zach.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan Jason dan Kian disini."


"Tidak yang mulia. Bawalah mereka bersama anda, untuk berjaga-jaga."


"Baiklah, aku akan mengirimkan beberapa pasukan dari pack Moon Lykort kesini." Kei bangkit dari duduknya dan mendekati Zach. "Kami akan segera menyusul setelah masalah teratasi. Tenang saja."


"Aku tahu." jawab Zach.


"Aku harus pergi sekarang."


Semua orang termasuk Zach membungkuk. Kei keluar rumah.


"Kita harus secepatnya sampai disana. Aku khawatir pada Tania."


"Ayo kita pergi."


Kei, Ian, Kian dan Jason merubah diri mereka menjadi serigala lalu berlari dengan cepat.


****


Tania berjalan bersama Anne dan Casey. Mereka baru saja pulang sekolah.


"Apa Kei bisa pulang tepat waktu Tania?" tanya Casey.


"Itu... Aku tidak tahu."


"Sudahlah tidak usah memikirkan para lelaki serigala itu. Bagaimana jika kita adakan party?"


"Casey..."


"Apa? Itu lebih baik dari pada harus menunggunya."


"Aku tahu, tapi aku rasa berpesta bukan jawaban yang benar."


"Ohh ayolah Anne, Tania." Casey mengalungkan tangannya pada lengan Anne dan Tania. "Kita pergi berpesta. Ayolah..."


"Aarrghh baiklah, baiklah. Hanya jika Kei tidak datang besok. Tapi jika dia datang, aku tidak pergi." kata Tania.


"Setuju!"


Mereka bertiga tertawa.


"Waah si gadis yang berulang tahun besok. Kamu sudah besar sekarang." sapa seseorang. Mereka bertiga menoleh.


"Kak Ryan...!!!" pekik Tania lalu berlari menuju kakak ketiganya dan memeluknya.


"Tania...kamu apa kabar?" Ryan melepas pelukkannya dan mengelus pelan kepala Tania.


"Baik kak. Kapan kak Ryan datang?"


"Baru saja. Hai Anne, Casey.." sapa Ryan.


"Hai.. Kak Ryan.. Kakak semakin tampan saja." puji Casey. Ryan tertawa.


"Kamu bisa saja. Ini mau kemana?"


"Pulang." jawab Anne dan Casey bersamaan.


"Kalau begitu, kakak yang antar, ayo.." ajak Ryan.


"Dengan senang hati."


Mereka tertawa geli. Tapi tawa mereka terhenti seketika. Ada beberapa orang berdiri di hadapan mereka.


"Selamat sore." sapa salah satu di antara mereka.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya kak Ryan.


"Yang mana?" tanya orang yang paling depan pada orang yang berdiri di belakangnya. 


"Yang itu adalah mate dari raja." salah satu dari mereka, menunjuk Tania. "Dan itu, adalah mate dari betanya." orang itu menunjuk lagi, tapi kali ini ke Anne.


"Ohh.. Benarkah?" kata orang yang paling depan. Dia menyeringai senang. "Tangkap mereka."


"Hei, hei... Ada apa ini? Apa ada masalah?" tanya Ryan bingung.


"Masalahnya adalah kami harus membawa mereka berdua." kata orang yang paling depan.


"Tidak akan aku biarkan kalian membawa adik-adikku." kata Ryan tegas.


"Sayangnya kamu tidak punya pilihan lain. Kamu hanya manusia biasa rendahan." ejeknya. "Cepat! Tangkap mereka!!"


Beberapa orang maju mendekat. Ryan meminta Tania, Casey dan Anne untuk mundur. Tiba-tiba ada tiga serigala besar berada di depan mereka. Serigala itu adalah Jake, Mike dan Moles. Mereka menggeram marah. Ryan sangat terkejut melihat serigala yang begitu besar di hadapannya.


"Sepertinya ini akan menarik." kata pemimpin mereka lalu mereka semua berubah menjadi serigala.


****


Ruangan itu tampak gelap. Hanya terdengar rintihan dan suara tetesan air.


"Aakkhh.." suara rintihan pelan terdengar.


"Apa dia masih didalam?" tanya seseorang.


"Masih alpha."


"Terus siksa dia. Jangan biarkan dia istirahat. Kalau perlu bunuh dia perlahan-lahan. Biarkan dia menikmati prosesnya."


"Baik alpha."


"Dan satu lagi, jika dia sudah mati, bunuh ibu dan kedua adiknya itu."


"Baik alpha."


Alpha Roger pergi dari ruangan itu. Beta Bruce kembali mendatangi orang yang tengah merintih pelan.


"Kau dengar itu Aaron? Kami diminta untuk membunuhmu secara perlahan." kata Bruce.


"Uhuk, uhuk..." Aaron terbatuk. "Aku... Aku... Tidak perduli... Jika.. Kamu... Membunuhku... Tapi.. Tapi aku mohon... Ampuni.... Ampuni keluargaku..."


Bruce tersenyum sinis.


"Kami tahu itu tidak akan terjadi Aaron. Manusia serigala pengkhianat sepertimu tidak pantas untuk di ampuni." kata Bruce.


"Mereka... Tidak salah apapun. Aku mohon..." pinta Aaron lagi.


"Maaf, tapi ini sudah keputusan alpha dan kamu tahu, keputusan alpha tidak boleh di bantah."


Aaron menggeram marah.


"Aku sangat heran, kenapa alpha murni itu membiarkanmu hidup? Seharusnya kamu mati saja." kata Bruce lagi.


Aaron semakin marah dan menggeram semakin kuat. Dia ingin berubah menjadi serigala tapi kandungan wolfsbane dalam tubuhnya sangat banyak. Bahkan tubuhnya sempat di pukuli oleh alpha Roger. Membuat tubuhnya sangat lemah sekarang.


Terdengar sebuah teriakan dari atas ruangan itu. Aaron mengenal suara itu. Itu suara ibunya.


"Lepaskan ibuku dan kedua adikku beta, saya mohon.."


"Tidak akan. Mereka akan mati, sama sepertimu." Bruce tersenyum.


"Brengsek kau!!!" umpat Aaron.


"Waah kamu memang pemberani Aaron." Bruce tertawa sinis. "Siksa dia."


Dua orang yang berdiri di belakang Bruce mulai maju dan menyuntikkan racun wolfsbane lagi pada Aaron. Aaron berteriak kesakitan. Tangan, kaki bahkan leher Aaron diikat rantai, membuatnya tidak leluasa bergerak. Aaron semakin lemas. Dia bahkan sulit bernafas.


"Cambuk lagi dia, kali ini... Sampai mati." perintah Bruce. Kedua orang tadi mengangguk lalu masing-masing dari mereka mengambil cambuk berlapisi perak murni yang telah di beri wolfsbane.


Mereka mulai mencambuk Aaron. Aaron berteriak.


"Aaaakkkhhh....!!!"


'Alpha Zach... Maafkan aku..'


Aaron tidak sadarkan diri.

__ADS_1


...***...


tadariez


__ADS_2