
Sebuah mobil berhenti di depan sekolah. Seorang gadis ingin turun dari mobil itu tapi dihentikan oleh si pengemudi mobil itu.
"Ada apa ayah?" tanya gadis itu.
"Apa kamu yakin baik-baik saja Ashley?" tanya ayahnya memastikan.
"Ashley baik ayah. Tidak perlu khawatir." kata Ashley.
"Maaf, ini salah ayah, seharusnya ayah menolak dan--"
"Tidak ayah, ini bukan kesalahan ayah. Ashley akan baik-baik saja dan selalu seperti itu. Jadi ayah tidak perlu khawatir. Bukankah darah pemberani ibu mengalir di diri Ashley? Jadi Ashley akan baik-baik saja. Ashley janji." kata Ashley yang mencoba menenangkan ayahnya yang sedari tadi khawatir. Ashley tersenyum. Mencoba untuk tersenyum tulus tepatnya. Dia sebenarnya tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Ashley pergi ya ayah... Ayah hati-hati." kata Ashley lalu turun dari mobil.
"Kamu juga sweetheart, kita bertemu lagi saat makan malam." kata ayahnya. Ashley mengangguk. "I love you, sweetheart."
"I love you too daddy." Ashley tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Ashley masih berdiri mematung didepan sekolah SMA Rotthern. Dia menghela nafas panjang. Dia hanya berharap dia bisa melewati hari ini dan tentu... Semoga aku tidak bertemu dengannya. God help me..
****
"Tania... Maafkan aku. Apa kamu ingin terus marah padaku?" tanya Kei.
"Aku tidak marah padamu." kata Tania.
"Aku tidak yakin. Aku tahu kamu marah padaku dan kumohon letakkanlah Rowl, aku ingin berbicara denganmu tanpanya."
"Tidak mau. Jika kamu ingin berbicara denganku harus dengan Rowl atau tidak sama sekali." tegas Tania. Kei menghela nafas.
"Baiklah, baiklah. Dengan Rowl. Susah sekali berbicara denganmu." Kei menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tania aku sungguh minta maaf. Aku tahu aku pergi saat ulang tahunmu hampir tiba dan kemungkinan aku Melewatinya. Tapi aku harus melakukannya Tania. Zach adalah alpha pendampingku, aku harus menyelamatkannya."
"Kalau begitu ajak aku bersamamu." pinta Tania.
"Aku tidak bisa Tania, kamu tahu itu. Itu akan sangat berbahaya dan aku tidak ingin kamu--"
"Ahh sudahlah, aku tidak mau mendengar." Tania mendengus kesal. Dia beranjak pergi meninggalkan Kei.
"Tania..." panggil Kei, tapi Tania tidak menghiraukannya. Rowl menggeram pada Kei. Kei membalas menggeram dan merubah warna bola matanya membuat Rowl menunduk takut di bahu Tania.
"Aaaarrrrggghhhh....!!!!! Aku pusing!!" pekik Kei. Ian yang baru saja datang, tersenyum dan mendekat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ian.
"Aku tidak tahu, aku pusing." jawab Kei.
"Aku rasa itu karena masalah perempuan. Tadi aku melihat Tania berjalan dengan cemberut." kata Jason yang ikut mendatangi Kei dan duduk di sebelahnya.
"Hei, hei, yang mulia tidak menyuruhmu duduk. Sopanlah." tegur Jake.
"Tidak apa-apa Jake, aku tidak masalah. Lagipula kita sedang dalam keadaan santai dan bukan rapat resmi." kata Kei. "Kalian semua duduklah."
"Jadi... Kehebohan ini karena yang mulia Ratu?" tanya Mike.
"Begitulah. Dia tidak suka aku pergi."
"Tapi apa kamu... Maksudku yang mulia sudah memberikan alasannya?" tanya Jake.
"Sudah tentu dan kumohon pada kalian jangan bersikap seperti itu. Panggil namaku saja jika kita tidak sedang dalam keadaan resmi. Aku sungguh sangat tidak nyaman." keluh Kei. Semua orang menatap Ian. Ian mengangguk menyetujui.
"Baiklah, akan kami lakukan." kata Jake. "Lalu kenapa yang mulia Ratu masih tidak menginginkanmu pergi yang.. Err.. Kei?"
"Karena aku akan melewatkan ulang tahunnya. Aku sudah berjanji untuk merayakan ulang tahunnya hanya berdua dengannya dan aku tidak akan bisa melakukannya jika aku pergi dan tidak tahu kapan aku akan kembali. Jadi dia meminta untuk ikut."
"Apa? Itu tidak mungkin." kata Jason.
"Iya aku tahu. Aku sudah mengatakannya tapi dia tidak mau dengar dan marah padaku. Sungguh keras kepala!"
"Wanita memang sulit di mengerti Kei. Kadang apa yang di katakannya bertolak belakang dengan yang diinginkannya." kata Ian.
"Ian betul... Uhmm... Kei." tambah Mike. "Aku rasa yang mulia ratu lebih baik dari... uhm... kekasihku. Setidaknya yang mulia ratu jujur dengan perasaannya, dengan apa yang di inginkannya, apa yang di keluhkannya. Sementara kekasihku, dia selalu menurut padaku tanpa mau berpendapat, mengeluh atau apapun itu."
"Hei, bukannya itu bagus jika Tina penurut? Aku lebih senang gadis penurut." kata Jason.
"Aku suka gadis penurut Jason tapi tidak berlebihan seperti itu. Aku seperti berpacaran dengan robot. Dia terus mengiyakan apa yang aku katakan, aku pergi dan tidak memberi kabar dia hanya tersenyum dan bersikap biasa saja."
"Itu bagus kan? Dia mengerti dirimu."
"Tidak, sangat tidak bagus. Seharusnya dia marah atau setidaknya mengeluh padaku karena aku tidak memberi kabar, seperti gadis lain. Karena itu wajar jika dia mengeluh, dia kekasihku dan berarti dia perduli dan mengkhawatirkanku. Aku sepertinya memang berpacaran dengan robot."
"Aku setuju dengan Mike." jawab Ian.
"Kau setuju?" Jason terkejut.
"Tentu. Seperti itulah Anne. Dia akan mengamuk jika aku tidak memberinya kabar sedikit saja. Tapi aku tidak masalah. Itu berarti dia menyayangiku, perhatian padaku dan khawatir padaku." jelas Ian. Jason menggelengkan kepalanya.
"Kalian aneh."
"Tunggu dulu, kenapa jadi kalian yang curhat? Bukankah ini soal Kei dan Tania?" kata Kian.
"Tidak apa-apa Kian. Mereka benar. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Kei.
"Beri dia kejutan." Anne datang dan tersenyum. Ian tersenyum pada Anne.
"Duduk sini." Ian menepuk kursi di sebelahnya dan menyuruh Kian yang duduk di sebelahnya untuk pergi. Kian mendengus kesal lalu berdiri dan duduk di sebelah Mike.
"Kejutan apa?" tanya Kei saat Anne sudah duduk di sebelah Ian.
"Aku yang akan mengurusnya dan Tania pasti senang. Tapi aku sangat berharap kamu akan kembali secepatnya Kei."
"Akan aku usahakan. Kalau begitu apa aku bisa minta tolong? Tania sedang kesal, tolong temani dia dulu. Apa bisa? Aku akan rapat dengan para kurcaci ini." kata Kei.
"Enak saja kurcaci." omel Jason.
"Akan aku temani. Aku pergi dulu Ian." Anne mencium pipi Ian lalu pergi menyusul Tania.
"Jadi.. Apa rencana kita?" tanya Kei.
"Membawa Zach kemari dan membentuk pasukan perang yang tak terkalahkan." jawab Jason.
Pletakk!!
"Aww... Kenapa kau memukulku?!"
"Jangan sembarangan! Kita tidak akan berperang." kata Mike.
"Tidak perlu memukul." protes Jason.
"Kadang-kadang kamu perlu dipukul biar otakmu berfungsi dengan baik." kata Mike seenaknya. Jason mendengus kesal.
"Tapi kita harus membuatnya percaya pada kita." kata Ian.
"Kei kan raja, mau percaya bagaimana lagi?"
"Tetap saja Kian. Kei orang asing bagi Zach dan Zach baru menjadi manusia serigala seutuhnya. Akan susah."
"Aahh aku lupa jika dia baru menjadi manusia serigala."
"Lalu?"
"Pelan-pelan saja kalau begitu. Mana orang dari pack Moon Hykort itu? Panggil dia." perintah Kei. Kian berdiri dan segera melakukan perintah Kei. Tak berapa lama dia kembali bersama satu orang lagi. Orang itu membungkuk saat melihat Kei.
__ADS_1
"Silahkan duduk." sahut Kei. Orang itu menurut dan duduk di kursi yang diletakkan di hadapan Kei. "Namamu... Siapa?"
"Nama saya Chris, yang mulia. Saya Gamma dari pack Moon Hykort." jawabnya.
"Baik, Chris. Ceritakan padaku tentang Zach. Secara terperinci."
"Kami pack Moon Hykort selalu bersembunyi. Bahkan kami meminta bantuan penyihir yang kami percaya untuk menyembunyikan kami. Sampai Alpha menemukan mate-nya yang seorang manusia biasa. Alpha bersama matenya. Semua tampak baik-baik saja sampai keberadaan kami diketahui. Di tambah, mereka mengetahui jika alpha sudah menemukan luna. Mereka berusaha mencari tahu siapa luna kami untuk membunuhnya."
"Untuk apa mereka melakukan hal itu?"
"Jika luna tidak ada, luna tidak akan melahirkan keturunan. Jadi kesempatan lahirnya alpha murni akan hilang."
"Kejam sekali." kata Jason.
"Lanjutkan."
"Jadi kami memutuskan meninggalkan luna dan membuat luna palsu."
"Luna palsu?"
"Seorang omega. Kami tahu kami seharusnya tidak melakukan itu. Itu sebuah kesalahan tapi kami tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan luna." chris menundukkan kepalanya.
"Setelah beberapa tahun." Chris melanjutkan. "Kami berusaha mencari luna kembali dan setelah beberapa kali mencari, kami menemukan luna. Tepatnya luna dan anaknya, Zach. Awalnya kami melihat keanehan pada Zach karena kami tidak mencium bau manusia serigala dari tubuhnya. Lalu kami melapor pada alpha. Alpha sendiri yang mendatangi Zach. Alpha berkata ada jiwa manusia serigala Zach di dalam dirinya. Alpha mencium jiwa manusia serigala Zach tentu, karena dia alpha dari pack kami. Lalu alpha membangkitkan jiwa serigala itu. Zach berubah menjadi serigala. Serigala yang unik yang baru pertama kali saya lihat."
"Jadi... Dia masih belum tahu apapun?"
"Mungkin sudah tahu beberapa yang mulia. Kami meninggalkan empat gamma muda kami bersama Zach. Mereka akan melatih dan melindunginya. Tapi kami mendapat laporan bahwa sudah ada yang mengetahui keberadaan Zach dan mereka berhasil lolos."
"Jadi sebaiknya kita cepat yang mulia." kata Ian. Kei mengangguk.
"Kamu benar. Apa kalian sudah berkemas?" tanya Kei pada Ian dan lima gammanya.
"Sudah yang mulia. Kami sudah siap berangkat."
"Bagus. Ahh satu lagi Chris. Apa dia memiliki mate? Maksud aku... Zach?"
"Setahu saya tidak yang mulia." jawab Chris. Kei mengangguk. "Tapi.. Dia memiliki.. Uhmm.. Teman yang unik."
"Unik?"
"Iya yang mulia. Alpha memerintahkan kami untuk mencari tahu siapa saja yang berada didekat Zach. Zach mempunyai dua sahabat, Daryl Lawson dan Rodney O'brian. Daryl adalah keturuan seorang penyihir."
"Penyihir? Maksudmu dia penyihir?"
"Iya, tapi setelah kami mengawasinya, sepertinya dia tidak mengetahui siapa dirinya." kata Chris.
"Kenapa bisa begitu ya?" tanya Jason.
"Sementara satu lagi, Rodney. Dia penjaga rahasia supranatural."
"Penjaga... Maksud kamu.."
"Manusia biasa yang menjadi penjaga supranatural."
"Aku pernah mendengar itu. Aku kira mereka sudah mati." kata Ian.
"Penjaga yang lama sudah mati beta, sekarang di gantikan oleh cucunya." kata Chris.
"Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya anaknya dulu baru cucunya?" tanya Jason.
"Tidak selalu begitu Jason... Penandanya adalah buku itu. Pemegang rahasia di berikan sebuah buku. Buku tentang supranatural yang hanya bisa dilihat oleh penjaga rahasia. Cucunya bisa melihatnya sementara anaknya tidak. Jadi penjaga rahasia turun ke cucunya yang bisa melihat buku itu." jelas Ian. Jason mengangguk mengerti. "Sama seperti Kei."
"Ayo kita siap-siap. Kita berangkat sebentar lagi. Aku akan berpamitan pada Tania."
Kei berdiri dan berjalan meninggakan teman-temannya. Kei bertanya pada Anne, di mana Tania berada. Ane berkata Tania berada di batu besar. Kei merubah dirinya menjadi serigala berbulu putih bersih. Kei berlari tanpa berhenti menuju Tania berada.
Tak berapa lama, Kei melihat Tania sedang bersandar di batu besar sembari menutup matanya. Kei mendatanginya dengan masih dalam wujud serigala. Kei mencium pipi Tania dengan moncong serigalanya. Tania membuka matanya.
"Kamu sudah akan pergi?" tanya Tania. Kei mengeluarkan suara kecil, menjawab pertanyaan Tania.
"Baiklah, aku baik-baik saja sekarang. Pergilah. Sungguh, aku tidak apa-apa." kata Tania. "Aku hanya... Akan merindukanmu."
Tania duduk dan menatap serigala Kei.
"Kembalilah padaku. Kembalilah padaku dengan selamat. Kau mengerti?"
Kei mengangguk. Tania berdiri dan memeluk Kei.
"Aku mencintaimu Kei." bisiknya.
'Aku mencintaimu juga Tania. Aku akan kembali padamu, selalu kembali padamu. Tunggu aku.'
****
Zach merapikan jasnya. Dia terlihat siap sekarang. Zach menghela nafasnya. Dia tidak ingin pergi tapi dia tetap harus pergi. Jika tidak, teman-temannya akan menyeretnya dengan paksa. Zach melangkah keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
"Zach?" panggil ibunya. Zach menghentikan langkahnya sejenak kemudian berjalan ke arah dapur.
"Ya, bu?"
"Kemarilah, sini ibu lihat."
Zach mendatangi ibunya. Ibu Zach merapikan jasnya.
"Kamu tampan sekali... Mirip dengan ayahmu." puji ibunya. Zach terdiam sejenak. Dia ingin menanyakan tentang ayahnya tapi dia ragu. Dia tidak ingin menyakiti ibunya.
"Uhm.. Ibu?"
"Hm?"
"Apa ibu ada bertemu lagi dengan ayah?" tanya Zach akhirnya. Ibunya terdiam sejenak lalu tersenyum dan mengangguk.
"Kamu juga kan?" tanya Ibunya. Zach mengangguk.
"Maafkan ibu karena ibu tidak pernah bercerita tentang siapa ayahmu sebenarnya."
"Jadi.. Ibu mengetahui jika ayah adalah seorang..."
"Manusia serigala? Ya, ibu tahu. Ibu mengira kamu akan menjadi seperti ayahmu, tapi ternyata tidak. Karena itu ibu tidak menceritakan padamu. Ibu hanya ingin kamu memiliki masa kecil yang normal, sama seperti anak-anak lain. Ibu tahu ibu sangat egois, ibu minta maaf."
"Tidak apa-apa ibu, Zach mengerti."
Zach memeluk ibunya. Ya, Zach mengerti hal itu. Zach menyaksikan selama ini bagaimana ibunya merawatnya dan membiayai hidupnya, sendirian. Zach melepaskan pelukkannya.
"Lalu... Apa ibu tahu kenapa ayah pergi?" tanya Zach. Ibunya menggeleng.
"Ibu harap ibu tahu, tapi ibu tidak tahu. Tanyakan saja itu pada ayahmu."
"Apa ayah tidak mau menjelaskan tentang itu pada ibu?"
"Oh ayahmu menjelaskannya. Hanya saja ibu tidak ingin mendengarnya."
"Kenapa?"
"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Lagipula itu sudah lama terjadi. Ibu bahagia dengan hanya memilikimu disisiku." kata ibu Zach lalu tersenyum.
"I love you, mom." Zach memeluk ibunya lagi.
"Ibu juga Zach." ibunya melepaskan pelukannya. "Sudah, pergi sana. Pasanganmu akan marah jika kamu terlambat."
"Biar saja bu, ini bukan pesta Prom. Hanya pesta Valentine yang konyol." keluh Zach.
__ADS_1
"Kamu masih tidak ingin pergi?" tebak ibunya.
"Sangat. Tapi Zach sudah berjanji."
"Siapa pasanganmu malam ini?"
"Austin." Zach tertawa geli. Ibunya menghela nafas.
"Entah kenapa ibu tidak terkejut Zach." ibunya menggelengkan kepalanya. "Apa tidak ada gadis disekolahmu?"
"Tentu saja ada ibu. Ibu guru disana, ibu pasti tahu."
"Lalu kenapa tidak memilih di antara gadis-gadis manis itu? Kenapa harus Austin? Apa kamu... Gay? Tidak apa-apa Zach. Jujur saja." desak ibunya.
"Ibu... Zach itu normal. Anak ibu satu-satunya ini menyukai wanita!" kata Zach setengah berteriak. Ibunya tertawa geli.
"Baiklah, baiklah. Ibu minta maaf. Jadi seorang Zachary Payne adalah lelaki tampan dan hot yang menyukai wanita. Ibu mengerti." ucap ibunya. Zach mendengus kesal.
Suara bel pintu berbunyi. Zach dan ibunya saling pandang.
"Biar ibu yang buka dan kau anak muda, rapikan pakaianmu yang mulai berantakan itu."
Ibunya berjalan menuju pintu rumah. Ibu Zach membuka pintu dan terkejut. Ayah Zach sudah di depan pintu dan tersenyum lembut. Dia begitu merindukannya.
"Halo Donna." sapanya.
"Hai, Dustin. Apa kamu kemari untuk menemui Zach?"
"Iya, ada yang ingin aku bicarakan padanya dan ada seseorang yang ingin bertemu dengannya."
"Seseorang? Siapa?"
"Dia--"
"Selamat malam... Uhmm... Tuan dan nyonya Payne?" sapa seseorang. Ayah dan ibu Zach menoleh. Sudah berdiri seorang gadis mengenakan pakaian pesta sederhana dan tampak cantik.
"Karen? Karen Wheeler?" kata ibu Zach.
"Selamat malam, ibu Cho atau... Nyonya Payne?" Karen menatap ayah dan ibu Zach secara bergantian.
"Ahh tidak, tidak. Ibu Cho saja. Sedang apa kamu kemari?"
"Apa Zach ada ibu Cho?"
"Zach!! Ada--"
"Disini." sahut Zach yang sudah ada di belakang ibunya.
"Waah cepat sekali." puji ibunya. Zach mendengar suara Karen dari dapur dan mendengar nama Karen di sebut. Berkat pendengaran tajam manusia serigalanya tentu.
"Karen? Sedang apa kamu disini?" tanya Zach.
"Bisa... Kita berbicara?"
"Tentu, ayo."
Zach mengajak Karen menjauhi kedua orang tuanya. Meskipun dia tahu ayahnya tetap bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Siapa dia?" tanya ayah Zach.
"Seorang murid disekolah, mungkin teman Zach. Tapi aku tidak pernah tahu kalau Zach berteman dengan Karen."
"Memangnya kenapa jika dia berteman dengan gadis itu?"
"Well, Karen suka berkelahi."
"Wow... Zach memiliki selera wanita yang unik." puji ayah Zach. Ibunya hanya memutar bola matanya.
"Ada apa Karen?" tanya Zach setelah mereka berdiri agak jauh dari kedua orang tuanya.
"Apa kamu akan pergi ke.. Uhm.. Pesta itu?" tanya Karen.
"Ya, tentu. Aku sudah siap."
"Apa kamu mempunyai pasangan?"
"Well, kalau itu..."
"Bisa kita pergi bersama?"
"Apa? Kamu berubah pikiran?"
"Well yeah, ada sesuatu yang membuatku berubah pikiran." Karen terlihat cemas sekarang dan Zach melihat itu.
"Baiklah, ayo pergi.. Bersamaku."
"Bagaimana dengan pasanganmu?"
"Dia tidak akan apa-apa."
"Aku jadi tidak enak."
"Tidak perlu, pasanganku hanya... Austin."
"Austin murid baru itu?" tanya Karen. Zach mengangguk. "Tunggu, apa kalian..."
"Apa? Berkencan? Tentu saja tidak. Aku bukan gay, aku menyukai wanita. Ughh... Kenapa semua orang menganggapku Gay?"
"Karena kamu.. Bersikap dingin pada wanita di sekolah jadi..."
"Hanya karena aku bersikap dingin pada gadis-gadis di sekolah bukan berarti aku gay kan? aku menyukai wanita, aku tertarik pada wanita. Buktinya aku tertarik padam..." Zach menghentikan kata-katanya. Hampir saja kelepasan.
"Pada siapa Zach?"
"Uhmm.. Tidak, tidak. Ayo kita pergi saja."
"Selamat datang..." suara sapaan ayahnya membuat Zach menoleh. Karen juga ikut menoleh.
"Halo alpha Dustin."
"Apa perjalanan anda baik-baik saja?"
"Tentu, berkat orang kepercayaan anda."
"Bagus kalau begitu."
"Selamat malam, Luna." kata orang itu pada ibu Zach. Ibu Zach masih bengong dengan panggilan Luna yang ditujukan padanya. Ibu Zach menarik lengan ayah Zach lalu berbisik.
"Siapa dia..?" bisik ibu Zach. Ayah Zach hanya tersenyum.
"Zach, kemarilah."
Zach menatap Karen sejenak lalu mendatangi ayahnya. Karen mengikuti Zach dari belakang.
"Zach ayah ingin mengenalkanmu pada seseorang." kata ayahnya.
"Ini adalah Zachary Payne, anak saya dan Zach, dia adalah Kei Lyroso Laros, raja Lycanthrope."
"Halo, Zach." sapa Kei dan tersenyum.
****
__ADS_1
tadariez