
'Ayolah Ryan, kita kembali. Aku yakin Tania--"
Ryan menggeram. Kei terkejut.
'Aku tetap akan pergi.'
'Dan mengabaikan perintahku?'
'Kamu bukan siapa-siapa. Aku tidak akan tunduk padamu.'
'Dasar keras kepala! Kamu betaku Ryan. Hentikanlah keras kepalamu ini! Bukan demi aku, demi Tania.'
'Jangan bawa adikku ke dalam masalah ini!'
'Kamu tahu betapa sulitnya Tania membuat keputusan itu?! Dia tidak ingin kakaknya mati!
'Dengan hidup sebagai monster seperti ini sama saja mati bagiku. Jangan menghalangiku.'
'Aku tidak akan kemana-mana Ryan, meskipun kita harus bertarung.'
'So be it.'
Ryan menggeram lalu melompat tinggin ke arah Kei. Ryan mencoba menggigit leher Kei. Kei menghindar. Ryan terus mencoba mengigit Kei. Kei berusaha untuk tidak menyakiti Ryan. Dia tidak ingin menyakiti kakak Tania, dia juga tidak ingin menyakiti betanya sendiri. Manusia kadang sulit menerima dirinya menjadi manusia serigala dan Kei memahami itu.
Tubuh Kei terhempas terkena tendangan Ryan. Ryan kembali melayangkan cakarnya. Kei dengan cepat menghindar, menjauhi Ryan. Ryan menatap tajam Kei lalu berlari ke arahnya dan mencakar Kei. Kali ini dia berhasil mencakar dan mengigit Kei. Kei mengerang kesakitan. Dia tahu Ryan kuat tapi dia juga harus berusaha melawan tanpa menyakitinya.
'Ryan, cukup. Hentikan semua ini.'
'Kamu bilang kamu tidak akan membiarkanku pergi meskipun kita harus bertarung. Ayo! Kita bertarung. Bukankah kau alpha? Kau sudah menyombongkan gelarmu padaku.'
'Aku tidak ingin menyakitimu! Dan aku tidak menyombongkan gelarku, tapi aku menggunakannya sebagai alphamu.'
'Pengecut! Kamu bisa mempengaruhi Tania dan Andy tapi tidak denganku!'
'Aku tidak mempengaruhi siapapun! Aku mohon Ryan...'
'Kalau begitu mari kita bertarung.'
Ryan menerjang Kei. Ryan menyerang Kei menghindar.
'Oh ayolah... Apa kamu tidak berani menggigitku?! Kau sungguh pengecut! Apa karena aku kakak Tania?'
Ryan terus menyerang Kei. Kei terhempas lagi. Kali ini dia menggeram marah dan melompat tinggi. Kei menabrak Ryan dan membuatnya terjatuh lalu menahan tubuh serigala Ryan dengan kakinya. Tubuh Ryan sudah berada di bawah Kei.
'Aku bukannya tidak berani padamu, aku hanya tidak mau menyakitimu! Cakaranku akan sembuh lama karena aku alpha, gigitanku akan sangat mematikan karena aku alpha. Kamu akan mati!'
'Karena itu gigit aku! Buat aku mati!'
'Kamu sungguh keras kepala!'
'Ya! Dan aku tidak akan pernah patuh padamu. Kamu bukan alphaku!!
Kata-kata Ryan yang terakhir membuat Kei sangat marah. Ryan menghempas Kei. Kei bisa mempertahankan keseimbangannya. Kei menggeram marah lalu menyerang Ryan. Kali ini Kei tidak menahannya lagi. Dia sudah ditutupi oleh kemarahannya. Dia menyerang Ryan, memukulnya dengan kepalanya, menendangnya dan mencakarnya. Ryan baru menyadari kenapa Kei seorang alpha. Kei sangat kuat. Ryan meringis kesakitan tapi dia tidak menyerah. Dia terus melawan Kei sambil menahan sakit. Tubuh Ryan terhempas mengenai batu besar.
'Hentikan ini.'
'Tidak akan!'
'Patuh padaku!'
'Tidak akan!'
Kei bertambah marah. Ryan sudah berdiri dengan keempat kakinya. Terdengar suara tulang yang patah. Ryan membelalakkan matanya. Kei berubah menjadi monster Lycan. Monster itu sangat besar, tubuhnya jauh melebihi serigala Ryan, berdiri dengan dua kaki, bola matanya berwarna putih dan berbulu abu-abu lebat. Kei tidak pernah berubah menjadi monster semenjak dia hampir membunuh Tania. Monster itu menggeram keras, nafasnya memburu.
'Ka-kamu... Kamu.."
Kei berteriak dengan suara monster itu. Ryan mundur perlahan. Ryan melompat dan mencoba menyerang. Dengan sekali ayunan tangan, Ryan terhempas kasar. Ryan bangkit dan menyerang lagi. Kali ini Kei mengangkat tubuh serigala Ryan dengan mudah lalu meleparnya jauh. Ryan mengerang kesakitan. Kei mendatangi Ryan lagi. Ryan mencoba untuk bangkit. Ryan menggeram dan melompat ke arah Kei. Kei mengayunkan cakarnya dan mengenai Ryan. Ryan terlempar kasar. Dia tergeletak, sulit untuk bangkit. Darahnya sudah mengalir dari tubuhnya. Ryan terkena cakaran Kei. Ryan berubah menjadi manusia kembali. Ryan memegangi perutnya. Kei mendatangi Ryan lagi dengan marah.
"Kei....!!! Hentikan!!" Tania berdiri di depan Kei. Kei berhenti sejenak lalu jalan lagi. "Kei!!! Aku peringatkan kau!!"
Tania menunjuk Kei dan menatap marah. Kei terdiam lalu berubah menjadi manusia kembali. Tania masih menatap Kei marah.
"Ta-Tania.. A-aku..."
Tania beralih ke Ryan dan membantunya berdiri.
"Ayo kak, kita pergi. Apa kakak bisa berdiri?"
Ryan berdiri perlahan. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Biar kami saja yang mulia." tawar Ian. Ian dan Aaron memapah Ryan menjauh.
"Tania..." bujuk Kei.
"Jangan!" Tania menatap Kei marah lalu pergi mengikuti Ryan.
Kei menghela nafasnya kasar dan mengacak rambutnya.
"Aaarrrgghh!!! bodohnya kamu Kei! Kenapa aku tidak bisa menguasai amarahku?!"
****
Malam hari, Livia berdiri di belakang rumah Tania, menatap jendela kamar Tania. Ryan sudah di rawat dirumah alpha Sebastian. Lampu di kamar Tania masih tampak menyala. Masih terdengar suara Tania berbicara dengan Andy. Livia menatap jendela itu dalam diam.
"Untuk apa kamu memanggilku, Livia." kata seseorang yang baru saja datang. Livia menoleh. Orang itu mendekat pada Livia.
"Maafkan saya, nona Magnofold Tapi ada yang saya ingin sampaikan." kata Livia.
"Lalu kenapa harus disini? Bukankah itu rumah Tania? Mate dari Kei?" tanya Kate.
"Itu benar. Ada sesuatu yang terjadi padanya." kata Livia.
"Sesuatu yang terjadi? Pada Tania?" ulang Kate. Livia mengangguk.
__ADS_1
"Iya. Saya tahu saya tidak bisa meminta bantuan pada yang terpilih. Elder melarangnya. Karena itu saya meminta bantuan anda nona Magnofold--"
"Kate, panggil saja aku Kate."
"Kate, baiklah. Karena saya tahu anda dan nona Maythem orang terdekat dan terpercaya dari yang terpilih."
"Lalu... Ada apa dengan Tania?"
"Beberapa hari lalu ada seorang Banshee datang."
"Banshee?"
"Ya, dia menjerit. Tentu karena ada yang mati dan sepertinya yang mati adalah orang yang di kenal oleh Banshee itu."
"Lalu?"
"Saya menyihir Banshee itu pingsan. Tania mendekatinya lalu tiba-tiba Banshee itu terbangun dan memegang tangan Tania dan mengatakan sesuatu. Saya tidak tahu apa itu tapi... Itu seperti ramalan kuno."
"Ramalan? Bukan mantra?"
"Jika itu mantra akan terjadi sesuatu, tapi Banshee bukan penyihir bukan? Dia tidak akan bisa mengucapkan mantra apapun. Jadi saya beransumsi itu sebuah ramalan dan sepertinya saya pernah mendengarnya tapi saya lupa dimana."
"Apa kamu sudah bertanya pada Banshee itu?"
"Dia tidak mau berbicara, tentang apapun. Bahkan dia tidak mau berbicara tentang bagaimana dia bisa sampai di wilayah alpha Sebastian karena alpha Sebastian memastikan tidak ada Banshee di wilayahnya selama ini. Mereka juga sudah mencoba mencari tahu dari mana Banshee ini datang, tapi sepertinya ada yang menghapus jejaknya."
"Aneh sekali. Untuk apa mereka mengirim Banshee kemari?"
"Tepat sekali."
"Dia mengatakan uhmm... Yang kamu sebut ramalan kuno di depan Tania?"
"Iya, dan semenjak itu ada sesuatu dari Tania yang uhm... Berbeda."
"Ahh benar, kamu adalah penyihir Augury. Aku hampir lupa. Kamu bisa merasakan tanda itu."
"Ya, benar. Kami penyihir Augury selalu bisa merasakannya. Karena itu saya meminta saran anda. Apa yang harus saya lakukan?"
"Awasi Tania untuk sekarang ini. Jangan sampai terlepas dari pengawasanmu. Laporkan jika terjadi sesuatu. Aku akan meminta Elder untuk mengirimkan orang untuk menjemput Banshee itu."
"Baiklah, akan saya awasi. Tapi... Jika boleh saya tahu.. Ada apa dengan yang terpilih? Sepertinya para Elder tua begitu khawatir."
"Tidak ada apa-apa dengannya tapi memang Elder sedikit kewalahan."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Kotak pandora."
"Kotak pandora?" ulang Livia. "Kotak itu tersimpan di barang terlarang dikantor Elder, bukan?"
"Itu benar. Ada yang membuka kotak itu dan mencuri salah satu isinya."
"Tapi kotak itu berisi..."
"Jangan katakan itu adalah..."
"Benar. Itu yang dicurinya. Karena itu aku memintamu untuk berhati-hati. Awasi Tania, cari tahu ada apa dengannya tapi kamu harus berhati-hati, benda itu bisa membunuh penyihir. Para Elder masih tidak tahu benda itu ada dimana sekarang. Kami sudah memperingati seluruh kaum putih didunia."
"Baiklah. Saya akan berhati-hati."
"Bagus. Beritahukan pada Lily. Akan aku cari tahu soal Banshee itu dan memberitahukan pada Bian. Ingat, laporkan padaku jika terjadi sesuatu."
"Baik."
"Berhati-hatilah Livia."
Kate berteleportasi. Livia kembali menatap jendela kamar Tania. Kali ini lampunya sudah mati dan hening. Tidak ada lagi suara orang berbicara. Sepertinya mereka sudah tidur, sebaiknya aku pergi.
Livia bertelportasi. Dari dalam kamar Tania, Tania berdiri di samping jendela dalam kegelapan. Dari bibirnya tersungging senyum tipis.
****
Tania berlari dan terus berlari. Tapi jalan itu seakan tidak ada ujungnya sementara suara itu terus mendekat. Tania menghentikan langkahnya dan mengatur nafasnya.
"Suara apa itu dan dimana aku?!" Tania panik. Suara itu semakin dekat dan terus memanggil namanya. Tania berlari lagi. Dia sudah sangat kelelahan dan kakinya sakit. Dia hampir tidak bisa berlari. Nafasnya sudah terengah. Tania berbalik, mencoba mencari tahu suara apa itu. Dia menyipitkan matanya, mencari dalam kegelapan. Semakin lama suara itu semakin mendekat. Tania berjalan mundur perlahan. Ada asap tiba-tiba muncul. Asap itu semakin lama semakin banyak dan berada di depan Tania. Asap itu membentuk sebuah sosok. Sosok wanita. Rambut panjang dan pakaian terusan panjang, hanya saja dari asap. Wanita itu menatap Tania tajam. Tania masih berjalan mundur perlahan. Tiba-tiba wanita itu membuka mulutnya dan berteriak keras, menghujani Tania dengan asap yang banyak membuat Tania menutup matanya dan menghalangi pandangannya dengan kedua tangannya. Tania tidak memperhatikan jalan lagi. Dia tidak sadar ada sebuah lubang di belakangnya. Tania melangkah ke lubang itu dan terjatuh.
"Aaaakkkhhhhh....!!!" Tania berteriak dan bangun dari tidurnya. Dia terduduk. Keringat membasahi tubuh dan kepalanya. Nafas dan detak jantungnya begitu cepat.
"Tania...!!" Andy masuk ke dalam kamar dan menghampiri Tania. "Tania, apa kamu baik-baik saja?"
Andy memperhatikan Tania. Tania memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Andy memeluk Tania.
"Tidak apa-apa Tania." Andy menepuk pelan punggung Tania. "Apa kamu mimpi buruk lagi?"
Tania tidak menjawab. Dia hanya masih terkejut.
"Tidak apa-apa, ada kakak disini dan itu hanya mimpi." kata Andy. Tania mengangguk pelan walau sebenarnya dia tidak yakin.
Semenjak bertemu dan memegang batu dari Banshee itu, Tania selalu bermimpi buruk dan anehnya mimpi itu terasa begitu nyata. Bahkan dia merasakan kelelahan berlari, padahal dia berlari dalam mimpinya. Tania bertekad untuk mengembalikan batu permata ungu itu pada Banshee besok. Ya, harus.
****
"Tidak ada? Bagaimana bisa?" Tania terkejut.
"Banshee itu sudah di jemput para Elder untuk di tanyai. Alpha Sebastian juga menyetujui hal itu. Dia merasa Banshee itu akan aman dan nyaman jika bersama penyihir." kata Jake.
"Oh tidak." Tania tertunduk dan menutup wajahnya dengan tangannya.
"Uhmm sebenarnya ada apa? Apa ada masalah?" tanya Jake.
"Tidak, Jake. Tidak ada." jawab Tania cepat lalu tersenyum. Jake mengangguk.
"Tania..!!" panggil Kei. Tania menoleh tapi langsung membuang wajahnya dan pergi. Kei mengejarnya. "Tania, hei.... Tunggu dulu."
__ADS_1
Kei berhasi menahan Tania dengan memegang tangannya. Tania menghentikan langkahnya tapi tidak menatap Kei.
"Mari kita berbicara, mari selesaikan semua ini. Aku mohon. Aku tidak bisa melihat kamu terus-terusan marah padaku. Itu menyakitiku, Tania."
Tania tidak menjawab, hanya mengehela nafas. Kei maju dan berhenti didepan Tania.
"Lihat aku, Tania." kata Kei. Awalnya Tania enggan, tapi akhirnya dia menatap Kei. "Aku minta maaf, aku bersalah. Aku menggunakan Lycan untuk mengontrolnya bukan untuk menyakiti Ryan. Tidak, tidak, aku tidak ingin memberikanmu alasan itu. Tapi kakakmu sangat keras kepala. Aku minta maaf mengatakannya tapi itu benar. Dia sangat keras kepala. Dia tidak ingin mematuhiku atau mengakuiku sebagai alphanya."
"Apa kamu sangat menggilai kepatuhan itu?" tanya Tania. Dia menatap Kei heran.
"Aku tidak menggilai itu, Tania. Tapi kami manusia serigala, itu sudah hukum alam kami. Ryan adalah manusia serigala sekarang, dia harus mematuhi hukum alam itu, Tania. Dia dulunya manusia biasa sekarang manusia serigala, terlebih dia adalah beta. Sangat jarang manusia biasa berubah menjadi manusia serigala dan menjadi beta. Biasanya mereka akan berubah menjadi omega atau prajurit. Menjadi gamma saja jarang. Beta? Sangat jarang. Hanya beberapa di dunia ini. Beta memiliki kekuatan yang sangat besar Tania. Dia harus bisa mengendalikannya secepatnya. Aku tidak masalah jika dia akan kembali kuliah seperti dulu. Aku akan mengijinkannya menjalani kehidupan lamanya. Tapi dia harus mengendalikannya. Kita tidak mau dia menyakiti siapapun dan berubah di depan orang banyak kan?"
Tania masih terdiam. Tidak ada sahutan dari Tania, Kei melanjutkan lagi.
"Karena itu, kita membuat Ryan mengendalikan kekuatan betanya. Sendirian? Dia tidak akan mengendalikannya dengan cepat. Dengan packnya, dia akan bisa mengendalikan dengan cepat dan baik. Dia juga harus memiliki pemimpin Tania, agar bisa di kendalikan. Aku yang mengigitnya, jadi sesuai hukum alam, aku adalah alphanya. Jadi dia harus patuh padaku agar aku bisa mengendalikannya. Dia betaku Tania, jadi dia tanggung jawabku. Ada kalanya dia akan marah dan kehilangan kendalinya. Jika dia patuh padaku, aku akan bisa mengendalikannya. Jika bisa kukendalikan dia tidak akan menyakiti orang lain. Untuk bisa dikendalikan dia harus patuh padaku. Percayalah padaku Tania. Aku salah karena aku kehilangan kendali. Tapi aku hanya berusaha membuatnya patuh. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitinya."
Kei menatap Tania. Tania masih diam membisu.
"Baiklah." kata Tania akhirnya. Dia menatap Kei. "Kamu kumaafkan tapi jangan menyakitinya lagi."
"Aku akan berusaha, aku janji."
Kei memeluk Tania dan menciumnya.
"Terima kasih." bisiknya pada Tania.
"Kei."
Kei melepaskan pelukannya dan menoleh pada orang yang memanggilnya. Andy sudah berdiri di dekat mereka sejak tadi dan mendengarkan semuanya. Andy mendekat.
"Kak Andy?"
"Halo Tania. Kakak tahu hari ini kamu libur, tapi bukan berarti kamu sudah berada disini pagi-pagi sekali. Kakak mencarimu kemana-mana." omel Andy.
"Aahh maaf kak. Apa kakak menjemput Tania kesini?"
"Tidak, kakak kemari untuk berbicara padanya." Andy menunjuk Kei dengan dagunya.
"Sa-saya?"
"Ya, kamu. Ayo kita bicara, empat mata saja. Tania, jagalah Ryan."
Andy berjalan menjauh. Kei menatap Tania sejenak lalu pergi menyusul Andy. Andy duduk di atas rumput dan menatap ke bawah, ke arah kota. Rumah alpha Sebastian berada atas bukit. Di belakang dan depan rumah ada hutan yang mengelilingi tapi di sisi sebelah kanan bisa terlihat pemandangan seluruh kota.
"Duduklah." pinta Andy saat Kei sudah sampai di sebelahnya. Kei menurut dan duduk di sebelah Andy.
"Aku bukan manusia serigala, berarti kekuatan alphamu tidak berpengaruh padaku." kata Andy. Kei tersenyum.
"Ya, saya tahu itu."
"Lalu bagaimana keadaan Ryan?"
"Kak Ryan baik. Aku sudah menjilati lukanya agar cepat sembuh." kaya Kei. Andy menoleh dan menatap tidak percaya.
"Jilat? Ughh menjijikkan." gumam Andy. Kei terkekeh.
"Iya terdengar menjijikkan. Karena luka yang didapatnya dari seorang alpha, maka hanya air liur alpha yang bisa membuatnya cepat sembuh. Tenang saja, saya menjilatinya dengan wujud serigala, bukan manusia."
"Dari yang aku baca, well aku banyak meneliti tentang kalian setelah tahu kalian ada... Maksud aku benar-benar ada. Kalian bisa menyembuhkan diri dengan cepat, tidak, sangat cepat. Apa itu tidak berlaku pada manusia serigala yang baru?"
"Ohh jangan terlalu percaya apa yang anda baca di internet dan yang anda tonton di film. Kami memang bisa menyembuhkan diri dengan cepat tapi butuh waktu. Untuk terluka parah kami juga butuh waktu, meskipun kami tidak perlu obat-obatan. Untuk Ryan, Ryan terluka karena alpha. Luka yang di buat seorang alpha akan sangat lama untuk sembuh. Gigitan alpha bisa membuat kematian bagi manusia serigala. Dan saya minta maaf."
"Tidak apa-apa." Andy menepuk pundak Kei. "Aku tahu kamu tidak bermaksud menyakitinya."
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku."
"Lalu... Apa yang akan kamu lakukan?"
"Well, kita hanya tunggu dia pulih lalu kita akan berlatih lagi. Saya akan mencoba untuk melatihnya lagi."
"Ahh bukan soal Ryan, soal Tania."
"Ada apa dengan Tania?"
"Apa kalian akan menikah?"
"Apa?" Kei terkejut.
"Kamu bilang Tania adalah mate-mu, pasangan hidupmu. Manusia serigala ditakdirkan hanya mempunyai satu mate dalam hidupnya, itu yang kamu katakan padaku dan Tania adalah mate-mu. Lalu bagaimana? Kalian harus menikah? Tapi kalian masih sekolah." kata Andy bingung. Kei tertawa kecil.
"Saya memang akan menikahinya, tapi tidak dalam waktu dekat. Kei juga masih sekolah kak, Kei harus lulus sekolah terlebih dulu. Lagipula Kei masih anak ingusan, itu yang di katakan Ryan. Anak ingusan. Yang susah mengontrol emosi, keinginan... Saya takut jika menikahi Tania dalam kondisi itu akan menyakitinya dan saya tidak ingin menyakitinya. Saya mencintainya, dia adalah sebagian hidup saya. Tapi saya tidak akan mengikatnya dengan ketidakdewasaan saya. Karena itu akan menyakitinya."
"Kamu tampak dewasa bagiku, bahkan melebihi Ryan. Well mungkin karena kamu adalah raja dan alpha. Itu membuatmu menjadi dewasa."
"Ya, mungkin."
Mereka terdiam menatap kota di bawah mereka.
"Tapi aku percaya padamu Kei, kamu akan menjaga Tania dan tidak akan menyakitinya."
"Tentu saja tidak, saya berjanji."
Andy tersenyum dan mengalungkan tangan kirinya kepundak Kei lalu tertawa bersama. Pemandangan itu di saksikan oleh Tania dari jendela kamar Ryan. Tania tersenyum senang melihat kakaknya terlihat akrab dengan Kei. Tania menutup tirainya dan melihat Ryan yang masih terlelap. Tania melihat bunga yang berada di atas nakas di sebelah tempat tidur Ryan. Bunga itu terlihat tidak rapi. Tania berjalan mendekat dan merapikan bunga itu. Tapi tak lama bunga lili itu menghitam dan layu. Tania terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Ke-kenapa bunga itu tiba-tiba...."
Tania berpikir ada sihir di bunga itu sehingga membuat bunga itu layu. Tania berbalik dan ingin melaporkannya pada Kei, tapi dia tidak sengaja melihat tangannya saat akan menutup pintu kamar. Tangannya mengeluarkan asap berwarna ungu.
'Tunggu dulu, apa jangan-jangan bunga itu layu karena aku? Ada apa denganku?!'
****
Tadariez
__ADS_1