My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Penyerangan


__ADS_3

Tawa masih terdengar jelas dari mulut Bian. Dia begitu senang. Bian berjalan menyusuri hutan dengan masih tertawa geli.


"Apa kamu sudah mulai gila tertawa terus?" suara mengagetkan datang dari belakangnya.


"Huh? Adik manis?" Bian melihat Kei berjalan mendekatinya. "Sedang apa kamu disini? Aku kira kamu sudah pulang. Bukannya akan ada pesta ulang tahun? Memangnya kamu tidak bersiap?"


"Kenapa banyak sekali pertanyaanya? Satu-satu. Aku hanya berjalan-jalan. Iya, ada pesta tapi masih ada waktu untuk berjalan-jalan." Kei menjawab semua pertanyaan Bian. Bian hanya nyengir kuda.


"Apa kamu memang sengaja melakukan hal yang tadi di kantin?" tanya Kei.


"Tentu saja. Aku hanya ingin melihat reaksi Anne dan juga gadismu, Tania. Aku dengar cerita dari.. Ehmm... Siapa namanya? Aku lupa. Ja..." Bian tampak berpikir.


"Jason?" tebak Kei.


"Bukan-bukan. Jake! Iya, Jake namanya. Calon Gamma itu. Dia bilang Ian kesulitan mengetahui perasaan Anne. Dan cara jitu melakukannya adalah membuatnya cemburu." Bian tersenyum geli. "Dan akhirnya Anne berkata, dia milikku."


Bian tertawa lagi. Dia begitu senang rencananya berhasil. Dia yakin Ian pasti sedang berusaha membujuk Anne tapi setidaknya Ian sudah tahu jika Anne mempunyai perasaan padanya.


"Kamu memang usil." kata Kei lalu membelai pelan kepala Bian.


"Aku hanya mengambil inisiatif. Aku juga perempuan. Bagi laki-laki perasaan perempuan itu menyusahkan, seperti potongan puzzel yang rumit. Butuh kesabaran untuk mengerti. Kadang apa yang di ucapkan perempuan tidak sesuai dengan keinginan hatinya." jelas Bian.


"Maksudnya?"


"Maksudnya adikku sayang. Aku kasih contoh. Seorang perempuan bilangĀ  padamu untuk pergi darinya padahal hatinya yang sebenarnya, dia tidak ingin kamu pergi. Memang susah di mengerti. Tapi aku juga perempuan, setidaknya aku mengerti. Apa kamu melihat reaksi Tania?"


Kei menggeleng. Dia memang tidak terlalu memperhatikan Tania saat di kantin tadi. Dia terlalu fokus pada Bian yang berubah drastis dan menurutnya Bian menjadi semakin gila saja. Akhirnya dia tahu Bian hanya berpura-pura.


"Tania tadi juga merasa kesal aku dekat denganmu dan dia berusaha menyembunyikannya! Dia memang hebat. Jika aku tadi tidak memergokinya, aku tidak akan tahu jika dia sangat kesal tadi." Bian tertawa terbahak lagi.


"Sudah jangan tertawa terus." Kei mengelus rambut Bian lagi.


"Hey jangan sentuh-sentuh. Kenapa kamu terus menyentuh rambutku? Nanti berantakan." protes Bian.


"Memang sudah berantakan." jawab Kei.


"Tapi setidaknya jangan menambahnya lagi." Bian merapikan rambutnya.


Kei sebenarnya merasa heran pada dirinya sendiri. Dia orang yang dingin dan tidak bersahabat, apalagi dengan orang baru. Tapi entah kenapa dengan Bian tampak berbeda. Dia seperti menjadi dirinya yang dulu, sebelum kakaknya meninggal. Dia menjadi Kei yang ceria dan ramah jika bersama Bian.


"Kenapa kamu diam saja? Atau jangan-jangan kamu menyukaiku?" pancing Bian. Bian mulai usil lagi dan menggoda Kei. Bian berjalan mendekati Kei. Kei tentu saja kaget.


"Apa? Kamu mau apa?" tanya Kei. Bian tidak menjawab. Hanya tersenyum dan terus mendekatinya. Wajah mereka kini sudah sangat dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan. Bian masih saja tersenyum penuh arti.


"Kamu... Manis sekali kalau lagi gugup." Bian tertawa kecil lalu mencubit kedua pipi Kei. "Akhh manisnya."


Bian melepaskan cubitannya lalu berlari menjauhi Kei yang sudah mengumpat tidak jelas. Bian menghentikan larinya saat jaraknya sudah agak jauh dari Kei dan menatap Kei.


"Kei, konsentrasi saja untuk mendapatkan Tania. Jangan memikirkan gadis lain." kata Bian lalu menjulurkan lidahnya.


'Ah sial! Aku tertipu lagi!'


"Kalau begitu jangan suka menggodaku." gumam Kei yang masih didengar jelas oleh Bian. Bian terkekeh.


"Itu karena ekspresimu yang minta di goda." Bian tertawa lagi. "Tenang saja. Aku tidak akan jatuh cinta padamu adik manis. Aku tidak menganggapmu sebagai laki-laki tapi sebagai adikku. Kamu sudah seperti adik bagiku."


Entah kenapa mendengar itu ada terbesit kekecewaan dalam hati Kei. 'Tunggu, kenapa aku jadi kecewa begini? Apa aku menyukainya? Tidak, tidak Kei. Ingat Tania'


"Kamu kenapa?" tanya Bian melihat Kei menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak." jawab Kei singkat. Bian hanya terdiam menatap Kei.


Kei melihat ke arah Bian lalu mengerutkan keningnya. Dia menatap ke arah Bian, tepatnya di belakang Bian. Kemudian dia membelalakkan matanya lalu berlari ke arah Bian.


"Bian, awas...!!"


Kei menarik tangan Bian lalu memeluknya dan memutar tubuhnya dan tubuh Bian lalu menarik tubuh Bian.


"Ada apa Kei??" Bian terkejut dengan tindakan Kei yang tiba-tiba. Kei tidak menjawab. Hanya melihat ke semak di depannya. Dia bahkan masih memeluk Bian erat. Bian menatap Kei bingung.


"Ada apa sih?!"


Tiba-tiba terdengar suara geraman. Bian menoleh ke arah semak yang di pandangi oleh Kei. Dari sana muncul satu persatu serigala besar. Jumlah mereka banyak.


"Kei..." panggil Bian pelan. Kei masih memeluk erat Bian.


"Aku tahu. Hybrid." kata Kei pelan.


"Bukan itu. Kamu bisa melepasku sekarang." kata Bian lagi.


Kei menatap Bian sejenak lalu melepaskan pelukannya.


"Bian, tetaplah di belakangku." kata Kei lalu memposisikan dirinya di depan Bian. Bian mendengus kesal.

__ADS_1


"Apa tidak terbalik?" protes Bian.


"Apa?"


"Kei, aku penyihir. Aku yang terpilih, penyihir terkuat didunia. Sementara kamu masih anak remaja. Sana, kamu berdiri di belakang dan diam saja disana." perintah Bian. Kei diam saja di tempatnya membuat Bian menarik lengan Kei kebelakangnya.


Bian menatap serigala-serigala itu. Keningnya berkerut. 'Sepertinya lebih banyak dari yang pertama.'


Suara geraman saling menyahut. Bian bersiap menghadapi mereka tapi dia terhenti ketika melihat satu sosok yang muncul begitu saja di hadapannya dan berdiri di antara serigala hybrid itu.


"Ka-kamu.."


"Yang terpilih, senang bertemu dengan anda lagi." sahut laki-laki itu dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Jadi kamu dalang di balik semua ini?" kata Bian sinis.


"Bisa jadi." kata lelaki yang mengenakan pakain serba hitam itu.


"Siapa dia?" bisik Kei.


"Dia penyihir Kei, penyihir dari kaum hitam." jawab Bian.


"Hallo alpha." sapa Lelaki itu pada Kei.


"Siapa? Aku? Aku bukan alpha." kata Kei.


"Siapapun yang memeiliki kekuatan Lycan itu adalah alpha. Dia adalah alpha dari segala alpha. Raja dari kaum Lycanthrope. Apa kamu tidak tahu semua itu alpha?"


"Aku tidak perduli dengan semua ocehanmu. Aku bukan alpha dan berhenti memanggilku seperti itu." kata Kei dingin.


"Kei, pergilah. Aku yang akan menghadapinya." kata Bian.


"Tidak, biar aku membantumu." kata Kei cepat.


"Tidak perlu Kei, pergilah."


"Bagaimana jika kamu terluka?"


"Terluka dalam pertempuran itu hal yang wajar Kei. Pergilah." bujuk Bian lagi.


"Tidak, aku tidak akan pergi."


"Apa kamu tidak lihat? dia itu penyihir Kei, kamu tidak bisa melawannya!"


"Aku tidak perduli. Aku tetap disini." Kei tetap pada keputusannya.


"Jangan ikut campur" kata Bian lalu mengalihkan pandangannya ke Kei. "Pergilah!!"


"Tidak!" tegas Kei. Bian mendengus kesal. 'Dasa keras kepala'


"Kalau begitu aku yang akan membuatmu pergi." kata Bian. Bian menyentuh pundak Kei lalu menutup matanya.


"Ap-"


Belum selesai Kei berbicara, Kei sudah menghilang dari sana. Bian kembali menatap lelaki itu. Tak lama muncul beberapa orang lagi. Mereka semua berpakaian hitam.


"Jadi kalian memilih mencampuri urusan yang seharusnya bukan urusan kaum kalian." kata Bian sinis.


"Kami hanya memilih sesuatu yang lebih menyenangkan." kata lelaki itu.


"Tentu saja. Dengan tidak berimbang seperti sekarang." kata Bian lagi.


"Ah tidak perlu di khawatirkan kan? Kamu adalah yang terpilih. Aku rasa ini sudah sangat berimbang." kata Lelaki itu. Lelaki itu menyeringai. "So, shall we begin?"


****


Kei terperanjat kaget. Sedetik yang lalu dia berada di hutan dan detik berikutnya dia berada di kamarnya sendiri.


Kei berjalan bolak balik lalu mengacak rambutnya kasar. Dia begitu kesal Bian membuatnya berada di kamarnya sementara Bian bertarung sendirian. 'Bagaimana jika dia terluka parah? Atau mati? Aaargghhh kenapa dia mengirimku pulang?! Dia sudah gila!'


Kei terus saja mengumpat tidak karuan dalam hatinya. Lalu dia terdiam. 'Ayah! Aku harus memberitahukan pada ayah dan Cavril.'


Kei membuka pintuk kamarnya lalu segera menuruni tangga. Kei mencari keberadaan ayahnya. Ayahnya sedang bersama Cavril di halaman belakang.


"Ayah!!" panggil Kei.


"Oh kau sudah pulang Kei? Apa kamu mau bersiap untuk datang ke pesta ulang tahun temanmu?" tanya Ayah Kei. Kei sudah memberitahukan ayah dan ibunya jika dia akan pergi ke pesta ulang tahun temannya.


"Ada masalah ayah." kata Kei. Ayah Kei mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Ayah Kei.


"Kita di serang. Oleh serigala hybrid dan juga penyihir. Ayah, Bian disana bertarung dengan mereka sendirian. Kei mohon, bantulah dia."

__ADS_1


"Apa?! Apa kamu yakin Kei?"


"Kei melihatnya sendiri ayah. Cepatlah!!" desak Kei.


"Cavril pergilah ketempat Bian berada. Aku akan menghubungi Sebastian."


Cavril dengan cepat pergi sesuai yang di perintahkan. Ayah Kei mengambil ponselnya dari kantung celana dan memencet nomor Sebastian.


"Halo, Sebastian? Ini aku Oston."


".... "


"Kita di serang Sebastian. Ulah serigala hybrid lagi dan kali ini mereka membawa penyihir."


"...."


"Baiklah."


Ayah Kei menutup sambungan teleponnya. "Sebastian sudah mengutus pasukannya untuk membantu Bian. Bahkan Sebastian sendiri yang ikut pergi kesana." jelas ayah Kei.


"Kalau begitu Kei pergi kesana juga." kata Kei.


"Tidak Kei, kamu disini saja."


"Tapi ayah...."


"Mereka kemari untukmu Kei. Ayah mohon jangan membuat pengorbanan orang-orang yang melindungimu menjadi sia-sia."


Kei tertunduk lemas. Dia ingin sekali membantu.


****


Sudah dua jam berlalu. Tapi masih belum ada kabar dan itu membuat Kei merasa akan gila. 'Kenapa mereka lama sekali?'


"Kei, apa kamu tidak bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun temanmu?" tanya ibunya.


"Kei sedang tidak ingin pergi bu." kata Kei.


"Jangan begitu. Bukannya kamu bilang tadi pagi sudah janjian dengan temanmu. Kasihan dia menunggu nanti." kata ibunya.


Kei teringat. Tania. Ya, dia berjanji menjemput Tania jam tujuh nanti. Kei melihat jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 06.15 sore. Dia harus bersiap sekarang tapi dia tidak merasa bersemangat lagi.


Kei menaiki tangga dan menuju kamarnya setelah dua jam menunggu di ruang tamu. Kei mandi dan memakai kemeja berlengan pendek dan berwarna biru mudanya dan celana jeans biru malamnya. Kei menyisir rambutnya seadanya. Tak lama Kei telah siap untuk pergi tapi kemudian dia menghela nafas berat lagi. Dia tidak ingin pergi tapi dia ingat janjinya pada Tania. 'Tania lebih utama. Ya, aku harus mengutamakan Tania. Aku yakin mereka baik-baik saja'


Kei menghela nafas lagi. Dia khawatir karena dia tidak ingin orang lain celaka lagi untuknya. Kei membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga. Kei berpapasan dengan ibunya diruang tamu.


"Waaahh anak ibu tampan sekali." puji ibunya sambil memperbaiki kerah kemeja Kei. Kei tersenyum.


"Terima-"


Terdengar pintu terbuka kasar. Ayah Kei dan beberapa orang mulai masuk. Beberpa orang terluka.


"Ini sudah keterlaluan! Tidak bisa dibiarkan!" geram ayah Kei.


"Jadi apa yang harus kita lakukan alpha?" tanya Cavril.


"Panggil Ian, suruh dia menjaga Kei dua puluh empat jam. Dia harus bersama Kei dan sampaikan permintaan maafku pada Ian, tapi sepertinya Ian harus menunda dulu kegiatannya dengan Mate-nya."


"Baik alpha." Cavril langsung pergi dari rumah itu.


"Kei, tetaplah bersama Ian dan jangan jauh-jauh darinya. Kamu mengerti itu?"


Kei mengangguk. "Mengerti ayah"


"Tapi ayah, bagaimana dengan Bian?"


"Dia... Lukanya cukup parah. Dia berada di rumah alpha Sebastian." kata ayah Kei. Kei terperanjat. 'Dia.. Terluka.'


"Alpha, Ian sudah berada disini." kata Cavril.


"Apa kamu sudah memberitahu tentang keinginanku itu?"


"Tentu."


"Baguslah. Kei berangkatlah dengan Ian dan ayah minta Kei, jangan jauh-jauh dari Ian."


"Iya ayah." Kei segera keluar rumah dan mendapati Ian menunggunya.


"Apa kamu sudah dengar?" tanya Kei. Ian mengangguk.


"Sekarang ayo kita pergi. Sekarang sudah aman dan aku yakin para gadis itu sudah menunggu."


Kei mengangguk dan segera pergi mengikuti Ian.

__ADS_1


****


...Tadariez ...


__ADS_2