My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Introducing Zachary Payne


__ADS_3

"Bian?"


Tania membulatkan matanya. Bian melambai pada Tania dan Kei yang masih bengong. Tania mendorong tubuh Kei lalu berdiri dan memeluk Bian. Terdengar suara rintihan Bian.


"Ahh maaf..." kata Tania. Bian tersenyum.


"Tidak apa-apa Tania. Bagaimana kabarmu? Apa... Kamu baik-baik saja?" tanya Bian. Tania mengangguk.


"Bagus."


"Sedang apa kamu disini?" tanya Kei ketus.


"Apa kamu tidak merindukanku adik manis? Bukannya tadi kamu bilang kamu khawatir padaku?"


"Kapan aku mengatakannya? Terlalu percaya diri." sahut Kei. Bian tersenyum geli. Dia tahu Kei hanya berpura-pura.


"Aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja." kata Bian. "Aku juga ingin mengucapkan perpisahan."


"Apa kamu tidak tinggal?" tanya Tania. Bian tersenyum dan menggeleng.


"Aku tidak bisa tinggal. Lagipula urusanku disini sudah selesai. Aku juga sudah bosan melihat wajah serigala galak itu." Bian menunjuk Kei dengan dagunya. Kei mendengus kesal.


"Aku juga tidak ingin bertemu denganmu, ha!"


"Bagus kalau begitu. Aku bisa pergi." kata Bian.


"Lalu... Kamu mau kemana?" tanya Kei.


"Aku tidak bisa mengatakannya." kata Bian.


"Apa kamu sudah sembuh? Kenapa wajahmu pucat sekali?"


"Apa kamu khawatir padaku adik manis?" goda Bian.


"Huh! Tidak." tegas Kei. Tania dan Bian tertawa geli.


"Tapi Kei benar Bian. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tania.


"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir." Bian tersenyum. "Baiklah, aku harus pergi sekarang."


"Kita akan bertemu lagi?"


"Tentu Tania, pasti."


Tania memeluk Bian erat. "Aku akan merindukanmu." bisik Tania.


"Ya, aku juga." Bian melepaskan pelukkannya. "Apa kamu tidak ingin memelukku adik manis?"


Bian membuka tangannya lebar. Kei terdiam sejenak lalu akhirnya memeluk Bian.


"Kamu akan menjadi raja dan alpha yang hebat. Kamu harus yakin itu." bisik Tania.


"Dan kamu akan tetap menjadi kakak yang cerewet." Kei ikut berbisik.


"Yaaah aku tahu itu."


Bian tertawa dan melepaskan pelukkannya.


"Aku hanya berharap kalian selalu bahagia... Selamat tinggal."


Bian tersenyum lalu berteleportasi. Tania memeluk Kei.


"Aku akan merindukannya." kata Tania.


"Aku juga Tania, aku juga."


*****


Bell pergantian pelajaran berbunyi. Semua murid di SMA Rotthern keluar dari kelas mereka dan berjalan menuju kelas berikutnya masing-masing. Tidak terkecuali Zachary Payne. Seorang murid berumur tujuh belas tahun.


"Zach." panggil seseorang dari belakangnya. Zach menoleh.


"Hai, Daryl." sapa Zach dengan tetap berjalan.


"Dimana Rodney?" tanya Daryl. Zach mengangkat kedua bahunya.


"Tidak tahu." kata Zach. Mereka berdua berjalan menuju Gym, untuk berlatih basket.


"Ibu Ramirez itu adalah bencana." kata Daryl.


"Apa maksudmu?"


"Tadi saat pelajaran biologi, dia membuat kami membelah kodok. Dan kau tahu, bahkan ibu itu jijik terhadap kodok dan tidak ingin memegangnya dan akhirnya membuat Becky yang membelah kodok itu untuknya. Ibu Ramirez hanya berteriak-teriak kecil disebelahnya. Aku heran sekali, bagaimana guru itu menjadi guru biologi."


"Aku tidak tahu." jawab Zach.


"Tepat sekali! Penuh tanda tanya."


Mereka sampai di depan pintu Gym dan membuka pintunya. Beberapa orang sudah ada disana termasuk Rodney.


"Zach...!! Daryl..!!" Rodney memanggil kedua temannya yang baru datang. Zach dan Daryl saling pandang sejenak lalu mendatangi Rodney.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Daryl setelah duduk di sebelah Rodney.


"Aku hanya ingin menonton kalian latihan." jawab Rodney.


"Bukannya kamu ada pelajaran matematika?" tanya Zach.


"Tidak usah dipikirkan. Aku ingin menonton kalian." kata Rodney membuat kedua temannya saling pandang lagi.


"Baiklah pemain!! Apa kalian siap latihan?" tanya pelatih basket mereka, pak Robbins. 


"Yes coach!" jawab mereka serempak.


"Apa kalian anak perempuan? Kenapa kalian menjawab seperti anak perempuan?" ejek pelatih mereka. "Apa kalian siap?!"


"Yes, coach!!!" kali ini suara mereka lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


"Bagus, ayo berlari, keliling lapangan, Semua!!" perintah pak Robbins.


"Kenapa kamu masih disana?! Payne, Lawson berlarilah! Dan kau!!" pelatih menunjuk Rodney. "Siapa kau? Apa kau ikut basket?"


"Ahh tidak, tidak pak. Saya hanya menonton saja." jawab Rodney.


"Oh baiklah. Tetap disana... Uhm.. Siapapun namamu." kata pelatih itu lalu berbalik dan mulai berlari.


****


Suara langkah kaki cepat membuat koridor rumah tua itu terdengar berisik dari biasanya. Langkah kaki itu terdengar sangat terburu-buru.


Seorang laki-laki sudah berdiri di depan pintu kayu yang cukup besar. Dia merapikan pakaiannya, kemeja hitam polos yang di masukkan kedalam jeans berwarna biru muda. Laki-laki itu mengetuk pintu besar yang ada didepannya.


"Masuk."


Sebuah suara berat menyuruhnya masuk. Laki-laki itu membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.


"Alpha." sahut laki-laki itu sedikit membungkuk.


"Bagaimana Simon? Apa ada kemajuan?" tanya orang dihadapannya yang dipanggil alpha.


"Kami menemukannya alpha." kata Simon.


Alpha menghentikan pekerjaannya lalu menoleh ke Simon yang sudah menunggu reaksinya.


"Apa itu benar?" tanya alpha.


"Benar alpha, kami menemukan anak anda." kata simon pasti. "Apa kita membawanya kemari?"


"Tidak, sebaiknya jangan dulu. Bagaimana dia? Dengan siapa ditinggal?" tanya alpha.


"Dengan ibu kandungnya yang bekerja sebagai guru."


"Donna?"


"Iya alpha, Donna Chen."


"Sudah lama sekali. Baiklah ayo kita pergi mendatanginya." kata alpha.


"Anda.. Ikut juga?"


"Tentu, aku ingin bertemu dengan anakku."


Alpha Dustin berjalan keluar ruangan.


"Tapi alpha..." suara Simon membuat alpha Dustin menghentikan langkahnya. "Anak anda.. Bukan seorang manusia serigala. Dia manusia biasa."


"Apa maksudmu?"


"Dia bukan manusia serigala alpha, hanya manusia biasa seperti ibunya. Karena itu kita sulit untuk menemukannya selama ini, karena kita fokus pada manusia serigala." jelas Simon. Alpha Dustin menghela nafas.


"Bagaimana bisa? Dia anakku, sudah seharusnya dia seorang manusia serigala." kata alpha Dustin.


"Saya tidak tahu alpha." kata Simon. Alpha Dustin terdiam sejenak.


Alpha Dustin keluar ruangan di ikuti oleh Simon.


****


Pelajaran sejarah berjalan alot dan membosankan. Pak Doughlas masih saja menerangkan tentang perang saudara. Daryl sudah menguap untuk kelima kalinya. Sedangkan Zach masih mencatat apa yang pak Doughlas katakan. Tiba-tiba dia mendengar suara. Dia tersentak kaget. Suara itu keras sekali. Dia yakin seluruh sekolah mendengarnya.


Zach melihat kesekeliling. Tidak ada yang merasa terganggu dengan suara lolongan itu. Mungkin hanya perasaanku.


Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Kali ini cukup membuatnya menutup telinganya. Zach menatap keluar. Halaman depan sekolahnya yang sepi.


"Tuan Payne?" panggil pak Doughlas. Tapi Zach tidak mendengar. "Tuan Payne."


Zach tersadar dan menoleh.


"Apa ada sesuatu yang menarik di luar sana selain pelajaranku?" tanya tuan Doughlas.


"Uhm... Tidak ada pak." jawab Zach.


"Lalu berhentilah menatap keluar dan konsentrasilah pada kelasku." kata pak Doughlas.


"Baik, maaf pak." kata Zach. Pak Doughlas menjelaskan materi kembali.


"Sstt.. Zach." bisik Daryl. "Kau kenapa?"


"Apa kamu mendengar suara lolongan?" tanya Zach dengan suara berbisik.


"Lolongan? Anjing? Tidak ada." kata Daryl. "Apa kamu sedang bermimpi?"


Zach menggeleng. Dia yakin itu suara lolongan dan suaranya sangat keras. Tapi anehnya Daryl tidak mendengar suara itu. Zach kembali pada catatannya. Tapi dia sudah tidak bisa berkonsentrasi belajar lagi.


****


"Apa kamu yakin tidak mendengarnya?" tanya Zach saat mereka sampai di loker. Zach membuka lokernya yang berada di sebelah Daryl dan memasukkan beberapa buku kedalamnya. Daryl juga melakukan hal yang sama.


"Sudah kukatakan tidak Zach. Berapa kali lagi aku harus mengatakannya?" kata Daryl.


"Tapi itu suara lolongan yang sangat keras dan aku rasa itu bukan lolongan anjing, tapi serigala." kata Zach.


"Serigala? Dikota Rotternville? Aku baru tahu ada serigala disini."


"Memang ada." kata Rodney yang baru saja datang. "Tapi mereka berada jauh dari sini dan sudah tidak terlihat di kota ini semenjak... Uhm.... Dua puluh tahun yang lalu." jelas Rodney.


"Apa kamu yakin Rodney?" tanya Daryl.


"Ya, aku yakin. Tapi Banyak yang bilang jika itu bukanlah serigala biasa." kata Rodney.


"Apa maksudmu?"


"Jika Zach memang mendengar suara lolongan serigala dan jika memang hanya Zach yang mendengar, berarti itu lolongan manusia serigala." kata Rondey membuat kedua temannya menatap bingung.


"Kamu pasti akan memulai dengan cerita mitos khayalanmu itu kan?" Daryl memutar bola matanya.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Itu benar. Di katakan di dalam buku yang aku baca, lolongan seorang alpha memanggil anggota packnya hanya bisa didengar anggota packnya." jelas Rodney.


"Jadi maksud kamu Zach adalah manusia serigala?" tanya Daryl tidak percaya.


"Uhm... Sepertinya?"


"Kau benar-benar sudah gila." Daryl menggelengkan kepalanya. "Aku berteman dengannya sejak kecil. Jika dia manusia serigala atau vampir bahkan putri duyung sekalipun aku pasti tahu."


"Dan aku pasti tahu siapa aku. Bisa aku pastikan aku adalah manusia biasa." tambah Zach.


"Satu-satunya keanehan dari Zach adalah dia tidak pernah memanfaatkan wajahnya yang super tampan ini untuk mendapatkan gadis." kata Daryl membuat Zach menatapnya heran.


"Aku tidak tampan Daryl." sanggah Zach.


"Ya, kau tampan Zach, sangat tampan sebenarnya dan seluruh gadis disekolah ini mengetahuinya. Kamu anak laki-laki paling tampan disekolah ini. Iya kan Rodney?" Daryl meminta dukungan dari Rodney.


"Hai Zach...."


Sebelum Rodney menjawab ada sekumpulan para gadis yang lewat dan menyapa Zach, membuat Rodney yakin.


"Yup, dia tampan." kata Rodney.


"Dan populer. Karena itu, kita hentikan omong kosong Rodney tentang khayalannya itu lalu kembali pada kenyataan bahwa kita belum menemukan pasangan untuk pesta valentine. Kamu ingat pesta itu?"


Daryl berjalan disusul Zach dan Rodney.


"Aku hampir lupa dengan itu." guman Roney.


"Kamu terlalu fokus pada buku dan dunia omong kosongmu tentang mitos itu." sahut Daryl. "Jadi bagaimana Zach? Siapa yang kamu ajak?"


"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak ingin pergi."


"Hei, hei, hei. Aku tidak ingin jawaban itu."


Sepanjang perjalanan, Daryl hanya mengoceh tentang pesta valentine. Dari kejauhan tampak dua orang sedang mengamati mereka.


"Apa itu dia?"


"Benar alpha, Zachary Payne." kata Simon.


"Payne." gumam alpha Dustin.


"Nama belakang anda, alpha."


"Itu benar."


****


Zach tidur malam dengan sangat gelisah. Di mimpinya dia terus dipanggil seseorang yang tidak dia kenal.


Tiba-tiba dia terbangun. Nafasnya terengah. Dia melihat ke seluruh kamarnya. Dia menyadari dimana dia sekarang. Zach mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mimpi apa itu?" gumamnya.


"Aaaauuuuuu.....!!!"


"Suara itu lagi!" pekiknya. Zach bangkit dari tempat tidurnya. Dia melihat ke luar jendela. Tidak ada apapun. Tak lama terdengar suara lolongan lagi.


Zach mengambil ponselnya di atas nakas lalu memencet nomor Daryl.


"Halo...." suara serak dari seberang.


"Daryl? Daryl ini aku."


"Ya, Zach. Aku tahu."


"Kamu mendengarnya?"


"Mendengar apa?"


"Suara lolongan itu."


"Zach... Apa kamu bermimpi?"


"Tidak, Daryl dan aku juga tidak sedang bercanda."


"Demi tuhan Zach, ini jam dua pagi!"


"Aku tahu tapi..."


Zach terdiam. Dia mendengarnya lagi.


"Kau dengar itu? Suara itu lagi!"


"Zach, tidurlah kumohon... Dan biarkan aku tidur juga."


"Baiklah."


Zach menutup telponnya. Dia menghela nafas. Dia melihat keluar jendela. Dia mendapati seseorang berdiri di depan rumahnya. Zach terkejut terlebih saat orang itu tersenyum padanya dan memintanya untuk ikut bersamanya. Zach bersembunyi di balik gorden kamarnya.  Tak lama dia melihat ke luar jendela lagi. Tak ada orang disana. Hanya saja ada sesuatu yang ditinggalkan laki-laki itu. Zach mencoba menyipitkan matanya, berusaha untuk mempertajam penglihatannya. Itu sebuah.... Foto dengan kalung di atasnya.


Zach segera mengenakan baju kausnya lalu keluar rumah. Zach menghampiri foto itu. Zach mengambil foto itu dan memperhatikannya. Itu foto seorang bayi. Zach memperhatikan kalung yang ada ditangannya. Sebuah kalung bertali warna hitam dan mempunyai gambar serigala dan manusia. Zach melihat kesekelilingnya. Dia mendapati lelaki tadi berdiri agak jauh darinya dan tersenyum. Lelaki itu kemudian beranjak pergi. Zach ragu sejenak tapi akhirnya mengikutinya.


Zach terus berlari mengikuti lelaki yang juga berlari di depannya. Mereka kini telah memasuki hutan. Hutan itu hanya di terangi cahaya bulan tapi Zach masih bisa melihat kemana lelaki itu pergi.


Tiba-tiba sepi. Tidak ada tanda dari lelaki itu. Zach menghentikan larinya. Dia mencoba menajamkan matanya mencari di sekelilingnya. Sepi, tidak ada satu orang pun disana. Bahkan sedikit suara pergerakan manusia pun tidak. Hanya sesekali angin berhembus. Zach bergidik. Dia kedinginan sekarang. Dia baru sadar bahwa dia hanya mengenakan kaus berlengan pendek berwarna putih dan celana panjang bergaris biru, celana tidurnya. Bahkan dia tidak mengenakan alas kaki. Tangannya masih menggenggam erat foto dan kalung peninggalan lelaki itu.


Zach menyerah. Dia tidak ingin mengikuti lelaki itu lagi. Zack membalikan badannya dan dia terkejut. Seekor serigala besar, ralat, luar biasa besar berdiri di hadapannya. Zach terbelalak kaget. Mulutnya terbuka lebar. Kaki Zach melangkah mundur perlahan. Sesekali tersandung akar pohon tapi Zach tidak terjatuh. Serigala itu menggeram. Mata serigala itu menatap marah Zach. Zach mengatur nafasnya.


'Aku yakin aku bisa masuk kedalam perut serigala itu dengan sekali lahap. Oh tidak, aku tidak mau mati, tidak dengan cara dimakan serigala raksasa. aku harus lari.'


Zach berbalik dan berlari sekuat tenaga. Beruntung dia sangat bagus di pelajaran olahraga, jadi fisiknya cukup kuat. Zach terus berlari dan sesekali menoleh kebelakang, melihat keberadaan serigala itu. Serigala itu berada agak jauh darinya yang membuatnya sedikit heran.


Zach terus berlari dan tidak berhenti. Bahkan dia tidak tahu dia berada di bagian hutan mana. Tiba-tiba ada seseuatu yang melompatinya. Zach melihat ke atas. Serigala itu! Serigala itu melompati tubuhnya dan mendarat sempurna tepat di hadapannya. Zach berhenti mendadak membuatnya terjatuh di tanah yang lembab. Serigala itu berbalik dan menatapnya. Zach mencoba berdiri dan berbalik arah, tapi sudah ada serigala lain disana. Lima serigala besar mengelilinginya.


'Baiklah, sepertinya aku memang akan mati hari ini.'


****

__ADS_1


tadariez


__ADS_2