
"Benarkah? Ma-mati?" tanya Ian tidak percaya.
"Benar beta. Kota ini telah dilindungi sihir kuno yang sangat kuat. Bahkan saya sendiri tidak bisa melakukannya. Sihir itu untuk menjaga kota ini dari kaum yang bukan penyihir. Jadi masuk tanpa ijin, mereka akan mati." jelas Damian.
"Tapi aneh sekali mereka bisa masuk. Terlebih bersama Livia." kata Augys. "Jika bersama yang terpilih, aku tidak akan heran."
Semua Elder berkumpul disana dan menatap Kei dan Ian dengan tatapan bingung. Beberapa mulai berbisik-bisik.
"Livia, bagaimana kamu bisa membawa mereka kemari?" tanya Damian.
"Uhm... Itu... Saya..."
"Livia, apa kau tahu resiko membawa kaum lain ke Disprea tanpa ijin? Untung saja mereka selamat masuk sini, jika tidak mereka sudah mati." Augys menggelengkan kepalanya. Livia masih terdiam.
"Saya yang mengijinkan mereka masuk."
Bian muncul dari keramaian para Elder. Semua orang menatap Bian. Bian berjalan mendekati Kei dan Ian.
"Halo adik manis." sapa Bian dengan senyuman. Kei menatap Bian sejenak lalu bernafas lega dan segera memeluknya.
"Oh astaga Bian." Kei memeluk Bian erat. Bian terkejut di tambah tatapan para Elder yang lain.
"Aku kira aku akan mati disini." ucap Ian dan segera memeluk Bian juga. Bian kewalahan dipeluk oleh dua orang sekaligus.
"Oke... Baiklah. Ka-kalian.. Bisa.. Melepasku... Sekarang... Aku.. Tidak bisa.. Bernafas.." ucap Bian. Kei dan Ian langsung melepaskan pelukkannya.
"Maaf.."
"Apa benar kamu membuka perlindungannya?" tanya Damian pada Bian.
"Tentu." Bian memperlihatkan bekas luka ditelapak tangannya. "Aku akan segera menutupnya kembali. Jangan khawatir."
"Baiklah jika itu yang terjadi." kata Damian.
"Livia, tindakan yang bagus dengan segera memberitahukanku. Sekarang kembalilah ke pack alpha Sebastian." kata Bian. Livia mengangguk dan segera berjalan menuju gerbang kota Disprea untuk berteleportasi. Di dalam Disprea tidak bisa berteleportasi.
"Dan untuk kalian berdua." Bian tersenyum pada Kei dan Ian lalu tangan kanannya menarik telinga Kei dan tangan kirinya menarik telinga Ian. "Ikut aku."
"Aaaakkkhh...!!!"
Mereka berdua berteriak kesakitan tapi tetap mengikuti langkah Bian. Setelah jauh dari para Elder, Bian melepaskan tangannya. Kei dan Ian menggosok telinga mereka yang sakit, merah dan panas.
"Apa kamu harus seperti ini? Menarik telinga orang." kata Kei kesal.
"Tentu saja. Kamu memang perlu di hukum." sahut Bian. Kei menatap kesal. "Jangan menatapku seperti itu. Sekarang jelaskan padaku kenapa kalian melakukan itu? apa dengan semua masalah yang kalian hadapi, otak kalian menjadi terganggu?"
"Apa maksudmu?" kata Kei bingung.
"Berani... Sekali... Kamu... Pergi.. Kesana... Apa... Kamu.. Tidak... Tahu.. Betapa.. Khawatirnya... Aku!!" Bian memukul Kei. Satu kata untuk satu pukulan. "Bagaimana jika Tania tahu semua ini?"
"Oh tidak, tidak... Kamu boleh memukulku sesuka hatimu tapi jangan beritahu pada Tania." pinta Kei.
"Percuma aku memukulmu. Kamu juga tidak merasa kesakitan. Malah tanganku yang sakit." Bian memegangi tangannya.
"Ahh apa itu sakit?" tanya Kei. Bian cemberut.
"Jangan pura-pura perhatian padaku dan kau!" Bian menunjuk Ian. "Aku tahu kamu hanya betanya tapi kamu lebih tua darinya. Bukankah seharusnya kamu melarangnya?"
"Aku sudah melarangnya. Tapi dia sangat keras kepala. Kamu tahu itu." Ian membela diri.
"Seharusnya kamu rantai saja dia." ucap Bian.
"Whoaa... Kejam sekali."
"Tentu, lebih baik begitu. Daripada kamu terus menyusahkan orang lain." omel Bian. Kei cemberut.
"Jadi... Kota apa ini?" tanya Ian.
"Bukankah sudah di katakan kalau ini kota Disprea?"
"Bukan itu. Kenapa kaum lain tidak bisa masuk kesini? Apa itu berlaku untuk manusia biasa juga?"
"Kota ini pertama kali didirikan oleh yang terpilih. Mereka ingin menciptakan pemukiman yang aman dan nyaman untuk para penyihir. Karena itu mereka, yang terpilih yang saat itu masih ada tujuh orang, menggabungkan kekuatan mereka untuk membuat pelindung kota ini. Pelindung hanya bisa dibuka dengan darah yang terpilih." Bian memperlihatkan telapak tangannya yang terluka. "Meskipun bukan aku yang membuat pelindung ini tapi aku yang terpilih, aku tetap bisa membuka dan menutupnya."
"Lalu kenapa kaum lain harus mati jika kami masuk?"
"Karena yang mereka gunakan sihir kuno dan mereka menambahkan mantra lain yang secara otomatis menolak kaum lain bahkan manusia biasa. Aahh mata Lycanmu bisa membedakan kaum satu dengan yang lain. Pelindung ini juga sama seperti itu."
"Hei, tunggu dulu. Dari mana kamu tahu hal itu?"
"Tentu saja aku tahu."
Bian mencibirnya lalu berjalan menjauhi mereka.
"Lalu... Kenapa yang terpilih dulu ada tujuh sekarang kamu hanya sendiri?"
"Apa aku harus menjelaskannya juga?"
Kei dan Ian menatap penuh harap.
"Tidak mau. Ada hal yang lebih penting dari pada menjelaskan itu pada kalian." jawab Bian.
"Tapi Bian..." Kei menatap sekelilingnya. "Kenapa orang-orang itu dan termasuk kamu menggunakan pakaian aneh itu?" Kei menunjuk pakaian model kuno yang di kenakan Bian.
"Di disprea wajib menggunakan pakaian kuno ini. Untuk melestarikan tradisi. Jadi ini pakaian yang di gunakan wanita eropa jaman dulu. Awalnya aku juga tidak nyaman menggunakannya tapi aku sudah terbiasa sekarang."
"Hanya di kenakan di kota ini?"
"Ya, jika keluar kota ini kalian bisa menggantinya."
Kei dan Ian ber oh ria.
"Aku akan mengirim kalian kembali ke pack alpha Sebastian."
"Kenapa? Kami masih ingin melihat-lihat kota ini."
"Kota ini masih tidak aman Kei."
"Apa maksudmu? Bukankah kota ini kota penyihir yang paling aman?"
"Aman dari kaum lain itu benar tapi kaum hitam, meskipun mereka jahat, mereka tetap penyihir Kei dan pelindung itu mengenalinya. Kami telah menambahkan pelindung lain untuk menjaga kota ini dari kaum hitam tapi yaaahh.. Mereka juga kuat. Jadi suatu saat mereka akan bisa menembus kota ini. Sama seperti sekarang."
"Waaahh pasti sangat merepotkan."
__ADS_1
"Begitulah Ian, masalah penyihir. Tapi... Apa kalian baik-baik saja?" Bian memperhatikan mereka.
"Kami baik. Hanya luka kecil dan tentu akan dengan cepat sembuh."
"Baiklah." Bian berhenti melangkah dan berbalik menatap Kei dan Ian. "Apa kalian siap untuk kembali?"
"Tentu. Tapi apa kami bisa kembali?"
"Kemari? Tentu saja bisa. Jika aku mengijinkan."
"Kamu akan mengijinkannya kan?"
"Tergantung. Jika kamu menjadi serigala yang manis, mungkin akan aku pertimbangkan." Bian melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu tersenyum manis.
"Entah kenapa aku merasa seperti anak kecil jika dia berbicara begitu." gumam Kei disambut anggukan Ian. Bian tertawa geli.
"Baiklah. Aku tidak bisa membuka perlindungan ini terlalu lama. Aku tidak ingin ada tamu tidak di undang masuk. Jadi kalian harus pergi agar bisa kututup kembali." kata Bian. Kei dan Ian mengangguk. Bian menyentuh pundak Kei dan Ian bersamaan.
"Tutup matamu." pinta Bian. Kei dan Ian menurut dan menutup matanya. "Sampai jumpa lagi, Kei Lyroso Laros." kata Bian sambil tersenyum.
Kei dan Ian merasa melayang lagi dan tak lama muncul di dekat jurang. Mereka membuka mata mereka. Mereka mengenali jurang itu. Jurang itu berada di pack alpha Sebastian.
"Kita sampai."
"Benar. Huft tadi sungguh menegangkan." Kei dan Ian berjalan masuk ke dalam hutan. "Aku kira Disprea sangat mengerikan. Kau tahu seperti penyihir di film-film. Penduduknya berwajah seram dan semua benda bergerak sendiri."
"Bahkan aku kira kita akan segera di ubah menjadi kodok. Kamu lihatkan bagaimana reaksi mereka saat kita masuk ke sana?" Ian tertawa. "Dan kamu akan menjadi raja kodok."
"Ya, dan kau beta kodok."
Mereka berdua tertawa geli.
"KEI LYROSO LAROS!! IAN ROYCE MORRIS!!" teriak seseorang di hadapannya. Kei dan Ian menoleh dan terkejut. Sudah ada ayahnya Kei dan juga alpha Sebastian dan ayahnya Zach disana. Di belakang mereka ada Zach dan yang lainnya. Kei dan Ian terdiam di tempatnya.
"A-ayah?"
"Dari mana saja kalian?! APA KALIAN SUDAH GILA?!!" teriak ayah Kei marah. Ayah Kei maju mendatangi Kei lalu menarik telinga Kei dan mengajaknya pergi.
"Aaww... Ayah.. Ayah... Itu sakit.." keluh Kei. Kei ikut berjalan bersama ayahnya
"Ayah tidak perduli." jawab ayah Kei.
"Tapi ini memalukan sekali ayah... Aku raja dan ayah memperlakukanku seperti ini." ucap Kei. Ayah Kei menghentikan langkahnya. Kei ikut berhenti. Ayah Kei menatap wajah Kei dengan marah.
"Kau tahu kamu adalah raja tapi masih saja melakukan hal yang anak kecil lakukan. Berapa umurmu?!"
"Tujuh belas tahun." jawab Kei pelan.
"Kamu adalah alpha dari segala alpha, raja Lycanthrope. Seharusnya kamu memimpin kawananmu dan menjadi contoh yang baik untuk mereka. Bukannya malah pergi meninggalkan mereka hanya untuk melakukan kesalahan yang bodoh!!"
"Tapi aku hanya ingin mencari tahu apa yang diinginkan alpha Roger ayah..."
"Dan kamu bisa saja mati karena itu." ayah Kei menghela nafas kasar dan melepaskan tangannya dari telinga Kei. "Seharusnya kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu."
"Aku sudah memikirkannya, ayah. Meskipun ini semua terulang kembali, Kei tetap akan memilih untuk pergi." kata Kei.
"Lalu... Apa yang diinginkan Roger?"
Ayah Kei terkejut. "Apa? Lalu... Apa kamu menyetujuinya?"
"Tentu tidak ayah... Aku belum gila! Aku lebih memilih bertempur dari pada menyerahkan Zach dan Aaron."
"Dia menginginkanku?" tanya Zach yang sudah berdiri di belakang Kei dan ayahnya. Kei menoleh dan menghela nafasnya.
"Iya Zach."
"Tapi kenapa?"
"Karena kekalahnya tempo hari. Saat kamu menyerang packnya. Dia merasa terhina dan merasa kamu telah menginjak harga dirinya."
"Aku dan Aaron... Lalu ditukar dengan apa?"
"Perdamaian. Dia tidak akan berperang dengan kita dan juga akan mengakuiku sebagai raja."
"Lalu kenapa kamu tidak menyetujuinya?"
"Aku belum gila Zach. Untuk apa aku menyerahkanmu padanya? Aku tidak akan mau."
"Tapi dengan begitu tidak akan perang Kei."
"Aku tidak perduli meskipun akan berperang. Aku tetap tidak akan menyerahkanmu dan Aaron." tegas Kei. Zach terdiam. Dia tampak memikirkan sesuatu. "Ohh Zach, jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan menyerahkanmu padanya dan tidak akan aku biarkan kamu menyerahkan dirimu sendiri padanya. Mekipun penawarannya adalah perdamaian, aku tidak perduli. Aku tetap pada pendirianku."
"Kei benar Zach. Roger tidak bisa di percaya. Mungkin saja dia berbohong. Jadi jangan mengkhawatirkannya." kata ayah Kei.
"Itu benar. Dia pasti berbohong." Kei menambahkan.
"Dan kamu telah tertipu sekali anakku."
"Ahh ayah.. Aku tidak tertipu hanya... Mencoba untuk mencari tahu.. Itu saja." kata Kei. Ayahnya hanya bisa menggelangkan kepalanya.
"Anakmu sungguh keras kepala Oston." kata Alpha Sebastian.
"Yeah.. Itu benar. Sangat." ayah Kei menyetujuinya.
"Ya, tentu dan dia mirip denganmu jika urusan keras kepala." kata alpha Sebastian lagi lalu tertawa.
"Ahh aku dan anak nakal ini tidak sama." elak ayah Kei.
"Oh ya.. Kalian benar-benar sangat mirip."
Alpha Sebastian dan ayah Kei tertawa geli.
"Kemarilah Zach, mari kita berbicara." ajak Kei. Zach mengikuti Kei. Kei berdiri agak jauh dari kawanannya. "Apa kamu masih memikirkannya Zach?"
Zach diam tidak menjawab.
"Jangan dipikirkan Zach."
"Tapi satu dua orang untuk nyawa semua orang, aku rasa itu patut untuk dipertimbangkan."
"Tidak Zach. Nyawa satu atau dua orang sangat berharga bagiku. Lagipula kamu adalah Orychant. Apa kamu akan meninggalkan aku?"
"Tentu tidak, tapi.."
__ADS_1
"Meskipun apa yang di ucapkan Roger itu benar, dia memberikan perdamaian dan dia akan mengakuiku, lalu kamu pikir sampai kapan itu akan bertahan? Jika mereka tidak menyerah dengan suka rela, mereka tidak akan setia Zach. Dan jika aku menyerahkanmu dan Aaron, berarti mereka mereka menyerah dengan syarat, bukan suka rela. Dan itu artinya, suatu saat mereka akan mengkhianatiku, cepat atau lambat.
Lalu pengorbananmu dan Aaron akan sia-sia."
"Kamu benar." Zach tahu Kei benar. Roger memang beresiko untuk di percaya.
"Tentu, jadi kumohon, jangan berpikiran macam-macam."
"Baiklah. Maaf.."
"Tidak apa-apa Zach." Kei menepuk pundak Zach.
"Kei..."
"Ryan? Sedang apa kamu disini?" tanya Kei pada Ryan yang sudah di dekat mereka.
"Aku... Aku.."
"Ada apa Ryan?" Kei berjalan mendekati Ryan.
"Aku dengar kamu akan pindah ke Lykort, kota asalmu." kata Ryan.
"Ahh ya itu benar. Disini sudah terlalu banyak korban berjatuhan. Disini tidak sebesar pack Lykort jadi jika perang terjadi, akan memakan banyak korban tidak bersalah." kata Kei. Ryan menganguk mengerti.
"Ada apa Ryan? Apa ada masalah?"
"Tidak hanya saja..." Ryan menghentikan kata-katanya.
"Ahh iya. Saat aku pindah nanti, kamu bisa kembali berkuliah. Aku rasa saat itu pelatihan pengendalian dirimu sudah selesai."
"Masalah itu..."
"Hm?"
"Apa aku boleh ikut?" tanya Ryan. "Apa boleh aku ikut bersamamu ke Lykort?"
Kei terkejut.
"Kau mau ikut? Tapi untuk apa?"
"Apa maksudmu untuk apa?"
"Aahh apa ini semua karena Tania?" tanya Kei. "Kalau masalah itu jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik. Dan tentu saja aku tidak akan melakukan apapun padanya. Aku berjanji. Dia harus ikut denganku agar aku bisa dengan mudah melindunginya."
"Ya aku mengerti hal itu. Tapi bukan itu alasanku untuk ikut."
"Lalu?"
"Aku ingin bertempur bersamamu sebagai betamu." kata Ryan mantap dan itu membuat Kei melongo dengan sukses. "Kei?"
"Ahh maafkan aku. Apa aku tidak salah dengar? Bertempur bersamaku? Sebagai betaku?"
"Iya. Aku mengakuimu sebagai alphaku Kei dan maaf.. Aku tidak bisa bersujud atau membuat pengakuanku seperti drama teater kolosal. Aku tidak ahli dalam melakukan itu."
Kei tertawa geli.
"Tidak masalah Ryan. Aku sudah sangat senang mendengar pengakuanmu. Tapi kamu yakin dengan hal ini? Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Aku bisa cuti kuliah untuk sementara waktu dan akan kembali saat selesai berperang. Aku harap saat itu aku masih hidup."
"Tentu kamu akan hidup. Kamu harus hidup. Kita akan saling menjaga satu sama lain. Kau ingat, ikatan alpha dan beta."
"Aku kira itu hanya berlaku pada kamu dan Ian."
"Tentu tidak. Kamu sekarang adalah betaku berarti ikatan itu berlaku juga untukmu. Tidak ada perbedaan, karena kamu juga betaku Ryan."
"Aku mengerti. Jadi... Kamu mengijinkanku?"
"Tentu saja. Meskipun Tania akan membunuhku aku tidak masalah. Bertarung dengan kedua beta disisiku, menang atau kalah, itu sudah cukup bagiku. Ahh iya! Di sana ada universitas juga, well tidak sebesar universitas tempatmu sebelumnya, tapi setidaknya kamu tidak melepaskan kuliahmu."
"Ian memang benar tentangmu." ucap Ryan.
"Ian? Apa yang dia katakan tentangku? Pasti dia menjelekkanku lagi. Huh! Anak itu."
"Tidak. Dia bilang kamu kekanak-kanakkan dan tidak dewasa dalam hal apapun."
"Tuh kan. Dasar Ian." omel Kei.
"Tapi..." lanjut Ryan. "Jika tentang memimpin pack, kamu memang hebat. Kamu benar-benar memimpin seperti alpha dan raja sejati."
"Di-dia berkata seperti itu?" Kei terkejut.
"Kurang lebih."
"Sepertinya Ian sudah kerasukan." Kei tertawa geli.
"Maaf yang mulia."
Kei dan Ryan menoleh.
"Maaf saya mengganggu yang mulia, beta, tapi ada yang ingin bertemu dengan alpha Sebastian."
"Bertemu dengan paman?"
"Siapa?" tanya alpha Sebastian yang sudah berada tak jauh dari Kei.
"Mereka utusan dari pack Moon Sykort."
Seorang laki-laki tampan datang bersama kedua orang lainnya.
"Selamat sore alpha."
"Selamat sore. Kalian siapa?" tanya alpha Sebastian.
"Saya utusan dari alpha Jackson. Saya membawa jawaban atas permintaan anda alpha."
"Benarkah? Apa jawabannya?"
"Kami pack Moon Sykort, menolak untuk bergabung."
****
tadariez
__ADS_1