My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Ketahuan


__ADS_3

Happy reading...


"Kamu yakin ini dia? Anggota dari pack alpha Roger?" tanya Kei.


"Positif yang mulia. Dia Nathan." kata Roland yakin.


"Lalu kenapa dia ada disini?" tanya Bian. "Dan sepertinya dia dipukuli tanpa ampun."


"Dia sekarat. Apa yang harus kami lakukan yang mulia, alpha?" tanya Mike.


"Bagaimana menurutmu Zach?" tanya Kei.


"Aku tidak tahu, terserah padamu saja." kata Zach.


Tiba-tiba tubuh Nathan bergetar hebat. Semua orang terkejut. Dari mulutnya keluar cairan berwarna ungu.


"Wolfsbane. Dia diminumkan cairan wolfsbane." kata Bian.


"Kejam sekali. Kenapa mereka memperlakukan dia dengan seperti itu?"


"Karena di pack Moon Bykort hanya mengenal hukuman. Jika kamu melakukan kesalahan, maka kamu akan dihukum dan seperti inilah hukumannya." kata Aaron.


"Lalu... Kenapa dia dihukum?" tanya Bian.


"Saya rasa karena gagal menghadang dan menangkap alpha Zach." kata Aaron.


"Ahh aku baru ingat. Dia yang menghadangku didepan goa, iyakan?" tanya Zach.


"Betul alpha, dia orangnya."


"Padahal aku sudah membiarkannya pergi. Ternyata dia justru jadi pelampiasan alphanya. Kasihan sekali." kata Zach.


"Uhmm... Alpha, dia tidak perlu di kasihani. Dia musuh." kata Brad.


"Tapi dia masih anak-anak." sahut Bian.


"Tetap saja dia jahat."


"Jadi sekarang bagaimana? Apa dia aku sembuhkan saja? Kei? Zach?" tanya Bian.


"Sembuhkan." "Jangan."


Zach dan Kei menjawab bersamaan.


"Kamu yakin Zach?" tanya Kei.


"Well, sembuhkan saja jika itu memang yang kamu inginkan. Tapi jangan gunakan sihir." kata Zach.


"Kenapa begitu?"


"Jika memang menggunakan sihir, suruh penyihir lain saja. Jangan dia." Zach menunjuk Bian.


"Ada apa denganku? Aku baik-baik saja." kata Bian.


"Tidak, jangan kamu. Yang lain saja." tegas Zach. Bian menatap tidak percaya.


"Ada apa sebenarnya denganmu? Aku yang terpilih, jika aku yang menggunakan sihir penyembuhanku, akan berhasil."


"Bukannya kamu melemah dengan sihir itu?"


"Dari mana kamu--"


"Saya setuju dengan alpha Zach." kata seeorang. Damian datang untuk membantu berteleportasi. Damian maju ke depan. "Kalau begitu, biar saya saja."


Damian mengambil sesuatu dari kantungnya dan mengoleskan pada Nathan sambil membaca mantra. Luka Nathan menutup dan sembuh dengan sendirinya tapi dia masih tidak sadarkan diri.


"Kenapa dia tidak sadar?" tanya Jason.


"Karena ada racun Wolfsbane dalam tubuhnya. Aku hanya bisa menyembuhkan luka-lukanya saja, tidak dengan racunnya." Damian mengambil botol kecil dari sakunya dan meminumkannya pada Nathan. "Ramuan ini akan menetralkan racun Wolfsbanenya dan dia akan sadar tergantung seberapa banyak racun itu tertelan."


"Terima kasih." kata Kei.


"Tidak masalah yang mulia. Sebaiknya kita segera pergi. Dan apa dia akan di bawa?" tanya Damian. Kei terdiam dan tampak berpikir.


"Bawa saja. Kita bisa lebih mudah mengawasinya jika dia dekat dengan kita." kata Kei.


"Tapi hati-hatilah yang mulia. Dekat tidak selalu bagus. Harus ada yang menjaganya."


"Saya tahu Damian, terima kasih." kata Kei. "Ayo bawa dia."


Mike dan Jason mengangkat tubuh Nathan dan Damian membuatnya pergi ke pack alpha Sebastian lebih dulu.


"Ayo kita pergi adik manis." kata Bian pada Kei. Bian menyerahkan tangannya agar di pegang Kei. Kei menggenggam tangan Bian dan Ian menggenggam tangan Kei.


"Kamu tahu Bian, tanpa aku beritahu sekalipun dia tahu kalau kamu adalah mate-nya. Setiap manusia serigala akan mengetahuinya jika mereka dekat dan melihat mate-nya." bisik Kei.


"Berhentilah berbicara soal mate, itu sangat menggangguku." kata Bian lalu meraih tangan Ian dan berteleportasi.


Satu persatu manusia serigala berteleportasi dengan bantuan penyihir agar bisa cepat sampai di wilayah alpha Sebastian. Dalam sekejab Bian sudah sampai tepat didepan rumah alpha Sebastian. Tania sudah menunggu di depan rumah. Melihat Kei datang Tania langsung memeluk Kei. Kei mencium lembut bibir Tania.


"Ehem..." suara berdehem dari seseorang melepaskan ciuman mereka. Ryan sudah berdiri tak jauh dari sana dan melipat tangannya di depan dada. "Sebaiknya jangan terlalu lama."


"Aku setuju." kata Andy yang juga ada disana. Tania melepaskan pelukkannya dari Kei. Kei menatap Tania dengan keterkejutan di wajahnya.


"Uhmm Kei, ada hal yang belum aku ceritakan padamu." kata Tania. Kei mengerutkan keningnya.


"Kami berdua perlu bicara padamu, anak muda." kata Andy dengan wajah yang serius dan tampak marah.


Kei menatap mereka berdua dengan gugup.


"Kei, mereka sudah tahu semuanya, mereka tahu kamu siapa dan apa sebenarnya kamu." kata Tania.


"Aahh... Baiklah." Kei menelan ludahnya. Bian maju ke sebelah Kei dan berbisik.


"Selamat Kei, kamu sudah bertemu dengan calon kakak ipar dan hati-hatilah, kakak iparmu sepertinya galak. Kamu akan dimakannya."


"Sama sekali tidak membantu. Diamlah!" bisik Kei lagi. Bian tertawa geli. Ian yang mendengar itu juga tertawa.


"Sudahlah aku harus kembali ke Rotternville." kata Bian lalu berteleportasi.


"Sebaiknya kalian berbicara didalam." kata Alpha Sebastian. Andy dan Ryan masuk terlebih dulu lalu disusul oleh Tania.


"Al-- tidak, paman, kenapa mereka bisa tahu?" tanya Kei pada alpha Sebastian.


"Itu karena Ryan terus saja berteriak dengan suara serigalanya, bahkan dia terus menumbuhkan kuku dan hampir berubah menjadi serigala. Itu semua terjadi saat Andy berada disana. Dia terkejut dan syok." jelas alpha Sebastian.

__ADS_1


"Lalu... Apa mereka tahu jika... Jika.. Tania hampir mati gara-gara aku?"


"Mungkin, aku tidak tahu Kei. Tania yang menceritakan semuanya. Yang aku tahu, mereka sudah mengetahui tentang kaum kita dan siapa kamu sebenarnya. Bertahanlah Kei, kamu pasti bisa." alpha Sebastian menepuk pundak Kei. Kei mengehela nafas panjang.


"Aku akan berusaha." Kei berjalan tertunduk dan masuk kedalam rumah. Di ruang tamu sudah ada kedua kakak Tania dan Tania.


"Duduklah." kata Andy. "Ceritakan, semuanya. Aku sudah mendengarnya dari Tania tapi aku ingin mendengarnya darimu, langsung." kata Andy.


"Uhmm sebenarnya.. Begini... Saya minta maaf. Bukan maksud saya membuat Tania celaka. Saya juga tidak tahu jika Tania harus mati untuk menyelamatkan saya." kata Kei. Kedua kakak Tania mengerutkan keningnya.


"Kei, kamu ini bicara apa?" bisik Tania. Kei menoleh.


"Apa maksud kamu adik kami harus mati? celaka? Apa kamu sudah gila?!" pekik Andy.


"Bu-bukankah itu yang kakak ingin tahu? Tentang Tania yang..." Kei terdiam.


"Kei.. Kenapa kamu membicarakan hal itu? Kita sedang berbicara tentang kak Ryan yang menjadi manusia serigala. Akhh kacau." Tania mengacak rambutnya.


"Jadi.. Kamu belum cerita soal itu?"


"Tentu saja! Untuk apa aku cerita?! Aku belum gila!!" kata Tania setengah berteriak.


"Kalian!! Ceritakan!! Semuanya!!!" pekik Andy. Tania dan Kei saling pandang. Gawat!!


****


Bian sampai di Rotternville kembali. Dia menemukan hanya Aaron disana.


"Aaron." panggil Bian. Aaron menoleh.


"Sedang apa kamu disana sendirian? Dimana Zach?" tanya Bian. Aaron menunjuk Zach yang berdiri tak seberapa jauh darinya. Zach bersama seorang wanita.


"Aku benar-benar berharap kamu kesini untuk ikut aku, Karen." kata Zach.


"Meskipun aku ingin, aku tidak bisa Zach, kamu tahu itu. Aku kemari... Hanya untuk bertanya siapa kamu sebenarnya. Aku tahu malam itu kamu melawan vampir itu Zach dan kamu bisa menandinginya. Dan kamu tidak terlihat seperti vampir bagiku."


"Karena aku bukan vampir, Karen."


"Lalu... Bagaimana kamu bisa melawan mereka?" tanya Karen.


"Itu.. Karena..."


"Jujur padaku Zach. Aku sudah melewati banyak hal dan aku siap dengan pengakuan siapa dirimu sebenarnya."


"Baiklah." Zach menghela nafas. "Aku... Adalah manusia serigala."


"Apa? M-manusia se-serigala?"


"Iya, kamu tahu, semua mitos itu benar adanya. Vampir, manusia serigala. Semua nyata Karen dan aku salah satunya." jelas Zach.


"Karena itu... Karena itu kamu bilang aku adalah mate-mu? Pasangan hidupmu?"


"Benar, karena itu aku memintamu untuk ikut. Aku ingin kamu ada di dekatku dan tidak ingin ada yang menyakitimu Karen."


"Kenapa ada orang ingin menyakitiku? Apa aku adalah mate dari seorang manusia serigala?"


"Tepatnya seorang alpha dari manusia serigala. Aku adalah alpha keturunan murni Karen, yang membuatku memiliki banyak musuh. Dengan menggunakan mate-ku adalah cara yang ampuh untuk menjatuhkanku. Kelemahan manusia serigala adalah pack dan mate-nya." jelas Zach.


Karen menatap Zach dalam diam.


"Tapi aku tahu kamu tidak bisa, dan aku tidak akan memaksa." lanjut Zach. "Aku hanya berharap kamu baik-baik saja. Aku akan meminta Daryl dan Rodney dan beberapa anggota packku untuk bersamamu. Mereka akan menjagamu, setidaknya sampai masalah yang aku hadapi selesai. Jadi setelah selesai, aku akan--"


"Mereka sungguh romantis." puji Rodney.


"Biasa saja menurutku." kata Daryl.


"Apa kalian akan ikut?" tanya Aaron.


"Aku sudah meminta pada kedua orang tuaku untuk ikut dan mereka mengatakan bahwa aku sudah gila dan mereka akan membunuhku jika aku tetap ikut. Jadi... Aku rasa tidak." jawab Daryl.


"Aku juga." kata Rodney.


"Lagipula jika kami tidak ikut, kami bisa membantu menjaga Karen untuk Zach." kata Daryl lagi.


"Itu benar. Kami akan menjaganya dengan baik." sahut Rodney. "Dan kamu Aaron, jagalah Zach dengan baik. Meskipun dia dingin dan datar tapi dia sangat baik."


"Ya, aku tahu." kata Aaron lalu tersenyum.


"Jadi... Dia adalah mate dari Zach kan? Luna kalian?" tanya Bian.


"Tentu saja, kamu kan bisa melihat mereka sedang berciuman saat ini. Waaah mereka berciuman lama sekali." kata Daryl.


"Aku hanya memastikan. Sepertinya sulit jika luna berpisah dengan alpha." gumam Bian.


"Hmm.. saya juga mengkhawatirkannya, nona yang terpilih." kata Aaron.


"Tunggu... Yang terpilih? Kamu yang terpilih?!" pekik Rodney.


"Uhm.. Iya? Kenapa kamu harus berteriak seperti itu?" tanya Bian yang bingung sekaligus kaget.


"Ahhh Rod, kamu menyakiti telingaku!!" protes Daryl.


"Ahh maaf, aku hanya... bersemangat."


Daryl menggosok telinganya.


"Kamu yang terpilih itukan? Penyihir terkuat didunia?" tanya Rodney lagi.


"Uhmm terakhir kali aku periksa... Itu memang aku."


"Benarkan?!" pekik Rodney lagi sembari menepuk tangannya. Bian, Daryl dan Aaron terkejut lagi untuk kedua kalinya.


"For godness sake, Rod!! Berhenti memekik seperti itu! Kamu membuatku terkena serangan jantung." omel Daryl.


"Aah... Maaf, maaf.." Rodney menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebenarnya... Siapa dia?" tanya Bian pada Aaron.


"Aahh dia adalah--"


"Rodney, senang berkenalan dengan anda." potong Rodney sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Bian ragu sejenak lalu akhirnya menyambut tangan Rodney. "Saya adalah penjaga buku dan perjanjian."


"Penjaga buku dan perjanjian?"


"Anda tahu, yang menjaga perjanjian antara makhluk supranatural dengan manusia biasa." jelas Aaron.

__ADS_1


"Aahh... Jadi penjaga itu adalah kamu?"


"Benar sekali. Waah aku luar biasa beruntung bisa bertemu dengan makhluk supranatural yang luar biasa." kata Rodney menatap Bian dengan kekaguman yang luar biasa. Bian hanya bisa mengangguk dan tersenyum canggung lalu menatap Daryl.


"Dia memang seperti itu. Selalu kagum pada semua orang." kata Daryl. Bian mengangguk.


"Tidak semua orang, hanya yang istimewa saja." protes Rodney.


"Terserah kamu saja." Daryl menggelengkan kepalanya.


"Dan kamu adalah penyihir, betulkan?" tebak Bian pada Daryl. "Aku bisa merasakan aura penyihirmu."


"Jangan panggil aku penyihir. Aku hanya manusia biasa. Aku bahkan tidak pernah belajar atau menggunakan sihir sebelumnya." kata Daryl.


"Aahh... Begitu. Ya, sepertinya memang ada yang menyembunyikanmu. Mau aku bangkitkan jiwa penyihirmu?" tawar Bian.


"Ohh tidak, itu tidak perlu. Aku baik-baik saja menjadi manusia biasa." kata Daryl.


"Kalau begitu, mau aku hilangkan aura penyihirmu? Jika aku hilangkan, kamu tidak akan menjadi penyihir lagi." kata Bian.


"Ouwhh... Tidak, tidak, tidak itu tidak perlu juga." tolak Daryl. Bian menatap heran. "Maksud aku... Akan aku pertimbangkan, aku akan menjadi apa."


Bian dan Austin tersenyum geli.


"Zach, apa kamu sudah selesai?" tanya Rodney saat Zach menghampiri mereka.


"Uhmm... Begitulah...." kata Zach.


"Whoaa... Itu ciuman yang sangat lama." puji Daryl.


"Hentikan itu." kata Zach lalu menatap Bian. "Kamu sudah lama datang?"


"Cukup lama untuk melihat adegan ciuman panjang itu." Bian tersenyum geli.


"Kamu... Melihatnya?"


"Tentu saja dia melihatnya!! Dari awal sampai akhir. Kamu kan berciuman di depan kami. Kami semua melihatnya Zach." kata Daryl. Wajah Zach berubah khawatir.


"Kamu kenapa? Ahh aku baru ingat!! Kalungmu, lepaskan kalung itu." kata Bian. "Aahh cepatlah! Karen...!!"


Bian memanggil Karen yang sudah akan pergi dari sana. Zach melepaskan kalung itu dan memberikannya pada Bian.


"Kalung ini jika manusia serigala yang memakainya, akan mengontrol kekuatan manusia serigala. Tapi jika kalung ini di pakai mate-mu, akan melindunginya. Saat dia dalam bahaya, anggota packmu yang terdekat akan tahu tanpa kamu perlu memberi tahu. Kamu juga tahu kalung ini bisa merubah wajah Adrian saat mengenakannya. Jika mate-mu yang gunakan, aura dari mate-mu akan tertutupi. Jadi tidak akan ada yang tahu jika dia adalah mate-mu, mate dari alpha keturunan murni."


Bian melangkah pergi menuju Karen tapi Zach memegang tangannya. Bian menoleh.


"Ada apa?" tanya Bian. Zach terdiam sejenak.


"Tidak bisakah kamu saja yang memakai kalung itu?" tanya Zach.


"Apa?" Bian menatap heran begitu pula Aaron, Daryl dan Rodney.


"Dude, kalung itu bisa melindungi Karen, kenapa kamu justru menginginkan dia yang memakainya? Karen adalah mate-mu bukan dia." kata Daryl bingung.


"Tapi dia juga ma--"


"Temanmu benar Zach." potong Bian. Dia tidak ingin mendengar Zach berkata bahwa dia adalah mate-nya. Bian masih yakin ada kesalahan, ada sesuatu yang terjadi hingga dia juga menjadi mate dari Zach. "Prioritas kita adalah mate-mu, luna mu dan Karen adalah lunamu, kamu harus melindunginya."


Bian melepas tangan Zach dan berlari ke arah Karen.


"Hai, Karen. Kamu bisa memanggilku Bian."


"Ha-hai juga."


"Pakai kalung ini." Bian menyerahkan kalung itu pada Karen.


"Kalung apa ini?"


"Kalung ini akan melindungimu, percaya padaku. Menjadi mate dari Zach akan sedikit... Menyusahkan. Karena itu... Kalung ini akan membantu."


Karen tampak ragu lalu akhirnya menerima kalung itu dan memakainya


"Pesanku, jangan pernah melepaskannya. Kalung itu akan menyamarkan auramu. Manusia serigala lain tidak akan tahu kamu adalah mate dari Zach, jadi mereka tidak akan mengganggumu. Jadi jangan pernah melepaskannya, kamu mengerti?"


"Tentu." Karen mengangguk. "Kamu... Manusia serigala juga?"


"Bukan... Aku seorang penyihir." jelas Bian. Karen ber oh ria. "Begitulah... Mitos."


"Yeah... Sulit di percaya."


"Kalau begitu aku harus pergi. Jaga dirimu."


"Kamu juga."


Bian berlari menuju Zach dan Aaron.


"Ayo kita pergi."


Bian memegang tangan Aaron dan Zach.


"Sampai jumpa lagi..." Rodney dan Daryl melambaikan tangannya. Zach dan Aaron tersenyum.


"Aah iya, hanya saranku Daryl. Sebaiknya kamu belajar sihir, mungkin sihirmu akan berguna untuk melindungi luna Zach. Selamat tinggal."


Bian berteleportasi.


****


...Pack Moon Bykort...


"Bagaimana? apa semua sesuai rencana?" tanya alpha Roger.


"Tentu alpha. Tadi gamma baru saja mindlink saya bahwa Nathan telah di bawa oleh mereka, sesuai dengan perkiraan kita." kata Bruce.


"Bagus, bagus sekali. Rencana pertama berhasil. Lalu bagaimana dengan yang kedua?"


"Saya baru mendapat laporan dari kaum hitam, bahwa rencana kedua sudah disiapkan dengan rapi."


"Excellent, berarti kita tinggal menunggu saja. Ini akan menarik." gumam alpha Roger lalu tersenyum sinis.


"Saya yakin kali ini kita yang akan memenangkan permainan ini."


"Tentu saja Bruce, tentu saja."


Mereka berdua tertawa puas. Hanya beta Manuel saja yang terdiam membisu.

__ADS_1


****


Tadariez


__ADS_2