
Nafas Bian begitu berat. Dia Berusaha terus berlari sampai di perbatasan mantra. Istana Darkness sudah di tutup dengan mantra unteleport. Bian tidak bisa berteleportasi. Di tas yang di bawanya sudah ada botol kaca tempat untuk mengurung Layath didalamnya. Dia dan kaum putih berhasil mengambil botol itu tapi sayangnya dia tidak bisa langsung pergi karena mantra itu, dia juga sudah berulang kali mematahkan mantra itu, tapi tidak berhasil. Jadi sementara para Elder dan Knirer menahan kaum hitam, dia berlari menuju perbatasan mantra agara bisa berteleportasi.
Sebuah kilat melewati atas kepalanya. Bian berusaha terus berlari sambil menghindar dari mantra. Bian menoleh kebelakang dan mengayunkan tangannya. Beberapa kaum hitam terhempas. Bian masih terus berlari. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Di depannya sudah ada dua kaum hitam. Mereka menyerang Bian. Bian menahan serangan mereka dengan tangannya dan mendorong kuat serangan itu kembali kepada mereka.
"Dipercantian!!"
Mantra mengenai punggung Bian. Bian terhempas keras tapi dia langsung berdiri dan merentangkan tangannya. Dia memutar tangan kanannya ke kanan dan tangan kirinya ke kiri. Semua kaum hitam tidak bisa bergerak. Kemudian Bian mengangkat kedua tangannya ke atas sedikit, membuat kaum hitam itu terangkat ke atas. Lalu dengan segera dia menghentakkan tangannya ke bawah membuat kaum hitam terhempas ke tanah dengan keras. Bian mengayunkan kembali kedua tangannya ke kanan dan kiri membuat kaum hitam terseret mengikuti tangan Bian.
Bian kembali berlari. Dari samping kanannya sebuah cahaya hampir mengenainya dan tiba-tiba Bian menabrak sesuatu yang tak kasat mata. Bian terkejut.
"Sial!! Ini ramuan Enento." ucapnya. Bian menyentuh perisai tak kasat mata itu.
"Explosida Glassier."
Tidak terjadi apapun.
"Explosida Glassier."
Masih tidak terjadi apapun. Bian mulai putus asa. Sebuah cahaya melewati kepalanya.
"Blessimort Iglesius." Mayes datang dan membaca mantra kematian. Bian menghindar dan nyaris mengenainya. Mayes melontarkan mantra bertubi-tubi. Bian terus menangkisnya.
"Ayolah!!! Lawan aku!" kata Mayes marah.
"Bagaimana jika kita membuat perjanjian?"
"Perjanjian?"
"Aku akan bertempur denganmu hidup dan mati tapi tinggalkan para serigala itu." ucap Bian.
"Kenapa kamu begitu perduli dengan mereka?"
"Sama seperti aku perduli pada semua kaum. Aku tahu kamu hanya mengincarku, bukan mereka. Jadi bagaimana jika kita menyelesaikannya? Kaum hitam dan putih. Kau dan aku."
"Penawaran yang menarik. Apa kamu ingin melindungi mate mu?"
"Jangan bercanda Mayes. Kita para penyihir tidak memiliki mate. Lagipula aku tahu kamu di balik semua itu. Zach memiliki dua mate. Aku rasa kekuatanmu melemah, benarkan Mayes? Tidak semua orang bisa masuk ke dalam kuil itu dan membaca buku Maria. Tapi kamu membacanya. Kamu memutar mantranya, membuat Zach memiliki dua mate. Kamu membuatku menjadi mate-nya agar aku sibuk menolongnya. Kamu merencanakan ini setelah kamu tahu aku memutuskan untuk membantu Zach menyelamatkan beta-nya dari alpba Roger. Lalu menyarankan Ordovick untuk mempengaruhi Roger agar menyerang secara perlahan, membuatku ikut membantunya agar aku terus menggunakan sihir kuno untuk merubahku."
"Hahahahahahahaha...!!!" Mayes tertawa keras.
Bian yang berdiri membelakangi perisai itu lalu meletakkan kedua telapak tangannya di perisai.
"Kita lihat siapa yang akan menang." kata Mayes saat tawanya telah berhenti.
"Tentu saja. Aku ingin tahu, apa kamu bisa bertahan dari ini." kata Bian membuat Mayes menatap bingung.
Bian menekan tangannya ke perisai itu lalu menepuk perisai itu keras membuat perisai itu pecah berkeping-keping seperti kaca. Bian mengangkat kedua tangannya sejajar bahunya. Membuat pecahan tak terlihat itu mengambang di udara. Mayes tampak bersiap dengan apa yang akan di lakukan Bian. Bian mendorong kuat kedua tangannya ke depan, membuat pecahan perisai itu mengenai Mayes. Mayes sibuk menangkis semua serpihan itu. Bian berlari kembali menjauhi Mayes.
Bian membaca mantra untuk membuka matra unteleport. Dia berhasil dan segera berlari kembali terlebih melihat Mayes sudah mengejarnya lagi. Bian berbalik dan memutar kedua tangannya. Tiba-tiba angin muncul dan berkumpul ditangannya
"Vant, vant, winhale!!"
Bian mendorong tangannya ke depan membuat angin itu semakin kencang dan menabrak Mayes, membuat Mayes terbawa angin itu.
"Bian...!!"
"Apa sudah bisa berteleportasi?" tanya Bian.
"Sudah, sebaiknya kita pergi." kata Kate. Bian mengangguk dan langsung berteleportasi menuju rumah alpha Sebastian.
****
Roger duduk di kursi kebanggaannya, sendirian. Sudah berulang kali dia menghela nafas.
Pintu terbuka, masuk Bruce dan dua gamma membawa Manuel dan meletakkan Manuel di hadapan Roger. Roger menatap Manuel yang sedang tertunduk.
"Jadi Manuel, apa kamu mau kembali?" tanya Roger.
"Anda tetap alpha saya apapun yang terjadi. Meskipun anda membunuh saya, saya tidak akan menggantikan anda."
"Meskipun aku yang menyebabkan anakmu mati?"
"Bukan anda yang menyebabkan dia mati, tapi pemburu itu."
"Tapi aku yang mengirimkannya ke sana."
"Itu sudah menjadi tugasnya sebagai gamma."
Roger memperhatikan Manuel. Dia mencari kebohongan di wajah Manuel. Tapi semakin mencarinya, dia semakin tidak menemukannya. Manuel menatap patuh pada Roger.
"Jadi kamu masih ingin bertarung bersamaku melawan anak-anak remaja itu?"
"Tentu alpha. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk anda."
"Jangan berlebihan Manuel."
"Saya tidak berlebihan alpha."
"Hmm... Baiklah. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat kembali. Aku ingin kamu sehat saat pertempuran itu."
"Baik alpha." Manuel berjalan menuju ke kamarnya. Tak lama masuk gamma yang lain.
"Saya mempunyai berita untuk anda alpha." kata gamma itu.
"Katakan."
"Kastil Darkness tempat kaum hitam berada, diserang kaum putih."
"Diserang katamu?"
"Iya, sepertinya ini berhubungan dengan apa yang kaum hitam lakukan pada mate dari alpha keturunan murni."
"Hanya gara-gara mate itu."
"Dan saya dengar kaum putih mendeklarasikan perang pada kaum hitam."
"Perang? Kenapa tiba-tiba?!" Roger terkejut.
"Ini aneh alpha." sahut Bruce.
"Aneh?"
"Pertama, seharusnya Zigor datang malam ini membawa pasukannya tapi dia tidak datang dan bahkan tidak tahu di mana dan saya dengar dari pasukan kita yang mengawasi keluarga Valhent, Raja keluarga Gereera, yang mendukung raja Lycan itu, bertemu dengan raja keluarga Valhent. Jadi saya rasa keluarga Valhent tidak akan membantu. Begitu juga pack Moon Sykort. Mereka menolak untuk bergabung dengan siapapun. Mereka bersikap netral. Dan sekarang giliran kaum hitam." jelas Bruce.
"Tapi kaum hitam memang tidak perduli dengan kita sedari awal. Mereka hanya menginginkan yang terpilih. Jadi aku tidak heran jika mereka tidak akan lagi membantu kita."
"Itu benar alpha."
"Baiklah, kumpulkan para alpha. Aku akan mengadakan pertemuan besok." kata Roger pada gamma yang masih berdiri di depannya. Gamma itu membungkuk dan segera pergi.
__ADS_1
"Jadi... Apa yang harus kita lakukan alpha?"
"Perang itu harus tetap terjadi, dengan bantuan kaum lain atau tidak. Aku tidak akan membiarkan kita dipimpin oleh anak ingusan sepertinya." kata Roger. Bruce hanya mengangguk.
Ordovick mendengar semua itu di balik pintu. Dia tersenyum senang. Mempengaruhi Roger agar melawan Kei adalah rencana sempurna. Dia tahu Roger tidak akan bisa melawan Kei. Roger tidak tahu saat Kei berubah menjadi Lycan, Kei akan menjadi tidak terkalahkan. Dia pernah melawan Kei dan dia tahu Kei sangat kuat.
"Ayah..." panggil Fred yang baru saja datang. Ordovick menoleh. "Sedang apa ayah disana?"
"Tidak apa-apa. Apa kamu sudah mencari tahu soal adikmu?"
"Sudah ayah. Dia akan melakukan tugasnya."
"Aku harap begitu. Kita sudah sejauh ini, kita tidak boleh gagal."
"Iya ayah, akan Fred pastikan."
Ordovick mengangguk dan tersenyum bangga pada Fred
****
Bian sampai di kamar dimana Karen berada. Dia terkejut karena keadaan kamar itu tampak kacau, begitu juga dengan keadaan Livia dan Lily. Mereka sudah terluka dan terhempas kesegala arah. Sementara Karen sudah berdiri di atas tempat tidurnya. Karen tersenyum menatap Bian. Tiba-tiba Karen yang sudah di rasuki oleh makhluk bernama Layath itu mulai menyerang Bian dan Gina. Bian dan Gina terhempas kedinding. Kate mencoba melawan makhluk itu tapi dia tampak kewalahan.
"Gina!! Bantu Kate. Buat makhluk itu sibuk sementara aku akan membuat diagram sihir. Tahan dia!"
Kate dan Gina terus menyerang Karen dengan sihir mereka tapi Karen bisa menahan serangan-serangan itu dan menyerang balik. Kate dan Gina terkena serangan dari Karen lalu dengan sigap Livia dan Lily bergantian menyerang Karen meskipun mereka terluka.
Sementara itu Bian membuat diagram sihir kuno yang berupa lingkaran dan garis-garis. Bian meletakkan botol khusus untuk mengurung dan menyegel makhluk Layath itu di tenang-tengan lingkaran. Makhluk itu panik saat melihat botol itu. Dia berteriak-teriak.
"Estatiath Rekhele austatiath Manufakale euroshia endasola hebeth"
Bian mulai membaca mantra kuno berulang-ulang.
"Tidak... Tidak!!!" Makhluk itu berteriak.
Bian tidak perduli dia masih tetap membaca mantra itu dengan mata tertutup. Tubuh Karen mengeluarkan asap hitam. Layath mulai keluar dari tubuh Karen. Tapi Layath berusaha keras untuk tetap di dalam. Bian terus membaca mantra sampai akhirnya keluar darah dari hidungnya.
"Hesta!!!" pekik Bian sambil menatap Karen.
Bian kembali membaca mantra. Bola matanya sudah berwarna putih pucat. Bagian rambutnya yang putih semakin banyak. Gina dan Kate menatap khawatir tapi dia tidak bisa menghentikan Bian. Asap semakin banyak keluar dari tubuh Karen sementar darah semakin deras keluar dari hidung Bian. Tak lama asap tebal keluar dari tubuh Karen dan langsung masuk kedalam botol yang ada di tengah lingkaran diagram sihir. Kate dengan segera menutup botol itu lalu Bian menyegelnya dengan darahnya.
Mereka bernafas lega. Karen sudah tergeletak tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Periksa Karen." pinta Bian.
Livia berjalan menuju Karen dan memeriksanya.
"Dia masih hidup." sahut Livia.
"Kamu baik-baik saja Bian?" tanya Gina. Bian mengangguk.
"Aku baik."
"Tapi rambutmu..." Gina memegang rambut Bian yang sudah setengah putih.
"Aku baik-baik saja. Bereskan tempat ini." pinta Bian.
Lily dan Livia membaca mantra perbaikkan. Semua benda yang hancur kembali seperti semula. Semua bersih dan rapi kembali. Bian berjalan menuju Karen lalu memegang tangan Karen. Bian melakukan mantra penyembuhan pada Karen.
"Ayo kita turun dan beritahu pada mereka." kata Bian. Semua mengangguk dan mengikuti Bian.
Dibawah tampak hening padahal ada beberapa orang yang duduk diruang tamu.
"Bian?" Zach langsung menghampiri Bian. "Bagaimana dengan Karen? Maksudku aku senang bertemu denganmu."
Zach tampak bingung. Bian tersenyum geli.
"Karen sudah baik-baik saja Zach. Aku sudah mengurung makhluk itu di botol khusus untuknya. Karen sedang tidur di kamarnya. Kamu bisa melihatnya sekarang."
Terdapat kelegaan di wajah Zach.
"Apa yang kamu tunggu? Pergilah, lihat Karen." kata alpha Sebastian.
"Ahh itu... Bisa saya lakukan nanti." kata Zach sambil menatap Bian canggung. Bian menyadari itu lalu menggenggam erat tangan Zach. Bian menundukkan kepalanya lalu menutup matanya. Zack menatap Bian heran. Tak lama kepalanya terasa sakit. Tubuhnya serasa melayang. Zach menggelengkan kepalanya cepat. Bian membuka matanya dan menatap Zach.
"Zach..." panggilnya. Zach menatap Bian. "Lihat aku, apa kamu masih melihat aku sebagai mate-mu?"
Zach memperhatikan Bian dan mengendus pelan.
"Kamu... Berbeda, baumu... Tidak sama lagi. Kenapa seperti itu? Apa kamu menolakku?"
"Bukan menolakmu Zach, lebih tepatnya meluruskan keadaan. Sedari awal aku memang bukan mate-mu tapi Karen. Kaum hitam membuat aku sebagai mate-mu. Dia membaca mantra, memutar balikkan mantra untuk membuatku menjadi mate-mu agar aku terus membantumu dengan sihir kunoku."
"Jadi maksudmu... Kamu bukan mate-ku?"
"Bukan Zach." jawab Bian. Zach mengangguk pelan. Entah kenapa ada perasaan lega dalam hatinya. "Sekarang pergilah. Lihat Karen."
Zach mengangguk lalu segera pergi.
"Ternyata memang benar. Kalian bukan mate." gumam Kei. "Aku melihat aura mate kalian hilang."
"Aku membaca pembalik mantra. Itu membuat mantra palsu hilang dan yang ada hanya kenyataan sebenarnya. Dan ternyata aku memang bukan mate Zach."
"Aku benar-benar tidak menyangka." gumam Kei. "Apa kamu tidak merasa sedih?"
"Tentu saja tidak Kei. Bukankah sudah kukatakan sedari awal aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya." Bian mendengus kesal. Kei tertawa geli mendengarnya. "Ahh iya, aku akan membawa Livia dan Lily bersamaku. Mereka tidak akan bertugas disini lagi, begitu juga dengan beberapa Knirer. Hanya akan aku tugaskan beberapa Knirer sampai kepindahanmu ke Lykort."
"Tapi kenapa?"
"Aku sudah membuat kaum hitam keluar dari perangmu Kei, yang ada hanya para serigala. Vampir pun sudah teratasi."
"Benarkah? Bagaimana?"
"Kamu tidak perlu tahu itu. Yang jelas semua teratasi. Tapi kami masih akan mengawasinya."
"Itu melegakan Kei, setidaknya akan menjadi pertarungan yang adil."
"Benar paman."
Kei mengangguk setuju.
****
Dihalaman rumah alpha Sebastian, para gamma sudah berkumpul membuat lingkaran mengelilingi api unggun yang mereka buat. Sesekali mereka tertawa geli.
"Hei, apa kita tidak keterlaluan tertawa disaat Luna Zach sedang berteriak terus seperti itu?" tanya Mike.
"Benar. Kita sebaiknya tenang." Jake menambahkan.
"Hei.. Ayolah.. kita hanya mengobrol. Bukan hal besar. Jika masalah di hadapi dengan kepanikkan akan tidak bagus." kata Jason.
__ADS_1
"Sok bijaksana sekali kamu." kata Mike.
"Tentu saja. Aku sudah dewasa sekarang."
"Whoa.. Benarkah? Aku baru tahu. Tapi... Jika memang kamu dewasa, kenapa kamu masih tidak bisa menghadapi mate-mu sendiri." ejek Mike.
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura bodoh Jason. Kami semua tahu kamu menginginkan mate-mu. Bukannya mengambil hatinya kamu justru bertingkah seperti serigala bodoh."
"Ha! aku tidak menginginkannya. Bahkan aku tidak perduli padanya. Dia sama sekali tidak menarik, aku benci melihatnya."
"Ahh.. Benarkah?"
"Tentu saja."
"Aahh itu Lily!! Dia cantik sekali!" sahut Kian tiba-tiba. Jason langsung berdiri dan mencari-cari keberadaan Lily. Semua orang tertawa melihat tingkah Jason. Jason yang sadar sedang di permainkan menggeram marah.
"Apa kamu yakin tidak perduli padanya Jason? Kenapa saat Kian menyebut namanya kamu langsung berdiri dan terlihat senang?" kata Brad ikut menggoda. Jason duduk kembali dengan wajah ditekuk. Sementara semua orang kembali tertawa.
"Tampaknya sangat seru disini." sahut Edward yang baru saja datang. Semua orang berdiri menyambutnya.
"Alpha..."
"Tidak, tidak jangan memanggilku alpha. Ayahku adalah alpha dan masih menjadi alpha hingga sekarang. Aku hanya kebetulan menjadi anaknya." kata Edward tertawa. "Apa aku boleh duduk bersama kalian?"
"Tentu saja alp-- uhmm..." Jake bingung.
"Panggil saja aku Ed." kata Edward ramah.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa Jake. Jake? Benarkan? Namamu?"
"Benar."
"Kalian bisa memanggilku dengan Ed sampai aku menjadi alpha dan aku harap itu tidak terjadi. Aku tidak ingin menjadi alpha. Aku lebih senang menjadi pemimpin di perusahaanku."
"Kamu mirip sekali dengan Hans." gumam Jake.
"Hans? Aahh anak dari alpha Sebastian?"
"Ya, dia juga tidak terlalu menyukai dunia manusia serigala."
"Ya, dan berarti aku dan Hans bi--" Edward terdiam tiba-tiba. Dia mengerutkan dahinya.
"Ada apa alp-- maksud saya Ed?" tanya Jake. Tapi Edward tidak menjawab. Para gamma saling menatap melihat Edward yang terdiam.
"Ada yang masuk." kata Edward akhirnya.
"Masuk?"
"Ya, masih tidak jelas siapa."
"Apa maksud anda Ed?"
"Kalian tahu ibuku adalah penyihir. Jadi aku mendapat kekuatan ibuku juga. Aku bisa merasakan hawa dari serigala yang bukan berasa dari pack ini dan aku merasakannya sekarang."
"Apa anda yakin?"
"Aku selalu benar tentang ini." Edward menutup matanya mencoba merasakan dan mendengar. "Hybrid, selatan kota."
"Hybrid? Serigala Hybrid?"
"Benar. Mereka menuju ke kota. Panggil pasukanmu, Cepat!! Aku akan memanggil alpha Sebastian." Edward berdiri dan berlari. Tapi belum jauh dia berhenti lagi. "Dan Jake, mereka banyak. Mereka berada di selatan kota ini. Cepat!!"
Jake masih saling tatap dengan yang lainnya.
"Apa kita bisa mempercayainya?" tanya Roland.
"Aku dengar dari kedua anak alpha Jackson, anak yang paling tua yang mendapatkan kekuatan penyihir seperti ibunya." kata Adrian.
"Kamu yakin itu?"
"Tentu saja. Itu kabar yang sangat terkenal. Semua orang tahu itu."
"Aku tidak tahu." gumam Jason.
Tiba-tiba terdengar suara lolongan bersahut-sahutan. Mereka saling menatap.
"Kita diserang!! Ayo kita pergi!!"
Jake berubah menjadi serigala di ikuti yang lain. Sementara Edward sudah berada di rumah alpha Sebastian.
"Kita diserang alpha!!" kata Edward lantang.
"Ya, aku mendengar suara lolongan itu." kata alpha Sebastian. "Siapa yang berani masuk kewilayah ku?!"
"Hybrid. Di selatan kota."
"Kamu yakin itu Edward?"
"Yakin alpha. Saya bisa merasakannya, anda ingat?"
"Ahh benar. Kekuatan sihir ibumu. Baiklah, ayo kita pergi. Kemana para gamma itu?"
"Saya rasa mereka sudah pergi duluan alpha. Saya sudah memberitahukan pada mereka." kata Edward.
"Baiklah."
"Kei ikut paman."
"Ayo Kei!"
Kei mencium kening Tania lalu beranjak pergi. Tapi langkah Kei terhenti melihat Edward terdiam di tempatnya.
"Kamu ikut Ed?" tanya Kei.
"Biarkan saja Edward Kei, ini pertarungan kita. Lagipula Edward tidak terlalu mau tahu urusan manusia serigala. Benarkan Ed?" tapi Edward tidak menjawab. Matanya lurus menatap seorang gadis di depannya. "Ed?"
"Mate." gumam Edward.
"Apa katamu? Mate?" tanya alpha Sebastian.
"Kamu... Mate-ku?" tanya Edward pada gadis yang ditatapnya. Semua orang menatap gadis yang di tatap Edward dan terkejut.
"Oh.. Tidak lagi." sahut Bian tertunduk lemas.
****
__ADS_1
tadariez