
"Kei!!"
Suara panggilan menggema di kastil tua pack Moon Lykort.
"Kei....!!"
"Ya, ayah tunggu dulu."
Kei masih sibuk berkeliling kastil mencari-cari Rowl, serigala kecil yang akan dia berikan pada Tania. Rowl bukanlah manusia serigala, tapi hewan serigala. Dia masih sangat kecil dan ibunya mati karena sakit. Kei menceritakan itu pada Tania dan Tania langsung ingin memeliharanya.
"Demi tuhan, Kei...!!" panggil ayahnya lagi yang sudah mulai lelah.
"Tunggu ayah, Rowl masih tidak ketemu."
Ayah Kei baru saja sampai didepan Kei tapi Kei berlari lagi. Membuat ayahnya mendengus kesal. Ayah Kei menarik telinga anak laki-lakinya itu.
"Aaakkhhh ayah, ayah, sakiiiiittt." rintih Kei. Ayah Kei menarik telinga Kei sambil berjalan ke ruang tahta. Ayah Kei mendudukkan Kei di kursi khusus untuk Raja. Kei menggosok telinganya yang sudah merah dan memanas. Semua pelayan dan penjaga sudah tertawa geli.
"Dasar anak kurang ajar!! Ayah sudah cacat dan sulit berjalan kamu ajak berlari-lari." omel ayahnya yang sudah berkacak pinggang didepannya.
"Tunggu dulu, Kei tidak mengajak ayah untuk berlari-lari. Kei hanya mengejar Rowl dan ayah yang ikut Kei berlari." Kei tertawa geli.
"Kamu---"
"Iya, iya maaf ayah..." Kei masih tertawa geli.
"Yang mulia, saya menemukan Rowl." Cavril datang dan menyerahkan Rowl pada Kei.
"Aahh terima kasih Cavril. Hai Rowl.. Dari mana saja kamu." Kei mengelus lembut bulu abu-abu Rowl.
"Kei, tidak bisakah kau tinggal? Disini rumahmu. Kamu bisa bawa Tania kemari." kata ayah Kei.
"Kita sudah bahas ini ayah, Tania tidak bisa pindah kesini. Dia masih punya kakaknya, lagi pula dia masih bersekolah dan kalau ayah tidak lupa, Kei juga masih bersekolah." kata Kei.
"Tapi kamu adalah raja Kei, kamu harus berada disini." kata ayah Kei.
"Kei tidak mau ayah, ayah tahu itu. Ayah alpha disini, bukan Kei. Kalau urusan kerajaan... Apa yang tidak bisa mengurusnya? Kei masih sekolah ayah. Yang Kei inginkan adalah Kei bisa lulus sekolah dengan baik." kata Kei.
"Kamu keras kepala sekali." kata ayahnya.
"Ayah, Kei masih tujuh belas tahun lagipula Kei masih punya ayah yang berpengalaman mengurus kerajaan." Kei menopang kepalanya di tangan.
"Tapi kamu masih bisa bersekolah disini." bujuk ayahnya lagi.
"Kei tidak mau ayah, Kei ingin bersekolah di wilayah alpha Sebastian saja bersama Tania." kata Kei.
"Tapi Kamu--"
"Biarkan saja sayang." potong ibu Kei yang baru saja datang.
"Rowl!!!" pekik Aira yang langsung menggendong Rowl yang sedang berbaring tenang di pangkuan Kei.
"Hei, hei, hati-hati." kata Kei mengingatkan.
"Iya Aira tahu. Ini punya kak Tania?" tanya Aira. Kei mengangguk. "Punya Aira mana?"
"Punya Aira..." Kei tampak berpikir. ".... Nanti Ian akan mencari." kata Kei yang langsung mengalihkannya pada Ian yang baru saja datang.
"Kenapa Jadi aku?" tanya Ian bingung. Kei hanya mengangkat bahunya. Ian mendengus kesal.
"Yay!!!" Aira berlompat senang.
"Hei Aira, hati-hati... Rowl.."
"Iya, Aira lupa kak." Aira menghentikan lompatannya.
"Biarkan saja Kei disana sayang. Dimanapun dia berada dia tetap alpha dari segala alpha, dia tetap raja Lycanthrope. Lagipula disini sudah ada sayang yang memerintah. Biarkan dia menikmati masa mudanya." kata ibu Kei. Ayah Kei menghela nafas.
"Bagaimana menurutmu Cavril?" tanya ayah Kei.
"Saya setuju dengan Luna, alpha." kata Cavril.
"Kamu ini, kenapa tidak pernah mendukungku sih." ayah Kei mendengus kesal. "Baiklah, baiklah. Terserah kalian saja."
"Lebih baik begitu. Ada Ian yang menjaga Kei." kata ibu Kei.
"Saya akan menjaga yang mulia dengan baik." kata Ian.
"Baiklah, sudah sepakat semuakan? Kalau begitu ayo kita pergi." kata Kei lalu berdiri dari kursinya.
"Hei, hei, kamu mau kemana? Apa sudah waktunya pergi?" kata ayah Kei.
"Tidak ayah, Kei hanya akan pamit pada Timmothy dan Ruben."
Kei melangkah pergi diikuti oleh Ian. Mereka menuju ke sekolah mereka yang lama, SMA Royale Lykort. Kei berjanji akan bertemu dengan Tim dan Ruben di kantin sekolah seusai pelajaran. Sepanjang perjalanan, semua manusia serigala memberi hormat padanya membuatnya risih. Kei hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Huh, kenapa sih mereka seperti itu? What's the big deal? Sangat tidak nyaman." keluh Kei.
"Because you're their alpha, their king, that's the big deal." jawab Ian.
"Tapi alpha mereka adalah ayahku."
"Siapapun alpha di pack mereka anda tetaplah alpha mereka, raja mereka. Anda tahu itu. " kata Ian sopan.
"Aahh baiklah aku mengerti, menyusahkan sekali. Kamu juga Ian. Sudah aku bilang, jika hanya bersamaku, berhentilah menggunakan kata sopan seperti itu. Sungguh sangat menggelikan." kata Kei yang mempercepat jalannya. Ian hanya tersenyum geli.
Tak lama mereka sampai di halaman sekolah. Kedatangan mereka membuat seluruh sekolah heboh. Kei tampak sangat tampan dengan gaya kasualnya. Dengan celana jeans berwarna biru muda dan jaket kulit berwarna coklat tua dan baju kaus berwarna putih didalam jaket kulitnya. Rambutnya yang hitam agak panjang terlihat berantakan membuat kesan lebih tampan dan sexy. Ian juga tidak kalah dengan kemeja biru muda berlengan panjang. Lengannya sudah di gulungnya sampai lengan, dua buah kancing kemejanya bagian atas sudah dibuka dan dipadukan dengan Jeans biru tua dan sneakers putih. Rambut coklatnya juga di biarkan berantakan. Teriakan tidak jelas para gadis yang seakan menyambut mereka dengan suka cita. Semua orang menatap mereka saat mereka berjalan melewati koridor sekolah. Anak-anak manusia serigala menunduk hormat pada Kei dan Ian.
Mereka mencari-cari sosok Tim dan Ruben di kantin. Kantin menjadi riuh kembali. Kei menepuk pundak Tim. Tim menoleh dengan senyuman dibibirnya.
"Waahh kalian benar-benar datang." kata Tim antusias.
"Tentu aku datang, aku kan sudah janji." kata Kei. Tim mengangguk-angguk dan menyisihkan tempat duduk di sebelahnya.
"Hei, sudah aku bilang jangan seperti itu." kata Kei yang melihat Ruben ingin menunduk menghormati Kei. Ruben yang terkejut langsung duduk. Ian hanya tersenyum geli.
"Aku tidak suka di hormati seperi itu, kalian temanku. Aku tidak perduli pada orang lain, tapi kalian berbeda, karena kalian temanku." tegas Kei.
"Baiklah yang mulia." kata Tim lalu berdiri dan membungkuk hormat, membuat Kei mendengus kesal. Semua tertawa kecuali Kei.
"Lalu, apa yang mu.. Tidak, tidak, maksud aku, apa kamu jadi pergi ke pack Moon Roykolt?" tanya Ruben.
__ADS_1
"Tentu, saja. Aku ingin bertemu dengan mate-ku dan menyelesaikan sekolahku." kata Kei sambil mengambil kentang goreng dari piring Tim.
"Waaahh aku hampir lupa kamu sudah memiliki mate sekarang." Tim menepuk pundak Kei. Ruben ingin melarangnya karena Kei adalah raja tapi dia mengurungkan niatnya. Dia hanya takut Kei marah. "Lalu apa kamu sudah... Ehem.."
"Ehem.. Apa?" tanya Kei.
"Kamu tahulah." kata Tim sambil menaik-turunkan alisnya.
"Aku tidak tahu." jawab Kei sambil mengangkat kedua bahunya. Tim memutar bola matanya.
"Kamu tahukan Ian." kata Tim beralih Ke Ian.
"Apa? Ciuman? ***?" tanya Ian membuat Kei dan Ruben terbelalak.
"Apa?!" pekik Kei dan Ruben bersamaan.
"Apa kamu sudah gila?! Kita baru tujuh belas tahun!!" pekik Ruben.
"Hei, tidak, tidak. Kenapa jadi begini? Maksud aku bukan ***. Aarghh Ian, kau membuatku jadi terkena salah paham." Tim mendengus kesal.
"Salahmu sendiri. Seharusnya bicara dengan jelas." omel Ian cuek.
"Bukan, bukan itu. Maksud aku.... Ahh sudahlah, tidak jadi." Tim memasang wajah cemberut dan melipat kedua tangannya didadanya. Kei dan Ruben tertawa geli.
"Aku dan Ian hanya mau pamitan saja. Saat liburan sekolah aku akan kesini dan akan aku bawa Tania dan mengenalkan pada kalian." kata Kei.
"Waaah tidak sabar melihat wajah mate alpha kita yang satu ini." kata Tim di sambut anggukan kepala Ruben.
"Segera Tim, segera." kata Kei lalu tertawa. Tapi tiba-tiba tawanya terhenti. Dia melihat Cayden duduk di ujung. Dia hanya duduk sendirian. Tidak ada lagi yang duduk bersamanya. Bahkan para gadispun enggan duduk dengannya. Kei menatap Cayden tajam.
"Tidak ada yang ingin berteman dengannya lagi." kata Ruben yang mendapati Kei sedang menatap Cayden. Tim dan Ian menoleh ke Cayden.
"Kamu sudah dengan sangat baik hati tidak menghukum mati ayah dan kakaknya. Kenapa kamu tidak menghukum mati mereka? Mereka pantas mendapatkannya." tanya Tim.
"Jika aku melakukan yang mereka lakukan padaku, lalu apa bedanya aku dengan mereka? Lagi pula mereka sudah dihukum dengan berat. Hukuman yang lebih ringan satu tingkat dari hukuman mati. Itu sudah cukup. Aku ingin melupakan masa lalu dan menikmati masa sekarang." kata Kei. Semua mengangguk mengerti.
"Kamu memang cocok menjadi alpha." Tim mengacungkan kedua jempol tangannya ke depan Kei. Kei tertawa geli.
"Uhm... Permisi..."
Semua menoleh dan mendapati seorang gadis manis berdiri di samping Kei.
"I-ini..." kata gadis itu sambil menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus rapi ke Kei. Kei menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu mengangguk.
"Uhm... Tidak, aku tidak mau, terima kasih. Aku sudah punya kekasih." kata Kei lalu berpaling dan tidak memperdulikan gadis itu lagi.
Gadis itu menunduk lemas lalu segera pergi. Tim dan Ruben menggelengkan kepalanya.
"Dia memang tidak pernah berubah." ucap Tim.
"Tidak, tidak, dia berubah Tim. Biasanya dia hanya akan pergi atau berpaling saja. Tapi kali ini dia berbicara bahkan dia berterima kasih! Itu suatu keajaiban." kata Ruben.
"Waahhh betul, betul itu Ben." kata Tim lalu bertepuk tangan. "Perubahan yang luar biasa."
"Dasar kalian ini."
Mereka tertawa geli.
****
Tania berhenti sejenak mendengarkan. Dia seperti mendengar sesuatu di semak. Tak lama keluar serigala besar berbulu coklat dan putih. Tania tersenyum pada serigala itu.
"Hai Kian, kau disini." kata Tania yang mengenali serigala itu. Kian hanya mengangguk. Kian dan Mike bertugas menjaga Tania saat Kei pergi. Kei yang meminta mereka dan Tania mengetahui hal itu.
"Aku hanya ingin ke batu besar itu sebentar." kata Tania.
Tania kembali berjalan dan diikuti oleh serigala Kian dari belakang dan tidak lama kemudian serigala Mike ikut bergabung.
Tania sampai di batu besar itu. Dia memegang bagian batu yang ada tulisan nama ayah dan ibunya. Dia merasa bersyukur sudah bertemu dengan kedua orang tuanya meskipun dalam keadaan seperti itu. Tania kembali meneteskan air matanya.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Tania terkejut dan menoleh. Kei sudah memeluknya dengan erat.
"I miss you so much." bisik Kei. Tania tersenyum.
"Me too." bisik Tania lalu mencium pipi Kei. Kei tertawa. Lalu terdengar geraman pelan. Kei menoleh dan melepaskan pelukkannya.
"Aaahh maaf, maaf. Kalian boleh pergi. Terima kasih Kian dan Mike." kata Kei. Tania yang malu sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aaahh malu sekali." gumam Tania. Kei tersenyum lalu membelai pelan kepala Tania.
"Aku punya kejutan buatmu." kata Kei. Kei menurunkan tas dari punggungnya lalu mengeluarkan Rowl dari dalam tas.
"Ini Rowl? Waaaahhh lucu sekali."
Tania mengambil Rowl dari tangan Kei dan menggendongnya dan membelainya lembut. Rowl terlihat menikmati setiap sentuhan Tania.
"Sepertinya dia menyukaimu." kata Kei. Tania tersenyum.
"Hai, Rowl.. Namaku Tania." kata Tania lembut. Rowl hanya mengeliat senang. "Tapi... Kamu membawanya dalam tas mu?? Apa kamu sudah gila?Bagaimana jika dia kehabisan nafas?"
"Lalu harus aku bawa dengan apa?"
"Bisa kamu gendong saja atau letakkan dia di kandang anjing. Kenapa harus di tas?" Tania cemberut. Dia mengangkat Rowl mendekat ke wajahnya. "Kasihan sekali Rowl. Apa kamu baik-baik saja? Kamu manis sekali..."
"Aku masih lebih manis dari dia." gumam Kei kesal yang masih bisa didengar oleh Tania.
"Berhentilah membelai dan memeluknya. Dia akan menjadi besar kepala dan manja. Dan bukankah kamu sudah memeluknya lama?" Kei mendengus kesal. Tania tersenyum geli. Kei membuang wajahnya.
"Kamu tidak cemburu pada Rowl kan?" goda Tania.
"Aku? Cemburu? Hah! Tidak akan. Apalagi dengan serigala kecil jelek itu." kata Kei.
"Ohh begitu." kata Tania tersenyum geli. Dia kembali memeluk Rowl dan menciumnya. Tiba-tiba Kei mengambil Rowl dari pelukan Tania.
"Itu sudah cukup. Jangan berpelukkan lagi." kata Kei lalu meletakkan Rowl agak jauh dari Tania.
"Kei..."
"Tidak, tidak. Itu sudah cukup Tania." kata Kei. Rowl berjalan mendekati Tania kembali. Kei mengangkatnya lagi dan meletakkannya lebih jauh lagi.
"Kei, nanti dia hilang. Jangan jauh-jauh." kata Tania.
__ADS_1
"Aku tidak perduli. Biar saja dia hilang." kata Kei cuek. Tapi Rowl mulai berjalan lagi menuju Tania.
"Hei, hei! Stop disana. Dia milikku. Cari milikmu sendiri!" omel Kei pada Rowl. Tetapi Rowl tetap berjalan membuat Kei menggeram dan merubah bola matanya menjadi merah terang, menandakan bahwa dia adalah alpha. Rowl langsung berhenti karena merasa takut dan akhirnya berbaring di tempatnya berdiri. Kei tersenyum puas. Dasar Kei!
"Rowl itu masih kecil Kei, kenapa kamu perlakukan dia seperti itu?" tanya Tania.
"Tetap saja dia laki-laki." kata Kei. "Aku akan membawanya pulang kembali ke Lykort."
"Kei! Kau jahat sekali. Kamu sudah berjanji!" Tania cemberut. Dia mendengus kesal. Kei menghela nafas dan memutar bola matanya.
"Aakhh baiklah. Tapi jika bersamaku, dia harus pergi yang jauh." kata Kei. Tania kembali senang.
"Aku janji." katanya. "Tapi katamu kamu tidak cemburu?"
"Aku memang tidak cemburu." kata Kei. Tidak cemburu dari mana Kei?
Kei merebahkan dirinya dan menatap langit biru di atasnya.
"Kemarilah Tania." ajak Kei. Kei menepuk lengan kirinya agar Tania menjadikan lengannya sebagai bantal. Tania menurut dan ikut merebahkan dirinya dan menjadikan lengan Kei sebagai bantal.
"Cantik sekali." kata Tania yang melihat langit biru di atasnya. "Kei."
"Hm?"
"Jadi... Kamu seorang raja? Atau alpha? Aku bingung." kata Tania.
"Keduanya Tania. Setiap pack atau kelompok dalam manusia serigala mempunyai pemimpin yang kita sebut alpha. Lalu dibawahnya ada beta, gamma, omega dan parjurit."
"Lalu apa bedanya raja dan alpha?"
"Setiap pack akan ada alpha yang memimpin Tania, tapi raja Lycanthrope hanya ada satu didunia. Dia sebagai pemimpin dan pengendali manusia serigala diseluruh dunia. Raja adalah alpha dari seluruh alpha, yang artinya dia pemimpin dari seluruh alpha di dunia." jelas Kei.
"Jadi... Kamu bisa memerintah seluruh alpha? Seperti ayahmu dan alpha Sebastian?" tanya Tania.
"Iya, keluargaku adalah keluarga kerajaan."
"Lalu semua yang menjadi raja akan menjadi alpha dari segala alpha?"
"Tentu tidak, hanya yang memiliki monster seperti yang ada di dalam diriku yang akan menjadi alpha dari segala alpha. Jika tidak, dia hanya akan menjadi alpha bagi packnya saja."
"Waah dan kau adalah raja mereka. Hebat..." puji Tania.
Kei mengangkat kepalanya. Kini wajahnya sudah berada di atas Tania dan menatapnya lekat.
"Dan kau adalah mate-ku yang artinya kau adalah ratuku Tania." kata Kei. Tania tertawa sambil memukul dada Kei. Kei melihat tangan Tania yang memukulnya lalu melihat wajah Tania yang masih tertawa. Kei menaikkan satu alisnya.
"Apa ada yang lucu?" tanyanya heran.
"Tidak, tidak. Hanya saja... Aku? Ratu? Hahaha..." Tania tertawa geli. Kei hanya menatapnya heran. "Aahh maaf, maaf.. Hanya saja aku tidak cocok menjadi ratu."
"Kenapa tidak cocok?"
"Aku tidak cantik, tidak lembut dan sangat ceroboh. Tidak ada yang mau aku menjadi ratu mereka."
"Kamu cantik Tania dan untuk kecerobohanmu... Aku tidak akan membantahnya. Tapi kamu tetaplah mate-ku, pasangan yang sudah ditakdirkan untukku."
"Jadi... Aku akan tetap menjadi pasanganmu selamanya?"
"Tentu saja. Kenapa? Apa kamu tidak suka?"
"Tapi aku menonton film cerita tentang werewolf, mereka bisa ganti pasangan." kata Tania.
"Kamu terlalu banyak nonton film." Kei menyentuh hidung Tania. "Karena kamu mate-ku itu membuat kamu dalam bahaya Tania. Akan ada banyak pihak yang akan membuatmu celaka dan aku tidak ingin itu terjadi. Karena itu, aku meminta Kian dan Mike menjagamu jika aku tidak ada."
"Kenapa mereka ingin aku celaka? Apa aku berbuat salah?"
"Tidak, tapi mereka mengincarmu untuk melemahkanku Tania. Akan banyak pack-pack yang tidak senang denganku. Selain karena mereka tidak ingin ada yang lebih tinggi dari alpha mereka, aku yakin mereka juga tidak ingin dipimpin oleh anak remaja sepertiku."
"Jadi... Kau dalam bahaya?"
"Tidak, jika kamu baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja."
Wajah Tania memerah. Kei tersenyum manis padanya. Kei melihat bibir Tania lalu mendekatkan wajahnya. Tania memejamkan matanya. Kei semakin mendekatkan wajahnya dan akhirnya bibir mereka menyatu. Kei mencium bibir Tania lembut. Tania membalasnya. Kei melepaskan bibirnya.
"Aku mencintaimu Tania." bisik Kei.
"Aku juga mencintaimu Kei." Tania ikut berbisik.
Kei tersenyum senang. Tania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kei tersenyum geli. Dia tahu Tania sedang merasa malu saat ini.
"Hei, jangan ditutup terus, aku ingin melihat wajahmu." bujuk Kei. Tania menggeleng cepat. Kei mencoba menarik tangan Tania yang menutupi wajahnya tapi Tania menahannya dengan kuat.
"Ahh iya, bagaimana kamu tahu tentangku? Kamu belum menceritakannya padaku. Aku tidak tahu kamu sudah mengetahui siapa aku, maksud aku... Apa sebenarnya aku." tanya Kei. Tania menurunkan tangannya.
"Dari Bian." jawab Tania.
"Bian? Bagaimana bisa?"
"Pagi, sebelum kamu menemuiku malam itu... Bian menemuiku di rumah. Dia mengatakan tentang siapa dan apa dirimu. Tapi aku tidak percaya, lalu dia melakukan, uhm... Sihir? Mengembalikan ingatanku tentang malam dimana kita diserang."
"Kamu... Mengingatnya?"
"Iya, berkat Bian. Awalnya sulit sekali menerimanya tapi dia meyakinkan aku dan juga tentang perasaanku padamu. Dia juga menceritakan tentang masalahmu dan uhm... Monster itu dan juga rencananya."
"Ya, rencana gilanya yang membuatmu terbunuh." gumam Kei. Dia masih kesal karena rencana itu, terlebih dia tidak tahu sama sekali dengan rencana maupun apapun yang akan terjadi pada Tania.
"Tapi itu berhasil Kei. Berhasil untuk kita berdua." kata Tania.
"Hmm benar, tapi itu rencana berbahaya Tania." Kei membelai pipi Tania.
"Aku tahu tapi Bian melindungiku dengan baik. Bagaimana ya keadaannya saat ini? Apa dia baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu Tania, para Elder itu tidak mau memberitahukanku." Kei menghela nafas kasar.
"Aku khawatir padanya." ucap Tania.
"Aku juga." gumam Kei. Mereka terdiam sejenak dengan posisi wajah Kei yang masih di atas Tania.
"Whoa... Kalian mesra sekali..." kata seseorang. Orang itu sudah berjongkok disamping mereka. Tania dan Kei menoleh bersamaan. "Hai... Miss me??"
****
__ADS_1
tadariez