
Zach berjalan beriringan dengan Aaron. Mereka sudah merubah wujud mereka menjadi manusia.
"Berapa umurmu, Aaron?" tanya Zach.
"Uhmm.. Lima belas tahun alpha." jawab Aaron.
"Tidak, tidak. Jika hanya berdua atau tidak dalam keadaan yang resmi, jangan memanggilku alpha. Itu sangat... Menggangguku." kata Zach.
"Tapi... Di pack saya sebelumnya, kami gamma dan para omega di larang menyebut nama alpha dan bahkan menatapnya." kata Aaron.
"Aaron, kamu bukan anggota packmu yang lama lagi. Kamu anggota packku sekarang, kamu betaku, bukan seorang gamma."
"Tapi saya... Saya... Saya tidak pantas menjadi beta, alpha." Aaron menghentikan langkahnya. "Saya hanya gamma paling rendah di pack saya. Jadikan saya gamma terendah juga, jangan beta. Itu terlalu tinggi bagi saya. Saya rasa saya tidak mampu menjadi beta."
"Oh iya, kamu mampu." kata Kei yang sudah bersama mereka. Zach dan Aaron menoleh. "Kamu mampu menjadi beta, karena kamu memang sudah di takdirkan menjadi beta."
"Tidak, saya..."
"Yakinlah pada dirimu sendiri." kata Kei lagi.
"Maaf tapi anda.. Siapa?" tanya Aaron.
"Namaku Kei, senang berkenalan denganmu..."
"Aaron, Aaron Wyatt."
Kei mengulurkan tangannya dan disambut oleh Aaron.
"Dia adalah raja Lycanthrope." kata Zach.
"Ra-raja?" tanya Aaron terkejut. "Raja Lycanthrope yang mempunyai monster Lycan?"
"Mosnter Lycan? Apa itu?" tanya Zach bingung.
"Monster itu--"
"Hanya sebuah monster. Tidak perlu di pikirkan. Aku Ian, beta dari raja monster satu ini." Ian mengulurkan tangannya dan menunjuk Kei dengan dagunya. Kei tertawa geli. Aaron menyambut tangan Ian.
"Yaahh berarti Orychant kita sudah lengkap. Kita harus berlatih." kata Kei.
"Berlatih? Lagi??" pekik Zach terkejut. Kei dan Ian mengangguk bersamaan. "Kalian sudah gila. Aku tidak mau."
Zach berjalan pergi meninggalkan Kei, Ian dan Aaron.
"Oh ayolah Zach..." Kei menyusul Zach dan berusaha membujuknya.
"Kedua orang itu. Sepertinya mempunyai kepribadian yang sama. Bisa-bisa kita kewalahan menghadapi mereka." kata Ian.
"Uhm.. Maaf Beta, tapi... Orychant itu... Apa?" tanya Aaron. Ian tersenyum.
"Kamu akan mempelajarinya secara perlahan Aaron. Sekarang ayo kita susul kedua orang yang menyusahkan itu."
Ian merangkulkan tangannya ke pundak Aaron dan membawanya menyusul Kei dan Zach.
****
Aaron duduk di sebuah kamar di rumah Zach. Mulai hari ini dia tinggal di rumah Zach karena dia tidak punya tempat tinggal di kota Rotternville. Aaron duduk termenung. Zach yang baru saja sampai di depan pintu kamar Aaron yang terbuka, mendapati Aaron yang menundukkan kepalanya. Zach mengetuk pintu kamar Aaron. Aaron mengangkat kepalanya lalu berdiri tegak.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Zach.
"Ten-tentu saja alpha, ini rumah anda." kata Aaron. Aaron menundukkan kepalanya dan sedikit membungkuk hormat pada Zach.
Zach masuk ke dalam kamar dan menepuk pundak Aaron. Aaron tampak sedikit terkejut. Melihat keterkejutan Aaron, Zach menghentikan tindakannya.
"Aah tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Duduklah." pinta Zach yang sudah duduk di atas tempat tidur.
"Ti-tidak, a-alpha saja yang duduk." kata Aaron.
"Aku mau kamu juga duduk Aaron."
"Tap-tapi... Saya..."
"Duduklah, ini perintah." tegas Zach. Aaron terdiam sejenak lalu akhirnya duduk di sebelah Zach. "Kamu.. Baik-baik saja?"
"Saya baik alpha." kata Aaron cepat.
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiran kamu." kata Zach.
"Ti-tidak, tidak ada alpha."
"Aku bersedia mendengarkan jika memang ada sesuatu."
"Ti-tidak ada alpha, su-sungguh." jawab Aaron. Zach menghela nafas.
"Baiklah, jika kamu siap bercerita, aku akan dengan senang hati mendengarkan. Sekarang istirahatlah."
Zach berdiri dari duduknya, diikuti Aaron.
"Tidak, tidak. Tetaplah disana. Tidak perlu mengantarku." kata Zach saat mendapati Aaron berjalan di belakangnya. Aaron terdiam di tempatnya.
"Tidurlah Aaron, beristrirahatlah." kata Zach. Aaron mengangguk. "Dan kumohon, panggil aku Zach. Alpha membuatku terdengar sangat.. tua, seperti ayahku. Dan aku masih tujuh belas tahun, aku cocok menjadi kakakmu, kau tahu. Selamat malam."
"Selamat malam alpha."
Zach menutup pintu dan meninggalkan Aaron sendiri. Aaron menghela nafas panjang dan kembali duduk di atas tempat tidur. Dia mengacak rambutnya frustasi.
"Aaron, kau sungguh bodoh." rutuknya.
****
Tok... Tok.. Tok..
"Aaron? Apa kamu sudah bangun?" tanya ibu Zach dari luar kamar Aaron. Aaron yang terbangun mendengar suara ibu Zach langsung melompat dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Sudah bangun nyonya, m-mm-maksud saya, luna." kata Aaron.
"Well..." ibu Zach masih terkejut dengan terbukanya pintu kamar yang tiba-tiba. "...aku lebih suka jika di panggil ibu, dan akan sangat berterima kasih jika kamu memanggilku ibu. Lagipula umurmu tidak jauh beda dari anakku. Uhmm... Berapa umurmu?"
"Lima belas tahun, luna... Maksud saya, nyo-- tidak, i-ibu?"
Ibu Zach tersenyum.
"Betul, ibu. Umurmu hanya terpaut dua tahun dari anakku jadi ibu adalah panggilan yang lebih pantas. Ayo turunlah, kita sarapan bersama."
"Baik...." Aaron terdiam sejenak. Dia tampak ragu. "... Ibu."
Ibu Zach tersenyum lembut.
"Tunggu apa kamu yakin berumur lima belas tahun?" tanya ibu Zach. Aaron mengangguk. "Perut sixpack itu terlihat mengagumkan untuk anak berumur lima belas tahun."
Aaron menatap tubuhnya dan baru menyadari jika dia tidak mengenakan baju.
"Aahh ma-maaf... Saya..."
"Tidak apa-apa Aaron. Zach juga tidur tidak mengenakan baju belakangan ini. Waah apa semua manusia serigala mempunyai tubuh yang bagus seperti itu." ibu Zach menggelengkan kepalanya. "Ayo turunlah."
"Saya akan segera turun... Uhmm... Ibu."
Ibu Zach mengangguk lalu beranjak pergi. Aaron menutup pintu dan bersandar di pintu.
"Ibu..." gumamnya pelan.
****
Zach duduk di atas motornya di depan sebuah rumah. Dia berkali-kali melihat jam tangannya dan tampak gelisah. Tak lama pintu rumah itu terbuka dan Karen keluar dari rumah itu. Zach segera turun dari motor dan mendatangi Karen.
"Hai Karen." sapa Zach. Karen terkejut melihat Zach didepan rumahnya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Karen.
"Melihat keadaan kamu." jawab Zach.
"Tidak perlu." kata Karen sambil berlalu. Zach menyusul Karen dan berdiri tepat di hadapan Karen. Karen mendengus kesal. "Apa sebenarnya yang kamu inginkan?"
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zach.
"Bukan urusanmu." Karen mencoba melewati Zach tapi Zach terus menghalanginya.
"Tentu itu adalah urusanku."
"Aah... Aku minta maaf, aku tidak tahu diri. Baiklah, aku berterima kasih, sangat berterima kasih atas apa yang kamu lakukan padaku. Sekarang biarkan aku pergi." Karen mencoba berjalan lagi tapi Zach masih menghalanginya.
"Ayo kita ke sekolah bersama." ajak Zach. Karen menatap Zach heran.
"Apa kamu sudah gila? Tidak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Kamu ingin aku jadi sasaran amuk massa para gadis di sekolah?"
"Tentu saja tidak, kenapa kamu harus jadi sasaran amarah mereka?"
"Aahh sudahlah. Aku akan pergi ke sekolah sendiri."
Karen berjalan melewati Zach.
"Akan lebih cepat jika bersamaku." bujuk Zach.
"Tidak perlu."
"Ayolah Karen." Zach masih membujuk Karen. Karen mendengus kesal.
"Kamu ini kenapa sih?! Ahhh apa kamu kasihan padaku? Atau prihatin? Kamu tidak perlu melakukannya. Aku tidak membutuhkan itu."
Karen melangkah pergi. Kali ini Zach tidak mengikutinya. Dia membiarkan Karen pergi.
****
Zach mendatangi Daryl dan Rodney yang sedang berdiri di loker mereka.
"Hai, uhmm apa kalian melihat Karen?"
"Karen? Tidak, aku belum melihatnya seharian ini." jawab Rodney.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?" tanya Daryl dengan tatapan curiga.
"Jangan menatapku seperti itu. Bagaimana dengan temannya? Dan Max, bagaimana dia?"
"Apa ini karena masalah waktu itu?" tebak Daryl.
"Ya, kami masih waspada. Takut jika para vampir itu kembali dan membawa pasukan lebih besar."
__ADS_1
"Jadi kamu mau melindungi Karen?"
"Tidak hanya dia, tapi semua orang. Tapi Karen yang kemarin menjadi incaran jadi aku fokuskan pada Karen terlebih dahulu sementara yang lain akan berjaga-jaga."
"Untung saja vampir itu bukan keluarga kerajaan inti." gumam Rodney.
"Maksud kamu?"
"Keluarga inti, raja, ratu dan putra putrinya."
"Aku baru tahu jika vampir bisa punya anak." gumam Daryl.
"Mereka tidak bisa punya anak Daryl. Tapi mereka bisa mengangkat anak. Hanya saja keluarga kerajaan ini adalah vampir original yang artinya vampir pertama yang pernah ada. Menurut bukuku, vampir original menjadikan dirinya vampir beserta anak-anaknya juga."
"Jadi maksudmu, menjadikan anak-anak mereka vampir?!" pekik Daryl.
"Daryl pelankan suaramu." bisik Zach.
"Ahh maaf." Daryl menutup mulutnya.
"Ya, mereka menjadikan satu keluarga mereka menjadi vampir."
"Mereka kejam sekali."
"Tapi... Kenapa dengan mereka?" tanya Zach.
"Mereka sangat kuat Zach, kita tidak bisa melawannya. Hanya yang terpilih."
"Yang terpilih?"
"Pemimpin penyihir kaum putih. Aku rasa kamu harus belajar tentang sihir Daryl."
"Aakhh aku tidak mau. Aku tidak ingin menjadi penyihir atau apapun itu." Daryl menutup lokernya.
"Ada penyihir datang ke kota ini, apa kamu mau belajar bersama mereka?" tawar Zach.
"Benarkah?" tanya Rodney. Zach mengangguk. Daryl menatap kedua temannya bergantian.
"Tidak, aku tidak mau dan jangan paksa aku."
Daryl beranjak pergi meninggalkan kedua temannya. Mereka bertiga berjalan keluar sekolah dan menemukan Adrian dan Kian.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Zach.
"Menjemputmu alpha." kata Kian.
"Sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu. Lagipula kita ini disekolah apa kau lupa? Bagaimana jika kita ketahuan?" Zach mendengus kesal.
"Aah baiklah al-- maksud saya Zach. Kita harus ke hutan untuk latihan." kata Kian.
"Kenapa kita harus latihan terus? Apa kalian tidak bosan?" kata Zach.
"Tapi memang manusia serigala seperti kita harus terus berlatih Zach, agar kita siap." jawab Adrian.
"Siap? Siap untuk apa?"
"Jika ada manusia serigala lain yang menyerang kawasan kita dan juga jika terjadi perang."
"Pe-perang kata kalian? Yang benar saja." kata Daryl menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Aaron?"
"Jason dan Brad sedang menjemputnya. Tidak usah khawatir."
"Ohh baiklah. Ayo kita pergi."
Baru beberapa langkah Zach berhenti. Matanya mendapati sosok Nat dan Matt. Mereka seperti sedang waspada akan sesuatu. Zach merasa curiga.
"Kalian tunggu disini sebentar. Aku akan segera kembali." Zach berlari mengejar Nat dan Matt.
"Hei, Zach! Kamu mau kemana?!"
Zach tidak mendengarkan. Dia masih mencoba mengikuti Nat dan Matt. Dia yakin mereka menuju ke suatu tempat, tapi di mana, Zach tidak tahu. Zach kehilangan jejak mereka. Zach memutup matanya, berusaha untuk menggunakan telinga manusia serigalanya. Dia mendengar beberapa orang berbicara tapi tidak ada suara Matt. Zach mencoba lebih fokus lagi.
"Dibelakang sekolah saja."
"Baiklah."
Itu dia! Itu suara mereka! Zach sudah hafal suara Matt karena sering berlatih basket bersama. Zach berlari menuju ke belakang sekolah. Zach berusaha berlari secepat mungkin tanpa menggunakan kekuatan serigalanya.
Tak lama Zach sampai. Zach tidak melihat siapapun disana.
"Jangan bercanda. Kamu pasti mengetahui sesuatu."
Zach menghentikan langkahnya. Zach mendekat perlahan.
"Sudah aku bilang aku tidak tahu." kata seseorang yang lain. Itu seperti suara... Karen.
"Dia menyelamatkanmu dan mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkanmu. Jadi kamu pasti tahu sesuatu."
"Ada apa sebenarnya denganmu Nat? Kenapa kamu jadi seperti ini?"
"Mungkin kamu tidak tahu tapi aku memang seperti ini."
"Tidak, kamu berubah. Kita berteman semenjak SMP! Dan kamu bukanlah Nat yang aku kenal."
"Tentu saja, Nat yang kamu kenal, Nat yang nerd itu, sudah mati. Dan sekarang, kamu akan memberitahukanku siapa Zachary Payne sebenarnya."
Zach muncul dari tempat dia bersembunyi. Dia melipat kedua tangan di depan dadanya dan menatap tajam Matt dan Nat. Matt dan Natasha terkejut. Mereka mundur beberapa langkah.
"Kenapa kalian harus bertanya ada orang yang tidak mengetahui apapun? Cepatlah... Tanyakan padaku." tantang Zach.
"Si-siapa kamu sebenarnya?" tanya Matt.
"Zachary Payne." jawab Zach.
"Ha! Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Aku memang Zachary Payne. Memang kalian ingin aku menjawab apa? Bahkan kalian tahu ibuku salah satu guru disini. Ibu Cho, kalian ingat?"
"Lalu apa kamu? Apa sebenarnya kamu?!"
"Nah... Itu pertanyaan berbeda. Aku manusia, tentu. Kalian bisa lihat. Atau aahh..." Zach maju mendekati mereka. "Apa kalian berpikir aku adalah... Makhluk itu? Vampir?"
Zach tertawa terbahak. Natasha dan Matt saling menatap bingung.
"Kalian sudah gila." Zach membuka mulutnya. "Lihat aku tidak punya taring."
"Dan ini.." Zach mengambil sebuah apel dari tasnya lalu memakannya. "See? Aku bahkan bisa makan apel. Dan juga aku bisa berdiri di siang hari seperti ini."
Zach berjalan menuju tempat yang disinari matahari dan berdiri disana.
"Lihat? Tidak terjadi apapun. Aku bukan vampir." kata Zach. Dia tersenyum senang. Dia mengetahui semua ciri khas vampir dari Rodney. Thanks Rodney.
Zach menghampiri mereka lagi.
"Lalu... Bagaimana kamu bisa melawannya?" tanya Nat.
"Hmm... Adreanalin?" jawab Zach seenaknya. Nat dan Matt menatap heran.
"Kita lihat, apa adrenalin mu masih berfungsi dengan baik."
Matt maju dan memukul Zach tepat di wajahnya. Matt memukul Zach tanpa henti.
"Tidak, berhenti! Apa yang kamu lakukan?!" Karen mencoba menggentikan mereka tapi Nat mencegahnya.
"Lepaskan aku, Nat." pinta Karen tapi Natasha masih memegangnya dengan kuat.
Matt sudah berada di atas tubuh Zach. Matt masih melayangkan tinjunya. Wajah Zach sudah berdarah dan terluka. Tapi Zach masih tidak ingin menggunakan kekuatannya.
Matt terus memukulinya hingga akhirnya Zach tidak tahan lagi dan mendorong kuat tubuh Matt. Matt terhempas cukup jauh. Zach berdiri dan mendatangi Matt yang masih tergeletak di tanah. Zach mengangkat tubuh Matt dan mendorongnya ke dinding dan menekan tubuhnya.
"Aku minta, kamu menjauhi Karen. Jangan mengganggunya, bahkan mendekatinya. Jika kamu mendekatinya sedikit saja, kamu akan berhadapan denganku." ancam Zach.
"Oh ya? Apa yang akan kamu lakukan?" tantang Matt. Bola mata Zach berubah menjadi hitam pekat. Matt yang menyaksikan itu terkejut.
"Aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk menyakitimu." bola mata Zach berubah menjadi merah pekat. Matt semakin terkejut dan takut. "Dan aku bisa pastikan, kamu tidak akan menyukainya."
Zach melepaskan Matt. Dia mundur perlahan sambil mengelap darah yang ada di wajahnya.
"Asal kau tahu Matt. Ini..." Zach menunjuk wajahnya yang terluka dan berdarah. "... Ini tidak akan menyakitiku."
Zach berbalik dan melepaskan Karen dari Nat lalu dia menarik Karen untuk mengikutinya.
"Matt! Kamu tidak apa-apa?" tanya Nat.
"Sebenarnya siapa dia?"
"Apa maksudmu Matt? Zach manusia. Kau lihat tadi dia--"
"Matanya Nat, bola matanya berubah!"
"Berubah?"
"Ya, warna hitam pekat, lalu menjadi... Menjadi merah."
"Apa? Mungkin kamu hanya halusinasi."
"Tidak Nat! Aku tidak berhalusinasi."
"Oh baiklah, baiklah. Kita pergi saja dari sini."
Nat memapah Matt dan membawanya pergi.
Zach masih menarik tangan Karen. Karen mencoba menghentikan Zach tapi Zach terlalu kuat.
"Zach.." panggil Karen. Zach tidak menghiraukannya. "Zach!! Kau menyakitiku!"
Zach menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tangannku sakit Zach." kata Karen. Zach melepaskan pegangannya.
"Maaf." ucap Zach. Karen memegangi pergelangan tangannya. "Kamu baik-baik saja?"
"Seharusnya kamu tidak perlu membantuku." kata Karen.
"Tapi mereka sudah keterlaluan padamu."
"Aku baik-baik saja. Apa kamu lupa aku bisa berkelahi? Jika mereka manusia biasa aku masih bisa melawan mereka."
"Kamu... Pasti terkejut."
__ADS_1
"Tentang?"
"Uhmm... Kamu tahu.. Vampir."
"Jadi... Selama ini kamu tahu mereka itu nyata Zach?"
"Tidak, aku tidak tahu soal itu. Aku baru melihatnya waktu itu."
"Tapi kamu tidak terlihat terkejut."
"Well yeah, hidupku sudah penuh dengan kejutan yang luar biasa jadi menambah satu kejutan lagi tidak masalah." kata Zach. Karen mengerutkan keningnya mencoba mencerna kata-kata Zach.
"Aku yakin.. Aku tidak mengerti dengan perkataanmu."
"Lupakan saja. Kamu yakin baik-baik saja Karen? Temanmu--"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Aku bisa jaga diriku."
"Aku tahu itu Karen... Aku hanya--"
"Aku tahu kamu merasa kasihan padaku. Aku tidak perlu di kasihani." Karen melangkah pergi.
"Tidak Karen, maksud aku..."
"Hai Zach..."
Karen dan Zach menoleh. Ashley tersenyum dan mendatangi mereka.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Ashley.
"Oh hai Ashley, aku hanya... Uhmm.."
Karen mendengus kesal lalu pergi meninggalkan Zach dan Ashley.
"Siapa dia Zach?"
"Dia... "
"Zach!!"
Adrian dan Kian beserta Rodney dan Daryl datang dan mendekati mereka.
"Kau ini dari mana saja? Kami mencarimu kemana-mana." omel Daryl.
"Ahh maaf aku..."
"Hai Ash.." sapa Daryl pada Ashley.
"Hai Daryl." balas Ashley.
"Ayo alp-- maksudku Zach. Kita harus pergi. Kamu tahu itu." kata Adrian.
"Ya, ya.. Aku tahu. Aku pergi dulu Ashley, nanti kita bicara lagi."
"Kamu mau kemana?" tanya Ashley.
"Aku... Uhmm... Ada hal penting yang harus aku lakukan. Jadi... Sampai jumpa lagi."
Zach berjalan dan berdiri ditengah-tengah antara Rodney dan Daryl yang berdiri berdampingan lalu memeluk mereka bersamaan.
"Tolong awasi Karen untukku." bisiknya pada Daryl dan Rodney lalu menepuk pundak keduanya dan berlalu pergi. Mereka berdua hanya saling menatap dan menghela nafas.
****
Aaron membantu ibu Zach membersihkan garasi. Aaron dengan senang hati membantu. Dia tidak punya hal lain yang bisa dia kerjakan di kota ini. Bahkan dia tidak bisa bersekolah. Jadi dia memutuskan membantu ibu Zach meskipun tanpa diminta.
"Selamat sore Luna." sapa Jason.
"Kamu adalah..."
"Jason, luna. Saya datang bersama raja Kei." kata Jason.
"Ahh iya. Halo Jason." sapa ibu Zach.
"Apa perlu kami bantu luna?" tawar Brad.
"Ahh tidak perlu, kami sudah hampir selesai. Dan tolong jangan panggil aku luna. Aku bukan istri dari alpha kalian."
"Tapi luna mate dari Alpha Dustin. Meskipun anda bukan istrinya, anda tetap luna kami." kata Brad.
"Oh baiklah, aku menyerah soal itu." kata Ibu Zach. "Apa kalian ingin bertemu Zach? Zach belum pulang. Seharusnya sudah, tapi mungkin dia bersama Daryl dan Rodney."
"Tidak luna. Adrian dan Kian sudah pergi menjemput alpha Zach. Kami kemari untuk menjemput beta Aaron."
"Aaron?" ulang ibu Zach.
"Iya luna."
Aaron yang mendengar namanya di sebut langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Jason dan Brad.
"Saya? Menjemput saya? Untuk apa?" tanya Aaron.
"Kami disuruh beta Ian menjemput anda beta Aaron. Untuk berlatih."
"Ahh baiklah. Tapi saya masih..."
"Tidak apa-apa Aaron, pergilah. Lagipula sebentar lagi selesai." kata ibu Zach.
"Tidak luna. Apa kalian bisa pergi duluan? Saya akan segera menyusul. Apa tempat latihan, tempat yang kemarin saya bertemu dengan kalian?"
"Tentu beta. Tapi beta Ian berkata kami tidak boleh meninggalkan anda." kata Brad.
"Yaah seperti itulah Ian. Dia beta yang cerewet." kata Jason.
"Dia betamu Jason." kata Brad.
"Lalu? Dia memang begitu."
"Sudahlah, aku tidak perlu mendengarkanmu."
"Aku juga tidak memintamu mendengarkanku."
"Kau--"
"Ehem..." ibu Zach berdehem. Jason dan Brad menoleh. "Apa kalian akan bertengkar disini?"
"Maaf luna." kata Brad.
"Saya juga minta maaf, luna."
"Saya akan segera menyusul." kata Aaron.
"Tidak apa-apa Aaron, kamu bisa pergi bersama mereka." kata ibu Zach.
"Tidak luna, biarkan saya membantu luna. Setidaknya untuk berterima kasih karena luna sudah memberi saya tempat untuk tinggal." kata Aaron. Ibu Zach menghela nafas.
"Baiklah. Kalian berdua pergilah duluan. Ini tidak akan lama."
"Baik luna. Kami pergi beta." kata Brad lalu pamit, disusul Jason.
"Apa kamu yakin kita meninggalkan beta Aaron?" kata Jason.
"Tidak, aku tidak yakin." jawab Brad.
"Kamu tidak percaya padanya juga kan? Sama sepertiku."
"Bukan begitu Jason, aku hanya takut dia tersesat."
"Apa? Hei, dia manusia serigala. Dia pintar mencium bau dan mendengar suara. Dia tidak akan tersesat."
"Akhh baiklah, baiklah. Kita tunggu dia di tengah jalan." Brad mempercepat langkahnya.
"Hei, tunggu aku! Kenapa jalanmu cepat sekali?!"
****
Aaron mengganti baju nya dengan baju yang baru. Ibu Zach membelikannya beberapa baju kaus dan celana jeans. Aaron meminta ijin untuk pergi lalu segera menyusul Jason dan Brad ke hutan untuk latihan.
Aaron tampak sedikit gelisah. Kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran sejak semalam. Dia begitu tidak tenang.
Tiba-tiba Aaron mendengar suara. Dia menghentikan langkahnya.
"Jason? Brad? Is that you?" tanya Aaron.
"Apa itu nama-nama teman barumu?" tanya seseorang di belakangnya. Aaron menoleh dan terkejut.
"Nathan?"
"Oh kamu masih ingat padaku. Senang sekali mendengarnya." ejek Nathan. Muncul lagi dua orang di samping Nathan. "Kamu tahu Aaron, kami kira kamu sudah menjadi mayat setelah gigitan alpa murni itu. Ternyata lihatlah! Kau hidup!"
"Sepertinya alpha itu menyembuhkannya." kata Brian.
"Ya, benar Brian. Aku juga yakin. Bahkan di tinggal bersama alpha itu. Apa sangat menyenangkan tinggal dengan mereka, sehingga kau lupa dengan packmu sendiri? Atau jangan-jangan kamu mau berkhianat?"
"Aku bukan pengkhianat." kata Aaron.
"Oh ya? Aku tidak yakin itu. Tampaknya kamu sangat nyaman disini. Apa kamu lupa dengan keluargamu disana? Ibumu yang cacat dan kedua adikmu?"
"Jika kalian menyentuh mereka aku bersumpah aku akan--"
"Kami tidak akan menyentuhnya. Tapi... Kami tidak menjamin jika itu alpha Roger. Kamu tahu bagaimana alpha Roger kan? Dia mencarimu Aaron."
Aaron terdiam mendengar kata-kata Nathan.
"Pulanglah bersama kami. Kalau kamu tidak ingin ibumu yang cacat dan kedua adikmu itu mati di tangan alpha Roger." kata Nathan lagi.
"Kami beri waktu hingga tengah malam ini Aaron." lanjut Brian. "Kami akan menunggumu di perbatasan kota ini. Pikirkanlah dengan bijak, Aaron. Keluargamu yang jadi taruhannya."
"Beta!!"
Jason dan Brad tiba di sana. Mereka berdiri di depan Aaron dan menggeram.
"Ohh jangan salah paham. Kami datang bukan untuk mencari masalah. Kami hanya menyapa kawan lama yang kami kira sudah mati di tangan alpha kalian." kata Nathan lalu, tersenyum. "Kami akan pergi dan tidak akan kembali. Ingat kata-kataku, Aaron."
Ketiga manusia serigala itu segera berubah menjadi serigala dan pergi meninggalkan Aaron, Jason dan Brad.
"Anda tidak apa-apa Beta? Apa mereka menyakitimu?" tanya Brad.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." kata Aaron sambil masih menatap kepergian kawan lamanya.
...****...
__ADS_1
tadariez