My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Penyerangan


__ADS_3

"Si-siapa kamu?" tanya Kei.


Kei mundur beberapa langkah. Kei tahu mereka bukan manusia serigala ataupun manusia biasa.


"Apa kamu tidak mengenalku pangeran?" tanya pria itu. Kei hanya diam. "Ahh sangat mengecewakan. Padahal kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Apa kamu tidak ingat pangeran? Atau harus saya panggil alpha?"


Mata Kei terbelalak. Dia mengenali orang itu. Dia adalah orang yang menyerangnya dan Bian saat di hutan waktu itu. Iya, Kei yakin sekali dia orangnya. Dia ingat seringaiannya.


"Ma-mau apa kamu?" tanya Kei lagi.


"Panggil saya Horvick alpha. Saya hanya ingin sesuatu dari anda." kata Horvick.


"Sesuatu dariku? Apa itu? Dan kenapa kamu sangat sopan padaku?"


"Sesuatu yang tidak seharusnya anda kenakan dan tentang saya sopan pada anda, bukannya itu sudah seharusnya? Alpha dari segala alpha, raja dari kaum Lycantrhope. Tentu saya harus bersikap sopan." kata Horvick dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan." kata Kei lalu beranjak pergi. Tapi baru satu langkah, tiba-tiba salah satu dari mereka menghalangi jalannya.


"Minggir." sahut Kei dingin. Tapi orang itu tidak bergerak sama sekali.


"Maaf alpha, tapi anda tidak akan bisa pergi sampai saya mendapatkan apa yang saya mau." kata Horvick.


Kei menggeram kesal. Dia bersiap merubah dirinya menjadi serigala. Tapi tiba-tiba Kei merasa tercekik. Nafasnya sesak dan lehernya terasa sakit tapi tidak ada satu tanganpun di lehernya. Horvick mencekiknya tanpa menyentuhnya.


"Ambil kalungnya." perintahnya pada satu orang yang menghalangi jalan Kei tadi.


Orang itu berjalan mendekati Kei dan meraih kalung itu. Tapi belum sempat menggapainya, pria itu terhempas jauh. Horvick dan satu orang lagi terkejut. Mereka menoleh.


"Lepaskan dia." sahut orang itu.


"Magnofold." gumam Horvick. Tapi Horvick tidak melepaskan cekikannya. Kei sudah mulai lemas.


"Aku bilang lepaskan." kata orang itu lagi. Orang itu adalah Kate, yang menjaga Tania.


"Sangat tidak sopan mencampuri urusan seseorang, Magnofold." kata Horvick.


"Urusan dengannya berarti urusanku juga." kata Kate. "Depercantian!!"


Kate menyerang Horvick dan dengan cepat Horvick menghindar, membuatnya melepaskan sihirnya dari Kei. Kate langsung berlari pada Kei. Kei masih batuk-batuk dan mencoba bernafas normal.


"Ayo bangun, ayo kita pergi dari sini." Kate membantu Kei berdiri.


"Tidak secepat itu." kata Horvick dan mengayunkan tangannya. Kate terhempas. Kate mencoba langsung berdiri.


"Kei! Rubah dirimu dan pergilah! Aku akan menahan mereka! Cepat." kata Kate yang sudah berdiri. "Electrico!! Sekarang Kei!!!"


Kei menurut dan merubah dirinya menjadi serigala. Kei berlari menjauhi mereka.


"Perempuan terkutuk." umpat Horvick. Horvick menyerang Kate secara brutal. Kate sibuk menghindari serangan itu.


"Kalian berdua tahu apa yang kalian harus lakukan." kata Horvick pada kedua orang yang bersamanya tadi. Kedua orang itu mengangguk dan langsung pergi mengejar Kei.


"Sekarang hanya kita berdua Mognofold. Ini pertarungan antara hidup dan mati. Kita lihat siapa yang akan mati malam ini dan ini... Sangat menyenangkan."


****


Kei berlari tidak tentu arah. Dia hanya terus berlari menjauhi para penyihir itu.


'Ian! Ian, apa kau mendengarku?'  Kei mencoba mindlink Ian.


'Kei! Kamu dimana? Kenapa kamu pergi dari rumah? Apa kamu sudah gila?!' balas Ian.


'Bukan saatnya memarahiku. Tolong aku, aku sedang melarikan diri dari penyihir itu.'


'Apa?! Dimana kamu?'


Kei berhenti berlari dan melihat sekitarnya.


'Aku di dalam hutan belakang sekolah.'


'Pergilah ke tempat latihan, aku kesana sekarang.'


Kei memutuskan mindlinknya dan segera berlari lagi. Tiba-tiba ada sesuatu yang bersinar melewatinya. Kei terkejut dan berhenti. Dia menoleh.


'Sial! Penyihir itu lagi! Aku harus cepat.'


Kei berlari lagi tanpa menoleh. Para penyihir itu masih menghujaninya dengan sihir. Tiba-tiba Kei terhempas dan mengenai pohon di sampingnya.


'Ugh... Sakit.'


Kei bangkit dan menggeram keras. Penyihir itu menyerang Kei menggunakan sihirnya. Kei menghindar. Kei melompat tinggi dan menyerang salah satu penyihir itu. Penyihir itu tergeletak di tanah. Dengan cepat Kei menggigit pundak penyihir itu.


"Aaaarrrgggg....!!!!" penyihir itu berteriak kesakitan. Tapi tak lama tubuh serigala Kei kembali terhempas. Dengan sigap Kei menyeimbangkan tubuhnya hingga berhasil menyeimbangkan dirinya. Kei menatap penyihir itu tajam.


"Deparcantian!!" penyihir itu melontarkan mantra pada Kei. Mantra itu mengenai Kei tapi anehnya mantra itu tidak membuat Kei terhempas seperti yang seharusnya. Penyihir itu terkejut dan kembali melontarkan mantra secara bertubi-tubi. Tidak ada yang berhasil. Kei menggeram keras dan berlari menuju ke penyihir itu lalu menerjangnya. Tubuh penyihir itu jatuh ditanah. Tidak membuang kesempatan, Kei mencabik-cabik tubuh penyihir itu sampai penyihir itu tidak bergerak lagi.


'Kei...' Kei menoleh dan menggeram. 'Kei, ini aku Ian.'


Ian sudah berubah menjadi serigala dan mendekati Kei perlahan.


'Kei.' panggil Ian lagi.


'Iya, Ian. Aku baik-baik saja. Kalung yang di berikan Bian berhasil dengan baik. Aku tidak berubah.'


'Aku melihatnya. Ayo kita pulang.'


Mereka berlari bersama-sama masih dengan wujud serigala mereka.


Prang!!


Terdengar suara sesuatu yang pecah. Kei dan Ian berhenti berlari.


'A-apa itu?' tanya Kei.


Ian tidak menjawab. Dia mencari-cari asal suara itu lalu dia tersadar. Dia mendongakkan kepalanya.


'Sial!!' umpat Ian. Kei terkejut.


'Ada apa? Suara apa itu?' tanya Kei.


'Kita harus pergi Kei, sekarang!!"


'Tapi ada apa Ian?!'


'Kota ini dilindungi oleh mantra pelindung dari penyihir kaum putih Kei, jadi kaum hitam dan pasukan Ordovic tidak bisa masuk. Tapi mantra itu sudah hilang. Mereka datang Kei, kita harus cepat.'


'Tunggu dulu, apa maksudmu mantra pelindung? Lalu bagaimana penyihir yang menyerangku itu bisa masuk?'


'Memang sudah di curigai ada beberapa penyihir masuk, untuk itulah bukan Bian yang menjagamu, dia mencari para penyihir itu, tapi mereka begitu licik. Ayolah, nanti saja ceritanya. Kita harus segera pergi ke rumah alpha Sebastian.'

__ADS_1


Ian mulai berlari. Kei mengikuti Ian dari belakang. Ian menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Ternyata kamu disini." kata seseorang di depan mereka. Pria itu mengenakan pakaian hitam. Rambutnya sebahu dan terlihat kusut.  Ian menggeram keras, mencoba untuk  mengancam orang itu. Pria itu hanya tersenyum sinis.


"Mungkin aku hanya sendiri, tapi apa kalian tahu? Jika kaum putih memiliki yang terpilih sebagai pemimpin, maka kaum hitam memilikiku. Tidak ada gunanya kalian menggeram padaku." kata pria itu.


Ian menundukkan tubuhnya sedikit, bersiap untuk menyerang. Ian melompat tinggi, tapi belum sampai di pria itu, Ian terjatuh. Pria itu sudah mengayunkan tangannya.


"Închină-te mie"


Pria itu merentangkan tangan kanannya. Ian merasa kesakitan. Tulangnya terasa remuk. Nafasnya sesak. Ian mengerang kesakitan. Kei menggeram. Pria itu mernentangkan tangan kirinya.


"Închină-te mie"


Pria itu mengucakan mantra yang sama. Tubuh Kei langsung terjatuh di tanah.


"Sayang sekali. Seharusnya kamu berguna. Tapi aku sudah memiliki perjanjian. Meskipun aku bukan orang yang baik, tapi aku orang yng menepati kata-kataku." kata Pria itu. Pria itu berjalan mendekati Kei yang telah merubah dirinya menjadi manusia.


"Entah apa yang dilakukan Horvick bodoh itu sampai-sampai tidak becus mengurus satu anak remaja." katanya setelah sampai di depan Kei. Pria itu memegang kalung yang di kenakan Kei.


"Ti-tidak, ja-jangan.. " pinta Kei.


"Jauhi dia." kata Ian yang sudah berdiri tegap. Pria itu menoleh dan merentangkan tangannya lalu mencekik Ian tanpa menyentuhnya. Dengan sihirnya, dia membuat tubuh Ian melayang dan mendekat pada pria itu. Pria itu memperhatikan wajah Ian saat dia sudah dekat.


"Beta." gumamnya lalu menyeringai sinis. Pria itu lalu melempar Ian jauh dan mengenai pohon lalu jatuh ke tanah. Tangannya yang masih memegang kalung Kei lalu menarik kasar kalung itu hingga terlepas dari leher Kei.


"Kamu tahu pangeran, sebentar lagi tengah malam. Jika kamu bisa melewati hari esok, kamu akan menjadi alpha yang sangat kuat, yang di ramalkan akan menjadi raja dari segala alpha. Saranku, jangan sampai terbunuh."


Kata pria itu dengan senyuman sinisnya. Pria itu lalu pergi dengan berteleportasi.


****


Sementara itu di rumah Tania, kate sudah tergeletak lemas di tanah. Tubuhnya lemah dan sakit. Tapi dia tidak menunjukkan itu pada Horvick. Kate berdiri tegak.


"Kamu tidak akan bisa melawanku dengan semudah itu Magnofold." kata Horvick. Horvick juga sudah tampak lemah. "Mari kita selesaikan."


"Blessimort i......... Aaaarrrgghhh!!!"


Tubuh Horvick bergetar hebat, seperti tersengat aliran listrik. Bian menyihir Horvick lalu berlari mendatangi Kate yang sudah duduk bersandar di pohon.


"Kate kamu tidak apa-apa?" tanya Bian. Kate hanya mengangguk lemah.


"Pe.. perem.. puan.. Si.. Sialan.." rintih Horvick.


"Jake, tolong aku." kata Bian sambil menunjuk Horvcik. Jake yang telah berubah menjadi serigala langsung menyerang Horvick dan mencabik-cabik tubuhnya sampai tidak bergerak lagi.


"Bian..." panggil Kate.


"Jangan berbicara dulu. Aku akan menyembuhkan lukamu dulu." kata Bian.


"Bian, Tania.. Dia.. Dia diculik." kata Kate. Bian menutup mata dan menghela nafas panjang.


"Sudah aku duga." gumamnya.


"Apa?"


"Tidak. Diamlah. Biar aku menyembuhkanmu."


Bian menggunakan sihirnya menyembuhkan Kate yang terluka cukup parah.


"Aku ke kamar Tania dulu. Aku ingin mengambil sesuatu milik Tania." kata Bian setelah menyembuhkan Kate.


"Tidak apa-apa Kate, kita akan mendapatkan Tania kembali." kata Bian sambil mengambil ikat rambut itu.


Bian menutup mata dan berkonsentrasi.


"Tania." gumamnya.


Tak lama ada cahaya masuk ke dalam dirinya. Nafas Bian tertahan. Bian melihat sesuatu di pikirannya. Sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu kecil. Ada Tania disana, diikat di sebuah kursi.


Bian membuka matanya. Nafasnya memburu.


"Kamu tahu dimana?" tanya Kate. Bian menggeleng.


"Aku masih tidak tahu. Aku masih terlalu lemah. Aku akan mencoba lagi." kata Bian.


"Tidak, sudah cukup. Kita akan mencari cara lain." ucap Kate.


"Kita tidak punya dan tolong jangan berdebat denganku." tegas Bian.


Bian kembali menutup matanya dan menyebut nama Tania. Cahaya putih datang lagi begitu juga nafasnya yang tertahan. Bian kembali melihat Tania, kali ini dia melihat dengan sangat jelas dimana Tania. Bian membuka matanya.


"Di Lykort." sahut Bian. "Pack Moon Lykort."


"Jauh sekali. Berarti dalang penculikan adalah Ordovic." kata Kate. Bian mengangguk. Bian membalikkan tubuhnya dari Gina. Dia menyeka hidungnya yang sudah mengeluarkan darah.


"Jake, kamu dan Mike pergi mencari Kei dan bantu Ian menjaganya. Aku dan Kate akan pergi ke Pack Moon Lykort. Dan jika kamu bertemu dengan tuan Augys Harris, minta padanya untuk menyusulku ke Lykort dan untuk tuan Damian Breggier untuk melakukan rencana alpha Sebastian. Jangan beritahukan tentang Tania pada siapapun kecuali Damian dan Augys."


Jake dan Mike yang masih berwujud serigala langsung pergi. Kate dan Bian berpegangan tangan dan langsung berteleportasi.


****


Rumah alpha sebastian sudah terlihat ramai. Semua orang berkumpul disana termasuk ayah dan ibu Kei.


Seluruh perbatasan sudah di jaga ketat oleh pasukan pack Moon Sykort, dipimpin oleh omega-omega yang terlatih. Beberapa pasukan berjaga di tempat tinggal manusia biasa.


Ian dan Kei sampai di rumah Sebastian. Ayah Kai langsung memeluk Kei.


"Kei apa kamu tidak apa-apa?" tanya ayah Kei. Kei mengangguk.


"Kalung Kei ayah. Kalung Kei di ambil." kata Kei.


"Apa?! Oleh siapa?" tanya ayah Kei.


"Kei tidak tahu ayah." jawab Kei.


"Penyihir dan dia sangat kuat." tambah Ian.


"Sudahlah, yang terpenting kalian baik-baik saja." kata ayah Kei.


"Itu benar." tambah Sebastian.


"Alpha!" George berlari mendatangi Sebastian. "Perbatasan diserang."


"Apa mereka masih sanggup untuk mengatasinya?" tanya Sebastian.


"Mereka kewalahan. Dan yang terpenting.... Mereka mareka memasuki wilayah manusia biasa. Mereka bisa terluka." lapor George.


"Kirim pasukan lagi dan George, bawa Kian dan pergi ke arah berlawanan pastikan disana aman lalu pergi bantu aku. Aku akan pergi bersama

__ADS_1


pasukan kita untuk mengamankan manusia biasa." kata Sebastian.


"Dan alpha, mereka sangat banyak. Gabungan antara hybrid dan beberapa pack yang sudah mengetahui tentang Kei. Saya pamit."


George pergi.


"Aku akan membantumu. Sudah saatnya aku ikut bertempur." kata ayah Kei. Sebastian mengangguk. "Kei masuklah ke rumah Sebastian dan tunggulah bersama ibumu dan adikmu didalam."


"Tidak ayah, biarkan Kei ikut. Kei bisa membantu." pinta Kei.


"Tidak Kei, jangan mengambil resiko. Tunggulah disini."


"Tapi..."


"Jangan membantah Kei." kata ayah Kei tegas. Kei menghela nafas.


"Baiklah."


"Dan kamu Ian, tetaplah disini dan jaga Kei. Aku menitipkan Kei padamu. Jagalah dia. Aku tahu kamu mampu." kata ayah Kei sambil menepuk pundak Ian. Ian menangguk.


Ayah Kei bersama Sebastian pergi menuju pemukian manusia biasa bersama pasukan manusia serigala dan beberapa Knirer. Damian meminta bantuan Knirer untuk membantu.


"Masuklah Kei, aku akan berjaga disini." kata Ian. Kei hanya diam. "Ayolah Kei." bujuk Ian.


"Aku merasa tidak berguna." keluh Kei.


"Jangan berkata seperti itu, pergilah." kata Ian. Kei mengangguk dan masuk ke dalam rumah.


Kei mendatangi Damian yang berdiri bersama beberapa Elder.


"Tuan, apa portal telah siap?" tanya Ian.


"Tentu saja. Aku sudah mengumpulkan Elder yang terkuat untuk membuka portal." kata Damian.


"Kami akan berusaha membantu karena ini menyangkut orang banyak anak muda." kata seorang Elder lain bernama Barnabas. Ian mengangguk.


"Masih berapa lama lagi?" tanya Elder tua perempuan bernama Felicia.


"Sekarang jam setengah dua belas. Menurut orang tua Kei, Kei lahir pukul tiga pagi, berarti tiga setengah jam lagi." kata Damian.


"Mudah-mudahan semua baik-baik saja." kata Augys.


Tuan..!! Tuan..!!" panggil Jake yang sudah sampai di kediaman Sebastian. Semua orang menoleh.


"Jake? Apa ada masalah?" tanya Ian setelah Jake sampai di sebelahnya. Dia masih tidak menjawab dan masih berusaha mengatur nafasnya.


"Tuan Harris." panggil Jake setelah nafasnya teratur. "Bian meminta and menyusulnya ke pack Moon Lykort."


"Pack Moon Lykort? Untuk apa ke sana?" tanya Ian.


"Tania di culik. Bian dan Kate mencoba menyelamatkannya." kata Jake.


"Pergilah Augys." kata Damian. Augys mengangguk lalu segera berteleportasi.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Ian. Jake mengangguk.


"Dimana alpha?" tanya Jake.


"Mereka pergi menyelamatkan manusia. Pergilah anak muda, bantulah alphamu, lakukan tugasmu sebagai gamma." kata Damian. Jake mengangguk lalu pergi berlari dan merubah dirinya menjadi serigala lagi.


"Tania diculik? Apa berarti mereka tahu tentang Tania?" tanya Ian.


"Jika Tania harus mati untuk Kei, aku rasa tidak. Tapi jika Tania bisa menghalangi semua ini, iya mereka tahu. Untuk itulah mereka menculiknya." kata Damian. Damian melihat kekhawatiran di wajah Ian. Damian menepuk pundak Ian. "Jangan khawatir."


"Bagaimana saya tidak khawatir tuan.  Kalung Kei di ambil, kita diserang oleh banyak pihak yang saya yakin itu ulah Ordovick sialan itu yang menghasut para alpha dari pack lain. Lalu... Satu-satunya senjata terakhir di culik sementara aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantu!! Aku sungguh tidak berguna!!" rutuk Ian. Dia sangat kesal pada dirinya.


"Jangan berkata seperti itu. Kamu sudah melakukan yang kamu bisa, semua orang juga begitu. Kamu adalah beta yang kuat dan hebat Ian, kamu harus percaya itu. Sekarang masuklah. Temani Kei. Biar kami, para Elder dan Knirer yang berjaga di luar." kata Damian. Ian menghela nafas panjang.


"Baiklah, saya permisi." kata Ian. Ian masuk kedalam rumah.


"Apa dia seorang beta?" tanya Barnabas.


"Iya, beta dari Kei." kata Damian.


"Aku sungguh bingung dengan semua ini. Kei adalah keturunan Eros. Eros yang merubah klan manusia serigala dari yang awalnya hanya bisa berubah saat bulan purnama, sekarang mereka bisa berubah kapanpun. Tapi bukankah sudah seharusnya Kei yang menjadi raja di Lycanthrope? Kenapa Ordovic?"


"Karena iri Barnabas dan juga serakah. Dia kira dengan mengambil tahta kakaknya dan membunuh keponakannya dia bisa mengubah takdir. Tapi dia justru membangkitkan makhluk itu." kata Damian.


"Aku merasa kasihan pada gadis itu, siapa namanya?" kata Felicia.


"Tania, Tania Reynolds." kata Damian.


"Iya, dia. Kasihan sekali." kata Felicia.


"Ya, itu sudah takdirnya." kata Damian. Raut wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Damian, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?" tebak Felicia.


"Ahhh tidak, tentu saja tidak Feli."


"Damian, aku sudah mengenalmu sangat lama dan bahkan aku lebih mengenalmu dari dirimu sendiri. Aku tahu raut wajah itu. Katakan Damian, ada apa? Apa ini tentang anak itu? Kei?" sahut Felicia.


"Tidak, bukan. Ini tentang Bian. Aku khawatir pandanya." kata Damian.


"Ada apa dengannya?" tanya Barnabas.


"Memasuki kuil Moon Goddes sudah menyita tenaga dan sihirnya dan aku tahu dia melakukan sesuatu. Aku sudah bertanya tapi dia tidak mengatakannya." jelas Damian.


"Apa ini karena Kei? Aku melihat ada sihir di tubuhnya" kata Felicia.


"Kamu melihatnya juga?" tanya Damian.


"Tentu."


"Bukannya itu sihir perlindungan?" tanya Barnabas.


"Bukan, itu sihir kuno. Aku hanya berharap dia tidak melakukan sesuatu yang mengancam dirinya sendiri." kata Damian.


"Bian anak yang kuat Damian. Aku rasa dia akan baik-baik saja."


"Ya, aku harap begitu."


"Jika Kei berubah, akan ada banyak yang mati malam ini." guman Felicia.


Semua orang diam, tidak berbicara lagi. Mereka melihat kilatan seperti petir di langit, menandakan pertarungan sengit sedang berlangsung.


****


tadariez

__ADS_1


__ADS_2