
Zach masih menatap Kei dengan tatapan yang sulit di mengerti. Zach juga belum membalas sapaan Kei.
"Zach?"
Panggilan ayahnya membuyarkan lamunannya.
"Yang mulia menyapamu." ayahnya mengingatkan.
"Aahh, iya. Uhm... Halo... Err.. Yang.. Mulia?" kata Zach. Entah itu pernyataan atau pertanyaan yang dilontarkannya. Kei tersenyum geli mendengarnya.
"Waah dia tampan sekali." puji Karen dengan suara yang sangat pelan. Tapi Kei dan Zach mendengar itu dengan jelas. Zach menatap Karen dengan tatapan tidak suka, sementara Kei mencoba untuk menahan senyumnya.
"Maaf, tapi aku sudah ada yang punya." kata Kei pada Karen.
"Hah??" Karen nampak terkejut.
"Sudahlah, ayo kita pergi Karen." ajak Zach.
"Kalian akan pergi? Tapi yang mulia baru saja datang Zach." kata ayahnya.
"Zach... Uhm... Ada pesta yang harus Zach hadiri. Zach sudah berjanji pada... Uhm.. Karen untuk datang." jawab Zach terlihat ragu. "Ini acara sekolah ayah, jadi tolong di pahami. Permisi."
Zach menarik tangan Karen yang bingung namanya di jadikan Zach sebagai alasan.
"Zach, mereka siapa?" tanya Karen saat sudah di samping motor Zach.
"Bukan siapa-siapa." sahut Zach dingin.
"Kenapa laki-laki tampan itu di panggil dengan sebutan yang mulia? Apa dia raja? Tidak mungkin, dia masih terlalu muda. Pangeran?" tanya Karen lagi. Zach menghela nafas kasar.
"Apa dia terlihat tampan bagimu?" tanya Zach tidak suka.
"Well, dia memang tampan. Tidak, sangat tampan." Karen memperhatikan Kei.
"Lalu apa kamu menyukainya?"
"Aku? Tentu saja tidak."
"Sepertinya kamu memang menyukainya." tebak Zach.
"Aku memang tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya Zach, tapi aku tidak buta. Aku masih bisa membendakan mana yang tampan mana yang tidak." kata Karen membela diri. Zach memutar bola matanya.
"Baiklah, terserah saja. Pakai saja helmmu."
"Tapi helm ini akan buat rambutku rusak." keluh Karen. Zach mendengus kesal. Zach mengenakan helmnya dan menaiki motornya.
"Perempuan memang sungguh menyusahkan." gumamnya.
"Apa kamu katamu?"
"Tidak, tidak ada. Cepatlah naik. Apa kamu mau aku tinggal?" kata Zach ketus.
"Iya, iya. Kamu pemarah sekali." Karen menaiki motor Zach.
"Apa kamu tidak mau berpegangan?"
"Tidak perlu."
"Baiklah kalau begitu. Jangan salahkan aku jika kamu jatuh nanti." ucap Zach. Karen mendengus kesal lalu akhirnya memeluk Zach dari belakang. Zach tersenyum penuh kemenangan. Motor Zach mulai berjalan ke sekolah.
"Maafkan anak saya yang mulia." sahut ayah Zach.
"Tidak apa-apa alpha Dustin. Dulu aku juga keras kepala seperti dia." kata Kei.
"Sampai sekarang juga masih." celetuk Jason. Mike yang berdiri di sebelah Jason menyikut Jason. Jason merintih kesakitan.
"Mari masuk." ajak ayah Zach. Ibu Zach mengerutkan keningnya.
"Apa boleh luna?" tanya Kei yang melihat kerutan di kening ibu Zach.
"Ohh tentu, tentu saja." ucap ibu Zach. "Mari masuk."
Kei beserta Ian dan kelima gammanya masuk ke dalam rumah Zach.
****
Sekolah SMA Rottern ramai dengan murid-murid yang menghadiri pesta valentine. Zach memarkirkan motornya. Karen memperbaiki gaun dan rambutnya. Dia berjalan pelan menuju gym yang sudah disulap menjadi ruang pesta. Zach berlari kecil menyusul Karen.
"Apa kamu ingin meninggalkanku begitu saja?" tanya Zach saat sudah menyeimbangi langkah Karen.
"Aku harus segera masuk dan mencari Stefanie." kata Karen.
"Stefanie? Siapa dia? Ahh teman yang bersamamu waktu aku mengajakmu itu?"
"Tidak, bukan dia."
"Hei, pelan-pelan saja." Zach menarik pelan tangan Karen. Karen menghela nafas.
"Aku memang memanfaatkanmu untuk membawaku kemari, aku minta maaf. Tapi aku tidak punya pilihan. Rumahku dekat dengan rumahmu. Sementara tidak ada yang bisa mengantarku ke sekolah dan waktuku sempit. Jadi biarkan aku pergi." Karen melepaskan tangannya tapi Zach kembali meraihnya.
"Kamu pergi bersamaku kesini jadi kamu akan masuk bersamaku." tegas Zach. Zach menggenggam tangan Karen lalu menariknya ke pintu masuk.
Didalam begitu banyak murid yang sudah datang. Banyak di antara mereka berdansa bersama pasangannya. Karena pesta ini mewajibkan membawa pasangan. Karen mencari-cari keberadaan Stefanie sementara Zach mencari keberadaan Daryl. Zach masih menggenggam tangan Karen. Banyak murid yang menatap mereka dan mulai berbisik.
Tiba-tiba Zach menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada seseorang. Dia begitu terkejut dengan apa yang dia lihat. Karen bingung melihat Zach menghentikan langkahnya, langsung menatap ke arah Zach lalu ke arah yang di lihat Zach. Raut wajah Zach berubah seketika.
Karen menyadari siapa yang di tatap Zach. Seorang gadis dan gadis itu juga menatap Zach dalam diam. Karen melepas genggaman tangan Zach lalu segara beranjak pergi. Dia tidak ingin menjadi orang penghalang antara Zach dan gadis itu. Ada hal yang lebih penting dari itu.
Gadis yang ditatap Zach berjalan mendekati Zach. Dia tersenyum setelah sampai di hadapan Zach.
"Hai Zach." sapa gadis itu.
"Hai... Ashley."
Karen masih berkeliling ruang dansa itu. Sesekali dia menoleh ke arah Zach yang kini bersama gadis itu.
'Siapa dia? Aku tidak pernah lihat dia sebelumnya. Apa mereka berteman? Tapi cara Zach menatapnya seperti... Ahh sudahlah. Apa perduliku? Aku harus menemukan Stefanie. Dan dimana Nat?'
Karen mengambil ponselnya dari saku gaun pestanya. Karen mengetik pesan untuk Nat.
'Nat, kamu dimana?'
Karen memencet tombol send. Karen menunggu jawabannya sambil waspada akan kehadiran Stefanie. Karen kembali memperhatikan Zach.
'Bahkan dia tidak menyadariku pergi'
Karen merasa kesal. Dia berusaha menghilangkan kekesalan itu. Ponselnya bergetar. Karen membaca pesan diponselnya.
'Karen, aku ada di belakang sekolah. Cepat kemari. Aku melihat Stef dan Matt.'
Karen menghela nafasnya lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku di gaunnya. Karen berlari menuju tempat yang di maksud oleh Nat. Dari kejauhan Zach melihat Karen. Ya, dia sudah menyadari genggaman tangan mereka terlepas.
"Zach..." panggilan Ashley masih tidak di hiraukan Zach. "Zach!!" kali ini Ashley setengah berteriak. Zach menoleh. "Ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik." Zach masih menatap ke arah Karen pergi. Dia mempunyai firasat yang tidak enak.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" tanya Ashley lagi.
"Ya, tentu." kata Zach berbohong. Dia ingin menyusul Karen tapi dia ragu.
"Ayo, kita berdansa, for the old days."
Ashley menarik tangan Zach ke lantai dansa. Zach menurut.
****
Karen sampai di halaman belakang sekolah. Tidak ada siapa-siapa di sana. Karen mencari-cari sosok Nat.
"Karen...." terdengar suara memanggilnya. Karen mencari asal suara itu. Karen mendapati Nat sedang bersembunyi dibelakang salah satu bis sekolah. Karen mendatangi Nat.
"Nat, sedang ap--" Nat menutup mulut Karen.
"Ssttt... Jangan berisik." bisik Nat. Karen mengangguk. Nat melepaskan tangannya dari mulut Karen.
"Ada apa ini?" bisik Karen.
"Lihat itu." Nat menunjuk ke arah hutan yang berada di belakang sekolah. Karen mengikuti arah yang di tunjuk oleh Nat. Dia melihat tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan berjalan masuk ke dalam hutan.
"Apa itu..."
"Stefanie dan Matt." jawab Nat.
"Untuk apa mereka masuk ke dalam hutan?"
"Aku tidak tahu Karen." Nat menggeleng.
"Kalau begitu pergilah, biar aku yang mengikuti mereka." kata Karen.
"Tidak Karen, aku ikut denganmu." tolak Nat.
"Itu berbahaya Nat."
"Sama juga denganmu."
"Tapi setidaknya aku bisa bela diri dan kau tidak." kata Karen. "Biar aku cari tahu sedang apa mereka disana dan apa yang akan mereka lakukan pada Stefanie. Jika aku tidak keluar dalam lima belas menit, cari bantuan. Kamu mengerti?"
"Tapi apa kamu yakin akan baik-baik saja?"
"Ya, dan aku harus cepat jika tidak aku akan kehilangan mereka." Karen mulai berlari lalu berhenti sejenak lalu berbalik. "Lima belas menit."
Nat mengangguk. Karen berlari lagi menyusul Stefanie. Karen mencoba berlari dengan tidak membuat suara. Tapi hutan itu gelap. Meski masih sedikit di terangi oleh cahaya dari lampu sekolah tapi itu tidak cukup, terlebih Karen sudah mulai menjauhi sekolah. Karen mendengar tawa. Karen mengikuti suara tawa itu dan benar saja. Itu Matt dan teman-temannya beserta Stefanie. Karen awalnya enggan ke pesta tapi Nat memberitahukan jika Stefanie datang ke pesta bersama Matt. Itu hal yang aneh bagi Karen. Karen tahu Matt membenci Stefanie yang Nerd itu. Dia bahkan sudah berkali-kali mengejek dan menyakiti Stefanie dan dia datang bersama Setafanie ke pesta? Itu hal yang janggal bagi Karen. Terlebih Nat bilang ada sesuatu jahat yang di rencanakan Matt dan teman-temannya tapi sayangnya Nat tidak tahu itu apa. Dia tidak mendengarnya. Jadi Karen memutuskan untuk datang ke pesta dengan bantuan Zach untuk mengecek keadaan Stefanie.
Karen masih mengikuti mereka. Karen masuk lebih dalam kehutan. Sekarang tidak ada cahaya yang meneranginya lagi. Tapi Karen masih mendengar suara dan langkah kaki mereka. Tak lama langkah kaki itu berhenti.
"Stef, aku senang kamu disini." kata Matt. Stefanie hanya tersenyum malu. "Kamu membuat rencanaku menjadi mudah. Kau dan temanmu Natasha."
"Apa maksudmu Matt? Natasha?" Stefanie mengerutkan keningnya bingung, begitu juga Karen yang mendengar hal itu. Kenapa dia menyebut nama Nat?
Matt berjalan maju beberapa langkah.
"Jadi... Ayo kita berpesta pesta yang sesungguhnya." kata Matt setengah berteriak. "Karen....!! Keluarlah! I know you're here...!!
Karen terkejut. Dia... Tahu?
"Karen? Apa maksudmu Karen?" tanya Stefanie.
"Karen ada disini, Stefanie. Apa kamu tidak tahu." Matt tersenyum puas. "Benarkan itu Nat? Darling?"
Karen semakin bingung. Nat?
Nat keluar dari semak. Dia tersenyum pada Matt. Itu.. Nat.
"Keluarlah Karen. Kami tahu kamu disini. Well, setidaknya aku tahu." Natasha dan yang lainnya tertawa. Hanya Stefanie yang terdiam di tempatnya.
Karen keluar dari persembunyiannya. Dia menatap Natasha dengan tatapan bingungnya.
"Nat? Apa yang terjadi?" tanya Karen.
"Yang terjadi adalah kamu orang yang bodoh." kata Matt.
"Apa maksudmu?"
"Kamu pikir siapa yang membantuku selama ini. Mendapatkan gadis-gadis?" kata Matt.
"Nat?"
Karen lebih terkejut. Karen tampak berpikir. Jika orang itu adalah Natasha, semua masuk akal, pikirnya. Matt terkenal dengan playboynya tapi tidak ada yang tahu lebih dari itu selain Karen dan Natasha. Karen mengetahui semua gadis yang di kencani oleh Matt selalu bersikap aneh setelah mereka putus. Mereka seperti tidak ingat apapun. Mereka juga tampak pucat. Ada yang bahkan berprilaku sangat aneh dan beberapa menghilang. Semua orang mengira mereka pindah karena sakit hati pada Matt, tapi Karen selalu merasa aneh dengan semua itu. Dan lebih aneh lagi... Matt selalu memilih gadis yang masih Perawan. Karen mengira mereka telah di perkosa oleh Matt.
"Ada apa ini Nat? Kamu benar-benar telah membantunya? Membantunya untuk memperkosa gadis-gadis itu?"
"Whoaa.... Jangan berbicara sembarangan. Aku tidak serendah itu." kata Matt.
"Lalu kau apakan mereka?!"
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh Matt, aku tahu kamu melakukan sesuatu pada mereka." kata Karen. Karen menatap tajam sekaligus jijik pada Matt.
"Tidak, kau salah. Aku tidak melakukan apapun pada mereka. Benarkan baby?" Matt memeluk erat Natasha.
"Nat!!" pekik Karen.
"Ohh baiklah, baiklah. Aku sudah muak dengan semua perintah-perintah dan tindakan gilamu itu. Seandainya kamu tidak curiga, mungkin kita masih akan berteman baik."
"Kamu benar-benar membantunya?" tanya Karen memastikan.
"Apa kamu bercanda? Ini ideku!!" Nat tertawa.
"Untuk apa kamu melakukan semua itu?!"
"Apa kamu lupa aku penggemar apa?" tanya Nat. Karen mengerutkan keningnya. "Fangs!!"
"Lalu apa hubungannya fangs dengan semua kegilaan ini?!" Karen semakin bingung.
"Owhh... Apa kamu lupa fangs itu sebutan untuk penggemar siapa?"
"Vampir." jawab Karen.
"Tepat sekali."
"But they're not real."
"Tidak, kamu salah. Mereka nyata."
"Apa maksud kamu?" Karen semakin bingung.
"Aku menemukan mereka. Vampir asli." kata Nat. Dia tersenyum senang. "Kamu tahu kenapa aku menggunakan para gadis yang masih perawan? Karena itulah syarat yang di berikan oleh para vampir itu. Mereka menginginkan darah para gadis perawan."
"Jika apa yang mereka katakan itu benar, lalu untuk apa mereka menginginkan darah perawan itu dan apa yang mereka berikan sebagai balasannya?"
"Para vampir itu menginginkan kekuatan yang besar. Jika mereka meminum darah para gadis perawan, mereka akan menjadi kuat, lebih kuat dari yang pernah kamu bayangkan. Sebentar lagi mereka sempurna. Hanya tinggal dua lagi. Stef dan kau. Aku tahu kamu masih perawan Karen." kata Nat. Karen mentatapnya marah.
__ADS_1
"Ahhh...." lanjut Nat. ".... Dan yang bisa mereka berikan padaku adalah menjadi bagian dari kaumnya."
"Maksudmu kau ingin menjadi..."
"Tepat sekali. Kami ingin menjadi vampir. Benarkan Matt baby?" Natasha menatap mesra Matt.
"Tentu Babe." mereka berciuman.
"Kalian menjijikkan." sahut Karen. Natasha dan Matt melepaskan ciuman mereka.
"Ohh maaf.. Kamu belum pernah berciuman sebelumnya kan? Kasihan sekali." semua orang tertawa kecuali Karen dan Stefanie.
Stefanie berusaha lari tapi dengan cepat seseorang sudah berada di hadapannya. Lelaki berkulit pucat itu menyeringai senang, memperlihatkan giginya yang panjang dan tajam.
"Kamu tidak boleh pergi sweetheart, kami belum makan." kata lelaki itu. Stefanie terlihat ketakutan.
"Kalian membawa dua orang kali ini. Bagus sekali." kata satu orang lagi. Dia berjalan melewati Natasha dan Matt. Lelaki itu mengenakan baju kemeja berwarna hitam, berlengan panjang dan celana jeans biru muda. Rambut hitam pendeknya terlihat disisir sangat rapi. Lelaki itu berjalan menuju Karen. Baru setengah jalan dia berhenti. Dia mengendus pelan.
"Aku kira karena hutan ini sudah dimiliki oleh para anjing itu, tapi ternyata baumu..." laki-laki itu kembali berjalan pelan mendekati Karen. "Baumu benar-benar seperti para anjing itu. Apa kamu... Berada di dekat para anjing itu, darling?"
Karen terdiam di tempatnya. Dia tidak bergerak bahkan berusaha untuk lari. Lelaki itu sudah berada tepat di hadapan Karen. Lelaki itu menatap Karen lalu tersenyum, memperlihatkan giginya. Karen menatap gigi itu.
"Hasil karya yang bagus." puji Karen. Lelaki itu tersenyum.
"Kamu pikir ini palsu? Atau... Aku membuat gigiku seperti ini? Sepanjang ini?"
"Ya, dan itu karya yang bagus. Sayang sekali itu palsu." kata Karen lagi. Lelaki itu membuka mulutnya lebih lebar lagi. Dia memasukkan taringnya dan mengeluarkan taringnya lagi.
"Apa itu terlihat palsu juga bagimu?"
"Well, yeah itu seperti--"
Tubuh Karen melayang sejenak lalu mendarat di pohon dengan punggungnya menabrak pohon yang agak jauh darinya. Karen menatap lelaki itu sambil meringis kesakitan. Lelaki itu dengan secepat kilat sampai di hadapan Karen dan meletakkan satu tangannya di leher Karen. Lelaki itu mengeluarkan taringnya dan menatap Karen. Matanya yang Karen yakini berwarna biru terang kini berubah menjadi hitam pekat. Karen terkejut melihatnya. Sedari tadi dia meyakini bahwa apa yang di ucapkan Nat bahwa vampir itu ada adalah lulucon tidak lucu namun sekarang dia mulai takut.
"Apa ini palsu juga?" tanya lelaki itu. Lelaki itu tersenyum sinis. "Aku akan bersenang-senang malam ini."
Karen meronta, berusaha menendang dan memukul. Tapi laki-laki itu jauh lebih kuat darinya.
"Apa kamu sadar kalau kamu tidak bisa melawanku?" kata lelaki itu lalu bersiap menancapkan taringnya. Dari jauh sudah terdengar suara jeritan Stefanie. Karen menutup matanya.
Bukk!!
Karen mendengar suara pukulan. Karen membuka matanya dan melihat vampir itu sudah tersungkur. Karen menoleh pada si pemukul.
"Zach.."
"Kemarilah, apa kamu baik-baik saja?" tanya Zach. Zach memeluk Karen. Vampir yang dipukul tadi sudah berdiri dan menyerang Zach. Tapi Zach bisa mengimbanginya. Karen merapat ke pohon.
"Pergi kamu dari sini." perintah Zach. Vampir itu tersenyum sinis.
"Tidak akan. Sebelum aku mendapatkan gadis itu dan kau, anjing, jangan pernah menggangguku."
"Aku tidak akan membiarkannya." sahut Zach.
"Baiklah, kita lihat siapa yang menang." kata vampir itu.
"Apa kamu perlu bantuanku Ben?" tanya Vampir satunya lagi.
"Tidak, tidak perlu Lex, aku bisa mengatasi anjing ini sendirian." kata Ben.
Ben secepat kilat sudah berada di hadapan Zach dan memukul Zach tepat di wajah. Zach tidak mau kalah lalu memukul Ben dengan kers. Zach membanting tubuh Ben ke tanah dan memukuli wajahnya beberapa kali. Ben menahan tangan Zach lalu memukul kepala Zach dengan kepalanya dan menendang tubuh Zach hingga menabrak pohon. Pohon itu retak dan akan rubuh mengenai Karen. Zach mengetahui itu langsung berlari ke arah Karen dan memeluknya. Tubuh Zach mengenai batang pohon yang cukup besar itu.
"Aaarrgghh...." Zach menggeram kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zach.
"K-kamu..."
"Waah sangat romantis." puji Ben.
Zach menggeram. Dia mendorong batang pohon yang menimpanya dengan sekali dorongan. Batang pohon itu terlepas darinya.
"Pergilah Karen. Pergi ke rumahku dan katakan pada ayahku bahwa aku membutuhkan bantuannya." Zach bangkit lalu menyerang Ben.
"Apa Zach itu vampir juga? Lihatlah dia bahkan bisa menyeimbangi Ben." tanya Natasha.
"Aku rasa tidak." jawab Matt.
"Aku sudah memintamu untuk memeriksanya saat dia menghancurkan ring basket itu!"
"Aku sudah memeriksanya baby dan dia hanya manusia! Dia memakan makanan manusia. Kau tahu vampir tidak bisa makan makanan manusia."
"Itu benar. Tapi tidak mungkin dia manusia biasa jika dia bisa melawan Ben!"
"Dia memang bukan manusia biasa." jawab seseorang di belakang mereka. Matt dan Nat menoleh "Lebih tepatnya manusia serigala." sahutnya lagi.
Orang itu memukul Matt hingga pingsan.
"Matt!!" pekik Nat.
Bukk!!
Nat pingsan di sebelah Matt.
"Aku akan mengurus vampir satunya lagi." kata Roland setelah membuat pingsan Matt. Roland merubah dirinya menjadi serigala dan mendatangi Alex yang sudah bersiap menyerang serigala Roland.
"Waahh kamu benar-benar hebat jika membuat perempuan pingsan Brad."
"Sangat lucu Austin." kata Brad kesal.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pada kedua laki-laki yang kabur itu." kata Austin menunjuk kedua laki-laki, teman Matt yang kabur saat melihat Matt di pukul.
Pletak! Pletak!
Austin dan Brad meringis kesakitan bersamaan.
"Kalian sungguh bodoh. Kejar mereka!!" perintah Adrian.
"Huh! Kan tidak perlu memukul." omel Brad.
"Pergilah."
Brad dan Austin merubah diri mereka dan mengejar kedua teman Matt. Adrian merubah dirinya menjadi serigala dan membantu Roland. Zach masih saja bertarung tapi tidak merubah dirinya. Dengan bantuan Adrian, Roland bisa dengan mudah mengalahkan Alex. Roland dan Adrian mendatangi Zach. Melihat bahaya datang, Ben langsung pergi melarikan diri. Zach ingin mengejar tapi tangannya di tahan oleh Karen.
"Z-Zach... Se-se-serigala..." Karen menunjuk Roland dan Adrian yang masih dalam wujud serigala. Karen tampak sangat ketakutan. Bagaimana tidak, dia baru melihat serigala sebesar itu dalam hidupnya.
"Uhmm.. Karen.. Aku.."
Bukk!!
Terdengar suara pukulan di kepala Karen dan dengan segera Karen jatuh pingsan. Zach dengan cepat menangkap tubuh Karen yang pingsan dan menatap si pemukul.
"Hai.."
****
__ADS_1
tadariez