
Hujan turun sangat deras. Bian membuat pelindung tak terlihat di atas kepalanya, Zach dan alpha Sebastian, seperti payung. Mereka sedang menatap Manuel yang sedang duduk di sisi makam Nathan.
"Jadi.. Dia ayahnya?" tanya Zach lagi.
"Iya Zach. Aku juga baru tahu hal itu. Dia pergi dari pack alpha Roger hanya untuk melihat keadaan Nathan." jelas alpha Sebastian.
"Bagaimana anda bisa bertemu dengannya?"
"Dia kemari saat aku baru memasuki kawasan pack. Aku di beritahu Jake jika Kei sudah baik-baik saja, jadi kami menunda kepulangan dan akhirnya bertemu Manuel. Dia mengatakan semua padaku jadi aku mengijinkannya masuk." alpha Sebastian menghela nafas. "Yang lebih menyedihkan Nathan tidak tahu jika Manuel adalah ayahnya. Menyedihkan sekali."
"Tapi... Bukankah Manuel beta dari Roger? Aku tidak melihatnya saat pertarungan waktu itu." kata Bian.
"Dia melakukan tugas dari Roger saat itu."
Mereka kembali terdiam dan menatap Manuel. Setelah beberapa lama, Manuel berdiri dan berjalan menuju mereka. Manuel tampak kusut. Pakaiannya basah karena menolak di payungi oleh Bian. Masih terlihat dengan jelas kesedihan di wajahnya. Manuel menatap Zach.
"Bisa anda ceritakan apa yang terjadi alpha?" tanya Manuel pada Zach. Zach menarik nafasnya dalam-dalam.
"Nathan dikirim kesini oleh alpha Roger. Ahhh tidak, tidak. Dia dikirim agar kami membawanya kemari. Lalu dia mencuri kristal yang berisi wolfsbane dan menyerahkannya pada pemburu Cigeira. Lalu pemburu itu menggunakan racun itu untuk membunuh Kei. Kami mendatangi kediaman Cigeira karena kami ingin mengambil kristal itu, kemudian para pemburu mulai menembak. Dia-- Maksudku Nathan... Tertembak karena melidungiku. Jika Nathan tidak ada, mungkin aku sudah mati. Nathan mati dengan terhormat." jelas Zach.
"Dia melakukan kesalahan dengan memberikan kristal itu kepada pemburu tapi dia menebus kesalahannya. Dia sangat pemberani Manuel." tambah alpha Sebastian sambil menepuk pundak Manuel.
"Kata pemburu Dixon, Nathan mati karena terkena racun wolfsbane yang berasal dari kristal itu. Wolfsbane yang ada di kristal itu adalah wolfsbane langka yang--"
"Hanya membunuh manusia serigala keturunan murni, ya saya tahu." potong Manuel.
"Jadi... Nathan adalah manusia serigala keturunan murni."
"Benar dan itu berkatku. Dia anakku, dia mempunyai darah manusia serigala keturunan murni dariku."
"Berarti anda..."
"Ya, aku adalah manusia serigala keturunan murni. Kakek dan nenekku berasal dari pack Moon Hykort. Saat pack itu terpecah belah, kakek dan nenekku memutuskan untuk bergabung dipack Moon Bykort dan Nathan mendapatkan darah itu dariku."
"Jadi karena itu dia mati saat terkena racun itu. Jika manusia serigala biasa hanya akan terluka tapi jika keturunan murni, akan mati." kata alpha Sebastian.
"Bagaimana menentukan serigala keturunan murni atau tidak?"
"Jika nenek moyangmu berasal dari pack Moon Hykort dan Lykort, kalian manusia serigala keturunan murni. Seperti ayahmu, Zach. Ayahmu, kakekmu semua berasa dari pack Moon Hykort. Karena itu kamu manusia serigala keturunan murni, begitu pula dengan anakmu dan Bian kelak."
"Aaahh tunggu dulu, berhenti disitu. Kenapa saya di bawa juga alpha? Saya bukan mate anak ini!" kata Bian sambil menunjuk Zach.
"Benarkah?" tanya alpha Sebastian. Bian mendengus kesal.
"Alpha, saya minta maaf atas perlakuan saya tadi pada anda. Saya salah." kata Manuel.
"Tidak beta, saya yang salah karena tidak bisa melindungi Nathan. Dia bersumpah menjadi anggota packku saat sedang sekarat, tapi aku tidak bisa menolongnya."
"Benarkah?" tanya alpha Sebastian dan Manuel bersamaan.
"Benar dia bersumpah untuk setia padamu?" tanya alpha Sebastian memastikan.
"Benar. Dia mengucapkannya. Tapi saya tidak bisa menyelamatkannya, saya benar-benar minta maaf."
"Tidak masalah alpha. Saya senang dan bangga padanya. Dia masih bisa melakukan hal yang benar di saat terakhirnya. Tampaknya dia sudah dewasa."
"Lalu... Apa yang akan kamu lakukan sekarang Manuel?"
"Saya akan kembali ke pack Moon Bykort."
"Tapi Roger tidak akan melepaskanmu. Dia akan menyakitimu lagi Manuel."
"Saya tidak perduli alpha. Saya akan baik-baik saja. Saya adalah betanya, jadi alpha Roger tidak mungkin membunuh saya."
"Meskipun begitu, itu bukan tindakan yang tepat Manuel. Kamu bisa tinggal disini." tawar alpha Sebastian.
"Terima kasih atas tawaran anda alpha, tapi saya tetap akan kembali. Saya akan baik-baik saja." Manuel masih bersikeras menolaknya.
"Baiklah jika itu memang keputusanmu. Mari saya antar keluar."
"Terima kasih alpha Sebastian. Dan alpha Zach, saya juga terima kasih atas perlakuan anda pada Nathan. Meskipun Nathan pernah berkelakuan buruk pada anda, tapi anda tetap memperlakukannya dengan baik."
"Saya tahu Nathan hanya melakukan apa yang diperintahkan alphanya."
"Oleh karena itu Zach, jangan sekali-kali memerintahkan hal yang tidak baik pada bawahanmu." nasehat alpha Sebastian. Zach tersenyum.
"Tentu saja. Saya tahu alpha."
"Baiklah ayo kita pergi Manuel. Kami akan menjaga makam Nathan dengan baik."
"Iya, terima kasih alpha. Saya permisi alpha Zach dan luna. Terima kasih." sahut Manuel lalu membungkukkan tubuhnya dengan tangan kanan di dadanya, tanda hormat. Lalu pergi meninggalkan Zach dan Bian.
"Ayo kita pergi lunaku." kata Zach pada Bian yang sudah bermuka masam.
"Pergi saja sendiri. Enak saja panggil orang dengan sebutan luna." Bian berteleportasi, meninggalkan Zach sendirian dan kehujanan.
"Kenapa aku selalu saja salah dimatanya." gumam Zach.
****
Malamnya semua berkumpul di ruang tamu alpha Sebastian.
"Jadi bagaimana paman? Apa kita mendapat cukup dukungan?" tanya Kei.
"Aku masih tidak tahu Kei. Mereka masih belum memberikan kepastian."
"Ini akan sulit jika mereka tidak ingin bergabung." gumam Kei.
"Apa kita benar-benar akan melakukan ini? Maksud aku... Perang? Apa kita akan perang?" tanya Zach.
"Sepertinya begitu. Dengan ulah Roger ditambah Ordovick, aku yakin akan terjadi hal itu." kata alpha Sebastian.
"Aku sangat berharap tidak terjadi apapun." gumam Zach.
"Kami juga begitu Zach."
"Kita harus menyusun rencana paman. Kei sudah tidak bisa menerima perlakuan dari alpha Roger."
"Benar. Dengan memperketat penjagaan juga percuma, mereka bisa masuk." kata alpha Sebastian. "Apa kamu ingin membalas mereka Kei?"
"Percuma membalas mereka paman. Itu akan membuka kesempatan bagi mereka untuk memulai perang dengan alasan kita yang memulai semuanya."
"Ya itu benar. Kita harus hati-hati. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan disini."
"Paman benar. Tapi kita tidak bisa tinggal diam jika mereka terus menyerang kita."
"Benar Kei. Kita harus bersiap. Mudahan saja para pack itu mau bergabung. Lalu... Bagaimana dengan beta Ryan? apa dia sudah lebih baik?"
"Sangat baik. Dengan adik Bian dan temannya pun perkembangannya sangat luar biasa. Mereka kuat." kata Jake.
"Bagus, terus latih mereka dan ahh anakku Hans, latih dia juga. Setelah lama berada di lingkungan manusia biasa, dia tidak pernah berlatih bahkan berubah menjadi serigala. Jadi aku minta kamu melatihnya Jake." pinta alpha Sebastian.
"Tidak perlu ayah. Aku tidak ingin berlatih." kata Hans yang baru saja bergabung.
"Kenapa begitu?" alpha Sebastian menatap heran.
"Hans akan kembali ke pekerjaan Hans ayah. Sudah lama Hans pergi. Jadi Hans tidak akan terlibat perang apapun."
"Ini hanya untuk membela dirimu saja anakku. Mereka tahu kamu adalah anakku dan mereka bisa menyakitimu."
"Hans bisa menjaga diri Hans sendiri ayah. Tidak perlu khawatir."
"Baiklah tapi selama kamu disini sementara ini, berlatilah."
"Hans akan kembali lusa ayah."
"Secepat itu?"
"Tentu, Hans sudah terlalu lama pergi."
"Baiklah, kalau begitu. Besok kamu harus berlatih." tegas alpha Sebastian. Hans menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Baikah, baiklah. Hans akan berlatih dengan Jake."
"Tidak, tidak dengan Jake, tapi dengan ayah." tegas alpha Sebastian. Hans hanya bisa pasrah. Dia tahu dia sudah tidak bisa menolak permintaan lagi.
"Paman, Kei berencana pindah ke pack Lykort."
"Apa? Kenapa?"
"Sudah terlalu banyak korban berjatuhan disini lagipula ini sudah menyangkut Ordovic, musuh lama kami. Kami akan menyelesaikannya di Lykort."
"Lalu.. Bagaimana dengan Tania?"
"Aku akan membawanya. Tidak akan kubiarkan dia sendirian. Sebentar lagi akan liburan musim dingin. Aku harap semua selesai sebelum liburan musim dingin berakhir."
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu Kei?"
"Yakin paman. Dan juga, akuingin menyelesaikan semua ini dengan segera. Dia harus menerimaku sebagai raja Lycanthrope dan membuktikan padanya Kei memang bisa dan pantas menjadi raja meskipun aku masih remaja. Suka tidak suka dia harus terima itu. Satu-satunya cara membuat dia terima semua itu dengan membuat dia tunduk pada Kei dan akan Kei pastikan dia tunduk."
Semua orang terdiam dan saling pandang. Kei sudah mengeluarkan sikap rajanya. Dia tampak berbeda dari Kei biasanya.
"Kapan kamu akan pergi Kei?" tanya alpha Sebastian.
"Aku akan menunggu para pack itu datang selama satu minggu. Jika mereka tidak datang, Kei akan langsung pergi ke Lykort dan itu artinya mereka memang tidak ingin bergabung. Aku tidak ingin membuang waktu. Kita akan menyusun rencana selanjutnya dan bersiap menyerang kalau perlu."
"Jangan gegabah, Kei."
"Tenang saja paman, Kei tahu itu. Ini bukan gegabah lagi, ini perang paman. Kita tidak bisa membiarkan kita diserang oleh mereka terus." kata Kei. Kei menatap Bian. "Bagaimana para kaum putih Bian?"
"Aku sudah memutuskan untuk kaum putih. Kami tidak akan ikut campur urusan kaum kalian, manusia serigala. Hanya jika kaum hitam ikut membantu. Kami akan mengatasi kaum hitam. Karena meskipun terjadi perang, ini bukan perang kaum kami. Kami tidak bisa ikut campur seenaknya. Itu dilarang." jelas Bian. Kei mengangguk.
"Aku mengerti, setidaknya jika kaum hitam memang ikut campur, kita tidak perlu khawatirkan mereka." kata Kei. "Lalu... Siapa diantara kalian semua ikut denganku untuk bertempur?"
Semua terdiam dan saling pandang.
"Aku ikut." sahut Ian. "Sampai akhir."
"Aku juga." sahut Zach.
"Aku juga."
"Aku juga."
Semua orang diruangan itu setuju bahkan alpha Sebastian.
"Bagus. Aku berterima kasih atas dukungan kalian."
"Jangan sungkan Kei, sudah tugas kami untuk membantumu dan bertempur bersamamu karena kamu alpha dan raja kami." sahut Jason.
"Whoaaa siapa kamu? Dan dimana Jason yang kukenal berada?" komentar Mike. Jason hanya terkekeh.
"Baiklah, kita menunggu seminggu, setelah itu kita pergi ke Lykort."
Semua orang mengangguk setuju. Mereka tahu jika pertempuran itu tidak akan bisa dihindarkan. Jadi mereka memutuskan siap menghadapinya.
"Maaf alpha, ada yang ingin bertemu." kata seorang omega yang baru datang.
"Siapa?" tanya alpha Sebastian.
"Mereka... Manusia biasa alpha dan terluka."
"Manusia biasa katamu?"
"Iya alpha dan mereka berkata mereka mengenal alpha Zach."
Semua menatap Zach.
"Aku? Mengenalku?" tanya Zach bingung.
"Iya alpha. Mereka berkata seperti itu." kata Omega itu lagi.
"Baiklah, suruh mereka masuk." kata alpha Sebastian. Omega itu mengangguk dan segera pergi keluar. Tak berapa lama dia masuk dengan empat orang lainnya.
"Zach?!"
"Kami diserang Zach." kata Daryl.
"Diserang?" tanya Zach.
"Benar sobat. Lihatlah wajah kami yang lebam dan luka ini." Daryl menunjuk wajahnya. Memang terdapat lebam dan luka.
"Ada apa ini? Dan siapa yang menyerang kalian?"
"Manusia serigala alpha." kata seseorang di belakang mereka yang masih menggendong seorang gadis.
"Karen?!" pekik Zach.
"Dudukkan dia disini." perintah alpha Sebastian sambil menunjuk sofa panjang. Omega itu mengangguk pelan lalu meletakkan Karen di sofa. Karen juga terluka.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Zach.
"Kami diserang tiba-tiba Zach. Ada sekawanan manusia serigala datang ke Rotternville dan membuat kekacauan." terang Rodney.
"Semua salah saya alpha. Saya tidak bisa melindungi luna dengan baik." kata omega yang tadi menggendong Karen.
"Apa kamu bercanda? Kamu sangat membantu tadi! Bahkan temanmu mengorbankan dirinya tadi."
"Apa dia mati?" tanya Zach.
"Sepertinya, kami tidak tahu Zach. Dia meminta kami pergi terlebih dahulu tapi dia tidak pernah menyusul kami." jelas Daryl. Zach mengangguk.
"Kamu baik-baik saja Karen?" tanya Zach lembut. Zach duduk di sisi Karen.
"Aku baik Zach, aku bisa menjaga diriku sendiri." kata Karen.
"Dan itu sangat luar biasa. Kamu tidak melihat betapa dia hebat melawan para manusia serigala itu. Sungguh menakjubkan. Dia bertarung seperti laki-laki. Jika rambutnya tidak panjang, aku akan mengira yang bertarung adalah laki-laki."
"Kamu ini berlebihan, Daryl." kata Rodney.
"Apa? Itu memang benar. Dia memang bertarung dengan sangat baik tadi."
"Okay, sekarang katakan apa mau mereka. Apa mereka mengatakan apa mau mereka?"
"Tidak, tapi sepertinya dia mengincar... Karen."
"Karen?"
"Mereka terus mencoba mengambil Karen dari kami." kata Daryl.
"Mereka bahkan sudah berani menyakiti mate Zach. Waktu itu Tania, sekarang Karen. Ini tidak biaa dibiarkan." gumam Kei.
"Itu benar. Ini sudah keterlaluan." kata alpha Sebastian.
"Lalu kenapa tidak ada yang memberitahukanku?! Mindlink?"
"Demi tuhan Zach, kami tidak bergerak. Kami diserang lebih dari selusin serigala!!" pekik Daryl.
"Kalung itu..." kata Bian. "Kalung yang aku berikan. Seharusnya itu bisa menjaga Karen. Dimana kalung itu?"
"Itu..." Karen merogoh saku celananya, mengambil sesuatu lalu memperlihatkannya pada semua orang. "Maaf."
Bian maju dan mengambil kalung itu dari Karen. Kalung itu sudah terbelah menjadi dua dan menghitam.
"Ini salahku. Seharusnya aku tidak melepaskan seperti katamu tapi entah kenapa aku melepasnya dan.. dan... Aku tidak menyadarinya." kata Karen tampak bingung. Bian menatap heran. Dia berjalan mendekati Karen dan meminta Zach pergi dari sisi Karen. Bian duduk menggantikan Zach.
"Arată-mi ce vreau să văd"
Bian membaca mantra lalu meniupkan ke wajah Karen. Tak lama keluar asap putih dari kepala Karen.
"A-asap apa itu?" tanya Daryl.
"Asap apa? Tidak ada asap Daryl." kata Rodney.
__ADS_1
"Ada Rod, di kepala Karen." tegas Daryl. Semua menatap Karen.
"Tidak ada apa-apa!"
"Astaga, kamu pikir aku berbohong?!"
"Mereka tidak akan bisa melihatnya Daryl. Hanya penyihir yang bisa. Kamu penyihir, tentu kamu bisa melihatnya." kata Bian.
"Aahh begitu..." gumam Daryl. "Tapi... Asap apa itu?"
"Aku membaca mantra pendeteksi mantra. Jika ada penyihir yang melakukan mantra pada Karen dan dugaanku benar. Karen terkena mantra. Tapi aneh... Kenapa para penyihir tahu tentang kalung itu. Tidak banyak penyihir yang tahu tentang kalung itu.".
"Sepertinya itu kesalahanku. Ada anak baru disekolah. Dia bertanya tentang kalungku." kata Karen.
"Lalu kamu mengatakannya dengan jujur?" tanya Bian.
"Sepertinya... Aku tidak ingat, sungguh." kata Karen.
"Bagaimana bisa kamu tidak ingat Karen?" tanya Daryl.
"Aku.. Aku..."
"Dia dipengaruhi mantra yang membuatnya mengatakan sejujurnya." Bian menghela nafas. "Tidak apa-apa Karen, bukan salahmu. Aku akan mencari tahu siapa penyihir itu."
Bian menyentuh tangan Karen lalu muncul cahaya putih. Bian menyembuhkan luka Karen.
"Kamu baik-baik saja sekarang." kata Bian.
"Terima kasih." kata Karen. Bian mengangguk.
"Tunggu dulu, bukankah itu kalung yang pernah kamu berikan pada Kei, Bian?" tanya alpha Sebastian.
"Benar alpha, ini kalung yang sama."
"Tapi kenapa ada pada gadis ini?"
"Kalung ini berfungsi untuk menahan kekuatan manusia serigala dan memberitahukan jika mate dalam bahaya. Tapi kalung ini juga bisa untuk menipu."
"Menipu?"
"Iya alpha. Jika manusia serigala yang menggunakannya, dengan mantra sedikit, wajahnya akan bisa menjadi wajah pemilik sebelumnya. Jika mate-nya yang menggunakannya, akan menyembunyikan aura dari Mate. Saya meminta Karen menggunakan kalung ini agar tidak ada yang tahu jika Karen adalah mate dari Zach. Jadi Karen akan aman, setidaknya sampai semua masalah ini selesai. Karena kalung ini patah, maka sihir yang ada dikalung ini tidak berfungsi lagi."
"Jadi ini alasanmu tidak menyelidiki kenapa kamu juga mate dari Zach?" tebak Kei. "Agar mereka mengincarmu sebagai mate Zach? Bukan Karen?"
"Mungkin." Bian tersenyum. "Aku punya cara sendiri menyelidikinya Kei. Apa kamu melihat kedua penjagaku belakangan ini? Kamu tahu, Kate dan Gina."
"Ahh benar aku tidak melihat mereka, terlebih Gina." gumam Kei. Bian tersenyum.
"Tunggu dulu, uhmm... Aku bingung. Zach punya dua mate?" tanya Daryl. Tidak hanya Daryl, hampir semua yang ada disana bingung.
"Itu hanya sebuah kesalahan dan akan segera kuperbaiki. Mate Zach adalah Karen, bukan aku. Dan karena Karen sudah terbongkar identitasnya... Aku tidak perlu ikut campur lagi. Aku akan memperbaikinya."
"Apa aku tidak bisa memiliki dua mate saja?" tanya Zach. Bian berdiri dan..
Pletak!!
"Aww!!"
"Jangan bicara sembarangan! Duduk saja di sebelah mate-mu. Huh! Dasar remaja!!" pekik Bian. "Kei aku ingin berbicara denganmu. Berdua saja."
"Baiklah."
Bian keluar rumah diikuti Kei.
"Ada apa?" tanya Kei.
"Ini." Bian menyerahkan sesuatu pada Kei.
"Apa ini?"
"Kamu tidak mengenalinya?" tanya Bian heran. Kei menggeleng.
"Tidak, tapi terlihat familiar."
Bian maju lalu memakaikan cincin bermata merah itu pada Kei.
"Apa yang... Aakkhh!! Apa ini? Kenapa sakit?!"
Bian melepas kembali cincin itu.
"Sebenarnya cincin apa itu?" tanya Kei.
"Eros. Ini milik Eros. Nenek moyangmu, manusia serigala pertama yang memiliki Lycan."
"Apa? Benarkah?"
"Hmm benar. Tapi aneh.. Kenapa kamu kesakitan saat memakainya?"
"Memangnya seharusnya bagaimana?"
"Cincin ini di berikan oleh nenek moyangku, Maria, yang kalian sebut Moon Goddess. Maria memberikan cincin itu pada Eros saat dia berhasil menguasai Lycan."
"Ahh... Lalu... Untuk apa cincin itu?"
"Untuk mengendalikan seluruh manusia serigala didunia ini."
"Maksudmu dengan paksaan? Bukan suka rela?"
"Iya, tapi kenapa tidak berfungsi dengan baik? Kenapa kamu justru kesakitan?"
"Mungkin karena aku tidak menginginkannya. Aku lebih memilih berjuang dan bertarung agar mereka tunduk padaku dengan suka rela. Karena dengan begitu mereka akan tulus setia padaku."
"Whoaaa Lihatlah adik manis yang satu ini. Sudah dewasa rupanya." Bian mengelus pelan rambut Kei.
"Tentu saja, siapa dulu kakaknya."
"Aku kan?"
"Iya, iya terserah kamu saja."
Mereka berdua tertawa.
"Kami tidak apa-apa?" tanya Kei.
"Tentang?"
"Zach dan Karen."
Bian tertawa.
"Tentu saja."
"Kamu yakin?"
"Iya tentu saja. Sudah kukatakan bukan aku mate-nya. Kamu saja yang tidak percaya."
"Tapi... Apa kamu tidak memiliki perasaan padanya?"
"Pada Zach? Tentu saja tidak. Apa kamu sudah gila? Aku tidak menyukainya, aku bersumpah."
"Baiklah, baiklah aku percaya." Kei tertawa geli. Bian cemberut.
Bum!!
Terdengar ledakan di langit, seperti kembang api yang besar. Bian dan Kei melihat ke langit.
"Apa ada acara? Kenapa ada kembang api?" kata Kei.
"Itu bukan kembang api Kei. Itu pesan dari knirer. Kita diserang."
****
__ADS_1
tadariez