Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#1


__ADS_3

Sorak-sorai di dalam GOR Putra Arena langsung terdengar saat Nadine dan papa Dion masuk ke dalam GOR.


Hari ini adalah pertandingan final kompetisi basket putra antar sekolah. Ada SMA Pelita yang melawan juara bertahan, SMA Harapan di pertandingan final kali ini.


Para pemain sedang melakukan pemanasan di court.


Nadine dan papa Dion langsung duduk di bangku courtside barisan depan dekat dengan bench dari SMA Harapan.


Nathan ikut melakukan pemanasan di tengah court bersama pemain lain. Sesaat setelah melihat sang papa dan saudara kembarnya yang baru datang, Nathan segera menyapa keduanya.


"Good luck!" Ujar Nadine seraya melakukan tos pada Nathan.


Papa Dion pun melakukan hal yang sama.


"Jadi, kau tidak mendukung sekolahmu dan malah mendukung lawan dari sekolahmu?" Sahut Nathan seraya terkekeh.


Nadine langsung menoyor kepala saudaranya tersebut.


Meleset!


Nathan berhasil menghindar dengan cepat. Nadine hanya bisa manyun dan menahan geram di hatinya.


Nathan sudah kembali lagi ke tengah court.


Dan Nadien masih duduk dengan manyun.


"Dilema?" Tanya papa Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari arah court.


Para pemain sudah kembali ke bench masing-masing dan sedang menerima pengarahan dari pelatih masing-masing tim.


"Nadine netral, Papa!" Jawab Nadine dengan nada tegas.


Sesaat gadis itu melirik ke arah bench dari sekolahnya. Ada Chris di sana. Tapi Nadine akan mengabaikannya saja.


Nadine hanya ingin fokus pada pertandingan hari ini.


Siapapun yang nantinya akan menjadi juara itu artinya dia memang pantas mendapatkannya.


Pertandingan akan segera dimulai. Satu persatu pemain mulai memasuki court dan menempati posisi masing-masing.


Nathan dan Chris sudah berdiri di tengah court dan siap untuk lemparan bola pertama.


Netra keduanya saling menatap tajam menyiratkan sebuah permusuhan. Nathan yang merupakan kapten tim basket SMA Harapan dan Christian yang merupakan kapten tim basket SMA Pelita.


Sudah menjadi rahasia umum kalau dua orang ini memang selalu berseteru baik di dalam maupun di luar court. Dan pertandingan final hari ini, tentu saja penampilan keduanya akan benar-benar menjadi sorotan.


Priiiit

__ADS_1


Suara peluit panjang yang menandakan dimulainya pertandingan sudah berbunyi.


Nathan berhasil mendapatkan bola. Postur tubuh Nathan yang lebih tinggi dari Chris membuat anak muda itu langsung melesat dengan cepat dan men-dribble bola hingga ke daerah lawan.


Nathan sudah bersiap untuk tembakan tiga angka.


Masuk!


Sorak sorai dari para pendukung SMA Harapan langsung terdengar riuh di setiap sudut gedung olahraga. Mereka tak berhenti membunyikan yel-yel untuk membakar semangat dari para pemain yang tengah berjuang mempertahankan gelar juara di atas court.


Di pertengahan quarter pertama, pertarungan terasa semakin sengit. Angka yang tertera di papan skor terus saling mengejar. Sejauh ini tim basket SMA Harapan masih unggul tipis meninggalkan tim basket dari SMA Pelita.


Nathan kembali memegang bola, dan Chris dengan wajahnya yang selalu terlihat cool terus berusaha menghalau Nathan yang akan kembali mencetak skor.


Nathan memilih mengoper bola pada teman satu timnya.


Sial!


Bola berhasil direbut oleh tim lawan.


Sekarang Chris yang men-dribble bola dengan cepat menuju daerah lawan. Dan dalam sekejap, kapten dari tim basket SMA Pelita tersebut berhasil mencetak tiga angka.


Skor menjadi berbalik sekarang. SMA Pelita unggul dua point dari SMA Harapan, bersamaan dengan berakhirnya quarter pertama.


Para pemain kembali ke bench masing-masing untuk minum dan menerima arahan dari pelatih lagi.


Chris yang sedang meneguk minumannya, menyapukan pandangan ke arah courtside dan netranya tak sengaja menemukan Nadine yang sedang duduk di bangku courtside barisan paling depan tak jauh dari bench SMA Harapan.


Chris masih tidak percaya kalau Nadine ternyata adalah saudara kembar dari Nathan yang merupakan rival abadinya.


Chris memang baru mengetahui kebenaran ini beberapa bulan belakangan. Dan sekarang hubungannya dengan Nadine harus berantakan karena sebuah kesalahpahaman.


"Chris!" Seorang rekan Chris menepuk punggung pemuda tersebut, dan membuat semua lamunan Chris tentang Nadine menjadi buyar.


Chris kembali bergabung dengan rekan satu timnya untuk mendengarkan arahan singkat dari pelatih. Saatnya kembali fokus pada pertandingan dan mengesampingkan semua hal yang berhubungan dengan cinta atau perasaan.


Quarter kedua kembali dimulai,


Pertandingan semakin seru dan sengit. Para penonton saling bersahutan meneriakkan nama dua SMA yang kini sedang bertarung di atas court memperebutkan gelar juara.


Suasana di dalam gedung olahraga sudah riuh dengan yel-yel yang terus di sorakkan oleh pendukung dari kedua tim.


Free throws untuk tim dari SMA Harapan karena pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu pemain dari SMA Pelita.


Nathan yang kali ini melempar bola.


Masuk dua kali.

__ADS_1


Skor imbang sekarang. Sepertinya kekuatan dari dua tim kali ini sama-sama kuat.


Chris men-dribble bola dengan cepat melewati beberapa pemain dari tim lawan yang berjaga. Tepat saat Chris bersiap melakukan tembakan tiga angka, Nathan datang menerjang dan berusaha merebut bola dari Chris.


Dua pemain muda yang selalu berseteru tersebut, kini saling menghadang dan berebut bola. Nathan memantulkan bola sekali lagi. Namun netranya masih menatap tajam ke arah Chris yang kini menghadangnya.


Quarter kedua tinggal tersisa beberapa detik lagi. Namun dua kapten tim itu hanya saling melemparkan tatapan tajam. Hingga akhirnya peluit tanda berakhirnya quarter kedua berbunyi, Nathan masih belum berhasil memasukkan bola ke ring lawan. Pemuda tujuh belas tahun tersebut melempar bola dengan kasar sesaat sebelum kembali ke bench.


Skor masih imbang sejauh ini.


"Hei, Nathan!" Nadine menyapa Nathan yang kini tengah meneguk minuman dingin dari botol.


"Sorry," lirih Nathan dengan raut wajah bersalah.


Nadine mengulurkan tangannya pada Nathan.


Dengan cepat Nathan menyambut uluran tangan dari Nadine dan dua saudara kembar itu kembali melakukan tos,


"Kamu pasti bisa, Nathan!" Nadine memberikan semangat sekali lagi.


Nathan hanya tersenyum seraya mengacungkan jempol ke arah Nadine.


Sebuah pemandangan biasa sebenarnya, namun lumayan menyita perhatian terutama dari para pemain serta pendukung tim basket SMA Pelita.


"Aku bingung, kenapa si Nadine gak pindah aja ke SMA Harapan? Sekolahnya dimana, dukungnya yang mana," keluh salah satu anggota tim basket SMA Pelita saat melihat kedekatan Nadine dan Nathan.


"Aku setuju. Lagipula baru sekarang aku lihat anak kembar sekolahnya beda. Benar-benar saudara yang aneh," timpal anggota lainnya.


"Sudah, Bro! Kita fokus saja pada permainan. Terserah Nadine mau dukung siapa itu kan memang hak dia. Pendukung kita masih banyak," Chris menengahi anggota timnya yang sedang berdebat tentang Nadine.


Kapten tim basket itu menunjuk ke arah gerombolan murid dari sekolahnya yang membawa spanduk besar dan duduk di atas tribune penonton.


Pelatih kembali memberi arahan untuk quarter selanjutnya.


Cheersleader yang tampil di court, sudah selesai dengan tarian aneh mereka. Quarter ketiga akan dimulai sebentar lagi.


.


.


.


Cerita ini re-write, ya!


Ganti judul dan cover aja.


Yang udah baca bantu like saja. Karena yang di "COURTSIDELIVE" itu gagal kontrak terus. Jadi aku tulis ulang disini biar bisa dikontrakin.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2