Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#42


__ADS_3

Menjelang sore, motor Chris baru tiba di depan rumah Nadine.


Ada Nathan dan papa Dion yang sedang workout di minicourt depan. Tentu saja hal itu membuat Christian dan Nadine sedikit salah tingkah.


"Sore, Om," Chris menyapa papa Dion dengan canggung.


"Kalian dari mana?" Tanya papa Dion dengan raut wajah tidak senang.


Sepertinya Nadine dan Christian baru saja ketahuan kalau keduanya habis membolos.


"Habis ada kegiatan di sekolah, Pa," jawab Nadine cepat seraya berdusta.


Papa Dion bersedekap dan menatap tajam pada Chris serta Nadine.


"Kamu mau membohongi Papa?" Sergah papa Dion cepat.


Skakmat!


Nadine dan Chris langsung diam seribu bahasa.


Sedangkan Nathan pura-pura melanjutkan workout sambil menahan tawanya.


"Ikut Papa!" Perintah papa Dion seraya mengendikkan dagunya ke kursi teras. Christian dan Nadine menurut dan segera mengikuti langkah papa Dion menuju ke arah teras.


"Oo, kamu ketahuan," Nathan bergumam pelan seraya bersenandung.


Christian dan Nadine sudah duduk di kursi teras sekarang dan siap disidang oleh papa Dion.


"Jadi, kalian berdua kemana seharian ini?" Tanya papa Dion masih dengan nada yang galak.


"Om, jangan marahin Nadine! Sebenarnya tadi Chris yang mengajak Nadine untuk membolos," sergah Christian cepat yang berusaha melindungi Nadine.


"Begitu, ya? Kamu bawa kemana putriku seharian ini?" Papa Dion menatap tajam pada Christian.


"Kami pergi ke air terjun yang ada di atas bukit," jawab Christian seraya menunduk.


"Dan kamu menurut saja, Nadine?" Papa Dion ganti menatap tajam pada Nadine.


"Nadine sudah menolak dan memarahi saya, Om. Tolong jangan memarahi Nadine," sergah Christian yang masih berusaha membela dan melondungi Nadine.


"Nadine minta maaf, Pa! Nadine janji ini yang terakhir," timpal Nadine dengan nada bersalah.


Papa Dion mengusap wajahnya sendiri berulang kali.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Kalian tidak berbuat hal-hal yang melanggar norma, kan?" Cecar papa Dion mulai curiga.


"Tentu saja tidak, Pa!" Jawab Nadine cepat.


"Kami hanya bermain air dan menyegarkan pikiran, Om. Christian berani bersumpah," timpal Chris bersungguh-sungguh seraya mengangkat tangannya.


Papa Dion mengangguk.


"Masuk dan mandilah, Nadine! Papa akan bicara sebentar dengan Chris," perintah papa Dion.


Nadine hanya mengangguk dan segera masuk ke rumah meninggalkan Christian dan papa Dion.


Nathan yang sudah menyelesaikan workout, ikut duduk di teras dan bergabung bersama papa Dion dan Chris.


"Chris benar-benar minta maaf, Om," ucap Christian sekali lagi masih dengan nada bersalah.


"Om harap kamu tidak mengulanginya, Chris," sergah papa Dion cepat.


Christian mengangguk,

__ADS_1


"Chris janji tidak akan mengulanginya, Om. Lain kali Chris akan minta izin pada om Dion dulu sebelum mengajak Nadine pergi," ucap Christian bersungguh-sungguh.


Papa Dion menepuk punggung Christian,


"Om percaya padamu, dan memaafkanmu hari ini," ujar papa Dion seraya tersenyum hangat.


"Jadi gimana, Chris? Hasil tes seleksi di Universitas sudah keluar?" Nathan yang duduk di sebelah Chris mengalihkan topik pembicaraan.


Christian menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Nathan.


"Sudah," jawab Chris singkat.


"Kau diterima?" Gantian papa Dion yang bertanya.


Christian menggaruk tengkuknya sendiri.


"Ya. Tapi papa merobek suratnya dan mengatakan pada pihak Universitas kalau aku mengundurkan diri," jawab Christian seraya tersenyum kecut.


Tentu saja jawaban dari Chris barusan, membuat papa Dion dan Nathan terkejut.


"Bagaimana bisa, Chris? Bukankah kemarin kau mengatakan kalau papamu sudah setuju dengan rencanamu ikut program beasiswa?" Sergah papa Dion tak mengerti.


"Sebenarnya, Chris berbohong, Om. Chris hanya minta izin pada mama kala itu karena papa sedang ada urusan di luar negeri. Dan kemarin saat surat itu datang, papa yang menerimanya. Dan papa langsung murka," cerita Christian dengan raut wajah sedih.


Nathan menepuk punggung Christian, berusaha memberi kekuatan pada sahabatnya tersebut.


"Jadi, kau tidak akan masuk ke Universitas?" Tanya papa Dion sekali lagi.


Chris menggeleng,


"Chris akan langsung berangkat ke Amrik setelah kelulusan," jawab Christian yang kini tertunduk lesu.


Papa Dion menatap prihatin pada Christian.


Padahal kemampuan basket Chris bisa dibilang sangat bagus dan mumpuni. Andai kedua orang tuanya mendukung, bukan tak mungkin Chris akan menjadi seorang pemain basket profesional yang tangguh.


"Chris!" Panggil papa Dion lembut.


Pemuda tersebut segera mendongakkan kepalanya dan menatap pada papa Dion.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika saat ini kesempatanmu untuk menjadi seorang pemain profesional belum bisa terwujud, yakinlah kalau kau akan bisa mewujudkannya suatu hari nanti," nasehat papa Dion bijak.


"Papa benar, Chris. Jangan menyerah terlalu cepat. Kau harus tetap melatih skill basketmu yang luar biasa itu," Nathan ikut menimpali.


Christian mengangguk.


"Akan kuusahakan. Semoga nanti setelah menyelesaikan pendidikanku, aku bisa kembali menjadi lawanmu," jawab Christian seraya memukul bahu Nathan.


Nathan terkekeh.


"Itu baru semangat," Nathan merangkul Christian cepat.


"Om suka dengan semangatmu yang pantang menyerah itu, Chris," puji papa Dion cepat.


Nadine keluar dari rumah sudah dengan wajah segar sesudah mandi. Gadis itu membawa nampan berisi tiga cangkir teh yang masih mengepulkan asap.


Setelah menyajikan teh, Nadine segera ikut duduk di samping papa Dion.


"Lagi ngobrolin apa? Kayaknya seru," tanya Nadine kepo.


"Hanya obrolan pria. Aku yakin kau tidak akan paham," sahut Nathan cepat.


Nadine hanya mencibir.

__ADS_1


"Oh, ya. Berhubung hari ini kalian berdua sudah berbuat salah, papa akan menghukum Nadine dan Chris," papa Dion kembali angkat bicara.


"Apa?!" Sahut Nadine dan Chris berbarengan yang langsung disambut oleh gelak tawa dari Nathan.


"Sudah konsekuensi. Kalian bersalah, jadi papa harus memberi hukuman," ujar papa Dion sekali lagi.


"Oh ayolah, Pa! Nadine kan sudah minta maaf dan mengaku salah," rengek Nadine yang mulai merayu sang papa.


"Rayu teruus! Kau memang jagonya merayu, Nad!" Ejek Nathan yang sepertinya puas sekali melihat Nadine dihukum.


"Diam!" Gertak Nadine galak.


Bukannya takut, Nathan malah semakin mengejek Nadine dengan memeletkan lidah ke arah saudara kembarnya tersebut.


"Kau akan memasak makan malam, Nadine," ujar papa Dion


"Dan satu lagi, Christian tidak boleh menjemputmu saat pagi. Kau harus berangkat sekolah bersama Nathan satu bulan ke depan," imbuh papa Dion lagi dengan nada tegas.


"Bagaimana saat pulang sekolah? Bukankah Nathan harus latihan?" Sela Nadine cepat.


"Naik ojeklah! Atau naik angkutan umum," bukan papa Dion, melainkan Nathan yang menjawab pertanyaan Nadine dengan ketus.


"Nathan benar. Jangan merepotkan Christian!" Ujar papa Dion membebarkan jawaban dari Nathan.


Nadine mencebik.


Tapi sepertinya gadis itu sudah enggan melayangkan protes.


"Hanya sebulan kan, Om?" Tanya Christian tiba-tiba.


Papa Dion dan Nathan serempak menoleh ke arah Christian.


"Iya, sebulan dari sekarang," jawab papa Dion tegas.


"Tunggu, Pa!" Nathan sedikit menyela.


"Satu minggu lagi kami sudah libur kenaikan kelas, Pa! Nathan rasa hukuman ini hanya sia-sia," ujar Nathan yang sok-sokan berteori.


Nadine yang tadinya mencebik ganti tergelak.


"Begitu, ya?" Papa Dion menggaruk kepalanya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, sampai libur kenaikan kelas Christian tidak boleh mengantar jemput Nadine," papa Dion meralat hukumannya.


"Apa Chris boleh mengajak Nadine pergi saat libur kenaikan kelas, Om?" Tanya Christian cepat.


"Boleh, asal aku juga kamu ajak," sergah Nathan cepat seraya terkekeh.


Nadine hanya mencibir dan papa Dion sedikit terkekeh.


"Nathan benar, Chris. Kamu boleh mengajak Nadine jalan-jalan jika Nathan juga kamu ajak," jelas papa Dion.


Chris mengangguk paham.


"Baiklah, Om," pungkas Christian yang masih mengangguk.


Matahari sudah hampir terbenam di cakrawala, saat Christian berpamitan pada keluarga Nadine dan pulang menuju rumahnya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2