Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#58


__ADS_3

Nadine berjalan mendekat ke arah Christian yang berbaring membelakangi pintu masuk.


"Chris!" Nadine menepuk punggung pemuda itu.


Christian terlonjak kaget dan segera berbalik menatap Nadine. Kedua mata Christian terlihat berkaca-kaca.


Apa Christian habis menangis?


Christian dengan cepat mengusap matanya untuk menghapus airmata sialan tersebut.


"Hai, Nadine," Christian memaksa tersenyum pada Nadine.


"Kau menangis?" Tanya Nadine yang dengan cepat meraih tisue di meja samping ranjang dan mengusapkannya ke netra Christian.


"Tidak. Aku hanya..." lidah Christian mendadak terasa kelu.


Bagaimana Chris akan menjelaskan pada Nadine?


Nadine membantu Christian untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang.


"Bagaimana kakimu?" Tanya Nadine sembari melihat ke arah kaki kanan Christian yang kini di gips.


"Baru selesai di operasi. Hanya tinggal pemulihan," jawab Christian yang masih memaksa untuk tersenyum.


"Kau sedih? Kau ingin menceritakannya kepadaku?" Tanya Nadine lagi seakan bisa membaca kesedihan di hati Christian.


"Papa tidak mengizinkanku bermain basket lagi setelah ini," jawab Christian dengan nada sedih.


"Kemarin saat pertandingan itu aku sengaja membujuk papa agar datang menonton pertandinganku. Aku ingin menunjukkan pada papa kalau aku itu nemang serius ingin menjadi seorang pemain basket. Aku ingin menunjukkan pada papa kalau aku punya potensi. Tapi semuanya malah diluar dugaan. Kenapa harus ada insiden bodoh itu saat papa sedang menonton pertandinganku?" Imbuh Christian panjang lebar seakan sedang menumpahkan rasa frustrasinya.


Nadine meraih tangan Christian dan menggenggamnya erat.


"Kau tahu? Aku tadi berbicara dengan papamu sebelum masuk ke ruangan ini," ucap Nadine yang langsung membuat Christian terkejut.


"Apa papa mengomelimu?" Tanya Christian khawatir.


Nadine tersenyum,


"Tidak, Chris! Papa kamu baik," jawab Nadine bersungguh-sungguh.


"Kami mengobrol cukup lama tadi," imbuh Nadine lagi.


"Papa bilang apa?" Tanya Christian penasaran.


"Papamu menyuruhku masuk dan mengatakan kepadamu, kalau mulai sekarang papa kamu tidak akan melarangmu bermain basket lagi. Kau masih boleh bermain basket setelah kakimu pulih nanti," ucap Nadine masih tersenyum ke arah Christian.


"Kau berhasil membujuk papa?" Tanya Christian tidak percaya.


"Aku tidak membujuknya. Aku hanya mengatakan semua kebenaran tentang kamu dan basket. Tentang potensi kamu dalam basket. Dan tentang hidupmu yang akan hampa tanpa bola oranye itu," ujar Nadine panjang lebar.


"Astaga! Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang," Christian berbinar senang.


Nadine segera mendekat ke arah Christian dan memeluk pemuda itu.


"Tetaplah bersemangat dan jangan menyerah!" Ucap Nadine seraya menepuk punggung Christian.


"Apa boleh aku menciummu sekarang?" Tanya Christian lagi seraya tersenyum nakal pada Nadine.


"Dalam mimpimu!" Cibir Nadine yang langsung menoyor kepala Christian.

__ADS_1


"Jahat sekali. Bukankah aku calon suamimu?" Goda Christian lagi masih pantang menyerah.


"Aku belum ada rencana menikah dalam waktu dekat," sahut Nadine seraya terkekeh.


Christian ikut terkekeh.


"Tapi aku yang akan tetap menjadi calon suamimu, kapanpun kau akan menikah," timpal Christian penuh percaya diri.


"Pede sekali!" Gumam Nadine yang belum berhenti tertawa.


Nadine mengambil ponsel Christian dari dalam tasnya.


"Ini ponselmu! Tas dan baju gantimu masih di rumah dan belum sempat aku bawa," ucap Nadine seraya memberikan ponsel pada Christian.


"Untukmu saja!" Jawab Christian dengan nada santai.


Pemuda itu segera menyalakan ponselnya.


"Apa?" Nadine mengernyit tak mengerti.


"Tas dan baju gantiku untuk kamu saja. Kamu simpan untuk kenang-kenangan," tutur Christian sekali lagi menjawab kebingungan Nadine.


"Aku bukan fans kamu. Kenapa harus menyimpan barang-barang kamu?" Sahut Nadine meledek.


"Kau calon istriku. Ingat? Kau akan membutuhkannya saat kita LDR-an nanti," ucap Christian asal.


"Bisakah kita berhenti membahas tentang calon istri dan calon suami? Aku merasa belum saatnya kita memikirkan hal itu," sergah Nadine seraya bersedekap dan memasang wajah kesal.


Christian tergelak.


"Baiklah. Aku akan memanggilmu pacar kalau begitu," tukas Christian memasang wajah sok cool.


"Kita? Pacaran? Aku masih trauma," timpal Nadine pura-pura berpikir.


Nadine tergelak,


"Yakin setia? Nanti di Amrik liat yang bening kamu kepincut. Lupa deh sama aku," sahut Nadine seraya mencibir.


"Hoho, aku bukan cowok sejenis itu. Kan aku sudah bilang sama kamu. Kalau aku bakalan setia sama satu gadis," Christian menaik turunkan alisnya.


"Kamu bisa ikut aku ke Amrik kalo gak percaya," imbuh Christian lagi.


"Hmmmm. Maaf, tuan kaya. Papaku tidak sanggup jika harus membiayai kuliahku di Amrik," timpa, Nadine sok serius.


"Hey! Kau kan sudah dekat dengan papaku. Bagaimana kalau kau minta saja papaku yang membayar kuliahmu," usul Christian tiba-tiba.


Sontak Nadine kembali tergelak.


"Memangnya aku siapa? Minta papa kamu biayain kuliah aku? Haduuh gak tahu diri banget kesannya," ujar Nadine masih tergelak.


"Kan kamu calon menantu kesayangan papa aku," Christian kembali menaik turunkan alisnya.


"Rusak sudah image-ku sebagai calon menantu kalau udah matre diawal," gumam Nadine yang ternyata didengar oleh Christian.


"Tu kan! Berarti kamu udah setuju jadi calon menantu papa aku. Itu artinya kamu juga udah setuju jadi calon istri aku," sahut Christian penuh percaya diri.


"Udahlah! Aku malas kalo kamu bahas tentang calon istri terus," Nadine mencebik dan bersedekap.


"Baiklah aku minta maaf, Nadine yang cantik," rayu Christian seraya mengulurkan kedua tangannya tangannya ke arah Nadine untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Baiklah, aku maafkan," Nadine membalas uluran tangan Christian. Namun secepat kilat, Christian malah menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Chris!!" Nadine berontak.


"Apa? Aku hanya ingin memelukmu," sergah Christian nakal.


Pemuda itu mengeratkan dekapannya pada Nadine.


"Dasar!!" Nadine memukul-mukul dada Christian.


"Kau siap menjalin hubungan jarak jauh denganku?" Bisik Christian di telinga Nadine.


Nadine mendongakkan wajahnya dan menatap dalam ke arah netra milik Christian.


"Siap tidak siap," jawab Nadine mencoba tersenyum.


"Aku masih berharap, kau mau ikut denganku ke sana," Christian menyandarkan dagunya di atas puncak kepala Nadine.


"Kau nanti akan pulang kesini. Kenapa aku harus ikut kesana?" Ujar Nadine yang kini membenamkan kepalanya dalam dekapan Christian.


"Kau akan menungguku pulang?" Tanya Christian lagi.


"Aku tidak punya pilihan lagi," jawab Nadine terkekeh.


"Ngomong-ngomong, aku membawa hadiah untukmu," ucap Nadine lagi yang ingat dengan oleh-olehnya untuk Christian.


"Oh, ya? Hadiah apa?" Chris sudah melepaskan dekapannya pada Nadine. Pemuda itu tampak antusias sekali dengan hadiah kejutan dari Nadine.


"Bentar!"


Nadine mengambil tasnya dan mengambil hadiah untuk Christian.


"Taraa!!" Nadine mengeluarkan setumpuk kertas dan memberikannya pada Christian.


"Apa ini?" Tanya Christian mengernyitkan dahinya.


"Tugasmu hari ini. Kamu harus mengerjakannya, agar besok bisa aku kumpulkan ke sekolah," jelas Nadine seraya tersenyum puas.


"Ouh jahatnya! Kenapa kamu gak bantuin aku mengerjakannya?" Christian memasang wajah melas.


"Aku sedang sakit, Nad!" Imbuh Christian lagi masih memelas.


"Yang sakit kakimu, oke! Kamu masih bisa mengerjakannya. Ayo! Aku bantuin!" Ujar Nadine memberi perintah.


Gadis itu mengambil pena dari dalam tasnya dan memberikannya pada Christian.


"Ayo, kerjakan!" Perintah Nadine sekali lagi.


Christian hanya bisa menghela nafas dan mulai mengerjakan soal demi soal di lembaran tersebut. Sesekali Nadine membantu Christian saat pemuda itu mengalami kesulitan.


.


.


.


Duh... othor baper 😄


Nyari pacar yang kayak Christian dimana yo😂

__ADS_1


Terima kasih pembaca baik hati yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀


__ADS_2