
Ping!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Nathan.
Nathan yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, segera membuka pesan di ponselnya. Ada sebuah nomor baru.
[Hai, Kak Nathan. Annel]
Nathan tersenyum simpul.
Sudah sejak sore Nathan menunggu pesan dari gadis ini. Dan baru sekarang Annel mengirim pesan.
[Hai, Annel. Belum tidur?] -Nathan-
[Belum. Baru pulang dari makan malam di luar bareng mama dan papa.] -Annel-
[Hmmm. Begitu ya? Sama mama dan papa atau sama pacar? Ini kan malam minggu,] -Nathan-
[Sama mama dan papa, Kak! Annel mana punya pacar] -Annel-
[Cantik-cantik jomblo berarti, ya?] -Nathan-
[Hehe. Kata mama, Annel harus sekolah dulu gak boleh mikirin pacar atau cinta-cintaan] -Annel-
[Bener tu kata mama kamu] -Nathan-
[Eh, ngomong-ngomong aku kirim permintaan follow ke akun instagram kamu, lho. Accept dong!] -Nathan-
[Hah? Serius? Bentar, kak] -Annel-
Selang beberapa menit,
[Udah aku accept, Kak. Aku juga udah lama follow akunnya Kak Nathan,] -Annel-
[Makasih.] -Nathan-
[Sama-sama, Kak] -Annel-
[Ngomong-ngomong, kamu kan tinggal lumayan jauh dari kota ini. Kok tadi sore sampai dibela-belain datang ke GOR. Lagi liburan atau bagaimana?] -Nathan-
[Aku udah pindah rumah ke kota ini sekarang, Kak. Makanya tadi seneng banget karena akhirnya bisa nonton pertandingannya Kak Nathan secara langsung,] -Annel-
[Serius? Tinggal di daerah mana sekarang?] -Nathan-
[Perumahan Green Garden. Kak Nathan tahu?] -Annel-
[Hah? Tahu bangetlah, Annel. Aku juga tinggal di perumahan itu. Rumah kamu nomer berapa?] -Nathan-
[Yang paling ujung, Kak] -Annel-
[Oh. Boleh dong kapan-kapan aku main ke rumah kamu?] -Nathan-
[Boleh. Main aja!] -Annel-
__ADS_1
[Trus kamu masuk SMA mana tahun ini? Kata Nadine kamu kan baru aja lulus SMP] -Nathan-
[Aku udah daftar di SMA Harapan, Kak] -Annel-
[Asyik! Jadi adik kelasku berarti. Bisa sering ketemuan dong. Hehehe] -Nathan-
[Kak Nathan bisa aja. Udah baca novel yang Annel kasih tadi?] -Annel-
[Belum. Tadi baru mau baca, kamu ngajakin chat.] -Nathan-
[Hmmm, begitu ya? Yaudah baca, gih! Annel mau tidur,] -Annel-
[Yaudah. Met bobok Annel,] -Nathan-
[Met malam, Kak Nathan] -Annel-
Nathan tak membalas lagi dan segera mengambil novel pemberian Annel yang masih ada di dalam tasnya. Pemuda itu mulai membuka halaman demi halaman dari novel tersebut dan membacanya dengan khusyuk. Hingga mata Nathan terasa berat, Nathan seperti belum mau berhenti membaca novel karya Annel.
Dan akhirnya, Nathan tertidur masih sambil memegang novel tersebut.
****
"Annel ternyata sudah pindah ke kota ini. Pantas saja dia datang menonton pertandinganmu kemarin," Nadine membuka obrolan bersama Nathan.
Saudara kembar tersebut sedang menikmati sarapan pagi sebelum memulai aktivitas.
"Siapa Annel?" Papa Dion yang baru datang dari dapur merasa penasaran.
"Fans nya Nathan, Pa," jawab Nadine cepat.
"Gak usah pura-pura polos. Nathan yakin papa dulu juga punya banyak fans saat mulai menjadi pebasket profesional," timpal Nathan cepat.
"Satu-satunya fans papa yang paling setia ya, mama kalian," ujar papa Dion masih terkekeh.
"Asyik! Berarti dulu mama juga suka nungguin papa latihan?" Tanya Nadine kepo.
"Mama jago main basket juga ya, Pa?" Nathan ikut-ikutan bertanya.
"Mama kalian hanya mau main basket bersama papa. Jika bersama yang lain, dia pasti akan langsung menolak," jawab papa Dion seraya menerawang.
"Sweet sekali. Jadi pengen punya pasangan yang sama-sama hobi main basket," sahut Nadine seraya terkekeh.
"Chris jago main basket. Married gih sama Chris! Nanti biar bisa sparing tiap hari di court sama di ranjang. Hahaha," timpal Nathan seraya tergelak.
"Nathan!" Tegur papa Dion tidak senang karena Nathan menyebut-nyebut kata ranjang.
"Jaga tu mulut kalau ngomong!" Cibir Nadine yang sepertinya puas sekali melihat Nathan diomeli sang papa.
Nathan hanya mencebik.
"Jadi sebenarnya, kamu memang pacaran sama Chris?" Tanya papa Dion menyelidik seraya menatap tajam ke arah Nadine.
"Kami teman, Pa!" Sergah Nadine cepat.
__ADS_1
"Bohong dia, Pa. Kemarin baru aja jadian masih aja gak mau ngaku," sahut Nathan yang membantah pengakuan Nathan.
"Gak usah sok tahu!" Bentak Nadine galak.
"Sudah cukup!" Papa Dion setengah berteriak karena anak kembarnya ini mulai adu mulut lagi.
"Cepat habiskan sarapanmu, Nathan! Kau harus pergi latihan," ujar papa Dion selanjutnya.
Nathan tak membantah lagi dan segera menghabiskan sarapan yang ada di piringnya.
"Kau ada acara hari ini, Nadine?" Tanya papa Dion pada Nadine yanag sudah menyelesaikan sarapannya.
"Sepertinya tidak ada, Pa. Nadine akan di rumah saja," jawab Nadine cepat.
"Kau bisa main ke rumah Annel. Rumahnya di perumahan ini juga. Rumah yang paling ujung," saran Nathan sebelum meneguk air putih di gelasnya.
"Darimana kamu tahu?" tanya Nadine penasaran.
Apa Nathan stalking akun Annel semalam?
"Annel yang memberitahu. Kami sempat chattingan tadi malam. Trus Annel juga sudah mendaftar di SMA Harapan untuk tahun ajaran baru nanti," jelas Nathan panjang lebar.
Nadine bersiul,
"Nge-fansnya totalitas ternyata. Sampai masuk sekolahpun harus sama dengan sekolahnya Nathan Putra Grahita," ujar Nadine dengan nada mencibir.
"Rumah yang paling ujung itu milik pak Handoko yang baru pindah kesini beberapa minggu yang lalu. Apa kalian mengenal keluarga itu?" Papa Dion ikut-ikutan menimpali.
Pria paruh baya tersebut sudah berpenampilan rapi dan siap pergi bersama Nathan.
"Nadine cuma kenal sama anaknya, Pa. Dan dia adalah calon pacarnya Nathan," ucap Nadine menjelaskan.
"Ngaco kamu, Nad!" Nathan menoyor kepala Nadine. Gadis itu sontak tergelak.
"Lah kemarin katanya kamu minta dicarikan gandengan baru. Itu kan Annel nge-fans berat sama kamu. Rumahnya dekat pula. Jadiin gandengan gih!" Saran Nadine yang masih tergelak.
"Truk kali gandengan," cibir Nathan seraya bangkit dari duduknya.
"Ayo, Pa!" Ajak Nathan pada sang papa.
Sudah pukul tujuh lebih sekarang. Dan latihan akan dimulai pukul delapan. Jadi Nathan dan papa Dion harus bergegas.
"Kami pergi dulu, Nad! Telpon papa jika ada hal darurat atau kamu akan pergi kemanapun" pesan papa Dion sebelum berlalu dan menyusul langkah Nathan.
"Siap, Papa!" Jawab Nadine yang kini ikut beranjak dan membereskan sisa-sisa sarapan. Nadine membawa piring kotor bekas sarapan ke dapur untuk selanjutnya ia cuci.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen.