
Ujian Akhir Nasional baru saja berakhir satu pekan yang lalu.
Nadine, Nathan,dan Christ sedang berkumpul di teras rumah dan bercengkerama.
"Nad, kamu yakin mau ambil jurusan hukum di Universitas?" Tanya Christian tiba-tiba.
Nadine mengendikkan bahunya.
"Entahlah, mendadak aku jadi ragu dan bingung," ujar Nadine seraya menangkup pipinya sendiri.
Bibir gadis itu jadi terlihat manyun seperti ikan koi.
"Boleh kasih saran nggak?" Timpal Christian cepat.
"Saran apa?" Nadine menatap serius ke arah Christian.
"Mending kamu ambil jurusan psikologi aja deh!" Ujar Christian memberi saran.
"Cocok!" Timpal Nathan cepat.
"Kenapa begitu?" Tanya Nadine bingung.
"Karena kamu rajin memberi motivasi. Kata-kata kamu itu selalu adem dan terdengar bijak," jelas Nathan dengan ekspresi wajah lebay.
"Lebay!" Nadine memukul bahu Nathan.
"Nah, sekalian kurangi itu sikap barbar kamu," ujar Nathan lagi yang kali ini hanya disambut Nadine dengan sebuah cebikan.
"Coba kamu pikirkan lagi, mumpung masih ada waktu," saran Christian seraya mengusap kepala Nadine.
Nadine berpikir sejenak.
"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti." Ujar gadis itu akhirnya.
"Kamu kapan berangkat, Christ?" Tanya Nadine mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa memang? Mau ngasih hadiah buat Christian, ya?" Goda Nathan yang kedua jarinya membentuk tanda kutip.
"Apaan sih, Nath! Otak itu dibersihin! Biar nggak negatif thinking terus!" Gerutu Nadine mengomeli Nathan.
__ADS_1
"Kapan, Christ?" Nadine mengulangi pertanyaannya karena belum dijawab oleh Christian.
"Minggu depan," jawan Christian seraya mengendikkan bahu.
"Cepet banget, Christ!" Protes Nathan seolah tidak terima.
"Iya, pengumuman kelulusan kan masih bulan depan. Masa kamu berangkat sebelum kelulusan?" Nadine ikut-ikutan protes.
"Mau bagaimana lagi? Banyak yang harus diurus di sana," ujar Christian memberi alasan.
"Dan sebenarnya mama sama papa mau ngajak aku liburan dulu sebelum aku pindah ke sana," imbuh Christian seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Nathan bersiul,
"Enak ya, jadi anak orang tajir. Selesai ujian diajak liburan ke luar negeri."
"Lah kita, Nad. Selesai ujian cuma muter-muter di court ngejar bola basket," kelakar Nathan yang langsung disambut Nadine dengan tawa renyah.
"Makanya, buruan gih, jadi orang tajir! Biar aku bisa ikut kamu liburan ke luar negeri," timpal Nadine masih tertawa.
"Masih nunggu warisan dari papa yang gak turun-turun ini," sahut Nathan asal.
"Emang warisannya papa bola basket berapa kontainer?"
"Nggak tahu. Coba kamu tanya ke papa!" Sahut Nadine asal.
Christian yang mendengar celotehan dua anak kembar tersebut tak berhenti tertawa.
"Kalian kayaknya cocok jadi pelawak," timpal Christian mengemukakan pendapatnya.
"Haish! Lama-lama aku multi profesi juga ini. Pebasket, model, psikolog, dan sekarang pelawak juga." Nadine memutar bola matanya.
"Bagus dong! Cepet tajir kamu nanti, Nad!" Timpal Nathan seraya terkekeh.
Nadine memutar bola matanya sekali lagi dan sudah enggan menanggapi.
Ponsel Christian berbunyi. Pemuda itu segera mengangkatnya dan berbicara sejenak di telepon.
"Aku harus pulang sekarang," ucap Christian setelah selesai mengangkat telepon.
__ADS_1
"Udah ada yang dicariin mamanya," goda Nadine sedikit terkekeh.
"Gara-gara kamu. Aku jadi anak mami sekarang," keluh Christian seraya menyambar tas dan tongkatnya.
"Aku pulang dulu, Nath!" Pamit Christian pada Nathan yang kini sibuk memainkan ponselnya.
"Oke! Hati-hati, Christ!" Sahut Nathan yang hanya melambaikan tangan pada Christian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Nadine mengantar Christian menuju ke arah mobil.
"Kamu mau ikut aku liburan? Aku akan bicara sama mama biar kamu bisa diajak," tawar Christian.
Nadine tertawa sejenak sebelum menjawab,
"Nggak usah, Christ! Itu kan momen keluarga kamu bersama kedua orangtuamu. Aku gak mau jadi pengganggu," tolak Nadine bersungguh-sungguh.
"Oh, ayolah! Kamu juga akan menjadi bagian keluarga tak lama lagi," rayu Christian sekali lagi.
"Masih lama!" Nadine meninju bahu Christian.
"Kita kan udah sama-sama janji mau kuliah dulu, baru mikirin tentang pernikahan," imbuh Nadine lagi.
Christian hanya mengangguk seraya tersenyum. Dua remaja itu sudah sampai di dekat mobil Christian.
"Baiklah, kalau kamu maunya begitu. Aku bisa apa selain bersabar," ujar Christian seraya mengacak rambut Nadine.
"Aku pulang dulu. Bye!" Christian melambaikan tangannya pada Nadine sebelum masuk ke dalam mobil.
Nadine balas melambaikan tangan pada Christian sesaat sebelum mobil pemuda itu meninggalkan rumahnya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1