
Nadine yang baru tiba di rumah, sedikit terkejut saat mendapati Christian yang sudah berada di minicourt di depan rumahnya.
Pemuda tersebut duduk di atas court seraya memutar-mutar bola basket yang ada di tangannya.
"Chris?" Sapa Nadine yabg baru masuk ke dalam pagar rumah.
"Hai! Kau sudah datang," sambut Christian seraya tersenyum senang.
"Kau sedang apa di rumahku?" Tanya Nadine bingung.
"Aku menunggumu dan ingin meminjam buku catatan milikmu. Bukankah tadi di sekolah kamu bilang kalau bukumu tertinggal di rumah," jawab Christian cepat.
"Dan kamu juga menyuruhku datang ke rumah jika ingin meminjam buku catatan," imbuh Christian lagi.
Nadine mengangguk dan akhirnya ingat.
"Iya, aku baru ingat. Maaf," ujar Nadine dengan nada bersalah karena sudah berprasangka buruk pada Christian.
"Ayo masuk, Chris!" Ajak Nadine selanjutnya.
Christian mengangguk dan segera mengikuti langkah Nadine menuju ke teras rumah. Christian duduk di kursi yang ada di teras. Sedangkan Nadine sudah menghilang ke dalam rumah.
Tak berselang lama, mobil papa Dion memasuki halaman rumah. Sepertinya papa dari Nadine dan Nathan tersebut baru saja pulang.
"Chris!" Sapa papa Dion setelah turun dari mobilnya.
Christian bangkit berdiri dan tersenyum pada papa Dion.
"Siang, Om. Baru pulang?" Cristian balik menyapa papa Dion dan sedikit berbasa-basi.
"Kau mengantar Nadine pulang hari ini?" Tanya papa Dion dengan raut wajah yang terlihat tidak senang.
"Eh, enggak, Om. Chris kesini karena ingin meminjam buku catatan milik Nadine. Tapi kami tadi pulang sendiri-sendiri dan tidak berboncengan," dengan tergagap-gagap, Christian berusaha menjelaskan pada papa Dion kronologi kejadian sing ini.
"Benarkah itu?" Sergah papa Dion lagi yang sepertinya masih belum percaya.
"Benar, Om. Chris berani bersumpah," jawab Christian cepat.
Nadine keluar dari rumah dan sudah berganti baju. Gadis itu membawa beberapa buku ditangannya dan juga segelas es teh untuk Christian.
"Papa? Sudah pulang?" Nadine sedikit terkejut karena papa Dion tiba-tiba sudah ada di teras dumah dan mengobrol dengan Christian.
"Papa pulang cepat hari ini," jelas papa Dion pada Nadine.
"Kau tadi pulang bersama Christian, Nad?" Sergah papa Dion yang ganti menginterogasi Nadine.
"Tidak! Nadine naik ojek, Pa! Papa lihat ini," Nadine menunjukkan aplikasi ojek online yang ada di ponsel miliknya pada papa Dion.
Papa Dion melihat sejenak riwayat pesanan yang ada di aplikasi tersebut, sebelum mengembalikan ponsel tersebut pada Nadine.
Pria paruh baya tersebut mengangguk, dan ikut duduk di kursi teras bersama Christian dan Nadine.
"Ini, Chris!" Nadine mengangsurkan beberapa buku catatannya pada Christian.
"Aku bawa dulu, ya. Besok pagi aku balikin," ucap Christian cepat.
Nadine mengangguk,
"Udah santai aja," jawab Nadine seraya tersenyum.
"Kenapa meminjam buku catatan Nadine? Apa kamu membolos, Chris?" Tanya papa Dion penasaran.
"Chris sakit dan dirawat di rumah sakit minggu kemarin, Pa!" Bukan Christian, melainkan Nadine yang menjawab dan menjelaskan pada papa Dion.
"Oh, ya? Kamu sakit apa, Chris?" Tanya papa Dion yang sepertinya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ad sedikit masalah di lambung Chris, Om. Sebenarnya bisa rawat jalan, tapi mama khawatir makanya Chris dipaksa untuk rawat inap," jelas Christian sedikit tersenyum.
"Tetap jaga kesehatan, dan jangan terlambat makan!" Pesan papa Dion seraya menepuk punggung Christian.
"Iya, Om. Terima kasih nasehatnya," ucap Christian tulus.
"Papa udah pulang, tapi kok Nathan belum pulang?" Nadine mengalihkan pembicaraan.
"Nathan masih berlatih bersama tim," jawab papa Dion cepat.
"Pelatihnya Nathan bukan papa, jadi jadwal latihan memang beda," imbuh papa Dion lagi.
"Oh," sahut Nadine singkat.
"Chris, masih aktif di tim basket sekolah?" Papa Dion ganti bertanya pada Christian.
"Masih, Om. Semoga masih bisa ikut turnamen antar sekolah selanjutnya," jawab Christian seraya berharap.
"Kamu udah kelas dua belas saat turnamen nanti, Chris! Bukankah sebaiknya kamu fokus ke ujian saja," sergah Nadine menyela.
"Aku tahu. Tapi aku masih berharap bisa ikut serta. Karena nanti setelah pindah, aku tidak yakin akan bisa mengikuti lagi turnamen-turnamen sejenis," sahut Christian cepat seraya tersenyum kecut.
Papa Dion kembali menepuk punggung Christian.
"Tetaplah melatih skill-mu, meskipun kamu tidak masuk klub basket dan tidak ikut turnamen," pesan papa Dion bijak.
"Iya, Om. Chris tetap akan berlatih saat di Amrik nanti," jawab Christian bersungguh-sungguh.
"Nadine juga akan berlatih keras. Biar lolos seleksi masuk di Universitas," timpal Nadine yang langsung membuat papa Dion menoleh ke arah putrinya tersebut.
"Tunggu! Apa maksud kamu, Nad?" Tanya papa Dion seraya mengernyitkan kedua alisnya.
"Nadine akan masuk ke Universitas lewat jalur beasiswa basket, Pa," jelas Nadine seraya tersenyum tipis.
Nadine menggeleng,
"Bukankah Nadine harus mengembangkan potensi dan skill yang Nadine miliki? Nadine sudah memutuskannya, Pa," jawab Nadine menjelaskan.
"Dan sama sekali tidak ada paksaan saat Nadine mengambil keputusan ini," imbuh Nadine dengan nada tegas dan bersungguh-sungguh.
Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir papa Dion.
"Papa senang akhirnya kamu bisa berpikir jauh kedepan," ujar papa Dion bangga.
Nadine hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Mau aku bantuin workout, Nad?" Tawar Christian.
"Tentu saja. Ayo!" Nadine mengambil bola dari rak dan segera berlari menuju minicourt.
Gadis itu sudah mulai melakukan pemanasan.
Christian melepas seragam yang ia kenakan, sebelum akhirnya menyusul Nadine ke minicourt dan ikut melakukan pemanasan. Tak berselang lama, dua remaja tersebut sudah melakukan pertandingan one on one di minicourt halaman rumah Nadine.
Dan papa Dion mengawasi keduanya dari pinggir lapangan sambil sesekali memberikan arahan pada Nadine dan Christian agar skill keduanya lebih matang lagi.
Nadine dan Christian berlatih hingga sore menjelang.
Matahari sudah hampir terbenam, saat Christian dan Nadine selesai melakukan workout. Papa Dion sudah masuk ke rumah sedari tadi, dan sekarang tinggal Nadine dan Christian yang duduk selonjor diatas lantai minicourt.
"Oh iya, Chris, honor kamu sebagai modelnya bang Rico udah cair dan kemarin dititipin ke aku. Bentar aku ambilin," Nadine sudah akan beranjak berdiri, namun Christian dengan cepat mencegahnya.
"Gak usah, Nad!" Cegah Christian cepat.
Nadine kembali duduk di samping Christian.
__ADS_1
"Honor aku buat kamu aja," ucap Christian selanjutnya.
"Hah? Janganlah, Chris! Itu uang kamu," tolak Nadine cepat.
"Dan aku berikan untuk kamu," sahut Christian bersikeras.
"Tapi aku bukan istri kamu. Kenapa kamu memberikan honor kamu ke aku?" Ujar Nadine seraya terkekeh.
"Kamu calon istri aku," timpal Christian cepat yang langsung membuat Nadine terdiam.
Christian mengusap kepala Nadine yang kini terlihat salah tingkah.
"Kamu mau kan, menjadi calon istri untukku?" Tanya Christian lagi seraya tersenyum.
"Apaan sih! SMA aja belum tamat udah mikirin calon istri," sahut Nadine yang masih saja salah tingkah.
Christian hanya terkekeh dengan jawaban Nadine barusan.
"Baiklah, baiklah. Tapi uangnya buat kamu aja, oke! Anggap saja sebagai hadiah dari aku," ujar Christian lagi.
"Hadiah apa? Ulang tahunku masih lama," Nadine masih bersikeras menolak.
"Emmmm. Hadiah persahabatan mungkin," ujar Christian asal.
"Kau yakin? Jumlahnya lumayan lho. Bisalah kalau dipake beli sepatu AD 1 yang Black Panther edition," ucap Nadine seraya terkikik.
"Yaudah kamu aja yang beli, trus kamu yang pakai. Kan yang mau jadi pebasket profesional kamu," timpal Christian yang ikut terkekeh.
"Tapi aku jadi gak enak,"
"Udahlah! Tinggal ucapin makasih aja apa susahnya," Christian mengacak rambut Nadine.
"Iya, iya! Makasih Christian yang baik hati," ucap Nadine dengan raut wajah lebay.
"Bukan begitu! Coba diulangi jadi..." Christian membisikkan sesuatu pada Nadine dan gadis itu sontak tergelak.
"Enggak! Aku gak mau!" Tolak Nadine cepat yang masih saja tergelak.
"Ayolah, sekali saja! Dan honorku selanjutnya untuk kamu semua," bujuk Christian berusaha merayu Nadine.
"Enggak! Aku gak mau!" Nadine masih bersikeras
"Ouh! Jahat sekali. Baiklah, aku akan pulang saja," Christian sudah beranjak dan menuju ke teras rumah Nadine. Pemuda itu mengambil tasnya dan segera berjalan ke arah motornya.
Nadine mengikuti langkah Christian.
Christian sudah menstarter motornya dan bersiap untuk pergi saat Nadine membisikkan sesuatu di telinga Christian,
"Terima kasih hadiah persahabatannya, calon suami," bisik Nadine malu-malu yang langsung membuat Christian menyunggingkan senyum di bibirnya.
Christian menatap sekali lagi pada wajah ayu Nadine yang kini bersemu merah.
"Sama-sama calon istri, aku pulang dulu," pamit Christian sedikit berbisik.
Nadine hanya mengangguk, dan Christian segera melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Nadine.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀
__ADS_1