
Nathan yang baru tiba di sekolah, berjalan santai menyusuri koridor sekolah yang mengarah ke kelasnya. Pemuda itu berjalan seraya bersenandung kecil. Beberapa siswa yang berpapasan dengan Nathan menyapanya. Dan karena Nathan bukanlah kapten basket yang sombong, jadi Nathan membalas sapaan setiap siswa yang berpapasan dengannya.
"Nathan!" Seorang rekan Nathan di tim basket sekolah menepuk pundak Nathan. Membuat Nathan menghentikan langkahnya sejenak.
"Ada apa?" Tanya Nathan cepat.
"Pelatih dan guru olahraga mau bicara. Semua anggota tim disuruh kumpul di ruang olahraga. Ayo!" Ajak rekan Nathan tersebut.
Nathan hanya mengendikkan bahu dan mengikuti langkah rekannya tersebut ke arah ruang olahraga yang ada di dekat lapangan basket.
Beberapa anggota tim basket sudah berkumpul di dalam ruangan tersebut.
Ada Derrick juga yang sudah bergabung bersama anggota tim yang lain.
Derrick menghampiri Ntahan yang baru tiba.
"Nathan! Aku mau ngomong," sapa Derrick cepat sedikit berbisik.
"Ngomong aja! Aku dengerin," sahut Nathan ketus.
"Aku dan Vero udah putus. Aku benar-benar minta maaf atas sikapku beberapa bulan lalu yang sudah menghancurkan hubunganmu bersama Vero," ujar Derrick panjang lebar.
Nathan tersenyum simpul.
"Kau pikir aku peduli. Kamu mau putus atau jadian lagi sama Vero, aku udah gak peduli!" Jawab Nathan masih dengan nada yang ketus.
"Satu hal lagi. Kau bukan temanku! Jadi jika aku berbicara kepada, itu hanya karena sebuah profesionalitas. Bukan karena aku masih peduli padamu," Nathan menuding ke arah Derrick.
"Jadi menjauhlah dariku!" Imbuh Nathan lagi seraya mendorong Derrick dan menyingkir dari hadapan pemuda tersebut. Nathan memilih untuk bergabung dengan rekan tim basketnya yang lain.
Pelatih tim basket sekolah memasuki ruangan. Sejenak suasana menjadi hening.
"Selamat pagi semua," sapa coach tersebut hangat.
"Pagi, Coach!" Jawab anggota tim basket serempak.
"Pagi ini kalian sengaja kami kumpulkan karena akan ada beberapa agenda baru mulai minggu ini."
__ADS_1
"Kita akan mulai berlatih rutin lagi dengan tambahan beberapa anggota baru karena ada anggota yang lama sudah naik ke kelas dua belas dan sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir."
"Dan Nathan!" Coach memanggil Nathan untuk maju kedepan.
Nathan pun segera maju ke depan dan berdiri di samping coach.
"Karena kamu sudah ikut pemusatan latihan bersama klub Putra Garuda, posisi kamu sebagai kapten tim terpaksa kami copot," ujar coach sedikit berbisik.
Raut wajah Nathan seketika berubah menjadi raut kekecewaan.
Tapi coach benar. Nathan tidak boleh egois dan harus memberi kesempatan pada anggota tim yang lain.
Nathan menghela nafas panjang dan berusaha menegarkan hatinya.
"Derrick!" Coach ganti memanggil Derrick.
Nathan tentu saja sedikit terkejut. Apa maksudnya ini?
Apa setelah ini Derrick yang akan mrnjadi kapten tim basket?
Derrick maju ke depan dan ikut berdiri di samping coach.
"Latihan bersama akan kita mulai minggu depan. Jadwal latihan akan secepatnya dibagikan. Coach harap kalian semua disiplin mengikuti latihan dan tidak malas-malasan. Targetnya, tahun depan sekolah kita harus kembali merebut gelar juara," pungkas coach mengakhiri briefing pagi ini.
"Siap, Coach!" Jawab anggota tim basket secara serempak.
Nathan hanya mematung di tempatnya.
Derrick jadi kapten tim?
Yang benar saja.
Tapi Nathan juga tidak bisa berbuat banyak sekarang. Nathan saja belum tentu bisa ikut latihan rutin bersama tim basket sekolah.
Konsentrasi Nathan sekarang tentu saja pada pertandingan 3x3 antar klub profesional yang akan digelar saat libur kenaikan kelas nanti.
Coach sudah keluar dari ruang olahraga.
__ADS_1
Beberapa anggota tim juga mulai membubarkan diri. Nathan yang sedari tadi hanya membisu, ikut keluar dari ruang olahraga tersebut.
Namun, baru saja Nathan keluar. Beberapa anggota tim tampak bergerombol tak jauh dari pintu masuk.
"Kalau papaku coach di klub basket profesional, aku juga pasti bakalan jadi anggota klub basket itu dengan mudah," ucap seorang anggota tim basket seraya tertawa.
"Dan aku juga bisa dengan mudah merengek pada papaku untuk menjadi starting five di setiap pertandingan," timpal anggota tim yang lain yang langsung disambut gelak tawa oleh beberapa temannya.
Nathan yang mendengar semua itu mendadak merasa panas. Tentu saja Nathan yakin kalau para anggota tim basket ini pasti sedang membicarakan dirinya.
Nathan menggebrak meja yang ada di dekat siswa yang bergerombol tadi.
"Jangan menuduh sembarangan jika kalian tidak pernah tahu cerita yang sebenarnya!" Gertak Nathan galak. Keempat siswa laki-laki tadi hanya diam dan menatap ke atah Nathan.
"Papaku memang coach di klub Putra Garuda. Tapi papaku tidak pernah ikut andil dalam karierku di klub itu," imbuh Nathan lagi dengan nada yang masih ketus. Pemuda tujuh belas tahun tersebut segera pergi berlalu dengan sejuta amarah yang memenuhi dadanya.
"Haha. Anak papa ngambek," kelakar salah satu siswa yang bergerombol tadi. Sepertinya keempat siswa tersebut akan memulai lagi ghibahan mereka tentang Nathan.
****
Jam istirahat sekolah,
Nathan memainkan bola basket di lapangan sekolah seorang diri. Pemuda itu berulang kali melakukan tembakan ke arah ring basket demi meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.
Sejak dulu, Nathan paling benci jika orang-orang membandingkan kemampuan Nathan dalam bermain basket dengan sang papa. Nathan memang belum sehebat papa Dion yang pernah masuk dalam jajaran tim nasional bola basket beberapa tahun silam.
Tapi setidaknya, Nathan sudah berusaha keras sekarang. Nathan masuk ke klub basket Putra Garuda juga melalui seleksi yang ketat. Sama seperti pemain lain. Tapi mengapa seperti tidak ada yang percaya dengan kemampuan Nathan tersebut?
"Aaah!" Nathan berteriak sendiri seraya melempar bola basket ke sembarang arah. Pemuda itu duduk di tengah-tengah lapangan basket. Nathan seakan tak peduli dengan tatapan aneh dari beberapa siswa yang berlalu-lalang di sekitar lapangan basket.
Nathan sedikit tertekan belakangan ini.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀