
Pukul tujuh kurang lima belas menit.
Mobil papa Dion yang dikemudikan oleh Nadine sudah tiba di depan sekolah Nathan.
Jika biasanya Nathan yang mengantar Nadine ke sekolahnya naik motor, khusus tiga bulan kedepan sepertinya Nadine yang akan mengantar jemput Nathan memakai mobil papa Dion. Dan sekarang Papa Dion terpaksa memakai motor Nathan untuk beraktivitas.
"Terima kasih, supir cantik," ujar Nathan seraya membuka pintu mobil.
Nathan mengambil tongkat dari jok belakang dan segera keluar dari mobil sang papa.
Nathan sebenarnya bisa berjalan tanpa tongkat.
Tapi demi lututnya agar segera pulih, Nathan memilih untuk menuruti semua saran dari dokter yng menanganinya. Nathan ingin secepatnya kembali ke court dan ikut pertandingan.
"Aku akan menjemputmu jam dua. Jangan kelayapan!" Pesan Nadine sebelum Nathan menutup kembali pintu mobil tersebut.
"Iya, iya! Dasar bawel!" Gerutu Nathan seraya menutup pintu mobil.
Pemuda itu berjalan menggunakan tongkatnya masuk ke gerbang sekolah.
Nadine sendiri segera melajukan mobil sang papa setelah memastikan Nathan sudah masuk ke area sekolahnya. Jarak sekolah Nathan dan Nadine hanya sekitar dua kilometer. Jadi hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk Nadine sampai di sekolahnya.
****
Nathan berjalan tertatih menyusuri koridor sekolahnya. Kelas Nathan sekarang benar-benar terasa jauh gara-gara tongkat sialan ini.
"Kau tidak menjenguk Nathan?" Suara Derrick yang familiar di telinga Nathan, terdengar dari bawah tangga.
Derrick sedang bicara dengan siapa?
Nathan menghentikan langkahnya dan mengintip ke bawah tangga yang sepi dan sedikit gelap.
Sudah jadi rahasia umum kalau lokasi ini kadang dipakai oleh anak-anak nakal untuk berbuat hal-hal yang melanggar peraturan. Merokok atau berbuat mesum bersama pacar misalnya.
Nathan sendiri pernah beberapa kali berciuman bersama Vero di tempat sialan ini. Bibir merekah milik Vero selalu bisa membuat jiwa brengsek Nathan meronta hebat. Nathan memang bukan seorang murid yang polos. Nathan beberapa kali melakukan kenakalan di sekolah tanpa ketahuan pihak sekolah tentu saja.
Tapi bukankah kenakalan Nathan ini juga ia barengi dengan prestasi yang lumayan membanggakan? Selain jago di atas lapangan basket, Nathan juga berprestasi di bidang akademis. Nilai pelajaran Nathan tidak pernah kurang dari delapan.
Nathan melongok ke area bawah tangga untuk melihat lebih jelas siapa yang tengah berbicara bersama Derrick.
"Untuk apa aku menjenguknya? Aku yakin sebentar lagi Nathan akan kembali ke sekolah dengan kaki yang terpincang-pincang," sahut sebuah suara yang juga familiar di telinga Nathan.
Bukankah itu suara Veronica?
Dan apa yang Vero katakan barusan? Nathan tidak penting untuknya.
__ADS_1
Nathan kembali memasang pendengarnya baik-baik.
"Aku sedikit bosan dengan Nathan belakangan ini, Derrick. Sejak Nathan memergokiku mencium bibir Chris, pemuda itu mendadak berubah dingin padaku," Vero mengeluh pada Derrick seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Derrick.
"Kau mau memberiku kehangatan?" Rayu Vero lagi seraya mengecup bibir Derrick dengan intim. Dan sialnya Derrick juga membalas ciuman terkutuk itu.
Nathan mengepalkan erat tangannya demi meluapkan emosi di dadanya.
"Dasar brengsek!" Nathan mengumpat dalam hati.
"Teman macam apa loe itu, Derrick!" Suara Nathan menggema ke seluruh lorong.
Terang saja, Derrick yang sedang berciuman dengan Vero kaget bukan kepalang. Dua orang itu tampak salah tingkah saat tahu Nathan memergoki perbuatan mesum mereka.
"Na...Nathan. Loe udah sembuh?" Derrick berbasa-basi. Pemuda itu mendekat ke arah Nathan.
Namun dengan cepat Nathan mundur dan menghindar dari Derrick.
"Kalian berdua memang sama-sama brengsek. Dan kamu, Vero!" Nathan menuding ke arah Vero.
Gadis itu hanya bersedekap dan sama sekali tidak merasa bersalah.
"Ternyata benar kamu itu cewek gampangan. Seharusnya aku percaya pada kata-kata Christian waktu itu," lanjut Nathan lagi menahan emosi di dadanya.
"Aku sudah bosan dengan hubungan kita, Nathan. Aku ingin kita putus," sahut Vero cepat.
Nathan berdecak,
"Aku juga tidak butuh cewek murahan sepertimu!" Pungkas Nathan seraya pergi meninggalkan sahabat dan mantan pacarnya yang berselingkuh tersebut.
Dasar brengsek!
****
Nathan sedang menunggu Nadine menjemputnya di depan gerbang sekolah, saat Derrick menghampiri pemuda tersebut.
"Nathan, gue mau minta maaf soal tadi pagi," ucap Derrick dengan nada memohon.
Nathan menepis tangan Derrick dengan cepat.
"Gue gak butuh permintaan maaf dari loe! Silahkan loe pacaran atau mesum sama Vero, gue udah gak peduli. Vero bukan lagi pacar gue dan loe juga bukan temen gue. Kalian berdua memang sama-sama brengsek!" Sergah Nathan meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.
"Gue sama Vero beneran gak ada hubungan apa-apa, Nathan. Please maafin Gue," Derrick memohon.
Nathan tersenyum simpul,
__ADS_1
"Gue gak peduli," sahut Nathan masabodoh.
Mobil Nadine sudah tiba di depan sekolah Nathan.
Bergegas Nathan masuk ke mobil Nadine tanpa peduli lagi pada Derrick yang masih mengejarnya.
"Nathan!" Derrick mengetuk kaca samping mobil. Namun Nathan mengacuhkannya.
"Nathan ada apa? Itu Derrick..." Nadine menunjuk ke arah Derrick yang masih mengetuk kaca samping mobil.
"Udah cepetan jalan! Gak usah bawel!" Sergah Nathan emosi.
"Tapi itu Derrick nyariin kamu," Nadine masih bersikeras.
"Udah cepetan jalan, Nadine!" Bentak Nathan emosi.
Nadine tidak membantah lagi dan segera melajukan mobil sang papa meninggalkan sekolah Nathan.
"Ada apa sebenaranya, Nathan?" Tanya Nadine sekali lagi yang masih merasa penasaran.
Bukankah Nathan dan Derrick adalah sahabat dekat?
Lalu kenapa tadi Nathan seakan tak peduli pada Derick yang memanggil-manggil namanya?
"Vero berselingkuh dengan Derrick," jawab Nathan singkat seraya membuang pandangannya ke luar jendela.
"Apa?" Nadine yang kaget segera menginjak rem dengan tiba-tiba. Membuat Nathan kaget dan sedikit tersentak ke depan.
Terang saja hal tersebut langsung membuat Nathan mendelik marah ke arah Nadine.
"Uups! Sorry. Aku hanya kaget," ucap Nadine cepat seraya kembali melajukan mobilnya. Beruntung jalanan cukup sepi, jadi saat tadi tiba-tiba Nadine menginjak rem, tidak ada kendaraan di belakang mereka yang ikut kaget.
"Bisa nyetir gak sih, kamu itu," gerutu Nathan sebal.
"Iya, sorry! Aku kan kaget dengan berita besar barusan," Nadine mencari alasan.
Nathan tak menyahut lagi. Pria itu kembali membuang pandangannya keluar jendela mobil.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀