
Nadine dan Annel masih bercengkerama di teras rumah Nadine.
Jam makan siang sudah hampir tiba.
"Apa tidak sebaiknya kamu pulang, Ann? Bentar lagi jam makan siang," ujar Nadine mengingatkan.
Annel melirik arloji di tangannya.
"Kak Nadine ke rumah Annel yuk! Biar bisa makan siang bareng Annel dan mama. Biasanya mama kalo masak suka banyak," ajak Annel seraya menggamit lengan Nadine.
"Gak usah, Ann!" Tolak Nadine halus.
"Ayolah, Kak! Annel ngambek lho kalo kak Nadine nolak," ancam Annel seraya mencebik.
Nadine hanya terkekeh.
Ponsel Annel berbunyi,
"Halo, Mama!" Sambut Annel cepat.
"Ann kamu gak pulang? Udah jam makan siang ini,"
"Bentar lagi Annel pulang, Ma. Annel boleh ajak kak Nadine makan siang dirumah gak, Ma?" Tanya Annel seraya menatap kearah Nadine.
Nadine langsung melambaikan tangannya dan ingin menolak.
"Boleh. Ajak aja! Kebetulan mama masak banyak hari ini"
Annel menyalakan loudspeaker agar Nadine bisa mendengar jawaban sang mama.
"Oke, Annel pulang sekarang," pungkas Annel sebelum menutup panggilan dari sang mama.
"Mama udah ngebolehin. Jadi kak Nadine harus ikut Annel sekarang!" Ajak Annel memaksa.
Nadine hanya menghela nafas dan akhirnya memilih untuk menurut.
"Aku kunci pintu dulu sebentar," ujar Nadine seraya membawa masuk laptopnya dan mengunci pintu rumah.
Tak berselang lama, dua gadis itu sudah meninggalkan rumah Nadine dengan berboncengan sepeda.
****
Nathan baru pulang dari latihan saat mendapati rumahnya sepi dan pintu depan terkunci rapat.
Kemana Nadine?
Nathan meraih ponselnya dari dalam saku dan segera menghubungi nomor Nadine.
"Halo, Nath! Ada apa?" Sambut Nadine di seberang telepon.
"Kamu dimana, Nad? Lagi nge-date ya bareng Chris?" Tanya Nathan seraya menuduh.
__ADS_1
"Ngawur! Aku lagi dirumah Annel," sahut Nadine cepat sedikit kesal.
Nathan tergelak.
"Pulang dulu, gih! Aku lupa gak bawa kunci rumah,"
"Ambil kesini kuncinya, sekalian jemput aku!" Nadine balik memerintah.
"Yee! Disuruh malah balik nyuruh," cebik Nathan yang ikut-ikutan kesal.
"Yaudah, tungguin sampai aku pulang aja. Gak usah masuk ke rumah," sahut Nadine seraya terkekeh.
"Aku mau mandi, Nad! Tega kamu. Pulang dulu bentar kenapa?" Nathan mulai memaksa
"Yaudah, ambil aja kesini kenapa sih? Sekalian silaturahmi sama calon mertua," goda Nadine masih terkekeh.
"Ngaco kamu! Mamanya Annel galak gak sih?" Tanya Nathan khawatir.
"Enggak. Baik banget kok. Udah kesini buru!" Pungkas Nadine sebelum memutuskan panggilan Nathan.
"Dasar Nadine! Masa aku disuruh ke rumah calon mertua bau keringat begini?" Gerutu Nathan yang kembali menstarter motornya.
Nathan segera memacu motornya ke ujung kompleks tempat rumah Annel berada.
Pintu depan tertutup.
Mendadak Nathan menjadi ragu.
Ini benar rumah Annel bukan?
Setelah menimbang beberapa saat, Nathan akhirnya menekan bel yang ada di sisi kanan pintu utama.
Tak butuh waktu lama, dan pintu sudah dibuka dari dalam.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam sebahu langsung menyambut kedatangan Nathan.
"Siang, Tante. Apa benar ini rumahnya Annelya?" Tanya Nathan sedikit ragu.
"Iya, benar. Kamu siapa?" Tanya mama Annel menyelidik.
"Saya Nathan, Tante. Saudaranya Nadine. Apa Nadine ada di sini?" Jawab Nathan menjelaskan.
"Oh, jadi kamu yang namanya Nathan? Ayo masuk dulu!" Ajak mama Annel mempersilahkan.
"Annel!" Panggil wanita paruh baya tersebut.
"Ayo duduk dulu, Nathan!" Ujar mama Annel lagi seraya menunjuk ke arah sofa yang ada di ruang tamu.
Nathan hanya mengangguk dan segera duduk.
Tak berselang lama, Annel keluar bersama dengan Nadine.
__ADS_1
"Kirain nyasar," seloroh Nadine yang kini duduk di samping Nathan.
"Masa iya nyasar di kompleks sendiri," sahut Nathan yang langsung disambut gelak tawa dari Annel, mama Annel dan Nadine.
"Jadi, kalian ini anak kembar, ya?" Tanya mama Annel membuka obrolan.
"Iya, Tante," jawab Nadine dan Nathan serempak.
"Mirip ya, Ma! Mereka berdua sama-sama jago main basket juga lho, Ma," timpal Annel seraya berdecak kagum.
"Oh, ya? Keren dong kalau begitu," puji mama Annel seraya tersenyum.
"Belum jago-jago amat kok, Tante. Nathan juga masih banyak belajar," ujar Nathan merendah.
"Trus kalian berdua sekolahnya di SMA Harapan juga?" Tanya mama Annel lagi.
"Nathan aja yang di SMA Harapan, Tante. Nadine mah sekolahnya di SMA Pelita," jawab Nadine cepat.
"Hmmmm. Mama tahu sekarang. Kemarin kamu merengek minta masuk SMA Harapan itu karena Nathan sekolah disana, ya?" Tebak mama Annel seraya melirik ke arah sang putri.
"Mama!" Annel mencebik.
Nadine dan Nathan sontak terkekeh.
"Sekolahnya kan juga bagus, Ma! Bukan gara-gara kak Nathan sekolah disana," imbuh Annel lagi mencari pembenaran.
"Iya, iya, mama percaya," timpal mama Annel masih dengan nada meledek.
"Ini anak nge-fans berat sama kamu, Nath! Sampai kamarnya aja penuh sama posternya Nathan Putra Grahita. Eh sekarang malah tetanggaan. Jingkrak-jingkrak lah dia," cerita mama Annel lagi yang sontak membuat kedua pipi Annel bersemu merah.
"Mama! Gak usah buka kartu kenapa sih?" Protes Annel yang masih berusaha menyembunyikan wajah merahnya.
"Nge-fans-nya sama Nathan aja, Ann? Sama aku nge-fans juga gak?" Nadine ikut-ikutan menggoda Annel.
"Memangnya kamu siapa?" Gumam Nathan mencibir Nadine.
Terang saja, Nadine langsung melemparkan tatapan tajam pada saudara kembarnya teesebut.
"Nge-fans juga sama kak Nadine," sahut Annel cepat seraya tersenyum.
"Pulang, yuk! Udah hampir sore," ajak Nathan pada Nadine.
Nadine mengangguk.
Dua remaja itupun segera berpamitan pada Annel dan sang mama.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like dan komen.