
"Kepindahan Nathan Putra Garuda dari klub besar Putra Garuda ke klub yang Bima Persada lumayan membuat publik terkejut. Namun siapa menyangka, di klub barunya yang tidak sebesar klub Putra Garuda tersebut, Nathan seolah mendapatkan jati dirinya. Penampilan apik dan memukau dari Nathan, membuat pemuda itu berhasil menjadi pemain pertama yang berhasil mencetak seribu point. Nathan selalu tampil maksimal dan berhasil membawa klub Bima Persada menjadi juara di beberapa pertandingan musim ini. Nathan seolah berhasil membuktikan, bahwa skill yang ia miliki benar-benar mumpuni. Kabar yang santer terdengar kalau Nathan hanya bersembunyi di balik nama besar sang papa selama ini seolah terpatahkan dengan penampilan Nathan yang memukau satu musim terakhir bersama Bima Persada. Dan tahun ini, Nathan masuk menjadi salah satu nominasi MVP. Benar-benar mengejutkan."
Nadine sudah selesai membacakan ulasan tentang Nathan di salah satu postingan yang ada di instagram. Postingan itu adalah milik salah satu akun yang kerap membahas tentang perkembangan basket dan para pemain basket tersohor di negeri ini.
"Wow! Pencapaian yang luar biasa, Saudara kembar!" Nadine kembali memeluk Nathan dengan bangga.
Papa Dion dan om Vian ikut bertepuk tangan bangga pada pencapaian Nathan dua tahun terakhir.
"Kau sudah berhasil mengalahkan papamu sekarang, Nathan!"
"Kau memang hebat!" Om Vian menepuk punggung Nathan.
Saat ini Nathan, Nadine, Papa Dion, dan Om Vian sedang berkumpul di kafe milik om Vian. Mereka berempat sedang menikmati makan malam sekaligus mengobrol hangat.
"Jadi, kau mau hadiah apa di ulang tahunmu yang ke-22 tahun?" Tanya om Vian lagi menatap serius pada Nathan.
"Lolos menjadi MVP of the year udah cukup sepertinya, Om," jawab Nathan seraya terkekeh.
"Oh, kalau itu, Om hanya bisa bantu doa saja. Karena itu diluar kuasa Om," sahut Om Vian ikut-ikutan terkekeh.
"Nadine nggak ditanya, Om? Nadine kan minggu depan juga ulang tahun bareng Nathan," protes Nadine yang merasa diabaikan.
"Nadine mau hadiah apa memangnya?" Tanya Om Vian akhirnya sedikit menggoda pada Nadine yang kini mencebik.
"Minta hadiah dilamar sama Christian kayaknya," sahut Nathan seraya tergelak.
"Ngawur!" Nadine langsung memukul bahu Nathan karena sebal.
"Bilang aamiin gitu kek! Ini malah mukul-mukul," protes Nathan seraya mengusap bahunya yang baru saja dipukul Nadine.
"Christian jadi pulang tahun ini, Nad?" Tanya papa Dion pada sang putri.
"Harusnya begitu. Tapi entahlah, dia bilang bakalan diundur lagi pulangnya," jawab Nadine yang masih mencebik.
"Gak jadi dapat surprize dong, nanti pas ultah," ledek Nathan yang sepertinya puas sekali melihat wajah mencebik Nadine.
"Nanti Om sama Nathan aja yang bikin surprize buat Nadine gimana?" Timpal Om Vian berusaha menghibur Nadine.
"Bukan surprize namanya kalau Om Vian udah koar-koar dari sekarang," protes Nadine yang langsung di sambut gelak tawa dari ketiga pria di dekatnya.
"Dia itu kecewanya bukan gara-gara nggak dapat surprize, Om. Tapi gara-gara nggak jadi ketemu sama Christian," ujar Nathan sok tahu.
"Sok tau kamu!" Gerutu Nadine seraya melempar sedotan ke arah Nathan. Namun Nathan berhasil melengos dan Nadine hanya bisa mendengus sebal.
****
Di pagi hari buta.
Langit masih gelap dan matahari belum bangun dari peraduannya. Udara pagi ini cukup dingin membuat siapa saja ingin kembali menarik selimut dan tidur nyenyak. Ditambah ini adalah weekend, membuat semakin malas beraktivitas saja.
"Nad! Bangun!" Nathan menyibak selimut Nadine dan memaksa saudara kembarnya tersebut untuk bangun.
"Berisik! Ini hari Minggu, Nath! Aku mau tidur sampai puas," omel Nadine yag masih memejamkan matanya.
"Ada yang nyariin kamu di depan itu!" Ucap Nathan lagi yang kini sibuk menggoyang-goyangkan tubuh Nadine agar gadis itu segera bangun.
Nadine meraih jam digital kecil di atas nakas dan membuka matanya yang masih terasa berat.
"Masih jam empat pagi. Siapa coba yang nyariin aku pagi-pagi buta begini?" Gerutu Nadine yang masih enggan untuk bangun.
"Yee! Dibilangin ngeyel. Buruan bangun!" Nathan menarik tangan Nadine dan memaksa gadis itu untuk bangkit dari tempat tidur.
"Tu iler di lap dulu, biar nggak malu-maluin," ujar Nathan seraya menunjuk ke arah bibir Nadine.
__ADS_1
"Sialan! Aku gak pernah ileran kayak kamu!" Nadine melempar guling ke arah Nathan.
Nadine sudah beranjak dan hendak ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Eh! Mau kemana?" Nathan menghalangi langkah Nadine yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Cuci muka, lah! Masa mau nemuin orang pake muka bantal begini,"gerutu Nadine sekai lagi yang segera mendorong Nathan karena menghalangi langkahnya.
"Kelamaan! Udah buruan ke depan aja! Nggak usah cuci muka!" Sergah Nathan dengan nada memaksa.
"Be-ri-sik! Aku cuci muka gak sampai lima menit."
Braak!
Nadine sudah membanting pintu kamar mandi dan meninggalkan Nathan yang melongo.
Nathan memutuskan untuk keluar saja dari kamar Nadine dan pergi ke teras depan.
****
Nadine yang sudah selesai mencuci mukanya, segera keluar dari kamar dan menuju teras depan. Nadine masih penasaran, siapa irang kurang kerjaan yang mencarinya pagi-pagi buta begini.
Nadine sudah tiba di teras rumah. Sepi!
Nadine berjalan melintasi minicourt dan menuju ke arah pagar. Dan orang selanjutnya yang muncul dari balik pagar, benar-benar membuat Nadine terkejut tak percaya.
"Chris?" Gumam Nadine masih dengan raut wajah tidak percaya.
Ya.
Itu adalah Christian yang sedang berjalan mendekat ke arah Nadine membawa sebuah kue di tangannya dengan lilin yang menyala.
Nadine menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut. Nadine bingung antara ingin menangis atau tertawa bahagia.
"Kamu kapan kembali, Chris?" Tanya Nadine yang masih tertawa tidak percaya dengan kedatangan Christian di depan rumahnya.
"Tiup dulu lilinnya! Nanti baru aku ceritain semuanya," jawab Christian yang kini sudah menyodorkan kue blackforest itu ke hadapan Nadine.
Nadine membuat permohonan sejenak sebelum meniup kue yag dipegang Christian tersebut.
"Fuuuh!" cukup sekali tiup dan lilin langsung mati.
Nadine langsung menghambur ke pelukan Christian dan meluapkan semua rasa rindunya.
"Ciyee! Yang dikasih surprize sama pacarnya!" Nathan sudah muncul entah darimana seraya memegang ponsel di tangannya. Sepertinya pemuda itu menyiarkan secara live via instagram tentang kejutan Christian untuk Nadine.
"Apaan sih, Nath! Matiin!" Perintah Nadine galak.
"Ogah!" Nathan memeletkan lidahnya ke arah Nadine dan Christian.
"Bahagia ni yee! Pacarnya udah balik. Gak LDR-an lagi," ledek Nathan yang masih bslum berhenti mengambil ambar Nadine dan Christian.
"Kamu gak tiup lilinnnya juga, Nath? Kamu ulang tahun juga, kan? Hari ini?" Taya Christian yang kini sudah merangkul Nadine.
"Aku nanti saja. Udah biasa dapat ampasnya," sahut Nathan seraya tergelak.
Nadine dan Christian ikut tergelak.
"Annel kapan pulang? Biarkamu gak galau juga," ledek Nadine pada Nathan.
"Annel masih lama pulangnya. Kan tadi malam dia udah ngasih aku surprize juga," sahut Nathan pamer.
Pemuda itu menunjukkan foto v-call dirinya dengan Annel tadi malam. Annel terlihat memegang kue kecil dengan lilin di atasnya untuk Nathan.
__ADS_1
"Ciyee! So sweet!" Ujar Christian menaik-turunkan alisnya.
"Kamu sendiri kapan sampai?" Tanya Nadine menatap pada Christian.
Perasaan Nadine saja atau memang pacarnya ini semakin tampan sekarang?
"Baru saja. Aku sampai dari bandara langsung kesini, ngasih kamu surprize," jawab Christian seraya mengusap kepala Nadine.
"Ya, ampun. Akunya masih bau iler," gumam Nadine seraya tergelak.
Kedua remaja itu berjalan menuju arah teras.
"Trus rencana disini sampai kapan?" Tanya Nadine lagi yang kini sudah duduk di kursi teras.
Christian ikut duduk di samping Nadine.
"Sampai kamu wisuda sepertinya," ujar Christian menjawab pertanyaan Nadine barusan.
"Trus? Setelah aku wisuda, kamu balik lagi ke Amrik gitu?" Tebak Nadine cepat.
Christian tersenyum aneh sebelum menjawab pertanyaan dari Nadine.
"Kita yang akan balik kesana," ucap Christian memasang wajah serius.
Nadine mengernyitkan kedua alisnya karena bingung.
"Kita?"
"Iya, kita. Aku dan kamu." Christian menunjuk ke arah dirinya lalu ke arah Nadine.
"Aku udah minta izin ke coach Dion. Dan udah dapat lampu hijau, asal aku sabar nunggu sampai kamu lulus dan wisuda," ujar Christian lagi.
"Maksudnya? Aku masih nggak ngerti, Chris?" Nadine memasang wajah bingung.
"Hadeeuh! Sejak kapan kamu jadi oon begini, Nad?" Nathan yang baru tiba langsung menimpali seolah sudah mendengar pembicaraan Nadine dan Christian sedari tadi.
"Christian itu mau ngajak kamu married setelah kamu wisuda nanti," ujar Nathan lagi seraya mengoleskan krim kue tart ke wajah Nadine.
"Nathan!" Teriak Nadine marah. Gadis itu mendelik ke arah Nathan yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Apa? Lihat itu Christian bawain kamu cincin buat hadiah ultah," Nathan mengendikan dagunya ke arah Christian.
Nadine segera berbalik dan memastikan kata-kata Nathan barusan.
"Kamu mau, kan? Nadine Putri Grahita?" Tanya Christian dengan raut wajah bersungguh-sungguh. Pemuda itu benar-benar menyodorkan kotak cincin pada Nadine
Nadine yang terkejut kembali menutup mulutnya dengan telapak tangan. Netra gadis dua puluh dua tahun itu sudah berkaca-kaca sekarang.
"Ini beneran, Chris?" Tanya Nadine masih tak percaya.
"Iya beneran. Jangan nangis begitu!" Christian menyeka butir bening yang menggenang di pelupuk mata Nadine.
"Aku nangis karena kaget dan bahagia," gumam Nadine yang ikut menyeka airmatanya sendiri.
"Ayo di pake!" Ujar Christian yang langsung meraih tangan kiri Nadine dan menyematkan cincin tadi di jari manis Nadine.
"Ciyee! Yang bentar lagi mau married. Hahaha!" Nathan tergelak dan kembali menggoda Nadine serta Christian.
"Berisik!" Sahut Nadine seraya mengoleskan krim kue ke wajah Nathan yang masih tergelak. Christian ikut-ikutan mengoleskan kue ke wajah Nathan.
Benar-benar pagi yang rusuh namun penuh dengan kebahagiaan.
*********TAMAT*********
__ADS_1