Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#57


__ADS_3

"Inilah alasan Papa melarangmu bermain basket dan menjadi atlet basket!"


"Belum jadi pemain profesional saja kakimu sudah patah. Lalu bagaimana nanti jika kau benar-benar menjadi pemain profesional yang setiap hari harus bertanding?"


"Apa kau mau menjadi pria lumpuh gara-gara olahraga sialan itu?"


Papa Christian tak berhenti mengomel pada Christian.


"Ini hal biasa untuk seorang pemain basket, Pa!" Christian mencoba membela diri.


"Kenapa papa takut berlebihan seperti itu?" Imbuh Christian lagi masih berusaha membela diri.


"Hal biasa katamu? Permainan kasar seperti kemarin itu kamu bilang hal biasa? Sekarang lihatlah akibatnya!"


"Mulai sekarang, tidak ada lagi basket dalam hidupmu! Papa tidak akan mengijinkan kamu bermain basket lagi apalagi menjadi seorang atlet basket!" Tegas papa Christian dengan nada meninggi.


"Pa!"


"Sudah cukup!" Papa Christian mengangkat tangannya dan memberi usyarat pada Christian agar tidak membantah lagi.


"Papa tidak bisa terus-terusan mengatur hidup Chris!" Christian masih keras kepala.


"Kau akan langsung ke Amrik setelah lulus SMA. Dan selama disana, jangan harap kamu bisa bermain basket lagi!" Papa Christian menuding ke arah putranya.


"Jangan pernah membantah papa lagi!" Imbuh papa Christian memperingatkan sekali lagi.


Pria paruh baya tersebut segera keluar dari ruang perawatan Christian.


Namun baru saja papa Chris membuka pintu, pria paruh baya itu tak sengaja bertabrakan dengan Nadine yang sedari tadi menguping di depan pintu.


"Siang, Om!" Sapa Nadine sopan.


Nadine sedikit salah tingkah dan grogi tentu saja.


Papa Christian memindai penampilan Nadine dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nametag yang ada di seragam Nadine membuat pria paruh baya itu mengernyitkan alisnya.


"Kamu Nadine?" Tanya papa Christian yang membuat Nadine sedikit terkejut.

__ADS_1


Bagaimana papa Chris bisa tahu nama Nadine?


"Eh...iya, Om. Saya Nadine temannya Chris. Saya kesini mau menjenguk Christian," jawab Nadine dengan nada sesopan mungkin.


Papa Christian menutup pintu ruang perawatan.


"Duduk!" Perintah pria paruh baya tersebut sambil menunjuk ke deretan kursi di depan ruang perawatan Christian.


Nadine menurut dan segera duduk.


"Apa kamu yang sudah mempengaruhi Christian agar terus-terusan bermain basket?" Tuduh papa Chris yang kini juga duduk di samping Nadine.


"Apa?" Nadine ternganga tak percaya.


Kenapa papa Chris jadi menuduh Nadine sembarangan begini?


"Kamu kan? Yang sudah membuat Christian ingin bermain basket, lalu punya cita-cita menjadi pemain basket profesional. Di kamar Christian itu, ada foto kamu sedang bermain basket. Apa selain seorang atlet basket, kamu itu juga orang yang suka mempengaruhi?" Cecar papa Chris dengan tuduhannya yang terdengar semakin ngawur.


"Maaf, tapi saya bukan seorang atlet basket, Om!" Sanggah Nadine berusaha menjaga kesopanan meskipun sebebarnya emosi dalam hati gadis itu sudah terasa ingin meledak.


"Dulu memang Christian suka bermain basket. Tapi anak itu tidak pernah berkeinginan menjadi seorang pemain basket profesional. Baru setelah dia mengenal kamu, Christian mulai punya pikiran untuk menjadi pemain basket profesional. Bukankah itu artinya kau yang sudah mempengaruhi Chris?" Cecar papa Chris sekali lagi masih pada pendiriannya.


"Itu bukan karena Christian mengenal saya ataupun saya mempengaruhi pikirannya. Tapi itu karena Christian sudah mulai sadar pada bakat dan potensinya. Christian itu punya potensi bermain basket yang hebat, Om!" Nada bicara Nadine sedikit meninggi.


"Maaf, kalau saya lancang," sambung Nadine yang kembali menjaga intonasi dan nada bicaranya.


"Apa kau seorang pengamat bakat? Hingga bisa menilai potensi dan bakat seseorang?" Sergah papa Chris meremehkan.


"Papa saya seorang pelatih basket. Jadi beliau bisa melihat potensi dan skill basket luar biasa dalam diri Chris. Papa yang selalu meminta saya untuk memberi support pada Chris agar pemuda itu semakin mengembangkan skill-nya dan tetap memupuk potensinya, meskipun Om tidak pernah mendukung bakat dan potensi Chris tersebut," jelas Nadine dengan nada yang tegas seolah sedang menyindir papa dari Chris tersebut.


Sejenak pria paruh baya tersebut terdiam.


"Aku punya alasan kenapa melarang Christian menjadi seorang pemain basket profesional," ucap papa Christian seolah sedang mencari pembenaran.


"Karena Christian adalah putra Om satu-satunya. Dan Om berharap Christian kelak yang akan menjadi penerus dari bisnis keluarga. Bukan begitu?" Tebak Nadine cepat.


Papa Chris menatap pada gadis berusia delapan belas tahun tersebut.

__ADS_1


"Saya tidak bermaksud untuk menceramahi atau menggurui. Tapi menurut saya, Om boleh saja mengggantungkan semua harapan Om itu pada Christian. Tapi tolong jangan larang Chris untuk tetap bermain basket!" Pinta Nadine dengan nada memohon.


"Saat Om meminta Chris mengubur dalam-dalam impiannya untuk menjadi pebasket profesional, hal itu sudah membuat hati Chris sakit. Dan sekarang om melarang Chris bermain basket lagi. Om akan semakin membuat hati Chris terluka," imbuh Nadine lagi seakan paham dengan oerasaan Christian saat ini.


"Chris sudah menuruti keinginan Om untuk kuliah bisnis di Amrik. Tidak bisakah Om membiarkan Chris tetap bermain basket meskipun itu hanya sekedar menyalurkan hobi?"


"Tolong jangan sakiti hati Chris lagi, Om! Biarkan Chris tetap bermain basket dan menyalurkan skill positifnya itu." Nadine menyeka butir bening yang menggenang di sudut matanya.


Papa Chris masih diam dan mencoba mencerna nasehat bijak dari Nadine.


"Berapa usiamu, Nadine?" Tanya papa Chris tiba-tiba.


"Delapan belas tahun," jawab Nadine mengernyitkan kedua alisnya.


Papa Christian mengusap lembut kepala Nadine,


"Tapi pikiranmu tidak seperti gadis delapan belas tahun. Kau begitu dewasa dan bijaksana. Sekarang Om paham, kenapa Christian bersikeras menolak perjodohan itu. Rupanya Chris sudah menemukan gadis sebaik dirimu," ujar papa Chris yang langsung membuat Nadine tersipu.


"Nadine tidak sebijak itu, Om. Nadine juga masih berpikiran seperti anak remaja. Sama seperti Chris," tukas Nadine merendah.


"Kau teman baik Christian. Om yakin, Chris akan mau mendengarkanmu dan semua nasehatmu. Jadi Om minta, kamu katakan pada Chris kalau Om tidak akan melarangnya bermain basket lagi," ucap papa Chris akhirnya yang membuat Nadine bernafas lega.


"Masuk dan bicaralah pada Chris!" Ucap papa Chris lagi seraya membuka pintu ruang perawatan.


Nadine menatap sekali lagi pada pria paruh baya tersebut sebelum masuk ke dalam.


Papa Chris hanya mengangguk seraya tersenyum dan kembali menutup pintu setelah Nadine masuk ke dalam ruangan.


.


.


.


Terima kasih pembaca baik hati yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀

__ADS_1


__ADS_2